Pengingkaran terhadap Muhammad ‘Alawi Al-Maliki dan Penjelasan Akidahnya

ismail  

الإنكار على محمد علوي المالكي وبيان عقيدته

🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال:

إن كثيرًا من طلاب العلم في هذه الآونة من الزمان يقولون: إن الذي يستمع في ليلة مولد الرسول، ويداوم كل سنة على قراءة القصائد، والمدائح، وغيرها من أنواع الاحتفالات، دون وجود الاختلاط مع النساء، المقصود أنهم يقولون: إن هذا المبتدع لا يأثم، وإن علماء نجد أشد الناس تشددًا في تبديع هذه الأمة، وإنهم بلغ بهم ذلك في تكفير المالكي الذي رد عليه ابن منيع، نرجو الجواب من سماحة الشيخ فإنا بحاجة إليه حاجة ماسة؟

Pertanyaan:

Sesungguhnya banyak penuntut ilmu di masa sekarang ini yang mengatakan: Bahwa orang yang mendengarkan (acara) di malam kelahiran (maulid) Rasul, dan merutinkan setiap tahun pembacaan kasidah, pujian, dan jenis perayaan lainnya tanpa adanya ikhtilat dengan wanita; maksudnya mereka mengatakan: Bahwa pelaku bidah ini tidak berdosa. Mereka juga mengatakan bahwa ulama Najd adalah orang yang paling keras dalam membidahkan umat ini. Hal itu sampai membuat mereka mengafirkan Al-Maliki yang telah dibantah oleh Ibnu Mani’. Kami mengharapkan jawaban dari Syekh yang terhormat karena kami sangat membutuhkannya?

الجواب:

Jawaban:

علماء نجد، وعلماء السلف، إنما قالوا ما بلغهم عن الله، وعن رسوله -عليه الصلاة والسلام- ومعهم في هذا علماء القرون الثلاثة، القرون الثلاثة كلهم على هذا المنهج العظيم، وهو اتباع الرسول ﷺ ونبذ البدع، وعدم إحداث مولد، ولا غيره، ثم تابعهم أهل العلم والإيمان، بعد ذلك تابع أهل السنة والجماعة وأصحاب النبي ﷺ تابعهم أهل الإيمان في القرون كلها الأخيرة، وعلى رأسهم في القرن الثامن شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله – فإنه بين في كتابه اقتضاء الصراط المستقيم أن الاحتفال بالموالد من البدع المنكرة، كما بين بدعة الاحتفال بالرغائب، الرغائب في رجب، وغير ذلك، وهكذا الإمام الشاطبي -رحمه الله- بين بدعة المولد، وهكذا غيرهم من أئمة الإسلام الذين عرفوا هذه المسألة، وسمعوا بها، ووفقوا لمعرفة الحقيقة، بينوا أنها بدعة، لا يجوز فعلها، ولا إقرارها.

Ulama Najd dan ulama salaf hanyalah mengatakan apa yang sampai kepada mereka dari Allah dan dari Rasul-Nya ‘alaihish-shalatu was-salam. Bersama mereka dalam hal ini adalah para ulama dari tiga kurun terbaik. Tiga kurun tersebut semuanya berada di atas manhaj yang agung ini, yaitu mengikuti Rasul ﷺ dan mencampakkan bidah, serta tidak mengada-adakan maulid maupun yang lainnya. Kemudian mereka diikuti oleh ahli ilmu dan iman setelah itu. Ahli sunah waljamaah dan para sahabat Nabi ﷺ diikuti oleh ahli iman di seluruh kurun-kurun terakhir, dan di puncaknya pada abad kedelapan adalah Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau telah menjelaskan dalam kitabnya, Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, bahwa merayakan maulid termasuk bidah mungkar, sebagaimana beliau menjelaskan bidah perayaan Ragha’ib di bulan Rajab dan selainnya. Demikian pula Imam Asy-Syathibi rahimahullah menjelaskan bidah maulid, dan begitu juga imam-imam Islam lainnya yang mengetahui masalah ini, mendengarnya, dan diberi taufik untuk mengenal hakikatnya. Mereka menjelaskan bahwa itu adalah bidah, tidak boleh dilakukan, dan tidak boleh disetujui.

والذين تساهلوا في ذلك إنما تساهلوا ظنًا منهم أن ذلك لا بأس به، ولم يتفطنوا للأصول المتبعة، والأدلة الصحيحة الصريحة في تحريم البدع، بل غلب عليهم تقليد غيرهم من آبائهم، وأسلافهم، والناس إذا عاشوا في شيء؛ ظنوه طيبًا، وظنوه سنة؛ لأنهم عاشوا عليه، ودرجوا عليه مع أسلافهم، فيصعب عليهم بعد ذلك إنكاره وقد عاشوا عليه، ولو كان بدعة منكرة، حتى إن من عاش على الشرك أقروا الشرك، ورضوا به؛ لأنهم عاشوا عليه، وبنوا به، فتجدهم عند القبور يستغيثون بأهل القبور، ويقولون: يا سيدي فلان انصرني، واشف مريضي، وأنا في جوارك، ويروا أن هذا دينًا، وهو الشرك الأكبر -نعوذ بالله- لأنه عاش عليه، وأدرك عليه آباءه، وأسلافه.

Adapun orang-orang yang meremehkan hal tersebut, mereka hanyalah meremehkannya karena menyangka bahwa hal itu tidak mengapa. Mereka tidak memperhatikan pokok-pokok ajaran yang diikuti dan dalil-dalil sahih yang tegas dalam pengharaman bidah. Sebaliknya, mereka lebih didominasi oleh taklid kepada orang lain, baik ayah maupun pendahulu mereka. Manusia apabila hidup dalam sesuatu, mereka akan menyangkanya sebagai hal yang baik dan menyangkanya sebagai sunah karena mereka hidup dan tumbuh besar di atas hal itu bersama pendahulu mereka. Maka sulit bagi mereka setelah itu untuk mengingkarinya padahal mereka telah hidup di atasnya, meskipun itu adalah bidah mungkar. Bahkan, orang yang hidup di atas kesyirikan akan menyetujui kesyirikan dan rida dengannya karena mereka hidup di atasnya dan membangun (keyakinan) dengannya. Anda akan mendapati mereka di sisi kuburan beristigasah (memohon pertolongan) kepada ahli kubur dan berkata: “Wahai tuanku fulan, tolonglah aku,” “sembuhkanlah penyakitku,” “aku berada dalam perlindunganmu.” Mereka melihat bahwa ini adalah agama, padahal itu adalah syirik akbar—kita berlindung kepada Allah—karena ia hidup di atasnya dan mendapati ayah serta pendahulunya melakukannya.

وفي هذا الزمان في الآونة الأخيرة منذ سنتين أو ثلاثٍ ألفَ المدعو محمد علوي المالكي، وكان شابًا، وكان يرجى فيه قبل ذلك العلم والخير، ولكنه أخيرًا أظهر شيئًا ما كنا نظن أنه يظهره، فأظهر أنواعًا من الشرك، وأنواعًا من البدع، وألف كتابا سماه “الذخائر المحمدية” فأوجد فيه أشياء تدل على جهله بالتوحيد، وجهله بالسنة، ولذلك رد عليه أهل العلم، وردت عليه هيئة كبار العلماء، ورد عليهم غيرهم من إخواننا في مصر، وغير مصر من أهل العلم، والإيمان، وذلك أنه…  بل يعطيها من يشاء  وجعل هذه المواليد من السنن، وجعل من جهله ليلة المولد أفضل من ليلة القدر، هذا يقوله عاقل؟! جعل ليلة المولد ليلة اثنا عشر من ربيع أول أفضل من ليلة القدر التي قال فيها الرب : لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ [القدر:3] فجعل الليلة التي أنزل الله فيها القرآن، وجعلها أفضل ليلة، جعل المولد أفضل منها، وسبقه إلى هذا بعض الجهال من بعض المغاربة.

Pada zaman ini, di masa-masa terakhir sejak dua atau tiga tahun lalu, seseorang yang dipanggil Muhammad ‘Alawi Al-Maliki menulis (buku). Dahulu ia adalah seorang pemuda yang diharapkan padanya ilmu dan kebaikan sebelum itu. Namun akhirnya ia menampakkan sesuatu yang tidak kami sangka akan ia tampakkan. Ia menampakkan berbagai jenis kesyirikan dan berbagai jenis bidah. Ia menulis kitab yang ia beri nama Adz-Dzakha`ir Al-Muhammadiyyah, lalu ia mengadakan di dalamnya hal-hal yang menunjukkan kejahilannya terhadap tauhid dan kejahilannya terhadap sunah. Oleh karena itu, ahli ilmu membantahnya, Komite Ulama Besar (Hai’ah Kibar Al-‘Ulama) membantahnya, dan selain mereka dari saudara-saudara kami di Mesir dan luar Mesir dari kalangan ahli ilmu dan iman juga membantahnya. Hal itu karena dia… bahkan memberikannya kepada siapa yang dia kehendaki, dan menjadikan maulid-maulid ini sebagai bagian dari sunah. Karena kejahilannya, ia menjadikan malam maulid lebih utama daripada Lailatulqadar. Apakah ini dikatakan oleh orang yang berakal?! Ia menjadikan malam maulid tanggal dua belas Rabiulawal lebih utama daripada Lailatulqadar yang difirmankan oleh Allah: “Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan” (QS Al-Qadr: 3). Ia menjadikan malam yang Allah turunkan Al-Qur’an di dalamnya dan menjadikannya malam paling utama, justru (kalah utama) dibanding maulid yang ia jadikan lebih utama darinya. Hal ini telah didahului oleh sebagian orang jahil dari penduduk Maroko.

فهذا كله يدل على الجهل العظيم المطبق، والبعد عن معرفة الدين على الحقيقة، فلهذا رددنا عليه، ورد عليه غيرنا من أهل العلم لأجل إيضاح الحق، وبيان الهدى، وطالبنا من الدولة -وفقها الله- أن تمنعه من الحديث في المسجد الحرام، وفي الإذاعة، وفي غير ذلك حتى يعلن توبته، وحتى يبين رجوعه عن هذا الباطل؛ لئلا يغتر به الناس، ولئلا يُعلّم الطلبة الشرك بالله الأكبر، والبدع المنكرة، فهذا الذي جرى من هذا الرجل وألفت فيه المؤلفات في بيان هذا الباطل، وهو رد عليه، وعلى غيره من أشباهه، ليس ردًا عليه وحده، بل رد عليه وعلى أشباهه، ولا نزال نطالب، ولا نزال نطلب من ولاة الأمور أن يمنعوه من التدريس في المسجد الحرام، وفي الإذاعة، وفي التلفاز، وفي الصحف؛ حتى يعلن توبته إلى الله من هذا الشرك الذي وقع فيه، فإن أعلن توبته من الشرك، والبدع؛ فلا بأس إذا أعلن ذلك، فهو أخونا في الله، ومتى لم يعلن ذلك؛ فنحن براء منه، ونشهد الله على أنه ضل عن السبيل، وكفر بالله بعد الإيمان، على ما أحدث من الضلال في كتابه العظيم، ونسأل الله العافية. 

Maka ini semua menunjukkan kejahilan yang sangat besar dan nyata, serta jauhnya dari mengenal agama di atas hakikatnya. Oleh karena itu kami membantahnya, dan selain kami dari kalangan ahli ilmu juga membantahnya demi menjelaskan kebenaran dan petunjuk. Kami menuntut kepada negara—semoga Allah memberinya taufik—untuk melarangnya berbicara di Masjidilharam, di radio, dan di tempat lainnya sampai ia mengumumkan tobatnya dan menjelaskan kembalinya ia dari kebatilan ini; agar manusia tidak teperdaya olehnya, dan agar ia tidak mengajarkan kepada para pelajar kesyirikan kepada Allah yang besar serta bidah-bidah mungkar. Inilah yang terjadi pada orang ini, dan telah ditulis berbagai karya tulis dalam menjelaskan kebatilan ini, yang mana itu adalah bantahan kepadanya dan kepada orang-orang yang semisal dengannya. Ini bukan bantahan kepadanya sendirian, melainkan bantahan kepadanya dan yang semisal dengannya. Kami masih terus menuntut dan meminta kepada para pemimpin (ululamri) agar melarangnya mengajar di Masjidilharam, radio, televisi, dan surat kabar; sampai ia mengumumkan tobatnya kepada Allah dari kesyirikan yang ia terjerumus di dalamnya. Jika ia mengumumkan tobatnya dari syirik dan bidah, maka tidak mengapa. Jika ia mengumumkan hal itu, dia adalah saudara kita karena Allah. Selama ia tidak mengumumkan hal itu, kami berlepas diri darinya, dan kami bersaksi kepada Allah bahwa dia telah sesat dari jalan yang benar dan telah kafir kepada Allah setelah beriman, atas kesesatan yang ia ada-adakan dalam kitabnya yang besar tersebut. Kami memohon keselamatan kepada Allah.

والنبي ﷺ يقول: من بدل دينه فاقتلوه هكذا قال النبي ﷺ وقد جاء معاذ ذات يوم إلى أبي موسى في اليمن، والرسول ﷺ بعث أبا موسى إلى اليمن داعيًا، ومعلمًا، ومرشدًا، وبعث معاذًا أيضًا إلى اليمن، وقدر أن أبا موسى بُلغ عن اليهودي، أسلم ثم ارتد، فدعاه أبو موسى، واستتابه ليرجع إلى الإسلام؛ فأبى، وجيء به مقيدًا ليقتل، إن لم يتب يقتل، فجاء معاذ، فقال: ما هذا المقيد؟ قالوا: هذا رجل أسلم، ثم ارتد إلى دينه الباطل اليهودية، فقال معاذ: لا أنزل من بين دابتي حتى يقتل، قضاء الله ورسوله، فقال أبو موسى: إنما جئنا به ليقتل، جئنا به ليقتل إن لم يتب، قال: ما أنزل حتى يقتل ما دام، ما أعلن التوبة، لا أنزل حتى يقتل، قضاء الله ورسوله. 

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.”1 (HR Al-Bukhari nomor 3017 dan 6922) Demikian sabda Nabi ﷺ.

Suatu hari Mu’adz datang kepada Abu Musa di Yaman, padahal Rasul ﷺ mengutus Abu Musa ke Yaman sebagai dai, pengajar, dan pembimbing, serta mengutus Mu’adz juga ke Yaman. Ditakdirkan bahwa Abu Musa mendapat berita tentang seorang Yahudi yang masuk Islam kemudian murtad. Abu Musa mengajaknya dan memintanya bertobat agar kembali ke Islam, namun ia menolak. Ia pun didatangkan dalam keadaan terbelenggu untuk dibunuh; jika tidak bertobat maka dibunuh. Mu’adz datang dan bertanya, “Siapa yang terbelenggu ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah orang yang masuk Islam kemudian murtad kembali ke agamanya yang batil, Yahudi.”

Mu’adz berkata, “Aku tidak akan turun dari tungganganku sampai ia dibunuh, (ini adalah) ketetapan Allah dan Rasul-Nya.”

Abu Musa berkata, “Kami mendatangkannya memang untuk dibunuh jika ia tidak bertobat.”

Mu’adz berkata, “Aku tidak akan turun sampai ia dibunuh selama ia tidak mengumumkan tobat, aku tidak akan turun sampai ia dibunuh, ketetapan Allah dan Rasul-Nya.”2 (HR Al-Bukhari nomor 6923)

فالردة عن الإسلام بين المسلمين شأنها خطير، شأنها عظيم، ونشر الكفر بن بين الناس بالكتب شأنه خطير، وبلاؤه عظيم، فعلوي، أو غير علوي من الناس زيد، أو عمرو إذا أظهر الكفر بالله، وراءه بدع وجب أن يؤخذ على يديه، ووجب أن يمنع، ولو كان من أولاد الأنبياء، ولو كان من أولاد الحكومة، ولو كان العلماء الكبار، ولو كان من أعيانهم، فإن ارتد عن دينه، وأظهر الكفر؛ وجب أن يؤخذ على يديه كائنًا من كان، سواء كان زيدًا، أو عمرًا، والله المستعان، نعم نسأل الله أن ينصر دينه، وأن يعلي كلمته، وأن يهدي ضال المسلمين جميعًا.

Maka murtad dari Islam di tengah kaum muslimin urusannya sangat berbahaya dan besar. Menyebarkan kekafiran di tengah manusia melalui kitab-kitab urusannya sangat berbahaya dan ujiannya besar. Maka ‘Alawi, atau selain ‘Alawi dari kalangan manusia baik itu Si Zaid atau Si ‘Amr, jika menampakkan kekafiran kepada Allah dan di baliknya terdapat bidah, wajib untuk ditindak dan dilarang. Walaupun ia termasuk keturunan nabi, walaupun ia termasuk keluarga pemerintah, walaupun ia termasuk ulama besar atau tokoh terpandang mereka; jika ia murtad dari agamanya dan menampakkan kekafiran, wajib untuk ditindak siapa pun orangnya, baik itu Zaid maupun ‘Amr. Wallahul-musta’an. Ya, kita memohon kepada Allah agar menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan memberi petunjuk kepada seluruh kaum muslimin yang sesat.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *