Anjuran Menjilat Jari dan Mangkuk

ismail  

استحباب لعق الأصابع والقصعة

٦ – وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله ﷺ : (إذا أَكَلَ أحدكم طَعَامًا فلا يَمۡسَحۡ يَدَهُ حتى يَلۡعَقَهَا أو يُلۡعِقَهَا). متفق عليه.

6. Dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—, yang berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ketika seseorang makan, hendaklah ia tidak mengusap tangannya sebelum dia jilat atau dijilat oleh orang lain.”1 HR Al-Bukhari nomor 5456 dan Muslim nomor 2031. (Muttafaqun ‘alaih).

الشرح

Syarah

هذا في آداب الأكل والشراب، من آداب الأكل: أن الإنسان يبدأ ببسم الله، ويأكل بيمينه، ويأكل مما يليه، إذا كان الطعام نوعًا واحدًا، كما قال ﷺ لعمر بن أبي سلمة الله رضي الله عنه وكان غلامًا صغيرًا في حجر النبي ﷺ، لأنه تزوج أمه فقال له : (يا غلام، سم الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك).

Hadis ini berkaitan dengan adab makan dan minum. Di antara adab makan adalah hendaknya seseorang memulai dengan menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan makan dari bagian yang paling dekat dengannya jika makanannya satu jenis. Sebagaimana Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada ‘Umar bin Abu Salamah, yang masih muda dan berada di bawah asuhan Nabi karena telah menikahi ibunya, “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari bagian yang paling dekat denganmu.”2 HR Al-Bukhari nomor 5376 dan Muslim nomor 2022.

ومن آداب الأكل ما جاء في هذا الحديث، أنه إذا فرغ من الطعام يحمد الله عز وجل فيقول: الحمد لله، ثم ينظف يده من الطعام ومن آثار الطعام، وذلك بلعقها بلسانه، أو أن يلعقها خادمه أو ولده أو أحدًا ممن له عليه دالة، ولا يترك بقايا الطعام تذهب في المزابل أو في الغسل، لا يغسل يده وفيها بقايا طعام تذهب مع الماء أو يمسحها بالمنديل، ويترك بقايا طعام تعلق بالمنديل؛ لأن هذا إهانة للنعمة، فمن آداب الطعام أنه يلعق يده بعد الطعام بحيث لا يبقى فيها شيء من الطعام، ثم يغسلها بعد ذلك. لا يغسلها وفيها طعام، ثم يذهب الطعام مع الغُسالة، وربما يذهب إلى البالوعة وإلى القاذورات، وهو طعام نعمةٌ من الله عز وجل، وكذلك جاء الأمر أيضًا يلعَقُ الصَّحفة، ولا يُترك فيها شيء من بقايا الطعام لئلا يفسد هذا الطعام، أو يُلقَى في القاذورات، فهذا من احترام النعمة، بل حتى إذا سقطت لقمتُه فإن النبي ﷺ أمره أن يأخذها وأن يميط ما عليها من الأذى وأن يأكلها، ولا يدعها للشيطان، هذا كله من احترام النعم، ومن شكر النعم، وعدم إهدار النعم.

Di antara adab makan, sebagaimana disebutkan dalam hadis ini, adalah ketika seseorang selesai makan, hendaknya ia memuji Allah dengan mengucapkan, “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”, kemudian membersihkan tangan dari sisa makanan dan bekasnya, baik dengan menjilatnya dengan lidah atau meminta pelayan, anak, atau orang terdekatnya untuk menjilatnya. Tidak boleh membuang sisa makanan ke tempat sampah atau mencucinya. Tidak boleh mencuci tangan selagi masih ada sisa makanan, karena nanti akan hanyut terbawa air, atau mengusapnya dengan serbet sehingga meninggalkan sisa makanan yang menempel pada serbet. Karena hal ini merupakan penghinaan terhadap nikmat Allah. Jadi termasuk adab makan adalah menjilati tangannya setelah makan agar tidak ada sisa makanan, lalu mencucinya. Ia tidak mencucinya selagi masih ada sisa makanan, agar makanan tersebut tidak masuk ke saluran pembuangan dan menjadi kotoran. Makanan ini adalah nikmat dari Allah—‘azza wa jalla—. Demikian pula, ia juga diperintahkan untuk menjilati piring hingga bersih3 Syekh—hafizhahullah—mengisyaratkan kepada hadis riwayat Muslim nomor 2033., tanpa meninggalkan sisa makanan di atasnya, agar makanan tersebut tidak busuk atau dibuang ke tempat kotor. Ini merupakan sikap menghormati nikmat. Bahkan jika ada makanan yang jatuh, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkannya untuk memungutnya, membersihkan kotorannya, memakannya, dan tidak membiarkannya untuk setan4 HR Muslim nomor 2033 dan 2034.. Semua ini merupakan sikap menghormati nikmat, mensyukuri nikmat, dan tidak menyia-nyiakan nikmat.

فهذه الأطعمة التي يُصرفُ في إعدادها من باب المباهاة ومن باب البذخ والسَّرَفِ ثم تهدرُ وتلقى في مجمعات القمامة، أو تلقى في التراب هذا كفران النعم، وهناك أكبد جائعة بحاجة إلى لقمة العيش، فهذا خطر على الأمة، ويأتي هذا في (كل واشرب والبس وتصدق من غير سرف ولا مخيلةٍ)، فالأمور لها موازين ولها ضوابط، ونِعَمُ الله عز وجل إذا شكرت قرَّت وزادت، وإذا كُفرت زالت، قال تعالى: ﴿وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ ۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ﴾ [إبراهيم: ٧].

Makanan-makanan ini, yang disiapkan untuk berbangga-bangga dengan foya-foya dan boros, kemudian dibuang ke tempat sampah atau dibuang ke tanah, ini bentuk kufur nikmat. Di sana ada jiwa-jiwa yang lapar yang membutuhkan makanan. Ini adalah bahaya bagi umat. Hal ini masuk dalam sabda Nabi, “Makan, minum, berpakaian, dan berilah sedekah tanpa boros dan tanpa sombong!” Segala sesuatu memiliki timbangan dan aturannya masing-masing. Kenikmatan-kenikmatan dari Allah—‘azza wa jalla—, jika disyukuri, akan tetap ada dan bertambah, tetapi jika diingkari, akan lenyap. Allah taala berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ ۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rab kalian memberitahukan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

QS Ibrahim: 7

فالنعم لها حق أن يُحتفظ بها، وأن يُنتفع بها ولا تُهدر، إذا كانت لعاقة الأصابع لا يجوز للإنسان أن يتركها، فكيف بالموائد الكبيرة التي تهدر وتلقى في مجمعات القمامة، فهذا ينذر بخطر عظيم من تغير هذه النعمة، قال تعالى: ﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡ ۙ﴾ [الأنفال: ٥٣]، ولكن الله يمهل ولا يهمل سبحانه وتعالى، ولو تذكر هذا الإنسان المسرفُ أكبد الجائعين الذين يتضورون من الجوع ولا يجدون ما يأكلون، لو تذكر هذا لكفّه ذلك عن الإسراف والتبذير وإهدار النعم، وخاف من سوء العاقبة.

Kenikmatan-kenikmatan berhak untuk dijaga dan dimanfaatkan, bukan disia-siakan. Jika sekadar menjilat jemari, jangan sampai seseorang meninggalkannya, lalu bagaimana dengan sejumlah besar makanan yang terbuang dan dibuang ke tempat sampah? Ini merupakan pertanda bahaya besar akan diubahnya nikmat ini. Allah taala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡ ۙ

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.

QS Al-Anfal: 53

Tetapi Allah—subhanahu wa ta’ala—memberi kesempatan dan tidak lalai. Jika orang yang boros ini mengingat penderitaan orang-orang yang kelaparan dan tidak dapat menemukan makanan, tentu akan mencegahnya dari pemborosan5 Faedah: Imam Ahmad—rahimahullah—meriwayatkan dalam Musnad-nya (2/221) dari hadis ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash—radhiyallahu ‘anhuma—, bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melewati Sa’d ketika ia sedang berwudu dan berkata, “Pemborosan apa ini, wahai Sa’d?!”
Sa’d menjawab, “Apakah ada pemborosan dalam berwudu?”
Nabi berkata, “Ya, bahkan meski engkau berada di tepi sungai yang mengalir.”
Hadis ini dinilai hasan (baik) oleh Alamah Al-Albani—rahimahullah—dalam Ash-Shahihah nomor 3292.
Al-Baihaqi—rahimahullah—meriwayatkan dalam Sunan-nya (1/197) dari Hilal bin Yasaf. Beliau berkata, “Dahulu dikatakan bahwa pemborosan bisa terjadi dalam segala hal, bahkan dalam bersuci, meskipun dilakukan di tepi sungai.”
, menghamburkan nikmat, dan menyia-nyiakan nikmat, serta ia akan takut akan akibat yang buruk.

فدل هذا الحديث على احترام النعم، وعدم إهدارها ولو كانت قليلة، ولو كانت أثر طعام على الأصابع.

Hadis ini menunjukkan pentingnya menghargai nikmat dan tidak menyia-nyiakannya, meskipun nikmat itu sedikit. Meskipun hanya berupa sisa makanan di jari.

ودل الحديث على أن من آداب الأكل أيضًا أن الإنسان يتنظف من آثار الطعام، بأن يمسح يده بالمنديل، أو يغسل يده من ما عَلِقَ بها من آثار الطعام من الأدهان أو غيرها، أما الآثار التي لا يؤخذ منها شيء، ولا ينتفع بها، مثل الدهن الذي يصير على اليد أو الأصابع، فهذا يغسل لا بأس، ولا يترك الإنسان الدهن في يديه، أو يترك الدهن في فمه؛ لأن هذا من سوء النظافة، ويسبب روائح، وربما يسبب أمراضًا إذا نام وهذه الأشياء في يديه أو فمه.

Hadis ini menunjukkan bahwa di antara adab makan juga adalah membersihkan diri dari sisa makanan dengan menyeka tangan dengan serbet atau mencuci sisa makanan, seperti minyak atau zat lainnya. Adapun sisa-sisa yang tidak bermanfaat atau berguna, seperti lemak di tangan atau jari, mencucinya diperbolehkan. Seseorang tidak boleh membiarkan lemak di tangan atau di mulutnya, karena ini dianggap tidak bersih, menyebabkan bau tidak sedap, dan bahkan dapat menyebabkan penyakit jika seseorang tidur dengan hal-hal tersebut di tangan atau mulutnya6 Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad dari hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—nomor 1219, bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda: “Barang siapa tidur dengan tangan berlumuran minyak lalu terjadi sesuatu padanya, maka ia tidak boleh menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.”
Al-Albani menilai hadis ini sahih dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 2956.
.

فالشارع أمر الإنسان إذا فرغ من الطعام أن يلعق يديه ويُزيل ما تبقى عليها من الطعام، ثم بعد ذلك يغسلها بالماء أو يمسحها بالمنديل، ويتمضمض بحيث لا تبقى رائحة الطعام أو الدسومة، أو إذا شرب لبنًا فإن اللبن فيه دسومة، فلا ينام وفي فمه رائحةُ اللبن بل يغسل فمه، أوصى النبي ﷺ بذلك؛ لأن دين الإسلام دين النظافة.

Allah memerintahkan seseorang, setelah selesai makan, untuk menjilat tangannya7 Imam Ibnu Al-Mulaqqin—rahimahullah—dalam kitabnya At-Taudhih (26/238) berkata ketika mensyarah hadis ini, “Ulama berkata: Disukainya menjilat tangan dalam rangka menjaga keberkahan makanan, membersihkannya, dan menepis kesombongan.” dan menghilangkan sisa makanan di tangannya, kemudian mencucinya dengan air atau menyekanya dengan tisu, dan berkumur agar tidak ada bau atau lemak yang tersisa. Atau apabila setelah minum susu, karena susu mengandung lemak, maka ia jangan tidur dalam keadaan masih bau susu di mulutnya. Seharusnya ia berkumur terlebih dahulu. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menganjurkan hal ini karena Islam adalah agama kebersihan.


Sumber: Ithaf Al-Kiram bi Syarh Kitab Al-Jami’ fi Al-Akhlaq wa Al-Adab min Bulugh Al-Maram syarah Syekh Doktor Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *