Telah disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr—radhiyallahu ta’ala ‘anhu—yang lalu bahwa beliau berkata tentang sifat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam Taurat: Sesungguhnya Allah tidak akan mewafatkannya sampai Allah meluruskan ajaran agama yang menyimpang dengan beliau.
Tidaklah beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meninggal kecuali dalam keadaan beliau telah menyampaikan risalah agama Islam secara sempurna, menyempurnakan keterangan, memperlihatkan hujah, dan menjelaskan pedoman hidup. Demi Allah, tidaklah ada suatu kebaikan kecuali beliau telah menunjukkannya kepada umat dan tidaklah ada suatu kejelekan kecuali beliau telah memperingatkan kita darinya—shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah taala berfirman,
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينًا ۚ
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, dan Aku ridai Islam sebagai agama untuk kalian.
QS Al-Maidah: 3.
Ini adalah persaksian dari Penguasa langit dan bumi bahwa Dia telah menyempurnakan risalah dan menyempurnakan agama ini untuk kita dengan mengutus Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Tidaklah Allah—subhanah—mewafatkan beliau kecuali setelah Dia menyempurnakan agama ini melalui beliau.
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda ketika haji wadak,
تَرَكۡتُ فِيكُمۡ مَا لَنۡ تَضِلُّوا بَعۡدَهُ إِنِ اعۡتَصَمۡتُمۡ بِهِ: كِتَابُ اللهِ، وَأَنۡتُمۡ تُسۡأَلُونَ عَنِّي، فَمَا أَنۡتُمۡ قَائِلُونَ؟
“Aku telah tinggalkan pada kalian, sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan tersesat setelahnya, yaitu kitab Allah. Kalian akan ditanya tentang aku, lalu apa yang akan kalian ucapkan?”
Para sahabat menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan amanah, dan memberi nasihat.”
Lalu beliau—‘alaihish shalatu was salam—memberi isyarat dengan jari beliau ke arah langit lalu menggerakkannya ke arah bumi, lalu berkata, “Ya Allah, saksikanlah. Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah,” sebanyak tiga kali. (HR Muslim nomor 1218)
Hadis ini juga merupakan persaksian dari makhluk-makhluk Allah terbaik setelah para nabi, yaitu para sahabat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah menyampaikan, menunaikan amanat, dan memberi nasihat. Ini adalah persaksian generasi terbaik akan hal itu.
Jadi, syariat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersifat sempurna, umum, dan terus berlaku.
Aku tidak berpanjang lebar dan sebagaimana dikatakan, “Jahizah telah menghentikan ucapan setiap pembicara.”
Inilah salah seorang imam ahli sunah dan salah satu tokohnya, yaitu Imam Ibnu Al-Qayyim berkata dalam kitab beliau yang agung, I’lam Al-Muwaqqi’in1(4/376). untuk menerangkan kesempurnaan syariat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, perhatikan dan renungilah:
Prinsip ini termasuk prinsip yang paling penting dan paling bermanfaat. Prinsip ini dibangun di atas satu dasar, yaitu keumuman risalah kenabian beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meliputi seluruh hal yang dibutuhkan oleh para hamba dalam pengetahuan, ilmu, dan amal mereka. Bahwasanya Allah tidak membuat umat beliau butuh kepada seorang pun selain beliau. Kebutuhan mereka hanyalah kepada orang yang menyampaikan ajaran yang beliau bawa. Jadi risalah kenabian beliau memiliki dua cakupan menyeluruh yang mutlak tanpa pengecualian:
- tujuan risalah beliau mencakup seluruh umat, dan
- risalah beliau mencakup segala hal yang dibutuhkan oleh umat, baik dalam pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya.
Maka risalah beliau itu mencukupi, memuaskan, dan umum; tidak membutuhkan kepada selainnya. Tidaklah sempurna iman kepada beliau kecuali dengan menetapkan keumuman risalah beliau dari sisi ini dan itu. Jadi tidak ada seorang pun dari para mukalaf yang bebas dari beban syariat risalah beliau, dan tidak ada satu pun jenis kebenaran yang dibutuhkan oleh umat dalam ilmu dan amal mereka yang tidak masuk dalam risalah yang beliau bawa. Sungguh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah wafat, dan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di langit kecuali beliau telah menyebutkan ilmunya kepada umat.
- Beliau telah mengajarkan kepada mereka segala sesuatu, bahkan adab buang hajat, adab jimak, tidur, berdiri, duduk, makan, minum, berkendara, singgah, safar, bermukim, diam, berbicara, menyendiri, bergaul, kaya, miskin, sehat, sakit, dan seluruh hukum kehidupan dan kematian.
- Beliau pun telah menyifatkan bagi mereka Arasy, Kursi, malaikat, jin, neraka, janah, hari kiamat, dan segala hal yang ada di dalamnya, hingga seolah-olah mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.
- Beliau telah mengenalkan mereka kepada sembahan dan ilah mereka dengan pengenalan yang paling sempurna, hingga seolah-olah mereka melihat-Nya dan menyaksikan-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan-Nya.
- Beliau juga telah mengenalkan mereka kepada para nabi dan umat-umat terdahulu, serta keberhasilan yang mereka capai dan penderitaan yang mereka alami bersama mereka, hingga seolah-olah mereka berada di tengah-tengah mereka.
- Beliau telah mengenalkan mereka jalan-jalan kebaikan dan keburukan, yang rinci maupun yang global, yang belum pernah dikenalkan oleh seorang nabi pun kepada umatnya sebelum beliau.
- Beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengenalkan mereka ihwal kematian dan kejadian yang terjadi setelahnya di alam barzakh, serta kenikmatan dan azab bagi roh dan jasad yang terjadi di sana, yang belum pernah dikenalkan oleh nabi selain beliau.
- Demikian pula beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengenalkan mereka dalil-dalil tauhid, kenabian, hari kebangkitan, dan bantahan terhadap seluruh golongan kekafiran dan kesesatan, yang mana bagi orang yang telah mengenalnya, tidak ada lagi kebutuhan kepada orang setelah beliau, kecuali kepada orang yang menyampaikannya, menjelaskannya, dan menerangkan rahasia yang tersembunyi darinya.
- Demikian pula beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengenalkan mereka tipu daya peperangan, cara menghadapi musuh, jalan-jalan pertolongan dan kemenangan, yang sekiranya mereka mengetahuinya, memahaminya, dan menjaganya dengan sebenar-benarnya penjagaan, niscaya musuh tidak akan pernah bisa tegak berdiri di hadapan mereka selamanya.
- Demikian pula beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengenalkan mereka tipu daya Iblis dan jalan-jalan yang ia tempuh untuk mendatangi mereka, serta cara mereka membentengi diri dari tipu daya dan makarnya, dan cara mereka menolak keburukannya dengan pengenalan yang tidak perlu tambahan.
- Demikian pula beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengenalkan mereka keadaan jiwa mereka, sifat-sifatnya, intrik-intriknya, dan titik-titik rawannya, sehingga mereka tidak butuh lagi kepada selain beliau bersama beliau.
- Demikian pula beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengenalkan mereka urusan-urusan penghidupan mereka, yang sekiranya mereka mengetahuinya dan mengamalkannya, niscaya urusan dunia mereka akan berjalan dengan sangat baik.
Singkatnya, beliau membawa kebaikan dunia dan akhirat seluruhnya kepada mereka dan Allah menjadikan mereka butuh kepada seorang pun selain beliau. Maka, bagaimana mungkin ada yang menyangka bahwa syariat-Nya yang sempurna ini—yang belum pernah ada syariat yang lebih sempurna darinya di dunia ini—adalah kurang, sehingga membutuhkan politik dari luar syariat yang menyempurnakannya, atau kias, hakikat, maupun nalar yang berasal dari luar syariat tersebut?
Barang siapa menyangka demikian, ia bagaikan orang yang menyangka bahwa manusia membutuhkan rasul lain setelah beliau. Penyebab semua ini dari orang yang beranggapan demikian adalah ketidaktahuannya terhadap ajaran yang beliau bawa dan kurangnya pemahaman yang dianugerahkan Allah kepada para sahabat Nabi yang merasa cukup dengan ajaran yang beliau bawa, tidak butuh pada selainnya, serta dengannya mereka menaklukkan hati dan negeri. Mereka berkata, “Inilah wasiat Nabi kami kepada kami, dan inilah wasiat kami kepada kalian.”
Selesai perkataan beliau—semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya—.
Katakanlah kepadaku—demi Rabmu—wahai hamba Allah: Hal apa yang tersisa dari urusan agama, baik yang kecil maupun yang besar, yang belum dijelaskan oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—? Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang tersisa. Lantas, bagaimana Anda mencari keselamatan bukan pada petunjuk beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan bukan dengan mengikuti sunah beliau? Apakah dalam politik, pemikiran yang menyimpang, atau cara-cara bidah yang ditempuh di sana-sini yang diklaim terdapat keselamatan di baliknya? Demi Allah, mereka tidak membela Islam dan tidak pula mematahkan musuh-musuh Islam. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Sumber: Min Tsamarat At-Tamassuk bis-Sunnah karya Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari hafizhahullah
Be the first to leave a comment