Tafsir Surah Abasa Ayat 1—16

ismail  

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ۝١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ۝٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ ۝٣ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ۝٤ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ ۝٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ ۝٦ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ ۝٧ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ ۝٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ ۝٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ ۝١٠ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٌ ۝١١ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ۝١٢ فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ ۝١٣ مَّرۡفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةِۭ ۝١٤ بِأَيۡدِى سَفَرَةٍ ۝١٥ كِرَامِۭ بَرَرَةٍ﴾ [عبس: ١-١٦].

Allah—‘azza wa jalla—berfirman:

  1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
  2. karena telah datang seorang buta kepadanya.
  3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
  4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
  5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
  6. maka kamu melayaninya.
  7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
  8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
  9. sedang ia takut kepada (Allah),
  10. maka kamu mengabaikannya.
  11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
  12. maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
  13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
  14. yang ditinggikan lagi disucikan,
  15. di tangan para penulis (malaikat),
  16. yang mulia lagi berbakti.

البسملة تقدم الكلام عليها.

Basmalah telah berlalu pembicaraannya.

Ayat 1

﴿عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ﴾ الضمير يعود إلى رسول الله ﷺ، ومعنى ﴿عَبَسَ﴾؛ أي: كلح في وجهه، يعني: استنكر الشيء بوجهه، ومعنى ﴿وَتَوَلَّىٰٓ﴾: أعرض.

“Dia bermuka masam dan berpaling” Kata ganti dia merujuk kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Makna “‘abasa” adalah raut wajahnya masam, yakni: dia menganggap buruk sesuatu dengan wajahnya. Makna “wa tawallā” adalah dia berpaling.

Ayat 2

﴿أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ﴾ الأعمى هو عبد الله بن عمرو ابن أم مكتوم رضي الله عنه، فإنه جاء إلى النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قبل الهجرة وهو في مكة، وكان عنده قوم من عظماء قريش يطمع النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم في إسلامهم، -ومن المعلوم أن العظماء والأشراف إذا أسلموا كان ذلك سببًا لإسلام من تحتهم، وكان طمع النبي ﷺ فيهم شديدًا- فجاء هذا الأعمى يسأل النبي ﷺ، وذكروا أنه كان يقول: علمني مما علمك الله. ويستقرئ النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فكان النبي عليه الصلاة والسلام يعرض عنه، وعبس في وجهه رجاءً وطمعًا في إسلام هؤلاء العظماء، وكأنه خاف أن هؤلاء العظماء يزدرون النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم إذا وجه وجهه لهذا الرجل الأعمى وأعرض عن هؤلاء العظماء، كما قال قوم نوح: ﴿وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمۡ أَرَاذِلُنَا﴾ [هود: ٢٧]، فكان النبي عليه الصلاة والسلام في عبوسه وتوليه يلاحظ هذين الأمرين:

“Karena seorang buta telah datang kepadanya.” Orang buta ini adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin Umu Maktum—radhiyallahu ‘anhu—. Ia datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—sebelum hijrah ketika beliau berada di Makkah. Saat itu, ada beberapa tokoh besar Quraisy bersamanya dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—berharap mereka masuk Islam. Sudah diketahui bahwa jika tokoh-tokoh besar dan bangsawan masuk Islam, itu akan menjadi sebab bagi orang-orang di bawah mereka untuk masuk Islam. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sangat berharap pada mereka. Lalu orang buta ini datang untuk bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan mereka menyebutkan bahwa saat itu orang buta tersebut berkata, “Ajari aku ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu!”

Dia meminta diajari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—. Lalu Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—berpaling darinya sambil bermuka masam karena mengharap dan menginginkan agar orang-orang besar itu masuk Islam. Seolah-olah beliau khawatir orang-orang besar itu akan menghina Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—jika beliau memalingkan wajahnya kepada orang buta itu dan berpaling dari orang-orang besar itu, sebagaimana perkataan kaum Nabi Nuh,

وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمۡ أَرَاذِلُنَا

Dan kami tidak melihat ada yang mengikuti kamu kecuali orang-orang yang paling rendah di antara kami.

QS Hud: 27.

Jadi alasan Nabi Muhammad—‘alaihish-shalatu was-salam—ketika bermuka masam dan berpaling adalah karena mempertimbangkan dua hal ini:

الأمر الأول: الرجاء في إسلام هؤلاء العظماء.

والأمر الثاني: ألا يزدروا النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم في كونه يلتفت إلى هذا الرجل الأعمى الذي هو محتقر عندهم، ولا شك أن هذا اجتهاد من رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم، وليس احتقارًا لابن أم مكتوم؛ لأننا نعلم أن النبي ﷺ لا يهمه إلا أن تنتشر دعوة الحق بين عباد الله، وأن الناس عنده سواء، بل من كان أشد إقبالًا على الإسلام فهو أحب إليه، هذا ما نعتقده في رسول الله ﷺ.

Pertimbangan pertama: Harapan agar orang-orang besar ini masuk Islam.

Pertimbangan kedua: Supaya mereka tidak meremehkan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—apabila beliau memperhatikan orang buta ini, yang mereka anggap hina. Tidak diragukan lagi, ini adalah ijtihad dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—, bukan penghinaan terhadap Ibnu Umu Maktum. Karena kita tahu bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sangat bersemangat menyebarkan dakwah kepada kebenaran di antara hamba-hamba Allah dan bahwa semua orang sama di mata beliau. Sesungguhnya, siapa saja orangnya yang lebih menyambut agama Islam, maka dia adalah orang yang paling beliau cintai. Inilah yang kita yakini tentang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Ayat 3

﴿وَمَا يُدۡرِيكَ﴾؛ أي: أي شيء يريبك أن يتزكى هذا الرجل ويقوي إيمانه. ﴿لَعَلَّهُۥ﴾؛ أي: لعل ابن أم مكتوم ﴿يَزَّكَّىٰٓ﴾؛ أي: يتطهر من الذنوب والأخلاق التي لا تليق بأمثاله، فإذا كان هذا هو المرجو منه فإنه أحق أن يلتفت إليه.

Wa mā yudrīka (tahukah kamu)” maksudnya: apa yang membuatmu ragu bahwa orang ini akan menyucikan dirinya dan memperkuat imannya? “La‘allahu” artinya: barangkali Ibnu Umu Maktum akan “yazzakkā”, yakni: menyucikan dirinya dari dosa dan sifat-sifat yang tidak pantas. Jika ini yang diharapkan darinya, maka sungguh dia lebih layak mendapat perhatian.

Ayat 4

﴿أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ﴾ يعني: وما يدريك لعله يذكر -أي: يتعظ- فتنفعه الموعظة فإنه رضي الله عنه أرجى من هؤلاء أن يتعظ ويتذكر.

“Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” Yakni: Tahukah kamu bahwa barangkali dia ingin mendapat pelajaran, lalu pelajaran itu akan bermanfaat baginya? Karena dia—radhiyallahu ‘anhu—lebih diharapkan untuk mendapat pelajaran daripada mereka ini.

Ayat 5 dan 6

﴿أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ﴾ يعني: استغنى بماله لكثرته، واستغنى بجاهه لقوته، وهم العظماء الذين عند رسول الله ﷺ، فهذا ﴿فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ﴾؛ أي: تتعرض وتطلب إقباله عليك وتقبل عليه.

“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,” yakni: dia merasa serba cukup dengan hartanya saking banyaknya, merasa serba cukup dengan kehormatannya karena kekuatannya, dan mereka adalah para pembesar yang sedang berada di dekat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. “Maka kamu melayaninya,” artinya: engkau menghadapi dan memintanya menghadapmu dan kamu menghadapnya.

Ayat 7

﴿وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ﴾ يعني: ليس عليك شيء إذا لم يتزكى هذا المستغني؛ لأنه ليس عليك إلا البلاغ، فبيّن الله سبحانه وتعالى أن ابن أم مكتوم رضي الله عنه أقرب إلى التزكي من هؤلاء العظماء، وأن هؤلاء إذا لم يتزكوا مع إقبال الرسول عليه الصلاة والسلام عليهم فإنه ليس عليه منهم شيء. ﴿وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ﴾ يعني: ليس عليك شيء إذا لم يتزكى هذا المستغني؛ لأن إثمه علي نفسه، وليس عليك إلا البلاغ.

“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)” yakni: bukan tanggung jawabmu jika orang merasa serba cukup ini tidak membersihkan dirinya, karena kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah—subhanahu wa ta’ala—menjelaskan bahwa Ibnu Umu Maktum—radhiyallahu ‘anhu—lebih mungkin menyucikan diri daripada para pembesar ini. Jika mereka tidak menyucikan diri meskipun Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—mendekati mereka, maka beliau tidak bertanggung jawab atas mereka. “Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)” artinya: kamu tidak bertanggung jawab jika orang yang merasa dirinya cukup ini tidak menyucikan dirinya, karena dosanya ada pada dirinya sendiri dan kewajibanmu hanyalah menyampaikan.

Ayat 8-10

ثم قال تعالى: ﴿وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ ۝٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ ۝٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ﴾ هذا مقابل قوله: ﴿أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ ۝٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ﴾.

Kemudian Allah taala berfirman, “Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya.” Ayat ini kebalikan firman-Nya, “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya.”

﴿وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ﴾؛ أي: يستعجل من أجل انتهاز الفرصة إلى حضور مجلس النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم، ﴿وَهُوَ يَخۡشَىٰ﴾؛ أي: يخاف الله عز وجل بقلبه؛ لعلمه بعظمته تعالى.

“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),” artinya: ia bergegas untuk meraih kesempatan menghadiri majelis Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—“sedang ia takut,” artinya: ia takut kepada Allah—‘azza wa jalla—dalam hatinya karena pengetahuannya akan keagungan Allah taala.

﴿فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ﴾؛ أي: تتلهى عنه وتتغافل؛ لأنه انشغل برؤساء القوم لعلهم يهتدون.

“Maka kamu mengabaikannya,” artinya: kalian tidak menghiraukan dan mengabaikannya, karena ia tersibukkan dengan para pemimpin kaum, berharap mereka akan mendapat petunjuk.

Ayat 11

﴿كـَلَّآ﴾ يعني: لا تفعل مثل هذا؛ ولهذا نقول: إن ﴿كـَلَّآ﴾ هنا حرف ردع وزجر، أي: لا تفعل مثل ما فعلت. ﴿إِنَّهَا تَذۡكِرَةٌ﴾؛ أي: الآيات القرآنية التي أنزلها الله على رسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم. ﴿تَذۡكِرَةٌ﴾ تذكر الإنسان بما ينفعه وتحثه عليه، وتذكر له ما يضره وتحذره منه، ويتعظ بها القلب.

Kallā” yakni: Jangan engkau melakukan hal seperti ini! Oleh karenanya, kita mengatakan bahwa kata “kallā” di sini adalah kata rad’ (pencegahan) dan zajr (teguran), artinya: Jangan melakukan perbuatan semisal yang telah kamu lakukan.

Innahā tażkirah (Sesungguhnya itu adalah peringatan),” kata ganti “hā” merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—. “Tażkirah (Peringatan)” yang akan mengingatkan seseorang tentang segala yang bermanfaat baginya dan yang akan mendorongnya untuk melakukannya; yang akan mengingatkannya tentang segala yang membahayakannya dan memperingatkannya terhadapnya; dan yang akan diambil pelajaran oleh hati.

Ayat 12

﴿فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ﴾؛ أي: فمن شاء ذكر ما نزل من الموعظة فاتعظ، ومن شاء لم يتعظ؛ لقول الله تعالى: ﴿وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡ ۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ﴾ [الكهف: ٢٩].

Faman syā’a żakarah” artinya: Barangsiapa yang ingin, maka ia akan mengingat peringatan yang telah diturunkan dan mengambil pelajaran, dan barangsiapa yang ingin, maka ia tidak akan mengambil pelajaran, berdasar firman Allah taala:

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡ ۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Rab kalian; maka barangsiapa yang ingin, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin, biarlah ia kafir.”

QS Al-Kahfi: 29.

فالله جعل للإنسان الخيار قدرًا بين أن يؤمن ويكفر، أما شرعًا فإنه لا يرضى لعباده الكفر، وليس الإنسان مخير شرعًا بين الكفر والإيمان، بل هو مأمور بالإيمان ومفروض عليه الإيمان، لكن من حيث القدر هو مخير، وليس كما يزعم بعض الناس مسير مجبر على عمله، بل هذا قول مبتدع، ابتدعه الجبرية من الجهمية وغيرهم.

Allah telah memberikan pilihan kepada manusia secara takdir, antara beriman atau kafir. Namun, secara syariat, Allah tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya. Manusia tidak memiliki pilihan secara syariat antara kekafiran dan keimanan, karena ia diperintahkan untuk beriman dan diwajibkan untuk beriman. Namun, secara takdir, manusia memiliki pilihan. Ini bukan berarti manusia disetir atau dipaksa melakukan perbuatannya, seperti yang diklaim oleh sebagian orang. Ini adalah pendapat bidah yang diciptakan oleh golongan Jabriyyah dari kalangan Jahmiyyah dan lainnya.

فالإنسان في الحقيقة مخير؛ ولذلك إذا وقع الأمر بغير أختياره -كالمكره والنائم والنسي ونحوهم- لم يترتب عليه حكمه فيما بينه وبين الله تعالى.

Sebenarnya, manusia memiliki pilihan dalam perbuatannya. Oleh karena itu, jika sesuatu terjadi tanpa pilihannya, seperti karena dipaksa, sedang tidur, atau lupa, maka tidak ada konsekuensi hukum antara dia dan Allah taala.

﴿فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ﴾؛ أي: ذكر ما نزل من الوحي فاتعظ به، ومن شاء لم يذكره، والموفق من وفقه الله عز وجل.

Faman syā’a żakarah (Barangsiapa yang ingin, maka ia akan mengingatnya)” yaitu: ia akan mengingat wahyu yang telah diturunkan dan mengambil pelajaran darinya. Dan barangsiapa yang ingin, maka ia tidak akan mengingatnya. Orang yang mendapat taufik adalah orang yang diberi taufik oleh Allah—‘azza wa jalla.

Ayat 13-14

﴿فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ ۝١٣ مَّرۡفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةِۭ﴾؛ أي: أن هذا الذكر الذي تضمنته هذه الايات ﴿فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ ۝١٣ مَّرۡفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةِۭ﴾ معظمة عند الله، والصحف جمع صحائف، والصحائف جمع صحيفة، وهي ما يكتب فيه القول.

Fī ṣuḥufin mukarramah, marfū’atin muṭahharah” artinya: Sesungguhnya peringatan yang terkandung dalam ayat-ayat ini berada “di lembaran-lembaran yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan” yang dimuliakan di sisi Allah.

Ṣuḥuf adalah bentuk jamak dari kata ṣaḥā’if dan ṣaḥā’if adalah bentuk jamak dari ṣaḥīfah, yaitu media tempat ditulisnya ucapan.

Ayat 15

﴿بِأَيۡدِى سَفَرَةٍ﴾ السفرة الملائكة، وسموا سفرة لأنهم كتبة، مأخوذة من السَّفَر أو من السِّفۡرِ وهو الكتاب، كقوله تعالى: ﴿كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢا﴾ [الجمعة: ٥]، وقيل: السفرة الوسطاء بين الله وبين خلقه، من السفير، وهو الواسطة بين الناس، ومنه حديث أبي رافع رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم تزوج ميمونة رضي الله عنها قبل أن يحرم، قال: (وكنت السفير بينهما) أي: الواسطة، والصحيح أنهم سموا سفرة؛ لأنهم سفراء بين الله وبين الخلق، فجبريل عليه الصلاة والسلام واسطة بين الله وبين الخلق في النزول بالوحي، والكتبة الذين يكتبون ما يعمل الإنسان أيضًا يكتبونه ويبلغونه إلى الله عز وجل، والله تعالى عالم به حين كتابته وقبل كتابته.

Bi aidī safarahas-safarah adalah malaikat. Mereka disebut safarah karena mereka adalah penulis-penulis (catatan amal). Kata safarah diambil dari kata safar atau sifr yaitu kitab, seperti firman Allah taala:

كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢا

Seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.

QS Al-Jumu’ah: 5.

Ada juga yang mengatakan bahwa safarah adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya, diambil dari kata safir yaitu perantara antarmanusia. Yang termasuk dalam arti ini adalah hadis Abu Rafi’—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—menikahi Maimunah—radhiyallahu ‘anha—sebelum beliau ihram. Abu Rafi’ berkata, “Aku adalah safir antara keduanya.” Safir artinya perantara.

Yang lebih tepat adalah mereka disebut safarah karena mereka adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Jibril adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya dalam menurunkan wahyu. Para malaikat penulis yang mencatat amal manusia juga termasuk di dalamnya. Mereka menyampaikan catatan itu kepada Allah—‘azza wa jalla—dan Allah taala sudah mengetahuinya baik ketika ditulis maupun sebelum ditulis.

Ayat 16

﴿كِرَامِۭ﴾ أي: كرام في أخلاقهم.. كرام في خلقتهم؛ لأنهم على أحسن خلقة، وعلى أحسن خُلق، ﴿بَرَرَةٍ﴾ جمع بر، وهو كثير الفضل والإحسان؛ ولهذا وصف الله الملائكة بأنهم كرام كاتبون يعلمون ما تفعلون، وأنهم عليهم الصلاة والسلام لا يستكبرون عن عبادة الله ولا يستحسرون، يسبحون الليل والنهار لا يفترون.

Kirām” artinya: Malaikat itu mulia dalam akhlak mereka, mulia dalam bentuk penciptaan mereka, karena mereka diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna dan akhlak yang paling baik. “Bararah” adalah bentuk jamak dari kata barr, yaitu: banyak keutamaan dan kebaikan.

Oleh karena itu, Allah menggambarkan malaikat sebagai kirām kātibūn (malaikat yang mulia dan mencatat amal), mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Mereka tidak pernah merasa sombong untuk beribadah kepada Allah dan tidak pernah merasa lelah, mereka bertasbih siang malam tanpa henti.

Faedah-Faedah

وهذه الايات فيها تأديب من الله عز وجل للخلق ألا يكون همهم هَمًّا شخصيًّا، بل يكون همهم همًّا معنويًّا، وألا يفضلوا في الدعوة إلى الله شريفًا لشرفه، ولا عظيمًا لعظمته، ولا قريبًا لقربه، بل يكون الناس عندهم سواء في الدعوة إلى الله الفقير والغني، الكبير والصغير، القريب والبعيد،

Ayat-ayat ini mengandung didikan dari Allah—‘azza wa jalla—kepada para makhluk-Nya bahwa perhatian mereka seharusnya bukan perhatian pribadi, melainkan perhatian moral, dan bahwa mereka seharusnya tidak mengutamakan orang yang mulia karena kemuliaannya, atau orang besar karena kebesarannya, atau orang dekat karena kedekatannya dalam dakwah kepada Allah. Namun semua orang dalam pandangan mereka harus setara dalam dakwah kepada Allah, baik yang miskin maupun yang kaya, yang tua maupun yang muda, yang dekat maupun yang jauh.

وفيها أيضًا تلطف الله عز وجل بمخاطبة النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم فقال في أولها: ﴿عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ۝١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ﴾ ثلاث جمل لم يخاطب الله فيها النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم؛ لأنها عتاب، فلو وجهت إلى الرسول بالخطاب لكان شديدًا، لكن جاءت بالغيبة ﴿عَبَسَ﴾، وإلا كان مقتضي الحال أن يقول: عبست وتوليت إن جاءك الأعمي، ولكنه قال: ﴿عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ﴾، فجعل الحكم للغائب؛ كراهية أن يخاطب النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم بهذه الكلمات الغليظة الشديدة؛ ولأجل ألا يقع بمثل ذلك من يقع من هذه الأمة، والله سبحانه وتعالى وصف كتابه العزيز بأنه بلسان عربي مبين، وهذا من بيانه،

Ayat-ayat ini juga menunjukkan kelembutan Allah—‘azza wa jalla—dalam membicarakan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—. Allah berkata di awalnya,

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ۝١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ

Dia bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.

Tiga kalimat yang Allah tidak langsung membicarakan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—dengan kata-kata “kamu”, karena kalimat-kalimat itu merupakan teguran. Jika kalimat-kalimat itu ditujukan langsung kepada Rasulullah, tentu akan terkesan keras. Tetapi kalimat itu disampaikan dalam bentuk orang ketiga, “Dia bermuka masam.”

Jika tidak karena alasan ini, konteksnya akan mengharuskan-Nya untuk mengatakan: “Kamu bermuka masam dan berpaling ketika orang buta itu datang kepadamu.” Akan tetapi Allah berkata, “Beliau bermuka masam dan berpaling,” sehingga menjadikan kalimat tersebut dalam bentuk orang ketiga, karena tidak senang membicarakan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—dengan kata-kata yang keras dan tegas seperti itu.

Selain itu, hal ini juga agar umat Islam tidak terjatuh pada perbuatan yang semisal ini.

Allah—subhanahu wa ta’ala—telah menyifati kitab-Nya yang mulia bahwa Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab yang jelas dan ini termasuk kejelasannya.

وفي الايات أيضًا دليل على جواز لقب الإنسان بوصفه مثل الأعمى والأعرج والأعمش، وقد كان العلماء يفعلون هذا، الأعرج عن أبي هريرة، والأعمش عن ابن مسعود… وهكذا، قال أهل العلم: واللقب بالعيب إذا كان المقصود به تعيين الشخص فلا بأس به، وأما إذا كان المقصود به تعيير الشخص فإنه حرام؛ لأن الأول -إذا كان المقصود به تبيين الشخص- تدعو الحاجة إليه، والثانية -إذا كان المقصود به التعيير- فإنه لا يقصد به التبيين، وإنما يقصد به الشماتة، وقد جاء في الأثر: (لا تظهر الشماتة في أخيك فيرحمه الله ويبتليك).

Dan di dalam ayat-ayat tersebut juga terdapat dalil atas bolehnya memberi julukan kepada seseorang dengan sifatnya, seperti si Buta (Al-A’ma), si Pincang (Al-A’raj), dan si Mata Rabun (Al-A’masy). Para ulama dahulu pun melakukannya, seperti “Al-A’raj dari Abu Hurairah”, “Al-A’masy dari Ibnu Mas’ud”, dan seterusnya.

Ulama berkata: Menjuluki dengan kekurangan fisik apabila tujuannya untuk mengidentifikasi orang tersebut, maka tidak mengapa. Adapun jika tujuannya untuk menghina orang tersebut, maka hukumnya haram.

Hal itu dikarenakan yang pertama—jika tujuannya untuk memperjelas identitas seseorang—merupakan suatu kebutuhan. Sedangkan yang kedua—jika tujuannya untuk menghina—berarti ia tidak bertujuan untuk memperjelas identitas, melainkan bertujuan untuk bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Telah disebutkan dalam sebuah riwayat: “Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas penderitaan saudaramu, sehingga menyebabkan Allah merahmati dia dan justru mengujimu.”1HR At-Tirmidzi nomor 2506.


Sumber: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, surah Abasa, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *