قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلۡكُبۡرَىٰ ٣٤ يَوۡمَ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ٣٥ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ٣٦ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ٣٧ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ٣٨ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٣٩ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ﴾ [النازعات: ٣٤-٤١].
Allah—‘azza wa jalla—berfirman,
- Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.
- Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,
- dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.
- Adapun orang yang melampaui batas,
- dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
- maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).
- Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
- maka sesungguhnya janahlah tempat tinggal(nya).
ولما ذكَّر الله عز وجل عباده بهذه النعم الدالة على كمال قدرته ورحمته ذكرهم بمآلهم الحتمي الذي لابد منه، فقال عز وجل: ﴿فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلۡكُبۡرَىٰ ٣٤ يَوۡمَ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ ٣٥ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ ٣٦ فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ٣٧ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ٣٨ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٣٩ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ﴾ [النازعات: ٣٤-٤١].
Ketika Allah—‘azza wa jalla—mengingatkan hamba-hamba-Nya akan nikmat-nikmat tersebut yang menjadi bukti kesempurnaan kekuasaan dan kasih sayang-Nya, Dia mengingatkan mereka akan tempat kembali mereka yang tidak dapat dielakkan, maka Dia—‘azza wa jalla—berfirman, “Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya janahlah tempat tinggal(nya).” (QS An-Nazi’at: 34-41).
ِAyat 34
﴿فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلۡكُبۡرَىٰ﴾ وذلك قيام الساعة، وسماها طامة؛ لأنها داهية عظيمة تطم كل شيء سبقها. ﴿ٱلۡكُبۡرَىٰ﴾ يعني: أكبر من كل طامة.
“Maka apabila malapetaka yang sangat besar telah datang” yaitu terjadinya hari kiamat. Allah menamakannya ṭāmmah karena hari itu adalah petaka besar yang menghancurkan segala sesuatu yang ada sebelumnya.
“Al-Kubrā” yakni lebih besar dari seluruh malapetaka.
Ayat 35
﴿يَوۡمَ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا سَعَىٰ﴾ لهذا اليوم الذي تكون فيه الطامة الكبرى، وهو اليوم الذي يتذكر فيه الإنسان ما سعى؛ أي: ما عمله في الدنيا، يتذكره مكتوبًا بكتاب يقرأه هو بنفسه، قال الله تعالى: ﴿وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبًا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا ١٣ ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبًا﴾ [الإسراء: ١٣-١٤]، فإذا قرأه تذكر ما سعى؛ أي ما عمل، أما اليوم فإننا قد نسينا ما عملنا، عملنا أعمالًا كثيرة؛ منها الصالح، ومنها اللغو، ومنها السيىء، لكن كل هذا ننساه، وفي يوم القيامة يعرض علينا هذا في كتاب، ويقال: اقرأ كتابك أنت بنفسك ﴿كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبًا﴾ [الإسراء: ١٤]، فحينئذ يتذكر ما سعى ﴿وَيَقُولُ ٱلۡكَافِرُ يَٰلَيۡتَنِى كُنتُ تُرَٰبَۢا﴾ [النبأ: ٤٠].
“Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa saja yang telah dikerjakannya,” pada hari terjadinya malapetaka yang paling besar, yaitu hari ketika manusia teringat akan apa saja yang telah dikerjakannya, yakni apa yang telah diperbuatnya di dunia. Ia akan mengingatnya tertulis dalam sebuah kitab yang akan dibacanya sendiri.
Allah taala berfirman, “Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.’” (QS Al-Isra: 13-14).
Jika ia membacanya, ia akan mengingat semua yang ia kerjakan; yakni apa saja yang ia perbuat. Namun, hari ini kita telah melupakan perbuatan yang telah kita kerjakan. Kita telah melakukan banyak amal; ada yang baik, ada yang sia-sia, dan ada yang buruk, tetapi kita melupakan semua itu. Pada hari kiamat, semua itu akan dipaparkan kepada kita dalam sebuah kitab. “Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS Al-Isra: 14).
Di saat inilah dia akan mengingat semua yang telah dikerjakannya “dan orang kafir akan berkata: Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS An-Naba’: 40).
Ayat 36
﴿وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ لِمَن يَرَىٰ﴾ ﴿وَبُرِّزَتِ﴾ أظهرت، تجيء تقاد بسبعين ألف زمام، كل زمام فيه سبعون ألف ملك يجرونها، إذا ألقي منها الظالمون مكانًا ضيقًا مقرنين دعوا هنالك ثبورًا، فتنخلع القلوب ويشيب المولود. ثم قال:
“Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.” “Wa burrizat” diperlihatkan. Neraka datang diikat dengan tujuh puluh ribu tali kekang. Masing-masing tali kekang ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.
Ketika orang-orang yang zalim dilemparkan ke tempat sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan, maka hati menjadi takut dan bayi yang baru lahir menjadi tua.
Ayat 37-38
Kemudian Allah berfirman,
﴿فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ٣٧ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا﴾ هذان وصفان هما وصفا أهل النار؛ الطغيان وهو مجاوزة الحد، وإيثار الدنيا على الآخرة بتقديمها على الآخرة، وهما متلازمتان، فكل من طغى فقد آثر الحياة الدنيا، وكذلك العكس، والطغيان: مجاوزة الحد، وحد الإنسان مذكور في قوله تعالى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦].
“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,” dua sifat ini adalah sifat penghuni neraka. Aṭ-Ṭugyān adalah melampaui batas. Mengutamakan dunia di atas akhirat adalah memprioritaskan dunia daripada akhirat. Kedua sifat ini saling terkait. Setiap orang yang melampaui batas, maka ia lebih mengutamakan kehidupan dunia. Demikian pula sebaliknya.
Aṭ-Ṭugyān adalah melampaui batas. Batas manusia disebutkan dalam firman Allah taala, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat: 56).
فمن جاوز حده ولم يعبد الله فهذا هو الطاغي؛ لأنه تجاوز الحد، فأنت مخلوق لا لتأكل وتتنعم وتتمتع كما تتمتع الأنعام، بل أنت مخلوق لعبادة الله، فاعبد الله عز وجل، فإن لم تفعل فقد طغيت، فهذا هو الطغيان؛ ألا يقوم الإنسان بعبادة الله.
Barang siapa melampaui batasnya dan tidak beribadah kepada Allah, maka ia adalah seorang aṭ-ṭāgi, karena ia telah melampaui batas. Engkau diciptakan bukan untuk makan, bersenang-senang, dan berfoya-foya seperti ternak, tetapi engkau diciptakan untuk beribadah kepada Allah, maka sembahlah Allah—‘azza wa jalla—. Jika tidak kaulakukan, maka engkau telah melampaui batas, dan inilah aṭ-ṭugyān, yaitu ketika manusia tidak beribadah kepada Allah.
﴿وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا﴾؛ أي: قدمها على طاعة الله، مثاله رجل إذا أذن الفجر آثر النوم على الصلاة، وإذا قيل له: اذكر الله. آثر اللغو على ذكر الله، وهكذا…
“Lebih mengutamakan kehidupan dunia” artinya ia lebih mengutamakan dunia daripada ketaatan kepada Allah. Contohnya adalah seseorang yang, ketika azan salat subuh dikumandangkan, lebih memilih tidur daripada salat. Atau jika ia disuruh, “Ingatlah Allah!” ia lebih memilih berbicara yang sia-sia daripada mengingat Allah; dan contoh yang lain.
Ayat 39
﴿فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ﴾؛ أي: هي مأواه، والمأوى هو المرجع والمقر، وبئس المقر مقر جهنم -أعاذنا الله منها-.
“Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal” yakni tempat tinggalnya. Al-Ma’wā adalah tempat kembali dan tempat tinggal. Sejelek-jelek tempat tinggal adalah tempat tinggal di neraka Jahanam. Semoga Allah melindungi kita darinya.
Ayat 40
﴿وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ﴾ يعني: خاف القيام بين يديه؛ لأن الإنسان يوم القيامة سوف يقرره الله عز وجل بذنوبه حين يخلو به، ويقول: عملت كذا، عملت كذا، عملت كذا. كما جاء في الصحيح، فإذا أقر قال الله له: (قد سترتها عليك في الدنيا، وأنا أغفرها لك اليوم)، هذا الذي خاف هذا المقام.
“Dan adapun orang-orang yang takut akan maqāma Rabbih” yakni dia khawatir ketika berdiri di hadapan Allah, karena manusia pada hari kiamat saat sedang sendirian bersama-Nya akan diminta pengakuannya oleh Allah—‘azza wa jalla—akan dosa-dosanya. Allah akan berkata, “Engkau telah melakukan demikian, engkau telah melakukan ini, engkau telah melakukan itu,” sebagaimana hadisnya terdapat dalam kitab Ash-Shahih. Jika manusia telah mengakuinya, Allah berkata kepadanya, “Aku telah menutupi dosamu itu ketika di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya.”1HR Al-Bukhari nomor 2441, 4685, 6070 dan Muslim nomor 2768.
Inilah orang yang takut akan posisi berdirinya (di hari itu).
﴿وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ﴾؛ أي: عن هواها المخالف لأمر الله ورسوله، والنفس أمَّارة بالسوء لا تأمر إلا بالشر، ولكن هناك نفس أخرى تقابلها، وهي النفس المطمئنة؛ وللإنسان ثلاث نفوس: مطمئنة، وأمارة، ولوامة، وكلها في القرآن، أما المطمئنة ففي قوله تعالى: ﴿يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧ ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ٢٨ فَٱدۡخُلِى فِى عِبَٰدِى ٢٩ وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى﴾ [الفجر: ٢٧-٣٠]، وأما الأمَّارة بالسوء ففي قوله تعالى: ﴿وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ﴾ [يوسف: ٥٣]، وأما اللوامة ففي قوله تعالى: ﴿لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ١ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ﴾ [القيامة: ١-٢].
“Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,” yaitu dari hawa nafsu yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Hawa nafsu ammaratun bis-su’ tidaklah memerintahkan kecuali kepada kejelekan. Namun di sana ada hawa nafsu lain yang menghadapinya yaitu hawa nafsu al-muthma’innah.
Manusia memiliki tiga hawa nafsu: muthma’innah, ammarah, dan lawwamah. Semuanya disebutkan dalam Al-Qur’an.
Hawa nafsu muthma’innah disebutkan dalam firman Allah taala,
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧ ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ٢٨ فَٱدۡخُلِى فِى عِبَٰدِى ٢٩ وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabmu dengan hati yang rida lagi diridai. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam janah-Ku. (QS Al-Fajr: 27-30).
Adapun hawa nafsu ammarah bis-su’ disebutkan dalam firman Allah taala,
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabku. (QS Yusuf: 53).
Adapun hawa nafsu lawwamah disebutkan dalam firman Allah taala,
لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ١ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ
Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS Al-Qiyamah: 1-2).
والإنسان يحس بنفسه بهذه الۡأنفس؛ يرى في نفسه أحيانًا نزعة خير فيحب الخير ويفعله، وهذه هي النفس المطمئنة، ويرى أحيانًا في نفسه نزعة شر فيفعله، وهذه النفس الأمارة بالسوء، وتأتي بعد ذلك النفس اللوامة التي تلومه على ما فعل، فتجده يندم على ما فعل من المعصية، أو لوامة أخرى تلومه على ما فعل من الخير، فإن من الناس من قد يلوم نفسه على فعل الخير وعلى مصاحبة أهل الخير، ويقول: كيف أصاحب هؤلاء الذين صدوني عن حياتي.. عن شهواتي.. عن لهوي. وما أشبه ذلك، فاللوامة نفس تلوم الأمارة بالسوء مرة، وتلوم المطمئنة مرة أخرى، فهي في الحقيقة نفس بين نفسين تلوم النفس الأمارة بالسوء إذا فعلت السوء، وتندم الإنسان، وقد تلوم النفس المطمئنة إذا فعلت الخير.
Seseorang bisa merasakan keberadaan tiga nafsu ini pada dirinya. Terkadang ia melihat dalam dirinya ada kecenderungan menuju kebaikan, sehingga ia mencintai kebaikan dan melakukannya. Ini adalah nafsu muthma’innah. Di lain waktu, ia melihat dalam dirinya ada kecenderungan menuju kejahatan, sehingga ia berbuat jahat. Ini adalah nafsu ammarah bis-su’. Kemudian muncul nafsu lawwamah yang menyalahkan dirinya atas perbuatan yang telah dilakukan, menyebabkan ia menyesali maksiat yang dilakukannya. Atau ada nafsu lawwamah lain yang menyalahkan dirinya atas kebaikan yang telah ia lakukan, karena ada sebagian orang menyalahkan dirinya sendiri karena berbuat baik dan bergaul dengan orang-orang baik, dengan berkata, “Bagaimana mungkin aku bergaul dengan mereka yang menghalangiku dari hidupku, hasratku, dan kesenanganku?” dan lain sebagainya.
Nafsu lawwamah terkadang menyalahkan nafsu ammarah bis-su’ dan di lain waktu ia menyalahkan nafsu muthma’innah. Pada hakikatnya, ia adalah nafsu di antara dua nafsu yang menyalahkan nafsu ammarah bis-su’ ketika ia berbuat jelek dan menyebabkan orang tersebut menyesalinya. Terkadang ia menyalahkan nafsu muthma’innah ketika ia berbuat baik.
Ayat 41
﴿فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ﴾ الجنة هي دار النعيم التي أعدها الله عز وجل لأوليائه، فيها ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر، قال الله تعالى: ﴿فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّآ أُخۡفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٍ﴾ [السجدة: ١٧]، هكذا جاء في القرآن.
“Sesungguhnya janah adalah tempat kembali.” Janah adalah negeri yang penuh kenikmatan yang telah Allah—‘azza wa jalla—persiapkan bagi para wali-Nya. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum pernah terpikirkan oleh pikiran manusia. Allah taala berfirman, “Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenikmatan yang disembunyikan untuk mereka, yang sejuk dipandang.” (QS As-Sajdah: 17) Demikian disebutkan dalam Al-Qur’an.
وجاء في الحديث القدسي: (أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر)،
Disebutkan dalam hadis qudsi, “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh berbagai kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terpikirkan oleh pikiran manusia.”2HR Al-Bukhari nomor 3244 dan Muslim nomor 2824.
هذه الجنة يدركها الإنسان قبل أن يموت، إذا حضر الأجل ودعت الملائكة النفس للخروج قالت: أخرجي أيتها النفس المطمئنة إلى رضوان الله. وتبشر النفس بالجنة، قال الله تعالى: ﴿ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ﴾ يقولونه حين التوفي ﴿ٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ﴾ [النحل: ٣٢]، فيبشر بالجنة، فتخرج روحه راضية متيسرة سهلة؛
Janah ini bisa dirasakan oleh seseorang sebelum ia meninggal. Ketika ajal tiba dan para malaikat memanggil jiwa untuk keluar, mereka berkata, “Keluarlah, wahai jiwa yang tenang, menuju keridaan Allah!”
Jiwa itu diberi kabar gembira dengan janah. Allah taala berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kalian.’” Para malaikat mengucapkan ini ketika mewafatkan. “Masuklah ke dalam janah dengan sebab amalan yang telah kalian kerjakan.” (QS An-Nahl: 32).
Dia diberi kabar gembira dengan janah, sehingga ruhnya keluar dengan tenang, tenteram, dan mudah.
ولهذا لما حدث النبي عليه الصلاة والسلام فقال: (من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه، ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه) قالت عائشة: يا رسول الله، كلنا يكره الموت. فذكر لها أنه ليس الأمر ذلك، ولكن المؤمن إذا بشر بما يبشر به عند الموت أحب لقاء الله أحب الموت وسهل عليه،
Maka, ketika Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—bersabda3 HR Al-Bukhari nomor 6507 dan Muslim nomor 2683., “Barang siapa senang bertemu dengan Allah, Allah pun senang bertemu dengannya. Barang siapa benci bertemu dengan Allah, Allah pun benci bertemu dengannya,”
‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, kami semua membenci kematian.”
Nabi menjelaskan bahwa bukan itu yang dimaksud, akan tetapi ketika seorang mukmin diberi kabar gembira ketika kematian, ia akan senang bertemu dengan Allah, mencintai kematian, dan mudah menjalaninya.
وإن الكافر إذا بشر -والعياذ بالله- بما يسوؤه عند الموت كره لقاء الله وهربت نفسه وتفرقت في جسده حتى ينتزعوها منه كما ينتزع السفود من الشعر المبلول، والشعر المبلول إذا جر عليه السفود وهو معروف عند الغزالين- يكاد يمزقه من شدة سحبه عليه، هكذا روح الكافر والعياذ بالله -تتفرق في جسده؛ لأنها تبشر بالعذاب فتخاف،
Dan jika orang kafir diberi kabar “gembira”—kita berlindung kepada Allah—tentang berita yang akan membuatnya benci di saat kematian, ia akan benci bertemu Allah. Ruhnya akan kabur dan berpencar ke seluruh tubuhnya hingga para malaikat akan mencabut ruh dari tubuhnya bagaikan tusuk besi dicabut dari bulu-bulu yang basah. Jika tusuk besi itu digesekkan ke bulu yang basah—dan ini diketahui oleh para tukang pintal—hampir mengoyaknya saking kuatnya tarikannya. Demikianlah ruh orang kafir—kita berlindung kepada Allah—berpencar ke seluruh tubuhnya karena diberi kabar dengan azab sehingga ia takut.
فالجنة فيها ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر، والإنسان قد يدركها قبل أن يموت بما يبشر به، وقد قال أنس بن النضر رضي الله عنه لسعد بن معاذ: )يا سعد، والله إني لأجد ريح الجنة دون أحد)، وهذا ليس معناه الوجدان الذوقي، بل هو وجدان حقيقي، قال ابن القيم رحمه الله: (إن بعض الناس قد يدرك الآخرة وهو في الدينا)، ثم انطلق فقاتل وقُتل رضي الله عنه.
Janah berisi berbagai kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan dibayangkan oleh pikiran manusia. Seseorang dapat merasakannya sebelum ia meninggal melalui berita gembira yang disampaikan kepadanya. Anas bin An-Nadhr—radhiyallahu ‘anhu—berkata kepada Sa’d bin Mu’adz, “Wahai Sa’d, demi Allah, aku dapat mencium aroma janah di dekat Uhud.”4HR Al-Bukhari nomor 4048 dan Muslim nomor 1903.
Ini bukan persepsi indrawi, melainkan persepsi hakiki. Ibnu Al-Qayyim—rahimahullah—berkata, “Sebagian orang dapat merasakan akhirat saat mereka masih di dunia.”5Silakan lihat Hadi Al-Arwah halaman 161 dan Madarij As-Salikin (3/234).
Kemudian Anas pergi berperang dan terbunuh—radhiyallahu ‘anhu.
فالحاصل أن الجنة فيها ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر.
Intinya adalah janah itu berisi kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum pernah terbayangkan oleh pikiran manusia.
Sumber: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, surah An-Nazi’at, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah
Be the first to leave a comment