Hukum Menjual Emas secara Kredit dengan Mencicil

ismail  

حكم بيع الذهب بالدين مع التقسيط

🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال:

Pertanyaan:

تجار الجملة يبيعون الذهب بالدين، ويسدد بأقساط، فمثلًا يشتري بائع الذهب المفرق بمائة ألف، أو أقل، أو أكثر، ويسددها أقساطًا، فهل في هذا إثم.. ذهب بذهب بفارق الصنعة؟ 

Pedagang grosir menjual emas secara kredit dan pembayarannya dilakukan secara mencicil. Misalnya, penjual emas eceran membeli emas seharga seratus ribu, atau kurang, atau lebih, dan membayarnya secara mencicil. Apakah ada dosa dalam hal ini? … emas dengan emas yang berbeda pembuatannya?

الجواب: 

Jawaban:

هذا لا يجوز، بيع الذهب، أو غيره من العٌمَل إلى أجل، لا يجوز هذا ربًا، فإذا باع ذهبًا بدولار، أو بجنيه استرليني، أو بدينار أردني، أو عراقي، أو غير ذلك، أو بالعملة السعودية نسيئة، أو مع التفرق من غير قبض، هذا هو الربا.

Hal ini tidak diperbolehkan. Menjual emas, atau mata uang lainnya, secara kredit tidak diperbolehkan; ini merupakan riba. Jika seseorang menjual emas dengan dolar, pound sterling, dinar Yordania, dinar Irak, atau mata uang lainnya, atau dengan riyal Saudi secara kredit, atau dengan pertukaran yang dilakukan secara terpisah tanpa pembayaran langsung, ini adalah riba.

النبي ﷺ قال: الذهب بالذهب، والفضة بالفضة، والبر بالبر، والشعير بالشعير، والتمر بالتمر، والملح بالملح، مثلاً بمثل سواء بسواء يدًا بيد، فإذا اختلفت هذه الأصناف؛ فبيعوا كيف شئتم؛ إذا كان يدًا بيد إذا اختلفت لا بأس بالتفاضل، لكن يدًا بيد، فبيع الذهب بالدولار، أو بالفضة، أو بالدنانير، أو بالريال السعودي يدًا بيد لا بأس، أما نسيئة، أو في وقت آخر، يعني يقول له: أعطيك إياه بعدين؛ لا يصح، لا بد يدًا بيد.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, barli dengan barli, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, yang serupa dengan yang serupa, yang setara dengan yang setara, kontan. Jika barang-barang ini berbeda jenisnya, maka juallah sesukamu, asalkan dengan cara kontan.”1 (HR Muslim nomor 1587)

Jika berbeda jenis, tidak ada salahnya ada perbedaan nilai, tetapi harus dengan cara kontan.  Jadi, menjual emas dengan dolar, perak, dinar, atau riyal Saudi secara kontan diperbolehkan. Namun, menjual secara kredit, atau di kemudian hari—artinya, jika seseorang berkata, “Aku akan memberikannya kepadamu nanti”—tidak sah. Harus dengan cara kontan.

وهكذا بيع الذهب بالذهب أكثر، الذهب الجديد بالذهب القديم مع الفرق، هذا ما يجوز، لأن الذهب .. يكون مثلًا بمثل، سواء بسواء.

Demikian pula, menjual emas dengan emas, atau bahkan emas baru dengan emas lama dengan selisih nilai, tidak diperbolehkan, karena emas harus dijual dengan jumlah yang sama, satu dengan yang lain.

ولما اشترى رجل قلادة يوم خيبر، قلادة فيها ذهب وخرز؛ أنكر عليه النبي ﷺ وقال: لا تباع حتى تفصل يعني: لا تباع حتى يفصل الذهب لحاله، والخرز لحاله، وهذا الذي يفعله يقولون: هذا مقابل الصيغة، هذا غلط، الواجب أن يباع الذهب بعملة أخرى حتى لا يقع الربا، أما ذهب بذهب، ولو كان هذا أطيب، وهذا أردأ لا بد يكون مثلًا بمثل.

Ketika seseorang membeli kalung pada hari Khaibar (dengan dinar emas), kalung yang berisi emas dan manik-manik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujuinya dan bersabda, “Tidak boleh dijual sebelum dipisahkan.”2(HR Muslim nomor 1591, At-Tirmidzi nomor 1255, An-Nasa`i nomor 4573 dan 4574)

Artinya, tidak boleh dijual sebelum emas dipisahkan dari manik-maniknya. Mereka yang melakukan hal ini, dengan mengklaim bahwa transaksi tersebut hanya menukar perhiasan, telah keliru. Emas harus dijual dengan mata uang lain untuk menghindari riba. Sekalipun yang satu berkualitas lebih baik dan yang lainnya berkualitas lebih buruk, pertukarannya haruslah setara.

ولما اشترى بعض الصحابة الصاعين من التمر بثلاثة آصاع من التمر؛ أنكر عليه النبي ﷺ وقال: أوه -أي- عين الربا، مع أن الصاعين أفضل من الثلاثة؛ لأنه تمر طيب، لكن أنكر عليه النبي ﷺ قال: عين الربا لا تفعل، بع الجمع بالدراهم ثم اشتر بالدراهم جنيبًا يعني تمرًا طيبًا.

Demikian pula, ketika sebagian sahabat membeli dua takaran kurma dengan tiga takaran kurma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujuinya dan bersabda, “Inilah hakikat riba!”

Meskipun dua takaran lebih baik daripada tiga takaran karena kurmanya berkualitas baik, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujuinya dan bersabda, “Inilah hakikat riba! Jangan lakukan ini! Juallah kurma campuran dengan dirham, lalu gunakan dirhamnya untuk membeli kurma berkualitas baik.”3 (HR Al-Bukhari nomor 2312, Muslim nomor 1594, dan An-Nasa`i nomor 4557)

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3252/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A8%D9%8A%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%87%D8%A8-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D9%85%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%82%D8%B3%D9%8A%D8%B7

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *