حكم من طاف طواف الوداع ثم مكث في مكة
🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
في بداية هذه الحلقة نعود إلى رسالة أحد الإخوة المستمعين يقول: صالح أحمد عالي الغامدي أخونا عرضنا جزءًا من أسئلته في حلقة مضت، وفي هذه الحلقة بقي له عدد آخر من الأسئلة، فيقول في أحد أسئلته: حججت العام الماضي والحمد لله، وعندما أخذت طواف الوداع قبل المغرب بساعة بعد صلاة العشاء خرجت ولظرف غير مقصود تأخرت، فهل يلزمني شيء؟ أرجو التوجيه جزاكم الله خيرًا.
Pertanyaan:
Pada awal episode ini, kita kembali ke surat dari salah seorang saudara pendengar bernama Shalih Ahmad ‘Ali Al-Ghamidi. Saudara kita ini telah kami sampaikan sebagian pertanyaannya pada episode yang lalu, dan pada episode ini masih tersisa sejumlah pertanyaan lainnya. Beliau mengatakan dalam salah satu pertanyaannya, “Saya telah melaksanakan haji tahun lalu, alhamdulillah. Saya melaksanakan tawaf wadak satu jam sebelum magrib, lalu setelah salat Isya saya baru keluar (meninggalkan Makkah) karena kondisi yang tidak disengaja sehingga saya terlambat. Apakah saya terkena kewajiban sesuatu (denda)? Mohon arahannya, semoga Allah taala membalas Anda dengan kebaikan.”
الشيخ: أعد.
Syekh: Ulangi.
المقدم: يقول: حججت العام الماضي والحمد لله، وعندما أخذت طواف الوداع قبل المغرب بساعة بعد صلاة العشاء تأخرت لظرف غير مقصود، فهل علي شيء؟
Pembawa Acara: Beliau berkata, “Saya telah melaksanakan haji tahun lalu, alhamdulillah. Saya melaksanakan tawaf wadak satu jam sebelum magrib, lalu setelah salat Isya saya terlambat keluar karena kondisi yang tidak disengaja. Apakah saya menanggung sesuatu?”
الجواب:
Jawaban:
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، وصلى الله وسلم على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه، أما بعد:
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Amabakdu:
فقد ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه قال عن الحجاج: لا ينفر أحد منكم حتى يكون آخر عهده بالبيت خرجه مسلم في صحيحه، وقال ابن عباس رضي الله عنهما: «أمر الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت، إلا أنه خفف عن المرأة الحائض» متفق عليه. ومعنى: أمر الناس يعني: أمرهم النبي عليه الصلاة والسلام.
Telah tetap dari Rasulullah ‘alaihish-shalatu was-salam bahwa beliau bersabda mengenai para jemaah haji, “Janganlah salah seorang dari kalian berangkat (pulang) hingga akhir masa pertemuannya adalah dengan Baitullah (Ka’bah).” (Diriwayatkan oleh Muslim1 nomor 1327 dalam kitab Shahih-nya).
Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma juga berkata, “Manusia diperintahkan agar akhir masa pertemuan mereka adalah dengan Baitullah, hanya saja diberikan keringanan bagi wanita yang sedang haid.” (Muttafaq ‘alaih2 HR Al-Bukhari nomor 1755 dan Muslim nomor 1328).
Makna “manusia diperintahkan” yaitu diperintahkan oleh Nabi ‘alaihish-shalatu was-salam.
فلا يجوز للحاج أن يخرج من مكة إلا بعد طواف الوداع، إذا أراد السفر إلى بلاده، أو إلى بلاد أخرى، وإذا ودع قبل الغروب ثم جلس بعد العشاء لحاجة أو لسماع الدرس أو ليصلي العشاء فلا حرج في ذلك، المدة اليسيرة يعفى عنها.
Maka, tidak diperbolehkan bagi jemaah haji untuk keluar dari Makkah kecuali setelah melaksanakan tawaf wadak, apabila ia hendak melakukan perjalanan pulang ke negaranya atau ke negara lain. Jika ia melakukan tawaf wadak sebelum magrib, kemudian masih berdiam setelah Isya karena ada suatu keperluan, atau untuk mendengarkan pelajaran, atau untuk melaksanakan salat Isya, maka hal itu tidak mengapa. Durasi yang singkat dimaafkan.
قد طاف النبي ﷺ في حجة الوداع، طواف الوداع في آخر الليل، ثم صلى بالناس الفجر، ثم سافر بعد ذلك عليه الصلاة والسلام.
Nabi ﷺ pada saat haji wadak telah melaksanakan tawaf wadak di akhir malam, kemudian mengimami orang-orang salat Subuh, lalu setelah itu beliau ‘alaihish-shalatu was-salam melakukan perjalanan.
فالأمر اليسير يعفى عنه، فإذا كنت سافرت بعد العشاء فلا حرج في ذلك، أما إن كنت أقمت إقامة طويلة أصبحت فينبغي لك أن تعيد طواف الوداع، فإن كنت لم تعد طواف الوداع فلا حرج عليك إن شاء الله؛ لأن المدة وإن كانت فيها بعض الطول لكنها مغتفرة إن شاء الله من أجل الجهل بواجب المبادرة والمسارعة إلى الخروج بعد طواف الوداع، نعم.
Oleh karena itu, hal yang singkat (jeda waktu yang sebentar) dimaafkan. Jika Anda berangkat setelah Isya, maka tidak ada dosa atas hal tersebut. Namun, jika Anda menetap dalam waktu yang lama hingga masuk waktu pagi, maka semestinya Anda mengulangi tawaf wadak. Jika Anda tidak mengulanginya, maka insya Allah tidak ada dosa bagi Anda, karena durasi tersebut—meskipun agak lama—tetap diampuni insya Allah disebabkan ketidaktahuan akan kewajiban untuk segera berangkat setelah tawaf wadak. Naam.
المقدم: جزاكم الله خيرًا.
Pembawa Acara: Semoga Allah taala membalas Anda dengan kebaikan.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment