🎙️ Syekh Doktor Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri hafizhahullahu ta’ala
Khotbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ:
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya amal-amal saleh itu memiliki tingkatan keutamaan yang sangat berbeda di sisi Allah. Di antara amal saleh yang paling utama dan paling banyak pahalanya adalah membangun masjid dengan landasan iman dan mengharap rida-Nya. Sesungguhnya masjid-masjid adalah rumah Allah di bumi-Nya; Dia telah memerintahkan dan berwasiat agar masjid dibangun, disucikan, serta diagungkan. Dia pun menyanjung kedudukan masjid beserta orang-orang yang memakmurkannya, baik pemakmuran secara fisik maupun maknawi.
Allah taala berfirman,
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
(Bertasbihlah kepada Allah) di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.
QS An-Nur: 36-38
Dan Allah —‘azza wa jalla— berfirman,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.
QS At-Taubah: 18
Maka barang siapa yang memakmurkannya secara fisik dengan membangunnya atau membantu dan berpartisipasi dalam pembangunannya, atau memakmurkannya secara maknawi dengan beribadah kepada Allah di dalamnya, sedang ia termasuk orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia termasuk orang yang diberi petunjuk menuju kebaikan dan kebenaran di dunia, serta diberi taufik menuju jalan kebahagiaan dan kemenangan di akhirat.
Dari ‘Utsman bin ‘Affan —radhiyallahu ‘anhu— ia berkata: Aku mendengar Rasulullah —shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda,
مَنۡ بَنَىٰ مَسۡجِدًا يَبۡتَغِي بِهِ وَجۡهَ اللّٰهِ بَنَى اللّٰهُ لَهُ بَيۡتًا فِي الۡجَنَّةِ
Barang siapa membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di janah.
Dalam riwayat lain:
بَنَى اللهُ لَهُ مِثۡلَهُ فِي الۡجَنَّةِ
Allah akan membangunkan baginya yang serupa di janah.
Muttafaq ‘alaihi1 HR Al-Bukhari nomor 450 dan Muslim nomor 533
Dari Anas —radhiyallahu ‘anhu— bahwa Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda
مَنۡ بَنَى لِلهِ مَسۡجِدًا صَغِيرًا كَانَ أَوۡ كَبِيرًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيۡتًا فِي الۡجَنَّةِ
Barang siapa membangun masjid karena Allah, baik kecil maupun besar, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di janah.
HR At-Tirmidzi2 nomor 319
Di dalam dua hadis ini dan yang semisalnya terkandung motivasi besar untuk membangun masjid meskipun kecil, serta anjuran untuk berkontribusi dalam pembangunannya walaupun dengan sesuatu yang sedikit. Barang siapa melakukan hal itu dengan ikhlas karena Allah, niscaya Allah membangunkan baginya rumah di janah. Apa gambaranmu tentang sebuah rumah di janah, padahal tempat seukuran jengkal di janah saja lebih baik daripada dunia dan seisinya? Apa gambaranmu tentang tempat tinggal yang Allah sifati sebagai tempat tinggal yang baik (maskan thayyib)? Apa gambaranmu tentang rumah yang bertetangga dengan Ar-Rahman? Sungguh, itulah rumah-rumah yang selayaknya dikejar oleh jiwa-jiwa yang beriman dan hati yang mengharap apa yang balasan di sisi Allah taala.
Memakmurkan masjid termasuk amal saleh yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya, saat amal terputus di waktu ia sangat butuh terhadap apa yang telah ia persembahkan, dan sangat butuh pada satu kebaikan yang ditambahkan ke dalam catatannya agar timbangannya menjadi berat. Rasulullah —shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda,
إِنَّ مِمَّا يَلۡحَقُ الۡمُؤۡمِنَ مِنۡ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعۡدَ مَوۡتِهِ عِلۡمًا نَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصۡحَفًا وَرَّثَهُ أَوۡ مَسۡجِدًا بَنَاهُ أَوۡ بَيۡتًا لِابۡنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوۡ نَهۡرًا أَجۡرَاهُ أَوۡ صَدَقَةً أَخۡرَجَهَا مِنۡ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ تَلۡحَقُهُ مِنۡ بَعۡدِ مَوۡتِهِ
Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan yang akan menyusul seorang mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang ia sebarkan, anak saleh yang ia tinggalkan, mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah untuk ibnu sabil yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya saat sehat dan hidupnya; semua itu akan menyusulnya setelah kematiannya.
HR Ibnu Majah3 nomor 242
Wahai hamba-hamba Allah…
Sesungguhnya termasuk bagian dari memakmurkan masjid adalah merawat, membersihkan, memberi wewangian, serta menjaga segala fasilitas yang ada di dalamnya. Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— telah memerintahkan untuk memberi wewangian dan membersihkan masjid sebagaimana dalam hadis ‘Aisyah —radhiyallahu ‘anha—4 (HR Abu Dawud nomor 455, At-Tirmidzi nomor 594, dan Ibnu Majah nomor 758 dan 759). Hal itu merupakan bentuk pemuliaan terhadap masjid serta pemuliaan bagi para pemakmur dan pengunjungnya, baik dari kalangan manusia maupun malaikat, dan termasuk sebab terbesar yang membantu pelaksanaan ibadah kepada Allah di dalamnya.
Sesungguhnya berkontribusi dalam membersihkan masjid meskipun dengan tangan sendiri merupakan amal yang mulia, yang tidak akan dianggap rendah kecuali oleh orang yang jahil. Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— pernah melihat dahak di dinding masjid, lalu beliau mengeriknya dengan tangan beliau yang mulia —selawat dan salam Allah semoga tercurah kepada beliau—5 (HR Al-Bukhari nomor 407 dan Muslim nomor 549).
Dahulu ada seorang wanita hitam yang biasa menyapu masjid pada zaman Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Tatkala Nabi kehilangan sosoknya, beliau pun bertanya tentangnya. Para sahabat menjawab, “Ia telah wafat.”
Beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahuku?”
Mereka menjawab, “Ia wafat di malam hari dan kami segan untuk merepotkan Anda.”
Maka beliau berjalan menuju makamnya lalu menyalatkannya sebagai bentuk penghormatan dan balasan atas perbuatannya yang agung —radhiyallahu ‘anha—.6 (HR Al-Bukhari nomor 458 dan Muslim nomor 956).
Di dalam peristiwa ini terdapat pelajaran bagi kita untuk memuliakan masjid dan berusaha mengharumkan serta membersihkannya dengan menyingkirkan kotoran darinya.
Sebagaimana perlu diingatkan pula bahwa hendaknya kita mendidik anak-anak kita untuk merawat rumah-rumah Allah, menghormatinya, menjaganya dari segala keburukan, serta menghormati seluruh fasilitasnya. Termasuk bagian dari memakmurkan masjid adalah mengisinya dengan salat fardu maupun sunah, iktikaf sesuai petunjuk syariat, serta memakmurkannya dengan membaca Al-Qur’an dan pengajaran ilmu tentang syariat beserta sarana-sarananya. Inilah jenis pemakmuran yang paling agung dan paling mulia kedudukannya di sisi Allah. Oleh karena itu, Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— mewajibkan salat berjemaah bagi umatnya dan memerintahkan agar dilaksanakan di masjid. Allah pun menyiapkan pahala yang besar bagi orang yang berjalan menuju masjid dalam keberangkatan maupun kepulangannya; tidaklah ia melangkah satu langkah melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan darinya satu kesalahan7 (HR Al-Bukhari nomor 477 dan Muslim nomor 649). Orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan diberi kabar gembira dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat8 (HR Abu Dawud nomor 561, Ibnu Majah nomor 781, At-Tirmidzi nomor 223), dan balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatannya.
Begitu pula, meninggalkan jemaah tanpa uzur yang dibolehkan syariat merupakan tanda kerugian dan kehinaan; bahkan Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— pernah berkeinginan untuk membakar (rumah) orang-orang yang meninggalkannya tanpa uzur9 (HR Al-Bukhari nomor 644 dan Muslim nomor 651). Sampai-sampai Ibnu Mas’ud —radhiyallahu ‘anhu— berkata, “Tidaklah ada yang meninggalkannya kecuali seorang munafik,” yakni jika ia tidak memiliki uzur10 (HR Muslim nomor 654, Abu Dawud nomor 550, Ibnu Majah nomor 777).
Masjid-masjid sejak zaman Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— adalah mercusuar ilmu, pengajaran, dan pendalaman agama Allah. Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— dahulu duduk bersama para sahabatnya di masjid untuk mengajarkan Kitabullah serta apa yang telah Allah ajarkan kepada beliau. Kemudian beliau memotivasi umatnya untuk duduk di dalamnya guna mempelajari Al-Qur’an dan memberi kabar gembira kepada para peserta majelis yang mulia tersebut dengan malaikat yang menaungi mereka, ketenangan yang meliputi mereka, rahmat yang turun kepada mereka, serta penyebutan dari Allah bagi mereka di hadapan para malaikat di tempat yang tertinggi11 (HR Muslim nomor 2699).
Ketahuilah, betapa beruntungnya orang yang membangun rumah bagi Allah karena mengharap wajah-Nya. Beruntunglah orang yang berkontribusi dalam pembangunannya meskipun sedikit. Dan beruntunglah orang-orang yang memakmurkannya dengan salat, zikir, serta membaca Al-Qur’an; yang hati mereka senantiasa terpaut padanya. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
أَسْأَلُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ وَاسِعِ فَضْلِهِ وَكَرِيمِ عَطَائِهِ إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khotbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ هُدَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:
Wahai hamba-hamba Allah…
Sesungguhnya jika memakmurkan masjid termasuk seutama-utama pendekatan diri kepada Allah dan semulia-mulia amal saleh, maka sudah sepatutnya masjid-masjid dijaga dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah —‘azza wa jalla—. Hal yang paling utama adalah menjaganya dari sebab-sebab syirik dan paganisme dengan berhati-hati agar tidak membangun masjid di atas kuburan orang-orang saleh dan tidak menguburkan mereka di dalamnya. Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam— telah memperingatkan umat beliau dari hal tersebut, terlebih saat menjelang wafatnya. Beliau bersabda dalam sakratulmaut,
لَعَنَ اللّٰهُ الۡيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنۡبِيَائِهِمۡ مَسَاجِدَ
Allah melaknat Yahudi dan Nasrani (karena) mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.12 (HR Al-Bukhari nomor 437 dan Muslim nomor 530)
Beliau pun menyifati orang yang melakukan hal itu sebagai seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.13 (HR Al-Bukhari nomor 427 dan Muslim nomor 528)
Adanya kuburan di dalam masjid merupakan sarana menuju praktik mencari berkah (tabaruk) pada kubur tersebut, tawaf di sekelilingnya, berdoa kepada penghuninya, meminta pertolongan (istigasah) kepada mereka, serta bentuk-bentuk syirik akbar dan perantaranya lainnya. Kita berlindung kepada Allah. Selain itu, masjid juga wajib dijaga dari aktivitas jual beli dan mengumumkan barang hilang di dalamnya14 (HR Abu Dawud nomor 1079). Masjid tidaklah dibangun untuk tujuan tersebut, melainkan dibangun untuk berzikir kepada Allah dan mendirikan salat di dalamnya.
Wahai hamba-hamba Allah… bersyukurlah kepada Allah atas karunia yang Dia berikan kepada kalian di negeri ini, berupa pembangunan masjid-masjid dengan bentuk bangunan terbaik dan penyediaan segala fasilitas kenyamanan di dalamnya. Banyak orang baik dan dermawan telah menyisihkan sebagian besar rezeki yang Allah anugerahkan kepada mereka untuk mendirikan rumah-rumah Allah. Kini masjid-masjid tersebut telah berdiri tegak, menanti kalian untuk memakmurkannya dengan beribadah kepada Allah dengan cara yang Dia ridai.
Kami memohon kepada Allah pada saat yang mulia ini, agar membalas para pemakmur rumah Allah dari kalangan mukminin yang mengharap rida-Nya dengan balasan terbaik. Semoga Allah menerima amal mereka, mengganti apa yang telah mereka infakkan dengan kebaikan, serta mengangkat derajat mereka ke tingkat yang tinggi di janah. Kami juga memohon kepada-Nya —subhanahu— agar menjadikan kami, kalian, dan mereka semua termasuk golongan orang yang memakmurkan rumah-rumah-Nya dengan berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Nya, serta senantiasa mendirikan salat di dalamnya pada waktu pagi dan petang. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُورِنَا، اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُورِنَا، اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُورِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَىٰ وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.
Sumber: فضل بناء المساجد وعمارتها.
Be the first to leave a comment