Syekh Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam rangka menerangkan makna iman kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, maknanya adalah “membenarkan beliau, menaati beliau, dan mengikuti syariat yang beliau bawa.”1Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim fi Mukhalafati Ashhab Al-Jahim karya Syekh Islam Ibnu Taimiyyah (1/halaman 259). Silakan lihat Bada`i’ Al-Fawa`id karya Imam Ibnu Al-Qayyim (2/40).
Atas pendapat inilah, para ulama seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyyah dan selain beliau berkata:
Pembenaran kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengharuskan dua perkara:
Pertama: Menetapkan kenabiannya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan kebenaran apa yang disampaikannya dari Allah.
Kedua: Membenarkan ajaran yang dibawanya, bahwa ia membawa kebenaran, dan bahwa wajib untuk mengikutinya.
Adapun sifat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam Taurat:
Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih Al-Bukhari2 Nomor 2125, bahwa ‘Atha` bin As-Sa`ib berkata: Aku berjumpa dengan ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash—radhiyallahu ‘anhuma—: Aku katakan: Kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di dalam kitab Taurat.
Dahulu, ‘Abdullah bin ‘Amr memiliki ilmu tentang kitab Taurat.
‘Abdullah bin ‘Amr mengatakan:
أَجَلۡ، وَاللهِ إِنَّهُ لَمَوۡصُوفٌ فِي التَّوۡرَاةِ بِبَعۡضِ صِفَتِهِ فِي الۡقُرۡآنِ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرۡسَلۡنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَحِرۡزًا لِلۡأُمِّيِّينَ، أَنۡتَ عَبۡدِي وَرَسُولِي، سَمَّيۡتُكَ الۡمُتَوَكِّلَ، لَيۡسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ، وَلَا سَخَّابٍ فِي الۡأَسۡوَاقِ، وَلَا يَدۡفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلٰكِنۡ يَعۡفُو وَيَغۡفِرُ، وَلَنۡ يَقۡبِضَهُ اللهُ حَتَّىٰ يُقِيمَ بِهِ الۡمِلَّةَ الۡعَوۡجَاءَ بِأَنۡ يَقُولُوا: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، فَيَفۡتَحَ بِهِ أَعۡيُنًا عُمۡيًا، وَآذَانًا صُمًّا، وَقُلُوبًا غُلۡفًا.
Tentu. Demi Allah, sesungguhnya beliau benar-benar tersifati di dalam Taurat dengan sebagian sifat beliau di dalam Al-Qur’an, “Wahai nabi, sesungguhnya kami telah mengutus engkau sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” Beliau adalah pelindung bagi kaum yang umi (buta baca tulis). Engkau adalah hamba-Ku dan rasul-Ku. Aku namakan engkau dengan Al-Mutawakkil (yang bertawakal), bukan orang yang berperangai buruk lagi berhati keras. Bukan pula orang yang suka berteriak di pasar-pasar. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi beliau memberi maaf dan mengampuni. Allah tidak akan mewafatkan beliau sampai Allah meluruskan ajaran Ibrahim yang telah menyimpang melalui beliau agar mereka mengatakan “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.” Allah membuka dengan kalimat tauhid tersebut mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang tertutup.
Diutusnya Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang mulia ini membuat bumi cerah bersinar dan bergembira. At-Tirmidzi telah meriwayatkan hadis di dalam kitab Jami’3 (5/nomor 3618) dan Asy-Syama`il (nomor 375), serta As-Sunan karya Ibnu Majah (1/nomor 1631), Ahmad di dalam Al-Musnad (21/nomor 13312), Ibnu Hibban di dalam Ash-Shahih (14/nomor 6634), Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak (3/57) –secara ringkas-, seluruhnya dari jalan Ja’far bin Sulaiman Adh-Dhuba’i dari Tsabit bin Anas.—dan beliau mengatakan, “Hadis yang garib sahih,” dan hadis tersebut memang sahih—dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan:
لَمَّا كَانَ الۡيَوۡمُ الَّذِي دَخَلَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ، أَضَاءَ مِنۡهَا كُلُّ شَيۡءٍ، فَلَمَّا كَانَ الۡيَوۡمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَظۡلَمَ مِنۡهَا كُلُّ شَيۡءٍ، وَمَا نَفَضۡنَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡأَيۡدِي وَإِنَّا لَفِي دَفۡنِهِ حَتَّىٰ أَنۡكَرۡنَا قُلُوبَنَا
Pada hari ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk ke Madinah, segala sesuatu di Madinah bercahaya. Dan pada hari ketika beliau meninggal, segala sesuatu di Madinah menjadi gelap. Kami belum sampai membersihkan debu di tangan setelah menguburkan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, namun kami telah mengingkari hati-hati kami (merasa berbeda daripada keadaan sebelum Nabi meninggal).
Dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُومُ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ إِلَىٰ شَجَرَةٍ أَوۡ نَخۡلَةٍ، فَقَالَتِ امۡرَأَةٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ أَوۡ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلَا نَجۡعَلُ لَكَ مِنۡبَرًا؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتُمۡ) فَجَعَلُوا لَهُ مِنۡبَرًا ﷺ، فَلَمَّا كَانَ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ دُفِعَ إلَىٰ الۡمِنۡبَرِ فَصَاحَتِ النَّخۡلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ، ثُمَّ نَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَضَمَّهُ إِلَيۡهِ، تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ الَّذِي يُسَكَّنُ، قَالَ -عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-: (كَانَتۡ تَبۡكِي عَلَىٰ مَا كَانَتۡ تَسۡمَعُ مِنَ الذِّكۡرِ عِنۡدَهَا).
Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri (khotbah) pada sebatang pohon atau pohon kurma pada hari Jumat.
Ada seorang wanita atau lelaki dari kaum Ansar berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami membuatkan sebuah mimbar untukmu?”
Nabi menjawab, “Silakan jika kalian mau.”
Maka, mereka membuatkan sebuah mimbar untuk beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Pada hari Jumat depannya, beliau naik ke mimbar. Lalu pohon kurma itu menjerit seperti jeritan bayi. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pun turun lalu memeluknya. Pohon itu pun mendesah seperti desahan bayi yang sedang ditenangkan.
Beliau—‘alaihish shalatu was salam—bersabda, “Pohon itu menangis karena dahulu dia biasa mendengar Al-Qur’an di dekatnya.”
Al-Bukhari meriwayatkannya di dalam kitab Shahih4 Nomor 3584.
Oleh karena itu, Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri—rahimahullah—apabila meriwayatkan hadis ini, beliau menangis dan berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, batang kayu saja merintih merindukan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—karena rindu berjumpa dengan beliau. Maka, kalian lebih pantas untuk merasa rindu kepada beliau.”5Silakan lihat: Siyar A’lam An-Nubala` 4/570 dan Mukhtashar Tarikh Dimasyq 1/184.
Nabi agung ini—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, yang sifat-sifatnya telah disebutkan, manusia sangat butuh untuk mengenal beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—supaya dapat mengimaninya, membenarkannya, mengikuti syariat yang beliau bawa, mendukungnya, menghormatinya, membela sunahnya, membelanya dengan nyawa dan segala yang berharga, membela kehormatannya, dan menjaga aturan-aturannya.
Kebutuhan ini lebih mereka butuhkan daripada makanan dan minuman, bahkan, demi Allah, kebutuhan mereka akan hal itu lebih besar daripada kebutuhan mereka akan udara yang mereka hirup.
Nabi yang mulia—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah datang kepada kita membawa jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang-orang yang celaka. Allah—jalla wa ‘ala—berfirman,
فَأَنذَرۡتُكُمۡ نَارًا تَلَظَّىٰ ١٤ لَا يَصۡلَىٰهَآ إِلَّا ٱلۡأَشۡقَى ١٥ ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ
Maka, Aku memperingatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). (QS Al-Lail: 14-16).
Sumber: Min Tsamarat At-Tamassuk bis-Sunnah karya Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari hafizhahullah
Be the first to leave a comment