فَوَائِدُ مُسۡتَنۡبَطَةٌ
مِنۡ قِصَّةِ يُوسُفَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ
تَأۡلِيفُ:
الشَّيۡخِ العَلَّامَةِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ نَاصِرٍ السَّعۡدِيِّ رَحِمَهُ اللهُ
Karya: Syekh Al-’Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah
Sumber: https://archive.org/details/08.0_20210520_20210520_2201
﷽
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
الۡحَمۡدُ لِلهِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ، أَمَّا بَعۡدُ: فَهٰذِهِ فَوَائِدُ مُسۡتَنۡبَطَةٌ مِنۡ قِصَّةِ يُوسُفَ ﷺ وَعَلَى جَمِيعِ الۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡمُرۡسَلِينَ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَصَّهَا عَلَيۡنَا مَبۡسُوطَةً، وَقَالَ فِي آخِرِهَا: ﴿لَقَدۡ كَانَ فِى قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلۡأَلۡبَٰبِ﴾ [يوسف: ١١١].
Segala puji bagi Allah, dan semoga selawat serta salam, Allah curahkan kepada Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Amabakdu, ini adalah pelajaran-pelajaran yang dipetik dari kisah Yusuf—‘alaihis-salam—serta seluruh para nabi dan rasul. Sesungguhnya Allah taala telah menceritakan kisah tersebut kepada kita secara terperinci, dan Allah berfirman di akhir surah, “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS Yusuf: 111).
وَالۡعِبۡرَةُ مَا يُعۡتَبَرُ بِهِ، وَيُعۡبَرُ مِنۡهُ إِلَى مَعَانٍ وَأَحۡكَامٍ نَافِعَةٍ، وَتَوۡجِيهَاتٍ إِلَى الۡخَيۡرَاتِ، وَتَحۡذِيرٍ مِنَ الۡمُهۡلِكَاتِ.
Yang dimaksud ibrah (pelajaran) adalah sesuatu yang dapat dijadikan iktibar (bahan perenungan), dan dijadikan jembatan menuju makna-makna serta hukum-hukum yang bermanfaat, arahan menuju kebaikan, serta peringatan dari bahaya kebinasaan.
وَقِصَصُ الۡأَنۡبِيَاءِ كُلُّهَا كَذٰلِكَ، وَلَكِنَّ هٰذِهِ الۡقِصَّةَ خَصَّهَا اللهُ بِقَوۡلِهِ: ﴿لَّقَدۡ كَانَ فِى يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٌ لِّلسَّآئِلِينَ﴾ [يوسف: ٧]، فِيهَا آيَاتٌ وَعِبَرٌ مُتَنَوِّعَةٌ لِكُلِّ مَنۡ يَسۡأَلُ وَيُرِيدُ الۡهُدَى وَالرَّشَادَ، لِمَا فِيهَا مِنَ التَّنَقُّلَاتِ مِنۡ حَالٍ إِلَى حَالٍ، وَمِنۡ مِحۡنَةٍ إِلَى مِحۡنَةٍ، وَمِنۡ مِنۡحَةٍ إِلَى مِنۡحَةٍ وَمِنَّةٍ، وَمِنۡ ذِلَّةٍ وَرِقٍّ إِلَى عِزٍّ وَمُلۡكٍ، وَمِنۡ فُرۡقَةٍ وَشَتَاتٍ إِلَى اجۡتِمَاعٍ وَإِدۡرَاكِ غَايَاتٍ، وَمِنۡ حُزۡنٍ وَتَرَحٍ إِلَى سُرُورٍ وَفَرَحٍ، وَمِنۡ رَخَاءٍ إِلَى جَدۡبٍ، وَمِنۡ جَدۡبٍ إِلَى رَخَاءٍ، وَمِنۡ ضِيقٍ إِلَى سَعَةٍ، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِمَّا اشۡتَمَلَتۡ عَلَيۡهِ هٰذِهِ الۡقِصَّةُ الۡعَظِيمَةُ، فَتَبَارَكَ مَنۡ قَصَّهَا وَوَضَّحَهَا وَبَيَّنَهَا.
Kisah para nabi seluruhnya demikian, namun kisah ini secara khusus diistimewakan oleh Allah melalui firman-Nya: “Sungguh, pada kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertanya.” (QS Yusuf: 7).
Di dalamnya terdapat tanda-tanda dan iktibar yang beragam bagi siapa saja yang bertanya dan menginginkan petunjuk serta bimbingan. Hal ini karena di dalamnya terdapat perpindahan dari satu kondisi ke kondisi lain: dari cobaan ke cobaan berikutnya, dari satu karunia menuju karunia dan nikmat; dari kehinaan dan perbudakan menuju kemuliaan dan kekuasaan; dari perpisahan dan perpecahan menuju pertemuan dan pencapaian cita-cita; dari kesedihan menuju kegembiraan; dari kelapangan menuju paceklik, dan dari paceklik menuju kelapangan; dari kesempitan menuju kelapangan; serta hal-hal lain yang dikandung oleh kisah yang agung ini. Maha Suci Allah yang telah menceritakan, menjelaskan, dan menerangkannya.
فَمِنۡ فَوَائِدِ هٰذِهِ السُّورَةِ أَنَّ فِيهَا أُصُولًا لِعِلۡمِ تَعۡبِيرِ الرُّؤۡيَا؛ فَإِنَّ عِلۡمَ تَعۡبِيرِ الرُّؤۡيَا عِلۡمٌ عَظِيمٌ، مِنۡهُمۡ مَنۡ بَنَاهُ عَلَى حُسۡنِ الۡفَهۡمِ وَالۡعُبُورِ مِنَ الۡأَلۡفَاظِ وَالۡمَحۡسُوسَاتِ وَالۡمَعۡنَوِيَّاتِ، أَوۡ مَا يُنَاسِبُهَا بِحَسَبِ حَالِ الرَّائِي، وَبِحَسَبِ الۡوَقۡتِ وَالۡحَالِ الۡمُتَعَلِّقَةِ بِالرُّؤۡيَا. وَقَدۡ أَثۡنَى اللهُ عَلَى يُوسُفَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِعِلۡمِهِ بِتَأۡوِيلِ الۡأَحَادِيثِ؛ تَأۡوِيلِ أَحَادِيثِ الۡأَحۡكَامِ الشَّرۡعِيَّةِ وَالۡأَحَادِيثِ الۡمُتَعَلِّقَةِ بِتَعۡبِيرِ الرُّؤۡيَا، وَالۡفَرۡقِ بَيۡنَ الۡأَحۡلَامِ، الَّتِي هِيَ أَضۡغَاثُ أَحۡلَامٍ لَا تَأۡوِيلَ لَهَا، مِثۡلِ مَا يَرَاهُ مَنۡ يُفَكِّرُ وَيُطِيلُ تَأَمُّلَهُ لِبَعۡضِ الۡأُمُورِ، فَإِنَّهُ كَثِيرًا مَا يَرَى فِي مَنَامِهِ مِنۡ جِنۡسِ مَا يُفَكِّرُ بِهِ فِي يَقَظَتِهِ، فَهٰذَا النَّوۡعُ الۡغَالِبُ عَلَيۡهِ أَنَّهُ أَضۡغَاثُ أَحۡلَامٍ لَا تَعۡبِيرَ لَهُ، وَكَذٰلِكَ نَوۡعٌ آخَرُ مِمَّا يُلۡقِيهِ الشَّيۡطَانُ عَلَى رُوحِ النَّائِمِ مِنَ الۡمَرَائِي الۡكَاذِبَةِ وَالۡمَعَانِي الۡمُتَخَبِّطَةِ، فَهٰذِهِ أَيۡضًا لَا تَعۡبِيرَ لَهَا، وَلَا يَنۡبَغِي لِلۡعَاقِلِ أَنۡ يَشۡغَلَ بِهَا فِكۡرَهُ، بَلۡ يَنۡبَغِي لَهُ أَنۡ يَلۡهَى عَنۡهَا:
Di antara faedah surah ini adalah bahwasanya di dalamnya terdapat kaidah-kaidah dasar ilmu takwil mimpi. Ilmu takwil mimpi adalah ilmu yang sangat agung. Sebagian ulama membangunnya di atas pemahaman yang tajam dan penyeberangan makna dari lafal, hal-hal terindra, maupun konsep abstrak, atau yang sesuai berdasarkan kondisi si pemimpi, serta waktu dan keadaan yang berkaitan dengan mimpi tersebut. Allah telah memuji Nabi Yusuf—‘alaihish-shalatu was-salam—atas pengetahuannya tentang takwil al-ahadits (peristiwa/mimpi), yaitu takwil hukum-hukum syariat dan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan takwil mimpi, serta (pengetahuannya dalam) membedakan antara mimpi-mimpi biasa yang merupakan bunga tidur yang kacau dan tidak memiliki takwil. Contohnya adalah apa yang dilihat oleh seseorang yang terlalu banyak berpikir atau merenungkan suatu hal, sehingga sering kali ia bermimpi tentang apa yang dipikirkannya saat terjaga. Jenis ini mayoritasnya adalah bunga tidur yang tidak ada takwilnya. Demikian pula jenis lainnya yang dibisikkan oleh setan ke dalam roh orang yang tidur berupa penglihatan-penglihatan dusta dan makna-makna yang kacau; ini juga tidak memiliki takwil. Tidak seyogianya bagi orang yang berakal untuk memikirkannya, bahkan hendaklah ia mengabaikannya.
وَأَمَّا الرُّؤۡيَا الصَّحِيحَةُ فَهِيَ إِلۡهَامَاتٌ يُلۡهِمُهَا اللهُ لِلرُّوحِ عِنۡدَ تَجَرُّدِهَا عَنِ الۡبَدَنِ وَقۡتَ النَّوۡمِ، أَوۡ أَمۡثَالٌ مَضۡرُوبَةٌ يَضۡرِبُهَا الۡمَلَكُ لِلۡإِنۡسَانِ لِيَفۡهَمَ بِهَا مَا يُنَاسِبُهَا. وَقَدۡ يَرَى الشَّيۡءَ عَلَى حَقِيقَتِهِ وَيَكُونُ تَعۡبِيرُهُ هُوَ مَا رَآهُ فِي مَنَامِهِ؛ فَيُوسُفُ ﷺ أَعۡطَاهُ اللهُ مِنَ الۡعِلۡمِ مَا يُمَيِّزُ بِهِ بَيۡنَ الۡمَرَائِي الصَّحِيحَةِ وَالۡبَاطِلَةِ وَالۡحَقِّ وَالۡبَاطِلِ مِنۡهَا، وَهٰذِهِ الۡقِصَّةُ فِيهَا الدَّلَالَةُ عَلَى تَعۡبِيرِ الرُّؤۡيَا مِنۡ وُجُوهٍ؛ أَحَدُهَا رُؤۡيَا يُوسُفَ الَّتِي قَصَّهَا عَلَى أَبِيهِ يَعۡقُوبَ ﷺ: ﴿إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبًا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِى سَٰجِدِينَ﴾ [يوسف: ٤] فَفَسَّرَهَا يَعۡقُوبُ ﷺ بِغَايَاتِهَا وَمَا تَئُولُ إِلَيۡهِ وَبِوَسَائِلِهَا الَّتِي تَتَقَدَّمُ عَلَيۡهَا، فَفَسَّرَ الشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ بِأَبَيۡ يُوسُفَ وَأُمِّهِ، وَالۡكَوَاكِبَ الۡأَحَدَ عَشَرَ بِإِخۡوَتِهِ، وَأَنَّ الۡحَالَ سَيَكُونُ مَآلُهَا أَنَّ الۡجَمِيعَ لَيَسۡجُدُونَ لِيُوسُفَ وَيَخۡضَعُونَ لَهُ، وَلِهٰذَا لَمَّا حَصَلَ الِاجۡتِمَاعُ وَدَخَلَ أَبُوهُ وَأُمُّهُ وَإِخۡوَتُهُ مِصۡرَ وَرَفَعَ أَبَوَيۡهِ عَلَى الۡعَرۡشِ خَرَّ الۡجَمِيعُ لَهُ سُجَّدًا، وَقَالَ يُوسُفُ مُتَذَكِّرًا ذٰلِكَ التَّعۡبِيرَ وَالتَّفۡسِيرَ: ﴿يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأۡوِيلُ رُءۡيَٰىَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّى حَقًّا﴾ [يوسف: ١٠٠]، وَهٰذَا أَمۡرٌ عَظِيمٌ اتَّصَلَ بِيُوسُفَ فِي الۡحَالِ أَنۡ يَكُونَ مُعَظَّمًا تَعۡظِيمًا بَلِيغًا عِنۡدَ أَبِيهِ وَإِخۡوَتِهِ، وَكَذٰلِكَ عِنۡدَ النَّاسِ.
Adapun mimpi yang benar, ia adalah ilham yang Allah ilhamkan kepada roh tatkala terlepas dari jasad di waktu tidur, atau berupa perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh malaikat bagi manusia agar ia memahami apa yang sesuai dengannya. Kadang-kadang seseorang melihat sesuatu persis sebagaimana kenyataannya, sehingga penafsiran mimpinya adalah apa yang ia lihat dalam tidurnya. Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—telah diberi oleh Allah ilmu untuk membedakan antara mimpi yang benar dan yang batil, serta hakikat dan kedustaan padanya.
Kisah ini menunjukkan petunjuk penafsiran mimpi dari berbagai sisi. Salah satunya adalah mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada ayahnya, Yakub—‘alaihis-salam—: “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, Wahai ayahku! Sungguh, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS Yusuf: 4).
Nabi Yakub—‘alaihis-salam—menafsirkannya dengan tujuan akhir yang akan dicapai beserta sarana-sarana pengantar yang mendahuluinya. Beliau menafsirkan matahari dan bulan sebagai kedua orang tua Yusuf (ayah dan ibunya), serta sebelas bintang sebagai saudara-saudaranya, dan bahwa akhir dari keadaan tersebut adalah mereka semua akan bersujud dan tunduk kepada Yusuf. Oleh karena itu, ketika perjumpaan itu terjadi dan ayah, ibu, serta saudara-saudaranya memasuki Mesir, ia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana dan mereka merebahkan diri seraya bersujud kepadanya, Yusuf berkata seraya mengingat penafsiran tersebut, “Wahai ayahku, inilah penafsiran mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Rabku telah menjadikannya kenyataan.” (QS Yusuf: 100).
Ini adalah perkara agung yang berkaitan langsung dengan Yusuf pada saat itu, yaitu beliau dihormati dengan penghormatan yang sangat tinggi di sisi ayahnya, saudara-saudaranya, dan begitu pula di hadapan manusia.
وَهٰذِهِ الۡغَايَةُ تَسۡتَدۡعِي وَسَائِلَ وَمُقَدَّمَاتٍ لَا تَحۡصُلُ إِلَّا بِهَا؛ وَهُوَ الۡعِلۡمُ الۡكَثِيرُ الۡعَظِيمُ وَالۡعَمَلُ الصَّالِحُ وَالۡإِخۡلَاصُ وَالاجۡتِبَاءُ مِنَ اللهِ، وَالۡقِيَامُ بِحَقِّ اللهِ وَحُقُوقِ الۡخَلۡقِ، فَلِهٰذَا قَالَ سُبۡحَانَهُ فِي ذِكۡرِ السَّبَبِ الۡمُوَصِّلِ لِهٰذِهِ الۡغَايَةِ الۡجَلِيلَةِ: ﴿وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعۡقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ﴾ [يوسف: ٦]، يَعۡنِي: لَا بُدَّ أَنۡ يُتِمَّ اللهُ عَلَيۡكَ نِعۡمَتَهُ بِتَعۡلِيمِ الۡعُلُومِ النَّافِعَةِ وَالۡأَعۡمَالِ الصَّالِحَةِ وَالاجۡتِبَاءِ مِنَ اللهِ وَحُصُولِ الۡأَخۡلَاقِ الۡجَمِيلَةِ وَالۡمَقَامَاتِ الۡجَلِيلَةِ، فَتُبَشِّرُهُ بِحُصُولِ هٰذِهِ الۡأُمُورِ ثُمَّ بِالۡوُصُولِ إِلَى الرِّفۡعَةِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ.
Pencapaian tujuan ini membutuhkan sarana-sarana dan pengantar yang tidak akan diperoleh kecuali dengannya, yaitu: ilmu yang banyak dan agung, amal saleh, keikhlasan, pilihan dari Allah, serta pemenuhan hak Allah dan hak-hak makhluk. Maka dari itu, Allah—subhanahu wa ta’ala—berfirman dalam menyebutkan sebab yang menyampaikan ke tujuan yang mulia ini, “Demikianlah Rabmu memilihmu, mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi, dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua leluhurmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Rabmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf: 6).
Maksudnya: Pastilah Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal saleh, keutamaan pilihan dari Allah, serta dikaruniai akhlak yang indah dan kedudukan yang mulia. Hal itu menjadi kabar gembira baginya atas terwujudnya perkara-perkara tersebut, yang kemudian disusul dengan pencapaian derajat yang tinggi di dunia dan akhirat.
وَفِي ضِمۡنِ هٰذَا التَّعۡبِيرِ مِنۡ يَعۡقُوبَ لِيُوسُفَ بِشَارَةٌ لَهُ وَتَسۡهِيلٌ لِمَا سَيَنَالُهُ مِنَ الۡمَشَقَّاتِ وَالۡكُرُوبِ مَعَ إِخۡوَتِهِ وَفِي السِّجۡنِ، فَإِنَّ مَنۡ عَلِمَ أَنَّ الۡمَكَارِهَ وَالۡمَشَقَّاتِ تُفۡضِي إِلَى الۡخَيۡرِ وَالرَّاحَاتِ تَسَلَّى وَهَانَتۡ عَلَيۡهِ مَشَقَّتُهَا، وَسَهُلَتۡ عَلَيۡهِ وَطۡأَتُهَا، وَحَصَلَ بِذٰلِكَ مِنَ اللَّطۡفِ وَالرَّوۡحِ شَيۡءٌ عَظِيمٌ، وَهٰذَا مِنۡ جُمۡلَةِ اللَّطۡفِ الَّذِي أَشَارَ إِلَيۡهِ يُوسُفُ فِي قَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ رَبِّى لَطِيفٌ لِّمَا يَشَآءُ﴾ [يوسف: ١٠٠]، وَهٰذَا مِنۡ مُقۡتَضَى حِكۡمَةِ اللهِ أَنَّ الۡمَرَاتِبَ الۡعَالِيَةَ لَا تُنَالُ إِلَّا بِالۡوَسَائِلِ الۡجَلِيلَةِ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ﴾ [يوسف: ٦].
Di dalam penafsiran dari Yakub kepada Yusuf ini tersirat kabar gembira sekaligus kemudahan baginya terhadap penderitaan dan kesulitan yang akan menimpanya dari saudara-saudaranya maupun saat di penjara. Sebab, barang siapa yang mengetahui bahwa kesulitan dan penderitaan akan berujung pada kebaikan dan ketenangan, niscaya ia akan terhibur dan penderitaan itu terasa ringan baginya. Dari hal itu terwujud kelembutan dan kelapangan jiwa yang sangat besar. Ini adalah bagian dari kelembutan Allah yang diisyaratkan Yusuf dalam ucapannya: “Sungguh, Rabku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS Yusuf: 100).
Ini merupakan konsekuensi hikmah Allah bahwa kedudukan yang tinggi tidak akan diraih kecuali dengan sarana-sarana yang agung, oleh sebab itu Dia berfirman, “Sungguh, Rabmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf: 6).
وَمِنۡ فَوَائِدِ هٰذَا التَّعۡبِيرِ لِرُؤۡيَا يُوسُفَ بِشَارَةٌ عَظِيمَةٌ لِيَعۡقُوبَ وَأُمِّ يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِ بِحُصُولِ الرِّفۡعَةِ وَالصَّلَاحِ وَالۡخَيۡرِ؛ فَيَعۡقُوبُ ﷺ مِنۡ أَكَابِرِ الۡأَنۡبِيَاءِ وَأَفَاضِلِ الۡأَصۡفِيَاءِ، وَأُمُّهُ لَهَا مِنَ الۡخَيۡرِ وَالصَّلَاحِ وَالرِّفۡعَةِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، حَيۡثُ شُبِّهَتۡ بِالشَّمۡسِ أَوۡ بِالۡقَمَرِ عَلَى اخۡتِلَافِ الۡقَوۡلَيۡنِ. وَإِخۡوَةُ يُوسُفَ وَإِنۡ كَانَ قَدۡ جَرَى مِنۡهُمۡ فِي حَقِّ أَبِيهِمۡ وَأَخِيهِمۡ مِنَ الۡأَذِيَّةِ وَالۡعُقُوقِ وَالۡقَطِيعَةِ مَا جَرَى، وَلَكِنَّ أَبَاهُمۡ وَأَخَاهُمۡ عَفَوۡا عَنۡهُمۡ، وَاسۡتَغۡفَرَا اللهَ تَعَالَى أَرۡحَمَ الرَّاحِمِينَ، فَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ وَالنُّجُومُ تَضَمَّنَتِ النُّورَ وَالِارۡتِفَاعَ، وَلَكِنَّهَا مُتَفَاوِتَةٌ فِي نُورِهَا بِحَسَبِ التَّفَاوُتِ بَيۡنَ الۡأَبَوَيۡنِ وَبَيۡنَ الۡإِخۡوَةِ.
Di antara faedah penafsiran mimpi Yusuf ini adalah terdapat kabar gembira yang agung bagi Yakub, ibu Yusuf, dan saudara-saudaranya tentang tercapainya kedudukan tinggi, kebaikan, dan kemaslahatan. Yakub—‘alaihis-salam—adalah termasuk nabi-nabi besar dan hamba-hamba pilihan yang utama. Sedangkan ibunya mendapatkan kebaikan, kesalehan, dan kedudukan tinggi di dunia dan akhirat karena diserupakan dengan matahari atau bulan, berdasarkan perbedaan pendapat ulama. Dan saudara-saudara Yusuf, meskipun telah melakukan gangguan, kedurhakaan, dan pemutusan hubungan kekeluargaan terhadap ayah dan saudara mereka sebagaimana yang terjadi, namun ayah dan saudara mereka telah memaafkan mereka, serta memohonkan ampunan bagi mereka kepada Allah taala Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Matahari, bulan, dan bintang-bintang seluruhnya mengandung cahaya dan ketinggian, akan tetapi pancaran cahayanya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tingkat antara kedua orang tua dan saudara-saudara tersebut.
فَالۡحَاصِلُ أَنَّ هٰذِهِ الرُّؤۡيَا تَضَمَّنَتۡ مَا حَصَلَ لِيُوسُفَ ﷺ مِنۡ خَيۡرِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَالۡمَقَامَاتِ الۡعَظِيمَةِ وَالۡوَسَائِلِ وَالۡمِنَنِ، الَّتِي أَوۡرَدَتۡهَا هٰذِهِ الۡأُمُورُ وَمَا حَصَلَ لِأَبَوَيۡهِ وَإِخۡوَتِهِ مِنۡ مُشَارَكَتِهِ فِي خَيۡرِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَاللَّهُ تَعَالَى أَعۡلَمُ.
Kesimpulannya, mimpi ini mencakup kebaikan dunia dan akhirat yang diraih oleh Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—, kedudukan-kedudukan yang agung, sarana-sarana pengantar, dan karunia yang dihasilkan oleh perkara-perkara tersebut. Mimpi ini juga mencakup apa yang diperoleh kedua orang tua dan saudara-saudaranya dalam keikutsertaan menikmati kebaikan dunia dan akhirat. Allah taala Maha Mengetahui.
![]()
Be the first to leave a comment