الۡفَصۡلُ الثَّالِثُ
Bab Ketiga
وَمِنۡ فَوَائِدِ هٰذِهِ الۡقِصَّةِ أَنَّهُ يَتَعَيَّنُ عَلَى الۡإِنۡسَانِ أَنۡ يَعۡدِلَ بَيۡنَ أَوۡلَادِهِ، وَيَنۡبَغِي لَهُ إِذَا كَانَ يُحِبُّ أَحَدَهُمۡ أَكۡثَرَ مِنۡ غَيۡرِهِ أَنۡ يُخۡفِيَ ذٰلِكَ مَهۡمَا أَمۡكَنَهُ، وَأَلَّا يُفَضِّلَهُ بِمَا يَقۡتَضِيهِ الۡحُبُّ مِنۡ إِيثَارٍ بِشَيۡءٍ مِنَ الۡأَشۡيَاءِ، فَإِنَّهُ أَقۡرَبُ إِلَى صَلَاحِ الۡأَوۡلَادِ وَبِرِّهِمۡ بِهِ، وَاتِّفَاقِهِمۡ فِيمَا بَيۡنَهُمۡ، وَلِهٰذَا لَمَّا ظَهَرَ لِإِخۡوَةِ يُوسُفَ مِنۡ مَحَبَّةِ يَعۡقُوبَ الشَّدِيدَةِ لِيُوسُفَ وَعَدَمِ صَبۡرِهِ عَنۡهُ وَانۡشِغَالِهِ بِهِ عَنۡهُمۡ، سَعَوۡا فِي أَمۡرٍ وَخِيمٍ؛ وَهُوَ التَّفۡرِيقُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ أَبِيهِ، فَقَالُوا: ﴿لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ ٨ ٱقۡتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ ٱطۡرَحُوهُ أَرۡضًا يَخۡلُ لَكُمۡ وَجۡهُ أَبِيكُمۡ وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعۡدِهِۦ قَوۡمًا صَٰلِحِينَ﴾ [يوسف: ٨، ٩].
Di antara pelajaran dari kisah ini adalah wajib bagi seseorang untuk berbuat adil di antara anak-anaknya. Dan hendaknya jika ia mencintai salah seorang dari mereka lebih dari yang lain, ia menyembunyikan hal tersebut semampunya. Janganlah ia mengutamakannya dengan memberikan sesuatu yang didorong oleh rasa cinta itu, karena berbuat adil lebih dekat kepada kebaikan anak-anak, kebaktian mereka kepada orang tua, serta kerukunan di antara sesama mereka. Oleh karena itu, ketika tampak bagi saudara-saudara Yusuf betapa besarnya rasa cinta Yakub kepada Yusuf, ketidaksabarannya jauh dari Yusuf, serta kesibukannya dengan Yusuf dibandingkan mereka, mereka berusaha melakukan perkara yang sangat buruk, yaitu memisahkan Yusuf dari ayahnya. Mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayahmu tertuju kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS Yusuf: 8–9).
وَهٰذَا صَرِيحٌ جِدًّا؛ أَنَّ السَّبَبَ الَّذِي حَمَلَهُمۡ عَلَى مَا فَعَلُوا بِيُوسُفَ مِنَ التَّفۡرِيقِ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ أَبِيهِ هُوَ تَمۡيِيزُهُ بِالۡمَحَبَّةِ، خِلَافَ مَا ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنَ الۡمُفَسِّرِينَ أَنَّ يُوسُفَ أَخۡبَرَهُمۡ رُؤۡيَاهُ، فَحَسَدُوهُ لِذٰلِكَ، فَإِنَّهُ مُنَافٍ لِلۡآيَةِ الۡكَرِيمَةِ وَسُوءُ ظَنٍّ بِيُوسُفَ حَيۡثُ اسۡتَكۡتَمَهُ أَبُوهُ، فَقَالَ: ﴿يَٰبُنَىَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيۡدًا﴾ [يوسف: ٥]، فَيُوسُفُ أَبَرُّ وَأَعۡقَلُ مِنۡ أَنۡ يُخۡبِرَهُمۡ بِهَا، وَلٰكِنَّ كَثِيرًا مِنَ الۡإِسۡرَائِيلِيَّاتِ تَرُوجُ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ، مَعَ أَنَّ أَقَلَّ تَأَمُّلٍ فِي النُّصُوصِ الشَّرۡعِيَّةِ يُعۡلِمُهُمۡ بِبُطۡلَانِهَا.
Ini sangat jelas menunjukkan bahwa alasan yang mendorong mereka melakukan pemisahan Yusuf dari ayahnya adalah pengutamaan dalam hal rasa cinta. Berbeda dengan apa yang disebutkan oleh banyak ahli tafsir bahwa Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya lalu mereka mendengki karena hal itu. Pendapat tersebut bertentangan dengan ayat yang mulia dan merupakan prasangka buruk terhadap Yusuf, padahal ayahnya telah meminta beliau merahasiakannya dengan berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu).” (QS Yusuf: 5).
Yusuf jauh lebih berbakti dan lebih berakal daripada menceritakan mimpi itu kepada mereka. Namun, banyak riwayat israiliat yang beredar luas di tengah manusia, padahal perenungan sedikit saja terhadap nas-nas syariat akan menunjukkan kebatilannya.
وَالۡمَقۡصُودُ أَنَّ الَّذِي حَمَلَ إِخۡوَةَ يُوسُفَ عَلَى مَا فَعَلُوا هُوَ تَمۡيِيزُ يَعۡقُوبَ لِيُوسُفَ، وَمَعَ هٰذَا فَلَا يَحِلُّ هٰذَا الۡأَمۡرُ الشَّنِيعُ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُمۡ، وَلٰكِنَّهُمۡ قَالُوا: افۡعَلُوا هٰذَا الۡجُرۡمَ الۡعَظِيمَ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ بَعۡدَهُ، فَلِهٰذَا قَالُوا: ﴿وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعۡدِهِۦ قَوۡمًا صَٰلِحِينَ﴾ [يوسف: ٩]، وَهٰذَا لَا يَحِلُّ أَنۡ يُوَاقِعَ الۡعَبۡدُ الذَّنۡبَ بِأَيِّ حَالَةٍ يَكُونُ وَلَوۡ أَضۡمَرَ أَنَّهُ سَيَتُوبُ مِنۡهُ، فَالذَّنۡبُ يَجِبُ اجۡتِنَابُهُ، فَإِذَا وَقَعَ وَجَبَتِ التَّوۡبَةُ مِنۡهُ.
Maksud utamanya adalah bahwa hal yang mendorong saudara-saudara Yusuf bertindak demikian adalah keistimewaan yang diberikan Yakub kepada Yusuf. Namun demikian, perbuatan keji ini tetap tidak dihalalkan, padahal mereka tahu hal itu haram bagi mereka. Akan tetapi mereka berkata: lakukanlah kejahatan besar ini lalu bertobatlah kepada Allah setelahnya, maka dari itu mereka berkata, “dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik.” (QS Yusuf: 9).
Tidak dihalalkan bagi seorang hamba menerjang dosa dalam kondisi apa pun, meskipun ia berniat akan bertobat setelahnya. Dosa wajib dijauhi, dan jika terlanjur terjadi barulah wajib bertobat darinya.
وَلَعَلَّ مِنۡ حِكۡمَةِ اللهِ وَرَحۡمَتِهِ بِيَعۡقُوبَ مَا قَدَّرَهُ عَلَيۡهِ مِنَ الۡفُرۡقَةِ الَّتِي أَحۡدَثَتۡ لَهُ مِنَ الۡحُزۡنِ وَالۡمَصِيبَةِ مَا أَحۡدَثَتۡ رِفۡعَةً لِمَقَامَاتِهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَلِيَكُونَ لِلنِّعۡمَةِ عِنۡدَ حُصُولِ الِاجۡتِمَاعِ لَهَا الۡمَوۡقِعُ الۡأَكۡبَرُ وَالشُّكۡرُ الۡكَثِيرُ وَالثَّنَاءُ عَلَى اللهِ بِهَا، وَلِيَصِلَ وَلَدُهُ يُوسُفُ إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيۡهِ مِنَ الۡمَقَامَاتِ الۡجَلِيلَةِ، ﴿وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَيۡـًٔا وَهُوَ خَيۡرٌ لَّكُمۡ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيۡـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمۡ ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ﴾ [البقرة: ٢١٦].
Dan bisa jadi di antara hikmah Allah dan rahmat-Nya kepada Yakub atas perpisahan yang ditakdirkan-Nya—yang menimbulkan kesedihan dan musibah sedemikian rupa—adalah untuk meninggikan derajat beliau di dunia dan akhirat. Juga agar nikmat perjumpaan kembali nantinya memiliki kesan yang sangat besar, melahirkan rasa syukur yang melimpah, dan pujian kepada Allah, serta agar anaknya (Yusuf) dapat mencapai kedudukan-kedudukan yang mulia. “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).
وَمِنۡ فَوَائِدِهَا الۡحَثُّ عَلَى التَّحَرُّزِ مِمَّا يُخۡشَى ضَرَرُهُ لِقَوۡلِهِ: ﴿يَٰبُنَىَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيۡدًا﴾ [يوسف: ٥]، وَمَا فِيهَا مِنَ التَّأۡكِيدِ عَلَيۡهِمۡ فِي حِفۡظِهِ حِينَ أَرۡسَلَهُ مَعَهُمۡ، ثُمَّ عِنۡدَ إِرۡسَالِ أَخِيهِ بِنۡيَامِينَ بَعۡدَ ذٰلِكَ أَخَذَ عُهُودَهُمۡ وَمَوَاثِيقَهُمۡ عَلَى ذٰلِكَ، فَالۡإِنۡسَانُ مَأۡمُورٌ بِالِاحۡتِرَازِ، فَإِنۡ نَفَعَ فَذَاكَ، وَإِلَّا لَمۡ يَلُمِ الۡعَبۡدُ نَفۡسَهُ.
Di antara faedahnya adalah anjuran untuk berwaspada dari bahaya yang dikhawatirkan, berdasarkan firman-Nya: “Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu).” (QS Yusuf: 5), serta penegasan Yakub kepada saudara-saudaranya untuk menjaga Yusuf ketika melepasnya pergi bersama mereka, dan ketika melepas adiknya (Bunyamin) setelah itu dengan mengambil janji dan sumpah setia mereka. Jadi, manusia diperintahkan untuk melakukan tindakan kewaspadaan. Jika bermanfaat maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak, si hamba tidak akan menyalahkan dirinya sendiri.
وَمِنۡهَا: أَنَّ مِنَ الۡحَزۡمِ إِذَا أَرَادَ الۡعَبۡدُ فِعۡلًا مِنَ الۡأَفۡعَالِ أَنۡ يَنۡظُرَ إِلَيۡهِ مِنۡ جَمِيعِ نَوَاحِيهِ، وَيُقَدِّرَ كُلَّ احۡتِمَالٍ مُمِكِنٍ، وَأَنَّ الِاحۡتِرَازَ بِسُوءِ الظَّنِّ لَا يَضُرُّ إِذَا لَمۡ يُحَقَّقۡ، بَلۡ يَحۡتَرِزُ مِنۡ كُلِّ احۡتِمَالٍ يُخۡشَى ضَرَرُهُ.
Di antara faedahnya: Bahwa bagian dari keteguhan hati ketika seorang hamba hendak melakukan suatu tindakan adalah memandangnya dari segala sisi, memperhitungkan setiap kemungkinan, dan bahwa kewaspadaan yang disertai prasangka buruk tidaklah berbahaya selama tidak diwujudkan dalam tindakan nyata, melainkan untuk membentengi dari setiap kemungkinan yang dikhawatirkan bahayanya.
وَلَوۡ تَضَمَّنَ ظَنَّ السُّوءِ بِالۡغَيۡرِ إِذَا كَانَتِ الۡقَرَائِنُ تَدُلُّ عَلَيۡهِ وَتَقۡتَضِيهِ، كَمَا فِي هٰذِهِ الۡآيَةِ، وَكَمَا قَوِيَتِ الۡقَرَائِنُ فِي قَوۡلِهِ: ﴿هَلۡ ءَامَنُكُمۡ عَلَيۡهِ إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمۡ عَلَىٰٓ أَخِيهِ مِن قَبۡلُ﴾ [يوسف: ٦٤]، فَإِنَّهُ سَبَقَ لَهُمۡ فِي أَخِيهِ مَا سَبَقَ، فَلَا يُلَامُ يَعۡقُوبُ إِذَا ظَنَّ بِهِمۡ هٰذَا الظَّنَّ، وَإِنۡ كَانُوا فِي الۡأَخِ الۡآخِرِ لَمۡ يَجۡرِ مِنۡهُمۡ تَفۡرِيطٌ وَلَا تَعَدٍّ.
Walaupun hal itu mencakup berprasangka buruk kepada orang lain jika terdapat indikasi-indikasi yang menunjukkan dan menuntutnya, sebagaimana dalam ayat ini dan sebagaimana kuatnya indikasi pada firman-Nya: “Bagaimana aku akan mempercayakan (Bunyamin) kepada kalian melainkan seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kalian dahulu?” (QS Yusuf: 64). Karena telah terjadi perbuatan mereka sebelumnya terhadap saudara Bunyamin, maka Yakub tidak dicela ketika berprasangka demikian kepada mereka, meskipun pada kasus adik yang terakhir ini mereka tidak melakukan kelalaian maupun pelanggaran.
وَمِنۡهَا: الۡحَذَرُ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي يَتَرَتَّبُ عَلَيۡهَا ذُنُوبٌ أُخَرُ، وَيَتَسَلۡسَلُ شَرُّهَا كَمَا فَعَلَ إِخۡوَةُ يُوسُفَ بِيُوسُفَ، فَإِنَّ نَفۡسَ فِعۡلِهِمۡ فِيهِ عِدَّةُ جَرَائِمَ فِي حَقِّ اللهِ، وَفِي حَقِّ وَالِدَيۡهِ وَقَرَابَتِهِ، وَفِي حَقِّ يُوسُفَ، ثُمَّ يَتَسَلۡسَلُ كَذِبُهُمۡ كُلَّمَا جَرَى ذِكۡرُ يُوسُفَ وَقَضِيَّتِهِ، أَخۡبَرُوا بِهٰذَا الۡكَذِبِ الۡفَظِيعِ، وَلِهٰذَا حِينَ تَابُوا وَخَضَعُوا وَطَلَبُوا مِنۡ أَبِيهِمُ السَّمَاحَ ﴿قَالُوا۟ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ﴾ [يوسف: ٩٧].
Di antara faedahnya: Peringatan agar berhati-hati dari dosa yang dapat memicu timbulnya dosa-dosa lain dan keburukannya berantai, sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf. Perbuatan mereka itu sendiri mengandung beberapa kejahatan sekaligus: terhadap hak Allah, hak kedua orang tua dan kerabatnya, serta terhadap hak Yusuf. Kemudian kedustaan mereka terus berlanjut berantai setiap kali nama dan kasus Yusuf disebut; mereka menyampaikan kebohongan yang sangat buruk ini. Oleh karena itu, ketika mereka bertobat, tunduk, dan meminta maaf kepada ayahnya, “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS Yusuf: 97).
وَمِنۡهَا: أَنَّ بَعۡضَ الشَّرِّ أَهۡوَنُ مِنۡ بَعۡضٍ؛ فَحِينَ اتَّفَقُوا عَلَى التَّفۡرِيقِ بَيۡنَ يُوسُفَ وَأَبِيهِ، وَرَأَى أَكۡثَرُهُمۡ أَنَّ الۡقَتۡلَ يَحۡصُلُ بِهِ الۡإِبۡعَادُ الۡأَبَدِيُّ، ﴿قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡهُمۡ لَا تَقۡتُلُوا۟ يُوسُفَ وَأَلۡقُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ يَلۡتَقِطۡهُ بَعۡضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ﴾ [يوسف: ١٠]، فَخُفِّفَ بِهِ الشَّرُّ عَنۡهُمۡ، وَلِهٰذَا لَمَّا وَرَدَتِ السَّيَّارَةُ الۡمَاءَ وَأَدۡلَى وَارِدُهُمۡ دَلۡوَهُ تَبَشَّرَ بِوُجُودِهِ، وَقَالَ: ﴿هَٰذَا غُلَٰمٌ﴾ [يوسف: ١٩]، وَكَانَ إِخۡوَتُهُ حَوۡلَهُ فَقَالُوا: إِنَّهُ غُلَامٌ أَبَقَ مِنَّا وَتَبَايَعُوهُ مَعَهُمۡ ﴿وَشَرَوۡهُ بِثَمَنِۭ بَخۡسٍ دَرَٰهِمَ مَعۡدُودَةٍ وَكَانُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلزَّٰهِدِينَ﴾ [يوسف: ٢٠]. وَإِنَّمَا قَصۡدُهُمُ إِبۡعَادُهُ وَالتَّأۡكِيدُ عَلَى مُشۡتَرِيهِ مِنۡهُمۡ صُورَةً أَنۡ يَحۡتَفِظَ بِهِ لِئَلَّا يَهۡرُبَ، وَمِنۡ لُطۡفِ اللهِ أَنَّ الَّذِي أَخَذَهُ وَبَاعَهُ فِي مِصۡرَ عَلَى عَزِيزِهَا فَحِينَ رَآهُ رَغِبَ فِيهِ جِدًّا وَأَحَبَّهُ، وَقَالَ لاِمۡرَأَتِهِ: ﴿أَكۡرِمِى مَثۡوَىٰهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوۡ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا﴾ [يوسف: ٢١]، فَبَقِيَ مُكَرَّمًا عِنۡدَهُمۡ مُعَفًّى مِنَ الۡأَعۡمَالِ الشَّاقَّةِ وَغَيۡرِهَا مُتَجَرِّدًا لِلۡخَيۡرِ، وَهٰذَا مِنَ اللَّطۡفِ بِيُوسُفَ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلِنُعَلِّمَهُۥ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ﴾ [يوسف: ٢١]، فَكَانَ تَفَرُّغُهُ عِنۡدَ الۡعَزِيزِ مِنۡ أَسۡبَابِ تَعَلُّمِهِ لِلۡعُلُومِ النَّافِعَةِ؛ لِيَكُونَ أَسَاسًا لِمَا بَعۡدَهُ مِنَ الرِّفۡعَةِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ رُؤۡيَاهُ مُقَدِّمَةُ اللَّطۡفِ، وَكَمَا أَنَّ اللهَ أَوۡحَى إِلَيۡهِ حِينَ أَلۡقَتۡ إِخۡوَتُهُ فِي الۡجُبِّ ﴿لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمۡرِهِمۡ هَٰذَا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ﴾ [يوسف: ١٥].
Di antara faedahnya: Sebagian keburukan ada yang lebih ringan daripada sebagian lainnya. Ketika mereka sepakat untuk memisahkan Yusuf dari ayahnya, dan mayoritas mereka berpendapat bahwa pembunuhan akan mewujudkan pembuangan selamanya, “Seorang di antara mereka berkata: ‘Janganlah kalian membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir jika kalian hendak berbuat.’” (QS Yusuf: 10).
Maka keburukan itu pun teringankan. Oleh karena itu ketika kafilah musafir tiba mengambil air dan penimba air mengulurkan timbanya, ia gembira dengan keberadaan Yusuf dan berkata, “Ini seorang anak muda!’” (QS Yusuf: 19).
Saudara-saudara Yusuf yang berada di sekitarnya berkata bahwa ia adalah budak yang lari dari kami, lalu mereka menjualnya: “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka tidak merasa tertarik kepadanya.” (QS Yusuf: 20).
Maksud mereka hanyalah membuangnya dan menegaskan kepada pembeli agar menjaganya ketat agar tidak melarikan diri. Di antara kelembutan Allah adalah bahwasanya orang yang mengambil Yusuf, dia menjualnya kepada Pembesar Mesir. Tatkala ia melihat Yusuf, ia sangat menyukainya dan mencintainya, dan berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.’” (QS Yusuf: 21).
Maka Yusuf hidup dihormati di tempat mereka, dibebaskan dari pekerjaan-pekerjaan berat, dan dikhususkan untuk kebaikan. Ini adalah bagian dari kelembutan Allah kepada Yusuf, sebagaimana firman-Nya: “Dan demikianlah Kami berikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi.” (QS Yusuf: 21).
Kelapangan waktunya di rumah Pembesar menjadi sebab beliau mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat sebagai fondasi bagi derajat tinggi di dunia dan akhirat. Sebagaimana mimpinya adalah pembuka kelembutan Allah, dan sebagaimana Allah mewahyukan kepadanya saat dibuang saudara-saudaranya ke dalam sumur, “Sesungguhnya kamu akan memberitahukan kepada mereka perbuatan ini, sedang mereka tidak sadar.” (QS Yusuf: 15).
وَهٰذِهِ بِشَارَةٌ لَهُ بِالنَّجَاةِ مِمَّا هُوَ فِيهِ، وَأَنَّهُ سَيَصِلُ إِلَى أَنۡ يُنَبِّئَهُمۡ بِأَمۡرِهِمۡ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ، وَقَدۡ وَقَعَ ذٰلِكَ فِي قَوۡلِهِ: ﴿هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ﴾ [يوسف: ٨٩] إِلَى آخِرِ الۡآيَاتِ، وَأَلۡطَافُ الۡمَوۡلَى لَا تَخۡطُرُ عَلَى الۡبَالِ.
Ini merupakan kabar gembira bagi keselamatan Yusuf dari musibah yang menimpanya, dan bahwa beliau kelak akan sampai pada kedudukan mampu memberitahukan perbuatan mereka tanpa mereka sadari. Hal itu benar-benar terwujud dalam firman-Nya: “Apakah kalian tahu (keburukan) apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui (akibatnya)?” (QS Yusuf: 89) hingga akhir ayat. Dan kelembutan-kelembutan Allah itu sungguh tidak pernah terlintas dalam pikiran.
وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡعِبۡرَةَ فِي حَالِ الۡعَبۡدِ بِكَمَالِ النِّهَايَةِ لَا بِنَقۡصِ الۡبِدَايَةِ، وَذٰلِكَ لِأَنَّ إِخۡوَةَ يُوسُفَ جَرَى مِنۡهُمۡ مَا جَرَى مِنۡ هٰذِهِ الۡجَرَائِمِ، لَكِنۡ فِي آخِرِ أَمۡرِهِمۡ وَنِهَايَتِهِمۡ تَابُوا إِلَى اللهِ وَطَلَبُوا السَّمَاحَ مِنۡ أَخِيهِمۡ يُوسُفَ، وَمِنۡ وَالِدَيۡهِمُ الِاسۡتِغۡفَارَ فَحَصَلَ لَهُمُ السَّمَاحُ التَّامُّ وَالۡعَفۡوُ الۡكَامِلُ، فَعَفَا اللهُ عَنۡهُمۡ وَأَوۡصَلَهُمۡ إِلَى الۡكَمَالِ اللَّائِقِ بِهِمۡ.
Di antara faedahnya: Tolok ukur keadaan seorang hamba terletak pada kesempurnaan di akhir, bukan pada kekurangan di awal. Hal itu karena saudara-saudara Yusuf pernah melakukan kejahatan-kejahatan tersebut, namun pada akhir perkara dan perjalanan hidup mereka, mereka bertobat kepada Allah, meminta maaf kepada saudara mereka (Yusuf), dan meminta permohonan ampunan dari orang tua mereka, sehingga mereka mendapatkan pemaafan yang sempurna dan ampunan yang utuh. Allah pun mengampuni mereka dan menyampaikan mereka pada kesempurnaan yang layak bagi mereka.
قِيلَ: إِنَّ اللهَ جَعَلَهُمۡ أَنۡبِيَاءَ؛ كَمَا قَالَهُ غَيۡرُ وَاحِدٍ مِنَ الۡمُفَسِّرِينَ فِي تَفۡسِيرِ الۡأَسۡبَاطِ: إِنَّهُمۡ إِخۡوَةُ يُوسُفَ الِاثۡنَا عَشَرَ، وَقِيلَ: بَلۡ كَانُوا قَوۡمًا صَالِحِينَ كَمَا قَالَهُ آخَرُونَ، وَهُوَ الظَّاهِرُ، لِأَنَّ الۡمُرَادَ بِالۡأَسۡبَاطِ: قَبَائِلُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ، وَهُوَ اسۡمٌ لِعُمُومِ الۡقَبِيلَةِ لَا لِأَوۡلَادِ يَعۡقُوبَ الِاثۡنَيۡ عَشَرَ مِنۡهُمۡ، فَهُمۡ آبَاءُ الۡأَسۡبَاطِ وَهُمۡ مِنَ الۡأَسۡبَاطِ، وَلِهٰذَا فِي رُؤۡيَا يُوسُفَ رَآهُمۡ بِمَنۡزِلَةِ الۡكَوَاكِبِ فِي إِشۡرَاقِهَا وَعُلُوِّهَا وَهٰذِهِ صِفَةُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ وَالۡإِيمَانِ، وَاللهُ أَعۡلَمُ.
Ada yang berpendapat: Sesungguhnya Allah menjadikan mereka (saudara-saudara Yusuf) sebagai nabi-nabi, sebagaimana dinyatakan beberapa ahli tafsir saat menafsirkan kata al-asbath bahwa mereka adalah 12 saudara Yusuf. Namun ada pula yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang saleh, sebagaimana disampaikan yang lainnya, dan inilah pendapat yang tampak lebih kuat. Sebab yang dimaksud al-asbath adalah suku-suku keturunan Bani Israil—sebuah nama bagi keumuman suku, bukan hanya 12 anak Yakub. Mereka adalah leluhur suku-suku tersebut. Oleh karena itu dalam mimpi Yusuf, beliau melihat mereka berada di kedudukan bintang-bintang dalam hal pancaran cahaya dan tingginya, dan ini adalah sifat ahli ilmu dan iman. Wallahualam.
وَلِهٰذَا تُفَسَّرُ رُؤۡيَا الشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ وَالۡكَوَاكِبِ بِالۡعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَقَدۡ تُفَسَّرُ بِالۡمُلُوكِ، وَالۡمُنَاسَبَةُ ظَاهِرَةٌ.
Karena itulah mimpi melihat matahari, bulan, dan bintang ditafsirkan sebagai para ulama dan orang-orang saleh, dan kadang ditafsirkan sebagai raja-raja, dengan korelasi yang sangat jelas.
وَمِنۡهَا: تَكۡمِيلُ يُوسُفَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيۡهِ لِمَرَاتِبِ الصَّبۡرِ، الصَّبۡرُ الِاضۡطِرَارِيُّ: وَهُوَ صَبۡرٌ عَلَى أَذِيَّةِ إِخۡوَتِهِ، وَمَا تَرَتَّبَ عَلَيۡهَا مِنۡ بُعۡدِهِ عَنۡ أَبَوَيۡهِ، وَصَبۡرُهُ فِي السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِينَ. وَالصَّبۡرُ الِاخۡتِيَارِيُّ: هُوَ صَبۡرٌ عَلَى مُرَاوَدَةِ سَيِّدَتِهِ امۡرَأَةِ الۡعَزِيزِ مَعَ وُجُودِ الدَّوَاعِي الۡقَوِيَّةِ مِنۡ جَمَالِهَا وَعُلُوِّ مَنۡصِبِهَا، وَكَوۡنِهَا هِيَ الَّتِي رَاوَدَتۡهُ عَنۡ نَفۡسِهِ وَغَلَّقَتِ الۡأَبۡوَابَ، وَهُوَ فِي غَايَةِ رِيعَانِ الشَّبَابِ، وَلَيۡسَ عِنۡدَهُ مِنۡ قَرَابَتِهِ وَمَعَارِفِهِ الۡأَصۡلِيِّينَ أَحَدٌ.
Di antara faedahnya: Kesempurnaan tingkatan-tingkatan sabar pada diri Nabi Yusuf—shalawatullahi ‘alaih—. Ash-Shabr Al-Idhthirari (kesabaran yang dilakukan secara terpaksa karena seseorang tidak memiliki pilihan lain dalam menghadapi suatu kondisi): yaitu sabar atas gangguan saudara-saudaranya, dampak perpisahan dari kedua orang tuanya, serta kesabarannya di dalam penjara selama beberapa tahun. Ash-Shabr Al-Ikhtiyari (kesabaran atas pilihan sendiri ketika seseorang sebenarnya memiliki peluang untuk melakukan hal lain, namun ia memilih untuk menahan diri demi mematuhi perintah Allah): yaitu sabar dari godaan istri Pembesar padahal terdapat dorongan-dorongan yang sangat kuat berupa kecantikannya, kedudukan sosialnya yang tinggi, kenyataan bahwa si wanitalah yang menggodanya dan mengunci pintu-pintu, ditambah kondisi Yusuf yang berada di puncak masa muda dan tidak ada seorang pun kerabat maupun kenalannya di sana.
وَمَعَ هٰذِهِ الۡأُمُورِ وَمَعَ قُوَّةِ الشَّهۡوَةِ مَنَعَهُ الۡإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالۡإِخۡلَاصُ الۡكَامِلُ مِنۡ مُوَاقَعَةِ الۡمَحۡظُورِ، وَهٰذَا هُوَ الۡمُرَادُ بِقَوۡلِهِ: ﴿لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦ﴾ [يوسف: ٢٤]، فَهُوَ بُرۡهَانُ الۡإِيمَانِ الَّذِي يَغۡلِبُ جَمِيعَ الۡقُوَى النَّفۡسِيَّةِ، فَكَانَ هُوَ مُقَدَّمَ السَّبۡعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوۡمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، وَهُوَ (رَجُلٌ دَعَتۡهُ امۡرَأَةٌ ذَاتُ مَنۡصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ).
Namun di samping semua hal itu dan di tengah kuatnya syahwat, iman yang jujur dan keikhlasan yang utuh membentenginya dari jatuh ke dalam larangan. Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya: “sekiranya dia tidak melihat tanda (bukti) dari Rabnya.” (QS Yusuf: 24).
Bukti tersebut adalah bukti keimanan yang mampu mengalahkan seluruh dorongan hawa nafsu. Maka beliau menjadi yang terdepan dari tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu: “Seorang laki-laki yang digoda oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’”
ثُمَّ بَعۡدَ ذٰلِكَ رَاوَدَتۡهُ الۡمَرۡأَةُ وَرَاوَدَتۡهُ، وَاسۡتَعَانَتۡ بِالنِّسۡوَةِ اللَّاتِي قَطَّعۡنَ أَيۡدِيَهُنَّ، فَلَمۡ تُحَدِّثۡهُ نَفۡسُهُ وَلَمۡ يَزَلِ الۡإِيمَانُ مُلَازِمًا لَهُ فِي أَحۡوَالِهِ، حَتَّى قَالَ بَعۡدَمَا تَوَعَّدَتۡهُ بِقَوۡلِهَا: ﴿وَلَئِن لَّمۡ يَفۡعَلۡ مَآ ءَامُرُهُۥ لَيُسۡجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِّنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ٣٢ قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِىٓ إِلَيۡهِ﴾ [يوسف: ٣٢، ٣٣]، فَاخۡتَارَ السِّجۡنَ عَلَى مُوَاقَعَةِ الۡمَحۡظُورِ، وَمَعَ ذٰلِكَ فَلَمۡ يَتَّكِلۡ عَلَى نَفۡسِهِ، بَلِ اسۡتَغَاثَ بِرَبِّهِ أَنۡ يَصۡرِفَ عَنۡهُ شَرَّهُنَّ، ﴿فَٱسۡتَجَابَ لَهُۥ رَبُّهُۥ فَصَرَفَ عَنۡهُ كَيۡدَهُنَّ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ﴾ [يوسف: ٣٤].
Kemudian setelah itu wanita tersebut terus-menerus menggodanya dan meminta bantuan dari wanita-wanita yang telah melukai tangan mereka. Namun jiwa Yusuf sedikit pun tidak tergiur dan keimanan senantiasa melekat pada dirinya dalam setiap kondisi. Hingga beliau berkata setelah wanita itu mengancamnya dengan perkataan: “‘Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati perintahku kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina.’ Yusuf berkata, ‘Wahai Rabku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS Yusuf: 32-33).
Beliau lebih memilih penjara daripada jatuh ke dalam perbuatan yang terlarang. Namun demikian, beliau tidak bersandar pada dirinya sendiri, melainkan memohon pertolongan kepada Rabnya agar memalingkan tipu daya mereka: “Maka Rabnya memperkenankan doanya dan memalingkan tipu daya mereka darinya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Yusuf: 34).
وَكَمَا أَنَّهُ كَمَّلَ مَرَاتِبَ الصَّبۡرِ، فَقَدۡ كَمَّلَ مَرَاتِبَ الۡعَدۡلِ وَالۡإِحۡسَانِ لِلرَّعِيَّةِ حِينَ تَوَلَّى خَزَائِنَ الۡبِلَادِ الۡمَصۡرِيَّةِ، وَكَمَّلَ مَرَاتِبَ الۡعَفۡوِ وَالۡكَرَمِ حِينَ قَالَ لِإِخۡوَتِهِ: ﴿تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِـِٔينَ ٩١ قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَ ۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ﴾ [يوسف: ٩١، ٩٢]، فَارۡتَقَى ﷺ إِلَى أَعۡلَى مَقَامَاتِ الۡفَضۡلِ وَالۡخَيۡرِ وَالصِّدۡقِ وَالۡكَمَالِ، وَنَشَرَ اللهُ لَهُ الثَّنَاءَيۡنِ الۡكَامِلَيۡنِ فِي الۡعَالَمِينَ.
Sebagaimana beliau menyempurnakan tingkatan-tingkatan sabar, beliau juga menyempurnakan tingkatan keadilan dan kebaikan (al-ihsan) kepada rakyat tatkala mengelola perbendaharaan negeri Mesir. Beliau pun menyempurnakan tingkatan pemaafan dan kemuliaan hati tatkala saudara-saudaranya berkata, “‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’ Lalu Yusuf menjawab, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS Yusuf: 91-92).
Maka Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—naik ke derajat keutamaan, kebaikan, kejujuran, dan kesempurnaan yang paling tinggi, serta Allah menyebarkan baginya dua pujian yang utuh di semesta alam.
![]()
Be the first to leave a comment