الۡفَصۡلُ السَّادِسُ
Bab Keenam
وَمِنۡ ذٰلِكَ أَنَّ يُوسُفَ ﷺ جَمَعَ لَهُمۡ بَيۡنَ تَعۡبِيرِ رُؤۡيَا الۡمَلِكِ وَبَيۡنَ مَا يَنبَغِي لَهُمۡ أَنۡ يَفۡعَلُوهُ وَيُدَبِّرُوهُ فِي سِنِينَ الۡخِصۡبِ لِلِاسۡتِعۡدَادِ لِسِنِينِ الۡجَدۡبِ، وَحِينَ قَالَ لَهُ الۡمَلِكُ: ﴿إِنَّكَ ٱلۡيَوۡمَ لَدَيۡنَا مَكِينٌ أَمِينٌ﴾ [يوسف: ٥٤]، أَيۡ: تَتَمَكَّنُ مِنۡ أُمُورِ الۡمَمۡلَكَةِ وَتَدَابِيرِهَا مُفَوَّضٌ إِلَيۡهِ الۡأُمُورُ لِأَمَانَتِهِ وَكَفَاءَتِهِ وَكَمَالِ الثِّقَةِ بِهِ. فَالۡمَلِكُ هُوَ الَّذِي ابۡتَدَأَ تَوۡلِيَتَهُ وَتَفۡوِيضَ الۡأُمُورِ إِلَيۡهِ، وَهُوَ الَّذِي اقۡتَرَحَ أَنۡ يَكُونَ عَلَى خَزَائِنِ الۡأَرۡضِ وَجِبَايَتِهَا وَتَصۡرِيفِهَا لِأَجۡلِ عُمُومِ الۡمَصۡلَحَةِ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿ٱجۡعَلۡنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ﴾ [يوسف: ٥٥]، أَيۡ: أَحۡفَظُ الۡحَاصِلَاتِ وَالۡغَلَّاتِ وَأَعۡلَمُ كَيۡفَ يَتِمُّ تَصۡرِيفُهَا وَتَدۡبِيرُهَا.
Di antara faedahnya: Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—menggabungkan bagi mereka antara penafsiran mimpi Raja dengan petunjuk mengenai apa yang sepatutnya mereka lakukan dan atur pada tahun-tahun kesuburan sebagai persiapan menghadapi tahun-tahun paceklik. Ketika Raja berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami.” (QS Yusuf: 54), artinya: engkau diberi kewenangan atas urusan-urusan kerajaan dan pengelolaannya, serta diserahkan kepadamu segala urusan karena kejujuran, kecakapan, dan besarnya kepercayaan kepadanya. Rajalah yang memulai pengangkatannya dan menyerahkan urusan kepadanya, sedangkan beliau (Yusuf) yang mengusulkan agar diserahi tugas mengurus perbendaharaan bumi, pemungutan, serta pengelolaannya demi kemaslahatan umum. Oleh karena itu beliau berkata, “Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf: 55), maksudnya: aku akan menjaga hasil bumi dan pasokan pangan, serta aku mengetahui bagaimana cara mengelola dan mengaturnya dengan sempurna.
فَحِينَئِذٍ اعۡتَنَى فِي سِنِينِ الۡخِصۡبِ بِالزُّرُوعَاتِ الۡهَائِلَةِ وَجَبَاهَا فِي مَخَازِنِهَا فِي سُنۡبُلِهَا، وَاجۡتَهَدَ فِي الِاقۡتِصَادِ فِي أَكۡلِهِمۡ أَيَّامَ السِّنِينِ الۡخَصِيبَةِ لِتَتَوَفَّرَ الۡغِلَالُ وَيَكُونَ لَهَا النَّفۡعُ الۡعَامُّ، فَحِينَ جَاءَتِ السُّنُونُ الۡمُجۡدِبَاتُ وَعَمَّ الۡجَدۡبُ لِلۡأَقۡطَارِ الۡمَصۡرِيَّةِ وَمَا جَاوَرَهَا، وَفَنِيَ مَا عِنۡدَ النَّاسِ جَعَلُوا يَقۡصِدُونَ مِصۡرَ مِنۡ كُلِّ جِهَةٍ، فَجَعَلَ يَكِيلُ لَهُمۡ كَيۡلَ الۡعَدۡلِ وَالِاقۡتِصَادِ بِحَسَبِ الۡحَاجَةِ لَا يَزِيدُ كُلَّ وَاحِدٍ عَلَى حِمۡلِ بَعِيرٍ، خَوۡفًا مِنۡ أَلَّا يَجۡتَاحَهُ الۡمُحۡتَكِرُونَ وَيَحۡصُلَ الضَّرَرُ عَلَى الۡمُحۡتَاجِينَ الۡمَعۡوِزِينَ، وَلِهٰذَا مِنۡ جُمۡلَةِ مَا عَالَجَ إِخۡوَةُ يُوسُفَ أَبَاهُمۡ لِإِرۡسَالِ بِنۡيَامِينَ مَعَهُمۡ أَنۡ قَالُوا: ﴿وَنَزۡدَادُ كَيۡلَ بَعِيرٍ﴾ [يوسف: ٦٥]، أَيۡ: إِذَا كَانَ مَعَنَا حَصَلَ لَنَا زِيَادَةُ كَيۡلِ بَعِيرٍ؛ لِأَنَّ عَائِلَةَ يَعۡقُوبَ كَثِيرُونَ يَحۡتَاجُونَ إِلَى مِيرَةٍ كَثِيرَةٍ، فَحَصَلَ لِهٰذِهِ الۡأَعۡمَالِ الۡجَلِيلَةِ عَلَى يَدِ يُوسُفَ نَفۡعٌ لِلۡخَلۡقِ عَظِيمٌ وَإِزَالَةُ ضَرُورَاتٍ وَدَفۡعُ حَاجَاتٍ وَتَهۡوِينٌ لِلشِّدَّاتِ وَالۡكُرُبَاتِ.
Pada saat itulah, pada tahun-tahun kesuburan, beliau memberi perhatian besar pada penanaman tanaman dalam jumlah yang sangat besar dan mengumpulkannya di lumbung-lumbung penyimpanan tetap dalam bulirnya. Beliau juga bersungguh-sungguh menerapkan penghematan dalam konsumsi pangan mereka pada masa tahun-tahun subur agar pasokan bahan pangan melimpah dan memberikan manfaat yang luas. Ketika tahun-tahun paceklik tiba dan kemarau melanda wilayah-wilayah Mesir serta sekitarnya, sementara persediaan milik masyarakat telah habis, mereka mulai berdatangan menuju Mesir dari berbagai penjuru. Beliau pun membagikan takaran pangan kepada mereka secara adil dan hemat sesuai kebutuhan, dengan tidak melebihi muatan satu ekor unta untuk setiap orang, karena khawatir akan dikuasai oleh para penimbun barang sehingga merugikan orang-orang miskin yang membutuhkan. Oleh karena itu, di antara bentuk bujukan yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf kepada ayah mereka agar mau mengutus Bunyamin bersama mereka adalah perkataan mereka: “dan kita akan mendapat tambahan jatah satu muatan unta (lagi).” (QS Yusuf: 65), artinya: jika dia bersama kami, kami akan memperoleh tambahan takaran jatah satu muatan unta; karena keluarga Yakub jumlahnya banyak dan membutuhkan pasokan bahan pangan yang besar.
Melalui tindakan-tindakan mulia di tangan Yusuf ini, terwujudlah manfaat yang sangat besar bagi manusia, terangkatnya kondisi darurat, terpenuhinya kebutuhan, serta teringankannya kesulitan dan penderitaan.
وَمِنۡهَا: مَشۡرُوعِيَّةُ الضِّيَافَةِ وَأَنَّهَا مِنۡ سُنَنِ الرُّسُلِ وَقَرَّرَتۡهَا هٰذِهِ الشَّرِيعَةُ؛ لِقَوۡلِ يُوسُفَ: ﴿أَلَا تَرَوۡنَ أَنِّىٓ أُوفِى ٱلۡكَيۡلَ وَأَنَا۠ خَيۡرُ ٱلۡمُنزِلِينَ﴾ [يوسف: ٥٩].
Di antara faedahnya: Disyariatkannya memuliakan tamu dan bahwasanya hal tersebut merupakan bagian dari ajaran para rasul yang juga ditetapkan dalam syariat ini; berdasarkan perkataan Yusuf: “Tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?” (QS Yusuf: 59).
وَمِنۡهَا: أَنَّ اسۡتِعۡمَالَ الۡأَسۡبَابِ الۡوَاقِيَةِ مِنَ الۡعَيۡنِ أَوۡ غَيۡرِهَا غَيۡرُ مَمۡنُوعٍ، بَلۡ جَائِزٌ وَمُسۡتَحَبٌّ بِحَسَبِ حَالِهِ، وَإِنۡ كَانَتۡ جَمِيعُ الۡأُمُورِ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، لَكِنَّ الۡأَسۡبَابَ الۡوَاقِيَةَ أَوِ الدَّافِعَةَ مِنۡ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، بِشَرۡطِ أَنۡ يَفۡعَلَهَا الۡعَبۡدُ وَهُوَ مُعۡتَمِدٌ عَلَى مُسَبِّبِهَا؛ لِأَنَّ يَعۡقُوبَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ حِينَ أَرَادَ أَنۡ يُوصِيَ بَنِيهِ لَمَّا أَرۡسَلَ بِنۡيَامِينَ مَعَهُمۡ قَالَ: ﴿يَٰبَنِىَّ لَا تَدۡخُلُوا۟ مِنۢ بَابٍ وَٰحِدٍ وَٱدۡخُلُوا۟ مِنۡ أَبۡوَٰبٍ مُّتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَآ أُغۡنِى عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَىۡءٍ ۖ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ﴾ [يوسف: ٦٧].
Di antara faedahnya: Penggunaan sebab-sebab pencegah dari penyakit ‘ain (pandangan mata) atau lainnya tidaklah dilarang. Bahkan hukumnya boleh dan disukai sesuai dengan kondisinya. Meskipun seluruh perkara terjadi berdasarkan qada dan qadar Allah, namun sebab-sebab pencegah atau penolak tersebut juga merupakan bagian dari qada dan qadar Allah. Syaratnya, hamba tersebut melakukannya dengan tetap bersandar kepada Sang Pencipta sebab (Allah). Hal ini karena Nabi Yakub—‘alaihis-salam—ketika hendak berwasiat kepada anak-anaknya tatkala melepas Bunyamin pergi bersama mereka, beliau berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang terpisah-pisah; namun aku tidak dapat melepaskan kalian sedikit pun dari ketetapan Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah; kepada-Nya aku bertawakal.” (QS Yusuf: 67).
وَأَخۡبَرَ تَعَالَى أَنَّهُمۡ امۡتَثَلُوا أَمۡرَ أَبِيهِمۡ، وَأَنَّ هٰذَا الۡأَمۡرَ لَمۡ يُغۡنِ شَيۡئًا إِلَّا حَاجَةً فِي نَفۡسِ يَعۡقُوبَ قَضَاهَا؛ وَهُوَ شَفَقَةُ الۡوَالِدِ عَلَى أَوۡلَادِهِ. وَالشَّرِيعَةُ جَاءَتۡ بِإِثۡبَاتِ الۡأَسۡبَابِ النَّافِعَةِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنۡيَوِيَّةِ، وَالۡحَثِّ عَلَيۡهَا مَعَ الِاسۡتِعَانَةِ بِاللَّهِ، كَمَا ثَبَتَ عَنۡهُ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (احۡرِصۡ عَلَى مَا يَنۡفَعُكَ وَاسۡتَعِنۡ بِاللهِ).
Allah memberitahukan bahwasanya mereka menjalankan perintah ayah mereka, dan bahwasanya perintah ini tidak dapat menolak ketetapan sedikit pun, melainkan hanya untuk memenuhi keinginan dalam jiwa Yakub yang telah dilaksanakannya, yaitu rasa kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya. Syariat agama ini datang dengan menetapkan sebab-sebab yang bermanfaat bagi agama maupun dunia, serta dorongan untuk menjalankannya disertai memohon pertolongan kepada Allah. Sebagaimana telah sahih dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau bersabda, “Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah.”
وَمِنۡهَا: جَوَازُ اسۡتِعۡمَالِ الۡحِيَلِ وَالۡمَكَايِدِ الَّتِي يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى حَقٍّ مِنَ الۡحُقُوقِ الۡوَاجِبَةِ وَالۡمُسۡتَحَبَّةِ أَوِ الۡجَائِزَةِ، كَمَا اسۡتَعۡمَلَ يُوسُفُ ذٰلِكَ مَعَ أَخِيهِ حَيۡثُ وَضَعَ السِّقَايَةَ فِي رَحۡلِ أَخِيهِ، ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَعۡدَ رَحِيلِهِمۡ ﴿أَيَّتُهَا ٱلۡعِيرُ إِنَّكُمۡ لَسَٰرِقُونَ﴾ [يوسف: ٧٠] إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿فَبَدَأَ بِأَوۡعِيَتِهِمۡ قَبۡلَ وِعَآءِ أَخِيهِ ثُمَّ ٱسۡتَخۡرَجَهَا مِن وِعَآءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدۡنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأۡخُذَ أَخَاهُ فِى دِينِ ٱلۡمَلِكِ﴾ [يوسف: ٧٦]، فَعَمِلَ مَعَ أَخِيهِ هٰذَا الۡعَمَلَ لِيَتَوَصَّلَ بِهِ إِلَى بَقَائِهِ عِنۡدَهُ مِنۡ غَيۡرِ شُعُورٍ مِنۡهُمۡ، فَلَمَّا تَقَرَّرَ عِنۡدَهُمۡ أَنَّهُ هُوَ الَّذِي أَخَذَ الصُّوَاعَ اسۡتَفۡتَاهُمۡ عَنۡ حُكۡمِ السَّارِقِ فِي دِينِهِمۡ، فَقَالُوا: ﴿جَزَٰٓؤُهُۥ مَن وُجِدَ فِى رَحۡلِهِۦ فَهُوَ جَزَٰٓؤُهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِى ٱلظَّٰلِمِينَ﴾ [يوسف: ٧٥]، أَيۡ: جَزَاءُ السَّارِقِ أَنۡ يَتَمَلَّكَهُ الۡمَسۡرُوقُ مِنۡهُ فَحَكَمُوا عَلَى أَنۡفُسِهِمۡ هٰذَا الۡحُكۡمَ الَّذِي هُوَ الۡمَقۡصُودُ لِيُوسُفَ، وَلَوۡ أُجۡرِيَ عَلَيۡهِ حُكۡمُ مَلِكِ مِصۡرَ لَكَانَ لَهُ حُكۡمٌ آخَرُ، فَيَسَّرَ اللهُ هٰذَا الۡعَمَلَ، وَهٰذَا الۡحُكۡمُ لِيَبۡقَى أَخُوهُ عِنۡدَهُ. فَالۡحِيَلُ الَّتِي عَلَى هٰذَا النَّوۡعِ لَا حَرَجَ فِيهَا، وَإِنَّمَا الۡمُحَرَّمُ الۡحِيَلُ وَالۡمَكَايِدُ الَّتِي يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى إِحۡلَالِ الۡمُحَرَّمَاتِ أَوۡ إِسۡقَاطِ الۡوَاجِبَاتِ.
Di antara faedahnya: Kebolehan menggunakan siasat dan trik yang menyampaikan seseorang kepada hak di antara hak-hak yang wajib, disukai, maupun dibolehkan. Sebagaimana yang diterapkan Yusuf kepada saudaranya tatkala beliau meletakkan piala di dalam muatan barang saudaranya, kemudian penyeru berseru setelah keberangkatan mereka, “Wahai kafilah, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang mencuri!” (QS Yusuf: 70) hingga firman-Nya: “Maka mulailah Yusuf memeriksa karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk Yusuf; tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja …” (QS Yusuf: 76).
Beliau melakukan perbuatan ini kepada saudaranya untuk menyampaikan pada tujuannya agar saudaranya bisa tetap tinggal bersamanya tanpa disadari oleh mereka. Tatkala telah tetap di hadapan mereka bahwa dialah yang mengambil piala tersebut, Yusuf meminta keputusan dari mereka tentang hukum bagi pencuri dalam syariat agama mereka. Mereka menjawab, “Balasannya ialah pada siapa yang ditemukan (barang itu) di dalam karungnya, maka dialah balasannya. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.” (QS Yusuf: 75), artinya: balasan bagi pencuri adalah ia dimiliki oleh orang yang dicuri barangnya. Jadi, mereka menetapkan hukum atas diri mereka sendiri dengan hukum yang memang menjadi tujuan Yusuf. Sebab sekiranya yang diberlakukan atasnya adalah hukum Raja Mesir, tentu hukumnya akan berbeda. Maka Allah memudahkan perbuatan dan penetapan hukum ini agar saudaranya dapat tetap tinggal bersamanya. Siasat yang digunakan untuk tujuan semacam ini tidaklah berdosa. Yang diharamkan hanyalah siasat dan tipu daya yang digunakan untuk menghalalkan hal-hal yang diharamkan atau menggugurkan kewajiban-kewajiban.
وَمِنۡهَا: اسۡتِعۡمَالُ الۡمَعَارِيضِ عِنۡدَ الۡحَاجَةِ إِلَيۡهَا، فَإِنَّ فِي الۡمَعَارِيضِ مَنۡدُوَحَةً عَنِ الۡكَذِبِ، وَذٰلِكَ مِنۡ وُجُوهٍ؛ مِنۡهَا قَوۡلُهُ: ﴿ثُمَّ ٱسۡتَخۡرَجَهَا مِن وِعَآءِ﴾ [يوسف: ٧٦] وَلَمۡ يَقُلۡ سَرَقَهَا، وَكَذٰلِكَ قَوۡلُهُ: ﴿مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأۡخُذَ إِلَّا مَن وَجَدۡنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ﴾ [يوسف: ٧٩]، وَلَمۡ يَقُلۡ مَنۡ سَرَقَ مَتَاعَنَا، وَإِذَا قِيلَ: إِنَّ هٰذَا اتِّهَامٌ لِلۡبَرِيءِ؟ قِيلَ: إِنَّمَا فَعَلَ ذٰلِكَ بِإِذۡنِ أَخِيهِ وَرِضَاهُ، وَإِذَا رَضِيَ زَالَ الۡمَحۡذُورُ.
Di antara faedahnya: Penggunaan kalimat kiasan saat dibutuhkan, karena dalam kiasan terdapat kelapangan agar terhindar dari kedustaan. Faedah itu diambil dari beberapa sisi: di antaranya firman-Nya: “Kemudian dia mengeluarkannya dari wadah saudaranya” (QS Yusuf: 76) dan tidak mengatakan “dia mencurinya”.
Demikian pula firman-Nya: “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan seseorang melainkan orang yang kami temukan harta kami padanya” (QS Yusuf: 79), dan beliau tidak mengatakan “orang yang mencuri harta kami”. Jika ada yang bertanya: Apakah ini merupakan tuduhan terhadap orang yang tidak bersalah? Maka dijawab: Bahwa hal itu dilakukan atas izin saudaranya (Bunyamin) dan kerelaannya, dan apabila ia telah rela maka hilanglah hal yang dikhawatirkan tersebut.
وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡإِنۡسَانَ لَا يَحِلُّ لَهُ أَنۡ يَشۡهَدَ إِلَّا بِمَا يَعۡلَمُ؛ لِقَوۡلِهِمۡ: ﴿وَمَا شَهِدۡنَآ إِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا﴾ [يوسف: ٨١] وَأَنَّ الۡعِلۡمَ يَحۡصُلُ بِإِقۡرَارِ الۡإِنۡسَانِ عَلَى نَفۡسِهِ وَبِوُجُودِ الۡمَسۡرُوقِ وَنَحۡوِهِ مَعَهُ وَفِي يَدِهِ أَوۡ رَحۡلِهِ.
Di antara faedahnya: Seseorang tidak halal memberikan kesaksian melainkan atas apa yang diketahuinya, berdasarkan perkataan mereka: “Dan kami tidak bersaksi melainkan dengan apa yang kami ketahui.” (QS Yusuf: 81). Dan bahwasanya kepastian itu diperoleh melalui pengakuan seseorang atas dirinya sendiri, atau dengan ditemukannya barang curian dan sejenisnya bersama orang tersebut, di tangannya, atau di dalam muatan barangnya.
وَمِنۡهَا: أَنَّ وُجُودَ الۡمَسۡرُوقِ بِيَدِ السَّارِقِ بَيِّنَةٌ وَقَرِينَةٌ عَلَى أَنَّهُ السَّارِقُ، وَلِذٰلِكَ حَكَمَ وَحَكَمُوا عَلَى أَخِي يُوسُفَ بِحُكۡمِ السَّارِقِ.
Di antara faedahnya: Ditemukannya barang curian di tangan pencuri merupakan bukti nyata dan indikasi bahwasanya dialah pencurinya, dan oleh karena itulah mereka menghukumi saudara Yusuf dengan hukum bagi seorang pencuri.
وَمِنۡهَا: هٰذِهِ الۡمِحۡنَةُ الۡعَظِيمَةُ الَّتِي امۡتَحَنَ اللهُ بِهَا نَبِيَّهُ وَصَفِيَّهُ يَعۡقُوبَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، حَيۡثُ قَضَى بِالۡفِرَاقِ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ يُوسُفَ هٰذِهِ الۡمُدَّةَ الطَّوِيلَةَ، الَّتِي يَغۡلِبُ عَلَى الظَّنِّ أَنَّهَا تَبۡلُغُ ثَلَاثِينَ سَنَةً فَأَكۡثَرَ، مِنۡ ذٰلِكَ أَنَّهُ بَقِيَ مُدَّةً فِي بَيۡتِ الۡعَزِيزِ قَبۡلَ السِّجۡنِ فِي الۡإِمۡكَانِ، أَوۡ تَكُونُ مِنۡ سَبۡعِ السِّنِينَ إِلَى الۡعَشۡرِ أَوۡ نَحۡوِ ذٰلِكَ عَلَى وَجۡهِ الۡخَرۡصِ وَالۡحَزۡرِ، ثُمَّ مَكَثَ بِضۡعَ سِنِينَ فِي السِّجۡنِ، وَالۡأَكۡثَرُ أَنَّهَا سَبۡعُ سِنِينَ، ثُمَّ بَعۡدَ خُرُوجِهِ دَخَلَتِ السَّبۡعُ السِّنِينَ الۡمُخۡصِبَاتُ، فَهٰذِهِ نَحۡوُ إِحۡدَى وَعِشۡرِينَ سَنَةً، ثُمَّ دَخَلَتِ السَّبۡعُ الۡمُجۡدِبَاتُ، وَتَرَدُّدُ إِخۡوَةِ يُوسُفَ إِلَيۡهِ مَرَّاتٍ، وَالظَّاهِرُ أَنَّ اللِّقَاءَ كَانَ فِي آخِرِهَا، فَهٰذِهِ تُقَارِبُ الثَّلَاثِينَ وَنَحۡوَهَا، وَهُوَ فِي هٰذِهِ الۡمُدَّةِ لَمۡ يُفَارِقِ الۡحُزۡنُ قَلۡبَهُ وَهُوَ دَائِمُ الۡبُكَاءِ، حَتَّى ابۡيَضَّتۡ عَيۡنَاهُ مِنَ الۡحُزۡنِ، وَفَقَدَ بَصَرَهُ وَهُوَ صَابِرٌ لِأَمۡرِ اللهِ، مُحۡتَسِبٌ الثَّوَابَ عِنۡدَ اللهِ قَدۡ وَعَدَ مِنۡ نَفۡسِهِ الصَّبۡرَ، وَلَا شَكَّ أَنَّهُ وَفَى بِذٰلِكَ، وَلَا يُنَافِي ذٰلِكَ قَوۡلُهُ: ﴿إِنَّمَآ أَشۡكُوا۟ بَثِّى وَحُزۡنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ﴾ [يوسف: ٨٦]، فَإِنَّ الشَّكۡوَى إِلَى اللهِ لَا تُنَافِي الصَّبۡرَ، وَإِنَّمَا يُنَافِي الصَّبۡرَ الشَّكۡوَى إِلَى الۡمَخۡلُوقِ.
Di antara faedahnya: Ujian agung yang Allah berikan kepada nabi dan hamba pilihan-Nya, Yakub—‘alaihis-salam—, tatkala Allah menetapkan perpisahan antara beliau dan Yusuf dalam jangka waktu yang panjang ini, yang kemungkinan besar mencapai tiga puluh tahun atau lebih.
Rinciannya: beliau tinggal beberapa waktu di rumah Pembesar sebelum dipenjara, perkiraannya sekitar tujuh hingga sepuluh tahun, kemudian mendekam beberapa tahun di penjara. Mayoritas pendapat menyebutkan tujuh tahun. Lalu setelah keluar, masuklah tujuh tahun masa kesuburan; maka ini totalnya sekitar 21 tahun. Kemudian masuk pula tujuh tahun masa paceklik, disertai bolak-baliknya saudara-saudara Yusuf beberapa kali, dan tampaknya perjumpaan itu terjadi di akhir masa paceklik tersebut; maka ini mendekati tiga puluh tahun atau sekitarnya. Dalam rentang waktu ini, kesedihan tidak pernah meninggalkan hatinya dan beliau terus-menerus menangis hingga matanya memutih karena duka dan kehilangan penglihatannya. Namun beliau tetap bersabar atas ketetapan Allah, mengharapkan pahala di sisi Allah, serta telah berjanji pada dirinya untuk bersabar dan tidak diragukan bahwa beliau menepatinya. Hal itu tidak bertentangan dengan perkataannya: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS Yusuf: 86), karena mengadu kepada Allah tidaklah merusak kesabaran, yang merusak kesabaran hanyalah mengadu kepada makhluk.
وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡفَرَجَ مَعَ الۡكَرَبِ، فَإِنَّهُ لَمَّا اشۡتَدَّ الۡكَرَبُ بِيَعۡقُوبَ وَقَالَ: يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ، قَالَ: ﴿يَٰبَنِىَّ ٱذۡهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يۡـَٔسُوا۟ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ﴾ [يوسف: ٨٧]، وَهُمۡ حِينَ دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ وَقَفُوا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مَوۡقِفَ الۡمُضۡطَرِّ، فَقَالُوا: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٍ مُّزۡجَىٰةٍ﴾ [يوسف: ٨٨]، أَيۡ: قَلِيلَةٍ حَقِيرَةٍ لَا تَقَعُ الۡمَوۡقِعَ ﴿فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِى ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ﴾ [يوسف: ٨٨]، فَحِينَئِذٍ لَمَّا بَلَغَ الضُّرُّ مُنۡتَهَاهُ مِنۡ كُلِّ وَجۡهٍ عَرَّفَهُمۡ بِنَفۡسِهِ، فَحَصَلَ بِذٰلِكَ الۡبِشَارَةُ الۡكُبۡرَى لِأَبَوَيۡهِ وَإِخۡوَتِهِ وَأَهۡلِهِمۡ، وَزَالَ عَنۡهُمُ الضُّرُّ وَالۡبَأۡسَاءُ وَخَلَفَهُ السُّرُورُ وَالۡفَرَحُ وَالرَّخَاءُ.
Di antara faedahnya: Kemudahan datang bersama kesulitan. Ketika penderitaan Nabi Yakub semakin memuncak dan beliau berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, beliau berkata, “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87).
Dan ketika mereka (saudara-saudara Yusuf) masuk menghadap Yusuf, mereka berdiri di hadapannya dalam posisi orang yang sangat membutuhkan, lalu berkata, “Wahai Pembesar, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga” (QS Yusuf: 88), maksudnya: barang yang sedikit dan tidak bernilai tinggi, “maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf: 88).
Pada saat itulah, ketika kesulitan telah mencapai puncaknya dari segala sisi, Yusuf memperkenalkan dirinya kepada mereka. Sehingga terwujudlah kabar gembira yang sangat besar bagi kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, dan keluarga mereka, serta hilanglah penderitaan dan kesengsaraan dari mereka dan berganti dengan kegembiraan, kesenangan, serta kelapangan.
وَمِنۡهَا: أَنَّ اللهَ يَبۡتَلِي أَنۡبِيَاءَهُ وَأَصۡفِيَاءَهُ بِالشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ وَالسُّرُورِ وَالۡحُزۡنِ وَالۡيُسۡرِ وَالۡعُسۡرِ؛ لِيَسۡتَخۡرِجَ مِنۡهُمۡ عُبُودِيَّتَهُ فِي الۡحَالَيۡنِ بِالشُّكۡرِ عِنۡدَ الرَّخَاءِ وَالصَّبۡرِ عِنۡدَ الشِّدَّةِ وَالۡبَلَاءِ، فَتَتِمَّ عَلَيۡهِمۡ بِذٰلِكَ النَّعۡمَاءُ كَمَا ابۡتَلَى يَعۡقُوبَ وَيُوسُفَ، وَكَذٰلِكَ غَيۡرُهُمۡ مِنۡ أَنۡبِيَائِهِ وَأَصۡفِيَائِهِ.
Di antara faedahnya: Allah menguji nabi-nabi-Nya dan hamba-hamba pilihan-Nya dengan kesulitan dan kelapangan, kegembiraan dan kesedihan, serta kemudahan dan kesukaran; untuk mewujudkan penghambaan mereka kepada-Nya dalam kedua kondisi tersebut melalui rasa syukur saat lapang dan kesabaran saat mengalami kesulitan dan ujian. Dengan demikian sempurnalah kenikmatan atas mereka, sebagaimana Dia menguji Yakub dan Yusuf, serta nabi-nabi dan hamba-hamba pilihan-Nya yang lain.
وَمِنۡهَا: جَوَازُ إِخۡبَارِ الۡإِنۡسَانِ بِمَا يَجِدُ وَمَا هُوَ فِيهِ مِنۡ مَرَضٍ أَوۡ فَقۡرٍ أَوۡ غَيۡرِهِمَا عَلَى غَيۡرِ وَجۡهِ التَّسَخُّطِ؛ لِقَوۡلِ إِخۡوَةِ يُوسُفَ: ﴿مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ﴾، وَأَقَرَّهُمۡ يُوسُفُ عَلَى ذٰلِكَ.
Di antara faedahnya: Kebolehan seseorang memberitahukan apa yang dirasakannya dan dialaminya berupa penyakit, fakir, atau lainnya selama tidak dalam wujud mengeluhkan ketetapan Allah; berdasarkan perkataan saudara-saudara Yusuf: “kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan”, dan Yusuf membiarkan mereka atas perkataan tersebut.
وَمِنۡهَا: فَضِيلَةُ التَّقۡوَى وَالصَّبۡرِ، وَأَنَّ كُلَّ خَيۡرٍ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ فَمِنۡ آثَارِهِمَا، وَأَنَّ عَاقِبَةَ أَهۡلِهِمَا أَحۡسَنُ الۡعَوَاقِبِ؛ لِقَوۡلِهِ: ﴿قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآ ۖ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ﴾ [يوسف: ٩٠]، وَأَنَّ إِخۡبَارَ الۡعَبۡدِ مِنۡ نَفۡسِهِ بِحُصُولِ التَّقۡوَى وَالصَّبۡرِ إِذَا كَانَ صِدۡقًا وَفِي ذٰلِكَ مَصۡلَحَةٌ مِنۡ بَابِ التَّحَدُّثِ بِنِعۡمَةِ اللهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ﴾ [الضحى: ١١]، وَهِيَ تَشۡمَلُ نِعَمَ الدُّنۡيَا وَنِعَمَ الدِّينِ، وَأَنَّ اللهَ يَجۡمَعُ لِلۡمُتَّقِينَ بَيۡنَ خَيۡرِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ كَمَا فِي هٰذِهِ الۡآيَةِ وَالۡآيَةِ السَّابِقَةِ، وَهِيَ قَوۡلُهُ: ﴿نُصِيبُ بِرَحۡمَتِنَا مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٥٦ وَلَأَجۡرُ ٱلۡـَٔاخِرَةِ خَيۡرٌ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ﴾ [يوسف: ٥٦ – ٥٧]، وَأَنَّهُ يَنبَغِي لِلۡعَبۡدِ أَنۡ يَتَذَكَّرَ فِي حَالِ الرَّخَاءِ وَالسُّرُورِ حَالَةَ الۡحُزۡنِ وَالشِّدَّةِ، لِيَزۡدَادَ شُكۡرُهُ وَثَنَاؤُهُ عَلَى اللهِ، وَلِهٰذَا قَالَ يُوسُفُ: ﴿وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِىٓ إِذۡ أَخۡرَجَنِى مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ﴾ [يوسف: ١٠٠].
Di antara faedahnya: Keutamaan takwa dan sabar, serta bahwasanya setiap kebaikan di dunia dan akhirat merupakan buah dari keduanya, dan kesudahan bagi pemilik keduanya adalah sebaik-baik kesudahan; berdasarkan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS Yusuf: 90).
Dan bahwasanya pemberitahuan hamba tentang dirinya mengenai terwujudnya takwa dan sabar, apabila disampaikan secara jujur dan mengandung kemaslahatan, termasuk dalam bab menyebut-nyebut nikmat Allah. Allah taala berfirman, “Dan terhadap nikmat Rabmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS Ad-Duha: 11), yang mencakup nikmat dunia dan nikmat agama.
Serta bahwasanya Allah menghimpun bagi orang-orang yang bertakwa kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana dalam ayat ini dan ayat sebelumnya, yaitu firman-Nya: “Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sungguh, pahala negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS Yusuf: 56–57).
Dan bahwasanya sepatutnya bagi seorang hamba untuk mengingat kembali pada saat lapang dan gembira akan kondisi kesedihan dan kesulitan yang lalu, agar semakin bertambah rasa syukur dan pujiannya kepada Allah. Oleh karena itulah Yusuf berkata, “Dan sesungguhnya Rabku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kalian dari dusun padang pasir.” (QS Yusuf: 100).
وَمِنۡهَا: أَنَّهُ يَنبَغِي لِلۡعَبۡدِ أَنۡ يَتَضَرَّعَ إِلَى اللهِ دَائِمًا فِي تَثۡبِيتِ إِيمَانِهِ وَيَعۡمَلَ الۡأَسۡبَابَ لِذٰلِكَ، وَيَسۡأَلَ اللهَ حُسۡنَ الۡخَاتِمَةِ وَتَمَامَ النِّعۡمَةِ، وَيَتَوَسَّلَ بِنِعَمِهِ الۡحَاصِلَةِ إِلَى رَبِّهِ أَنۡ يُتِمَّهَا عَلَيۡهِ وَيُحۡسِنَ لَهُ الۡعَاقِبَةَ، كَمَا قَالَ يُوسُفُ ﷺ: ﴿رَبِّ قَدۡ ءَاتَيۡتَنِى مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِى مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسۡلِمًا وَأَلۡحِقۡنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ﴾ [يوسف: ١٠١]، وَلَيۡسَ هٰذَا مِنۡ يُوسُفَ تَمَنِّيًا لِلۡمَوۡتِ كَمَا ظَنَّهُ بَعۡضُهُمۡ، بَلۡ هُوَ دُعَاءٌ لِلهِ أَنۡ يُحۡسِنَ خَاتِمَتَهُ وَيَتَوَفَّاهُ عَلَى الۡإِسۡلَامِ، كَمَا يَسۡأَلُ الۡعَبۡدُ رَبَّهُ ذٰلِكَ كُلَّ وَقۡتٍ.
Di antara faedahnya: Sepatutnya bagi seorang hamba untuk selalu memohon kepada Allah dalam mengokohkan imannya dan melakukan ikhtiar untuk itu, serta memohon kepada Allah husnulkhatimah (akhir hidup yang baik) dan kesempurnaan nikmat, juga bertawasul dengan nikmat-nikmat yang telah diperoleh kepada Rabnya agar Dia menyempurnakannya dan memperbaiki kesudahan baginya; sebagaimana doa Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—, “Ya Rabku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi. (Ya Rab) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS Yusuf: 101).
Doa dari Yusuf ini bukanlah bentuk harapan ingin mati sebagaimana dikira oleh sebagian orang, melainkan doa kepada Allah agar memperbaiki akhir hidupnya dan mematikannya dalam keadaan Islam, sebagaimana seorang hamba senantiasa memohon hal itu kepada Rabnya setiap saat.
وَمِنۡهَا: مَا مَنَّ اللهُ بِهِ عَلَى يُوسُفَ مِنۡ حُسۡنِ عَفۡوِهِ عَنۡ إِخۡوَتِهِ وَأَنَّهُ عَفَا عَمَّا مَضَى، وَوَعَدَ فِي الۡمُسۡتَقۡبَلِ أَلَّا يُثَرِّبَ عَلَيۡهِمۡ، وَلَا يَذۡكُرَ مِنۡهُ شَيۡئًا؛ لِأَنَّهُ يَجۡرَحُهُمۡ وَيَحۡزُنُهُمۡ، وَقَدۡ أَبۡدَوُا النَّدَامَةَ التَّامَّةَ، وَلِأَجۡلِ هٰذَا قَالَ: ﴿مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِى وَبَيۡنَ إِخۡوَتِىٓ﴾ [يوسف: ١٠٠] وَلَمۡ يَقُلۡ مِنۡ بَعۡدِ أَنۡ نَزَغَهُمۡ، بَلۡ أَضَافَ الۡفِعۡلَ إِلَى الشَّيۡطَانِ الَّذِي فَرَّقَ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ إِخۡوَتِهِ، وَهٰذَا مِنۡ كَمَالِ الۡفُتُوَّةِ وَتَمَامِ الۡمُرُوءَةِ.
Di antara faedahnya: Karunia yang Allah berikan kepada Yusuf berupa indahnya pemaafannya kepada saudara-saudaranya dan bahwasanya beliau memaafkan apa yang telah lalu, serta berjanji di masa depan untuk tidak mencela mereka dan tidak menyebut-nyebut hal itu sedikit pun karena hal itu dapat melukai dan menyedihkan mereka, terlebih mereka telah menunjukkan penyesalan yang mendalam. Oleh karena inilah beliau berkata, “setelah setan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku” (QS Yusuf: 100) dan tidak mengatakan “setelah setan menggoda mereka”. Beliau justru menyandarkan perbuatan tersebut kepada setan yang memecah belah antara beliau dan saudara-saudaranya; dan ini merupakan bagian dari kesempurnaan keluhuran jiwa dan kedermawanan akhlak.
وَمِنۡهَا: مَا فِي هٰذِهِ الۡقِصَّةِ الۡعَظِيمَةِ مِنَ الۡبَرَاهِينِ عَلَى رِسَالَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ؛ حَيۡثُ قَصَّهَا عَلَى الۡوَجۡهِ الۡمُطَابِقِ، وَهُوَ لَمۡ يَقۡرَأۡ مِنَ الۡكُتُبِ السَّابِقَةِ شَيۡئًا وَلَا جَالَسَ مَنۡ لَهُ مَعۡرِفَةٌ بِهَا وَلَا تَعَلَّمَ مِنۡ أَحَدٍ، إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٌ أَوۡحَاهُ اللهُ إِلَيۡهِ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهَآ إِلَيۡكَ ۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَٰذَا﴾، كَمَا ذَكَرَ اللهُ هٰذَا الۡمَعۡنَى فِي قِصَّةِ مُوسَى وَغَيۡرِهِ مِنَ الۡأَنبِيَاءِ، لِأَنَّ الۡغُيُوبَ نَوۡعَانِ: أُمُورٌ سَابِقَةٌ قَدِ انۡدَرَسَ عِلۡمُهَا، نَبَّأَهُ اللهُ بِهَا، وَأُمُورٌ مُسۡتَقۡبَلَةٌ قَدۡ نَبَّأَهُ اللهُ بِهَا قَبۡلَ أَنۡ تَقَعَ فَوَقَعَتۡ، وَلَا تَزَالُ تَقَعُ شَيۡئًا بَعۡدَ شَيۡءٍ مُطَابِقَةً لِمَا أَخۡبَرَ بِهِ ﷺ فِي كِتَابِ اللهِ وَفِي سُنَّةِ رَسُولِهِ، وَكُلُّهَا بَرَاهِينُ عَلَى رِسَالَتِهِ.
Di antara faedahnya: Kandungan kisah agung ini berupa bukti-bukti atas kerasulan Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—; di mana beliau menceritakannya secara tepat dan sesuai dengan kenyataan, padahal beliau tidak pernah membaca buku-buku terdahulu sedikit pun, tidak pernah duduk bersama orang yang memahaminya, dan tidak belajar dari seorang pun. Cerita ini tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya. Oleh karena itu Allah berfirman, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.”; sebagaimana Allah menyebutkan makna ini pula pada kisah Musa dan nabi-nabi lainnya. Hal itu karena perkara gaib itu ada dua jenis: perkara-perkara masa lalu yang ilmunya telah terhapus lalu Allah beritahukan kepadanya, serta perkara-perkara masa depan yang Allah beritahukan sebelum terjadi lalu benar-benar terjadi, dan senantiasa terjadi satu demi satu secara tepat sesuai dengan apa yang beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kabarkan dalam Al-Qur’an dan Sunah Rasul-Nya; dan semua itu merupakan bukti-bukti atas kerasulannya.
![]()
Be the first to leave a comment