الۡفَصۡلُ الۡعَاشِرُ
Bab Kesepuluh
قَوۡلُهُ تَعَالَى عَنۡ يَعۡقُوبَ فِي أَوَّلِ مَا صَنَعَ أَبۡنَاؤُهُ بِأَخِيهِمۡ يُوسُفَ: ﴿بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرًا ۖ فَصَبۡرٌ جَمِيلٌ ۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ﴾ [يوسف: ١٨]، وَقَوۡلُهُ: عِنۡدَمَا اشۡتَدَّ بِهِ الۡأَمۡرُ حِيۡنَ احۡتُبِسَ الِابۡنُ الۡآخَرُ: ﴿بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرًا ۖ فَصَبۡرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَنِى بِهِمۡ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ﴾ [يوسف: ٨٣]، فِي هٰذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ أَصۡفِيَاءَ اللهِ إِذَا نَزَلَتۡ بِهِمُ الكَوَارِثُ وَالمُصِيبَاتُ قَابَلُوهَا فِي أَوَّلِ الۡأَمۡرِ بِالصَّبۡرِ وَالِاسۡتِعَانَةِ بِالمَوۡلَى، وَعِنۡدَمَا يَنۡتَهِي وَتَبۡلُغُ الشِّدَّةُ مُنۡتَهَاهَا يُقَابِلُونَهَا بِالصَّبۡرِ وَالطَّمَعِ فِي الفَرِجِ وَالرَّجَاءِ، فَيُوَفِّقُهُمُ اللهُ لِلۡقِيَامِ بِعِبَادَتِهِ فِي الحَالَتَيۡنِ، ثُمَّ إِذَا كَشَفَ عَنۡهُمُ البَلَاءَ قَابَلُوۡا ذٰلِكَ بِالشُّكۡرِ وَالثَّنَاءِ عَلَى اللهِ وَزِيَادَةِ المَعۡرِفَةِ بِلُطۡفِهِ، لِقَوۡلِ يُوۡسُفَ: ﴿يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأۡوِيلُ رُءۡيَٰىَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّى حَقًّا ۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِىٓ إِذۡ أَخۡرَجَنِى مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِى وَبَيۡنَ إِخۡوَتِىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى لَطِيفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ﴾ [يوسف: ١٠٠].
Firman Allah taala mengenai Yakub ketika awal perbuatan anak-anaknya terhadap saudara mereka, Yusuf: “Sebenarnya nafsu kalian sendiri yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar dengan sabar yang baik itulah yang terbaik bagiku. Dan Allah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.” (QS Yusuf: 18). Serta firman-Nya ketika urusan terasa semakin berat baginya saat anak yang lain ditahan: “Sebenarnya nafsu kalian sendiri yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar dengan sabar yang baik itulah yang terbaik bagiku. Mudah-mudahan Allah mengembalikan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf: 83).
Pada hal ini terdapat bukti bahwa hamba-hamba pilihan Allah, apabila bencana dan musibah menimpa mereka, pada awal mulanya mereka menghadapinya dengan kesabaran dan memohon pertolongan kepada Rabnya. Ketika cobaan itu berlanjut hingga puncaknya, mereka menghadapinya dengan kesabaran serta harapan besar akan datangnya kelapangan, sehingga Allah memberi mereka taufik untuk menjalankan penghambaan kepada-Nya dalam kedua kondisi tersebut. Kemudian, ketika Allah mengangkat cobaan dari mereka, mereka menyambutnya dengan rasa syukur, pujian kepada Allah, dan bertambahnya pengakuan akan kelembutan-Nya. Hal ini sebagaimana ucapan Yusuf: “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Rabku telah menjadikannya kenyataan. Dan sungguh, Rabku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kalian dari dusun padang pasir, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh, Rabku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf: 100).
وَمِنۡهَا: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأۡخُذَ إِلَّا مَن وَجَدۡنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ إِنَّآ إِذًا لَّظَٰلِمُونَ﴾ [يوسف: ٧٩]، يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزۡرَ أُخۡرَى، وَيُؤۡخَذُ مِنۡهُ مَسۡأَلَةٌ دَقِيقَةٌ وَهُوَ أَنَّ الۡإِحۡسَانَ إِنَّمَا يَكُونُ إِحۡسَانًا إِذَا لَمۡ يَتَضَمَّنۡ فِعۡلَ مُحَرَّمٍ أَوۡ تَرۡكَ وَاجِبٍ، فَإِنَّهُمۡ طَلَبُوا مِنۡ يُوسُفَ أَنۡ يُحۡسِنَ إِلَيۡهِمۡ بِتَرۡكِ هٰذَا الۡأَخِ أَنۡ يَذۡهَبَ إِلَى أَبِيهِ وَيَأۡخُذَ أَحَدَهُمۡ بَدَلَهُ فَامۡتَنَعَ، وَقَالَ: ﴿مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأۡخُذَ إِلَّا مَن وَجَدۡنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ إِنَّآ إِذًا لَّظَٰلِمُونَ﴾، فَالۡإِحۡسَانُ إِذَا تَضَمَّنَ تَرۡكَ العَدۡلِ كَانَ ظُلۡمًا، وَلِهٰذَا كَانَ تَخۡصِيصُ بَعۡضِ الۡأَوۡلَادِ عَلَى بَعۡضٍ، وَبَعۡضِ الزَّوۡجَاتِ عَلَى بَعۡضٍ وَإِنۡ كَانَ إِحۡسَانًا إِلَى المُخَصَّصِ وَالمُفَضَّلِ لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ تَرۡكٌ لِلۡعَدۡلِ، وَكَذٰلِكَ مَا أَشۡبَهَ ذٰلِكَ، وَاللهُ أَعۡلَمُ.
Di antara faedahnya: Firman Allah taala: “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan seseorang, kecuali orang yang kami temukan barang kami padanya. Jika kami berbuat demikian, sungguh kami termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Yusuf: 79), menunjukkan bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.
Dari ayat ini juga dapat diambil kaidah yang sangat halus, yaitu bahwa suatu kebaikan (ihsan) baru dinamakan kebaikan apabila tidak mengandung perbuatan haram atau meninggalkan kewajiban. Sebab, saudara-saudara Yusuf meminta beliau untuk berbuat baik kepada mereka dengan melepaskan adik mereka agar bisa kembali kepada ayahnya dan mengambil salah seorang dari mereka sebagai gantinya, namun beliau menolak dan berkata, “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari menahan seseorang, kecuali orang yang kami temukan barang kami padanya. Jika kami berbuat demikian, sungguh kami termasuk orang-orang yang zalim.”
Jadi, jika kebaikan tersebut mengandung perbuatan meninggalkan keadilan, maka hal itu berubah menjadi kezaliman. Oleh karena itu, mengistimewakan sebagian anak di atas sebagian yang lain, atau sebagian istri di atas sebagian yang lain—meskipun hal itu merupakan kebaikan bagi anak atau istri yang diistimewakan tersebut—hukumnya tidak boleh; karena hal itu berarti meninggalkan keadilan. Demikian pula hal-hal lain yang serupa dengan ini. Wallahualam.
وَمِنۡهَا: أَنَّ آيَاتِ اللهِ إِنَّمَا يَنۡتَفِعُ بِهَا السَّائِلُ الۡمُسۡتَهۡدِي الَّذِي قَصۡدُهُ مَعۡرِفَةُ الۡحَقِّ وَاتِّبَاعُهُ، لِقَوۡلِهِ: ﴿لَّقَدۡ كَانَ فِى يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٌ لِّلسَّآئِلِينَ﴾ [يوسف: ٧]، أَمَّا الۡغَافِلُونَ الۡمُعۡرِضُونَ أَوِ الۡمُعَارِضُونَ الۡمُعَانِدُونَ، فَإِنَّهُ يَصۡدُقُ عَلَيۡهِمۡ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ حَقَّتۡ عَلَيۡهِمۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ ٩٦ وَلَوۡ جَآءَتۡهُمۡ كُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُا۟ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ﴾ [يونس: ٩٦، ٩٧].
Di antara faedahnya: Tanda-tanda kebesaran Allah hanya akan bermanfaat bagi penanya yang mencari petunjuk, yaitu orang yang tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Hal ini berdasarkan firman-Nya: “Sungguh, pada kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang bertanya.” (QS Yusuf: 7).
Adapun orang-orang yang lalai dan berpaling, atau orang-orang yang menentang dan membangkang, maka berlakulah atas mereka firman Allah taala: “Sungguh, orang-orang telah dipastikan terkena hukuman Rabmu tidak akan beriman, meskipun datang kepada mereka semua jenis tanda kekuasaan Allah, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (QS Yunus: 96-97).
فَالنَّظَرُ فِي آيَاتِ اللهِ المَتۡلُوَّةِ وَآيَاتِ اللهِ الكَوۡنِيَّةِ يَنۡتَفِعُ مَنۡ قَصۡدُهُ الحَقُّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿يَهۡدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ﴾ [المائدة: ١٦]، وَكَمۡ فِي القُرۡآنِ تَقۡيِيدُ الِانۡتِفَاعِ بِهٰذَا القَيۡدِ كَقَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةً لِّلۡمُؤۡمِنِينَ﴾ [الحجر: ٧٧]، ﴿ءَايَٰتٌ لِّلۡمُوقِنِينَ﴾ [الذاريات: ٢٠]، ﴿لَـَٔايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلۡأَلۡبَٰبِ﴾ [آل عمران: ١٩٠]، ﴿لِّأُو۟لِى ٱلۡأَبۡصَٰرِ﴾ [آل عمران: ١٣].
Jadi, merenungkan ayat-ayat Allah yang dibaca (Al-Qur’an) maupun ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta hanya akan memberi manfaat bagi orang yang berniat mencari kebenaran. Sebagaimana firman Allah taala: “Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan.” (QS Al-Maidah: 16).
Betapa banyak di dalam Al-Qur’an pembatasan penerimaan manfaat dengan syarat ini, seperti firman-Nya:
- “Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Hijr: 77).
- “Tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS Az-Zariyat: 20).
- “Benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 190).
- “Bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS Ali Imran: 13).
وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡمُشَاوَرَةَ نَافِعَةٌ فِي كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّى فِي تَخۡفِيفِ الشَّرِّ، لِهٰذَا تَشَاوَرَ إِخۡوَةُ يُوسُفَ مَا يَعۡمَلُونَ بِهِ مِنۡ قَتۡلٍ أَوۡ طَرۡحٍ فِي الۡأَرۡضِ قَرَّ رَأۡيُهُمۡ عَلَى رَأۡيِ مَنۡ أَشَارَ عَلَيۡهِمۡ بِإِلۡقَائِهِ فِي الجُبِّ لِيَلۡتَقِطَهُ بَعۡضُ السَّيَّارَةِ، فَفِيهِ شَاهِدٌ لِلۡقَاعِدَةِ الۡمَشۡهُورَةِ ارۡتِكَابُ أَخَفِّ الۡمَفۡسَدَتَيۡنِ أَوۡلَى مِنۡ أَغۡلَظِهِمَا.
Di antara faedahnya: Musyawarah itu bermanfaat dalam segala hal, bahkan dalam meringankan keburukan sekalipun. Oleh sebab itu, saudara-saudara Yusuf bermusyawarah tentang apa yang akan mereka lakukan terhadapnya, apakah dengan membunuhnya atau membuangnya ke tempat yang jauh. Lalu keputusan mereka jatuh pada pendapat saudara yang menasihati mereka untuk melemparkannya ke dalam sumur agar dipungut oleh sebagian musafir. Maka pada peristiwa ini terdapat bukti bagi kaidah yang masyhur: Menempuh yang paling ringan dari dua mafsadah adalah lebih utama daripada menempuh yang lebih berat.
وَلَمَّا قَرَّ الۡقَرَارُ عَلَى أَخۡذِ مَنۡ وَجَدَ الصُّوَاعَ فِي رَحۡلِهِ، وَعَالِجُوا يُوسُفَ عَلَى أَخۡذِ بَدَلِهِ لِأَجۡلِ مَا يَعۡلَمُونَ مِنۡ مَشَقَّةِ أَبِيهِمۡ فَامۡتَنَعَ، خَلَصُوا نَجِيًّا يَتَشَاوَرُونَ، فَقَرَّ رَأۡيُهُمۡ عَلَى رَأۡيِ كَبِيرِهِمۡ أَنۡ يَبۡقَى هُوَ فِي مِصۡرَ يُلَاحِظُ مَسۡأَلَةَ أَخِيهِ، وَهُمۡ يَذۡهَبُونَ وَيُخۡبِرُونَ أَهۡلَهُمۡ وَيُخۡبِرُونَ أَبَاهُمۡ بِالقَضِيَّةِ وَتَفۡصِيلِهَا، وَلَا شَكَّ أَنَّ بَقَاءَهُ فِي مِصۡرَ أَهۡوَنُ عَلَى يَعۡقُوبَ وَأَرۡجَى لِتَحۡصِيلِ الۡمَطۡلُوۡبِ، وَفِيهِ نَوۡعُ مُوَاسَاةٍ مِنۡهُ بِأَخَوَيۡهِ يُوسُفَ وَبِنۡيَامِينَ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَنِى بِهِمۡ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ﴾ [يوسف: ٨٣].
Dan ketika keputusan telah ditetapkan untuk menahan siapa yang ditemukan piala raja di dalam karungnya, dan mereka berusaha membujuk Yusuf untuk mengambil saudara lain sebagai gantinya karena mereka mengetahui betapa berat penderitaan ayah mereka namun Yusuf menolak, mereka memencil sambil berbisik-bisik untuk bermusyawarah. Keputusan mereka pun akhirnya jatuh pada pendapat saudara yang paling tua di antara mereka, yaitu ia akan tetap tinggal di Mesir untuk mengawasi urusan adiknya, sementara mereka pulang untuk memberi tahu keluarga dan mengabarkan kejadian tersebut dan rinciannya kepada ayah mereka. Serta tidak diragukan lagi bahwa menetapnya kakak tertua di Mesir lebih ringan dirasakan oleh Yakub dan lebih memberikan harapan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Di samping itu, perbuatannya tersebut merupakan bentuk empati darinya kepada kedua saudaranya, yaitu Yusuf dan Bunyamin. Oleh karena itu, Yakub berkata, “Mudah-mudahan Allah mengembalikan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf: 83).
![]()
Be the first to leave a comment