Petikan Faedah Indah dari Kisah Nabi Yusuf yang Penuh Ibrah

ismail  

الۡفَصۡلُ الثَّانِي عَشَرَ

Bab Kedua Belas

لَمَّا قَصَّ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡنَا هٰذِهِ الۡقِصَّةَ الۡعَجِيبَةَ بِتَفَاصِيلِهَا قَالَ فِي آخِرِهَا: ﴿مَا كَانَ حَدِيثًا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِى بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَىۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ﴾ [يوسف: ١١١] فَنَفَى عَنۡ هٰذَا الۡقُرۡآنِ الۡكَذِبَ وَالۡخَطَأَ مِنۡ جَمِيعِ الۡوُجُوهِ، وَوَصَفَهُ بِثَلَاثِ صِفَاتٍ؛ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنۡهَا فِيهَا أَكۡبَرُ بُرۡهَانٍ عَلَى أَنَّهُ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ، وَأَنَّهُ الۡحَقُّ الَّذِي لَا رَيۡبَ فِيهِ.

Ketika Allah taala mengisahkan kisah yang menakjubkan ini beserta rinciannya kepada kita, Dia berfirman pada bagian akhirnya, “Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yusuf: 111).

Allah meniadakan kedustaan dan kesalahan dari Al-Qur’an ini dari segala sisi. Dia sifatkan Al-Qur’an dengan tiga sifat, yang mana setiap sifatnya memuat bukti terbesar bahwa Al-Qur’an berasal dari sisi Allah dan merupakan kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

الصِّفَةُ الۡأُولَىٰ: أَنَّهُ تَصۡدِيقُ الَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ، أَيۡ: مِنَ الۡكُتُبِ الۡمُنَزَّلَةِ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنۡ كَلَامِ الرُّسُلِ الۡمَعۡصُومِينَ الَّذِينَ أَوۡحَى اللهُ إِلَيۡهِمۡ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿بَلۡ جَآءَ بِٱلۡحَقِّ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ﴾ [الصافات: ٣٧].

Sifat pertama: Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan dari langit dan perkataan para rasul yang maksum yang diberi wahyu oleh Allah; sebagaimana firman Allah taala: “Bahkan dia (Muhammad) datang membawa kebenaran dan membenarkan para rasul (sebelumnya).” (QS As-Saffat: 37).

فَهٰذَا الۡقُرۡآنُ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ ﷺ جَاءَ بِالۡحَقِّ؛ وَهُوَ الصِّدۡقُ فِي إِخۡبَارِهِ عَنِ اللهِ وَعَنۡ مَلَائِكَتِهِ وَعَنِ الۡيَوۡمِ الۡآخِرِ وَعَنۡ جَمِيعِ الۡغُيُوبِ السَّابِقَةِ وَاللَّاحِقَةِ، وَالۡعَدۡلُ فِي أَحۡكَامِهِ فَلَا يَأۡمُرُ إِلَّا بِخَيۡرٍ وَلَا يَنۡهَىٰ إِلَّا عَنِ الشَّرِّ؛ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقًا وَعَدۡلًا﴾ [الأنعام: ١١٥]، صِدۡقًا فِي أَخۡبَارِهَا، عَدۡلًا فِي أَحۡكَامِهَا وَأَوَامِرِهَا وَنَوَاهِيهَا.

Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ini datang membawa kebenaran; yaitu kejujuran dalam beritanya tentang Allah, para malaikat-Nya, hari akhir, serta seluruh hal gaib di masa lalu maupun mendatang. Al-Qur’an juga adil dalam hukum-hukumnya, tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan tidak melarang kecuali keburukan; sebagaimana firman Allah taala: “Dan telah sempurna firman Rabmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil.” (QS Al-An’am: 115), yaitu benar dalam berita-beritanya serta adil dalam hukum, perintah, dan larangannya.

وَأَيۡضًا فَإِنَّ هٰذَا الۡقُرۡآنَ صَدَّقَ جَمِيعَ مَا جَاءَتۡ بِهِ الرُّسُلُ وَهَيۡمَنَ عَلَيۡهَا، وَاتَّفَقَ مِنۡهَا عَلَى الۡأُصُولِ الۡعَظِيمَةِ وَالشَّرَائِعِ الۡكِبَارِ الۡعَامَّةِ الشَّامِلَةِ، وَأَيۡضًا، فَإِنَّ الرُّسُلَ أَخۡبَرُوا وَبَشَّرُوا بِمُحَمَّدٍ ﷺ وَبِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ ﷺ، فَصَدَقَ مُخۡبِرُهَا وَحَقَّتۡ بِشَارَتُهَا.

Selain itu, Al-Qur’an ini membenarkan seluruh apa yang dibawa oleh para rasul dan menjadi tolok ukur atasnya, serta selaras dalam pokok-pokok ajaran yang agung dan syariat-syariat besar yang umum lagi menyeluruh. Para rasul juga telah mengabarkan dan memberi kabar gembira tentang Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—beserta apa yang dibawanya, maka terbuktilah kebenaran berita tersebut dan terwujudlah kabar gembiranya.

الصِّفَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُ تَفۡصِيلٌ لِكُلِّ شَيۡءٍ؛ وَهٰذَا شَامِلٌ لِجَمِيعِ مَا يَحۡتَاجُهُ الۡخَلۡقُ فِي عَقَائِدِهِمۡ وَأَخۡلَاقِهِمۡ وَأَعۡمَالِهِمُ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، وَفِي دِينِهِمۡ وَدُنۡيَاهُمۡ، فَقَدۡ شَرَحَ اللهُ بِهِ وَفَصَّلَ التَّوۡحِيدَ وَالرِّسَالَةَ وَالۡجَزَاءَ، وَجَمِيعَ الۡعَقَائِدِ الصَّادِقَةِ الصَّحِيحَةِ شَرۡحًا وَتَفۡصِيلًا عَظِيمًا لَا يُسَاوِيهِ فِي ذٰلِكَ أَيُّ كِتَابٍ كَانَ، وَفَصَّلَ فِيهِ الۡحَثَّ عَلَىٰ حَقَائِقِ الۡإِيمَانِ وَعَلَى التَّخَلُّقِ بِالۡأَخۡلَاقِ الۡجَمِيلَةِ وَالتَّنَزُّهِ مِنَ الۡأَخۡلَاقِ الرَّذِيلَةِ، وَبَيَّنَ الطُُّرُقَ وَالۡأَسۡبَابَ الَّتِي يُحۡصَلُ حُسۡنُهَا وَالَّتِي يُدۡفَعُ بِهِ سَيِّئُهَا، كَمَا فَصَّلَ الشَّرَائِعَ الظَّاهِرَةَ وَالۡأَعۡمَالَ الصَّالِحَةَ وَالۡحَلَالَ وَالۡحَرَامَ وَالۡخَيۡرَ وَالشَّرَّ، وَفَصَّلَ فِيهِ جَمِيعَ الۡمَقَاصِدِ وَالۡغَايَاتِ النَّافِعَةِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنۡيَوِيَّةِ، وَفَصَّلَ مَا يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَيۡهَا، وَفَصَّلَ فِيهِ الۡبَرَاهِينَ الۡعَقۡلِيَّةَ، كَمَا فَصَّلَ فِيهِ الۡبَرَاهِينَ السَّمۡعِيَّةَ.

Sifat kedua: Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu. Hal ini mencakup seluruh kebutuhan makhluk dalam akidah, akhlak, amalan lahir maupun batin, serta urusan agama dan dunia mereka. Allah telah menerangkan dan merincikan tauhid, kerasulan, balasan amal, serta seluruh akidah yang benar dengan penjelasan yang sangat agung yang tidak dapat ditandingi oleh kitab apa pun. Di dalamnya, Allah merincikan dorongan terhadap hakikat-hakikat iman, pembentukan akhlak yang mulia, dan menjauhkan diri dari akhlak yang tercela. Allah juga menjelaskan jalan serta sebab-sebab untuk meraih kebaikan dan menolak keburukan, sebagaimana Dia merincikan syariat-syariat lahiriah, amal-amal saleh, halal dan haram, kebaikan dan keburukan. Dia merincikan seluruh maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi agama dan dunia beserta cara untuk mencapainya, serta merincikan dalil-dalil akal sebagaimana Dia merincikan dalil-dalil wahyu.

الصِّفَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّهُ ﴿هُدًى وَرَحۡمَةً لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ﴾ [الأعراف: ٥٢]، ﴿يَهۡدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ﴾ [المائدة: ١٦]، ﴿إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِى لِلَّتِى هِىَ أَقۡوَمُ﴾ [الإسراء: ٩]، أَيۡ: لِكُلِّ حَالَةٍ قَوِيمَةٍ وَطَرِيقَةٍ مُسۡتَقِيمَةٍ، يَهۡدِي لِأَحۡسَنِ الۡأَعۡمَالِ وَالۡأَخۡلَاقِ، وَيَهۡدِي لِمَصَالِحِ الدِّينِ كُلِّهَا وَمَنَافِعِ الدُّنۡيَا الَّتِي بِهَا يَقُومُ الدِّينُ وَتَتِمُّ السَّعَادَةُ.

Sifat ketiga: Al-Qur’an “sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A’raf: 52), “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan,” (QS Al-Maidah: 16), “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus,” (QS Al-Isra: 9); yaitu kepada setiap keadaan yang lurus dan jalan yang tegak. Al-Qur’an menuntun kepada amalan dan akhlak yang paling baik, serta menuntun kepada seluruh kemaslahatan agama dan manfaat dunia yang menjadi penopang tegaknya agama dan kesempurnaan kebahagiaan.

وَالۡفَرۡقُ بَيۡنَ الۡهُدَىٰ وَالرَّحۡمَةِ: أَنَّ الۡهُدَىٰ هُوَ الۡوَسَائِلُ وَالطُُّرُقُ الۡمُوَصِّلَةُ إِلَىٰ خَيۡرَاتِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَالرَّحۡمَةَ هِيَ نَفۡسُ الۡخَيۡرَاتِ وَالثَّوَابِ الۡعَاجِلِ وَالۡآجِلِ، فَسَعَادَةُ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ مُتَوَقِّفَةٌ عَلَى اتِّبَاعِ هٰذَا الۡقُرۡآنِ عِلۡمًا وَعَمَلًا، وَخَصَّ اللهُ الۡمُؤۡمِنِينَ بِالۡهُدَىٰ وَالرَّحۡمَةِ؛ لِأَنَّهُمۡ هُمُ الۡمُنۡتَفِعُونَ عَلَى الۡحَقِيقَةِ، وَبِإِيمَانِهِمُ اهۡتَدَوۡا وَزَادَهُمُ اللهُ هُدًى وَرَحۡمَةً.

Perbedaan antara petunjuk (al-huda) dan rahmat (ar-rahmah): Petunjuk adalah sarana dan jalan yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan rahmat adalah kebaikan itu sendiri serta balasan pahala yang disegerakan (di dunia) maupun ditangguhkan (di akhirat). Kebahagiaan dunia dan akhirat bergantung pada sikap mengikuti Al-Qur’an ini secara ilmu dan amal. Allah mengkhususkan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman karena merekalah yang mengambil manfaat secara hakiki; dengan keimanan mereka, mereka mendapat petunjuk, dan Allah menambah petunjuk serta rahmat kepada mereka.

فَهٰذَا الۡقُرۡآنُ بَصَائِرُ لِلنَّاسِ كُلِّهِمۡ بَصَّرَهُمۡ جَمِيعَ مَا يَحۡتَاجُونَ إِلَيۡهِ؛ فَلَمۡ يَبۡقَ خَيۡرٌ إِلَّا دَلَّهُمۡ عَلَيۡهِ وَلَا شَرٌّ إِلَّا حَذَّرَهُمۡ مِنۡهُ، فَقَامَتۡ بِهِ الۡحُجَّةُ عَلَىٰ كُلِّ أَحَدٍ، وَلٰكِنَّهُ هُدًى وَرَحۡمَةٌ لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ.

Jadi, Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti nyata bagi seluruh manusia yang memberikan wawasan atas segala hal yang mereka butuhkan. Tidak ada satu kebaikan pun melainkan Al-Qur’an telah menunjukkannya, dan tidak ada satu keburukan pun melainkan Al-Qur’an telah memperingatkannya. Maka hujah telah tegak atas setiap orang, akan tetapi Al-Qur’an tetap menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

اللَّهُمَّ تَفَضَّلۡ عَلَيۡنَا بِالۡإِيمَانِ الصَّادِقِ، وَاجۡعَلۡ هٰذَا الۡقُرۡآنَ لَنَا هُدًى وَرَحۡمَةً، إِنَّكَ أَنۡتَ الۡقَرِيبُ الۡمُجِيبُ، وَصَلَّى اللهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keimanan yang jujur, dan jadikanlah Al-Qur’an ini sebagai petunjuk dan rahmat bagi kami. Sesungguhnya Engkau Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad.

قَالَ ذٰلِكَ وَكَتَبَهُ الۡعَبۡدُ الۡفَقِيرُ إِلَى اللهِ: عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ نَاصِرِ بۡنِ سَعۡدِيٍّ، غَفَرَ اللهُ لَهُ وَلِوَالِدَيۡهِ وَلِجَمِيعِ الۡمُسۡلِمِينَ، آمِينَ.

Hal ini diucapkan dan ditulis oleh hamba yang butuh kepada Allah: ‘Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di, semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum muslimin. Amin.

وَافَقَ الۡفَرَاغُ مِنۡهُ فِي صَفَرٍ سَنَةَ ١٣٧٥ هـ.

Penyelesaian penulisan ini bertepatan pada bulan Safar tahun 1375 H.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *