Petikan Faedah Indah dari Kisah Nabi Yusuf yang Penuh Ibrah

ismail  

الۡفَصۡلُ الثَّانِي

Bab Kedua

وَأَمَّا رُؤۡيَا الۡمَلِكِ، فَإِنَّهُ رَأَى سَبۡعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأۡكُلُهُنَّ سَبۡعُ بَقَرَاتٍ عِجَافٌ، وَسَبۡعَ سُنۡبُلَاتٍ خُضۡرٍ يَأۡكُلُهُنَّ وَيَسۡتَوۡلِي عَلَيۡهِنَّ سَبۡعُ سُنۡبُلَاتٍ يَابِسَاتٍ ضَعِيفَاتٍ، فَهَالَتۡهُ وَجَمَعَ لَهَا كُلَّ مَنۡ يُظَنُّ فِيهِ الۡمَعۡرِفَةُ، فَلَمۡ يَكُنۡ عِنۡدَ أَحَدٍ مِنۡهُمۡ عِلۡمٌ بِتَعۡبِيرِهَا، وَقَالُوا: ﴿أَضۡغَٰثُ أَحۡلَٰمٍ ۖ وَمَا نَحۡنُ بِتَأۡوِيلِ ٱلۡأَحۡلَٰمِ بِعَٰلِمِينَ﴾ [يوسف: ٤٤].

Adapun mimpi Raja, sesungguhnya ia melihat tujuh ekor lembu betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu betina yang kurus-kurus, serta tujuh bulir (gandum) yang hijau yang dimakan dan dikuasai oleh tujuh bulir yang kering lagi lemah. Mimpi ini mencemaskannya, sehingga ia mengumpulkan seluruh orang yang dianggap memiliki pengetahuan. Namun tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki ilmu untuk menakwilkannya, dan mereka berkata, “ (Ini) adalah mimpi-mimpi yang kosong, dan kami sekali-kali tidak tahu takwil mimpi itu.” (QS Yusuf: 44).

وَبَعۡدَ هٰذَا تَفَطَّنَ الَّذِي خَرَجَ مِنَ السِّجۡنِ لِحَالَةِ يُوسُفَ، وَمَا هُوَ عَلَيۡهِ مِنَ الۡعِلۡمِ الۡعَظِيمِ وَالۡعِلۡمِ بِالتَّعۡبِيرِ، وَتَفَطَّنَ لِوَصِيَّتِهِ الَّتِي أَنۡسَاهُ الشَّيۡطَانُ ذِكۡرَ رَبِّهِ، لِحِكۡمَةٍ قَدۡ فَصَحَ أَمۡرُهَا، وَأَنَّهُ لَا يَخۡرُجُ مِنَ السِّجۡنِ إِلَّا بَعۡدَ اشۡتِهَارِهِ، وَتَمَيُّزِهِ الۡعَظِيمِ عَلَى النَّاسِ كُلِّهِمۡ بِتَعۡبِيرِ رُؤۡيَا الۡمَلِكِ. فَطَلَبَ هٰذَا الرَّجُلُ مِنَ الۡمَلِكِ أَنۡ يُرۡسِلَهُ إِلَى يُوسُفَ وَأَنَّهُ كَفِيلٌ بِمَعۡرِفَةِ تَفۡسِيرِهَا، فَلَمَّا جَاءَ يُوسُفَ قَالَ لَهُ: ﴿يُوسُفُ أَيُّهَا ٱلصِّدِّيقُ أَفۡتِنَا فِى سَبۡعِ بَقَرَٰتٍ سِمَانٍ يَأۡكُلُهُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَسَبۡعِ سُنۢبُلَٰتٍ خُضۡرٍ وَأُخَرَ يَابِسَٰتٍ﴾ [يوسف: ٤٦].

Setelah peristiwa tersebut, pemuda yang selamat dari penjara baru teringat akan keadaan Yusuf, ilmu agung yang dimilikinya, serta keahliannya dalam menakwilkan mimpi. Ia teringat akan pesan Yusuf yang sebelumnya dibuat lupa oleh setan untuk menyampaikannya kepada tuannya—sebuah penundaan karena hikmah Allah yang kini menjadi jelas perkaranya, yaitu bahwa Yusuf tidak keluar dari penjara melainkan setelah keunggulannya tersiar dan keistimewaannya yang agung di atas seluruh manusia tampak melalui takwil mimpi Raja. Maka pemuda tersebut meminta kepada Raja untuk mengutusnya kepada Yusuf dan berjanji akan membawakan tafsirannya. Ketika ia mendatangi Yusuf, ia berkata, “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor lembu betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor lembu betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering.” (QS Yusuf: 46).

فَإِنَّ الۡمَلِكَ وَالنَّاسَ مَعَهُ أَرۡسَلُونِي إِلَيۡكَ لِتَفۡسِيرِهَا لَهُمۡ، وَهُمۡ بِانۡتِظَارِ ذٰلِكَ مُتَشَوِّقِينَ إِلَيۡهِ غَايَةَ التَّشَوُّقِ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿لَّعَلِّىٓ أَرۡجِعُ إِلَى ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَعۡلَمُونَ﴾ [يوسف: ٤٦] مَا أَلۡهَمَ الۡمَلِكَ وَأَزۡعَجَهُ وَلَاعَهُ.

“Sesungguhnya Raja dan orang-orang bersamanya mengutusku kepadamu agar engkau menafsirkannya untuk mereka, dan mereka sedang menunggu hal itu dengan sangat antusias.” Oleh karena itulah ia berkata, “… agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” (QS Yusuf: 46) yakni mengetahui apa yang diilhamkan kepada Raja dan yang telah membuatnya gelisah serta cemas.

فَفِي الۡحَالِ فَسَّرَهَا يُوسُفُ ﷺ، وَزَادَهُمۡ مَعَ التَّفۡسِيرِ حُسۡنَ الۡعَمَلِ بِهَا وَحُسۡنَ التَّدۡبِيرِ؛ فَأَخۡبَرَهُمۡ أَنَّ الۡبَقَرَ السِّمَانَ وَالسَّنَابِلَ السَّبۡعَ الۡخُضۡرَاتِ هِيَ سُنُونُ رَخَاءٍ وَخِصۡبٍ مُتَوَالِيَاتٌ، تَتَقَدَّمُ عَلَى السِّنِينَ الۡمُجۡدِبَاتِ، وَأَنَّ الۡبَقَرَ الۡعِجَافَ وَالسَّنَابِلَ الۡيَابِسَاتِ سُنُونُ جَدۡبٍ تَلِيهَا، وَأَنَّ بَعۡدَ هٰذِهِ السِّنِينَ الۡمُجۡدِبَاتِ عَامًا فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعۡصِرُونَ، وَأَنَّهُ يَنۡبَغِي لَهُمۡ فِي السِّنِينَ الۡمُخۡصِبَاتِ أَنۡ يَنۡتَهِزُوا الۡفُرۡصَةَ وَيُعِدُّوا الۡعُدَّةَ لِلسِّنِينَ الشَّدِيدَاتِ فَيَزۡرَعُونَ زُرُوعًا هَائِلَةً أَزۡيَدَ بِكَثِيرٍ مِنَ الۡمُعۡتَادِ، وَلِهٰذَا: ﴿قَالَ تَزۡرَعُونَ سَبۡعَ سِنِينَ دَأَبًا﴾ [يوسف: ٤٧].

Seketika itu pula Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—menafsirkannya, bahkan tidak hanya memberikan penafsiran, beliau juga menambahinya dengan petunjuk tindakan yang baik dan pengelolaan yang tepat. Beliau memberitahukan kepada mereka bahwa lembu-lembu yang gemuk dan tujuh bulir hijau adalah tahun-tahun kesuburan dan kelapangan yang berturut-turut, yang mendahului tahun-tahun paceklik. Sedangkan lembu-lembu yang kurus dan bulir-bulir yang kering adalah tahun-tahun kemarau/paceklik yang menyusulnya. Dan bahwasanya setelah tahun-tahun paceklik tersebut akan datang satu tahun di mana manusia diberi hujan dan mereka memeras anggur. Beliau menasihatkan agar pada tahun-tahun subur mereka memanfaatkan kesempatan dan bersiap sedia menghadapi tahun-tahun yang berat, yaitu dengan bercocok tanam dalam jumlah yang sangat besar, jauh melebihi kebiasaan. Oleh karena itu: “Yusuf berkata: ‘Supaya kalian bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa.’” (QS Yusuf: 47).

وَمِنَ الۡمَعۡلُومِ أَنَّ جَمِيعَ السِّنِينَ يَزۡرَعُ النَّاسُ، لَكِنَّهُ أَرَادَ مِنۡهُمۡ أَنۡ يَزۡرَعُوا زُرُوعًا كَثِيرَةً، وَيَبۡذُلُوا قُوَاهُمۡ فِي كُلِّ مَا يَقۡدِرُونَ عَلَيۡهِ، وَأَنَّهُمۡ يَحۡتَاطُونَ فِي الۡغَلَّاتِ إِذَا حَصَلَتۡ بِالتَّحۡصِينِ وَالاقۡتِصَادِ فَقَالَ: ﴿فَمَا حَصَدتُّمۡ فَذَرُوهُ فِى سُنۢبُلِهِۦٓ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأۡكُلُونَ﴾ [يوسف: ٤٧]، أَيۡ: احۡفَظُوا الۡحَاصِلَاتِ مِنَ الزَّرۡعِ حِفۡظًا تَسۡلَمُ بِهِ مِنَ الۡفَسَادِ وَالسُّوسِ بِأَنۡ تَبۡقَى فِي سَنَابِلِهَا، وَيَقۡتَصِدُونَ فِي هٰذِهِ الۡمُدَّةِ مُدَّةِ الرَّخَاءِ فَلَا يُسۡرِفُوا فِي الۡإِنۡفَاقِ، بَلۡ يَأۡكُلُونَ الۡقَلِيلَ وَيَحۡفَظُونَ الۡكَثِيرَ. وَإِنَّ بَعۡدَ هٰذِهِ السِّنِينَ الۡمُخۡصِبَاتِ سَيَأۡتِي سَبۡعُ سِنِينَ مُجۡدِبَاتٌ شَدِيدَاتٌ تَشۡمَلُ الدِّيَارَ الۡمَصۡرِيَّةَ وَمَا حَوۡلَهَا، وَإِنَّهَا تَأۡكُلُ مَا قُدِّمَ لَهَا مِمَّا حُفِظَ فِي سِنِينِ الۡخِصۡبِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحۡصِنُونَ، وَوَجۡهُ الۡمُنَاسَبَةِ أَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ أَنَّ الرُّؤۡيَا تُعَبَّرُ بِحَالِ رَائِيَهَا وَالۡمُنَاسَبَاتِ الۡمُتَعَلِّقَةِ بِهَا؛ كَالرَّائِي لَهَا الۡمَلِكِ الَّذِي تَتَعَلَّقُ بِهِ أَرۡكَانُ الرَّعِيَّةِ وَأُمُورُهَا، وَلِهٰذَا كَانَتۡ رُؤۡيَاهُ لَيۡسَتۡ خَاصَّةً لَهُ بَلۡ تَشۡمَلُ النَّاسَ وَالرَّعِيَّةَ.

Sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa setiap tahun orang-orang memang bercocok tanam, namun Yusuf menginginkan agar mereka menanam tanaman yang sangat banyak dan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada. Beliau juga memerintahkan agar mereka berhati-hati dalam mengelola hasil panen melalui penyimpanan serta penghematan. Beliau berkata, “… maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS Yusuf: 47), maksudnya: peliharalah hasil tanaman itu dengan pemeliharaan yang membuatnya selamat dari kerusakan dan kutu/hama, yaitu dengan membiarkannya tetap berada pada bulirnya.

Mereka juga harus berhemat selama periode kelapangan tersebut dan tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi; hendaknya memakan sedikit saja dan menyimpan sisanya dalam jumlah besar. Dan sesungguhnya setelah tahun-tahun subur ini akan datang tujuh tahun paceklik yang sangat berat, melanda wilayah Mesir dan sekitarnya. Tahun-tahun paceklik tersebut akan menghabiskan apa yang telah disimpan pada masa subur, kecuali sedikit dari apa yang disisihkan. Sisi korelasinya—sebagaimana telah dijelaskan—adalah bahwa mimpi ditafsirkan sesuai dengan kondisi si pemimpi dan keterkaitan di dalamnya; seperti halnya pemimpi ini, yaitu Raja, yang urusannya berkaitan dengan hajat hidup rakyatnya, sehingga mimpinya tidak bersifat pribadi melainkan mencakup rakyat dan negerinya.

وَوَجۡهُ الۡمُنَاسَبَةِ فِي تَفۡسِيرِ الۡبَقَرَاتِ وَالسَّنَابِلِ بِالسِّنِينَ ظَاهِرٌ فِي الۡبَقَرِ مِنۡ وَجۡهَيۡنِ:

Adapun sisi korelasi antara penafsiran lembu dan bulir gandum dengan hitungan tahun, tampak jelas pada lembu dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا هِيَ الَّتِي فِي الۡغَالِبِ يُحۡرَثُ عَلَيۡهَا الۡأَرۡضُ، وَالۡحُرُوثُ وَالزُّرُوعُ وَتَوَابِعُهَا تَبَعٌ لِلسِّنِينَ فِي خِصۡبِهَا وَجَدۡبِهَا.

Pertama: Lembu pada umumnya digunakan untuk membajak tanah, sedangkan olah tanah, tanaman, dan sektor pertanian sangat bergantung pada kondisi kurun tahun, apakah sedang subur atau paceklik.

وَالۡوَجۡهُ الثَّانِي: الۡبَقَرُ مِنَ الۡمَوَاشِي الَّتِي سِمَنُهَا وَعَجَفُهَا تَبَعٌ لِلسِّنِينَ أَيۡضًا، فَإِذَا أَخۡصَبَتۡ سَمِنَتۡ وَإِذَا أَجۡدَبَتۡ عَجِفَتۡ وَهَزُلَتۡ، وَكَذٰلِكَ السَّنَابِلُ تَزۡهُو الزُّرُوعُ وَتَكۡمُلُ وَتَنۡمُو مَعَ كَثۡرَةِ الۡمَاءِ وَالسِّنِينَ الۡمُخۡصِبَاتِ، وَتَضۡعُفُ وَتَجِفُّ مَعَ السِّنِينَ الۡمُجۡدِبَاتِ، فَكَانَتۡ رُؤۡيَاهُ فِي الۡبَقَرَةِ وَالسَّنَابِلِ مِنۡ أَوۡصَافِ السِّنِينَ وَآثَارِهَا وَمِنۡ ذِكۡرِ الۡوَسَائِلِ وَالۡغَايَاتِ، فَالۡحَرۡثُ لِلۡأَرَاضِي وَسِيلَةٌ، وَنُمُوُّ الزَّرۡعِ وَحُصُولُ السِّمَنِ فِي الۡمَوَاشِي هُوَ الۡغَايَةُ مِنۡ ذٰلِكَ وَالۡمَقۡصُودُ.

Kedua: Lembu termasuk hewan ternak yang gemuk dan kurusnya juga sangat bergantung pada musim/tahun. Jika tahun subur maka ternak menjadi gemuk, dan jika paceklik maka ternak menjadi kurus dan lemah. Demikian pula bulir gandum, tanaman akan tumbuh subur, sempurna, dan berkembang pesat seiring dengan melimpahnya air dan musim subur, namun akan melemah serta mengering pada musim/tahun paceklik. Maka mimpi tentang lembu dan bulir gandum tersebut menggambarkan sifat-sifat kurun tahun beserta dampaknya, serta menyebutkan sarana dan tujuan. Membajak tanah adalah sarana, sedangkan tumbuhnya tanaman dan gemuknya hewan ternak adalah tujuan akhir yang dimaksud.

وَأَمَّا قَوۡلُهُ: ﴿ثُمَّ يَأۡتِى مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعۡصِرُونَ﴾ [يوسف: ٤٩]، أَيۡ: يَحۡصُلُ لِلنَّاسِ فِيهِ غَيۡثٌ مُغِيثٌ تُعِيدُ الۡأَرَاضِي خِصۡبَهَا وَيَزُولُ عَنۡهَا جَدۡبُهَا، وَذٰلِكَ مَأۡخُوذٌ مِنۡ تَقۡيِيدِ السِّنِينَ الۡمُجۡدِبَاتِ بِالسَّبۡعِ، فَدَلَّ هٰذَا الۡقَيۡدُ عَلَى أَنَّهُ يَلِي هٰذِهِ السَّبۡعَ مَا يَزِيلُ شِدَّتَهَا وَيَرۡفَعُ جَدۡبَهَا، وَمَعۡلُومٌ أَنَّ تَوَالِيَ سَبۡعِ سِنِينَ مُجۡدِبَاتٍ لَا يُبۡقِي فِي الۡأَرۡضِ مِنۡ آثَارِ الۡخَضِرِ وَالنَّبَاتِ وَالزُّرُوعِ وَنَحۡوِهَا لَا قَلِيلًا وَلَا كَثِيرًا، وَلَا يَرۡفَعُ هٰذَا الۡجَدۡبَ الۡعَظِيمَ إِلَّا غَيۡثٌ عَظِيمٌ، وَهٰذَا ظَاهِرٌ جِدًّا، أَخَذَهُ مِنۡ رُؤۡيَا الۡمَلِكِ.

Adapun ucapannya: “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS Yusuf: 49), maksudnya: manusia akan dikaruniai hujan penyelamat yang mengembalikan kesuburan tanah dan menghilangkan kemarau. Pemahaman ini disimpulkan dari pembatasan tahun paceklik yang disebutkan sebanyak tujuh tahun. Pembatasan ini menunjukkan bahwa setelah tujuh tahun tersebut akan ada tahun yang mengangkat kesulitan dan menghilangkan paceklik. Sudah maklum bahwa paceklik yang berlangsung selama tujuh tahun berturut-turut tidak akan menyisakan tanaman, tumbuhan, maupun penghijauan di muka bumi sedikit pun. Dan paceklik dahsyat seperti itu tidak akan bisa terangkat kecuali dengan curahan hujan yang sangat besar. Hal ini sangat jelas disimpulkan oleh Yusuf dari mimpi Raja.

وَمِنَ الۡعَجَبِ أَنَّ جَمِيعَ التَّفَاسِيرِ الَّتِي وَقَفۡتُ عَلَيۡهَا لَمۡ تَذۡكُرۡ هٰذَا الۡمَعۡنَى مَعَ وُضُوحِهِ، بَلۡ قَالُوا: لَعَلَّ يُوسُفَ ﷺ جَاءَهُ وَحۡيٌ خَاصٌّ فِي هٰذَا الۡعَامِ الَّذِي فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعۡصِرُونَ، وَالۡأَمۡرُ لَا يَحۡتَاجُ إِلَى مَا ذَكَرُوهُ، بَلۡ هُوَ وَلِلهِ الۡحَمۡدُ ظَاهِرٌ مِنۡ مَفۡهُومِ الۡعَدَدِ، وَأَيۡضًا ظَاهِرٌ مِنَ السِّيَاقِ، فَإِنَّهُ جَعَلَ هٰذَا التَّعۡبِيرَ وَالتَّفۡسِيرَ تَوۡضِيحًا لِرُؤۡيَا الۡمَلِكِ.

Sangat mengagumkan bahwa mayoritas kitab tafsir yang saya temui tidak menyebutkan makna ini padahal sangat jelas. Mereka justru mengatakan, “Mungkin Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—mendapatkan wahyu khusus mengenai datangnya tahun di mana manusia diberi hujan dan memeras buah.” Padahal perkaranya tidak memerlukan pengandaian seperti itu. Segala puji bagi Allah, makna ini amat jelas dipahami dari pemahaman angka serta jelas pula dari konteks kalimat, karena beliau menjadikan penafsiran ini sebagai penjelasan utuh atas mimpi Raja.

ثُمَّ اعۡلَمۡ أَنَّ رُؤۡيَا الۡمَلِكِ وَتَعۡبِيرَ يُوسُفَ لَهَا، وَتَدۡبِيرَهُ ذٰلِكَ التَّدۡبِيرَ الۡعَجِيبَ مِنۡ رَحۡمَةِ اللهِ الۡعَظِيمَةِ عَلَى يُوسُفَ، وَعَلَى الۡمَلِكِ وَعَلَى النَّاسِ، فَلَوۡلَا هٰذِهِ الرُّؤۡيَا وَهٰذَا التَّعۡبِيرُ وَالتَّدۡبِيرُ لَهَجَمَتۡ عَلَى النَّاسِ السُّنُونُ الۡمُجۡدِبَاتُ قَبۡلَ أَنۡ يُعِدُّوا لَهَا عُدَّتَهَا، فَيَقَعُ الضَّرَرُ الۡكَبِيرُ عَلَى الۡأَقۡطَارِ الۡمَصۡرِيَّةِ وَعَلَى مَا جَاوَرَهَا.

Kemudian ketahuilah bahwa mimpi Raja, penafsiran Yusuf atasnya, serta strategi pengelolaannya yang luar biasa merupakan bagian dari rahmat Allah yang sangat besar kepada Yusuf, Raja, dan seluruh manusia. Sekiranya tidak ada mimpi ini, penafsirannya, serta langkah pengelolaannya, niscaya tahun-tahun paceklik akan melanda masyarakat secara tiba-tiba sebelum mereka sempat bersiap-siap, sehingga akan timbul kemudaratan besar di wilayah Mesir dan sekitarnya.

فَصَارَ ذٰلِكَ رَحۡمَةً بِهِمۡ وَبِغَيۡرِهِمۡ مِنَ الۡخَلۡقِ، أَلَا تَرَى كَيۡفَ شَمَلَ الۡجَدۡبُ الۡبِلَادَ الۡمَصۡرِيَّةَ، وَشَمَلَ الۡبِلَادَ الشَّامِيَّةَ وَفَلَسۡطِينَ وَغَيۡرَهَا، حَتَّى احۡتَاجُوا إِلَى الِاكۡتِيَالِ مِنۡ مِصۡرَ، وَاحۡتَاجَ يُوسُفُ أَنۡ يُقَدِّرَ لِلۡجَمِيعِ وَيُوَزِّعَ عَلَيۡهِمۡ تَوۡزِيعًا عَادِلًا، فِيهِ الرِّفۡقُ بِالۡجَمِيعِ وَالۡإِبۡقَاءُ عَلَيۡهِمۡ. وَكَانَ هٰذَا الۡعِلۡمُ الۡعَظِيمُ مِنۡ يُوسُفَ هُوَ السَّبَبَ الۡأَعۡظَمَ فِي خُرُوجِهِ مِنَ السِّجۡنِ، وَتَقۡرِيبِ الۡمَلِكِ لَهُ مِنۡ اخۡتِصَاصِهِ بِهِ وَتَمۡكِينِهِ مِنَ ﴿ٱلۡأَرۡضِ يَتَبَوَّأُ مِنۡهَا حَيۡثُ يَشَآءُ﴾ [يوسف: ٥٦]، وَهٰذَا مِنۡ إِحۡسَانِهِ، وَاللهُ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ الۡمُحۡسِنِينَ، وَمَعَ هٰذَا الۡفَضۡلِ وَفَضۡلُ اللهِ أَعۡظَمُ مِنۡ ذٰلِكَ يُصِيبُ بِرَحۡمَتِهِ مَنۡ يَشَاءُ مِمَّنۡ يَخۡتَارُهُ وَيَخۡتَصُّهُ وَيَجۡمَعُ لَهُ خَيۡرَ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ.

Maka peristiwa ini menjadi rahmat bagi mereka dan makhluk lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana paceklik tersebut meluas hingga ke seluruh tanah Mesir, wilayah Syam, Palestina, dan sekitarnya, sehingga mereka membutuhkan pasokan bahan pangan dari Mesir? Dan Yusuf perlu mengatur takaran pasokan untuk semua orang serta membaginya secara adil, yang penuh dengan kelembutan dan kelangsungan hidup bagi semuanya. Ilmu yang sangat agung dari Nabi Yusuf ini menjadi sebab terbesar bagi keluarnya beliau dari penjara, serta dilibatkannya beliau secara khusus oleh Raja dan diberi kedudukan di: “Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu.” (QS Yusuf: 56).

Ini merupakan bagian dari balasan kebaikan Allah kepadanya, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Di samping karunia ini dan karunia Allah tentu jauh lebih agung dari itu, Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba pilihan-Nya, mengistimewakannya, serta menghimpun baginya kebaikan dunia dan akhirat.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *