الۡفَصۡلُ الۡأَوَّلُ
Bab Pertama
وَأَمَّا رُؤۡيَا الۡفَتَيَيۡنِ حَيۡثُ: ﴿قَالَ أَحَدُهُمَآ إِنِّىٓ أَرَىٰنِىٓ أَعۡصِرُ خَمۡرًا ۖ وَقَالَ ٱلۡـَٔاخَرُ إِنِّىٓ أَرَىٰنِىٓ أَحۡمِلُ فَوۡقَ رَأۡسِى خُبۡزًا تَأۡكُلُ ٱلطَّيۡرُ مِنۡهُ ۖ نَبِّئۡنَا بِتَأۡوِيلِهِۦٓ﴾ [يوسف: ٣٦]، فَتَلَطَّفُوا لِيُوسُفَ أَنۡ يُنَبِّئَهُمَا بِتَأۡوِيلِ رُؤۡيَاهُمَا لِمَا شَهِدُوا مِنۡ إِحۡسَانِهِ لِلۡأَشۡيَاءِ وَإِحۡسَانِهِ إِلَى الۡخَلۡقِ، فَفَسَّرَ رُؤۡيَا مَنۡ رَأَى أَنَّهُ يَعۡصِرُ خَمۡرًا أَنَّهُ يَنۡجُو مِنۡ سِجۡنِهِ، وَيَعُودُ إِلَى مَرۡتَبَتِهِ وَخِدۡمَتِهِ لِسَيِّدِهِ، فَيَعۡصِرُ لَهُ الۡعِنَبَ الَّذِي يَئُولُ إِلَى الۡخَمۡرِ، وَفَسَّرَ رُؤۡيَا الۡآخَرِ بِأَنَّهُ يُقۡتَلُ ثُمَّ يُصۡلَبُ، فَتَأۡكُلُ الطَّيۡرُ مِنۡ رَأۡسِهِ.
Adapun mimpi dua pemuda (yang dipenjara), yaitu ketika: “Salah seorang dari keduanya berkata, ‘Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.’ Dan yang lainnya berkata, ‘Sesungguhnya aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, yang sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami takwilnya.’” (QS Yusuf: 36).
Keduanya bersikap lembut kepada Yusuf agar beliau menakwilkan mimpi mereka, karena melihat kebaikan beliau terhadap segala hal dan kebaikannya kepada sesama makhluk. Beliau menafsirkan mimpi orang yang bermimpi memeras anggur bahwa ia akan selamat dari penjara dan kembali ke kedudukannya serta kembali melayani tuannya, lalu ia memeras anggur yang kelak menjadi khamar. Sedangkan beliau menafsirkan mimpi yang satunya lagi bahwa ia akan dibunuh lalu disalib, hingga burung-burung memakan bagian dari kepalanya.
فَالۡأَوَّلُ: رُؤۡيَاهُ جَاءَتۡ عَلَى وَجۡهِ الۡحَقِيقَةِ، وَالۡآخَرُ رُؤۡيَاهُ جَاءَتۡ عَلَى وَجۡهِ الۡمِثَالِ، وَأَنَّهُ يُقۡتَلُ وَمَعَ قَتۡلِهِ يُصۡلَبُ وَلَا يُدۡفَنُ، حَتَّى تَأۡكُلَ الطُّيُورُ مِنۡ رَأۡسِهِ، وَهٰذَا مِنَ الۡفَهۡمِ الۡعَجِيبِ وَالۡغَوۡصِ إِلَى الۡمَعَانِي الدَّقِيقَةِ.
Pemuda pertama, mimpinya terjadi apa adanya. Sementara pemuda kedua, mimpinya terjadi dalam bentuk perumpamaan; yaitu bahwasanya ia dibunuh, dan bersamaan dengan pembunuhannya itu ia disalib serta tidak langsung dikubur sampai burung-burung memakan kepalanya. Ini menunjukkan pemahaman yang sangat luar biasa dan penjelajahan makna yang sangat mendalam.
وَذٰلِكَ أَنَّ الۡعَادَةَ أَنَّ الۡمَقۡتُولَ يُدۡفَنُ فِي الۡحَالِ وَلَا تَتَمَكَّنُ السِّبَاعُ وَالطُّيُورُ مِنَ الۡأَكۡلِ مِنۡهُ، فَفَهِمَ أَنَّ هٰذَا سَيُقۡتَلُ وَلَا يُدۡفَنُ سَرِيعًا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هٰذِهِ الۡحَالِ، وَفِي هٰذَا مِنۡ فَضِيحَتِهِ وَخِزۡيَتِهِ وَسُوءِ مَصِيرِهِ الدُّنۡيَوِيِّ مَا تَقۡشَعِرُّ مِنۡهُ الۡجُلُودُ، وَحَيۡثُ عَلِمَ أَنَّ هٰذِهِ الرُّؤۡيَا صَحِيحَةٌ لَا بُدَّ مِنۡ وُقُوعِهَا، قَالَ لَهُمَا: ﴿قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ ٱلَّذِى فِيهِ تَسۡتَفۡتِيَانِ﴾ [يوسف: ٤١]، وَهٰذَا مِنۡ كَمَالِ عِلۡمِهِ لِلتَّعۡبِيرِ الَّذِي لَا يُعَبِّرُ عَنۡ ظَنٍّ وَتَوَهُّمٍ وَإِنَّمَا يُعَبِّرُ عَنۡ عِلۡمٍ وَيَقِينٍ، وَأَمَّا الۡمُنَاسَبَةُ فِي ذٰلِكَ أَنَّ الطُّيُورَ لَا تَقۡرَبُ الۡحَيَّ، وَإِنَّمَا تَتَنَاوَلُ الۡمَيِّتَ إِذَا لَمۡ يَكُنۡ عِنۡدَهُ أَحَدٌ، وَهٰذَا إِنَّمَا يَكُونُ بَعۡدَ قَتۡلِهِ وَصَلۡبِهِ.
Sudah menjadi kebiasaan umum bahwa orang yang terbunuh akan segera dikubur sehingga binatang buas maupun burung tidak sempat memakannya. Dari situ Yusuf memahami bahwa orang ini akan dibunuh dan tidak segera dikubur hingga mengalami kondisi tersebut. Di dalamnya terdapat kehinaan, aib, dan akhir hidup duniawi yang sangat buruk yang membuat kulit merinding. Karena Yusuf tahu mimpi ini benar dan pasti terjadi, beliau berkata kepada keduanya, “Telah diputuskan perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).” (QS Yusuf: 41).
Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu takwil beliau yang tidak bersandar pada dugaan atau prasangka, melainkan di atas ilmu dan keyakinan. Relevansinya adalah bahwa burung tidak akan mendekati orang hidup, melainkan memangsa mayat jika tidak ada orang di sekitarnya. Hal ini hanya bisa terjadi setelah ia dibunuh dan disalib.
وَمِنۡ كَمَالِ يُوسُفَ وَنُصۡحِهِ وَفِطۡنَتِهِ الۡعَجِيبَةِ أَنَّهُمَا لَمَّا قَصَّا عَلَيۡهِ رُؤۡيَاهُمَا، تَأَنَّى فِي تَعۡبِيرِهَا وَوَعَدَهُمَا بِتَعۡبِيرِهَا، بِأَسۡرَعِ وَقۡتٍ فَقَالَ: ﴿لَا يَأۡتِيكُمَا طَعَامٌ تُرۡزَقَانِهِۦٓ إِلَّا نَبَّأۡتُكُمَا بِتَأۡوِيلِهِۦ قَبۡلَ أَن يَأۡتِيَكُمَا﴾ [يوسف: ٣٧]، فَوَعَدَهُمَا بِتَعۡبِيرِهَا قَبۡلَ أَوَّلِ طَعَامٍ يَأۡتِيهِمَا مِنۡ خَارِجِ السِّجۡنِ لِيَطۡمَئِنَّا وَيَشۡتَاقَا إِلَى تَعۡبِيرِهَا، وَلِيَتَمَكَّنَ مِنۡ دَعۡوَتِهِمَا لِيَكُونَ أَدۡعَى لِقَبُولِ الدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ؛ لِأَنَّ الدَّعۡوَةَ لَهُمَا إِلَى اللهِ أَعۡظَمُ مِنۡ تَعۡبِيرِ رُؤۡيَاهُمَا، فَدَعَاهُمَا إِلَى اللهِ بِأَمۡرَيۡنِ:
Di antara kesempurnaan, nasihat, dan kecerdasan Nabi Yusuf yang luar biasa adalah ketika mereka menceritakan mimpi tersebut, beliau menunda sejenak takwilnya dan berjanji akan menyampaikannya dalam waktu yang sangat singkat. Beliau berkata, “Tidak datang makanan kepada kamu berdua yang diberikan sebagai rezeki melainkan aku telah memberitahukan takwilnya sebelum makanan itu sampai kepadamu.” (QS Yusuf: 37).
Beliau berjanji menafsirkan mimpi itu sebelum santapan pertama tiba dari luar penjara agar hati mereka merasa tenang dan agar mereka semakin berhasrat mendengarkan tafsirannya, sehingga memberi kesempatan bagi Yusuf untuk berdakwah kepada mereka agar lebih mudah menerima ajaran Allah. Sebab, menyeru mereka kepada Allah jauh lebih agung daripada sekadar menakwilkan mimpi mereka. Maka beliau mendakwahi mereka kepada Allah melalui dua cara:
أَحَدُهُمَا: بِحَالِهِ وَمَا هُوَ عَلَيۡهِ مِنَ الۡوَصۡفِ الۡجَمِيلِ الَّذِي أَوۡصَلَهُ إِلَى هٰذِهِ الۡحَالِ الرَّفِيعَةِ، بِقَوۡلِهِ: ﴿ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ ۚ إِنِّى تَرَكۡتُ مِلَّةَ قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَهُم بِٱلۡـَٔاخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ٣٧ وَٱتَّبَعۡتُ مِلَّةَ ءَابَآءِىٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَآ أَن نُّشۡرِكَ بِٱللَّهِ مِن شَىۡءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ عَلَيۡنَا وَعَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ﴾ [يوسف: ٣٧ – ٣٨].
Pertama: Melalui kondisi pribadinya dan keutamaan sifat mulia yang telah membawanya ke derajat yang tinggi ini, sebagaimana firman-Nya: “Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan Rabku kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari akhirat. Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Tidak patut bagi kami mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS Yusuf: 37–38).
الۡأَمۡرُ الثَّانِي: دَعَاهُمَا بِالۡبُرۡهَانِ الۡحَقِيقِيِّ الۡفِطۡرِيِّ، فَقَالَ: ﴿يَٰصَٰحِبَىِ ٱلسِّجۡنِ ءَأَرۡبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ ٣٩ مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءً سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍ ۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ﴾ [يوسف: ٣٩ – ٤٠].
Kedua: Beliau menyeru mereka dengan argumentasi yang nyata dan sesuai dengan fitrah. Beliau berkata, “Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan? Kalian tidak menyembah yang selain Allah melainkan hanya menyembah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Yusuf: 39–40).
فَإِنَّ مَنۡ تَوَحَّدَ بِالۡكَمَالِ مِنۡ كُلِّ وَجۡهٍ، وَبِالۡقَهۡرِ وَلِلۡعَالَمِ الۡعُلۡوِيِّ وَالسُّفۡلِيِّ الۡمُسۡتَحِقَّ لِلۡأُلُوهِيَّةِ الۡكَامِلَةِ، الَّذِي خَلَقَ الۡخَلۡقَ لِعِبَادَتِهِ وَأَمَرَهُمۡ بِهَا، وَلَهُ الۡحُكۡمُ عَلَى عِبَادِهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، هُوَ الَّذِي لَا تَنۡبَغِي الۡعِبَادَةُ إِلَّا لَهُ وَحۡدَهُ دُونَ الۡمَعۡبُودَاتِ النَّاقِصَةِ الۡمُتَفَرِّقَةِ الَّتِي كُلُّ قَوۡمٍ يَدَّعُونَ إِلَهِيَّتَهَا، وَلَيۡسَ فِيهَا مِنۡ مَعَانِي الۡإِلَهِيَّةِ شَيۡءٌ وَلَا اسۡتِحۡقَاقٌ، وَإِنَّمَا هِيَ أَسۡمَاءٌ اصۡطَلَحُوا عَلَى تَسۡمِيَتِهَا؛ أَسۡمَاءٌ بِلَا مَعَانٍ، فَرَأَى ﷺ دَعۡوَتَهُمَا إِلَى اللهِ أَوۡلَى بِالتَّقۡدِيمِ عَلَى تَفۡسِيرِ رُؤۡيَاهُمَا وَأَنۡفَعَ لَهُمَا وَلِغَيۡرِهِمَا.
Sesungguhnya Zat yang Maha Esa dalam segala kesempurnaan dari berbagai sisi, Yang Maha Memaksa alam atas dan bawah, serta satu-satunya yang berhak atas keilahian yang sempurna—Zat yang menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya dan memerintahkannya, serta pemilik segala hukum atas hamba-hamba-Nya di dunia dan akhirat—Dialah yang ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata, bukan kepada sembahan-sembahan yang kurang lagi beraneka ragam yang diklaim keilahiannya oleh setiap kelompok. Padahal sembahan tersebut tidak memiliki makna keilahian sedikit pun dan tidak berhak disembah, melainkan hanya istilah nama-nama yang mereka buat-buat tanpa hakikat makna. Oleh karena itu, Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—memandang bahwa mendakwahi keduanya kepada Allah lebih utama untuk didahulukan daripada menafsirkan mimpi mereka, serta jauh lebih bermanfaat bagi mereka berdua maupun bagi yang lainnya.
![]()
Be the first to leave a comment