Petikan Faedah Indah dari Kisah Nabi Yusuf yang Penuh Ibrah

ismail  

الۡفَصۡلُ الثَّامِنُ

Bab Kedelapan

وَمِنۡ فَوَائِدِ الۡقِصَّةِ: الۡإِرۡشَادُ إِلَى طَرِيقٍ نَافِعٍ مِنۡ طُرُقِ الۡجِدَالِ وَالۡمُقَابَلَةِ بَيۡنَ الۡحَقِّ وَالۡبَاطِلِ، وَهُوَ بَيَانُ مَا فِي الۡحَقِّ مِنَ الۡخَيۡرِ وَالۡمَنَافِعِ الۡعَاجِلَةِ وَالۡآجِلَةِ، وَمَا فِي الۡبَاطِلِ مِنۡ ضِدِّ ذٰلِكَ.

Di antara faedah kisah ini: Petunjuk menuju metode yang bermanfaat dalam berdebat serta memperbandingkan antara kebenaran dan kebatilan, yaitu dengan menjelaskan kebaikan serta manfaat dunia dan akhirat yang ada pada kebenaran, dan menjelaskan hal sebaliknya yang ada pada kebatilan.

قَالَ تَعَالَى فِي دَعۡوَةِ يُوسُفَ لِلتَّوۡحِيدِ: ﴿يَٰصَٰحِبَىِ ٱلسِّجۡنِ ءَأَرۡبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ﴾ [يوسف: ٣٩]، فَذَكَرَ مَا فِي الشِّرۡكِ مِنَ الۡقُبۡحِ وَسُوءِ الۡحَالِ وَاتِّبَاعِ الظُّنُونِ الۡبَاطِلَةِ، وَأَنَّ كُلَّ طَائِفَةٍ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ لَهُمۡ مَعۡبُودٌ؛ إِمَّا نَارٌ أَوۡ صَنَمٌ أَوۡ قَبۡرٌ أَوۡ مَلَكٌ أَوۡ مَيِّتٌ أَوۡ غَيۡرُ ذٰلِكَ مِنَ الۡمَعۡبُودَاتِ الۡمُتَفَرِّقَةِ، الَّتِي لَا تَمۡلِكُ لِنَفۡسِهَا وَلَا لِأَهۡلِهَا نَفۡعًا وَلَا ضَرًّا، وَلَا مَوۡتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا. وَكُلُّ طَائِفَةٍ تُضَلِّلُ الۡأُخۡرَى، وَكُلُّهُمۡ ضَالُّونَ هَالِكُونَ فِيهَا، هٰذِهِ الۡأَرۡبَابُ وَالۡمَعۡبُودَاتُ خَيۡرٌ أَمِ اللهُ الۡوَاحِدُ الۡقَهَّارُ؟

Allah taala berfirman mengenai dakwah Nabi Yusuf menuju tauhid, “Wahai dua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan?” (QS Yusuf: 39).

Maka beliau menyebutkan keburukan, kejelekan kondisi, dan pengekoran sangkaan batil yang terdapat dalam kemusyrikan; serta bahwasanya setiap kelompok dari kaum musyrikin memiliki sesembahan tersendiri; baik berupa api, patung, kuburan, malaikat, orang mati, atau sesembahan yang beraneka ragam lainnya yang tidak memiliki daya untuk memberi manfaat, bahaya, kematian, kehidupan, maupun kebangkitan bagi diri mereka sendiri atau pengikutnya. Setiap kelompok menyesatkan kelompok lainnya, dan mereka semua tersesat serta binasa di dalamnya. Apakah tuhan-tuhan dan sesembahan-sesembahan ini yang lebih baik, ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan?

فَذَكَرَ لَهُ ثَلَاثَةَ أَوۡصَافٍ عَامَّةٍ عَظِيمَةٍ؛ أَنَّهُ اللهُ الَّذِي لَهُ الۡأَسۡمَاءُ وَالصِّفَاتُ الۡعُلۡيَا، وَمِنۡهُ النِّعَمُ كُلُّهَا، وَبِذٰلِكَ اسۡتَحَقَّ أَنۡ يَكُونَ اللهُ الۡمَأۡلُوهَ إِلَهَ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ وَأَهۡلِ السَّمَاءِ، وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الۡأَرۡضِ إِلَهٌ، وَأَنَّهُ الۡوَاحِدُ الۡمُتَفَرِّدُ بِكُلِّ صِفَةِ كَمَالٍ الۡمُتَوَحِّدُ بِنُعُوتِ الۡجَلَالِ وَالۡجَمَالِ، الَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي شَيۡءٍ مِنَ الۡأَفۡعَالِ، وَأَنَّهُ الۡقَهَّارُ لِكُلِّ شَيۡءٍ، فَجَمِيعُ الۡعَالَمِ الۡعُلۡوِيِّ وَالسُّفۡلِيِّ كُلُّهُمۡ مَقۡهُورُونَ بِقُدۡرَتِهِ خَاضِعُونَ لِعَظَمَتِهِ مُتَذَلِّلُونَ لِعِزَّتِهِ وَجَبَرُوتِهِ، فَمَنۡ هٰذِهِ صِفَاتُهُ الۡعَظِيمَةُ هُوَ الَّذِي لَا تَنۡبَغِي الۡعِبَادَةُ إِلَّا لَهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.

Kemudian beliau menyebutkan bagi-Nya tiga sifat umum yang sangat agung bahwa Dialah Allah yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang maha tinggi, dan dari-Nya lah seluruh kenikmatan berasal. Dengan demikian, Allahlah yang berhak menjadi ilah sesembahan bagi penghuni bumi dan penghuni langit; Dialah sesembahan di langit dan sesembahan di bumi. Dialah Yang Maha Esa, yang menyendiri dengan setiap sifat kesempurnaan, serta tunggal dalam keagungan dan keindahan, yang tidak ada sekutu bagi-Nya dalam tindakan apa pun. Dan bahwasanya Dialah Yang Maha Mengalahkan segala sesuatu; seluruh alam atas maupun bawah tunduk dalam kekuasaan-Nya, patuh kepada keagungan-Nya, serta merasa hina di hadapan kemuliaan dan keperkasaan-Nya. Maka Zat yang memiliki sifat-sifat agung ini adalah Zat yang tidak sepatutnya ibadah ditujukan melainkan hanya kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

وَمِنۡهَا: أَنَّ الدِّينَ الۡمُسۡتَقِيمَ الَّذِي عَلَيۡهِ جَمِيعُ الرُّسُلِ وَأَتۡبَاعُهُمۡ هُوَ عِبَادَةُ اللهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لِقَوۡلِهِ: ﴿إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ﴾ [يوسف: ٤٠]، فَهُوَ الدِّينُ الۡمُسۡتَقِيمُ الۡمُقِيمُ لِلۡعَقَائِدِ وَالۡأَخۡلَاقِ وَالۡأَعۡمَالِ الَّذِي لَا تَسۡتَقِيمُ أُمُورُ الدِّينِ وَالدُّنۡيَا إِلَّا بِهِ.

Di antara faedahnya: Agama yang lurus yang dianut oleh seluruh rasul dan para pengikut mereka adalah ibadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya; berdasarkan firman-Nya: “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus.” (QS Yusuf: 40).

Itulah agama lurus yang menegakkan akidah, akhlak, dan amalan, yang mana seluruh urusan agama dan dunia tidak akan menjadi lurus melainkan dengannya.

وَمِنۡهَا: وُجُوبُ الِاعۡتِرَافِ بِنِعَمِ اللهِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنۡيَوِيَّةِ لِقَوۡلِهِ: ﴿ذَٰلِكَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ عَلَيۡنَا﴾ [يوسف: ٣٨]، فَهُوَ الَّذِي مَنَّ بِالۡعَافِيَةِ وَالرِّزۡقِ وَتَوَابِعِ ذٰلِكَ، وَهُوَ الَّذِي مَنَّ بِنِعۡمَةِ الۡإِسۡلَامِ وَالۡإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ وَتَوَابِعِ ذٰلِكَ، فَعَلَى الۡعَبۡدِ أَنۡ يَعۡتَرِفَ بِهَا بِقَلۡبِهِ وَيَتَحَدَّثَ بِهَا، وَيَسۡتَعِينَ بِهَا عَلَى طَاعَةِ الۡمُنۡعِمِ.

Di antara faedahnya: Kewajiban mengakui nikmat-nikmat Allah, baik nikmat agama maupun nikmat dunia; berdasarkan firman-Nya: “Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami.” (QS Yusuf: 38).

Jadi, Dialah yang menganugerahkan kesehatan, rezeki, dan kelengkapannya. Dialah yang menganugerahkan nikmat Islam, iman, ketaatan, serta kelengkapannya. Oleh karena itu, wajib bagi hamba untuk mengakui nikmat-nikmat tersebut dengan hatinya, menyebut-nyebutnya, serta menggunakannya untuk membantu taat kepada Zat Yang Maha Memberi Nikmat.

وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡإِحۡسَانَ فِي عِبَادَةِ اللهِ وَالۡإِحۡسَانَ إِلَى الۡعِبَادِ سَبَبٌ يُنَالُ بِهِ الۡعِلۡمُ وَتُنَالُ بِهِ خَيۡرَاتُ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ؛ لِقَوۡلِهِ: ﴿وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُۥٓ ءَاتَيۡنَٰهُ حُكۡمًا وَعِلۡمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِى ٱلۡمُحۡسِنِينَ﴾ [يوسف: ٢٢]، وَقَوۡلِهِ: ﴿نُصِيبُ بِرَحۡمَتِنَا مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ۝٥٦ وَلَأَجۡرُ ٱلۡـَٔاخِرَةِ خَيۡرٌ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ﴾ [يوسف: ٥٦، ٥٧]، فَجَعَلَ اللهُ الۡإِحۡسَانَ سَبَبًا لِنَيۡلِ هٰذِهِ الۡمَرَاتِبِ الۡعَالِيَةِ.

Di antara faedahnya: Perbuatan baik (ihsan) dalam beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama hamba merupakan sebab diraihnya ilmu serta diperolehnya kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat; berdasarkan firman-Nya: “Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Yusuf: 22), dan firman-Nya: “Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sungguh, pahala negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS Yusuf: 56–57). Jadi, Allah menjadikan ihsan sebagai sebab untuk meraih kedudukan-kedudukan yang tinggi ini.

وَمِنۡهَا: أَنَّ النَّظَرَ إِلَى الۡغَايَاتِ الۡمَحۡبُوبَةِ يُهَوِّنُ الۡمَشَاقَّ الۡمُعۡتَرِضَةَ فِي وَسَائِلِهَا، فَمَتَى عَلِمَ الۡعَبۡدُ عَاقِبَةَ الۡأَمۡرِ وَمَا يَئُولُ إِلَيۡهِ مِنۡ خَيۡرِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ هَانَتۡ عَلَيۡهِ الۡمَشَقَّةُ وَتَسَلَّى بِالۡغَايَةِ، لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِ لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمۡرِهِمۡ هَٰذَا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ﴾ [يوسف: ١٥]، فَأَوۡحَى إِلَى يُوسُفَ فِي هٰذِهِ الۡحَالِ الۡمُزۡعِجَةِ أَنَّ الۡأَمۡرَ سَيَكُونُ إِلَى خَيۡرٍ وَسَعَةٍ، وَبَعۡدَ هٰذِهِ الۡإِهَانَةِ الصَّادِرَةِ مِنۡ إِخۡوَتِكَ لَكَ سَتَكُونُ لَكَ الۡأَثَرَةُ عَلَيۡهِمۡ وَالۡعَاقِبَةُ الۡحَمِيدَةُ، وَفِي هٰذَا مِنَ اللُّطۡفِ وَالتَّسۡلِيَةِ وَتَخۡفِيفِ الۡبَلَاءِ مَا هُوَ مِنۡ أَعۡظَمِ نِعَمِ اللهِ عَلَى الۡعَبۡدِ، وَلِهٰذَا الۡمَعۡنَى الۡجَلِيلِ يُذَكِّرُ اللهُ عِبَادَهُ عِنۡدَ الۡمَشَاقِّ وَالۡأُمُورِ الۡمُزۡعِجَةِ مَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الثَّوَابِ وَالۡخَيۡرِ وَالطَّمَعِ فِي فَضۡلِهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِن تَكُونُوا۟ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَ ۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَ﴾ [النساء: ١٠٤].

Di antara faedahnya: Memandang kepada tujuan akhir yang dicintai akan meringankan kesulitan-kesulitan yang merintangi jalannya. Kapan pun hamba mengetahui kesudahan dari suatu perkara serta akhir kebaikan dunia dan akhirat yang ditujunya, menjadi ringanlah penderitaan padanya dan ia terhibur dengan tujuan akhir tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah taala: “Dan Kami wahyukan kepadanya: ‘Sesungguhnya kamu akan memberitahukan kepada mereka perbuatan ini, sedang mereka tidak sadar.’” (QS Yusuf: 15).

Allah mewahyukan kepada Yusuf dalam kondisi yang sangat menggelisahkan ini bahwasanya perkara ini kelak berujung pada kebaikan dan kelapangan, dan setelah penghinaan dari saudara-saudaramu ini kelak engkau akan memiliki keunggulan atas mereka serta kesudahan yang terpuji. Pada hal ini terdapat kelembutan, penghiburan, dan peringanan ujian yang merupakan bagian dari nikmat Allah terbesar bagi hamba. Karena makna yang agung inilah, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya tatkala menghadapi kesulitan dan hal-hal yang menggelisahkan tentang pahala, kebaikan, serta harapan akan karunia-Nya yang akan diraih atas hal tersebut. Allah taala berfirman, “Jika kalian menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan pula sebagaimana kalian menderitanya, sedang kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS An-Nisa’: 104).

وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَجۡمَعُوٓا۟ أَن يَجۡعَلُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ﴾ [يوسف: ١٥] دَلِيلٌ عَلَى رُجُوعِهِمۡ كُلِّهِمۡ إِلَى رَأۡيِ مَنۡ قَالَ: ﴿لَا تَقۡتُلُوا۟ يُوسُفَ وَأَلۡقُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ﴾ [يوسف: ١٠]، كَمَا أَنَّ قَوۡلَهُ: ﴿وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّى كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ‎۝٣٣ فَٱسۡتَجَابَ لَهُۥ رَبُّهُۥ فَصَرَفَ عَنۡهُ كَيۡدَهُنَّ﴾ [يوسف: ٣٣–٣٤] دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ النِّسۡوَةَ سَاعَدۡنَ امۡرَأَةَ الۡعَزِيزِ عَلَى يُوسُفَ، وَجَعَلۡنَ يُغۡرِينَهُ بِهٰذَا الۡعَمَلِ، فَبَعۡدَ مَا رَأَيۡنَ مِنۡ جَمَالِ يُوسُفَ الۡبَاهِرِ مَا رَأَيۡنَ أَصۡبَحۡنَ لِامۡرَأَةِ الۡعَزِيزِ مُسَاعِدَاتٍ بَعۡدَ أَنۡ كُنَّ قَبۡلَ ذٰلِكَ عَاتِبَاتٍ عَلَيۡهَا بِقَوۡلِهِنَّ: ﴿ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفۡسِهِۦ ۖ قَدۡ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ﴾ [يوسف: ٣٠].

Firman Allah taala: “Dan mereka sepakat untuk memasukkannya ke dasar sumur” (QS Yusuf: 15) merupakan dalil bahwasanya mereka semua rujuk kepada pendapat orang yang berkata, “Janganlah kalian membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur.” (QS Yusuf: 10).

Sebagaimana firman-Nya: “Dan jika tidak Engkau palingkan tipu daya mereka dariku, tentu aku akan cenderung kepada mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. Maka Rabnya memperkenankan doanya dan memalingkan tipu daya mereka darinya” (QS Yusuf: 33–34) merupakan dalil bahwa wanita-wanita tersebut membantu istri Pembesar dalam membujuk Yusuf dan ikut serta menggoda beliau untuk perbuatan tersebut. Jadi, setelah mereka menyaksikan ketampanan Yusuf yang memukau, mereka berubah menjadi para pembantu bagi istri Pembesar, setelah sebelumnya mereka mencelanya dengan ucapan mereka: “Istri Pembesar menggoda pelayannya untuk menundukkan dirinya; sesungguhnya cintanya kepada pelayannya itu sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS Yusuf: 30).

وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡعُقُودَ تَنَعَقِدُ بِمَا يَدُلُّ عَلَيۡهَا مِنۡ قَوۡلٍ وَفِعۡلٍ، لَا فَرۡقَ بَيۡنَ عُقُودِ التَّبَرُّعَاتِ وَعُقُودِ الۡمُعَاوَضَاتِ، لِأَنَّ يُوسُفَ ﷺ مَلَّكَ إِخۡوَتَهُ بِضَاعَتَهُمُ الَّتِي اشۡتَرَوۡا بِهَا مِيرَتَهُم مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ، ﴿وَلَمَّا فَتَحُوا۟ مَتَٰعَهُمۡ وَجَدُوا۟ بِضَٰعَتَهُمۡ رُدَّتۡ إِلَيۡهِمۡ﴾ [يوسف: ٦٥] الۡآيَةَ، وَذٰلِكَ مِنۡ دُونِ إِيجَابٍ وَقَبُولٍ قَوۡلِيٍّ؛ لِأَنَّ الۡفِعۡلَ وَالرِّضَا يَدُلُّ عَلَى ذٰلِكَ.

Di antara faedahnya: Suatu akad dianggap sah dengan indikasi apa pun yang menunjukkannya, baik berupa ucapan maupun tindakan nyata. Tidak ada perbedaan antara akad hibah/pemberian dan akad tukar-menukar. Hal itu karena Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—menyerahkan kepemilikan barang/modal yang digunakan saudara-saudaranya untuk membeli pasokan makanan tanpa mereka sadari, “Dan ketika mereka membuka karung-karungnya, mereka menemukan barang-barang (penukar) mereka dikembalikan kepada mereka” (QS Yusuf: 65), dan hal tersebut terjadi tanpa adanya ijab kabul secara lisan; karena perbuatan dan kerelaan sudah cukup menunjukkan terjadinya akad.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *