Petikan Faedah Indah dari Kisah Nabi Yusuf yang Penuh Ibrah

ismail  

الۡفَصۡلُ السَّابِعُ

Bab Ketujuh

وَفِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ﴾ [يوسف: ٥٣]، دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ هٰذَا وَصۡفُ النَّفۡسِ مِنۡ حَيۡثُ هِيَ وَأَنَّهَا لَا تَخۡرُجُ عَنۡ هٰذَا الۡوَصۡفِ إِلَّا بِرَحۡمَةٍ مِنَ اللهِ وَعِنَايَةٍ مِنۡهُ، لِأَنَّ النَّفۡسَ ظَالِمَةٌ جَاهِلَةٌ، وَالظُّلۡمُ وَالۡجَهۡلُ لَا يَأۡتِي مِنۡهُمَا إِلَّا كُلُّ شَرٍّ، فَإِنۡ رَحِمَ اللهُ الۡعَبۡدَ وَمَنَّ عَلَيۡهِ بِالۡعِلۡمِ النَّافِعِ وَسُلُوكِ طَرِيقِ الۡعَدۡلِ فِي أَخۡلَاقِهِ وَأَعۡمَالِهِ خَرَجَتۡ نَفۡسُهُ مِنۡ هٰذَا الۡوَصۡفِ، وَصَارَتۡ مُطۡمَئِنَّةً إِلَى طَاعَةِ اللهِ وَذِكۡرِهِ، وَلَمۡ تَأۡمُرۡ صَاحِبَهَا إِلَّا بِالۡخَيۡرِ، وَيَكُونُ مَآلُهَا إِلَى فَضۡلِ اللهِ وَثَوَابِهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ‎۝٢٧‏ ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ‎۝٢٨ فَٱدۡخُلِى فِى عِبَٰدِى ‎۝٢٩ وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى﴾ [الفجر: ٢٧ – ٣٠].

Pada firman Allah taala: “Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabku.” (QS Yusuf: 53), terdapat dalil bahwasanya ini adalah sifat dasar jiwa (nafsu) itu sendiri. Jiwa tidak akan keluar dari sifat ini melainkan dengan rahmat dan pertolongan dari Allah. Hal itu karena jiwa pada dasarnya zalim dan bodoh, sedangkan kezaliman dan kebodohan tidaklah melahirkan melainkan segala bentuk keburukan. Maka jika Allah merahmati hamba-Nya dan menganugerahinya ilmu yang bermanfaat serta menuntunnya menempuh jalan keadilan dalam akhlak dan perbuatannya, keluarlah jiwanya dari sifat buruk tersebut. Jiwa itu pun menjadi tenang dalam ketaatan kepada Allah dan mengingat-Nya, serta tidak memerintahkan pemiliknya melainkan kepada kebaikan, dan tempat kembalinya adalah menuju karunia serta pahala Allah. Allah taala berfirman, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam janah-Ku.” (QS Al-Fajr: 27–30).

فَعَلَى الۡعَبۡدِ أَنۡ يَسۡعَى فِي إِصۡلَاحِ نَفۡسِهِ وَإِخۡرَاجِهَا مِنۡ هٰذَا الۡوَصۡفِ الۡمَذۡمُومِ، وَهُوَ أَنَّهَا أَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ، وَذٰلِكَ بِالِاجۡتِهَادِ وَتَخَلُّقِهَا بِأَحۡسَنِ الۡأَخۡلَاقِ، وَسُؤَالِ اللهِ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَنۡ يُكۡثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ الۡمَأۡثُورِ: (اللَّهُمَّ اهۡدِنِي لِأَحۡسَنِ الۡأَعۡمَالِ وَالۡأَخۡلَاقِ لَا يَهۡدِي لِأَحۡسَنِهَا إِلَّا أَنۡتَ، وَاصۡرِفۡ عَنِّي سَيِّئَ الۡأَعۡمَالِ وَالۡأَخۡلَاقِ لَا يَصۡرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنۡتَ).

Maka wajib bagi seorang hamba untuk berusaha memperbaiki jiwanya dan mengeluarkannya dari sifat tercela ini—yaitu jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan. Hal itu dicapai dengan bersungguh-sungguh (ijtihad), menghiasi diri dengan akhlak yang paling baik, serta memohon kepada Allah secara terus-menerus. Hendaknya ia memperbanyak doa yang diajarkan Nabi: “Ya Allah, tunjukilah aku kepada amal dan akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang paling baik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku amal dan akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dariku keburukannya melainkan Engkau.”

وَفِي تَضَاعِيفِ الۡقِصَّةِ فَضِيلَةُ الۡعِلۡمِ مِنۡ وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ وَبَيَانُ أَنَّهُ سَبَبُ الرِّفۡعَةِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَسَبَبُ صَلَاحِ الدِّينِ وَالدُّنۡيَا، فَيُوسُفُ ﷺ لَمۡ يَنَلۡ مَا نَالَ إِلَّا بِالۡعِلۡمِ، وَلِهٰذَا قَالَ لَهُ أَبُوهُ: ﴿وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ﴾ [يوسف: ٦]. وَامۡتَنَّ عَلَيۡهِ وَقۡتَ مَكۡثِهِ عِنۡدَ عَزِيزِ مِصۡرَ بِالتَّجۡرِبَةِ وَالۡعِلۡمِ، وَحَازَ مَقَامَ الۡإِحۡسَانِ بِالۡعِلۡمِ وَخَرَجَ مِنَ السِّجۡنِ فِي حَالِ الۡعِزِّ وَالۡكَرَامَةِ بِالۡعِلۡمِ، وَتَمَكَّنَ عِنۡدَ مَلِكِ مِصۡرَ وَاسۡتَخۡلَصَهُ لِنَفۡسِهِ حِينَ كَلَّمَهُ وَعَرَفَ مَا عِنۡدَهُ مِنَ الۡعِلۡمِ، وَدَبَّرَ أَحۡوَالَ الۡخَلۡقِ فِي الۡمَمَالِكِ الۡمَصۡرِيَّةِ بِإِصۡلَاحِ دُنۡيَاهُمۡ، وَحُسۡنِ تَدۡبِيرِهِ فِي حِفۡظِ خَزَائِنِ الۡأَرۡضِ وَتَصۡرِيفِهَا وَتَوۡزِيعِهَا بِالۡعِلۡمِ، وَعِنۡدَ نِهَايَةِ أَمۡرِهِ تَوَسَّلَ إِلَى رَبِّهِ أَنۡ يَتَوَلَّاهُ فِي الدُّنۡيَا بِالۡعِلۡمِ، حَيۡثُ قَالَ: ﴿رَبِّ قَدۡ ءَاتَيۡتَنِى مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِى مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسۡلِمًا وَأَلۡحِقۡنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ﴾ [يوسف: ١٠١]، فَفَضَائِلُ الۡعِلۡمِ وَثَمَرَاتُهُ الۡجَلِيلَةُ الۡعَاجِلَةُ وَالۡآجِلَةُ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحۡصَى.

Di dalam sela-sela kisah ini terdapat keutamaan ilmu dari berbagai sisi, serta penjelasan bahwa ilmu merupakan sebab tingginya derajat di dunia dan akhirat, juga sebab kebaikan agama dan dunia. Nabi Yusuf—‘alaihis-salam—tidaklah mencapai apa yang beliau raih melainkan dengan ilmu. Oleh karena itu ayahnya berkata kepadanya, “Dan demikianlah Rabmu memilihmu dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi.” (QS Yusuf: 6).

Allah juga menganugerahkan nikmat kepadanya sewaktu tinggal di rumah Pembesar Mesir berupa pengalaman dan ilmu, beliau meraih tingkatan ihsan dengan ilmu, keluar dari penjara dalam keadaan mulia dan terhormat dengan ilmu, serta memperoleh kedudukan di sisi Raja Mesir yang memilih beliau secara khusus untuk dirinya tatkala bercakap-cakap dengannya dan mengetahui ilmu yang dimilikinya. Beliau pun mengurus keadaan masyarakat di wilayah kerajaan Mesir dengan memperbaiki urusan dunia mereka melalui pengurusan dan pengaturan yang baik dalam menjaga perbendaharaan bumi, pengelolaan, dan pembagiannya dengan ilmu. Dan di akhir urusannya, beliau bertawasul kepada Rabnya agar mengurusnya di dunia dengan ilmu, saat beliau berkata, “Ya Rabku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi. (Ya Rab) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS Yusuf: 101). Jadi, keutamaan-keutamaan ilmu serta buahnya yang agung di dunia maupun akhirat tidak dapat dihitung dan terhingga.

وَفِيهَا: أَنَّ شِفَاءَ الۡأَمۡرَاضِ كَمَا تَكُونُ بِالۡأَدۡوِيَةِ الۡحِسِّيَّةِ تَكُونُ بِأَسۡبَابٍ رَبَّانِيَّةٍ، بَلۡ يَحۡصُلُ بِهٰذَا النَّوۡعِ مِنَ أَنۡوَاعِ الشِّفَا مَا لَا يَحۡصُلُ بِغَيۡرِهِ، فَيَعۡقُوبُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ قَدِ ابۡيَضَّتۡ عَيۡنَاهُ مِنَ الۡحُزۡنِ وَذَهَبَ بَصَرُهُ فَجَعَلَ اللهُ شِفَاءَهُ وَإِبۡصَارَهُ بِقَمِيصِ يُوسُفَ حِينَ أَلۡقَاهُ عَلَى وَجۡهِهِ فَارۡتَدَّ بَصِيرًا لِمَا كَانَ فِيهِ مِنۡ رَائِحَةِ يُوسُفَ، الَّذِي كَانَ دَاءُ عَيۡنَيۡهِ مِنۡ حُزۡنِهِ عَلَيۡهِ، فَصَارَ شِفَاؤُهُ الۡوَحِيدُ مَعَ لُطۡفِ اللهِ فِي قَمِيصِ جَسَدِهِ.

Kisah ini mengandung faedah bahwa kesembuhan dari berbagai penyakit, sebagaimana dapat terjadi dengan obat-obatan fisik, juga dapat terjadi melalui sebab-sebab rabani (keajaiban dari Allah). Bahkan dari jenis kesembuhan ini dapat diraih apa yang tidak mampu dicapai oleh sebab lainnya. Nabi Yakub—‘alaihis-salam—telah memutih kedua matanya karena kesedihan dan hilang penglihatannya. Maka Allah menjadikan kesembuhannya dan pulihnya penglihatannya melalui pakaian Yusuf tatkala diusapkan ke wajahnya, sehingga seketika penglihatannya pulih kembali. Hal itu karena aroma Yusuf yang terdapat pada baju tersebut, yang mana penyakit matanya bermula dari kesedihan mendalam atasnya; maka kesembuhannya satu-satunya—beserta kelembutan Allah—berada pada baju yang pernah dikenakan tubuh Yusuf.

وَمَنۡ قَالَ: إِنَّ الۡقَمِيصَ مِنَ الۡجَنَّةِ فَلَيۡسَ عِنۡدَهُ بِذٰلِكَ دَلِيلٌ، وَاللَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَنۡ يَشۡفِيَهُ مِنۡ دُونِ سَبَبٍ، وَلَكِنَّهُ حَكِيمٌ جَعَلَ الۡأُمُورَ تَجۡرِي بِأَسۡبَابٍ وَنِظَامَاتٍ قَدۡ تَهۡتَدِي الۡعُقُولُ إِلَى مَعۡرِفَتِهَا وَقَدۡ لَا تَهۡتَدِي، وَنَظِيرُ ذٰلِكَ أَيُّوبُ ﷺ وَصَلَ بِهِ الۡمَرَضُ وَالضُّرُّ إِلَى حَالَةٍ تَعَذَّرَ مِنۡهَا الشِّفَاءُ وَأَعۡيَتِ الۡأَطِبَّاءَ، فَحِينَ أَرَادَ اللهُ شِفَاءَهُ أَمَرَهُ أَنۡ يَرۡكُضَ بِرِجۡلِهِ الۡأَرۡضَ فَأَنۡبَعَ لَهُ عَيۡنًا بَارِدَةً وَأَمَرَهُ أَنۡ يَشۡرَبَ مِنۡهَا وَيَغۡتَسِلَ، فَأَذۡهَبَ اللهُ مَا فِي بَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ مِنۡ هٰذَا الضَّرَرِ، وَعَادَ كَأَحۡسَنِ مَا أَنۡتَ رَاءٍ، قَالَ تَعَالَى: ﴿ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَ ۖ هَٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ﴾ [ص: ٤٢].

Barang siapa yang mengatakan bahwa baju gamis tersebut berasal dari janah, ia tidak memiliki dalil atas hal itu. Allah Maha Kuasa untuk menyembuhkannya tanpa sebab sama sekali, namun Dia Maha Bijaksana yang menjadikan segala urusan berjalan menurut sebab-sebab dan keteraturan tertentu. Akal manusia terkadang mampu memahaminya dan terkadang tidak.

Serupa dengan hal ini adalah Nabi Ayub—‘alaihis-salam—; penyakit dan penderitaan yang menimpanya telah mencapai kondisi yang mustahil disembuhkan dan membuat para tabib berputus asa. Tatkala Allah menghendaki kesembuhannya, Dia memerintahkannya untuk mengentakkan kakinya ke tanah, lalu Allah memancarkan untuknya sumber air yang sejuk, dan memerintahkannya untuk meminum serta mandi darinya. Kemudian Allah menghilangkan penderitaan tersebut baik dari batin maupun lahirnya, dan beliau kembali sehat dalam kondisi yang paling indah. Allah taala berfirman: “Entakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS Sad: 42).

فَهُوَ تَعَالَى يَشۡفِي الۡعِبَادَ بِأَدۡوِيَةٍ وَأَسۡبَابٍ حِسِّيَّةٍ وَبِأَسۡبَابٍ رَبَّانِيَّةٍ مَعۡنَوِيَّةٍ: ﴿وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ﴾ [الأنعام: ١٧]، كَمَا أَنَّهُ تَعَالَى يُوجِدُ الۡأَشۡيَاءَ بِأَسۡبَابٍ حِسِّيَّةٍ مَعۡلُومَةٍ وَبِأَسۡبَابٍ رَبَّانِيَّةٍ لَا تَهۡتَدِي الۡعُقُولُ إِلَيۡهَا، كَمَا فِي مُعۡجِزَاتِ الۡأَنۡبِيَاءِ وَكَرَامَاتِ الۡأَوۡلِيَاءِ، وَآيَاتِهِ النَّفۡسِيَّةِ وَالۡكَوۡنِيَّةِ، وَهُوَ الۡمَحۡمُودُ عَلَى هٰذَا وَعَلَى هٰذَا.

Maka Allah taala menyembuhkan hamba-hamba-Nya melalui obat-obatan dan sebab-sebab fisik, maupun melalui sebab-sebab rabani yang bersifat non-fisik: “Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (QS Al-An’am: 17).

Sebagaimana Dia menciptakan segala sesuatu melalui sebab-sebab fisik yang diketahui, Dia juga menciptakannya melalui sebab-sebab rabani yang tidak terjangkau oleh akal; seperti yang terjadi pada mukjizat para nabi, karamah para wali, serta tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri manusia dan alam semesta. Dan Dia-lah Yang Maha Terpuji atas ini semua.

وَمِنۡهَا: جَوَازُ سُؤَالِ الۡخَلۡقِ خُصُوصًا الۡمُلُوكَ عِنۡدَ الضَّرُورَةِ لِقَوۡلِ إِخۡوَةِ يُوسُفَ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٍ مُّزۡجَىٰةٍ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِى ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ﴾ [يوسف: ٨٨]، فَإِنَّهُمۡ سَأَلُوا الۡمُحَابَاةَ فِي الۡمُعَامَلَةِ وَالصَّدَقَةَ بِدُونِ عِوَضٍ، وَإِنَّمَا قُلۡتُ: خُصُوصًا الۡمُلُوكَ، [لِأَنَّهُمۡ] لَا يُسۡأَلُونَ مِنۡ أَمۡوَالِهِمُ الۡخَاصَّةِ، وَإِنَّمَا يُسۡأَلُونَ مِنۡ بَيۡتِ الۡمَالِ، الَّذِي هُوَ لِلۡمَصَالِحِ الۡعُمُومِيَّةِ، وَأَهَمُّ الۡمَصَالِحِ دَفۡعُ ضَرُورَةِ الۡمُضۡطَرِّينَ.

Di antara faedahnya: Kebolehan meminta bantuan kepada sesama manusia, khususnya kepada para penguasa dalam keadaan darurat, berdasarkan perkataan saudara-saudara Yusuf: “Wahai Pembesar, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf: 88). Karena sesungguhnya mereka meminta keringanan dalam transaksi dagang dan meminta sedekah tanpa imbalan. Hanya saja aku (penulis) katakan, “khususnya para penguasa”, (karena mereka) tidaklah dimintai harta pribadi mereka, melainkan dimintai harta dari baitulmal yang ditujukan untuk kemaslahatan umum. Dan kemaslahatan yang paling utama adalah menanggulangi keadaan darurat orang-orang yang terdesak.

وَمِنۡ فَوَائِدِ الۡقِصَّةِ: أَنَّ الۡجَهۡلَ كَمَا يُطۡلَقُ عَلَى عَدَمِ الۡعِلۡمِ فَإِنَّهُ يُطۡلَقُ عَلَى عَدَمِ الۡحِلۡمِ وَعَلَى ارۡتِكَابِ الذَّنۡبِ، لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّى كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ﴾ [يوسف: ٣٣]، وَأَمَّا قَوۡلُهُ: ﴿هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ﴾ [يوسف: ٨٩] لَيۡسَ الۡمَعۡنَى فِي ذٰلِكَ عَدَمَ الۡعِلۡمِ، وَإِنَّمَا هُوَ عَدَمُ الۡعَمَلِ بِهِ وَاقۡتِحَامُ الذُّنُوبِ، وَمِنۡهُ قَوۡلُ مُوسَى ﷺ: ﴿أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ﴾ [البقرة: ٦٧]، وَقَوۡلُهُ: ﴿إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ﴾ [النساء: ١٧]، وَكُلُّ مَنۡ عَصَى اللهَ فَهُوَ جَاهِلٌ بِاعۡتِبَارِ عَدَمِ الۡعَمَلِ بِالۡعِلۡمِ، لِأَنَّ الۡعِلۡمَ الۡحَقِيقِيَّ مَا زَالَ بِهِ الۡجَهۡلُ وَأَوۡجَبَ الۡعَمَلَ.

Di antara faedah dari kisah ini: Istilah kebodohan (al-jahl), sebagaimana digunakan untuk menunjukkan ketiadaan ilmu, juga digunakan untuk menunjukkan ketiadaan kesantunan (al-hilm) serta pelanggaran berupa perbuatan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah taala: “Dan jika tidak Engkau palingkan tipu daya mereka dariku, tentu aku akan cenderung kepada mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf: 33). Adapun firman-Nya: “Apakah kalian tahu (kejelekan) apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu masih bodoh?” (QS Yusuf: 89), maknanya di situ bukanlah tidak memiliki ilmu, melainkan tidak mengamalkan ilmu tersebut dan nekat menerjang dosa-dosa.

Di antaranya pula ucapan Nabi Musa—‘alaihis-salam—: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al-Baqarah: 67), serta firman-Nya: “Sesungguhnya penerimaan tobat oleh Allah hanya bagi orang-orang yang melakukan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka bertobat dengan segera.” (QS An-Nisa’: 17).

Jadi, setiap orang yang bermaksiat kepada Allah adalah orang yang bodoh ditinjau dari sisi tidak mengamalkan ilmunya; karena ilmu yang hakiki adalah ilmu yang menghilangkan kebodohan serta mendorong terjadinya amal perbuatan.

وَمِنۡهَا: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلِمَن جَآءَ بِهِۦ حِمۡلُ بَعِيرٍ وَأَنَا۠ بِهِۦ زَعِيمٌ﴾ [يوسف: ٧٢]، اسۡتُدِلَّ بِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَبۡوَابٍ مِنۡ أَبۡوَابِ الۡعِلۡمِ: بَابِ الۡجِعَالَةِ، وَبَابِ الضَّمَانِ، وَبَابِ الۡكَفَالَةِ، لِأَنَّ قَوۡلَهُ: ﴿وَلِمَن جَآءَ بِهِۦ حِمۡلُ بَعِيرٍ﴾، مِنۡ نَوۡعِ الۡجِعَالَةِ، وَهُوَ أَنۡ يَجۡعَلَ شَيۡئًا مَعۡلُومًا أَوۡ مُقَارِبًا لِلۡمَعۡلُومِ كَحِمۡلِ الۡبَعِيرِ، لِأَنَّهُ مُتَعَارَفٌ لِمَنۡ يَعۡمَلُ لَهُ عَمَلًا مَعۡلُومًا وَعَمَلًا مَجۡهُولًا، وَهِيَ جَائِزَةٌ لِمَا فِيهَا مِنۡ مَصۡلَحَةِ الۡجَاعِلِ وَالۡعَامِلِ، وَقَوۡلُهُ: ﴿وَأَنَا۠ بِهِۦ زَعِيمٌ﴾، أَيۡ: ضَامِنٌ وَكَفِيلٌ، وَهِيَ مِنۡ عُقُودِ التَّوۡثِقَةِ بِالۡحُقُوقِ الَّتِي يَتِمُّ بِهَا تَوۡسِيعُ الۡمُعَامَلَاتِ وَإِصۡلَاحُهَا.

Di antara faedahnya: Firman Allah taala: “Dan barang siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) muatan unta, dan aku menjaminnya.” (QS Yusuf: 72). Ayat ini dijadikan dalil untuk tiga bab dalam disiplin ilmu fikih: bab ji’alah (sayembara), bab dhaman (penjaminan harta), dan bab kafalah (penanggungan).

Hal itu karena firman-Nya: “Dan barang siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) muatan unta” termasuk jenis ji’alah, yaitu menetapkan imbalan yang jelas atau mendekati jelas seperti muatan unta—karena hal tersebut sudah dikenal umum—bagi orang yang melakukan suatu pekerjaan untuknya, baik pekerjaan yang terukur maupun belum terukur. Ji’alah ini hukumnya boleh karena mengandung kemaslahatan bagi pembuat sayembara maupun pekerja. Sedangkan firman-Nya: “dan aku menjaminnya”, (za’im) artinya: penjamin (dhamin) dan penanggung (kafil). Ini termasuk akad penjamin hak, yang berfungsi memperluas dan memperlancar berbagai transaksi bisnis.

وَمِنۡهَا: أَنَّ الۡعَمَلَ بِالشَّرِيعَةِ فِيهِ إِصۡلَاحُ الۡأَرۡضِ وَالۡبِلَادِ وَاسۡتِقَامَةُ الۡأُمُورِ، وَالۡعَمَلُ بِالۡمَعَاصِي مِنۡ سَرِقَةٍ وَغَيۡرِهَا فِيهِ فَسَادٌ، ذٰلِكَ لِقَوۡلِهِمۡ: ﴿تَٱللَّهِ لَقَدۡ عَلِمۡتُم مَّا جِئۡنَا لِنُفۡسِدَ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا كُنَّا سَٰرِقِينَ﴾ [يوسف: ٧٣]، وَكَمۡ فِي الۡقُرۡآنِ مِنَ التَّصۡرِيحِ أَنَّ الۡعَمَلَ بِالۡمَعَاصِي وَمُخَالَفَةَ الرُّسُلِ فَسَادٌ لِلۡأَرۡضِ، وَمُتَابَعَةَ الرُّسُلِ هُوَ الصَّلَاحُ الۡمُطۡلَقُ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنۡيَا.

Di antara faedahnya: Dalam pengamalan syariat terdapat upaya perbaikan bagi bumi dan negeri serta kelurusan berbagai urusan, sedangkan melakukan maksiat seperti mencuri dan selainnya mengandung kerusakan. Hal itu berdasarkan perkataan mereka: “Demi Allah sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah orang-orang yang mencuri.” (QS Yusuf: 73). Betapa banyak dalam Al-Qur’an penegasan bahwa perbuatan maksiat dan menyelisihi para rasul merupakan perusakan di bumi, sedangkan mengikuti para rasul adalah kebaikan mutlak bagi agama dan dunia.

وَمِنۡهَا: الدَّلَالَةُ عَلَى الۡأَصۡلِ الۡكَبِيرِ الَّذِي أَعَادَهُ اللهُ وَأَبۡدَاهُ فِي كِتَابِهِ، أَنَّ لِكُلِّ نَفۡسٍ مَا كَسَبَتۡ مِنَ الۡخَيۡرِ وَالثَّوَابِ، وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡ مِنَ الشَّرِّ وَالۡعِقَابِ، وَأَنَّهُ لَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزۡرَ أُخۡرَى، لِقَوۡلِهِ: ﴿مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأۡخُذَ إِلَّا مَن وَجَدۡنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ إِنَّآ إِذًا لَّظَٰلِمُونَ﴾ [يوسف: ٧٩].

Di antara faedahnya: Petunjuk atas kaidah besar yang Allah sebutkan berulang-ulang di dalam Kitab-Nya, bahwasanya setiap jiwa memperoleh (balasan) dari apa yang diusahakannya berupa kebaikan dan pahala, dan menanggung (akibat) dari apa yang diusahakannya berupa keburukan dan siksa, serta bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, berdasarkan perkataan Yusuf, “Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seorang, kecuali orang yang kami temukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim.” (QS Yusuf: 79).

وَمِنۡهَا: الۡحَثُّ عَلَى فِعۡلِ الۡأَسۡبَابِ الۡجَالِبَةِ لِلۡخَيۡرَاتِ وَالۡحَافِظَةِ مِنَ الۡكَرِيهَاتِ، وَفِي الۡقِصَّةِ مَوَاضِعُ تَدُلُّ عَلَى هٰذَا الۡأَصۡلِ الۡكَبِيرِ، وَتَمَامُ ذٰلِكَ أَنۡ يَقُومَ بِالۡأَسۡبَابِ مُسۡتَعِينًا بِاللهِ وَوَاثِقًا بِهِ، وَقَدۡ عَمِلَ يَعۡقُوبُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ الۡأَسۡبَابَ الَّتِي يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا فِي اسۡتِحۡفَاظِ أَوۡلَادِهِ لِيُوسُفَ ثُمَّ لِأَخِيهِ حِينَ أَرۡسَلَهُ مَعَهُمۡ، وَقَالَ مَعَ ذٰلِكَ: ﴿فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظًا ۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ﴾ [يوسف: ٦٤].

Di antara faedahnya: Dorongan untuk melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan dan menjaga dari hal-hal yang tidak disukai. Di dalam kisah ini terdapat banyak tempat yang menunjukkan kaidah besar ini. Dan kesempurnaan dari hal tersebut adalah seseorang menjalankan ikhtiar dengan tetap memohon pertolongan kepada Allah dan percaya kepada-Nya. Nabi Yakub—‘alaihis-salam—telah berikhtiar semampunya untuk menjaga anak-anaknya—baik ketika melepas Yusuf maupun saat menyuruh adiknya (Bunyamin) pergi bersama mereka. Namun di samping berikhtiar, beliau berkata, “Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS Yusuf: 64).

وَكَذٰلِكَ عَلَى الۡعَبۡدِ إِذَا هَمَّتۡهُ الۡمَصَائِبُ وَحَلَّتۡ بِهِ النَّكََبَاتُ عَلَيۡهِ أَنۡ يَصۡبِرَ وَيَسۡتَعِينَ بِاللهِ عَلَى ذٰلِكَ، قَالَ يَعۡقُوبُ ﷺ حِينَ عَمِلَ إِخۡوَةُ يُوسُفَ مَا عَمِلُوا بِيُوسُفَ وَحَلَّتۡ بِهِ الۡمَصِيبَةُ الۡكُبۡرَى: ﴿وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ﴾ [يوسف: ١٨]، وَذٰلِكَ أَنَّ الصَّبۡرَ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالصَّبۡرَ عَنِ الۡمُحَرَّمَاتِ وَالصَّبۡرَ عَلَى الۡمُصِيبَاتِ لَا يَتِمُّ وَيَنۡجَحُ صَاحِبُهُ إِلَّا بِالِاسۡتِعَانَةِ بِاللهِ وَأَلَّا يَتَّكِلَ الۡعَبۡدُ عَلَى نَفۡسِهِ، قَالَ يُوسُفُ: ﴿وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّى كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ﴾ [يوسف: ٣٣].

Demikian pula bagi seorang hamba, apabila ditimpa musibah dan dilanda kesulitan, wajib baginya untuk bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah atas hal tersebut. Nabi Yakub—‘alaihis-salam—berkata tatkala saudara-saudara Yusuf melakukan perbuatan mereka terhadap Yusuf dan menimpa beliau musibah yang sangat besar, “Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.” (QS Yusuf: 18).

Hal itu karena kesabaran dalam ketaatan, kesabaran dari hal-hal yang diharamkan, dan kesabaran atas musibah tidak akan sempurna dan berhasil pelakunya melainkan dengan memohon pertolongan kepada Allah serta tidak bersandar pada dirinya sendiri. Nabi Yusuf berkata, “Dan jika tidak Engkau palingkan tipu daya mereka dariku, tentu aku akan cenderung kepada mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf: 33).

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *