الۡفَصۡلُ الۡحَادِيَ عَشَرَ
Bab Kesebelas
إِنَّمَا لَمۡ يُصَدِّقۡ يَعۡقُوبُ بَنِيهِ حِينَ قَالُوا: أَكَلَهُ الذِّئۡبُ، وَعَمِلُوا تِلۡكَ القَرَائِنَ المُبَرِّرَةَ لِقَوۡلِهِمۡ؛ لِأَنَّ المَعۡلُومَ لَا يُعَارِضُهُ الشَّكُّ وَالوَهۡمُ، فَإِنَّهُ قَدۡ عَلِمَ بِرُؤۡيَا يُوسُفَ وَرُبَّمَا بِغَيۡرِهَا مَا يَئُولُ إِلَيۡهِ حَالُ يُوسُفَ مِنۡ تَمَامِ النِّعۡمَةِ الَّتِي تَشۡمَلُهُ وَتَشۡمَلُ آلَ يَعۡقُوبَ.
Sesungguhnya Yakub tidak memercayai anak-anaknya ketika mereka berkata, “Ia telah dimakan serigala,” meskipun mereka membawa bukti-bukti penguat yang mendukung ucapan mereka; hal itu karena sesuatu yang sudah diketahui pasti tidak dapat digoyahkan oleh keraguan maupun persangkaan. Sebab, Yakub telah mengetahui melalui mimpi Yusuf dan mungkin juga melalui petunjuk lainnya tentang muara akhir dari keadaan Yusuf, yaitu kesempurnaan nikmat yang akan meliputi dirinya dan meliputi keluarga Yakub.
وَفِيهَا أَيۡضًا أَنَّهُ لَا يَنۡبَغِي أَنۡ يُغۡتَرَّ بِمُجَرَّدِ صُورَةِ الۡقَرَائِنِ، وَلَمَّا أَتَتۡ إِلَى شُرَيۡحٍ امۡرَأَةٌ مَعَ خَصۡمِهَا أَرۡسَلَتۡ عَيۡنَيۡهَا بِالبُكَاءِ، قَالَ لِشُرَيۡحٍ بَعۡضُ الۡحَاضِرِينَ: مَا أَظُنُّ الۡبَائِسَةَ إِلَّا مَظۡلُومَةً، فَقَالَ شُرَيۡحٌ: أَلَمۡ تَسۡمَعۡ قِصَّةَ إِخۡوَةِ يُوسُفَ إِذۡ أَتَوۡا أَبَاهُمۡ عِشَاءً يَبۡكُونَ، هَلۡ كَانُوا مَظۡلُومِينَ أَوۡ ظَالِمِينَ؟! فَكَمۡ حَصَلَ بِمِثۡلِ هٰذِهِ التَّمۡوِيهَاتِ مِنَ الِاغۡتِرَارِ وَقَلۡبِ الۡحَقَائِقِ. لِهٰذَا كَانَ الۡأَذۡكِيَاءُ يَجۡعَلُونَ كُلَّ احۡتِمَالٍ عَلَى بَالِهِمۡ وَيَنۡظُرُونَ إِلَى الۡأُمُورِ مِنۡ جَمِيعِ جِهَاتِهَا وَنَوَاحِيهَا.
Di dalam kisah ini juga terdapat pelajaran bahwa seseorang tidak boleh terkecoh hanya oleh tampilan luar dari indikasi-indikasi. Ketika seorang wanita bersama lawannya datang menghadap Hakim Syuraih sambil mengucurkan air mata menangis, salah seorang yang hadir berkata kepada Syuraih, “Aku yakin wanita malang ini adalah pihak yang dizalimi.”
Syuraih menjawab, “Apakah kamu tidak mendengar kisah saudara-saudara Yusuf ketika mereka datang kepada ayah mereka pada malam hari sambil menangis? Apakah mereka pihak yang dizalimi atau justru orang-orang yang zalim?!”
Betapa banyak penyesatan semacam ini yang menyebabkan keterperdayaan dan pemutarbalikan fakta. Oleh karena itu, orang-orang yang cerdas selalu memperhitungkan setiap kemungkinan dan memandang urusan dari segala sudut dan sisinya.
وَتَدُلُّ الۡقِصَّةُ عَلَى أَنَّ الۡوِلَايَاتِ الۡكِبَارَ وَالصِّغَارَ لَا بُدَّ لِمُتَوَلِّيهَا أَنۡ يَكُونَ كُفۡؤًا فِي قُوَّتِهِ وَأَمَانَتِهِ وَعِلۡمِهِ بِأُمُورِ الۡوِلَايَةِ؛ لِأَنَّ الۡمَلِكَ لَمَّا كَلَّمَ يُوسُفَ وَرَأَى مِنۡ عِلۡمِهِ وَخِبۡرَتِهِ بِالۡأُمُورِ وَحُسۡنِ نَظَرِهِ اسۡتَخۡلَصَهُ لِنَفۡسِهِ، وَقَالَ: ﴿إِنَّكَ ٱلۡيَوۡمَ لَدَيۡنَا مَكِينٌ أَمِينٌ﴾ [يوسف: ٥٤]، وَقَالَ يُوسُفُ: ﴿ٱجۡعَلۡنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ﴾ [يوسف: ٥٥]، فَعَلَّلَ ذٰلِكَ بِكَمَالِ حِفۡظِهِ لِمَا تَحۡتَ يَدِهِ وَتَصَرُّفِهِ، وَكَمَالِ عِلۡمِهِ بِوُجُوهِ الۡمُسۡتَخۡرَجِ وَالۡمُنۡصَرِفِ وَحُسۡنِ التَّدۡبِيرِ، وَلَيۡسَ فِي هٰذَا طَلَبُ الۡوِلَايَةِ ابۡتِدَاءً، كَمَا قَالَهُ كَثِيرٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، بَلۡ إِنَّهُ لَمَّا رَأَى الۡمَلِكَ اسۡتَخۡلَصَهُ وَمَكَّنَهُ مِنَ الۡأُمُورِ، وَأَنَّ الۡأُمُورَ كُلَّهَا تَحۡتَ طَوۡعِهِ وَتَدۡبِيرِهِ، طَلَبَ مِنَ الۡمَلِكِ تَوَلِّي خَزَائِنِ الۡأَرۡضِ فَقَطۡ لِأَنَّهَا أَهَمُّ، وَلِأَنَّهُ يَعۡلَمُ أَنَّ وِلَايَتَهُ لَهَا أَنۡفَعُ لِلۡمَلِكِ وَلِلۡخَلۡقِ، وَهٰذَا مِنۡ كَمَالِ نُصۡحِهِ وَصِدۡقِ نَظَرِهِ.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa jabatan pimpinan, baik yang besar maupun yang kecil, mengharuskan pemegang jabatannya untuk memiliki kompetensi dalam hal kekuatan, amanah, serta pengetahuannya tentang urusan jabatan tersebut. Sebab, tatkala raja berbicara dengan Yusuf dan melihat ilmu, pengalaman, serta ketajaman pandangannya dalam berbagai urusan, raja menjadikannya orang kepercayaan pribadi dan berkata, “Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami.” (QS Yusuf: 54).
Yusuf berkata, “Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf: 55).
Beliau beralasan bahwa beliau memiliki keahlian menjaga apa yang berada di bawah kewenangannya dan memiliki kesempurnaan ilmu tentang tata cara penerimaan dan pengeluaran harta serta baik dalam pengelolaannya. Hal ini bukanlah tindakan meminta jabatan sejak awal sebagaimana dikatakan oleh banyak ahli ilmu. Namun, tatkala beliau melihat raja telah menjadikannya orang kepercayaan dan memberinya wewenang mengatur urusan-urusan, serta seluruh urusan berada di bawah kendali dan pengaturannya, beliau meminta kepada raja untuk mengurusi perbendaharaan bumi saja; karena hal itu adalah yang paling krusial, dan karena beliau tahu bahwa kepemimpinannya atas sektor tersebut paling bermanfaat bagi raja maupun masyarakat luas. Hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan ketulusan niat dan ketepatan pertimbangannya.
![]()
Be the first to leave a comment