حكم الركوب في السعي والطواف بغير حاجةٍ
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
Pertanyaan:
مَن ركب حال السعي والطواف من غير حاجةٍ ماذا عليه؟
Apa saja yang diwajibkan bagi orang yang menaiki kendaraan pada saat sai dan tawaf tanpa ada keperluan?
الجواب:
Jawaban:
الطواف صحيح، والسعي صحيح؛ لأنَّ النبي طاف وهو صحيح، أما حديث ابن عباسٍ أنه اشتكى فهو ضعيف، حديث ابن عباس أنه اشتكى فركب ضعيف، فيه يزيد بن أبي زياد، والصواب أنه ركب لدفع المشقَّة عن الناس؛ لئلا يتأذَّوا أو يُؤذوه.
Tawaf itu sah, dan sai itu sah, karena Nabi tawaf (berkendara) dalam keadaan sehat. Adapun hadis Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi sakit, hadis itu daif. Hadis Ibnu ‘Abbas1 (riwayat Abu Dawud nomor 1881) bahwa beliau sakit lalu berkendara adalah daif, karena di dalamnya terdapat rawi Yazid bin Abu Ziyad. Pendapat yang benar adalah bahwa beliau berkendara untuk menghindari gangguan dari orang-orang, agar mereka tidak tersakiti dan tidak menyakiti beliau.
س: الشخص العادي الذي يطوف راكبًا من غير سببٍ؟
Pertanyaan: Bagaimana dengan orang biasa yang tawaf berkendara tanpa sebab kebutuhan?
ج: يُعلَّم أن السنة الطواف ماشيًا.
وفيه من الفوائد: طهارة البعير، وأنَّ روثه طاهر، وبوله طاهر، البعير لا حرج فيه، ولكن إذا تيسر أن يطوف ماشيًا فهذا هو السنة كما طاف النبيُّ عليه الصلاة والسلام ماشيًا.
Jawaban: Dia diajari bahwa yang sunah adalah tawaf dengan berjalan kaki. Di antara faedah (hadis tentang tawafnya Nabi berkendara) adalah: kesucian unta, serta kesucian kotoran dan air kencingnya. Tidak mengapa tawaf menaiki unta, tetapi jika memungkinkan tawaf berjalan kaki, maka inilah yang sunah, sebagaimana Nabi ‘alaihish-shalatu was-salam tawaf dengan berjalan kaki.
Be the first to leave a comment