Monthly Archives Maret 2020

Keadaan Manusia ketika Tertimpa Musibah

16 Maret 2020
/ / /

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitab Syarh Riyadhush Shalihin berkata:

لأن الإنسان عند حلول المصيبة له أربع حالات:

Sesungguhnya ketika terjadi musibah, manusia menyikapinya dengan empat keadaan:

الحالة الأولي: أن يتسخط.

والحالة الثانية: أن يصبر.

والحالة الثالثة: أن يرضي.

والحالة الرابعة: أن يشكر.

  1. Marah,
  2. Sabar,
  3. Rida,
  4. Syukur.

هذه أربع حالات تكون للإنسان عندما يصاب بالمصيبة.

Empat keadaan ini terjadi pada manusia ketika ditimpa musibah.

أما الحال الأولي: أن يتسخط إما بقلبه، أو بلسانه، أو بجوارحه.

التسخط بالقلب أن يكون في قلبه شئ على ربه من السخط والشره على الله والعياذ بالله وما أشبه، ويشعر وكأن الله قد ظلمه بهذه المصيبة.

وأما السخط باللسان فأن يدعو بالويل والثبور، يا ويلاه ويا ثبوراه وأن يسب الدهر فيؤذي الله عز وجل وما أشبه ذلك.

وأما التسخط بالجوارح: مثل أن يلطم خده أو يصقع راسه أو ينتف شعره أو يشق ثوبه وما أشبه هذا.

هذه حال السخط حال الهلعين الذين حرموا مِنَ الثواب ولم ينجوا من المصيبة بل الذين اكتسبوا الإثم، فصار عندهم مصيبتان مصيبة في الدين بالسخط، ومصيبة في الدنيا بما أتاهم مما يؤلمهم.

Keadaan pertama: Dia menyikapinya dengan kemarahan, baik dengan hati, lisan, maupun anggota badan.

Marah dengan hati bisa berupa ada perasaan marah dan tidak terima kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari perasaan itu dan semacamnya. Dia juga merasa bahwa Allah telah menzaliminya dengan musibah itu.

Marah dengan lisan adalah dengan dia mengucapkan ungkapan kekecewaan, seperti: Sial! Celaka! Atau dia mencela masa sehingga dia menyakiti Allah. Atau ungkapan-ungkapan semisal itu.

Marah dengan anggota badan semisal menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya, merobek bajunya, atau perbuatan semacam itu.

Sikap marah ini adalah keadaan orang yang pesimis. Yaitu orang-orang yang diharamkan dari pahala dan tidak lulus dari ujian musibah. Bahkan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan dosa. Akibatnya mereka mendapat dua musibah. Musibah dalam agama dengan sikap marah dan musibah di dunia berupa musibah yang menyakiti mereka.

أما الحال الثانية: فالصبر على المصيبة بأن يحبس نفسه، هو يكره المصيبة، ولا يحبها، ولا يحب أن وقعت، لكن يصبر نفسه؛ لا يتحدث باللسان بما يسخط الله، ولا يفعل بجوارحه ما يغضب الله، ولا يكون في قلبه شيء على الله أبدا، فهو صابر لكنه كاره لها.

Adapun keadaan kedua adalah sabar menghadapi musibah. Yaitu dengan mengekang jiwanya. Dia membenci musibah itu dan tidak mencintainya. Dia tidak mencintai musibah itu terjadi, namun dia menyabarkan dirinya. Dia tidak mengucapkan dengan lisannya ucapan yang dimurkai oleh Allah. Dia tidak berbuat dengan anggota badannya perbuatan yang dimurkai oleh Allah. Tidak pula ada di hatinya hal yang mengganjal terhadap Allah selama-lamanya. Jadi dia adalah orang yang sabar akan tetapi membenci musibah itu.

والحال الثالثة: الرضا بأن يكون الإنسان منشرحا صدره بهذه المصيبة ويرضى بها رضاء تامًا وكأنه لم يصب بها.

Keadaan ketiga adalah rida. Yaitu seseorang merasa lapang dada dengan musibah ini, rida dengan keridaan yang sempurna, dan seakan-akan dia tidak ditimpa musibah tersebut.

والحال الرابعة: الشكر فيشكر الله عليها وكان الرسول ﷺ إذا رأى ما يكره قال الحمد لله على كل حال.

فيشكر الله من أجل أن الله يرتب له من الثواب على هذه المصيبة أكثر مما أصابه.

Keadaan empat adalah bersyukur. Dia bersyukur kepada Allah atas musibah itu. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengucapkan, “Segala puji bagi Allah pada setiap keadaan.”

Jadi seseorang hendaknya bersyukur kepada Allah karena Allah akan membalasnya dengan pahala atas musibah ini lebih banyak daripada (kerugian akibat) musibah yang menimpanya.

Read More

Tingkatan Iman kepada Takdir

11 Maret 2020
/ / /

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (736 – 795H) di dalam kitab Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam fi Syarh Khamsina Haditsan min Jawami’ Al-Kalim (halaman 39) berkata:

وَالۡإِيمَانُ بِالۡقَدَرِ عَلَى دَرَجَتَيۡنِ:

Iman kepada takdir memiliki dua tingkatan:

إِحۡدَاهُمَا: الۡإِيمَانُ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى سَبَقَ فِي عِلۡمِهِ مَا يَعۡمَلُهُ الۡعِبَادُ مِنۡ خَيۡرٍ وَشَرٍّ وَطَاعَةٍ وَمَعۡصِيَةٍ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ وَإِيجَادِهِمۡ وَمَنۡ هُوَ مِنۡهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، وَمِنۡ أَهۡلِ النَّارِ، وَأَعَدَّ لَهُمُ الثَّوَابَ وَالۡعِقَابَ جَزَاءً لِأَعۡمَالِهِمۡ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ وَتَكۡوِينِهِمۡ، وَأَنَّهُ كَتَبَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُ وَأَحۡصَاهُ، وَأَنَّ أَعۡمَالَ الۡعِبَادِ تَجۡرِي عَلَى مَا سَبَقَ فِي عِلۡمِهِ وَكِتَابِهِ.

Pertama: Beriman bahwa Allah taala sudah sejak dahulu mengetahui apa yang akan dilakukan para hamba berupa kebaikan, kejelekan, ketaatan, atau kemaksiatan sebelum Dia menciptakan dan mengadakan mereka. (Allah juga sudah mengetahui sejak dahulu) siapa saja di antara mereka yang termasuk penghuni janah atau penghuni neraka. Allah telah menyiapkan untuk mereka pahala dan hukuman sebagai balasan amalan-amalan mereka sebelum menciptakan dan membentuk mereka. Juga beriman bahwa Allah telah menulis itu di sisi-Nya dan mencatatnya. Serta bahwa amalan para hamba berjalan sesuai dengan yang telah mendahului dalam ilmu-Nya dan catatan takdir-Nya.

وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ أَفۡعَالَ عِبَادِهِ كُلَّهَا مِنَ الۡكُفۡرِ وَالۡإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ وَالۡعِصۡيَانِ وَشَاءَهَا مِنۡهُمۡ، فَهَٰذِهِ الدَّرَجَةُ يُثۡبِتُهَا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَيُنۡكِرُهَا الۡقَدَرِيَّةُ، وَالدَّرَجَةُ الۡأُولَى أَثۡبَتَهَا كَثِيرٌ مِنَ الۡقَدَرِيَّةِ وَنَفَاهَا غُلَاتُهُمۡ كَمَعۡبَدٍ الۡجُهَنِيِّ الَّذِي سُئِلَ ابۡنُ عُمَرَ عَنۡ مَقَالَتِهِ وَكَعَمۡرِو بۡنِ عُبَيۡدٍ وَغَيۡرِهِ.

Kedua: Bahwa Allah taala menciptakan seluruh perbuatan-perbuatan para hamba-hamba-Nya, berupa kekufuran, keimanan, ketaatan, dan kemaksiatan; dan Allah menghendakinya dari mereka.

Tingkatan ini ditetapkan oleh ahli sunah waljamaah dan diingkari oleh Qadariyyah. Sedangkan tingkatan pertama ditetapkan oleh sebagian besar Qadariyyah dan dinafikan oleh kalangan ekstremisnya mereka, seperti Ma’bad Al-Juhani—yaitu orang yang pendapatnya ditanyakan kepada Ibnu ‘Umar—, ‘Amr bin ‘Ubaid, dan selainnya.

وَقَدۡ قَالَ كَثِيرٌ مِنۡ أَئِمَّةِ السَّلَفِ نَاظِرُوا الۡقَدَرِيَّةَ بِالۡعِلۡمِ، فَإِنۡ أَقَرُّوا بِهِ خُصِمُوا وَإِنۡ جَحَدُوهُ فَقَدۡ كَفَرُوا، يُرِيدُونَ أَنَّ مَنۡ أَنۡكَرَ الۡعِلۡمَ الۡقَدِيمَ السَّابِقَ بِأَفۡعَالِ الۡعِبَادِ، وَأَنَّ اللهَ قَسَمَهُمۡ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ إِلَى شَقِيٍّ وَسَعِيدٍ وَكَتَبَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُ فِي كِتَابٍ حَفِيظٍ فَقَدۡ كَذَّبَ بِالۡقُرۡآنِ فَيَكۡفُرُ بِذٰلِكَ، وَإِنۡ أَقَرُّوا بِذٰلِكَ وَأَنۡكَرُوا أَنَّ اللهَ خَلَقَ أَفۡعَالَ عِبَادِهِ وَشَاءَهَا وَأَرَادَهَا مِنۡهُمۡ إِرَادَةً كَوۡنِيَّةً قَدَرِيَّةً فَقَدۡ خُصِمُوا، لِأَنَّ مَا أَقَرُّوا بِهِ حُجَّةً عَلَيۡهِمۡ فِيمَا أَنۡكَرُوهُ، وَفِي تَكۡفِيرِ هَٰؤُلَاءِ نِزَاعٌ مَشۡهُورٌ بَيۡنَ الۡعُلَمَاءِ. وَأَمَّا مَنۡ أَنۡكَرَ الۡعِلۡمَ الۡقَدِيمَ فَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَأَحۡمَدُ عَلَى تَكۡفِيرِهِ وَكَذٰلِكَ غَيۡرُهُمَا مِنۡ أَئِمَّةِ الۡإِسۡلَامِ.

Banyak dari para imam salaf telah berkata: Debatlah Qadariyyah dengan ilmu Allah. Apabila mereka menetapkannya, berarti mereka telah terbantah. Namun jika mereka menentangnya, maka mereka telah kafir.

Mereka inginkan bahwa siapa saja yang mengingkari:

  • ilmu Allah yang sudah sejak dahulu tentang perbuatan-perbuatan hamba,
  • Allah telah membagi mereka menjadi celaka dan bahagia sebelum menciptakan mereka,
  • Allah telah menulis itu di sisi-Nya di dalam kitab yang terjaga,

maka sungguh dia telah mendustakan Alquran sehingga dia menjadi kafir dengan itu.

Apabila mereka menetapkan hal itu, namun mengingkari bahwa Allah menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya, menghendakinya, dan menginginkan hal itu dari mereka sebagai suatu iradat kauniah yang telah ditakdirkan, maka mereka telah terbantah. Karena apa yang mereka telah tetapkan itu menjadi hujah terhadap mereka dalam hal yang mereka ingkari.

Dalam masalah pengafiran terhadap mereka ini ada perselisihan yang masyhur di antara para ulama. Adapun siapa saja yang mengingkari ilmu Allah yang sudah sejak dahulu, maka Asy-Syafi’i dan Ahmad menegaskan atas pengafirannya. Begitu pula selain mereka berdua dari para imam Islam.

Read More