ثُمَّ يُسَلِّمُ وَهُوَ جَالِسٌ مُبۡتَدِئًا عَنۡ يَمِينِهِ قَائِلًا: (السَّلَامُ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَةُ اللهِ) وَعَنۡ يَسَارِهِ كَذٰلِكَ، وَالِالۡتِفَاتُ سُنَّةٌ، وَيَكُونُ عَنۡ يَسَارِهِ أَكۡثَرَ بِحَيۡثُ يُرَى خَدُّهُ، وَيَجۡهَرُ إِمَامٌ بِالتَّسۡلِيمَةِ الۡأُولَى فَقَطۡ، وَيُسِرُّهُمَا غَيۡرُهُ، وَيُسَنُّ حَذۡفُهُ وَهُوَ عَدَمُ تَطۡوِيلِهِ، أَيۡ لَا يَمُدُّ بِهِ صَوۡتَهُ، وَيَنۡوِي بِهِ الۡخُرُوجَ مِنَ الصَّلَاةِ، وَيَنۡوِي أَيۡضًا السَّلَامَ عَلَى الۡحَفَظَةِ وَالۡحَاضِرِينَ.
Kemudian ia mengucapkan salam dalam keadaan duduk, dimulai ke arah kanannya seraya mengucapkan, “As-Salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh”, dan ke arah kirinya demikian pula. Menoleh adalah sunah, dan menoleh ke arah kirinya lebih banyak sehingga pipinya terlihat. Seorang imam bersuara lantang hanya pada salam yang pertama saja, sedangkan selain imam melirihkan suara pada kedua salam. Disunahkan pula hadzf (memendekkan bacaan) salam, yaitu tidak memanjangkannya, artinya tidak memanjangkan suaranya saat mengucapkan salam. Ia berniat dengan salam tersebut untuk keluar dari salat, dan berniat pula menyampaikan salam kepada para malaikat pencatat amalan dan jamaah yang hadir.
وَإِنۡ كَانَتِ الصَّلَاةُ أَكۡثَرَ مِنۡ رَكۡعَتَيۡنِ، نَهَضَ مُكَبِّرًا عَلَى صُدُورِ قَدَمَيۡهِ إِذَا فَرَغَ مِنَ التَّشَهُّدِ الۡأَوَّلِ، وَيَأۡتِي بِمَا بَقِيَ مِنۡ صَلَاتِهِ كَمَا سَبَقَ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَجۡهَرُ وَلَا يَقۡرَأُ شَيۡئًا بَعۡدَ الۡفَاتِحَةِ، فَإِنۡ فَعَلَ لَمۡ يُكۡرَهۡ.
Jika salat tersebut lebih dari dua rakaat, ia bangkit seraya bertakbir dengan bertumpu pada bagian depan kedua telapak kakinya apabila telah selesai dari tasyahud awal. Kemudian ia melaksanakan rakaat tersisa dari salatnya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, hanya saja ia tidak menyaringkan bacaan dan tidak membaca ayat apa pun setelah Al-Fatihah. Namun, jika ia tetap melakukannya, hal itu tidak dimakruhkan.
ثُمَّ يَجۡلِسُ فِي التَّشَهُّدِ الثَّانِي مُتَوَرِّكًا، يَفۡرِشُ رِجۡلَهُ الۡيُسۡرَى وَيَنۡصِبُ الۡيُمۡنَى وَيُخۡرِجُهُمَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَيَجۡعَلُ أَلۡيَتَهُ عَلَى الۡأَرۡضِ، فَيَأۡتِي بِالتَّشَهُّدِ الۡأَوَّلِ، ثُمَّ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ بِالدُّعَاءِ ثُمَّ يُسَلِّمُ.
Kemudian ia duduk pada tasyahud kedua secara tawaruk, yaitu dengan menggelar kaki kirinya, menegakkan kaki kanannya, serta mengeluarkan keduanya ke arah kanannya, dan menjadikan pantatnya menempel pada bumi. Lalu ia membaca tasyahud awal, kemudian membaca selawat kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, kemudian berdoa, lalu mengucapkan salam.
وَيَنۡحَرِفُ الۡإِمَامُ إِلَى الۡمَأۡمُومِينَ عَلَى يَمِينِهِ أَوۡ عَلَى شِمَالِهِ، وَلَا يُطِيلُ الۡإِمَامُ الۡجُلُوسَ بَعۡدَ السَّلَامِ مُسۡتَقۡبِلَ الۡقِبۡلَةِ، وَلَا يَنۡصَرِفُ الۡمَأۡمُومُ قَبۡلَهُ، لِقَوۡلِهِ ﷺ: (إِنِّي إِمَامُكُمۡ فَلَا تَسۡبِقُونِي بِالرُّكُوعِ، وَلَا بِالسُّجُودِ، وَلَا بِانۡصِرَافٍ).
Imam berbalik menghadap kepada para makmum, baik ke arah kanannya maupun ke arah kirinya, serta imam tidak berlama-lama duduk menghadap kiblat setelah salam. Makmum tidak boleh selesai salat (salam) sebelum imam, berdasarkan sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk, sujud, dan selesai dari salat.”
![]()