Adab Menguap

ismail  

آداب التثاؤب

🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال: الرسالة الثانية هي رسالة سبق وأن عرضنا بعضًا من أسئلتها في حلقة مضت وهي رسالة الأخت (ع. م. الخطيب) من الضفة الغربية بفلسطين، بعثت بهذه الرسالة وضمنتها عددًا كبيرًا من الأسئلة عرضنا بعضًا منها في حلقات مضت، وفي هذه الحلقة تعرض بعض الأسئلة، فتقول في سؤالها الأول: إذا غلب الإنسان التثاؤب في الصلاة، هل يسكت حتى يذهب التثاؤب أم يستمر في الذكر والقرآن؟

Pertanyaan: Pesan kedua berasal dari seorang saudari (‘A. M. Al-Khathib) dari Tepi Barat, Palestina. Kami telah menjawab beberapa pertanyaannya di episode sebelumnya. Beliau mengirimkan pesan ini yang berisi banyak pertanyaan, beberapa di antaranya telah kami bahas di episode sebelumnya. Dalam episode ini, kami akan mengajukan beberapa pertanyaannya. Pertanyaan pertamanya adalah: Jika seseorang menguap saat salat, apakah ia harus tetap diam hingga selesai menguap, atau haruskah ia tetap berzikir dan membaca Al-Qur’an?

الجواب: السنة للمؤمن إذا حصل له التثاؤب أن يكظم ما استطاع، أن يكظم فمه ما استطاع، وأن يضع يده على فيه ولا يقل: هاه ولا يفتح فاه، هكذا نهى النبي ﷺ وأمر، أمر بوضع اليد على الفم وأن يكظم ما استطاع، وقال: لا يقل: هاه؛ فإن الشيطان يدخل في فيه ولكن يكظم ما استطاع ويضع يده على فيه ولا يتكلم بشيء حتى ينتهي، لا يقرأ ولا يتكلم حتى ينتهي التثاؤب، هذا هو المشروع، إذا حصل التثاؤب يشرع له أمور عدة.

Jawaban:

Sunah bagi seorang mukmin, ketika menguap, adalah menahannya sebisa mungkin. Ia harus menutup mulutnya sebisa mungkin, meletakkan tangannya di atasnya, dan tidak mengucapkan “hah” atau membuka mulutnya. Inilah yang dilarang dan diperintahkan oleh Nabi ﷺ. Beliau memerintahkan agar seseorang menutup mulutnya dengan tangannya dan menahannya sebisa mungkin. Beliau mengatakan: Janganlah dia mengucapkan “hah”, karena setan masuk melalui mulutnya. Tetapi dia tahan sekuat tenaga, dia tutup mulutnya dengan tangan, dan tidak berbicara sampai menguap selesai. Dia jangan membaca atau berbicara sampai menguap selesai. Inilah yang disyariatkan.1 Lihat HR Muslim nomor 2994, 2995.

Ketika seseorang menguap, ada beberapa hal yang disyariatkan.

الأمر الأول: أنه يكظم ما استطاع يعني: يضم فمه ما استطاع حسب الطاقة.
الثاني: أنه يضع يده على فيه.
الثالث: أنه لا يقول: هاه، بل يحفظ لسانه ولا يتكلم بشيء لا قليل ولا كثير، هكذا السنة التي جاءت عن النبي عليه الصلاة والسلام، وبذلك يعلم أنه لا يقرأ ولا يحدث أحدًا، ولا يتكلم بشيء حتى ينتهي التثاؤب؛ لأنه قد يتكلم بشيء غير مضبوط إذا كان معه التثاؤب، يغلبه التثاؤب فيكون كلامه غير مضبوط، فلا يتكلم حتى ينتهي. نعم.

Pertama, ia menahannya semampunya, artinya ia mengatupkan mulutnya sebisa mungkin sesuai kemampuan.

Kedua, ia menutup mulutnya dengan tangan.

Ketiga, ia tidak boleh mengucapkan “hah”, melainkan menjaga lisannya dan tidak mengatakan apa pun, baik sedikit maupun banyak. Ini adalah sunah yang datang dari Nabi ﷺ. Maka, hendaknya ia tahu bahwa ia tidak boleh membaca (Al-Qur’an), berbicara kepada siapa pun, atau mengatakan apa pun sampai menguap selesai, karena ia mungkin berbicara tidak jelas saat menguap. Jika dia tidak bisa menahan kuap, ucapannya menjadi tidak jelas. Jadi, dia sebaiknya tidak berbicara sampai kuapnya selesai.

المقدم: جزاكم الله خيرًا.

Pembawa Acara: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Sumber: Fatwa Syekh Ibnu Baz tentang Adab Menguap

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *