Monthly Archives Desember 2020

Pembatal Keislaman

7 Desember 2020
/ / /

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِمَامُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-:

اعۡلَمۡ أَنَّ نَوَاقِضَ الۡإِسۡلَامِ عَشَرَةُ نَوَاقِضَ:

Syekh Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—rahimahullah ta’ala—berkata:

Ketahuilah! Sesungguhnya pembatal keislaman ada sepuluh.

الۡأَوَّلُ: الشِّرۡكُ فِي عِبَادَةِ اللهِ تَعَالَی.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [النساء: ٤٨].

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ [المائدة: ۷۲].

وَمِنۡهُ: الذَّبۡحُ لِغَيۡرِ اللهِ كَمَنۡ يَذۡبَحُ لِلۡجِنِّ أَوۡ لِلۡقَبۡرِ.

Pertama: Kesyirikan dalam ibadah kepada Allah taala.

Allah taala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 16).

Allah taala berfirman, “Sesungguhnya siapa saja yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah telah haramkan janah atasnya dan tempat kembalinya adalah neraka. Tiada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 72).

Termasuk perbuatan syirik adalah menyembelih untuk selain Allah seperti orang yang menyembelih untuk jin dan kuburan.

الثَّانِي: مَنۡ جَعَلَ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ اللهِ وَسَائِطَ يَدۡعُوهُمۡ وَيَسۡأَلُهُمۡ وَيَتَوَكَّلُ عَلَيۡهِمۡ؛ کَفَرَ إِجۡمَاعًا.

Kedua: Barang siapa menjadikan perantara antara dia dengan Allah yang dia seru, dia minta, dia bertawakal kepada mereka, maka dia kafir menurut ijmak.

الثَّالِثُ: مَنۡ لَمۡ يُكَفِّرِ الۡمُشۡرِكِينَ، أَوۡ شَكَّ فِي كُفۡرِهِمۡ، أَوۡ صَحَّحَ مَذۡهَبَهُمۡ؛ کَفَرَ.

Ketiga: Barang siapa tidak mengafirkan orang-orang musyrik, atau ragu terhadap kekafiran mereka, atau menilai benar keyakinan mereka, maka dia kafir.

الرَّابِعُ: مَنِ اعۡتَقَدَ أَنَّ غَيۡرَ هَدۡيِ النَّبِيِّ ﷺ أَكۡمَلُ مِنۡ هَدۡيِهِ، أَوۡ أَنَّ حُكۡمَ غَيۡرِهِ أَحۡسَنُ مِنۡ حُكۡمِهِ، كَالَّذِي يُفَضِّلُ حُكۡمَ الطَّوَاغِيتِ عَلَى حُكۡمِهِ؛ فَهُوَ كَافِرٌ.

Keempat: Barang siapa meyakini bahwa selain petunjuk Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lebih sempurna daripada petunjuk beliau, atau hukum selain beliau lebih baik daripada hukum beliau, seperti orang yang lebih mengutamakan hukum tagut di atas hukum beliau; maka dia kafir.

الۡخَامِسُ: مَنۡ أَبۡغَضَ شَيۡئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ وَلَوۡ عَمِلَ بِهِ؛ کَفَرَ.

Kelima: Barang siapa yang membenci sedikit saja dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, meskipun dia mengamalkannya, maka dia kafir.

السَّادِسُ: مَنِ اسۡتَهۡزَأَ بِشَيۡءٍ مِنۡ دِينِ الرَّسُولِ أَوۡ ثَوَابِ اللهِ أَوۡ عِقَابِهِ؛ کَفَرَ.

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ۝٦٥ لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ [التوبة: ٦٥-٦٦].

Keenam: Barang siapa mengolok-olok sedikit saja dari agama rasul, pahala dan siksa Allah, maka dia kafir.

Dalilnya adalah firman Allah, “Katakan: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya, kalian mengolok-olok? Jangan beralasan! Kalian telah kafir setelah tadinya kalian beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66).

السَّابِعُ: السِّحۡرُ: وَمِنۡهُ الصَّرۡفُ وَالۡعَطۡفُ، فَمَنۡ فَعَلَهُ أَوۡ رَضِيَ بِهِ؛ کَفَرَ.

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ فَلَا تَكۡفُرۡ ۖ﴾ [البقرة: ١٠٢].

Ketujuh: Sihir. Termasuk sihir adalah sharf dan ‘athf (ramuan yang bisa mempengaruhi akal, keinginan, dan kecenderungan dari orang yang disihir sehingga bisa menyebabkannya membenci atau mencintai pasangannya). Siapa saja yang mengerjakannya atau rida terhadapnya, maka dia kafir.

Dalilnya adalah firman Allah taala, “Keduanya tidaklah mengajari seorang pun hingga keduanya mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah engkau kafir.’”(QS. Al-Baqarah: 102).

الثَّامِنُ: مُظَاهَرَةُ الۡمُشۡرِکِینَ وَمُعَاوَنَتُهُمۡ عَلَى الۡمُسۡلِمِینَ.

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾ [المائدة: ٥١].

Kedelapan: Mendukung dan membantu kaum musyrikin dalam memerangi kaum muslimin.

Dalilnya adalah firman Allah taala, “Barang siapa di antara kalian yang berteman setia dengan mereka, maka dia termasuk mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 51).

التَّاسِعُ: مَنِ اعۡتَقَدَ أَنَّ بَعۡضَ النَّاسِ يَسَعُهُ الۡخُرُوجُ عَنۡ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ كَمَا وَسِعَ الۡخَضِرُ الۡخُرُوجَ عَنۡ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيۡهِ السَّلَامُ؛ فَهُوَ كَافِرٌ.

Kesembilan: Barang siapa berkeyakinan bahwa sebagian manusia bebas untuk keluar dari syariat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sebagaimana bolehnya Nabi Khadhir keluar dari syariat Nabi Musa—‘alaihis salam—, maka dia kafir.

الۡعَاشِرُ: الۡإِعۡرَاضُ عَنۡ دِينِ اللهِ تَعَالَى لَا يَتَعَلَّمُهُ وَلَا يَعۡمَلُ بِهِ.

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـءَايَـٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآ ۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ﴾ [السجدة: ۲۲].

Kesepuluh: Berpaling dari agama Allah taala. Dia tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya.

Dalilnya adalah firman Allah taala, “Siapa yang lebih zalim daripada orang yang diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya kemudian dia berpaling darinya. Sesungguhnya Kami akan menghukum orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah: 22).

وَلَا فَرۡقَ فِي جَمِيعِ هَٰذِهِ النَّوَاقِضِ بَيۡنَ الۡهَازِلِ وَالۡجَادِّ وَالۡخَائِفِ إِلَّا الۡمُكۡرَهَ، وَكُلُّهَا مِنۡ أَعۡظَمِ مَا يَكُونُ خَطَرًا، وَمِنۡ أَكۡثَرِ مَا يَكُونُ وُقُوعًا فَيَنۡبَغِي لِلۡمُسۡلِمِ أَنۡ يَحۡذَرَهَا وَيَخَافَ مِنۡهَا عَلَى نَفۡسِهِ، نَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ وَأَلِيمِ عِقَابِهِ.

Tidak ada perbedaan pada keseluruhan pembatal keislaman ini antara orang yang main-main, serius, atau ketakutan, kecuali orang yang dipaksa. Semua pembatal tersebut di antara pembatal keislaman yang paling besar bahayanya dan paling banyak terjadi, sehingga seorang muslim selayaknya waspada dan mengkhawatirkan dirinya dari hal itu. Kita berlindung kepada Allah dari dosa yang menjadi alasan kemurkaan-Nya dan pedihnya hukuman-Nya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيۡرِ خَلۡقِهِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.

Semoga Allah limpahkan selawat dan salam kepada makhluk-Nya yang terbaik, yaitu Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabat beliau.

Read More