Sebagian Keutamaan Silaturahmi

ismail  

مِنۡ فَضَائِلِ صِلَةِ الرَّحِمِ

١ – عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يُبۡسَطَ لَهُ فِي رِزۡقِهِ وَيُنۡسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلۡيَصِلۡ رَحِمَهُ). أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ.

1. Dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda,

“Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan kekerabatannya.”[1]

HR Al-Bukhari

الشَّرۡحُ

Syarah

(مَنۡ أَحَبَّ) أَيۡ: رَغِبَ (أَنۡ يُبۡسَطَ لَهُ فِي رِزۡقِهِ، وَيُنۡسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ فَلۡيَصِلۡ رَحِمَهُ)، يَدُلُّ هٰذَا الۡحَدِيثُ عَلَى أَنۡ بَسۡطَ الرِّزۡقِ، أَيۡ: كَثۡرَةَ الرِّزۡقِ وَسِعَةَ الرِّزۡقِ لَهَا سَبَبٌ، وَهُوَ صِلَةُ الرَّحِمِ، فَمَنۡ وَصَلَ رَحِمَهُ فَإِنَّ اللهَ يُوَسِّعُ لَهُ فِي رِزۡقِهِ، وَيُبَارِكُ لَهُ فِيهِ.

“Barang siapa yang suka” artinya: berkeinginan “dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan kekerabatannya.” Hadis ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki—yaitu banyaknya rezeki dan luasnya rezeki—memiliki sebab, dan sebab itu adalah silaturahmi. Jadi, barang siapa yang menyambung kekerabatannya, sesungguhnya Allah akan meluaskan rezekinya dan memberkahinya di dalamnya.

وَالرَّحِمُ: الۡمُرَادُ بِهِمۡ الۡقَرَابَةُ، وَهُمۡ كُلُّ مَنۡ يَجۡمَعُكَ بِهِمۡ قَرَابَةٌ مِنۡ جِهَةِ الۡأُمِّ كَالۡأَخۡوَالِ وَالۡخَالَاتِ، وَالۡأَجۡدَادِ، وَالۡجَدَّاتِ، أَوۡ مِنۡ جِهَةِ الۡأَبِ كَالۡأَعۡمَامِ وَالۡعَمَّاتِ، وَالۡأَجۡدَادِ وَالۡجَدَّاتِ، وَأَبۡنَاءُ هٰؤُلَاءِ، أَبۡنَاءُ الۡأَعۡمَامِ وَأَبۡنَاءُ الۡأَخۡوَالِ كُلُّهُمۡ يَشۡمَلُهُمۡ اسۡمُ الۡقَرَابَةِ وَاسۡمُ الرَّحِمِ، وَلَهُمۡ حَقٌّ عَلَيۡكَ، فَإِنۡ أَدَّيۡتَ هٰذَا الۡحَقَّ فَإِنَّ ذٰلِكَ يُسَبِّبُ لَكَ الۡخَيۡرَ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، فَفِي الدُّنۡيَا يُبۡسَطُ لَكَ فِي رِزۡقِهِ وَيُنۡسَأُ لَكَ فِي أَجَلِكَ، وَفِي الۡآخِرَةِ لَكَ الثَّوَابُ وَالۡجَنَّةُ عِنۡدَ اللهِ سبحانه وتعالى، فَإِنَّ اللهَ سبحانه وتعالى وَعَدَ الَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنۡ يُوصَلَ وَعَدَهُمۡ بِالۡجَنَّةِ فِي الۡآخِرَةِ.

Dan ar-rahim: yang dimaksud dengan mereka adalah kaum kerabat, yaitu setiap orang yang mengumpulkanmu bersama mereka hubungan kekerabatan dari jalur ibu seperti paman dari jalur ibu, bibi dari jalur ibu, kakek, dan nenek; atau dari jalur ayah seperti paman dari jalur ayah, bibi dari jalur ayah, kakek, dan nenek, serta anak-anak mereka—anak paman dari jalur ayah dan anak paman dari jalur ibu—semuanya tercakup dalam istilah kerabat dan istilah ar-rahim. Mereka memiliki hak atasmu. Jika engkau menunaikan hak ini, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan bagimu di dunia dan akhirat. Di dunia, rezekimu akan dilapangkan dan umurmu akan dipanjangkan, sedangkan di akhirat engkau mendapatkan pahala dan janah di sisi Allah—subhanahu wa ta’ala—, karena Allah—subhanahu wa ta’ala—telah menjanjikan janah di akhirat bagi orang-orang yang menyambung hubungan yang Allah perintahkan untuk disambung.

وَأَمَّا قَطِيعَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ كَبِيرَةٌ مِنۡ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ تُوجِبُ اللَّعۡنَةَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُوا۟ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرۡحَامَكُمۡ ۝٢٢ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ‎۝٢٣﴾ [مُحَمَّدٍ]، وَقَدۡ تَوَعَّدَ اللهُ الَّذِينَ يَقۡطَعُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنۡ يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِي الۡأَرۡضِ بِأَنَّ لَهُمُ اللَّعۡنَةَ وَلَهُمۡ سُوءُ الدَّارِ، قَطِيعَةُ الرَّحِمِ كَبِيرَةٌ مِنۡ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ؛ لِأَنَّ اللهَ لَعَنَ مَنۡ فَعَلَهَا، وَاللَّعۡنُ إِنَّمَا يَكُونُ عَلَى كَبِيرَةٍ مِنۡ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ.

Adapun memutuskan silaturahmi, maka ia termasuk dosa besar dari jajaran dosa-dosa besar yang mendatangkan laknat, sebagaimana Allah taala berfirman,

“Maka apakah sekiranya kalian berkuasa, kalian akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan kalian? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah; lalu Allah menulikan telinga mereka dan membutakan penglihatan mereka.”

QS Muhammad: 22-23

Allah benar-benar telah mengancam orang-orang yang memutuskan hubungan yang Allah perintahkan untuk disambung dan berbuat kerusakan di bumi, bahwa mereka akan mendapat laknat dan tempat kediaman yang buruk. Memutuskan silaturahmi adalah dosa besar dari jajaran dosa-dosa besar, karena Allah melaknat pelakunya, dan laknat itu hanyalah dijatuhkan atas dosa besar dari jajaran dosa-dosa besar.

وَفِي هٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ تُسَبِّبُ لِلۡإِنۡسَانِ سَعَةَ الرِّزۡقِ، وَأَنۡ يُبَارَكَ لَهُ فِي رِزۡقِهِ، وَيُبۡسَطَ لَهُ يَعۡنِي يُوَسَّعَ، وَأَنَّهُ يُنۡسَأُ لَهُ يَعۡنِي يُؤَخَّرُ فِي أَجَلِهِ، وَلٰكِنۡ هٰذَا فِيهِ إِشۡكَالٌ مَعَ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ﴾ [الۡأَعۡرَافِ: ٣٤]، ﴿وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ﴾ [الۡمُنَافِقُونَ: ١١]، فَمَا الۡجَمۡعُ بَيۡنَ الۡآيَةِ وَالۡحَدِيثِ؟

Di dalam hadis ini disebutkan bahwa silaturahmi menjadi sebab bagi manusia untuk mendapatkan kelapangan rezeki, diberkahi rezekinya, dan dilapangkan—artinya diluaskan—baginya. Serta ditunda—artinya diakhirkan—ajalnya. Akan tetapi, hal ini mengandung kemusykilan dengan firman Allah taala,

“Maka apabila batas waktu mereka tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat meminta percepatan.”

QS Al-A’raf: 34

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu ajalnya telah tiba.”

QS Al-Munafiqun: 11

Maka bagaimanakah kompromi antara ayat dan hadis tersebut?

أَجَابَ الۡعُلَمَاءُ عَنۡ ذٰلِكَ عِدَّةَ أَجۡوِبَةٍ:

Para ulama menjawab hal tersebut dengan beberapa jawaban:

الۡجَوَابُ الۡأَوَّلُ: أَنَّ عُمۡرَ الۡإِنۡسَانِ مُقَدَّرٌ لَا يُزَادُ وَلَا يُنۡقَصُ، وَلٰكِنۡ إِذَا وَصَلَ رَحِمَهُ فَإِنَّ اللهَ يُبَارِكُ لَهُ فِي عُمۡرِهِ بِالطَّاعَةِ وَالۡخَيۡرِ، فَمَعۡنَى (أَنَّهُ يُنۡسَأُ لَهُ فِي أَجَلِهِ) بِمَعۡنَى أَنَّهُ يُبَارِكُ لَهُ فِي عُمۡرِهِ، فَيَسۡتَعۡمِلُهُ فِي الۡخَيۡرِ، وَالۡعُمۡرُ وَإِنۡ كَانَ قَصِيراً إِذَا اسۡتُعۡمِلَ فِي الۡخَيۡرِ فَهُوَ طَوِيلٌ، وَأَمَّا إِذَا اسۡتُعۡمِلَ فِي الشَّرِّ فَهُوَ قَصِيرٌ وَإِنۡ كَانَ طَوِيلًا؛ لِأَنَّهُ عُمۡرٌ لَا خَيۡرَ فِيهِ، وَلَمۡ يَسۡتَفِدۡ مِنۡهُ صَاحِبُهُ، فَمَعۡنَى (يُنۡسَأُ لَهُ فِي أَثَرِهِ): يَعۡنِي فِي أَجَلِهِ، بِمَعۡنَى أَنَّهُ يُبَارِكُ لَهُ فِي عُمۡرِهِ فَيَسۡتَغِلُّهُ بِطَاعَةِ اللهِ، وَيَفۡعَلُ الۡخَيۡرَ، فَيُسَبِّبُ لَهُ ذٰلِكَ الۡأَجۡرَ الۡعَظِيمَ عِنۡدَ اللهِ سبحانه وتعالى، وَإِلَّا فَالۡأَجَلُ هُوَ كَمَا قَدَّرَهُ اللهُ فِي اللَّوۡحِ الۡمَحۡفُوظِ لَا يَزِيدُ.

Jawaban pertama: Bahwa umur manusia itu sudah ditentukan, tidak dapat ditambah dan tidak dapat dikurangi. Akan tetapi, jika ia menyambung silaturahmi, maka Allah akan memberkahi umurnya dengan ketaatan dan kebaikan. Maka makna “ia dipanjangkan umurnya” adalah dengan artian ia diberkahi umurnya, lalu ia menggunakannya dalam kebaikan. Umur itu, meskipun pendek, apabila digunakan dalam kebaikan maka ia bernilai panjang. Adapun jika digunakan dalam keburukan, maka ia bernilai pendek meskipun panjang secara bilangan, karena ia adalah umur yang tidak ada kebaikan di dalamnya dan pemiliknya tidak mengambil manfaat darinya. Maka makna “dipanjangkan umurnya”: yaitu ditunda ajalnya, dalam arti bahwa ia diberkahi umurnya lalu ia memanfaatkannya dengan ketaatan kepada Allah serta berbuat kebaikan, sehingga hal itu mendatangkan pahala yang agung baginya di sisi Allah—subhanahu wa ta’ala—. Jika tidak dimaknai demikian, maka ajal itu sejatinya tetap sebagaimana yang telah Allah tentukan di dalam Lauhulmahfuz, tidak akan bertambah.

وَالۡقَوۡلُ الثَّانِي: أَنَّ مَعۡنَى (يُنۡسَأُ لَهُ فِي أَثَرِهِ): عَلَى ظَاهِرِهِ، أَنَّهُ يُمَدَّدُ فِي حَيَاتِهِ، وَيَطُولُ عُمۡرُهُ، أَمَّا إِذَا قَطَعَ رَحِمَهُ فَإِنَّهُ يُقۡصَمُ عُمۡرُهُ وَيُنۡقَصُ عُمۡرُهُ، فَالۡحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَهٰذَا مِنۡ تَرۡتِيبِ الۡمُسَبَّبَاتِ عَلَى أَسۡبَابِهَا، فَإِنَّ طُولَ العُمۡرِ، وَقِصَرَ العُمۡرِ مَبۡنِيَّانِ عَلَىٰ أَسۡبَابٍ، فَإِنۡ كَانَ أَحۡسَنَ إِلَىٰ أَرۡحَامِهِ وَوَصَلَهُمۡ طَالَ عُمۡرُهُ، وَإِنۡ كَانَ قَطَعَ رَحِمَهُ فَإِنَّهُ يُقۡصَرُ عُمۡرُهُ، وَيَكُونُ اللهُ قَدَّرَ لَهُ ذَٰلِكَ، قَدَّرَ أَنَّهُ يَصِلُ رَحِمَهُ فَيَطُولُ عُمۡرُهُ، وَقَدَّرَ عَلَى الۡآخَرِ أَنَّهُ يَقۡطَعُ رَحِمَهُ فَيُقۡصَرُ عُمۡرُهُ، الحَدِيثُ عَلَىٰ ظَاهِرِهِ، وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا جَعَلَ أَشۡيَاءَ مَبۡنِيَّةً عَلَىٰ أَسۡبَابِهَا.

Pendapat kedua: Bahwa makna “dipanjangkan umurnya” adalah sesuai lahiriahnya, yaitu ia ditambahkan masa hidupnya dan dipanjangkan umurnya. Adapun jika ia memutuskan silaturahmi, maka umurnya akan diputus dan dikurangi. Maka hadis ini berlaku sesuai lahiriahnya, dan ini termasuk bagian dari runtunan akibat yang dihasilkan dari sebab-sebabnya.

Sesungguhnya panjang dan pendeknya umur itu dibangun di atas sebab-sebab. Jika seseorang berbuat baik kepada kerabatnya dan menyambung silaturahmi dengan mereka, maka umurnya akan dipanjangkan. Sebaliknya, jika ia memutuskan silaturahmi, maka umurnya akan dipendekkan. Allah taala telah menakdirkan hal itu untuknya. Dia menakdirkan bahwa ia akan menyambung silaturahmi lalu umurnya dipanjangkan, dan Dia menakdirkan atas orang yang lain bahwa ia akan memutuskan silaturahmi lalu umurnya dipendekkan. Hadis ini dipahami sesuai dengan lahiriahnya, dan Allah—jalla wa ‘ala—menjadikan segala sesuatu dibangun di atas sebab-sebabnya.

وَالقَوۡلُ الثَّالِثُ: أَنَّ مَعۡنَىٰ (يُنۡسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ): الذِّكۡرُ الجَمِيلُ بَعۡدَ وَفَاتِهِ، فَيَكُونُ كَأَنَّهُ مُعَمَّرٌ، كَأَنَّهُ يَعِيشُ بَيۡنَ النَّاسِ وَهُوَ مَيِّتٌ، وَذَٰلِكَ بِالثَّنَاءِ عَلَيۡهِ، وَبِذِكۡرِهِ فِي الخَيۡرِ دَائِمَاً، فَكَأَنَّهُ حَيٌّ، وَلِهَٰذَا يَقُولُ الشَّاعِرُ:

أَحۡسِنۡ لِنَفۡسِكَ فِي حَيَاتِكَ ذِكۡرَىٰ          فَالذِّكۡرُ لِلۡإِنۡسَانِ عُمۡرٌ ثَانِ

Pendapat ketiga: Bahwa makna “dipanjangkan umurnya” adalah harum namanya setelah wafatnya. Sehingga ia seolah-olah dipanjangkan umurnya, seolah-olah ia hidup di tengah manusia padahal ia telah mati. Hal itu terwujud melalui pujian kepadanya dan dengan senantiasa disebut kebaikannya, seolah-olah ia hidup. Oleh karena itu, penyair berkata:

Buatlah kenangan indah bagi dirimu semasa hidup, karena kenangan indah bagi manusia laksana umur kedua.

وَقِيلَ: إِنَّهُ يُرۡزَقُ بِذُرِّيَّةٍ صَالِحَةٍ تَدۡعُو لَهُ بَعۡدَ مَوۡتِهِ، فَكَأَنَّهُ مُعَمَّرٌ، كَأَنَّهُ يَعِيشُ؛ لِأَنَّ ذُرِّيَّتَهُ تَدۡعُو لَهُ، وَكَأَنَّهُ مُتَوَاصِلُ العُمۡرِ، بِدُعَاءِ ذُرِّيَّتِهِ لَهُ، كَمَا قَالَ ﷺ: (إِذَا مَاتَ ابۡنُ آدَمَ انۡقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنۡ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوۡ عِلۡمٍ يُنۡتَفَعُ بِهِ، أَوۡ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدۡعُو لَهُ)، فَيَكُونُ نَسۡأُ الۡأَثَرِ بِوُجُودِ الذُّرِّيَّةِ الصَّالِحَةِ، فَإِذَا وَصَلَ رَحِمَهُ رَزَقَهُ اللهُ ذُرِّيَّةً صَالِحَةً تَدۡعُو لَهُ بَعۡدَ مَوۡتِهِ فَكَأَنَّهُ حَيٌّ لَمۡ يَمُتۡ.

Ada pula yang berpendapat: Sesungguhnya ia dikaruniai keturunan yang saleh yang mendoakannya setelah kematiannya, sehingga ia seolah-olah dipanjangkan umurnya, seolah-olah ia tetap hidup karena keturunannya mendoakannya, dan seolah-olah umurnya terus bersambung melalui doa keturunannya untuknya. Sebagaimana Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda,

“Apabila anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”[2]

Jadi panjangnya umur itu terwujud dengan adanya keturunan yang saleh. Jika ia menyambung silaturahmi, Allah akan mengaruniakannya keturunan yang saleh yang mendoakannya setelah kematiannya, sehingga seolah-olah ia hidup dan belum mati.


[1] Al-Bukhari nomor 5985. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Muslim nomor 2557 dari Anas—radhiyallahu ‘anhu.

[2] HR Muslim nomor 1631 dan Abu Dawud nomor 2880.


Sumber: Ithaf Al-Kiram bi Syarh Kitab Al-Jami’ fi Al-Akhlaq wa Al-Adab min Bulugh Al-Maram syarah Syekh Doktor Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *