Urgensi Tawakal dan Mengupayakan Sebab

ismail  
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Bazrahimahullah
(1330 – 1420 H)

Pertanyaan:

Si penanya berkata: Diskusi terjadi seputar permasalahan tawakal dan mengusahakan sebab. Juga tawakalnya sebagian orang saleh, seperti tawakalnya Maryam, yang buah-buahan musim panas datang padanya di musim dingin dan sebaliknya, padahal dia tidak melakukan sebab dan hanya fokus ibadah. Bantulah kami dalam permasalahan itu! Semoga Allah memberkahi Anda.

Jawaban:

Tawakal mengumpulkan dua perkara:

Pertama: Bertumpu kepada Allah dan beriman bahwa Dialah Penyebab semua sebab, bahwa takdir-Nya pasti terlaksana, bahwa Dia menakdirkan semua perkara, Dia mengetahuinya secara persis, dan Dia–subhanahu wa ta’ala–telah menulisnya.

Kedua: Melakukan sebab-sebab. Meninggalkan sebab bukanlah termasuk dari sikap tawakal. Bahkan di antara bentuk tawakal adalah mengupayakan dan melakukan sebab. Siapa saja yang tidak melakukan sebab, berarti dia telah menyelisihi syariat dan takdir Allah. Jadi Allah–subhanahu wa ta’ala–memerintahkan agar melakukan sebab, menganjurkan hal tersebut, dan memerintahkannya kepada Rasul-Nya–shallallahu ‘alaihi wa sallam–.

Seorang mukmin tidak boleh untuk mengabaikan sebab-sebab, bahkan dia tidak bisa menjadi orang yang bertawakal secara hakiki kecuali dengan mengupayakan sebab-sebab. Oleh karena inilah, nikah disyariatkan untuk mendapatkan anak, begitu pula diperintahkan untuk berjimak.

Andai ada salah seorang berkata, “Aku tidak akan menikah. Aku menunggu kehadiran anak tanpa menikah,” tentu orang ini akan dianggap orang gila. Jadi mengabaikan sebab bukanlah sikap orang yang berakal.

Demikian pula, dia tidak boleh duduk di dalam rumah atau di dalam masjid lalu berharap sedekah atau rezeki akan mendatanginya. Bahkan dia wajib untuk berusaha, bekerja, dan bersungguh-sungguh untuk mencari rezeki yang halal.

Maryam–rahmatullah ‘alaiha–tidak meninggalkan sebab-sebab. Allah berfirman kepadanya,

وَهُزِّىٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Goyangkan pangkal pohon kurma itu kepadamu! Nanti pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

(QS. Maryam: 25)

Dia menggoyangkan pohon kurma itu dan melakukan sebab-sebab hingga buah kurma jatuh. Jadi meninggalkan sebab-sebab bukanlah termasuk perilaku Maryam.

Keberadaan rezeki di dekatnya, pemuliaan Allah terhadapnya, penyiapan Allah sebagian rezeki untuknya, pemuliaan Allah terhadapnya dengan sebagian rezeki; tidaklah menunjukkan bahwa Maryam mengabaikan sebab-sebab. Bahkan Maryam menyendiri beribadah dan mengupayakan sebab-sebab.

Ketika Allah mengisahkan sebagian wali-Nya dari kalangan mukminin memiliki sebagian karamah, ini adalah dari karunia-Nya. Akan tetapi hal itu tidak menunjukkan pengabaian sebab-sebab.

Telah pasti riwayat dari Nabi–shallallahu ‘alaihi wa sallam–bahwa beliau bersabda,

احۡرِصۡ عَلَى مَا يَنۡفَعُكَ وَاسۡتَعِنۡ وَلَا تَعۡجَزۡ

رواه مسلم: كتاب: القدر، باب: في الأمر بالقوة وترك العجز، رقم (2664).

Bersemangatlah pada perkara yang bermanfaat untukmu! Minta tolonglah (kepada Allah)! Jangan lemah!

(HR. Muslim nomor 2664)

Allah berfirman,

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

(QS. Al-Fatihah: 5)

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/29526/%D8%A7%D9%87%D9%85%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%88%D9%83%D9%84-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%AE%D8%B0-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D8%A7%D8%A8

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.