Latest Posts

Hak Pengasuhan Anak oleh Khalah (Saudara Perempuan Ibu)

10 September 2018
/ / /

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah,

الۡأَوۡلَى بِالطِّفۡلِ أُمُّهُ، مَالَمۡ تُنۡكَحۡ، ثُمَّ الۡخَالَة.

Yang paling berhak terhadap anak adalah ibunya selama si ibu belum menikah lagi. Kemudian khalah (saudara perempuan ibu).

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah,

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡخَالَةُ أَوۡلَى بَعۡدَ الۡأُمِّ مِمَّنۡ عَدَاهَا، فَلِحَدِيثِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا: (أَنَّ ابۡنَةَ حَمۡزَةَ اخۡتَصَمَ فِيهَا عَلِيٌّ وَجَعۡفَرٌ وَزَيۡدٌ، فَقَالَ عَلِيٌّ: أَنَا أَحَقُّ بِهَا هِيَ ابۡنَةُ عَمِّي، وَقَالَ جَعۡفَرٌ: بِنۡتُ عَمِّي وَخَالَتُهَا تَحۡتِي، وَقَالَ زَيۡدٌ: ابۡنَةُ أَخِي، فَقَضَى بِهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ لِخَالَتِهَا وَقَالَ: الۡخَالَةُ بِمَنۡزِلَةِ الۡأُمِّ). وَالۡمُرَادُ بِقَوۡلِ زَيۡدٍ ابۡنَةُ أَخِي أَنَّ حَمۡزَةَ قَدۡ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ آخَي بَيۡنَهُمَا. وَوَجۡهُ الۡاسۡتِدۡلَالِ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّهُ قَدۡ ثَبَتَ بِالۡإِجۡمَاعِ أَنَّ الۡأُمَّ أَقۡدَمُ الۡحَوَاضِنِ، فَمُقۡتَضَى التَّشۡبِيهِ أَنَّ الۡخَالَةَ أَقۡدَمُ مِنۡ غَيۡرِهَا مِنۡ غَيۡرِ فَرۡقٍ بَيۡنَ الۡأَبِ وَغَيۡرِهِ، وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّ الۡأَبَ أَقۡدَمُ مِنۡهَا إِجۡمَاعًا وَلَيۡسَ ذٰلِكَ بِصَحِيحٍ، وَالۡخِلَافُ مَعۡرُوفٌ وَالۡحَدِيثُ يَحُجُّ مَنۡ خَالَفَهُ.

Adapun khalah (bibi dari garis ibu/saudara perempuan ibu) lebih berhak setelah ibu daripada orang lain, maka berdasar hadis Al-Bara` bin ‘Azib di dalam dua kitab Shahih dan selainnya: Bahwa pengasuhan putri Hamzah diperebutkan oleh ‘Ali, Ja’far, dan Zaid. ‘Ali berkata, “Aku lebih berhak terhadapnya. Dia putri pamanku.” Ja’far berkata, “Dia putri pamanku dan khalah-nya adalah istriku.” Zaid berkata, “Dia adalah putri saudaraku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan pengasuhan putri Hamzah untuk khalah-nya dan beliau bersabda, “Khalah berkedudukan seperti ibu.”[1] Maksud ucapan Zaid bahwa putri Hamzah adalah putri saudaraku karena Hamzah dahulu pernah dipersaudarakan dengan Zaid oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sisi pendalilan dengan hadis ini bahwa telah pasti ada kesepakatan bahwa ibu adalah pengasuh anak yang paling didahulukan, sehingga konsekuensi dari penyerupaan (antara khalah dengan ibu) adalah khalah lebih didahulukan daripada selain dia, tanpa membedakan apakah ayah atau selain ayah.

Ada yang berpendapat bahwa ayah lebih didahulukan daripada khalah berdasarkan ijmak. Namun pernyataan itu tidak sahih dan perselisihan pendapat dalam hal ini sudah makruf. Hadis ini menjadi argumen pihak yang menyelisihi pendapat ini.

[1] Lihat catatan kaki sebelumnya.

Read More

Ibu adalah yang Paling Berhak terhadap Pengasuhan Anak

8 September 2018
/ / /

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,

الۡأَوۡلَى بِالطِّفۡلِ أُمُّهُ، مَالَمۡ تُنۡكَحۡ، ثُمَّ الۡخَالَةُ، ثُمَّ الۡأَبُ

Yang paling berhak terhadap anak adalah ibunya selama si ibu belum menikah lagi.

أَقُولُ: أَمَّا الۡأُمُّ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو: (أَنَّ امۡرَأَةً قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابۡنِي هَٰذَا كَانَتۡ بَطۡنِي لَهُ وِعَاءً، وَحَجۡرِي لَهُ حِوَاءً، وَثَدۡيِي لَهُ سِقَاءً، وَزَعَمَ أَبُوهُ أَنَّهُ يَنۡزِعُهُ مِنِّي، فَقَالَ: أَنۡتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمۡ تَنۡكِحِي) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ، وَقَدۡ وَقَعَ الۡإِجۡمَاعُ عَلَى أَنَّ الۡأُمَّ أَوۡلَى مِنَ الۡأَبِ. وَحَكَى ابۡنُ الۡمُنۡذِرِ الۡإِجۡمَاعَ عَلَى أَنَّ حَقَّهَا يَبۡطُلُ بِالنِّكَاحِ. وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ عُثۡمَانَ أَنَّهُ لَا يَبۡطُلُ بِالنِّكَاحِ، وَإِلَيۡهِ ذَهَبَ الۡحَسَنُ الۡبَصۡرِيُّ وَابۡنُ حَزۡمٍ، وَاحۡتَجُّوا بِبَقَاءِ ابۡنِ أُمِّ سَلَمَةَ فِي كَفَالَتِهَا بَعۡدَ أَنۡ تَزَوَّجَتۡ بِالنَّبِيِّ ﷺ. وَيُجَابُ عَنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ مُجَرَّدَ الۡبَقَاءِ مَعَ عَدَمِ الۡمُنَازِعِ لَا يُحۡتَجُّ بِهِ لِاحۡتِمَالِ أَنَّهُ لَمۡ يَبۡقَ لَهُ قَرِيبٌ غَيۡرُهَا، وَاحۡتَجُّوا أَيۡضًا بِمَا سَيَأۡتِي فِي حَدِيثِ ابۡنَةِ حَمۡزَةَ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَضَى بِأَنَّ الۡحَقَّ لِخَالَتِهَا، وَكَانَتۡ تَحۡتَ جَعۡفَرِ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ، وَقَدۡ قَالَ: الۡخَالَةُ بِمَنۡزِلَةِ الۡأُمِّ، وَيُجَابُ عَنۡ هَٰذَا بِأَنَّهُ لَا يَدۡفَعُ النَّصَّ الۡوَارِدَ فِي الۡأُمِّ، وَيُمۡكِنُ أَنۡ يُقَالَ إِنَّ هَٰذَا يَكُونُ دَلِيلًا عَلَى مَا ذَهَبَتۡ إِلَيۡهِ الۡحَنَفِيَّةُ وَالۡهَادَوِيَّةُ مِنۡ أَنَّ النِّكَاحَ إِذَا كَانَ بِمَنۡ هُوَ رَحِمٌ لِلصَّغِيرِ فَلَا يُبۡطِلُ بِهِ الۡحَقَّ، وَيَكُونُ حَدِيثُ ابۡنَةِ حَمۡزَةَ مُقَيِّدًا لِقَوۡلِهِ ﷺ: (مَالَمۡ تَنۡكِحِي).

Aku (Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah) berkata:

Ibu (yang paling berhak mengasuh anak)  berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr: Bahwa ada seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya putraku ini, dahulunya perutku adalah tempat untuknya, pangkuanku adalah tempat berlindung baginya, dan payudaraku adalah tempat minum baginya, kemudian ayahnya menyatakan akan mengambilnya dariku.” Nabi bersabda, “Engkau lebih berhak terhadap anakmu selama engkau belum menikah lagi.”[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Al-Hakim menilainya sahih.

Telah terjadi kesepakatan bahwa ibu lebih berhak daripada ayah. Ibnu Al-Mundzir mengisahkan kesepakatan bahwa hak ibu menjadi batal karena pernikahannya.

Namun juga diriwayatkan dari ‘Utsman bahwa hak pengasuhan tidak menjadi batal karena pernikahan. Yang berpendapat seperti ini adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Hazm. Mereka beralasan dengan tetapnya putra Ummu Salamah berada di bawah asuhan ibunya setelah Ummu Salamah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu bisa dijawab, bahwa semata-mata tetapnya putra Ummu Salamah tanpa ada orang yang ingin mengambilnya, tidak bisa dijadikan alasan. Karena ada kemungkinan anak itu tidak memiliki kerabat selain Ummu Salamah.

Mereka juga beralasan dengan hadis putri Hamzah yang akan datang. Alasannya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan hak pengasuhan kepada khalah-nya (bibi dari garis ibu/saudara perempuan ibu), yang ketika itu merupakan istri Ja’far bin Abu Thalib. Dan Nabi bersabda, “Khalah berkedudukan seperti ibu.” Namun alasan itu bisa dijawab bahwa hadis itu tidak bisa menolak nas yang ada tentang ibu. Mungkin juga untuk dikatakan bahwa hadis ini merupakan dalil pendapat yang dipegangi oleh mazhab Hanafi dan Hadawiyyah bahwa jika si ibu menikah dengan orang yang merupakan kerabat si anak kecil, maka tidak membatalkan hak pengasuhan si ibu. Dan hadis putri Hamzah membatasi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Selama engkau belum menikah.”

[1] HR. Abu Dawud nomor 2276 dan Ahmad 2/182.

Read More

Kesaksian Wanita yang Menyusui Diterima

26 Agustus 2018
/ / /

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H) di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,

وَيُقۡبَلُ قَوۡلُ الۡمُرۡضِعَةِ

Ucapan wanita yang menyusui diterima.

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata:

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُقۡبَلُ قَوۡلُ الۡمُرۡضِعَةِ، فَلِمَا أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ عُقۡبَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ (أَنَّهُ تَزَوَّجَ أُمَّ يَحۡيَىٰ بِنۡتَ أَبِي إِهَابٍ فَجَاءَتۡ أَمَةٌ سَوۡدَاءُ فَقَالَتۡ: قَدۡ أَرۡضَعۡتُكُمَا؛ قَالَ: فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَأَعۡرَضَ عَنِّى، قَالَ: فَتَنَحَّيۡتُ فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ: وَكَيۡفَ وَقَدۡ زَعَمَتۡ أَنَّهَا أَرۡضَعۡتُكُمَا فَنَهَاهُ). وَفِي لَفۡظٍ: (دَعۡهَا عَنۡكَ). وَهُوَ فِي الصَّحِيحِ، وَفِي لَفۡظٍ آخَرَ: (كَيۡفَ وَقَدۡ قِيلَ فَفَارَقَهَا عُقۡبَةُ).

Adapun diterimanya ucapan wanita yang menyusui, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan selain beliau dari hadis ‘Uqbah bin Al-Harits. Bahwa beliau telah menikahi Ummu Yahya binti Abu Ihab. Lalu seorang budak wanita berkulit hitam datang seraya berkata, “Sesungguhnya aku pernah menyusui kalian berdua.” ‘Uqbah berkata: Aku menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berpaling dariku. ‘Uqbah berkata: Aku bergeser, lalu menyebutkan hal itu kepada beliau. Nabi bersabda, “Bagaimana (engkau masih akan terus menggaulinya) sementara wanita itu sudah menyatakan bahwa dia pernah menyusui kalian berdua.” Nabi melarang ‘Uqbah[1]. Di dalam lafal yang lain, “Tinggalkan wanita yang telah engkau nikahi.” Hadis ini ada di dalam kitab Shahih. Dalam lafal lain, “Bagaimana (engkau masih akan terus menggaulinya) sementara sudah dikatakan demikian.” Lalu ‘Uqbah menceraikannya.

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ عُثۡمَانُ، وَابۡنُ عَبَّاسٍ، وَالزُّهۡرِيُّ، وَالۡحَسَنُ، وَإِسۡحَاقُ، وَالۡأَوۡزَعِيُّ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، وَأَبُو عُبَيۡدٍ. وَرُوِيَ عَنۡ مَالِكٍ.

‘Utsman, Ibnu ‘Abbas, ‘Az-Zuhri, Al-Hasan, Ishaq, Al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal, dan Abu ‘Ubaid berpendapat demikian. Juga diriwayatkan dari Malik.

[1] HR. Al-Bukhari nomor 2659, 88, dan Abu Dawud nomor 3603.

Read More

Susuan sebelum Penyapihan

25 Agustus 2018
/ / /

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H) di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,

إِنَّمَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ مَعَ تَيَقُّنِ وُجُودِ اللَّبَنِ، وَكَوۡنِ الرَّضِيعِ قَبۡلَ الۡفِطَامِ

Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan dengan keyakinan adanya air susu, serta anak disusui ketika sebelum disapih.

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H) di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata:

وَأَمَّا اعۡتِبَارُ كَوۡنِ الرَّضِيعِ قَبۡلَ الۡفِطَامِ، فَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ عِنۡدَ التِّرۡمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ وَالۡحَاكِمِ أَيۡضًا وَصَحَّحَهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ إِلَّا مَا فَتَقَ الۡأَمۡعَاءَ فِي الثَّدۡيِ، وَكَانَ قَبۡلَ الۡفِطَامِ).

Adapun patokan bahwa anak yang disusui adalah sebelum disapih, maka hal itu berdasarkan hadis Ummu Salamah riwayat At-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh beliau. Juga riwayat Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Susuan tidaklah menyebabkan hubungan mahram kecuali air susu di payudara yang membuka rongga usus (mengenyangkan perut) dan dilakukan sebelum penyapihan.”[1]

وَأَخۡرَجَ سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَابۡنُ عَدِيٍّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَارَضَاعَ إِلَّا مَاكَانَ فِي الۡحَوۡلَيۡنِ). وَقَدۡ صَحَّحَ الۡبَيۡهَقِيُّ وَقۡفَهُ، وَرَحَّجَهُ ابۡنُ عَدِيٍّ، وَابۡنُ كَثِيرٍ.

Sa’id bin Manshur, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Adi mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada susuan (yang menyebabkan hubungan mahram) kecuali yang dilakukan dalam jangka umur dua tahun.” Al-Baihaqi menilai sahih ke-mauquf-an hadis tersebut. Ibnu ‘Adi dan Ibnu Katsir menilainya kuat.

وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا رَضَاعَ بَعۡدَ فِصَالٍ، وَلَا يُتۡمَ بَعۡدَ احۡتِلَامٍ). وَقَدۡ قَالَ الۡمُنۡذِرِيُّ: إِنَّهُ لَا يَثۡبُتُ.

Abu Dawud Ath-Thayalisi mengeluarkan riwayat dari hadis Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidak ada susuan (yang menyebabkan mahram) setelah penyapihan dan tidak ada yatim setelah mimpi basah.” Al-Mundziri berkata: Sesungguhnya riwayat ini tidak sabit.

وَفِي الصَّحِيحَيۡن وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَالَتۡ: (لَمَّا دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعِنۡدِي رَجُلٌ، فَقَالَ: مَنۡ هَٰذَا؟ قُلۡتُ: أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ، قَالَ: يَا عَائِشَةُ انۡظُرۡنَ مَنۡ إِخۡوَانُكُنَّ؟ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ الۡمَجَاعَةِ).

Di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, dari hadis ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku dalam keadaan di dekatku ada seorang pria, beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Saudara sesusuanku.” Nabi bersabda, “Wahai ‘Aisyah, telitilah siapa saudara-saudara kalian karena susuan (yang menyebabkan hubungan mahram) hanya yang disebabkan rasa lapar.”[2]

[1] HR. At-Tirmidzi nomor 1152.

[2] HR. Al-Bukhari nomor 2647, 5102, Muslim nomor 1455, dan An-Nasa`i nomor 3312.

Read More

Lima Susuan yang Menyebabkan Hubungan Mahram

20 Agustus 2018
/ / /

Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Ad-Durarul Bahiyyah berkata:

إِنَّمَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ.

Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan.

أَقُولُ: أَمَّا كَوۡنُ الرَّضَاعِ لَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ إِلَّا بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ أَنَّهَا قَالَتۡ: (كَانَ فِيمَا أُنۡزِلَ مِنَ الۡقُرۡآنِ عَشۡرُ رَضَعَاتٍ مَعۡلُومَاتٍ يُحَرِّمۡنَ ثُمَّ نُسِخَ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ، فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهِيَ فِيمَا يُقۡرَأُ مِنَ الۡقُرۡآنِ).

Aku (Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Ad-Dararil Mudhiyyah) berkata: Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan berdasarkan hadis ‘Aisyah riwayat Imam Muslim dan selain beliau, bahwa beliau mengatakan: Dahulu, di antara ayat Alquran yang telah diturunkan adalah sepuluh susuan yang diketahui yang dapat menyebabkan hubungan mahram. Kemudian dinasakh dengan lima susuan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan masih ada yang membaca itu sebagai bagian Alquran.[1]

وَلِلۡحَدِيثِ طُرُقٌ ثَابِتَةٌ فِي الصَّحِيحِ؛ وَلَا يُخَالِفُهُ حَدِيثُ عَائِشَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُحَرِّمُ الۡمَصَّةُ وَلَا الۡمَصَّتَانِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ وَأَحۡمَدُ وَأَهۡلُ السُّنَنِ.

Hadis ini memiliki banyak jalur yang sabit dalam kitab Shahih. Hadis ini tidak diselisihi oleh hadis ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu atau dua isapan susuan tidak menyebabkan hubungan mahram.”[2] Hadis ini dikeluarkan oleh Muslim, Ahmad, dan para penulis kitab Sunan.

وَكَذٰلِكَ حَدِيثُ أُمِّ الۡفَضۡلِ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرِهِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُحَرِّمُ الرَّضۡعَةُ وَالرَّضۡعَتَانِ، وَالۡمَصَّةُ وَالۡمَصَّتَانِ، وَالۡإِمۡلَاجَةُ وَالۡإِمۡلَاجَتَانِ).

Demikian pula tidak diselisihi oleh hadis Ummu Al-Fadhl riwayat Muslim rahimahullah dan selain beliau; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu atau dua susuan, satu atau dua isapan, satu atau dua tetekan tidak menyebabkan hubungan mahram.”[3]

وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَحۡمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ لِأَنَّ غَايَةَ مَا فِي هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ أَنَّ الۡمَصَّةَ وَالۡمَصَّتَيۡنِ، وَالرَّضۡعَةَ وَالرَّضۡعَتَيۡنِ، وَالۡإِمۡلَاجَةَ وَالۡإِمۡلَاجَتَيۡنِ لَا يُحَرِّمۡنَ وَهَٰذَا هُوَ مَعۡنَى الۡأَحَادِيثِ مَنۡطُوقًا. وَهُوَ لَا يُخَالِفُ حَدِيثَ الۡخَمۡسِ الرَّضَعَاتِ لِأَنَّهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَا دُونَ الۡخَمۡسِ لَا يُحَرِّمۡنَ.

Ahmad, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi juga mengeluarkan riwayat semisal hadis tersebut dari hadis ‘Abdullah bin Az-Zubair. Karena puncak kandungan hadis-hadis ini adalah bahwa satu atau dua isapan, satu atau dua susuan, satu atau dua tetekan tidaklah menyebabkan hubungan mahram. Ini adalah makna eksplisit dari hadis-hadis itu. Dan makna itu tidak menyelisih hadis lima susuan, karena hadis itu menunjukkan bahwa susuan kurang dari lima tidaklah menyebabkan hubungan mahram.

وَأَمَّا مَعۡنَى هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ مَفۡهُومًا، وَهُوَ أَنۡ يُحَرِّمَ مَا زَادَ عَلَى الرَّضۡعَةِ وَالرَّضۡعَتَيۡنِ فَهُوَ مَدۡفُوعٌ لِحَدِيثِ الۡخَمۡسِ وَهِيَ مُشۡتَمِلَةٌ عَلَى زِيَادَةٍ، فَوَجَبَ قَبُولُهَا وَالۡعَمَلُ بِهَا وَلَا سِيَّمَا عِنۡدَ قَوۡلِ مَنۡ يَقُولُ: إِنَّ بِنَاءَ الۡفِعۡلِ عَلَى الۡمُنَكَّرِ يُفِيدُ التَّخۡصِيصَ، وَالرَّضۡعَةُ هِيَ أَنۡ يَأۡخُذَ الصَّبِيُّ الثَّدۡيَ فَيَمۡتَصُّ مِنۡهُ ثُمَّ يَسۡتَمِرُّ عَلَى ذٰلِكَ حَتَّى يَتۡرُكَهُ بِاخۡتِيَارِهِ لِغَيۡرِ عَارِضٍ.

Adapun makna tersirat dari hadis-hadis ini, yaitu bahwa susuan yang lebih dari satu atau dua dapat menyebabkan hubungan mahram, maka makna ini tertolak berdasarkan hadis lima susuan. Hadis lima susuan ini mencakup adanya tambahan makna, sehingga wajib menerimanya dan mengamalkannya. Terlebih menurut pendapat orang yang berkata: Sesungguhnya susunan fiil kepada kata nakirah memberikan faedah pengkhususan.

Menyusu adalah peristiwa mulut si bayi mengambil puting payudara lalu mengisapnya. Kemudian dia terus demikian sampai melepasnya dengan kemauannya sendiri tanpa ada paksaan.

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى اعۡتِبَارِ الۡخَمۡسِ ابۡنُ مَسۡعُودٍ، وَعَائِشَةُ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَعَطَاءٌ، وَطَاوُسٌ، وَسَعِيدُ بۡنُ جُبَيۡرٍ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَاللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحۡمَدُ وَإِسۡحَاقُ وَابۡنُ حَزۡمٍ، وَجَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، وَقَدۡ رُوِيَ ذٰلِكَ عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ.

Yang berpendapat dianggapnya lima susuan adalah Ibnu Mas’ud, ‘Aisyah, ‘Abdullah bin Az-Zubair, ‘Atha`, Thawus, Sa’id bin Jubair, ‘Urwah bin Az-Zubair, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Hazm, dan sekelompok ulama. Hal itu juga telah diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Thalib.

وَذَهَبَ الۡجُمۡهُورُ إِلَى أَنَّ الرَّضَاعَ الۡوَاصِلَ إِلَى الۡجَوۡفِ يَقۡتَضِي التَّحۡرِيمَ وَإِنۡ قَلَّ.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa susuan yang sampai ke perut mengakibatkan hubungan mahram, walaupun susuan itu sedikit.


[1] HR. Muslim nomor 1452, Abu Dawud nomor 2062, dan At-Tirmidzi nomor 1150.

[2] HR. Muslim nomor 1450, Abu Dawud nomor 2063, At-Tirmidzi nomor 1150, An-Nasa`i nomor 3310, dan Ibnu Majah nomor 1941.

[3] HR. Muslim nomor 1451 dan An-Nasa`i nomor 3308.

Read More

Waktu Seorang Insan adalah Umurnya

9 April 2018
/ / /

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Jawab Al-Kafi,

فَوَقۡتُ الۡإِنۡسَانِ هُوَ عُمۡرُهُ فِي الۡحَقِيقَةِ، وَهُوَ مَادَّةُ حَيَاتِهِ الۡأَبَدِيَّةِ فِي النَّعِيمِ الۡمُقِيمِ، وَمَادَّةُ مَعِيشَتِهِ الضَّنۡكِ فِي الۡعَذَابِ الۡأَلِيمِ، وَهُوَ يَمُرُّ أَسۡرَعَ مِنَ السَّحَابِ؛ فَمَا كَانَ مِنۡ وَقۡتِهِ لِلهِ وَبِاللهِ فَهُوَ حَيَاتُهُ وَعُمۡرُهُ، وَغَيۡرُ ذٰلِكَ لَيۡسَ مَحۡسُوبًا مِنۡ حَيَاتِهِ وَإِنۡ عَاشَ فِيهِ عَاشَ عَيۡشَ الۡبَهَائِمِ، فَإِذَا قَطَعَ وَقۡتَهُ فِي الۡغَفۡلَةِ وَالسَّهۡوِ وَالۡأَمَانِي الۡبَاطِلَةِ وَكَانَ خَيۡرَ مَا قَطَعَهُ بِهِ النَّوۡمُ وَالۡبَطَالَةُ؛ فَمَوۡتُ هَٰذَا خَيۡرٌ مِنۡ حَيَاتِهِ.

Hakikat waktu seorang insan adalah umurnya. Waktu merupakan unsur kehidupan yang abadi di dalam kenikmatan yang kekal. Waktu juga merupakan unsur kehidupan yang sempit di dalam azab yang pedih. Waktu berlalu lebih cepat daripada awan.

  • Sehingga, jika sebagian waktunya dia gunakan untuk Allah dan dengan menaati Allah, maka itu adalah kehidupan dan umurnya.
  • Adapun waktu untuk selain itu tidak terhitung dalam kehidupannya. Jika dia hidup untuk hal demikian, maka dia menjalani kehidupan binatang-binatang ternak.

Jika

  • dia menghabiskan waktunya di dalam kelalaian, kealpaan, dan angan-angan yang batil,
  • serta tidur dan menganggur adalah kegiatan terbaik untuk menghabiskan waktunya,

maka kematian orang ini lebih baik daripada kehidupannya.

Read More

Hikmah Penciptaan Manusia

6 April 2018
/ / /

Allah taala berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ۝٥٧ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ۝٥٨ فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ذَنُوبًا مِّثۡلَ ذَنُوبِ أَصۡحَـٰبِهِمۡ فَلَا يَسۡتَعۡجِلُونِ ۝٥٩ فَوَيۡلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن يَوۡمِهِمُ ٱلَّذِى يُوعَدُونَ ۝٦٠

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Maka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bagian (siksa) seperti bagian teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakannya. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka. (QS. Adz-Dzariyat: 56-60).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam kitab Tafsir Al-Qur`an Al-‘Azhim pada ayat ini,

وَمَعۡنَى الۡآيَةِ أَنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلَقَ الۡعِبَادَ لِيَعۡبُدُوهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَمَنۡ أَطَاعَهُ جَازَاهُ أَتَمَّ الۡجَزَاءِ، وَمَنۡ عَصَاهُ عَذَّبَهُ أَشَدَّ الۡعَذَابِ. وَأَخۡبَرَ أَنَّهُ غَيۡرُ مُحۡتَاجٍ إِلَيۡهِمۡ بَلۡ هُمُ الۡفُقَرَاءُ إِلَيۡهِ فِي جَمِيعِ أَحۡوَالِهِمۡ. فَهُوَ خَالِقُهُمۡ وَرَازِقُهُمۡ.

Makna ayat ini bahwa Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menciptakan para hamba agar mereka beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, siapa saja yang taat kepada-Nya, maka Allah akan balas dengan balasan yang paling sempurna. Dan siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya, maka Allah akan menyiksanya dengan siksa yang amat keras. Allah juga mengabarkan bahwa Dia tidak butuh kepada para hamba itu, bahkan merekalah yang sangat membutuhkan Allah di segala keadaan mereka. Jadi Allah yang menciptakan mereka dan memberi rezeki kepada mereka.

Read More

Shahih Muslim – 18. Kitab Talak

23 Maret 2018
/ / /

  1. Bab pengharaman menalak wanita haid tanpa ridanya dan bahwa andai ada yang menyelisihi, maka tetap jatuh talak dan ia diperintah untuk merujuknya
    1. Hadis nomor 1471
  2. Bab talak tiga sekaligus
    1. Hadis nomor 1472
  3. Wajibnya kafarat bagi siapa saja yang mengharamkan istrinya namun tidak meniatkan talak
    1. Hadis nomor 1473
    2. Hadis nomor 1474
  4. Bab keterangan bahwa mengajukan pilihan kepada istrinya tidak jatuh talak kecuali dengan niat
    1. Hadis nomor 1475
    2. Hadis nomor 1476
    3. Hadis nomor 1477
    4. Hadis nomor 1478
  5. Bab tentang ila` (sumpah suami untuk tidak menggauli istri), menjauhi istri-istri, mengajukan pilihan kepada mereka, dan firman Allah taala (yang artinya), “Jika kalian berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi…” (QS. At-Tahrim: 4)
    1. Hadis nomor 1479
    2. Hadis nomor 1475
  6. Bab wanita yang ditalak tiga sudah tidak berhak lagi mendapat nafkah dan hunian (dari mantan suami)
    1. Hadis nomor 1480
    2. Hadis nomor 1481
    3. Hadis nomor 1482
  7. Bab bolehnya wanita yang menjalani idah talak bain dan yang ditinggal mati suaminya untuk keluar di siang hari untuk menunaikan hajatnya
    1. Hadis nomor 1483
  8. Bab selesainya idah wanita yang ditinggal mati suaminya dan selain itu dengan melahirkan
    1. Hadis nomor 1484
    2. Hadis nomor 1485
  9. Bab wajibnya ihdad dalam masa idah ditinggal mati suami dan pengharaman ihdad karena selain itu kecuali selama tiga hari
    1. Hadis nomor 1486
    2. Hadis nomor 1487
    3. Hadis nomor 1488
    4. Hadis nomor 1489
    5. Hadis nomor 1490
    6. Hadis nomor 1491
    7. Hadis nomor 938
Read More

Shahih Muslim – 49. Kitab Tobat

14 Maret 2018
/ / /

  1. Bab anjuran untuk tobat dan bergembira dengannya
    1. Hadis nomor 2675
    2. Hadis nomor 2744
    3. Hadis nomor 2745
    4. Hadis nomor 2746
    5. Hadis nomor 2747
  2. Bab gugurnya dosa-dosa dengan permohonan ampunan dalam rangka tobat
    1. Hadis nomor 2748
    2. Hadis nomor 2749
  3. Bab keutamaan kesinambungan zikir, memikirkan perkara-perkara akhirat, dan sikap merasa diawasi; serta bolehnya meninggalkan hal itu di sebagian waktu dan berurusan dengan dunia
    1. Hadis nomor 2750
  4. Bab luasnya rahmat Allah taala dan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya
    1. Hadis nomor 2751
    2. Hadis nomor 2752
    3. Hadis nomor 2753
    4. Hadis nomor 2754
    5. Hadis nomor 2755
    6. Hadis nomor 2756
    7. Hadis nomor 2619
    8. Hadis nomor 2757
  5. Bab diterimanya tobat dari dosa-dosa walaupun dosa-dosa dan tobat itu terjadi berulang kali
    1. Hadis nomor 2758
    2. Hadis nomor 2759
  6. Bab girah Allah taala dan pengharaman perbuatan-perbuatan keji
    1. Hadis nomor 2760
    2. Hadis nomor 2761 dan 2762
  7. Bab firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk.”
    1. Hadis nomor 2763
    2. Hadis nomor 2764
    3. Hadis nomor 2765
  8. Bab diterimanya tobat pembunuh meskipun sudah banyak membunuh
    1. Hadis nomor 2766
    2. Hadis nomor 2767
    3. Hadis nomor 2768
  9. Bab hadis tobatnya Ka’b bin Malik dan dua sahabatnya
    1. Hadis nomor 2769
  10. Bab tentang kejadian berita bohong dan diterimanya tobat si penuduh
    1. Hadis nomor 2770
  11. Bab kesucian diri selir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tuduhan
    1. Hadis nomor 2771
Read More

Shahih Muslim – 35. Kitab Kurban

4 September 2017
/ / /

  1. Bab waktu berkurban
    1. Hadis nomor 1960
    2. Hadis nomor 1961
    3. Hadis nomor 1962
  2. Bab umur hewan kurban
    1. Hadis nomor 1963
    2. Hadis nomor 1964
    3. Hadis nomor 1965
  3. Bab anjuran berkurban dan menyembelih sendiri tanpa diwakilkan dan anjuran membaca nama Allah dan bertakbir
    1. Hadis nomor 1966
    2. Hadis nomor 1967
  4. Bab bolehnya menyembelih dengan segala alat yang dapat menumpahkan darah selain gigi, kuku, dan semua tulang-belulang
    1. Hadis nomor 1968
  5. Bab penjelasan larangan memakan daging kurban setelah tiga hari di masa awal Islam dan penjelasan penghapusan hal itu dan pembolehannya sampai kapan saja ia kehendaki
    1. Hadis nomor 1969
    2. Hadis nomor 1970
    3. Hadis nomor 1971
    4. Hadis nomor 1972
    5. Hadis nomor 1973
    6. Hadis nomor 1974
    7. Hadis nomor 1975
    8. Hadis nomor 1977
  6. Bab fara’ dan ‘atirah
    1. Hadis nomor 1976
  7. Bab larangan bagi siapa saja yang masuk sepuluh Zulhijah dalam keadaan ingin berkurban untuk mengambil sedikit saja dari rambut dan kukunya
    1. Hadis nomor 1977
  8. Bab pengharaman penyembelihan untuk selain Allah taala dan laknat terhadap pelakunya
    1. Hadis nomor 1978

Download Terjemahan Kitab Kurban Shahih Muslim format PDF.

Read More