Tak Berkategori

Larangan Jual Beli Khamar, Bangkai, Babi, dan Berhala

18 Agustus 2019
/ / /

Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata,

وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَجُوزُ بَيۡعُ الۡخَمۡرِ وَالۡمَيۡتَةِ وَالۡخِنۡزِيرِ وَالۡأَصۡنَامِ، فَلِحَدِيثِ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ اللهَ حَرَّمَ بَيۡعَ الۡخَمۡرِ وَالۡمَيۡتَةِ وَالۡخِنۡزِيرِ وَالۡأَصۡنَامِ).

Adapun tidak bolehnya jual beli khamar, bangkai, babi, dan berhala adalah berdasarkan hadis Jabir di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan berhala.”[1]


[1] HR. Al-Bukhari nomor 2236, Muslim nomor 1581, Abu Dawud nomor 3486, At-Tirmidzi nomor 1297, An-Nasa`i nomor 4669, Ibnu Majah nomor 2167, dan Ahmad.

Read More

Larangan jual beli perasan buah untuk dibuat khamar

7 Agustus 2019
/ / /

Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah dalam Ad-Dararil Mudhiyyah berkata,

وَأَمَّا بَيۡعُ الۡعَصِيرِ إِلَى مَنۡ يَتَّخِذُهُ خَمۡرًا؛ فَلِحَدِيثِ: (لَعَنَ اللهُ بَائِعَ الۡخَمۡرِ وَشَارِبَهَا وَمُشۡتَرِيَهَا وَعَاصِرَهَا) أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسٍ. وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَحۡمَدُ، وَابۡنُ مَاجَة، وَأَبُو دَاوُدَ، وَفِي إِسۡنَادِهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡغَافِقِيُّ؛ وَقَدۡ قِيلَ إِنَّهُ غَيۡرُ مَعۡرُوفٍ؛ وَقِيلَ: إِنَّهُ مَعۡرُوفٌ وَهُوَ مِنۡ أُمَرَاءِ الۡأَنۡدَلُسِ؛ وَصَحَّحَ الۡحَدِيثَ ابۡنُ السَّكَنِ. وَأَخۡرَجَ الطَّبَرَانِيُّ فِي الۡأَوۡسَطِ عَنۡ بُرَيۡدَةَ مَرۡفُوعًا: (مَنۡ حَبَسَ الۡعِنَبَ أَيَّامَ الۡقِطَافِ حَتَّى يَبِيعَهُ مِنۡ يَهُودِيٍّ أَوۡ نَصۡرَانِيٍّ أَوۡ مِمَّنۡ يَتَّخِذُهُ خَمۡرًا فَقَدۡ تَقَحَّمَ النَّارَ عَلَى بَصِيرَةٍ). وَإِسۡنَادُهُ حَسَنٌ؛ وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun larangan jual beli perasan buah kepada orang yang menjadikannya sebagai khamar adalah berdasar hadis, “Allah melaknat orang yang menjual khamar, peminumnya, pembelinya, dan pemerasnya.”[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Para rawinya adalah orang-orang yang tepercaya, dari hadis Anas.

Diriwayatkan hadis semisal itu oleh Ahmad, Ibnu Majah[2], dan Abu Dawud[3]. Di dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al-Ghafiqi. Ada yang berkata bahwa dia tidak dikenal. Namun ada yang berkata bahwa dia dikenal dan dia termasuk pemimpin Al-Andalus. Ibnu As-Sakan menilai hadis itu sahih.

Ath-Thabarani juga meriwayatkan di dalam Al-Ausath, dari Buraidah secara marfuk, “Siapa saja yang menahan buah anggur pada hari-hari panen sehingga dia menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani, atau orang yang menjadikannya sebagai khamar, maka sungguh dia menerjang masuk ke dalam neraka dalam keadaan mengetahui.” Sanadnya hasan. Di dalam bab ini ada beberapa hadis.


[1] HR. At-Tirmidzi nomor 1295, dan Ibnu Majah nomor 3381.

[2] Nomor 3380.

[3] Nomor 3674.

Read More

Urgensi Mengenali Kelompok yang Menyimpang

31 Juli 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

أَهَمِّيَّةُ الۡحَدِيثِ عَنِ الۡفِرَقِ

Pentingnya pembicaraan tentang kelompok-kelompok

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.

Segala puji bagi Allah Rabb alamin. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya seluruhnya.

أَمَّا بَعۡدُ:

فَإِنَّ الۡحَدِيثَ عَنِ الۡفِرَقِ لَيۡسَ هُوَ مِنۡ بَابِ السَّرۡدِ التَّارِيخِيِّ، الَّذِي يُقۡصَدُ مِنۡهُ الۡاطِّلَاعُ عَلَى أُصُولِ الۡفِرَقِ لِمُجَرَّدِ الۡاطِّلَاعِ، كَمَا يُطَّلَعُ عَلَى الۡحَوَادِثِ التَّارِيخِيَّةِ، وَالۡوَقَائِعِ التَّارِيخِيَّةِ السَّابِقَةِ، وَإِنَّمَا الۡحَدِيثُ عَنِ الۡفِرَقُ لَهُ شَأۡنٌ أَعۡظَمُ مِنۡ ذٰلِكَ؛ أَلَا وَهُوَ الۡحَذَرُ مِنۡ شَرِّ هَٰذِهِ الۡفِرَقِ وَمِنۡ مُحۡدَثَاتِهَا، وَالۡحَثُّ عَلَى لُزُومِ فِرۡقَةِ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ.

Amabakdu. Sesungguhnya pembicaraan tentang kelompok-kelompok bukan semata-mata cerita peristiwa sejarah yang hanya ditujukan untuk menelaah asal usul kelompok itu saja sebagaimana penelaahan peristiwa dan kejadian bersejarah yang telah lalu. Pembicaraan tentang kelompok-kelompok ini memiliki manfaat yang lebih agung daripada itu. Yaitu mewaspadai kejelekan kelompok-kelompok ini dan pemahaman barunya, serta anjuran untuk menetapi kelompok ahli sunah waljamaah.

وَتَرۡكُ مَا عَلَيۡهِ الۡفِرَقُ الۡمُخَالِفَةُ لَا يَحۡصُلُ عَفۡوًا لِلۡإِنۡسَانِ، لَا يَحۡصُلُ إِلَّا بَعۡدَ الدِّرَاسَةِ، وَمَعۡرِفَةِ مَا الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ؟

مَنۡ هُمۡ أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، الَّذِينَ يَجِبُ عَلَى الۡمُسۡلِمِ أَنۡ يَكُونَ مَعَهُمۡ؟

وَمَنِ الۡفِرَقُ الۡمُخَالِفَةُ؟

وَمَا مَذَاهِبُهُمۡ وَشُبُهَاتُهُمۡ؟ حَتَّى يُحۡذَرُ مِنۡهَا.

Meninggalkan pemahaman kelompok yang menyimpang itu tidak akan terwujud secara sempurna bagi manusia dan tidak akan berhasil kecuali setelah mempelajari dan mengenal:

  • Apakah golongan yang selamat itu?
  • Siapakah ahli sunah waljamaah yang wajib bagi seorang muslim untuk bersamanya?
  • Dan siapakah kelompok-kelompok yang menyelisihi? Apa mazhab dan syubhat mereka hingga harus diwaspadai?

لِأَنَّ مَنۡ لَا يَعۡرِفُ الشَّرَّ يُوشِكُ أَنۡ يَقَعَ فِيهِ، كَمَا قَالَ حُذَيۡفَةُ بۡنُ الۡيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: (كَانَ النَّاسُ يَسۡأَلُونَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الۡخَيۡرِ، وَكُنۡتُ أَسۡأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنۡ يُدۡرِكَنِي، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَٰذَا الۡخَيۡرِ، فَهَلۡ بَعۡدَ هَٰذَا الۡخَيۡرِ شَرٌّ؟ قَالَ: “نَعَمۡ”. فَقُلۡتُ: هَلۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ الشَّرِّ مِنۡ خَيۡرٍ؟ قَالَ: “نَعَمۡ، وَفِيهِ دَخَنٌ”. قُلۡتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: “قَوۡمٌ يَسۡتَنُّونَ بِغَيۡرِ سُنَّتِي، وَيَهۡدُونَ بِغَيۡرِ هَدۡيِي، تَعۡرِفُ مِنۡهُمۡ وَتُنۡكِرُ”. فَقُلۡتُ: هَلۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ الۡخَيۡرِ مِنۡ شَرٍّ؟ قَالَ: “نَعَمۡ، دُعَاةٌ عَلَى أَبۡوَابِ جَهَنَّمَ، مَنۡ أَجَابَهُمۡ إِلَيۡهَا قَذَفُوهُ فِيهَا”. فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفۡهُمۡ لَنَا. قَالَ: “نَعَمۡ، قَوۡمٌ مِنۡ جِلۡدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلۡسِنَتِنَا”. قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنۡ أَدۡرَكَنِي ذٰلِكَ؟ قال: “تَلۡزَمُ جَمَاعَةَ الۡمُسۡلِمِينَ وَإِمَامَهُمۡ” فَقُلۡتُ: فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ لَهُمۡ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: “فَاعۡتَزِلۡ تِلۡكَ الۡفِرَقَ، وَلَوۡ أَنۡ تَعَضَّ عَلَى أَصۡلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدۡرِكَكَ الۡمَوۡتُ، وَأَنۡتَ عَلَى ذٰلِكَ”)

Karena siapa saja yang tidak mengenali kejelekan, dikhawatirkan dia akan terjatuh di dalamnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu: Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir akan mengenaiku.

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami dalam keadaan jahiliah dan kejelekan. Lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?”

Rasulullah menjawab, “Iya.”

Aku bertanya, “Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan?”

Beliau menjawab, “Iya, namun padanya ada asap.”

Aku bertanya, “Apa asapnya?”

Beliau menjawab, “Suatu kaum yang mengambil jalan bukan dengan sunahku dan mengambil bimbingan bukan dari petunjukku. Engkau mengetahui ada kebaikan dari mereka dan engkau ingkari (munculnya kemungkaran dari mereka).”

Aku bertanya, “Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?”

Beliau menjawab, “Iya. Ada dai-dai di pintu-pintu neraka jahanam. Siapa saja yang menyambut panggilan mereka, akan mereka lemparkan ke dalamnya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, gambarkan mereka kepada kami.”

Beliau bersabda, “Baik. Suatu kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengalami peristiwa itu?”

Beliau menjawab, “Tetaplah engkau bersama jemaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.”

Aku bertanya, “Bagaimana jika tidak ada jemaah dan tidak ada pemimpin?”

Beliau menjawab, “Tinggalkan kelompok-kelompok itu walaupun engkau menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu dan engkau dalam keadaan itu.”[1]

فَمَعۡرِفَةُ الۡفِرَقِ وَمَذَاهِبِهَا وَشُبُهَاتِهَا، وَمَعۡرِفَةُ الۡفِرۡقَةِ النَّاجِيَةِ – أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ – وَمَا هِيَ عَلَيۡهِ، فِيهِ خَيۡرٌ كَثِيرٌ لِلۡمُسۡلِمِ، لِأَنَّ هَٰذِهِ الۡفِرَقَ الضَّالَّةَ عِنۡدَهَا شُبُهَاتٌ، وَعِنۡدَهَا مُغۡرِيَاتُ تَضۡلِيلٍ، فَقَدۡ يَغۡتَرُّ الۡجَاهِلُ بِهَٰذِهِ الدِّعَايَاتِ وَيَنۡخَدِعُ بِهَا؛ فَيَنۡتَمِي إِلَيۡهَا، كَمَا قَالَ ﷺ لَمَّا ذَكَرَ فِي حَدِيثِ حُذَيۡفَةَ:

هَلۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ الۡخَيۡرِ مِنۡ شَرٍّ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، دُعَاةٌ عَلَى أَبۡوَابِ جَهَنَّمَ، مَنۡ أَجَابَهُمۡ إِلَيۡهَا قَذَفُوهُ فِيهَا). فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفۡهُمۡ لَنَا. قَالَ: (نَعَمۡ، قَوۡمٌ مِنۡ جِلۡدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلۡسِنَتِنَا).

Jadi mengenal kelompok, mazhab, dan syubhatnya, serta mengenal golongan yang selamat ahli sunah waljamaah dan jalannya ada kebaikan yang banyak bagi seorang muslim. Karena kelompok-kelompok sesat ini memiliki syubhat-syubhat dan penyimpangan yang menyesatkan. Orang-orang bodoh tertipu dan terkecoh dengan ajakan-ajakan ini, sehingga ia pun bergabung dengannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dalam hadis Hudzaifah.

“Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?”

Nabi menjawab, “Iya, ada dai-dai di pintu-pintu jahanam. Siapa saja yang menyambut ajakan mereka, akan mereka jebloskan ke dalamnya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, gambarkan mereka kepada kami.”

Nabi bersabda, “Baik, suatu kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

فَالۡخَطَرُ شَدِيدٌ، وَقَدَ وَعَظَ النَّبِيُّ ﷺ أَصۡحَابَهُ ذَاتَ يَوۡمٍ – كَمَا فِي حَدِيثِ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ -:

أَنَّهُ وَعَظَهُمۡ مَوۡعِظَةً بَلِيغَةً، وَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، وَذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ. قُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوۡصِنَا. قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ؛ فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنۡ بَعۡدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحۡدَثَةٍ بِدۡعَةٌ، وَكُلُّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ).

Jadi sangat berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasihat kepada para sahabatnya pada suatu hari sebagaimana dalam hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah. Bahwa beliau memberi nasihat yang amat mengena. Karenanya hati bergetar dan mata menitikkan air mata.

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat dari orang yang akan berpisah. Berilah wasiat kepada kami.”

Rasulullah bersabda, “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalaah seorang budak. Karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup akan melihat banyak perselisihan. Maka kalian wajib mengikuti sunahku dan sunah para khalifah yang lurus sepeninggalku. Pegang eratlah dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan.”[2]

فَأَخۡبَرَ ﷺ أَنَّهُ سَيَكُونُ هُنَاكَ اخۡتِلَافٌ وَتَفَرُّقٌ، وَأَوۡصَى عِنۡدَ ذٰلِكَ بِلُزُومِ جَمَاعَةِ الۡمُسۡلِمِينَ وَإِمَامِهِمۡ، وَالتَّمَسُّكِ بِسُنَّةِ الرَّسُولِ ﷺ وَتَرۡكِ مَا خَالَفَهَا مِنَ الۡأَقۡوَالِ وَالۡأَفۡكَارِ، وَالۡمَذَاهِبِ الۡمُضِلَّةِ، فَإِنَّ هَٰذَا طَرِيقُ النَّجَاةِ، وَقَدۡ أَمَرَ اللهُ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – بِالۡاِجۡتِمَاعِ وَالۡاِعۡتِصَامِ بِكِتَابِهِ، وَنَهَى عَنِ التَّفَرُّقِ، قَالَ – سُبۡحَانَهُ -: ﴿ وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَ‌ٰنًا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَا ۗ كَذَ‌ٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ۝١٠٣﴾.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan terjadinya perselisihan dan perpecahan. Beliau memberi wasiat ketika terjadi hal itu dengan tetap bersama jemaah kaum muslimin dan pemimpin mereka serta berpegang teguh dengan sunah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga dengan meninggalkan ucapan dan pemikiran yang menyelisihinya, serta mazhab yang menyesatkan. Karena jalan ini adalah keselamatan. Allah subhanahu wa taala telah memerintahkan agar bersatu, memegang teguh Alquran, dan melarang dari perpecahan.

Allah subhanahu berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kalian semua dengan tali Allah dan jangan berpecah belah. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuhan lalu Allah satukan hati-hati kalian. Sehingga kalian menjadi bersaudara karena nikmat-Nya. Juga ketika kalian dahulu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

إِلَى أَنۡ قَالَ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿ وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخۡتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَـٰتُ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ ۝١٠٥ يَوۡمَ تَبۡيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسۡوَدُّ وُجُوهٌ ۚ﴾.

Sampai firman Allah subhanahu wa taala yang artinya, “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang amat besar. Pada hari itu, ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada wajah-wajah yang hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 105-106).

قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا -: تَبۡيَضُّ وُجُوهُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَتَسۡوَدُّ وُجُوهُ أَهۡلِ الۡبِدۡعَةِ وَالۡفُرۡقَةِ.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Wajah-wajah yang putih berseri adalah wajah ahli sunah waljamaah. Wajah-wajah yang hitam muram adalah wajah ahli bidah dan furqah (perpecahan).”[3]

وَقَالَ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمۡ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِى شَىۡءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفۡعَلُونَ ۝١٥٩﴾.

Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka bergolong-golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Urusan mereka kembali kepada Allah kemudian Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 159).

فَالدِّينُ وَاحِدٌ، وَهُوَ مَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يَقۡبَلُ الۡاِنۡقِسَامَ إِلَى دِيَانَاتٍ وَإِلَى مَذَاهِبَ مُخۡتَلِفَةٍ، بَلۡ دِينٌ وَاحِدٌ هُوَ دِينُ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – وَهُوَ مَا جَاءَ بِهِ رَسُولُهُ ﷺ وَتَرَكَ أُمَّتَهُ عَلَيۡهِ، حَيۡثُ تَرَكَ ﷺ أُمَّتَهُ عَلَى الۡبَيۡضَاءِ، لَيۡلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنۡهَا إِلَّا هَالِكٌ.

Jadi agama Islam adalah satu saja. Yaitu apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agama ini tidak menerima adanya pembagian menjadi banyak agama dan bermacam-macam mazhab. Bahkan agama yang satu itulah agama Allah subhanahu wa taala. Itulah apa yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau telah meninggalkan umatnya dalam keadaan itu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan umatnya dalam keadaan terang benderang. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali ia binasa.

وَقَالَ ﷺ: (تَرَكۡتُ فِيكُمۡ مَا إِنۡ تَمَسَّكۡتُمۡ بِهِ لَنۡ تَضِلُّوا بَعۡدِي أَبَدًا؛ كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّتِي).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian apa yang apabila kalian pegang teguh maka kalian tidak akan sesat setelahku selama-lamanya, yaitu kitab Allah dan sunahku.”[4]


[1] Diriwayatkan oleh:

  • Al-Bukhari dalam Shahih-nya nomor 3606 dan 7084.
  • Muslim dalam Shahih-nya nomor 1847.
  • Ahmad secara panjang (5/386, 403), secara ringkas (5/391, 399), secara ringkas dengan lafal lain (5/404).
  • Abu Dawud As-Sijistani nomor 4244, dengan ungkapan lain nomor 4246.
  • An-Nasa`i di dalam Al-Kubra (5/17, 18).
  • Ibnu Majah nomor 3979 dan 3981.
  • Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya nomor 442, dengan lafal lain nomor 443 halaman 59.
  • Abu ‘Awanah dalam Ash-Shahih Al-Musnad (4/474 dan 475).
  • ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf beliau 20711 (11/341).
  • Ibnu Abu Syaibah dalam kitab Al-Fitan 2449 dan 8960, 18961 dan 18980.
  • Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (4/432). Beliau menilai sanadnya sahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

[2] Diriwayatkan oleh:

[3] Al-Baghawi menyebutkannya di dalam tafsir beliau (2/87) dan Ibnu Katsir (2/87) cetakan Al-Andalus.

[4] Diriwayatkan oleh:

  • Malik dalam Al-Muwaththa` (2/1899).
  • Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/93) secara tersambung dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan pula secara panjang tanpa kata “dan sunahku” oleh:

Dalam riwayat ini ada tata cara haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khotbah beliau kepada mereka.

Read More

Peta Manasik Haji

31 Juli 2019
/ / /

Hari Tarwiah 8 Zulhijah

Berangkat ke Mina.

Salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di Mina.

Hari Arafah 9 Zulhijah

Berangkat dari Mina menuju Arafah setelah matahari terbit.

Salat Zuhur dan Asar dengan cara jamak takdim dan qasar. Wukuf sampai matahari terbenam.

Malam 10 Zulhijah

Berangkat menuju Muzdalifah.

Salat Magrib dan Isya dengan cara jamak qasar. Tidur hingga terbit fajar lalu salat Subuh. Bertolak sebelum matahari terbit.

Hari nahar 10 Zulhijah

Menuju jamrah Aqabah untuk melemparnya.

Kemudian ke tempat penyembelihan. Setelah menyembelih, menggundul kepala bagi pria.

Lalu menuju Kakbah. Salat Zuhur di Makkah dan melakukan tawaf ifadhah dan sai. Tawaf ifadhah bisa ditunda di hari-hari setelahnya.

Kembali ke Mina untuk mabit di sana.

Tanggal 11 dan 12 Zulhijah

Melempar tiga jamrah setelah matahari turun ke barat. Lalu kembali ke Mina untuk mabit di sana.

Tanggal 13 Zulhijah

Melempar tiga jamrah setelah matahari turun ke barat lalu pulang.

Read More

Syi’ah

15 Juli 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

الۡفِرۡقَةُ الثَّالِثَةُ: الشِّيعَةُ

“الشِّيعَةُ”: هُمُ الَّذِينَ يَتَشَيَّعُونَ لِأَهۡلِ الۡبَيۡتِ.

وَ “التَّشَيُّعُ” فِي الۡأَصۡلِ: الۡاتِّبَاعُ وَالۡمُنَاصَرَةُ:

﴿وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبۡرَاهِيمَ﴾. [سورة الصافات]

يَعۡنِي: أَتۡبَاعَهُ إِبۡرَاهِيمَ، وَمِنۡ أَنۡصَارِ مِلَّتِهِ؛ لِأَنَّ اللهَ -سُبۡحَانَهُ- لَمَّا ذَكَرَ قِصَّةَ نُوحٍ قَالَ: ﴿وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبۡرَاهِيمَ﴾.

فَأَصۡلُ “التَّشَيُّع”: الۡاِتِّبَاعُ وَالۡمُنَاصَرَةُ، ثُمَّ صَارَ يُطۡلَقُ عَلَى هَٰذِهِ الۡفِرۡقَةِ، الَّتِي تَزۡعُمُ أَنَّهَا مُتَّبِعَةٌ لِأَهۡلِ الۡبَيۡتِ -وَهُمۡ: عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ- وَذُرِّيَّتُهُ-.

Syi’ah adalah orang-orang yang mengaku-aku membela ahli bait. At-Tasyayyu’ asalnya adalah mengikuti dan membela.

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” (QS. Ash-Shaffat: 83). Yakni yang mengikutinya adalah Ibrahim dan yang termasuk penolong-penolong agamanya, karena Allah subhanahu ketika menyebutkan kisah Nuh, Dia berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).”

Jadi asal at-tasyayyu’ adalah mengikuti dan membela, kemudian istilah ini dimutlakkan kepada firkah ini yang menyatakan bahwa dia mengikuti ahli bait, yaitu ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya.

وَيَزۡعُمُونَ أَنَّ عَلِيًّا هُوَ الۡوَصِيُّ بَعۡدَ الرَّسُولِ ﷺ عَلَى الۡخِلَافَةِ، وَأَنَّ أَبَا بَكۡرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثۡمَانَ، وَالصَّحَابَةَ؛ ظَلَمُوا عَلِيَّا، وَاغۡتَصَبُوا الۡخِلَافَةَ مِنۡهُ. هَٰكَذَا يَقُولُونَ.

وَقَدۡ كَذَبُوا فِي ذٰلِكَ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ أَجۡمَعُوا عَلَى بَيۡعَةِ أَبِي بَكۡرٍ وَمِنۡهُمۡ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ-، حَيۡثُ بَايَعَ لِأَبِي بَكۡرٍ، وَبَايَعَ لِعُمَرَ، وَبَايَعَ لِعُثۡمَانَ.

فَمَعۡنَى هَٰذَا: أَنَّهُمۡ خَوَّنُوا عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ-.

Mereka menyatakan bahwa ‘Ali adalah orang yang diberi wasiat kekhalifahan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan para sahabat telah menzalimi ‘Ali dan merampas kekhalifahan dari beliau. Seperti inilah yang mereka katakan.

Mereka telah berdusta dalam hal itu karena para sahabat telah bersepakat membaiat Abu Bakr dan termasuk di antara mereka adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Beliau membaiat Abu Bakr, membaiat ‘Umar, dan membaiat ‘Utsman. Jadi makna hal ini adalah mereka menuduh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkhianat.

وَقَدۡ كَفَّرُوا الصَّحَابَةَ إِلَّا عَدَدًا قَلِيلًا مِنۡهُمۡ، وَصَارُوا يَلۡعَنُونَ أَبَا بَكۡرٍ وَعُمَرَ، وَيُلَقِّبُونَهُمَا “بِصَنَمَيۡ قُرَيۡشٍ”.

Mereka telah mengafirkan para sahabat kecuali sedikit dari mereka. Mereka melaknat Abu Bakr dan ‘Umar dan menjuluki keduanya dengan sebutan “dua berhala Quraisy”.

وَمِنۡ مَذۡهَبِهِمۡ: أَنَّهُمۡ يَغۡلُونَ فِي الۡأَئِمَّةِ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ، وَيُعۡطُونَهُمۡ حَقَّ التَّشۡرِيعِ وَنَسۡخَ الۡأَحۡكَامِ.

وَيَزۡعُمُونَ أَنَّ الۡقُرۡآنَ قَدۡ حُرِّفَ وَنُقِّصَ، حَتَّى آلَ بِهِمُ الۡأَمۡرُ إِلَى أَنِ اتَّخَذُوا الۡأَئِمَّةَ أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللهِ، وَبَنَوۡا عَلَى قُبُورِهِمُ الۡأَضۡرِحَةَ، وَشَيَّدُوا عَلَيۡهَا الۡقِبَابَ، وَصَارُوا يَطُوفُونَ بِهَا، وَيَذۡبَحُونَ لَهَا وَيَنۡذُرُونَ.

Termasuk mazhab mereka adalah mereka bersikap melampaui batas terhadap para imam ahli bait, memberi hak mensyariatkan kepada mereka, dan menasakh hukum-hukum syariat. Mereka menyatakan bahwa Alquran telah diubah dan dikurangi. Urusan mereka menjadi-jadi sampai mereka menjadikan para imam sebagai tuhan selain Allah. Mereka membangun bangunan di atas kuburan-kuburan para imam itu, mereka mendirikan kubah-kubah di atasnya, mereka tawaf di situ, mereka menyembelih dan bernazar untuk mereka.

وَتَفَرَّقَتۡ “الشِّيعَةُ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ، بَعۡضُهَا أَخَفُّ مِنۡ بَعۡضٍ، وَبَعۡضُهَا أَشَدُّ مِنۡ بَعۡضٍ، مِنۡهُمۡ: “الزَّيۡدِيَّةُ”، وَمِنۡهُمۡ: “الرَّافِضَةُ الۡإِثۡنَا عَشَرِيَّة”، وَمِنۡهُمۡ: “الۡإِسۡمَاعِيلِيَّةُ” وَ “الۡفَاطِمِيَّةُ”، وَمِنۡهُمۡ: “الۡقَرَامِطَةُ”، وَمِنۡهُمۡ..، وَمِنۡهُمۡ..، عَدَدٌ كَبِيرٌ، وَفِرَقٌ كَثِيرَةٌ.

Syi’ah berpecah belah menjadi banyak sekte. Sebagiannya lebih ringan penyimpangannya daripada sebagian yang lain. Sebagian lagi lebih parah daripada yang lainnya. Di antara mereka adalah Az-Zaidiyyah, Ar-Rafidhah Al-Itsna Asyariyyah, Al-Isma’iliyyah, Al-Fathimiyyah, Al-Qaramithah, dan lain-lain. Ada banyak jumlahnya dan banyak sekte.

وَهَٰكَذَا.. كُلُّ مَنۡ تَرَكَ الۡحَقَّ فَإِنَّهُمۡ لَا يَزَالُونَ فِي اخۡتِلَافٍ وَتَفَرُّقٍ، قَالَ –تَعَالَى-:

﴿فَإِنۡ آمَنُواۡ بِمِثۡلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهۡتَدَواۡ وَّإِن تَوَلَّوۡاۡ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ﴾. [سورة البقرة]

Demikianlah, setiap siapa saja yang meninggalkan kebenaran maka mereka akan senantiasa dalam perselisihan dan perpecahan. Allah taala berfirman yang artinya, “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan. Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137).

فَمَنۡ تَرَكَ الۡحَقَّ يُبۡتَلَى بِالۡبَاطِلِ، وَالزَّيۡغِ، وَالتَّفَرُّقِ، وَلَا يَنۡتَهِي إِلَى نَتِيجَةٍ، بَلۡ إِلَى الۡخَسَارَةِ -وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ-.

وَتَفَرَّقَتِ “الشِّيعَةُ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ، وَنِحَلٍ كَثِيرَةٍ.

وَتَفَرَّقَتِ “الۡقَدَرِيَّةُ”.

وَتَفَرَّقَتِ “الۡخَوَارِجُ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ: “الۡأَزَارِقَةُ”، وَ “الۡحَرُورِيَّةُ”، وَ “النَّجۡدَاتُ”، وَ “الصُّفۡرِيَّةُ”، وَ “الۡإِبَاضِيَّةُ”، وَمِنۡهُمۡ الۡغُلَاةُ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ هُوَ دُونَ ذٰلِكَ.

Jadi siapa saja yang meninggalkan kebenaran akan diuji dengan kebatilan, penyimpangan, dan perpecahan. Dia juga tidak akan berujung kepada keberhasilan, bahkan akan berujung kepada kerugian. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Syi’ah telah berpecah belah menjadi banyak sekte dan golongan. Qadariyyah juga terpecah belah. Khawarij terpecah menjadi banyak sekte: Al-Azariqah, Al-Haruriyyah, An-Najdat, Ash-Shufriyyah, Al-Ibadhiyyah. Di antara mereka ada yang ekstrem dan ada yang tingkatannya di bawah itu.

Read More

Khawarij

30 Juni 2019
/ / /

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

الۡفِرۡقَةُ الثَّانِيَةُ الۡخَوَارِجُ

وَهُمُ الَّذِينَ خَرَجُوا عَلَى وَلِيِّ الۡأَمۡرِ فِي آخِرِ عَهۡدِ عُثۡمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ وَنَتَجَ عَنۡ خُرُوجِهِمۡ قَتۡلُ عُثۡمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

Mereka adalah orang-orang yang memberontak kepada pemimpin di akhir masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dan dari pemberontakan mereka terjadilah pembunuhan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.

ثُمَّ فِي خِلَافَةِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ زَادَ شَرُّهُمۡ، وَانۡشَقُّوا عَلَيۡهِ، وَكَفَّرُوهُ، وَكَفَّرُوا الصَّحَابَةَ؛ لِأَنَّهُمۡ لَمۡ يُوَافِقُوهُمۡ عَلَى مَذۡهَبِهِمۡ، وَهُمۡ يَحۡكُمُونَ عَلَى مَنۡ خَالَفَهُمۡ فِي مَذۡهَبِهِمۡ أَنَّهُ كَافِرٌ، فَكَفَّرُوا خَيۡرَةَ الۡخَلۡقِ وَهُمۡ صَحَابَةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُمۡ لَمۡ يُوَافِقُوهُمۡ عَلَى ضَلَالِهِمۡ وَعَلَى كُفۡرِهِمۡ.

Kemudian pada kekhalifahan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, kejelekan mereka bertambah, mereka memisahkan diri kepadanya, mereka mengafirkannya, dan mengafirkan para sahabat; karena para sahabat tidak menyepakati mazhab mereka. Mereka menghukumi orang yang menyelisihi mazhab mereka bahwa dia kafir, sehingga mereka mengafirkan manusia terbaik, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Karena para sahabat tidak sepakat terhadap kesesatan dan pengafiran mereka.

وَمَذۡهَبُهُمۡ: أَنَّهُمۡ لَا يَلۡتَزِمُونَ بِالسُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَلَا يُطِيعُونَ وَلِيَّ الۡأَمۡرِ، وَيَرَوۡنَ أَنَّ الۡخُرُوجَ عَلَيۡهِ مِنَ الدِّينِ، وَأَنَّ شَقَّ الۡعَصَا مِنَ الدِّينِ عَكَسَ مَا أَوۡصَى بِهِ الرَّسُولُ ﷺ مِنۡ لُزُومِ الطَّاعَةِ وَعَكَسَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ فِي قَوۡلِهِ: ﴿أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ ۖ﴾.

Mazhab mereka adalah tidak menetapi sunah dan jemaah. Mereka tidak menaati penguasa. Mereka berpandangan bahwa memberontak kepada mereka adalah bagian dari agama dan mematahkan tongkat ketaatan adalah termasuk agama[1]. Hal itu berkebalikan dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap taat.

Juga bertolak belakang dengan perintah Allah dalam firman-Nya, “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan para pemegang kekuasaan di antara kalian.” (QS. An-Nisa`: 59).

اللهُ – جَلَّ وَعَلَا – جَعَلَ طَاعَةَ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ مِنَ الدِّينِ، وَالنَّبِيُّ ﷺ جَعَلَ طَاعَةَ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ مِنَ الدِّينِ قَالَ ﷺ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا..).

Allah jalla wa ‘ala menjadikan ketaatan kepada penguasa termasuk agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan ketaatan kepada penguasa termasuk agama ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak, karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup akan melihat banyak perselisihan.” (H.R. Abu Dawud nomor 4607 dan Ad-Darimi).

فَطَاعَةُ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ الۡمُسۡلِمِ مِنَ الدِّينِ. “وَ الۡخَوَارِجُ” يَقُولُونَ: لَا، نَحۡنُ أَحۡرَارٌ. هَٰذِهِ طَرِيقَةُ الثَّوۡرَاتِ الۡيَوۡمَ.

Jadi taat kepada penguasa adalah bagian dari agama. Adapun khawarij mereka mengatakan, “Tidak, kami bebas.” Inilah cara revolusi di hari-hari ini.

فَـ “الۡخَوَرِاجُ” الَّذِينَ يُرِيدُونَ تَفۡرِيقَ جَمَاعَةِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَشَقَّ عَصَا الطَّاعَةِ، وَمَعۡصِيَةَ اللهِ وَرَسُولِهِ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ، وَيَرَوۡنَ أَنَّ مُرۡتَكِبَ الۡكَبِيرَةِ كَافِرٌ.

Jadi khawarij adalah orang-orang yang ingin memecah persatuan kaum muslimin, mematahkan tongkat ketaatan, menentang Allah dan Rasul-Nya dalam urusan ini, dan mereka berpandangan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir.

وَمُرۡتَكِبُ الۡكَبِيرَةِ هُوَ: الزَّانِي – مَثَلًا -، وَالسَّارِقُ، وَشَارِبُ الۡخَمۡرِ؛ يَرَوۡنَ أَنَّهُ كَافِرٌ، فِي حِينِ أَنَّ أَهۡلَ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ يَرَوۡنَ أَنَّهُ “مُسۡلِمٌ نَاقِصُ الۡإِيمَانِ” وَيُسَمُّونَهُ بِالۡفَاسِقِ الۡمِلِّي؛ فَهُوَ “مُؤۡمِنٌ بِإِيمَانِهِ فَاسِقٌ بِكَبِيرَتِهِ”، لِأَنَّهُ لَا يُخۡرِجُ مِنَ الۡإِسۡلَامِ إِلَّا الشِّرۡكُ أَوۡ نَوَاقِضُ الۡإِسۡلَامِ الۡمَعۡرُوفَةُ، أَمَّا الۡمَعَاصِي الَّتِي دُونَ الشِّرۡكِ؛ فَإِنَّهَا لَا تُخۡرِجُ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَإِنۡ كَانَتۡ كَبَائِرَ، قَالَ اللهُ – تَعَالَى  -: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [سورة النساء آية: ٤٨].

Pelaku dosa besar, contohnya: pezina, pencuri, peminum khamar; khawarij berpandangan bahwa dia ini kafir. Sementara ahli sunah wal jamaah berpandangan bahwa dia itu muslim yang kurang imannya[2] dan mereka menamakannya al-fasiq al-milli (orang fasik yang masih di dalam agama Islam) jadi dia orang mukmin dengan keimanannya fasik dengan dosa besarnya karena tidak ada yang mengeluarkan dari Islam kecuali syirik atau pembatal Islam yang sudah dikenal. Adapun maksiat di bawah kesyirikan, maka hal itu tidak mengeluarkan dari keimanan walau kemaksiatan itu adalah dosa besar.

Allah taala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (Q.S An-Nisa`: 48).

وَ “الۡخَوَارِجُ” يَقُولُونَ: مُرۡتَكِبُ الۡكَبِيرَةِ كَافِرٌ، وَلَا يُغۡفَرُ لَهُ، وَهُوَ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ. وَهَٰذَا خِلَافُ مَا جَاءَ فِي كِتَابِ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -.

وَالسَّبَبُ: أَنَّهُمۡ لَيۡسَ عِنۡدَهُمۡ فِقۡهٌ.

Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, tidak diampuni, dan dia kekal di dalam neraka. Hal ini menyelisihi apa yang datang di kitab Allah subhanahu wa ta’ala.

Penyebabnya karena mereka tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap agama.

لَاحِظُوا أَنَّ السَّبَبَ الَّذِي أَوۡقَعَهُمۡ فِي هَٰذَا أَنَّهُمۡ لَيۡسَ عِنۡدَهُمۡ فِقۡهٌ، لِأَنَّهُمۡ جَمَاعَةٌ اشۡتَدُّوا فِي الۡعِبَادَةِ، وَالصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَتِلَاوَةِ الۡقُرۡآنِ، وَعِنۡدَهُمۡ غَيۡرَةٌ شَدِيدَةٌ، لَكِنَّهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ، وَهَٰذِهِ هِيَ الۡآفَةُ.

فَالِاجۡتِهَادُ فِي الۡوَرَعِ وَالۡعِبَادَةِ؛ لَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ مَعَ الۡفِقۡهِ فِي الدِّينِ وَالۡعِلۡمِ.

Kalian perhatikan bahwa sebab yang menjatuhkan mereka di dalam pendapat ini adalah bahwa karena mereka tidak memiliki pemahaman. Karena mereka adalah suatu jemaah yang sangat tekun ibadah, salat, siam, membaca Alquran, dan mereka memiliki kecemburuan yang tinggi. Akan tetapi mereka tidak paham dan inilah penyakitnya.

Sehingga kesungguhan dalam warak dan ibadah harus disertai pemahaman agama dan ilmu.

وَلِهَٰذَا وَصَفَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ لِأَصۡحَابِهِ، بِأَنَّ الصَّحَابَةَ يَحۡقِرُونَ صَلَاتَهُمۡ إِلَى صَلَاتِهِمۡ، وَعِبَادَتَهُمۡ إِلَى عِبَادَتِهِمۡ، ثُمَّ قَالَ ﷺ: “يَمۡرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”.

Oleh karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan mereka kepada para sahabat beliau bahwa para sahabat akan menganggap salatnya remeh dibandingkan salat mereka, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka (khawarij) keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar menembus sasarannya.”[3]

مَعَ عِبَادَتِهِمۡ، وَمَعَ صَلَاحِهِمۡ، وَمَعَ تَهَجُّدِهِمۡ وَقِيَامِهِمۡ بۡاللَّيۡلِ، لَكِنۡ لَمَّا كَانَ اجۡتِهَادُهُمۡ لَيۡسَ عَلَى أَصۡلٍ صَحِيحٍ، وَلَا عَلَى عِلۡمٍ صَحِيحٍ، صَارَ ضَلَالًا وَوَبَاءً وَشَرًّا عَلَيۡهِمۡ وَعَلَى الۡأُمَّةِ.

Bersamaan dengan ibadah mereka, kesalehan, tahajud, qiamulail mereka, akan tetapi ketika kesungguhan mereka tidak berada di atas pondasi yang benar dan tidak di atas ilmu yang sahih, maka menjadi sesat, bencana, dan keburukan bagi mereka dan bagi umat.

وَمَا عُرِفَ عَنِ “الۡخَوَارِجِ” فِي يَوۡمٍ مِنَ الۡأَيَّامِ أَنَّهُمۡ قَاتَلُوا الۡكُفَّارَ، أَبَدًا، إِنَّمَا يُقَاتِلُونَ الۡمُسۡلِمِينَ، كَمَا قَالَ ﷺ: “يَقۡتُلُونَ أَهۡلَ الۡإِسۡلَامِ وَيَدَعُونَ أَهۡلَ الۡأَوۡثَانِ”.

Tidak diketahui dari khawarij pada satu hari pun bahwa mereka memerangi orang-orang kafir, selama-lamanya. Mereka hanya memerangi kaum muslimin sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka membunuhi penganut agama Islam dan membiarkan para penyembah berhala.”[4]

فَمَا عَرَفۡنَا فِي تَارِيخِ “الۡخَوَارِجِ”، فِي يَوۡمٍ مِنَ الۡأَيَّامِ أَنَّهُمۡ قَاتَلُوا الۡكُفَّارَ وَالۡمُشۡرِكِينَ، وَإِنَّمَا يُقَاتِلُونَ الۡمُسۡلِمِينَ دَائِمًا: قَتَلُوا عُثۡمَانَ. وَقَتَلُوا عَلِيَّ بۡنَ أَبِي طَالِبٍ. وَقَتَلُوا الزُّبَيۡرَ بۡنَ الۡعَوَّامِ. وَقَتَلُوا خِيَارَ الصَّحَابَةِ. وَمَا زَالُوا يَقۡتُلُونَ الۡمُسۡلِمِينَ.

Jadi tidak diketahui dalam sejarah khawarij, kapanpun, bahwa mereka memerangi orang-orang kafir dan musyrik. Mereka selalu hanya memerangi kaum muslimin. Mereka sudah membunuh ‘Utsman, membunuh ‘Ali bin Abu Thalib, membunuh Az-Zubair bin Al-’Awwam, membunuh sahabat-sahabat pilihan, dan mereka terus saja membunuhi kaum muslimin.

وَذٰلِكَ بِسَبَبِ جَهۡلِهِمۡ فِي دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَعَ وَرَعِهِمۡ، وَمَعَ عِبَادَتِهِمۡ، وَمَعَ اجۡتِهَادِهِمۡ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَكُنۡ هَٰذَا مُؤَسَّسًا عَلَى عِلۡمٍ صَحِيحٍ؛ صَارَ وَبَالًا عَلَيۡهِمۡ، وَلِهَٰذَا يَقُولُ الۡعَلَّامَةُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ فِي وَصۡفِهِمۡ:

وَلَهُمۡ نُصُوصٌ قَصَّرُوا فِي فَهۡمِهَا فَأُتُوۡا مِنَ التَّقۡصِيرِ في الۡعِرۡفَانِ

Hal itu disebabkan kebodohan mereka dalam agama Allah beserta sikap warak mereka, ibadah mereka, kesungguhan mereka. Akan tetapi ketika hal ini tidak didasari oleh ilmu yang sahih, berubahlah menjadi bencana bagi mereka. Karena inilah, Al-’Allamah Ibnu Al-Qayyim berkata ketika menggambarkan mereka, “Mereka memiliki nas-nas dalil, tetapi mereka dangkal memahaminya, akibatnya mereka diberi pengetahuan yang dangkal.”[5]

فَهُمۡ اسۡتَدَلُّوا بِنُصُوصٍ وَهُمۡ لَا يَفۡهَمُونَهَا، اسۡتَدَلُّوا بِنُصُوصٍ مِنَ الۡقُرۡآنِ وَمِنَ السُّنَّةِ؛ فِي الۡوَعِيدِ عَلَى الۡمَعَاصِي، وَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ مَعۡنَاهَا، لَمۡ يُرۡجِعُوهَا إِلَى النُّصُوصِ الۡأُخۡرَى، الَّتِي فِيهَا الۡوَعۡدُ بِالۡمَغۡفِرَةِ، وَالتَّوۡبَةُ لِمَنۡ كَانَتۡ مَعۡصِيَتُهُ دُونَ الشِّرۡكِ؛ فَأَخَذُوا طَرۡفًا وَتَرَكُوا طَرۡفًا، هَٰذَا لِجَهۡلِهِمۡ.

Mereka mengambil dalil dengan nas-nas dalam keadaan mereka tidak memahaminya. Mereka mengambil dalil dari Alquran dan sunah tentang ancaman terhadap kemaksiatan dalam keadaan mereka tidak mengerti maknanya. Mereka tidak mengembalikannya kepada nas-nas lainnya yang di dalamnya ada janji ampunan dan tobat bagi orang yang kemaksiatan di bawah tingkat kesyirikan. Mereka mengambil satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya. Ini karena kebodohan mereka.

وَالۡغِيرَةُ عَلَى الدِّينِ وَالۡحَمَاسُ لَا يَكۡفِيَانِ، لَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ هَٰذَا مُؤَسَّسًا عَلَى عِلۡمٍ، وَعَلَى فِقۡهٍ فِي دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ ذٰلِكَ صَادِرًا عَنۡ عِلۡمٍ، وَمَوۡضُوعًا فِي مَحَلِّهِ.

Kecemburuan terhadap agama dan semangat tidaklah cukup. Hal itu harus didasari di atas ilmu dan di atas pemahaman dalam agama Allah azza wajalla. Jadi hal itu harus bermula dari ilmu dan diletakkan pada tempatnya.

وَالۡغِيرَةُ عَلَى الدِّينِ طَيِّبَةٌ، وَالۡحَمَاسُ لِلدِّينِ طَيِّبٌ، لَكِنۡ لَا بُدَّ أَنۡ يُرَشَّدَ ذٰلِكَ بِاتِّبَاعِ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

وَلَا أَغۡيَرَ عَلَى الدِّينِ، وَلَا أَنۡصَحَ لِلۡمُسۡلِمِينَ؛ مِنَ الصَّحَابَةِ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ – وَمَعَ ذٰلِكَ قَاتَلُوا “الۡخَوَارِجَ”؛ لِخَطَرِهِمۡ وَشَرِّهِمۡ.

Kecemburuan terhadap agama adalah sesuatu yang baik. Semangat beragama juga baik. Akan tetapi hal itu harus dibimbing dengan cara mengikuti Alquran dan sunah.

Tidak ada orang yang lebih cemburu dan lebih menasehati kaum muslimin daripada para sahabat. Bersamaan dengan itu ternyata para sahabat memerangi khawarij karena bahaya dan kejelekan mereka.

قَاتَلَهُمۡ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ حَتَّى قَتَلَهُمۡ شَرَّ قِتۡلَةٍ فِي وَقۡعَةِ “النَّهۡرَوَانِ”، وَتَحَقَّقَ فِي ذٰلِكَ مَا أَخۡبَرَ بِهِ ﷺ مِنۡ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَشَّرَ مَنۡ يَقۡتُلُهُمۡ بِالۡخَيۡرِ وَالۡجَنَّةِ، فَكَانَ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ هُوَ الَّذِي قَتَلَهُمۡ، فَحَصَلَ عَلَى الۡبِشَارَةِ مِنَ الرَّسُولِ ﷺ قَتَلَهُمۡ لِيَدۡفَعَ شَرَّهُمۡ عَنِ الۡمُسۡلِمِينَ.

‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi mereka sampai membunuh mereka sebagai sejelek-jelek korban dalam peristiwa Nahrawan. Terbuktilah dalam kejadian itu apa yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memberi kabar gembira berupa kebaikan dan janah bagi orang yang membunuh khawarij. Ternyata, ‘Ali bin Abu Thalib lah yang membunuh khawarij, sehingga beliau mendapat kabar gembira dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam[6]. ‘Ali membunuh mereka agar menolak keburukan mereka dari kaum muslimin.

وَوَاجِبٌ عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ فِي كُلِّ عَصۡرٍ إِذَا تَحَقَّقُوا مِنۡ وُجُودِ هَٰذَا الۡمَذۡهَبِ الۡخَبِيثِ؛ أَنۡ يُعَالِجُوهُ بِالدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ أَوَّلًا، وَتَبۡصِيرِ النَّاسِ بِذٰلِكَ، فَإِنۡ لَمۡ يَمۡتَثِلُوا قَاتَلُوهُمۡ دَفۡعًا لِشَرِّهِمۡ.

Wajib bagi kaum muslimin di setiap masa apabila muncul mazhab yang jelek ini agar mereka mengobatinya dengan dakwah kepada Allah terlebih dahulu dan memberi pengetahuan kepada orang-orang dengan hal itu. Apabila orang-orang khawarij tidak mau melaksanakannya, maka kaum muslimin (bersama pemerintahnya) memerangi orang-orang khawarij dalam rangka menolak kejelekan mereka.

وَعَليُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِمۡ ابۡنَ عَمِّهِ: عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ، حَبۡرَ الۡأُمَّةِ، وَتُرۡجُمَانَ الۡقُرۡآنِ؛ فَنَاظَرَهُمۡ، وَرَجَعَ مِنۡهُمۡ سِتَّةُ آلَافٍ، وَبَقِيَ مِنۡهُمۡ بَقِيَّةٌ كَثِيرَةٌ لَمۡ يَرۡجِعُوا، عِنۡدَ ذٰلِكَ قَاتَلَهُمۡ أَمِيرُ الۡمُؤۡمِنِينَ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ وَمَعَهُ الصَّحَابَةُ؛ لِدَفۡعِ شَرِّهِمۡ وَأَذَاهُمۡ عَنِ الۡمُسۡلِمِينَ.

‘Ali bin Abu Thalib mengutus saudara sepupunya kepada mereka, yaitu ‘Abdullah bin ‘Abbas, tinta umat ini dan penafsir Alquran. Ibnu ‘Abbas mendebat mereka dan enam ribu orang di antara mereka rujuk. Masih tersisa banyak orang di antara mereka yang tidak mau rujuk. Tak lama setelah itu amirulmukminin ‘Ali bin Abu Thalib bersama para sahabat memerangi mereka untuk menolak kejelekan dan gangguan mereka dari kaum muslimin.

هَٰذِهِ “فِرۡقَةُ الۡخَوَارِجِ” وَمَذۡهَبُهُمۡ.

 Ini adalah firkah khawarij dan mazhab mereka.


[1] وَفِي عَصۡرِنَا رُبَمَا سَمُّوا مَنۡ يَرَى السَّمۡعَ وَالطَّاعَةَ لِأَوۡلِيَاءِ الۡأُمُورِ فِي غَيۡرِ مَا مَعۡصِيَةٍ عَمِيلًا، أَوۡ مُدَاهِنًا، أَوۡ مُغَفَّلًا. فَتَرَاهُمۡ يَقۡدَحُونَ فِي وَلِيِّ أَمۡرِهِمۡ، وَيُشۡهِرُونَ بِعُيُوبِهِ مِنۡ فَوۡقِ الۡمَنَابِرِ، وَفِي تَجَمُّعَاتِهِمۡ، وَالرَّسُولُ يَقُولُ: “مَنۡ أَرَادَ أَنۡ يَنۡصَحَ لِسُلۡطَانٍ بِأَمۡرٍ؛ فَلَا يُبۡدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنۡ لِيَأۡخُذۡ بِيَدِهِ، فَيَخۡلُوا بِهِ، فَإِنۡ قَبِلَ مِنۡهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدۡ أَدَّى الَّذِي عَلَيۡهِ”.

Di masa kita ini, terkadang mereka (orang-orang Khawarij) menamai siapa saja yang berpendapat untuk mendengar dan taat kepada pemimpin dalam perkara selain kemaksiatan sebagai kaki tangan, penjilat, atau orang yang dungu. Engkau melihat mereka mencela pemimpin mereka, menyebarkan aib-aib mereka di atas mimbar-mimbar dan perkumpulan-perkumpulan mereka. Padahal Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang ingin untuk menasihati suatu perkara kepada pemimpinnya, maka janganlah dia tampakkan terang-terangan. Akan tetapi hendaknya dia mengambil tangannya lalu bersendirian dengannya. Jika pemimpin itu menerimanya, maka itu yang diharapkan. Namun jika tidak, maka dia sudah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad 3/404 dari hadis ‘Iyadh bin Ghunm. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim di dalam As-Sunnah 2/522).

أَوۡ إِذَا رَأَى وَلِيُّ الۡأَمۡرِ إِيقَافَ أَحَدِهِمۡ عَنِ الۡكَلَامِ فِي الۡمَجَامِعِ الۡعَامَّةِ؛ تَجَمَّعُوا وَسَارُوا فِي مُظَاهَرَاتٍ، يَظُنُّونَ – جَهۡلًا مِنۡهُمۡ – أَنَّ إِيقَافَ أَحَدِهِمۡ أَوۡ سَجۡنَهُ يَسُوغُ الۡخُرُوجَ، أَوَ لَمۡ يَسۡمَعُوا قَوۡلَ النَّبِيِّ فِي حَدِيثِ عَوۡفِ بۡنِ مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيِّ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ (١٨٥٥): “لَا. مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ”.

وَفِي حَدِيثِ عُبَادَةَ بۡنِ الصَّامِتِ فِي “الصَّحِيحَيۡنِ”: “إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَّاحًا، عِنۡدَكُمۡ فِيهِ مِنَ اللهِ بُرۡهَانٌ” وَذٰلِكَ سُؤَالُ الصَّحَابَةِ وَاسۡتِئۡذَانُهُمۡ لَهُ بِقِتَالِ الۡأَئِمَّةِ الظَّالِمِينَ.

Atau jika pemimpin negara berpendapat untuk mencekal salah seorang Khawarij agar tidak berbicara di depan umum, maka mereka berkumpul dan melakukan demonstrasi. Mereka mengira—karena kebodohan mereka—bahwa pencekalan salah seorang mereka atau penangkapannya, berarti membolehkan pemberontakan. Apakah mereka tidak mendengar sabda Nabi dalam hadis ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i riwayat Muslim nomor 1855, “Jangan (memberontak) selama mereka menegakkan salat di tengah-tengah kalian.” Dan di dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit dalam dua kitab Shahih, “Kecuali kalian melihat kekufuran yang gamblang, yang kalian memiliki buktinya dari sisi Allah.” Itu adalah jawaban dari pertanyaan para sahabat dan permintaan izin mereka kepada beliau untuk memerangi para pemimpin yang zalim.

أَلَا يَعۡلَمُ هَٰؤُلَاءِ كَمۡ لَبِثَ الۡإِمَامُ أَحۡمَدُ فِي السِّجۡنِ، وَأَيۡنَ مَاتَ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ ابۡنُ تَيۡمِيَّةَ؟! وَأَلَمۡ يَعۡلَمُوا أَنَّ شَيۡخَ الۡإِسۡلَامِ مَكَثَ فِي السِّجۡنِ مَا يَرۡبُو عَلَى سَنَتَيۡنِ، وَمَاتَ فِيهِ، لِمَ لَمۡ يَأۡمُرِ النَّاسَ بِالۡخُرُوجِ عَلَى الۡوَالِيِّ – مَعَ أَنَّهُمۡ فِي الۡفَضۡلِ وَالۡعِلۡمِ غَايَةٌ، فَكَيۡفَ بِمَنۡ دُونَهُمۡ -؟؟! إِنَّ هَٰذِهِ الۡأَفۡكَارَ وَالۡأَعۡمَالَ لَمۡ تَأۡتِ إِلَيۡنَا إِلَّا بَعۡدَ مَا أَصۡبَحَ الشَّبَابُ يَأۡخُذُونَ عِلۡمَهُمۡ مِنَ الۡمُفَكِّرِ الۡمُعَاصِرِ فُلَانٍ، وَمِنَ الۡأَدِيبِ الشَّاعِرِ فُلَانٍ، وَمِنَ الۡكَاتِبِ الۡإِسۡلَامِيِّ فُلَانٍ، وَيَتۡرُكُونَ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ، وَكُتُبَ أَسۡلَافِهِمۡ خَلۡفَهُمۡ ظِهۡرِيًّا؛ فَلَا حَوۡلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.

Apakah mereka itu tidak mengetahui berapa lama Imam Ahmad mendekam di penjara dan di mana Syekh Islam Ibnu Taimiyyah meninggal?! Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Syekh Islam mendekam di penjara lebih dari dua tahun dan meninggal di dalam penjara?! Mengapa beliau tidak memerintahkan manusia agar memberontak kepada pemimpin—padahal mereka ini berada di puncak keutamaan dan keilmuan, lalu bagaimana dengan orang yang di bawah mereka—??! Sesungguhnya pemikiran dan perbuatan ini tidak datang kepada kita kecuali setelah para pemuda mengambil ilmu mereka dari pemikir kontemporer Polan, ahli penyair Polan, penulis Islam Polan; dan mereka meninggalkan para ulama dan kitab-kitab para pendahulu mereka di belakang punggung mereka. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

[2] حَتَّى لَوۡ فَعَلَ الۡكَبِيرَةَ مُسۡتَخِفًّا بِهَا لَا يُكَفَّرُ مَا لَمۡ يَسۡتَحِلَّهَا، خِلَافًا لِمَا يَقُولُهُ بَعۡضُهُمۡ: مِنۡ أَنَّ مُرۡتَكِبَ الۡكَبِيرَةِ إِذَا كَانَ مُسۡتَخِفًّا يُكَفَّرُ كُفۡرًا مُخۡرِجًا عَنِ الۡمِلَّةِ. وَهَٰذَا الۡقَوۡلُ هُوَ عَيۡنُ قَوۡلِ الۡخَوَارِجِ، كَمَا قَالَ ذٰلِكَ شَيۡخُنَا الشَّيۡخُ: عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بَازٍ، عِنۡدَ مَا سُئِلَ عَنۡهُ بِالطَّائِفِ عَامَ ١٤١٥ هـ.

Sampaipun andai ada yang melakukan dosa besar dengan menganggap remeh dosa tersebut, maka dia tidak lantas dikafirkan selama dia tidak menganggap halal perbuatan tersebut. Hal ini menyelisihi pendapat sebagian orang Khawarij, bahwa pelaku dosa besar apabila dia menganggapnya remeh, maka dia dikafirkan dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Pendapat ini adalah asal pendapat khawarij sebagaimana hal itu dikatakan oleh syekh kami Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz ketika beliau ditanya tentangnya di Tha`if pada tahun 1415 H.

[3] Potongan dari hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Ahmad 3/73, Al-Bukhari nomor 7432, Muslim nomor 1064, An-Nasa`i nomor 2578 dan 4101, Abu Dawud nomor 4764, Ath-Thayalisi nomor 2234 dari hadis Abu Sa’id.

Dari hadis ‘Ali bin Abu Thalib riwayat Al-Bukhari nomor 3611, 5057, dan 6930, Muslim nomor 1066, Abu Dawud nomor 4767, Ath-Thayalisi nomor 168, An-Nasa`i nomor 4102, dan Ahmad 1/81, 1/113.

Dari hadis Jabir riwayat Ahmad, Muslim nomor 1063, dan Ibnu Majah nomor 172.

Dari hadis Sahl bin Hunaif riwayat Al-Bukhari nomor 6934, dan Muslim nomor 1068.

Dari hadis Ibnu Mas’ud riwayat Ahmad, At-Tirmidzi nomor 2188, dan Ibnu Majah nomor 168.

Dari hadis Abu Barzah Al-Aslami riwayat Ahmad, Ath-Thayalisi, An-Nasa`i nomor 4103, dan Al-Hakim.

Dari hadis Abu Sa’id dan Anas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Ahmad, Abu Dawud nomor 4765, dan Al-Hakim dalam Mustadrak beliau.

Dari hadis Abu Bakrah riwayat Ahmad dan Ath-Thabarani.

Dan dari hadis ‘Amir bin Wa`ilah riwayat Ath-Thabarani.

[4] Potongan dari hadis yang panjang diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari nomor 7432, Muslim nomor 1064, An-Nasa`i nomor 2578, Abu Dawud nomor 4764, dan Ath-Thayalisi.

[5] Nuniyyah Ibnu Al-Qayyim yang diberi nama Al-Kafiyah Asy-Syafiyah fi Al-Intishar li Al-Firqah An-Najiyah halaman 97.

[6] HR. Al-Bukhari nomor 6930, Muslim nomor 1066, Ahmad di dalam Al-Musnad (1/113), Ibnu Abu ‘Ashim di dalam As-Sunnah nomor 947, ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam As-Sunnah nomor 1487.

عَنۡ عَلِيٍّ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: “يَخۡرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوۡمٌ أَحۡدَاثُ الۡأَسۡنَانِ، سُفَهَاءُ الۡأَحۡلَامِ، يَقُولُونَ مِنۡ خَيۡرِ قَوۡلِ الۡبَرِيَّةِ، لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمۡ حَنَاجِرَهُمۡ، فَأَيۡنَمَا لَقِيتُمُوهُمۡ فَاقۡتُلُوهُمۡ؛ فَإِنًّ قَتۡلَهُمۡ أَجۡرٌ لِمَنۡ قَتَلَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ”.

Dari ‘Ali, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Suatu kaum akan keluar di akhir zaman. Mereka muda-muda umurnya, bodoh akalnya. Mereka berkata dari sebaik-baik ucapan makhluk namun iman mereka tidak melampui laring mereka. Di mana pun kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah mereka (di bawah komando pemerintah), karena ada pahala di hari kiamat bagi siapa saja yang membunuh mereka.”

Abu Sa’id Al-Khudri berkata setelah meriwayatkan sebuah hadis tentang khawarij dan tanda-tanda mereka yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (3/33) dan putranya dalam As-Sunnah nomor 1512. Abu Sa’id berkata, “Dua puluh atau lebih sahabat Rasulullah telah menceritakan kepadaku bahwa ‘Ali yang memimpin pembunuhan khawarij.”

Ahmad meriwayatkan (1/59), Muslim nomor 1066, dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah nomor 1471 dari ‘Ali. Beliau berkata: Rasulullah bersabda,

يَخۡرُجُ قَوۡمٌ فِيهِمۡ رَجُلٌ مُودَنُ الۡيَدِ، أَوۡ مَثۡدُونُ الۡيَدِ، أَوۡ مُخۡدَجُ الۡيَدِ، وَلَوۡلَا أَنۡ تَبۡطَرُوا لَأَنۡبَأۡتُكُمۡ بِمَا وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَهُمۡ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ.

“Suatu kaum akan keluar. Di antara mereka ada seorang pria yang tangannya tidak sempurna atau pendek. Andai kalian tidak jatuh dalam kesombongan, niscaya aku akan ceritakan kepada kalian dengan janji Allah kepada orang-orang yang membunuh mereka sebagaimana yang diucapkan melalui lisan Nabi-Nya.”

Juga diriwayatkan oleh Muslim nomor 1065, Abu Dawud 4667, ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam As-Sunnah nomor 1511 dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda,

تَمۡرُقُ مَارِقَةٌ فِي فِرقَةٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، يَقۡتُلُهُمَا أَوۡلَى الطَّائِفَتَيۡنِ بِالۡحَقِّ.

“Suatu kelompok sempalan akan keluar ketika terjadi perpecahan di antara kaum muslimin. Pihak yang membunuhnya adalah salah satu dari dua pihak yang paling cocok dengan kebenaran.”

Demikianlah, perintah dan keutamaan membunuh mereka telah datang di dalam banyak hadis. Bukan di sini tempat untuk menyebutkan semuanya.

Read More

At Tuhfah As Saniyah

15 April 2019
/ / /

Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran, kitab agung penyempurna risalah sebelumnya. Cukuplah hal ini sebagai kemuliaan Bahasa Arab. Sebagai bahasa agama penutup, yang tidak akan diterima dari siapa pun selain Agama Islam. Islam agama keselamatan. Islam adalah pedoman. Wajib mempelajari islam bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan. Mempelajari Islam adalah mengkaji Al Quran dan As Sunnah, dengan pemahaman para shahabat dan generasi terbaik umat ini. Maka Bahasa Arab tidak bisa dipisahkan dari usaha ini.

Lisan (bahasa) yang Allah pilih adalah Bahasa Arab. Dengannya Allah menurunkan Al Quran yang agung. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikannya sebagai bahasa penutup para nabi,  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya kita katakan, ‘Sepantasnya bagi siapa saja yang mampu mempelajari Bahasa Arab untuk melakukannya, karena Bahasa Arab adalah bahasa yang paling utama.’ [Asy Syafi’i rahimahullah, dinukilkan dari Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim (1/464)].

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kitab-Nya dengan Bahasa Arab, Allah pun mengutus Rasul-Nya untuk menyampaikan Al Quran dan As Sunnah dengan bahasa tersebut. Kaum muslimin yang pertama menyambut dakwah inipun berbicara dengan bahasa ini. Maka tidak ada jalan lain untuk mempelajari agama ini kecuali dengan belajar Bahasa Arab. Jadilah pengetahuan terhadap bahasa ini adalah bagian dari Agama Islam. [Syaikhul Islam rahimahullah, dinukilkan dari Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim (1/464)].

Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab termasuk Ilmu Agama Islam. Dengannya akan diketahui makna Al Quran yang agung. Demi Allah, perkara ini tidak ada yang mengingkarinya. Pengetahuan terhadap tata Bahasa Arab, memperbaiki lisan dalam pengucapannya, serta segala bentuk pelajaran bahasa ini untuk memahami tafsir Al Quran dan Hadis hukumnya adalah harus. [Ibnul Jauzi rahimahullah, dinukilkan dari Talbis Iblis 117].

Di antara kitab nahwu yang menyajikan pembahasan nahwu dengan mudah adalah Muqaddimah Al Ajurrumiyah bersama dengan kitab penjelasnya yang dikenal dengan At Tuhfah As Saniyah. Tentu bagi para penuntut ilmu tidak asing lagi terhadap dua kitab ini. Dua kitab yang mempermudah bagi pemula untuk memahami Bahasa Arab.

Muqaddimah Al Ajurrumiyah ditulis oleh Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash Shanhaji rahimahullah. Lahir tahun 672 H, dan wafat tahun 723 H. Beliau lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Ajurrum. Dari sebutan inilah nama kitab tersebut diambil, yaitu Muqaddimah Al Ajurrumiyah. Sebagian pendapat mengatakan bahwa ajurrum adalah bahasa Barbar yang bermakna, Al Faqir Ash Shufi atau seorang shufi yang miskin. Namun As Suyuthi rahimahullah menegaskan bahwa orang Barbar tidak mengenal kata itu, kecuali nama sebuah kabilah Barbar, kabilah Bani Ajurrum.

Adapun kitab syarah atau penjelas Al Ajurrumiyah yang dikenal dengan At Tuhfah As Saniyyah ditulis oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid rahimahullah, seorang ulama dari Mesir yang lahir pada tahun 1318 H. Secara harfiyah atau bahasa At Tuhfah As Saniyyah sendiri bermakna hadiah yang sangat berharga. Sebuah kitab penjelas yang sangat gamblang. Ungkapan yang mudah dipahami, dan ringkas, tidak menyebutkan perbedaan pendapat yang panjang. Ditambah lagi dengan penyajian contoh, sekilas i’rab atau penyebutan kedudukan sebuah kata, pertanyaan di akhir setiap bab, dan latihan-latihan yang sangat mempermudah bagi mereka yang benar-benar awal dalam menuntut ilmu. Kitab ini memang sangat bermanfaat bagi pemula, sekaligus referensi berharga bagi seorang ahli nahwu sekalipun.

Sebelum masuk penjabaran matan atau tulisan inti (Al Muqaddimah Al Ajurrumiyah), setelah kata pembuka, Asy Syaikh Penulis At Tuhfah menyampaikan semacam wawasan umum tentang maksud ilmu nahwu, tujuan, dan buah pembelajarannya. Juga disinggung orang pertama peletak kaedah nahwu, serta hukum mempelajarinya.

Dijelaskan oleh beliau rahimahullah, bahwa kata nahwu dalam Bahasa Arab memiliki banyak makna. Di antaranya bermakna arah. Orang Arab mengatakan, ‘Dzahabtu nahwa Fulan’, artinya Aku menuju arah Fulan. Bisa juga bermakna keserupaan atau kemiripan. Atas makna ini dalam penggunaannya seperti, ‘Muhammad nahwu Ali’, maksudnya, Muhammad mirip Ali. Adapun maksud nahwu menurut istilah para ulama adalah ilmu yang mempelajari kaedah-kaedah, dengannya akan diketahui hukum akhir setiap kata Bahasa Arab ketika tersusun (dalam kalimat), berupa i’rab (perubahan tersebut) atau bina’ (tetapnya keadaan akhir kata), serta segala yang mengikutinya.

Dari definisi di atas diketahui bahwa pembahasan nahwu adalah khusus lingkup Bahasa Arab. Adapun buah dari mempelajari ilmu ini adalah menjaga lisan dari kesalahan dalam pembicaraan berbahasa Arab, memahami Al Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. Karena Al Quran dan Hadis adalah dua pokok dan inti syariat Islam. Apabila dirunut dalam sejarahnya, pertama kali yang merumuskan kaedah-kaedah nahwu adalah Abu Aswad Ad Duali, atas perintah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Demikian menurut pendapat yang masyhur. Adapun hukum mempelajari ilmu ini adalah fardhu kifayah, pada keadaan tertentu bisa berubah menjadi fardhu ain atas seseorang.

Setelah pemaparan di atas, Asy Syaikh penulis mulai masuk kepada inti pembahasan. Pembahasan awal adalah tentang kalam (kata). Yaitu makna kalam dan pembagiannya. Meliputi pembahasan tanda ism, fiil, dan huruf. Jenis kata dalam Bahasa Arab terbagi menjadi tiga ini, tidak ada yang keempat. Percakapan Bahasa Arab maupun yang tertulis tidak akan keluar dari tiga jenis tersebut. Dalam uraian yang ringkas dan mudah dipahami, Asy Syaikh penulis menyampaikan, bahkan lengkap dengan contoh-contohnya.

Pembahasan berikutnya adalah tentang I’rab. I’rab adalah perubahan keadaan akhir setiap kata karena adanya amil yang masuk padanya. Amil bisa kita artikan dengan sesuatu yang mempengaruhi kata tersebut. Pembagian i’rab dalam empat macam; rafa’, nashab, jar, dan jazm. Penulis menguraikan sama dengan metode sebelumnya, yaitu ringkas dan jelas, disertai contoh dari ayat, syair, atau selainnya. Melengkapi pembahasan ini adalah nawasib (amil penyebab nashab) dan jawazim (amil penyebab jazm). Pembahasan i’rab inilah inti pelajaran nahwu. Selesai dari bab i’rab ini boleh dikatakan telah selesai dari dua per tiga ilmu nahwu.

Selesai dari bab i’rab, Asy Syaikh penulis selalu menjelaskan tentang kata-kata yang kedudukannya rafa’, jenis, serta contohnya. Kemudian perincian jenis kata yang berkedudukan nashab, dan terakhir adalah isim yang berposisi jar atau khafdh, baik dengan huruf, atau idhafah, maupun sebagai tabi’. Inilah pembahasan terakhir dalam kitab yang selesai ditulis pada Bulan Ramadhan tanggal 27 tahun 1353 H ini. Ada beberapa istilah yang harus dipahami langsung dalam pembelajaran nahwu, bukan dalam gambaran singkat ini.

Memang, belajar nahwu sebagaimana disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Saleh bin Utsaimin rahimahullah, bahwa awalnya bagaikan pintu besi, sulit pertama kali memasukinya. Namun, apabila pintu telah terbuka akan gampang dan penuh kemudahan. [Kitab Al Ilmi (136)]. Benar, dengan kesungguhan dan tawakkal disertai doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, insya Allah akan dimudahkan. Belajar kitab At Tuhfah ini sampai selesai kemudian minimalnya mengulang tiga kali, insya Allah akan memiliki dasar ilmu nahwu yang lumayan.

Ya, sekali lagi memang butuh kesabaran dalam belajar nahwu. Sebagian orang semangat belajar di awalnya saja, lalu putus di tengah jalan. Beberapa kali belajar nahwu namun selalu putus dan mengulangi dari awal. Inilah kendala terbesar, yaitu kurang fokus dan kurang serius, tidak ada keberlangsungan dalam belajar. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran, dengannya kita bisa memahami Islam. Maka, kesungguhan dalam mempelajarinya perlu dipertahankan.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 68 vol.06 1440 H rubrik Maktabah. Pemateri: Al Ustadz Abu Muhammad Farhan.

Read More

Kitab Siam Ad-Darari Al-Mudhiyyah

21 Maret 2019
/ / /

يَجِبُ صِيَامُ رَمَضَانَ لِرُؤۡيَةِ هِلَالِهِ مِنۡ عَدۡلٍ أَوۡ كَمَالِ عِدَّةِ شَعۡبَانَ، وَيَصُومُ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا مَا لَمۡ يَظۡهَرۡ هِلَالُ شَوَّالَ قَبۡلَ إِكۡمَالِهَا، وَإِذَا رَآهُ أَهۡلُ بَلَدٍ لَزِمَ سَائِرَ الۡبِلَادِ الۡمُوَافَقَةُ وَعَلَى الصَّائِمِ النِّيَّةُ قَبۡلَ الۡفَجۡرِ.

Puasa Ramadan wajib berdasarkan melihat hilal bulan Ramadan dari seorang yang adil atau dengan sempurnanya hitungan bulan Syakban. Wajib puasa tiga puluh hari selama belum tampak hilal bulan Syawal sebelum menyempurnakan hitungan bulan Ramadan. Apabila penduduk suatu negeri telah melihatnya, wajib bagi seluruh negeri untuk mengikutinya. Dan wajib bagi orang yang berpuasa untuk berniat sebelum fajar.

أَقُولُ: صِيَامُ رَمَضَانَ رُكۡنٌ مِنۡ أَرۡكَانِ الدِّينِ وَضَرُورِيٌّ مِنۡ ضَرُورِيَّاتِهِ.

Puasa Ramadan merupakan satu rukun dari rukun-rukun agama dan satu perkara fundamental yang harus diketahui dari berbagai perkara agama Islam.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجِبُ الصِّيَامُ عِنۡدَ رُؤۡيَةِ الۡهِلَالِ مِنۡ عَدۡلٍ: فَلِصِيَامِهِ ﷺ وَأَمۡرِهِ لِلنَّاسِ بِالصِّيَامِ لَمَّا أَخۡبَرَهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ بِأَنَّهُ رَآهُ. أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالدَّارِمِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانٍ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ؛ وَصَحَّحَهُ أَيۡضًا ابۡنُ حَزۡمٍ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ بِلَفۡظِ: (تَرَاءَى النَّاسُ الۡهِلَالَ فَأَخۡبَرۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَنِّي رَأَيۡتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ. وَأَخۡرَجَ أَهۡلُ السُّنَنِ، وَابۡنُ حِبَّانٍ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَالۡحَاكِمُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: (جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيۡتُ الۡهِلَالَ يَعۡنِي رَمَضَانَ، فَقَالَ: أَتَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ؟ قَالَ: نَعَمۡ؛ قَالَ: أَتَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: يَا بِلَالُ أَذِّنۡ فِي النَّاسِ فَلِيَصُومُوا غَدًا) وَأَخۡرَجَ الدَّارُقُطۡنِيُّ وَالطَّبۡرَانِيُّ مِنۡ طَرِيقِ طَاوُسٍ قَالَ: (شَهِدۡتُ الۡمَدِينَةَ وَبِهَا ابۡنُ عُمَرَ  وَابۡنُ عَبَّاسٍ؛ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَيَّ وَإِلَيۡهَا وَشَهِدَ عِنۡدَهُ عَلَى رُؤۡيَةِ هِلَالِ شَهۡرِ رَمَضَانَ فَسَأَلَ ابۡنَ عُمَرَ وَابۡنَ عَبَّاسٍ عَنۡ شَهَادَتِهِ فَأَمَرَاهُ أَنۡ يُجِيزَهُ؛ وَقَالَا: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَجَازَ شَهَادَةَ وَاحِدٍ عَلَى رُؤۡيَةِ هِلَالِ رَمَضَانَ، وَكَانَ لَا يُجِيزُ شَهَادَةَ الۡإِفۡطَارِ إِلَّا بِشَهَادَةِ رَجُلَيۡنِ). قَالَ الدَّارُقُطۡنِيُّ تَفَرَّدَ بِهِ حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ الۡأَيۡلِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ. وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى الۡعَمَلِ بِشَهَادَةِ الۡوَاحِدِ ابۡنُ الۡمُبَارَكِ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ وَالشَّافِعِيُّ فِي أَحَدِ قَوۡلَيۡهِ. قَالَ النَّوَوِيُّ: وَهُوَ الۡأَصَحُّ، وَبِهِ قَالَ الۡمُؤَيِّدُ بِاللهِ. وَذَهَبَ مَالِكٌ وَاللَّيۡثُ وَالۡأَوۡزَاعِيُّ وَالثَّوۡرِيُّ أَنَّهُ يُعۡتَبَرُ اثۡنَانِ. وَاسۡتَدَلُّوا بِحَدِيثِ عَبدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ الۡخَطَّابِ وَفِيهِ: (فَإِنۡ شَهِدَ شَاهِدَانِ مُسۡلِمَانِ فَصُومُوا وَأَفۡطِرُوا) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَالنَّسَائِيُّ. وَفِي حَدِيثِ أَمِيرِ مَكَّةَ الۡحَارِثِ بۡنِ حَاطِبٍ قَالَ: (عَهِدَ إِلَيۡنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ نَنۡسُكَ لِلرُّؤۡيَةِ فَإِنۡ لَمۡ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدۡلٍ نَسَكۡنَا بِشَهَادَتِهِمَا) أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ وَقَالَ: وَهَٰذَا إِسۡنَادٌ مُتَّصِلٌ صَحِيحٌ. وَغَايَةُ مَا فِي هَٰذَيۡنِ الۡحَدِيثَيۡنِ أَنَّ مَفۡهُومَ الشَّرۡطِ يَدُلُّ عَلَى عَدَمِ قَبُولِ الۡوَاحِدِ وَلَكِنۡ أَحَادِيثُ قَبُولِ الۡوَاحِدِ أَرۡجَحُ مِنۡ هَٰذَا الۡمَفۡهُومِ.

Kewajiban puasa ketika hilal terlihat oleh seorang yang adil adalah berdasarkan puasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah beliau kepada manusia untuk berpuasa ketika ‘Abdullah bin ‘Umar memberitahu beliau bahwa dia melihat hilal. Riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Beliau menilainya sahih. Ibnu Hazm juga menilainya sahih dari hadits Ibnu ‘Umar dengan redaksi, “Orang-orang berusaha melihat hilal. Kemudian aku memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya. Lalu beliau pun berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.[1]

Dikeluarkan oleh penyusun kitab Sunan, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim dari hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

Seorang arab badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Sungguh aku telah melihat hilal bulan Ramadan.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah?”

Orang itu menjawab, “Iya.”

Nabi melanjutkan, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?”

Orang itu menjawab, “Iya.”

Nabi bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada orang-orang agar mereka berpuasa esok hari.”[2]

Ad-Daraquthni dan Ath-Thabrani mengeluarkan dari jalan Thawus, beliau berkata, “Aku berada di Madinah dan di situ ada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas. Seorang laki-laki datang kepadaku dan ke Madinah. Orang itu bersaksi melihat hilal bulan Ramadhan. Ia pun bertanya kepada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas tentang persaksiannya. Mereka berdua memerintahkannya untuk mengesahkannya. Keduanya berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengesahkan persaksian satu orang dalam melihat hilal bulan Ramadhan. Dan beliau tidak mengesahkan persaksian selesainya puasa kecuali dengan persaksian dua orang.” Ad-Daraquthni berkata: Hafsh bin ‘Umar Al-Aili bersendirian dan dia daif.

Yang berpendapat boleh beramal dengan persaksian satu orang adalah Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hanbal, dan Asy-Syafi’i dalam salah satu pendapat beliau. An-Nawawi berkata: Pendapat ini lebih sahih dan Al-Muayyad Billah berpendapat dengan pendapat ini. Malik, Al-Laits, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri berpendapat bahwa yang diterima adalah dua orang. Mereka berdalil dengan hadits ‘Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab. Dalam hadits itu, “Apabila dua orang muslim bersaksi maka mulailah kalian berpuasa atau berhentilah kalian berpuasa.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan An-Nasa`i.

Dalam hadisnya pemimpin Makkah, Al-Harits bin Hathib, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kami agar kami beribadah berdasarkan melihat hilal. Apabila kami tidak melihatnya lalu ada dua orang adil yang bersaksi melihatnya, maka kami melaksanakan ibadah berdasar persaksian kedua orang tersebut.”[3] Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ad-Daraquthni. Beliau berkata: Ini adalah rantai-rantai periwayatan yang bersambung lagi sahih. Dan maksud kedua hadis ini bahwa pemahaman konteks syarat dalam hadis tersebut menunjukkan tidak diterimanya persaksian satu orang. Akan tetapi hadis-hadis tentang diterimanya persaksian satu orang lebih kuat dari pemahaman tersebut.

وَأَمَّا الصِيَامُ عِنۡدَ إِكۡمَالِ عِدَّةِ شَعۡبَانَ؛ فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صُومُوا لِرُؤۡيَتِهِ وَأَفۡطِرُوا لِرُؤۡيَتِهِ، فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡكُمۡ فَأَكۡمِلُوا عِدَّةَ شَعۡبَانَ ثَلَاثِينَ)، وَالۡأَحَادِيثُ فِي هَٰذَا الۡمَعۡنَى كَثِيرَةٌ.

Adapun puasa Ramadan setelah menyempurnakan hitungan bulan Syakban, berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah kalian apabila melihat hilal dan berhentilah berpuasa apabila melihatnya. Apabila hilal tertutup mendung dari kalian, sempurnakanlah hitungan bulan Syakban menjadi tiga puluh.”[4] Dan hadis-hadis semakna ini ada banyak.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَصُومُ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا مَا لَمۡ يَظۡهَرۡ هِلَالُ شَوَّالٍ قَبۡلَ إِكۡمَالِهَا؛ فَوَجۡهُهُ مَا وَرَدَ مِنَ الۡأَدِلَّةِ الصَّحِيحَةِ أَنَّ الۡهِلَالَ إِذَا غُمَّ صَامُوا ثَلَاثِينَ يَوۡمًا، كَحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ الۡمَذۡكُورِ، وَمِثۡلِهِ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ وَمِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَالنَّسَائِيِّ وَالتِّرۡمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ، وَمِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالدَّارُقُطۡنِيِّ بِإِسۡنَادٍ صَحِيحٍ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَحَادِيثِ. وَفِيهَا التَّصۡرِيحُ بِإِكۡمَالِ الۡعِدَّةِ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا فِي بَعۡضِهَا عِدَّةِ شَعۡبَانٍ، وَفِي بَعۡضِهَا مَا يُفِيدُ أَنَّهَا عِدَّةُ رَمَضَانَ، وَفِي بَعۡضِهَا الۡإِطۡلَاقُ وَعَدَمُ التَّقۡيِيدِ بِأَحَدِ الشَّهۡرَيۡنِ.

Wajib berpuasa tiga puluh hari selama belum tampak hilal bulan Syawal sebelum menyempurnakan hitungan bulan Ramadan. Sisi kewajibannya adalah dalil-dalil sahih yang menyatakan bahwa hilal apabila tertutup mendung, maka mereka berpuasa selama tiga puluh hari. Seperti hadis Abu Hurairah yang baru saja disebutkan dan hadis semisalnya di dalam Shahih Muslim dari hadis Ibnu ‘Umar. Juga dari hadits Ibnu ‘Abbas pada riwayat Ahmad, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi. Beliau menilainya sahih. Juga dari hadis ‘Aisyah riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ad-Daraquthni dengan sanad-sanad yang sahih. Dan hadis-hadis selain itu. Dalam hadis itu, dinyatakan dengan gamblang untuk menyempurnakan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari. Pada sebagian riwayat hitungan bulan Syakban dan sebagiannya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah hitungan bulan Ramadan. Dan sebagian lagi dimutlakkan. Tidak ditentukan pada salah satu dari kedua bulan tersebut.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ إِذَا رَآهُ أَهۡلُ بَلَدٍ لَزِمَ سَائِرَ الۡبِلَادِ الۡمُوَافَقَةُ، فَوَجۡهُهُ الۡأَحَادِيثُ الۡمُصَرِّحَةُ بِالصِّيَامِ لِرُؤۡيَتِهِ، وَالۡإِفۡطَارِ لِرُؤۡيَتِهِ؛ وَهِيَ خِطَابٌ لِجَمِيعِ الۡأُمَّةِ، فَمَنۡ رَآهُ مِنۡهُمۡ فِي أَيِّ مَكَانٍ، كَانَ ذٰلِكَ رُؤۡيَةً لِجَمِيعِهِمۡ. وَأَمَّا اسۡتِدۡلَالُ مَنِ اسۡتَدَلَّ بِحَدِيثِ كُرَيبٍ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ: (أَنَّهُ اسۡتَهَلَّ عَلَيۡهِ رَمَضَانُ وَهُوَ بِالشَّامِ، فَرَأَى الۡهِلَالَ لَيۡلَةَ الۡجُمۡعَةِ وَقَدِمَ الۡمَدِينَةَ فَأَخۡبَرَ بِذٰلِكَ ابۡنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ: لَكِنَّا رَأَيۡنَاهُ لَيۡلَةَ السَّبۡتِ فَلَا نَزَالُ نُكۡمِلُ الصَّوۡمَ حَتَّى يَكۡمُلَ ثَلَاثِينَ أَوۡ نَرَاهُ. ثُمَّ قَالَ: هَٰكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ) وَلَهُ أَلۡفَاظٌ فَغَيۡرُ صَحِيحٍ، لِأَنَّهُ لَمۡ يُصَرِّحِ ابۡنُ عَبَّاسٍ بِأَنَّ النَبِيَّ ﷺ أَمَرَهُمۡ بِأَنۡ لَا يَعۡمَلُوا بِرُؤۡيَةِ غَيۡرِهِمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡأَقۡطَارِ، بَلۡ أَرَادَ ابۡنُ عَبَّاسٍ أَنَّهُ أَمَرَهُمۡ بِإِكۡمَالِ الثَّلَاثِينَ أَوۡ يَرَوۡهُ ظَنًّا مِنۡهُ أَنَّ الۡمُرَادَ بِالرُّؤۡيَةِ رُؤۡيَةُ أَهۡلِ الۡمَحَلِّ. وَهَٰذَا خَطَأٌ فِي الۡاسۡتِدۡلَالِ أَوۡقَعَ النَّاسُ فِي الۡخَبۡطِ وَالۡخلطِ حَتَّى تَفَرَّقُوا فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَمَانِيَةِ مَذَاهِبٍ. وَقَدۡ أَوۡضَحَتۡ الۡمَقَامُ فِي الرِّسَالَةِ الَّتِي سَمَّيۡتُهَا (اطۡلَاعُ أَرۡبَابِ الۡكَمَالِ، عَلَى مَا فِي رِسَالَةِ الۡجُلَالِ فِي الۡهِلَالِ مِنَ الۡاخۡتِلَالِ).

Bahwa apabila seorang penduduk suatu negeri telah melihat hilal mengharuskan seluruh negeri untuk mengikutinya, maka sisi pendalilannya adalah hadis-hadis yang menjelaskan untuk berpuasa karena melihat hilal dan tidak berpuasa karena melihat hilal. Hadis tersebut merupakan pembicaraan yang ditujukan untuk seluruh umat. Sehingga, siapa saja di antara mereka yang telah melihat hilal di manapun dia berada, maka itu adalah rukyat bagi keseluruhan mereka.

Adapun pengambilan dalil orang-orang yang berdalil dengan hadis Kuraib riwayat Muslim dan selain beliau, yaitu, “Bahwa hilal bulan Ramadhan tampak oleh Kuraib ketika berada di Syam. Beliau melihat hilal itu pada malam Jum’at. Kemudian beliau sampai di Madinah, lalu mengabarkan perkara itu kepada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata: Akan tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, sehingga kami akan tetap menyempurnakan puasa sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihat hilal lagi. Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata: Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami.”[5] Dan ada redaksi hadis lainnya.

Pendalilan ini tidak sahih, karena Ibnu ‘Abbas tidak menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk tidak beramal berdasarkan rukyat dari penduduk negeri-negeri selain mereka. Tetapi yang Ibnu ‘Abbas inginkan adalah bahwa Nabi memerintahkan mereka untuk menyempurnakan tiga puluh hari atau sampai mereka melihat hilal karena persangkaan Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud dengan rukyat adalah rukyat penduduk daerah tempat itu. Dan ini kesalahan dalam pengambilan dalil yang menempatkan manusia di dalam kekeliruan dan kerancuan sehingga mereka berpecah-belah dalam hal itu menjadi delapan mazhab. Dan aku telah jelaskan perkara ini dalam sebuah tulisan yang aku beri judul Ithla’u Arbabil Kamal ‘ala ma fi Risalatil Julal fil Hilal minal Ikhtilal.

وَأَمَّا كَوۡنُ عَلَى الصَّائِمِ النِّيَّةُ قَبۡلَ الۡفَجۡرِ، فَلِحَدِيثِ حَفۡصَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (مَنۡ لَمۡ يَجۡمَعِ الصِّيَامَ قَبۡلَ الۡفَجۡرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ، وَابۡنُ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنُ حِبَّانٍ وَصَحَّحَاهُ، وَلَا يُنَافِي ذٰلِكَ رِوَايَةَ مَنۡ رَوَاهُ مَوۡقُوفًا، فَالرَّفۡعُ زِيَادَةٌ يَتَعَيَّنُ قَبُولُهَا عَلَى مَا ذَهَبَ إِلَيۡهِ أَهۡلُ الۡأُصُولِ وَبَعۡضُ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ. وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ جَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، وَخَالَفَهُمۡ آخَرُونَ وَاسۡتَدَلُّوا بِمَا لَا تَقُومُ بِهِ الۡحُجَّةُ.

أَمَّا حَدِيثُ أَمۡرِهِ ﷺ لِمَنۡ أَصۡبَحَ صَائِمًا أَنۡ يُتِمَّ صَوۡمَهُ فِي يَوۡمِ عَاشُورَاءِ، فَغَايَةُ مَا فِيهِ أَنَّ مَنۡ لَمۡ يَتَبَيَّنۡ لَهُ وُجُوبُ الصَّوۡمِ إِلَّا بَعۡدَ دُخُولِ النَّهَارِ كَانَ ذٰلِكَ عُذۡرًا لَهُ عَنِ التَّبۡيِيتِ.

وَأَمَّا حَدِيثُ: أَنَّهُ ﷺ دَخَلَ عَلَى بَعۡضِ نِسَائِهِ ذَاتَ يَوۡمٍ فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ مِنۡ شَيۡءٍ؟ فَقَالُوا: لَا، فَقَالَ: إِنِّي إِذَنۡ صَائِمٌ) فَذٰلِكَ فِي صَوۡمِ التَّطَوُّعِ.

Adapun bahwa orang yang berpuasa wajib untuk niat sebelum fajar, berdasar hadis Hafshah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa saja yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”[6] Dikeluarkan oleh Ahmad, penulis kitab Sunan, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban. Beliau menilainya sahih. Dan hal itu tidak menafikan riwayat yang diriwayatkan secara mauquf. Karena riwayat yang marfuk adalah sebuah tambahan yang meyakinkan diterimanya hadis sebagaimana pendapat ahli ushul dan sebagian ahli hadis. Dan sekelompok ulama juga berpendapat demikian, sedangkan sebagiannya menyelisihi mereka dan mereka berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan alasan.

Adapun hadis perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi siapa saja yang pada pagi hari dalam keadaan berpuasa agar menyempurnakan puasanya di hari Asyura, maka maksudnya adalah bahwa siapa saja yang belum terang baginya kewajiban suatu puasa kecuali setelah masuk siang hari, maka itu merupakan uzur baginya dari melakukan niat sebelum fajar.

Adapun hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui sebagian istri-istri beliau pada suatu hari lantas menanyakan, “Apakah kalian memiliki makanan?”

Istri-istri beliau menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Kalau begitu, aku berpuasa.”[7]

Hadis tersebut pada puasa sunah.

فَصۡلٌ
فِي ذِكۡرِ مُبۡطِلَاتِ الصَّوۡمِ

Pasal tentang Pembatal-pembatal Puasa

يَبۡطُلُ بِالۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ وَالۡجِمَاعِ وَالۡقَيۡءِ عَمۡدًا، وَيَحۡرُمُ الۡوِصَالُ. وَعَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَمۡدًا كَفَّارَةٌ كَكَفَّارَةِ الظِّهَارِ، وَيُنۡدَبُ تَعۡجِيلُ الۡفِطۡرِ وَتَأۡخِيرُ السَّحُورِ.

Puasa menjadi batal karena makan, minum, jimak, dan muntah dengan sengaja. Puasa wishal haram. Bagi siapa saja yang membatalkan puasa dengan sengaja wajib kafarat seperti kafarat zhihar. Disukai menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur.

أَقُولُ: أَمَّا بُطۡلَانُ الصَّوۡمِ بِالۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ عَمۡدًا فَلَا خِلَافَ فِي ذٰلِكَ، وَأَمَّا مَعَ نِسۡيَانٍ فَلَا، لِمَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوۡ شَرِبَ فَلۡيُتِمَّ صَوۡمَهُ فَاللهُ أَطۡعَمَهُ وَسَقَاهُ). وَفِي لَفۡظِ الدَّارُقُطۡنِيُّ بِإِسۡنَادٍ صَحِيحٍ: (فَإِنَّمَا هُوَ رِزۡقٌ سَاقَهُ اللهُ إِلَيۡهِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ). وَفِي لَفۡظٍ آخَرَ لِلدَّارُقُطۡنِيِّ، وَابۡنِ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنِ حِبَّانَ، وَالۡحَاكِمِ: (مَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا مِنۡ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ وَلَا كَفَّارَةَ)، وَإِسۡنَادُهُ صَحِيحٌ أَيۡضًا.

Aku katakan: Adapun batalnya puasa karena makan dan minum dengan sengaja (tidak lupa), maka tidak ada perselisihan padanya. Adapun dalam keadaan lupa, maka tidak batal. Berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang lupa sedang berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaknya ia melanjutkan menyempurnakan puasanya. Karena Allah yang telah memberinya makan dan minum.”[8]

Di dalam redaksi riwayat Ad-Daraquthni dengan sanad yang sahih, “Karena itu adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadanya dan tidak ada kewajiban kada puasa atasnya.”

Di dalam redaksi yang lain milik Ad-Daraquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, “Siapa saja yang melakukan pembatal puasa di suatu hari di bulan Ramadan dalam keadaan lupa, maka tidak ada kewajiban kada puasa dan kafarat atasnya.” Sanadnya juga sahih.

وَهَٰكَذَا الۡجِمَاعُ لَا خِلَافَ فِي أَنَّهُ يُبۡطِلُ الصِّيَامَ إِذَا وَقَعَ مِنۡ عَامِدٍ، وَأَمَّا إِذَا وَقَعَ مَعَ الۡنِسۡيَانِ فَبَعۡضُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ أَلۡحَقَهُ بِمَنۡ أَكَلَ أَوۡ شَرِبَ نَاسِيًا، وَتَمَسَّكَ بِقَوۡلِهِ فِي الرِّوَايَةِ الۡأُخۡرَى: (وَمَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ وَلَا كَفَّارَةَ). وَبَعۡضُهُمۡ مَنَعَ مِنَ الۡإِلۡحَاقِ، وَأَمَّا الۡقَيۡءُ عَمۡدًا؛ فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ ذَرَعَهُ الۡقَيۡءُ فَلَيۡسَ عَلَيۡهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسۡتَقَاءَ عَمۡدًا فَلۡيَقۡضِ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَاۡبُن حِبَّانَ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ.

Demikian pula jimak, tidak ada perselisihan bahwa hal itu membatalkan puasa ketika dilakukan oleh orang yang sengaja (tidak lupa). Adapun ketika dilakukan dalam keadaan lupa, maka sebagian ulama mengikutkannya dengan orang yang makan atau minum dalam keadaan lupa. Mereka berpegang dengan sabda Nabi di dalam riwayat yang lain, “Siapa saja yang melakukan pembatal puasa di siang hari di bulan Ramadan dalam keadaan lupa, maka tidak ada kewajiban kada puasa dan kafarat atasnya.”

Sebagian ulama lainnya berpendapat tidak mengikutkan (jimak dalam keadaan lupa dengan makan minum dalam keadaan lupa).

Adapun muntah secara sengaja, maka berdasarkan hadis Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang dikalahkan oleh muntah, maka tidak ada kewajiban kada puasa atasnya. Adapun yang memuntahkan dengan sengaja, maka dia harus mengada.”[9] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni, dan Al-Hakim; dan beliau menilainya sahih.

وَقَدۡ حَكَى ابۡنُ الۡمُنۡذِرِ الۡإِجۡمَاعَ عَلَى أَنَّ تَعَمُّدَ الۡقَيۡءِ يُفۡسِدُ الصِّيَامَ وَفِيهِ نَظَرٌ، فَإِنَّ ابۡنَ مَسۡعُودٍ، وَعِكۡرِمَةَ، وَرَبِيعَةَ، وَالۡهَادِيَ، وَالۡقَاسِمَ قَالُوا: إِنَّهُ لَا يُفۡسِدُ الصَّوۡمَ سَوَاءً كَانَ غَالِبًا أَوۡ مُسۡتَخۡرَجًا مَالَمۡ يَرۡجِعۡ مِنۡهُ شَيۡءٌ بِاخۡتِيَارِهِ، وَاسۡتَدَلُّوا بِحَدِيثٍ: (ثَلَاثٌ لَا يُفۡطِرۡنَ: الۡقَيۡءُ وَالۡحِجَامَةُ وَالۡاحۡتِلَامُ) أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ، وَفِي إِسۡنَادِهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَعَلَى فَرۡضِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلۡإِسۡتِدۡلَالِ فَلَا يُعَارِضُ حَدِيثَ أَبِي هُرَيۡرَةَ لِأَنَّ هَٰذَا مُطۡلَقٌ وَذَاكَ مُقَيَّدٌ بِالۡعَمۡدِ.

Ibnu Al-Mundzir mengisahkan adanya kesepakatan bahwa sengaja muntah dapat merusak puasa. Namun kesepakatan ini perlu dilihat lagi karena Ibnu Mas’ud, ‘Ikrimah, Rabi’ah, Al-Hadi, dan Al-Qasim berkata: Bahwa hal itu tidak merusak puasa, sama saja apakah muntah itu keluar tanpa diusahakan atau memang sengaja dikeluarkan selama tidak ada bagian muntahan itu yang masuk kembali dengan dia upayakan. Mereka berdalil dengan sebuah dalil, “Tiga hal yang tidak membatalkan puasa, yaitu: muntah, bekam, dan mimpi basah.”[10] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Abu Sa’id. Di dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan dia daif. Dan atas dasar pendapat yang menetapkan bolehnya hadis tersebut dipakai untuk berdalil, hal itu tidak bertentangan dengan hadis Abu Hurairah. Karena hadis ini mutlak, sementara hadis Abu Hurairah itu dikaitkan dengan unsur kesengajaan.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ الۡوِصَالُ؛ فَلِنَهۡيِهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَابۡنِ عُمَرَ، وَعَائِشَةَ وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا، وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun haramnya puasa wishal (menyambung puasa) adalah berdasarkan larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hal itu. Sebagaimana di dalam hadis Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, dan ‘Aisyah yang terdapat di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا وُجُوبُ الۡكَفَّارَةِ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَمۡدًا؛ فَلِحَدِيثِ الۡمُجَامِعِ فِي رَمَضَانَ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَهُ: (هَلۡ تَجِدُ مَا تُعۡتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تَصُومَ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ تَجِدُ مَا تُطۡعِمُ سِتِّينَ مِسۡكِينًا؟ قَالَ: لَا، ثُمَّ أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمۡرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقۡ بِهَٰذَا، قَالَ: فَهَلۡ عَلَى أَفۡقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيۡنَ لَابَتَيۡهَا أَهۡلُ بَيۡتٍ أَحۡوَجُ مِنَّا، فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ وَقَالَ: اذۡهَبۡ فَأَطۡعِمۡهُ أَهۡلَكَ). وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَعَائِشَةَ. وَقَدۡ قِيلَ إِنَّ الۡكَفَّارَةَ لَا تَجِبُ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَامِدًا بِأَيِّ سَبَبٍ بَلۡ بِالۡجِمَاعِ فَقَطۡ، وَلَكِنۡ الرَّجُلُ إِنَّمَا جَامَعَ امۡرَأَتَهُ فَلَيۡسَ فِي الۡجِمَاعِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ إِلَّا مَا فِي الۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ لِكَوۡنِ الۡجَمِيعُ حَلَالًا لَمۡ يَحۡرُمۡ إِلَّا لِعَارِضِ الصَّوۡمِ. وَقَدۡ وَقَعَ فِي رِوَايَةٍ مِنۡ هَٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ أَفۡطَرَ وَلَمۡ يُذۡكَرِ الۡجِمَاعُ.

Adapun wajibnya kafarat bagi siapa saja yang membatalkan puasanya dengan sengaja, maka berdasarkan hadis pria yang menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadan.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendapati sesuatu yang bisa membebaskan seorang budak?”

Pria itu menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut?”

Pria itu menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau mendapati sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?”

Pria itu menjawab, “Tidak.”

Kemudian ada yang datang membawa sekeranjang kurma. Nabi bersabda, “Bersedekahlah dengan ini!”

Pria itu berkata, “Apakah kepada orang yang lebih fakir daripada kami? Tidak ada di antara dua tanah berbatu hitam ini seorang penghuni rumah pun yang lebih butuh daripada kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi-gigi geraham beliau dan beliau bersabda, “Berilah makan keluargamu dengannya!”[11]

Hadis ini ada di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Abu Hurairah dan ‘Aisyah.

Ada yang berkata bahwa kafarat tidak wajib bagi siapa saja yang membatalkan puasanya dengan sengaja dengan sebab yang manapun kecuali jimak saja. Akan tetapi pria tadi menjimak istrinya dan tidaklah pada jimak di siang hari bulan Ramadan kecuali ada pula pada makan dan minum, karena semuanya itu adalah perkara yang halal kecuali ketika sedang puasa. Juga terdapat suatu riwayat dari hadis ini bahwa pria itu batal puasanya, namun tidak disebutkan penyebabnya adalah jimak.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُنۡدَبُ تَعۡجِيلُ الۡفِطۡرِ وَتَأۡخِيرُ السَّحُورِ؛ فَلِحَدِيثِ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيۡرٍ مَا عَجَّلُوا الۡفِطۡرَ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَعَنۡ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيۡرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الۡفِطۡرَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَفِي إِسۡنَادِهِ سُلَيۡمَانُ بۡنُ أَبِي عُثۡمَانَ، قَالَ أَبُو حَاتِمٍ، مَجۡهُولٌ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ زَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ: (إِنَّهُ كَانَ بَيۡنَ تَسَحُّرِهِ ﷺ وَدُخُولِهِ فِي الصَّلَاةِ قَدۡرَ مَا يَقۡرَأُ الرَّجُلُ خَمۡسِينَ آيَةً) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ.

Adapun disukainya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur adalah berdasarkan hadis Sahl bin Sa’d: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[12] Hadis ini ada dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya.

Dan dari Abu Dzarr, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa akan baik selama mereka mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan buka puasa.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan dalam sanadnya ada Sulaiman bin Abu ‘Utsman. Abu Hatim berkata, “Dia majhul (tidak diketahui).”

Telah sabit di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Zaid bin Tsabit bahwa waktu antara makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuknya beliau (ke masjid) untuk salat adalah sekadar seseorang membaca lima puluh ayat.”[13] Di dalam bab ini ada banyak hadis.

فَصۡلٌ
فِي وُجُوبِ الۡقَضَاءِ وَرُخۡصَةِ الۡفِطۡرِ لِلۡمُسَافِرِ

Pasal tentang Wajibnya Kada dan Rukhsah Tidak Berpuasa bagi Musafir

يَجِبُ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ لِعُذۡرٍ شَرۡعِيٍّ أَنۡ يَقۡضِيَ. وَالۡفِطۡرُ لِلۡمُسَافِرِ وَنَحۡوِهِ رُخۡصَةٌ إِلَّا أَنۡ يَخۡشَى التَّلَفَ أَوِ الضَّعۡفَ عَنِ الۡقِتَالِ فَعَزِيمَةٌ. وَمَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ، وَالۡكَبِيرُ الۡعَاجِزُ عَنِ الۡأَدَاءِ وَالۡقَضَاءِ يُكَفِّرُ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ بِإِطۡعَامِ مِسۡكِينٍ.

  • Wajib mengada puasa bagi siapa saja yang tidak berpuasa karena uzur syar’i.
  • Tidak berpuasa bagi musafir dan semisalnya adalah rukhsah. Kecuali apabila akan celaka atau lemah dalam menghadapi peperangan, maka berbuka menjadi wajib.
  • Siapa saja yang mati dan masih punya utang puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.
  • Orang yang sudah tua lagi lemah, baik untuk berpuasa atau menggantinya, maka membayar kafarat setiap harinya memberi makan satu orang miskin.

أَقُولُ: أَمَّا وُجُوبُ الۡقَضَاءِ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ لِعُذۡرٍ شَرۡعِيٍّ كَالۡمُسَافِرِ وَالۡمَرِيضِ؛ فَقَدۡ صَرَّحَ بِذٰلِكَ الۡقُرۡآنُ الۡكَرِيمُ: ﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ﴾ [البقرة: ١٨٤] وَقَدۡ وَرَدَ فِي الۡحَائِضِ حَدِيثُ مُعَاذٍ عَنۡ عَائِشَةَ وَقَدۡ تَقَدَّمَ ذِكۡرُهُ، وَالنُّفَسَاءُ مِثۡلُهَا.

Aku katakan: Adapun wajibnya mengada puasa bagi siapa saja yang tidak berpuasa karena uzur yang dibenarkan oleh syariat, seperti musafir dan orang sakit, maka Alquran telah menerangkan hal itu. Yaitu ayat yang artinya, “Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184).

Juga ada hadis Mu’adz dari ‘Aisyah tentang wanita yang sedang haid. Hadis itu telah disebutkan. Yang semisal itu adalah wanita yang sedang nifas.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡفِطۡرِ لِلۡمُسَافِرِ رُخۡصَةً إِلَّا أَنۡ يَخۡشَى التَّلَفَ أَوِ الضَّعۡفَ عَنِ الۡقِتَالِ فَعَزِيمَةً، فَالۡأَحَادِيثُ مِنۡهَا قُوۡلُهُ ﷺ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ) لَمَّا سَأَلَهُ حَمۡزَةُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيُّ عَنِ الصَّوۡمِ فِي السَّفَرِ، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ، وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسٍ (كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَلَمۡ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ). وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: (يَا رَسُولَ اللهِ أَجِدُ مِنِّي قُوَّةً عَلَى الصَّوۡمِ فَهَلۡ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ: هِيَ رُخۡصَةٌ مِنَ اللهِ فَمَنۡ أَخَذَهَا فَحَسَنٌ، وَمَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَصُومَ فَلَاجُنَاحَ عَلَيۡهِ).

Tidak berpuasa bagi musafir adalah rukhsah kecuali apabila dia khawatir celaka atau lemah dalam berperang, maka berbuka menjadi wajib. Ada banyak hadis, di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, tidak usah berpuasa.”[14] Hal itu ketika beliau ditanyai oleh Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami tentang puasa ketika safar. Riwayat ini ada di dalam dua kitab Shahih dari hadis ‘Aisyah.

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Anas, “Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa. Dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa.”[15]

Imam Muslim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, aku memiliki kekuatan untuk berpuasa (ketika safar). Apakah aku berdosa?”

Rasulullah menjawab, “(Tidak berpuasa ketika safar) merupakan rukhsah dari Allah. Siapa saja yang mengambilnya, maka baik. Dan siapa saja yang suka berpuasa, dia tidak berdosa.”[16]

وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي سَفۡرَةٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدۡ ظُلِّلَ عَلَيۡهِ فَقَالَ: مَا هَٰذَا؟ فَقَالُوا: صَائِمٌ، فَقَالَ: لَيۡسَ مِنَ الۡبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ). وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ، وَأَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: (سَافَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى مَكَّةَ وَنَحۡنُ صِيَامٌ قَالَ: فَنَزَلۡنَا مَنۡزِلًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّكُمۡ قَدۡ دَنَوۡتُمۡ مِنۡ عَدُوِّكُمۡ وَالۡفِطۡرُ أَقۡوَى لَكُمۡ، فَكَانَتۡ رُخۡصَةً فَمِنَّا مَنۡ صَامَ وَمِنَّا مَنۡ أَفۡطَرَ. ثُمَّ نَزَلۡنَا مَنۡزِلًا آخَرَ، فَقَالَ: إِنَّكُمۡ مُصۡبِحُونَ عَدُوَّكُمۡ وَالۡفِطۡرُ أَقۡوى لَكُمۡ فَافۡطُرُوا فَكَانَتۡ عَزِيمَةً، ثُمَّ لَقَدۡ رَأَيۡتُنَا نَصُومُ بَعۡدَ ذٰلِكَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي السَّفَرِ).

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah safar. Beliau melihat ada orang-orang mengerumuni seseorang yang diberi naungan.

Beliau bertanya, “Ada apa ini?”

Orang-orang menjawab, “Dia berpuasa.”

Rasulullah bersabda, “Berpuasa ketika safar tidak termasuk kebajikan.”[17]

Imam Muslim rahimahullah, Ahmad, dan Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Sa’id. Beliau berkata: Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Makkah dalam keadaan kami berpuasa. Abu Sa’id berkata: Lalu kami singgah di suatu tempat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian sudah dekat dengan musuh kalian. Tidak berpuasa lebih kuat bagi kalian.”

Ketika itu, tidak berpuasa adalah rukhsah sehingga di antara kami ada yang berpuasa dan di antara kami ada yang tidak. Kemudian kami singgah di tempat lain.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya besok pagi kalian akan bertemu dengan musuh kalian dan tidak berpuasa lebih kuat untuk kalian. Berbukalah!”

Sehingga tidak berpuasa ketika itu merupakan kewajiban. Kemudian setelah itu sungguh aku melihat kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.[18]

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى كَوۡنِ الصَّوۡمِ رُخۡصَةً فِي السَّفَرِ الۡجُمۡهُورُ، وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ بَعۡضِ الظَّاهِرِيَّةِ وَهُوَ مَحۡكِيٌّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَالۡإِمَامِيَّةِ أَنَّ الۡفِطۡرَ فِي السَّفَرِ وَاجِبٌ، وَأَنَّ الصَّوۡمَ لَا يُجۡزِىءُ وَكَذَا الۡمُسَافِرُ وَالۡمُرۡضِعُ وَالۡحُبۡلَى لِمَا أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ وَحَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ الۡكَعۡبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الۡمُسَافِرِ الصَّوۡمَ وَشَطۡرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الۡحُبۡلَي وَالۡمُرۡضِعِ الصَّوۡمَ).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa ketika safar adalah rukhsah. Telah diriwayatkan dari sebagian penganut paham Zhahiriyyah dan dikisahkan dari Abu Hurairah dan Imamiyyah, bahwa berbuka ketika safar adalah wajib dan bahwa berpuasa tidak sah.

Demikian pula musafir, wanita yang menyusui, dan wanita yang hamil, berdasarkan riwayat Ahmad dan penyusun kitab Sunan. At-Tirmidzi menilainya hasan. Yaitu riwayat dari Anas bin Malik Al-Ka’bi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan puasa (pada saat itu) dan separuh salat dari musafir. Juga menggugurkan puasa (pada saat itu) dari wanita yang hamil dan menyusui.”[19]

وَأَمَّا كَوۡنُ مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ؛ فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صِيَامٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ)، وَقَدۡ زَادَ الۡبَزَّارُ لَفۡظَ (إِنۡ شَاءَ). قَالَ فِي مَجۡمَعِ الزَّوَائِدِ وَإِسۡنَادُهُ حَسَنٌ، وَبِهِ قَالَ بَعۡضُ أَصۡحَابِ الۡحَدِيثِ، وَبَعۡضُ أَصۡحَابِ الشَّافِعِيَّةِ، وَأَبُو ثَوۡرٍ، وَالصَّادِقُ، وَالنَّاصِرُ، وَالۡمُؤَيَّدُ بِاللهِ، وَالۡأَوۡزَعِيُّ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ قَالَ الۡبَيۡهَقِيُّ فِي الۡخِلَافِيَّاتِ: هَٰذِهِ السُّنَّةُ ثَابِتَةٌ لَا أَعۡلَمُ خِلَافًا بَيۡنَ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ فِي صِحَّتِهَا. وَذَهَبَ جمُهۡوُر ُالۡفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجِبُ صَوۡمُ الۡوَلِيِّ عَنۡ وَلِيِّهِ.

Adapun perihal siapa saja yang mati dalam keadaan ada tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya, maka berdasarkan hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya.”[20]

Al-Bazzar menambahkan dengan lafal, “Jika dia mau.” Beliau berkata di dalam Majma’ Az-Zawa`id: Dan sanadnya hasan.

Sebagian ahli hadis, sebagian murid Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Ash-Shadiq, An-Nashir, Al-Mu`ayyad Billah, Al-Auza’i, dan Ahmad bin Hanbal berpendapat dengannya. Al-Baihaqi berkata dalam Al-Khilafiyyat: Sunah ini sabit/telah pasti. Aku tidak mengetahui ada perselisihan antara ahli hadis tentang kesahihannya. Mayoritas fukaha berpendapat tidak wajibnya puasa wali orang yang meninggal atas namanya.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡكَبِيرِ الۡعَاجِزِ عَنِ الۡأَدَاءِ وَالۡقَضَاءِ يُكَفِّرُ بِمَا ذُكِرَ؛ فَلِحَدِيثِ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ الثَّابِتِ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: (أُنۡزِلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ ۖ﴾ [البقرة: ١٨٤] كَانَ مَنۡ أَرَادَ أَنۡ يُفۡطِرَ وَيَفۡتَدِيَ حَتَّى أُنۡزِلَتِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا فَنَسَخَتۡهَا). وَأَخۡرَجَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، عَنۡ مُعَاذٍ بِنَحۡوِ مَا تَقَدَّمَ وَزَادَ ثُمَّ أَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ ۖ﴾ [البقرة: ١٨٥] فَأَثۡبَتَ اللهُ صِيَامَهُ عَلَى الۡمُقِيمِ الصَّحِيحِ، وَرَخَّصَ فِيهِ لِلۡمَرِيضِ وَالۡمُسَافِرِ وَثَبَّتَ الۡإِطۡعَامَ لِلۡكَبِيرِ الَّذِي لَا يَسۡتَطِيعُ الصِّيَامَ.

Adapun orang yang sudah tua yang tidak mampu menunaikan puasa dan kada, maka membayar kafarat dengan yang telah disebutkan (memberi makan setiap harinya satu orang miskin), adalah berdasar hadis Salamah bin Al-Akwa’ yang sabit di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya.

Beliau mengatakan: Ketika turun ayat yang artinya, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184), siapa saja yang ingin tidak berpuasa maka dia membayar fidiah. Sampai ayat setelahnya turun dan menasakhnya.[21]

Hadis ini dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Mu’adz seperti yang telah disebutkan dan beliau menambahkan: Kemudian Allah taala menurunkan ayat yang artinya, “Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Jadi Allah menetapkan kewajiban puasa Ramadan bagi orang yang tidak bepergian dan sehat; dan Allah memberi rukhsah kepada orang sakit dan musafir; dan Allah menetapkan fidiah memberi makan seorang miskin bagi orang yang tua yang sudah tidak mampu berpuasa.

وَأَخۡرَجَ الۡبُخَارِيُّ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: (لَيۡسَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ مَنۡسُوخَةً هِيَ لِلشَّيۡخِ الۡكَبِيرِ وَالۡمَرۡأَةِ الۡكَبِيرَةِ لَا يَسۡتَطِيعَانِ أَنۡ يَصُومَا فَيُطۡعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا)، وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لَهُ: أَثَبَتَتۡ لِلۡحُبۡلَى وَالۡمُرۡضِعِ أَنۡ يُفۡطِرَا وَيُطۡعِمَا كُلَّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا. وَأَخۡرَجَ الدَّارَقُطۡنِيُّ وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: (رُخِّصَ لِلشَّيۡخِ الۡكَبِيرِ أَنۡ يُفۡطِرَ وَيُطۡعِمَ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ)، وَهَٰذَا عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ تَفۡسِيرٌ لِمَا فِي الۡقُرۡآنِ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الۡإِشۡعَارِ بِالرَّفۡعِ فَكَانَ ذٰلِكَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ الۡكَفَّارَةَ هِيَ إِطۡعَامُ مِسۡكِينٍ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ.

Al-Bukhari mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata, “Ayat ini tidak mansukh. Ayat ini berlaku untuk orang laki-laki atau wanita yang sudah tua renta yang sudah tidak mampu berpuasa, maka dia memberi makan untuk ganti setiap harinya satu orang miskin.”[22]

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau berkata, “Tetap berlaku bagi wanita yang hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari satu orang miskin.”[23]

Ad-Daraquthni mengeluarkan riwayat dan disahihkan oleh Al-Hakim, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata, “Diberi keringanan untuk orang yang sudah sangat tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap harinya satu orang miskin dan tidak wajib kada baginya.”

Ucapan dari Ibnu ‘Abbas ini sebagai tafsir ayat dalam Alquran beserta adanya pengabaran bahwa pendapat beliau bersumber dari Nabi, maka hal itu menjadi dalil bahwa kafarat (orang yang tidak mampu berpuasa) adalah memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya.

بَابُ
صَوۡمِ التَّطَوُّعِ

Bab Puasa Sunah

يُسۡتَحَبُّ صِيَامُ سِتٍّ مِنۡ شَوَّالٍ، وَتِسۡعِ ذِي الۡحِجَّةِ، وَمُحَرَّمٍ، وَشَعۡبَانَ، وَالاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسِ وَأَيَّامِ الۡبِيضِ، وَأَفۡضَلُ التَّطَوُّعِ صَوۡمُ يَوۡمٍ وَإِفۡطَارُ يَوۡمٍ، وَيُكۡرَهُ صَوۡمُ الدَّهۡرِ وَإِفۡرَادُ يَوۡمِ الۡجُمُعَةِ وَيَوۡمِ السَّبۡتِ، وَيَحۡرُمُ صَوۡمُ الۡعِيدَيۡنِ وَأَيَّامِ التَّشۡرِيقِ وَاسۡتِقۡبَالِ رَمَضَانَ بِيَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ.

Disukai puasa enam hari di bulan Syawal, sembilan hari pertama bulan Zulhijah, puasa Muharam, puasa Syakban, puasa Senin dan Kamis, dan puasa hari-hari putih.

Puasa yang paling afdal adalah puasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari.

Dimakruhkan puasa sepanjang tahun dan menyendirikan puasa hari Jumat dan hari Sabtu. Haram puasa dua hari raya, puasa hari-hari tasyrik, dan mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya.

أَقُولُ: أَمَّا صِيَامُ سِتٍّ مِنۡ شَوَّالٍ فَلِحَدِيثٍ: (مَنۡ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتۡبَعَهُ سِتًّا مِنۡ شَوَّالٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهۡرِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ، وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Aku berkata: Adapun puasa enam hari di bulan Syawal, adalah berdasarkan hadis, “Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian dia iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu adalah puasa satu tahun.”[24] Diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah dan selain beliau dari hadis Abu Ayyub. Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا صِيَامُ تِسۡعِ ذِي الۡحِجَّةِ؛ فَلِمَا ثَبَتَ عَنۡهُ ﷺ مِنۡ حَدِيثِ حَفۡصَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَالنَّسَائِيِّ قَالَتۡ: (أَرۡبَعٌ لَمۡ يَكُنۡ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالۡعَشۡرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ) وَأَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِلَفۡظٍ: (كَانَ يَصُومُ تِسۡعَ ذِي الۡحِجَّةِ، وَيَوۡمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَأَوَّلَ اثۡنَيۡنِ مِنَ الشَّهۡرِ وَالۡخَمِيسِ)، وَقَدۡ أَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ عَنۡ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتۡ: (مَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَائِمًا فِي الۡعَشۡرِ قَطُّ). وَفِي رِوَايَةٍ: (لَمۡ يَصُمِ الۡعَشۡرَ قَطُّ). وَعَدَمُ رُؤۡيَتِهَا وَعِلۡمِهَا لَا يَسۡتَلۡزِمُ الۡعَدَمَ، وَآكَدُ التِّسۡعِ يَوۡمُ عَرَفَةَ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صَوۡمُ يَوۡمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيۡنِ مَاضِيَةً وَمُسۡتَقۡبَلَةً، وَصَوۡمُ يَوۡمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً).

Adapun puasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah adalah berdasarkan riwayat yang pasti dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadis Hafshah riwayat Ahmad dan An-Nasa`i. Hafshah mengatakan, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah puasa Asyura, puasa sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, dan puasa tiga hari setiap bulan.”[25]

Abu Dawud meriwayatkannya dengan redaksi, “Dahulu, beliau berpuasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin awal bulan dan hari Kamis.”[26]

Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di sepuluh hari awal bulan Zulhijah sama sekali.”[27]

Dalam riwayat lain, “Beliau tidak pernah berpuasa di sepuluh hari awal bulan Zulhijah sama sekali.”

Ketiadaan penglihatan dan pengetahuan ‘Aisyah ini tidak mengharuskan ketiadaan perbuatan beliau.

Yang paling ditekankan dari sembilan hari awal bulan Zulhijah adalah hari Arafah, karena telah pasti di dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadis Abu Qatadah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan yang akan datang. Puasa hari Asyura menghapus dosa satu tahun lalu.”[28]

وَأَمَّا صِيَامُ شَهۡرِ مُحَرَّمٍ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَمُسۡلِمٍ وَأَهۡلِ السُّنَنِ؛ أَنَّهُ ﷺ سُئِلَ أَيُّ الصِّيَامِ بَعۡدَ رَمَضَانُ أَفۡضَلُ؟ فَقَالَ: (شَهۡرُ اللهِ الۡمُحَرَّمُ)، وَآكَدُهُ يَوۡمُ عَاشُورَاءَ لِمَا وَرَدِ فِيهِ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الثَّابِتَةِ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ: (أَنَّهُ ﷺ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَٰذَا يَوۡمُ عَاشُورَاءَ وَلَمۡ يُكۡتَبۡ عَلَيۡكُمۡ صِيَامُهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنۡ شَاءَ صَامَ، وَمَنۡ شَاءَ فَلۡيُفۡطِرۡ)، وَقَدۡ تَقَدَّمَ أَنَّهُ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً. وَثَبَتَ فِي مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ: (أَنَّهُ لَمَّا أَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوۡمٌ يُعَظِّمُهُ الۡيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ: إِذَا كَانَ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ إِنۡ شَاءَ اللهُ صُمۡنَا التَّاسِعَ، فَلَمۡ يَأۡتِ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ).

Adapun puasa bulan Muharam berdasarkan hadis Abu Hurairah riwayat Ahmad, Muslim, dan penyusun kitab Sunan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya puasa apa yang paling afdal setelah Ramadan. Lalu beliau bersabda, “(Puasa) bulan Allah, yaitu Muharam.”[29]

Yang paling ditekankan adalah hari Asyura, berdasarkan hadis-hadis yang sabit yang menerangkan tentangnya di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, dari sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan puasa hari Asyura. Kemudian beliau bersabda, “Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan puasa bagi kalian. Namun aku berpuasa. Maka, siapa saja ingin, silakan berpuasa, dan siapa saja yang ingin, silakan tidak berpuasa.”[30]

Telah disebutkan bahwa puasa Asyura menghapuskan dosa satu tahun yang lalu.

Juga telah pasti di dalam riwayat Muslim dan selainnya, bahwa ketika Rasulullah memerintahkan puasa hari Asyura, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagung-agungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Rasulullah bersabda, “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan.”

Namun tahun depan belum tiba, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.[31]

وَأَمَّا صِيَامُ شَهۡرِ شَعۡبَانَ، فَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ: (أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمۡ يَكُنۡ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهۡرًا تَامًّا إِلَّا شَعۡبَانَ، يَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَأَهۡلُ السُّنَنِ، وَحَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ: (مَا كَانَ يَصُومُ فِي شَهۡرٍ مَا كَانَ يَصُومُ فِي شَعۡبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا بَلۡ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ). وَفِي لَفۡظٍ: (وَمَا رَأَيۡتُهُ فِي شَهۡرٍ أَكۡثَرَ مِنۡهُ صِيَامًا فِي شَعۡبَانَ).

Adapun puasa bulan Syakban adalah berdasarkan hadis Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu tahun tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali Syakban. Beliau menyambungnya dengan Ramadan.[32] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan penulis kitab Sunan. At-Tirmidzi menilainya hasan.

Di dalam dua kitab Shahih, dari hadis ‘Aisyah, “Rasulullah tidak pernah berpuasa sebagaimana beliau berpuasa di bulan Syakban. Dahulu, beliau banyak berpuasa di bulan Syakban kecuali sedikit. Bahkan beliau berpuasa di sepanjang bulan Syakban.”[33] Dalam redaksi lain, “Aku tidak melihat beliau di suatu bulan lebih banyak berpuasa daripada di bulan Syakban.”[34]

وَأَمَّا الۡإِثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسُ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الۡاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسِ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَابۡنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ. وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَبُو دَاوُدَ مِنۡ حَدِيثِ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ، وَأَخۡرَجَهُ النَّسَائِيُّ أَيۡضًا وَفِي إِسۡنَادِهِ مَجۡهُولٌ، مَعَ أَنَّهُ قَدۡ صَحَّحَهُ ابۡنُ خُزَيۡمَةَ. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (تُعۡرَضُ الۡأَعۡمَالُ كُلَّ اثۡنَيۡنِ وَخَمِيسٍ فَأُحِبُّ أَنۡ يُعۡرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ)، وَفِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الاثۡنَيۡنِ فَقَالَ: (ذٰلِكَ يَوۡمُ وُلِدۡتُ فِيهِ، وَأُنۡزِلَ عَلَيَّ فِيهِ).

Adapun puasa hari Senin dan Kamis adalah berdasarkan hadis ‘Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memilih untuk puasa hari Senin dan Kamis.[35] Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi—dan beliau menilainya sahih—, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban—dan beliau menilainya sahih—. Abu Dawud juga meriwayatkan semisal itu dari hadis Usamah bin Zaid. An-Nasa`i juga meriwayatkannya. Di dalam sanadnya ada rawi yang majhul (tidak diketahui), bersamaan dengan itu Ibnu Khuzaimah telah menilainya sahih.

Ahmad dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) setiap hari Senin dan Kamis, sehingga aku senang amalanku dihadapkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.”[36]

Di dalam Shahih Muslim rahimahullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin, lantas beliau bersabda, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.”[37]

وَأَمَّا صَوۡمُ أَيَّامِ الۡبِيضِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيرِهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثٌ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، فَهَٰذَا صِيَامُ الدَّهۡرِ كُلِّهِ)، وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا صُمۡتَ مِنَ الشَّهۡرِ ثَلَاثَةً فَصُمۡ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun puasa hari-hari putih adalah berdasarkan hadis Abu Qatadah riwayat Muslim dan selainnya. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hari setiap bulan dan Ramadan ke Ramadan berikutnya, ini adalah puasa satu tahun penuh.”[38]

Ahmad, An-Nasa`i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban—dan beliau menilainya sahih—meriwayatkan dari hadis Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau berpuasa tiga hari dari sebulan, maka berpuasalah hari ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas.”[39] Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا كَوۡنُ أَفۡضَلُ التَّطَوُّعِ صَوۡمَ يَوۡمٍ وَإِفۡطَارَ يَوۡمٍ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (صُمۡ فِي كُلِّ شَهۡرٍ ثَلَاثَةً، قُلۡتُ: إِنِّي أَقۡوَى مِنۡ ذٰلِكَ، فَلَمۡ يَزَلۡ يَرۡفَعۡنِي حَتَّى قَالَ: صُمۡ يَوۡمًا وَأَفۡطِرۡ يَوۡمًا؛ فَإِنَّهُ أَفۡضَلُ الصِّيَامِ، وَهُوَ صَوۡمُ أَخِي دَاوُدَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ).

Adapun puasa sunah yang paling afdal adalah puasa sehari dan tidak berpuasa sehari, adalah berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap bulan.”

Aku (‘Abdullah bin ‘Amr) berkata, “Sesungguhnya aku lebih kuat daripada itu.”

Maka, Rasulullah terus menambah kekerapan puasa untukku hingga beliau bersabda, “Puasalah satu hari dan tidak berpuasalah satu hari. Karena itu adalah puasa yang paling afdal dan itu adalah puasa saudaraku Dawud ‘alaihis salam.”[40]

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُكۡرَهُ صَوۡمُ الدَّهۡرِ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا صَامَ مَنۡ صَامَ الۡأَبَدَ) وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَابۡنُ حِبَّان، وَابۡنُ خُزَيۡمَةَ، وَالۡبَيۡهَقِي، وَابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ صَامَ الدَّهۡرَ ضُيِّقَتۡ عَلَيۡهِ جَهَنَّمُ هَٰكَذَا، وَقَبَضَ كَفَّهُ). وَلَفۡظُ ابۡنِ حِبَّان: (ضُيِّقَتۡ عَلَيۡهِ جَهَنَّمُ هَٰكَذَا، وَعَقَدَ تِسۡعِينَ) وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.

Perihal dibencinya puasa sepanjang tahun adalah berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak mendapatkan pahala puasa bagi siapa saja yang berpuasa sepanjang masa.”[41] Hadis ini terdapat di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya.

Dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Ibnu Abu Syaibah dari hadis Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa saja yang berpuasa sepanjang tahun, maka neraka jahanam akan disempitkan baginya seperti ini—beliau mengepalkan telapak tangannya—.”[42] Redaksi hadis Ibnu Hibban, “Neraka jahanam akan disempitkan baginya seperti ini—beliau memberi isyarat jari tangan bilangan sembilan puluh (melingkarkan jari telunjuk sehingga ujungnya menyentuh pangkal ibu jari)—.” Dan para perawinya adalah perawi kitab Shahih.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُكۡرَهُ إِفۡرَادُ يَوۡمِ الۡجُمُعَةِ، فَلِحَدِيثِ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الۡجُمُعَةِ). وَفِي رِوَايَةٍ: (أَنۡ يُفۡرَدَ بِصَوۡمٍ). وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ: (لَا تَصُومُوا يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ، إِلَّا وَقَبۡلَهُ يَوۡمٌ، أَوۡ بَعۡدَهُ). وَفِي لَفۡظٍ لِمُسۡلِمٍ: (وَلَا تَخُصُّوا لَيۡلَةَ الۡجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنۡ بَيۡنَ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنۡ بَيۡنَ الۡأَيَّامِ، إِلَّا أَنۡ يَكُونَ فِي صَوۡمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمۡ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Perihal dibencinya menyendirikan puasa hari Jumat adalah berdasarkan hadis Jabir di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa hari Jumat.”[43] Dalam riwayat lain, “(Melarang) menyendirikan puasa hari Jumat.”

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Abu Hurairah, “Janganlah kalian berpuasa di hari Jumat, kecuali berpuasa pula sehari sebelumnya atau sesudahnya.”[44] Dalam redaksi hadis riwayat Muslim, “Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan salat malam dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat dengan puasa. Kecuali di hari Jumat itu bertepatan dengan kebiasaan kalian berpuasa.”[45]

Terdapat banyak hadis dalam masalah ini.

وَأَمَّا كَرَاهَةُ إِفۡرَادِ يَوۡمِ السَّبۡتِ بِالصَّوۡمِ، فَلِحَدِيثِ الصَّمَّاءِ بِنۡتِ بُسۡرٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالتِّرۡمِذِي، وَابۡنِ مَاجَهۡ، وَابۡنِ حِبَّان، وَالۡحَاكِمِ، وَالطَّبَرَانِي، وَالۡبَيۡهَقِي، وَصَحَّحَهُ ابۡنُ السَّكَنِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا تَصُومُوا يَوۡمَ السَّبۡتِ إِلَّا فِيمَا افۡتُرِضَ عَلَيۡكُمۡ؛ فَإِنۡ لَمۡ يَجِدۡ أَحَدُكُمۡ إِلَّا عُودَ عِنَبٍ، أَوۡ لِحَاءَ شَجَرٍ فَلۡيَمۡضُغۡهُ).

Adapun dibencinya menyendirikan puasa di hari Sabtu adalah berdasarkan hadis Ash-Shamma` bintu Busr yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi. Hadis ini dinilai sahih oleh Ibnus Sakan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berpuasa hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian. Apabila salah seorang kalian tidak mendapatkan apapun (untuk membatalkan puasa hari Sabtu) kecuali tangkai anggur atau kulit pohon, maka kunyahlah itu.”[46]

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ صَوۡمُ الۡعِيدَيۡنِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ (أَنَّهُ نَهَى عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الۡفِطۡرِ، وَيَوۡمِ النَّحۡرِ) وَقَدۡ أَجۡمَعَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى ذٰلِكَ.

Keharaman puasa dua hari raya adalah berdasarkan hadis Abu Sa’id di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwa beliau melarang dari puasa hari raya Idulfitri dan hari nahar (Iduladha).”[47] Dan kaum muslimin telah sepakat terhadap hal itu.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ صَوۡمُ أَيَّامِ التَّشۡرِيقِ، فَلِنَهۡيِهِ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ فِيهَا، كَمَا ثَبَتَ ذٰلِكَ مِنۡ طَرِيقِ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ؛ وَقَدۡ سَرَدۡتُ أَحَادِيثَهُمۡ فِي شَرۡحِ الۡمُنۡتَقَى.

Keharaman puasa hari-hari tasyrik berdasarkan larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari puasa pada hari-hari tersebut.[48] Sebagaimana riwayat larangan itu telah pasti dari jalan sekelompok sahabat dan aku telah rinci hadis-hadis mereka di dalam Syarh Al-Muntaqa.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ اسۡتِقۡبَالُ رَمَضَانَ بِيَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمۡ رَمَضَانَ بِصَوۡمِ يَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ، إِلَّا أَنۡ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُهُ صَوۡمًا فَلۡيَصُمۡهُ). وَيُؤَيِّدُهُ حَدِيثُ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَيۡضًا عِنۡدَ أَصۡحَابِ السُّنَنِ، وَصَحَّحَهُ ابۡنُ حِبَّان وَغَيۡرُهُ مَرۡفُوعًا بِلَفۡظِ: (إِذَا انۡتَصَفَ شَعۡبَانُ فَلَا تَصُومُوا). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ؛ وَالۡخِلَافُ طَوِيلٌ مَبۡسُوطٌ فِي الۡمُطَوَّلَاتِ.

Keharaman mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali salah seorang kalian mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya! Kecuali apabila seseorang yang rutin berpuasa, maka silakan berpuasa.”[49]

Hal ini diperkuat dengan hadis Abu Hurairah pula yang diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan selain beliau secara marfuk dengan lafal, “Apabila sudah berlalu separuh bulan Syakban, janganlah kalian berpuasa.”[50]

Terdapat banyak hadis dalam masalah ini dan ada perselisihan yang panjang yang dipaparkan di dalam muthawwalat (kitab yang membahas hukum secara panjang lebar).

بَابُ الۡاعۡتِكَافِ

Bab Iktikaf

يُشۡرَعُ فِي كُلِّ وَقۡتٍ فِي الۡمَسَاجِدِ. وَهُوَ فِي رَمَضَانَ آكَدُ، سِيَّمَا فِي الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ، وَيُسۡتَحَبُّ الۡاجۡتِهَادُ فِي الۡعَمَلِ فِيهَا، وَقِيَامُ لَيَالِي الۡقَدۡرِ، وَلَا يَخۡرُجُ الۡمُعۡتَكِفُ إِلَّا لِحَاجَةٍ.

Iktikaf disyariatkan pada setiap waktu di masjid. Iktikaf di bulan Ramadan lebih ditekankan, terlebih pada sepuluh hari terakhir. Disukai untuk bersungguh-sungguh dalam amal ibadah di sepuluh hari terakhir tersebut dan salat pada malam Lailatulkadar. Orang yang beriktikaf tidak boleh keluar kecuali ada kebutuhan.

أَقُولُ: لَا خِلَافَ فِي مَشۡرُوعِيَّةِ الۡاعۡتِكَافِ، وَقَدۡ كَانَ يَعۡتَكِفُ النَّبِيُّ ﷺ فِي الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ مِنۡ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ جَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ.

Tidak ada perselisihan tentang disyariatkannya iktikaf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah wafatkan beliau[51], sebagaimana hal itu telah pasti terdapat dalam dua kitab Shahih dan selainnya dari hadis Abu Hurairah.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَصِحُّ فِي كُلِّ وَقۡتٍ فِي الۡمَسَاجِدِ؛ فَلِأَنَّهُ وَرَدَ التَّرۡغِيبُ فِيهِ وَلَمۡ يَأۡتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ يَخۡتَصُّ بِوَقۡتٍ مُعَيَّنٍ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ؛ (أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: كُنۡتُ نَذَرۡتُ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ أَنۡ أَعۡتَكِفَ لَيۡلَةً فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ، قَالَ: فَأَوۡفِ بِنَذۡرِكَ).

Perihal bahwa iktikaf itu sah pada setiap waktu di masjid-masjid, karena adanya anjuran untuk itu dan tidak ada dalil yang menunjukkan iktikaf dikhususkan pada waktu tertentu. Telah pasti terdapat di dalam kitab Shahih dari hadis Ibnu ‘Umar, bahwa ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umar berkata: Aku dulu bernazar di masa jahiliah untuk iktikaf selama satu malam di Masjidil Haram. Beliau bersabda, “Penuhilah nazarmu.”[52]

وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَكُونُ إِلَّا فِي الۡمَسَاجِدِ، فَلِأَنَّ ذٰلِكَ هُوَ مَعۡنَى الۡاعۡتِكَافِ شَرۡعًا، إِذۡ لَا يُسَمَّى مَنِ اعۡتَكَفَ فِي غَيۡرِهَا مُعۡتَكِفًا شَرۡعًا. وَقَدۡ وَرَدَ مَا يَدُلُّ عَلَى ذٰلِكَ كَحَدِيثِ: (لَا اعۡتِكَافَ إِلَّا فِي مَسۡجِدِ جَمَاعَةٍ) أَخۡرَجَهُ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَسَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ مِنۡ حَدِيثِ حُذَيۡفَةَ.

Perihal bahwa iktikaf hanya dilakukan di masjid-masjid, karena itu merupakan makna iktikaf secara syariat. Juga karena tidak dinamakan bagi siapa saja yang iktikaf di selain masjid sebagai mu’takif (orang yang beriktikaf) secara syariat. Terdapat dalil yang menunjukkan hal itu, seperti hadis, “Tidak ada iktikaf kecuali di masjid jamaah.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dan Sa’id bin Manshur dari hadis Hudzaifah.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡاعۡتِكَافُ فِي رَمَضَانَ لَا سِيَّمَا كَوۡن الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ مِنۡهُ أَفۡضَلُ وَآكَدُ، فَلِكَوۡنِهِ ﷺ كَانَ يَعۡتَكِفُ فِيهَا وَلَمۡ يَرِدۡ مَا يَدُلُّ عَلَى تَوۡقِيتِهِ بِيَوۡمٍ أَوۡ أَكۡثَرَ، وَلَا عَلَى اشۡتِرَاطِ الصِّيَامِ إِلَّا مِنۡ قَوۡلِ عَائِشَةَ، وَحَدِيثُ ابۡنِ عُمَرَ الۡمُتَقَدَّمِ يَرُدُّهُ، وَكَذٰلِكَ حَدِيثُ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَيۡسَ عَلَى الۡمُعۡتَكِفِ صِيَامٌ، إِلَّا أَنۡ يَجۡعَلَهُ عَلَى نَفۡسِهِ) أَخۡرَجَهُ الدَّارَقُطۡنِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَقَالَ: صَحِيحُ الۡإِسۡنَادِ، وَرَجَّحَ الدَّارَقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ وَقَّفَهُ. وَبِالۡجُمۡلَةِ؛ فَلَا حُجَّةَ إِلَّا فِي الثَّابِتِ مِنۡ قَوۡلِهِ ﷺ، وَلَمۡ يَثۡبُتۡ عَنۡهُ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا اعۡتِكَافَ إِلَّا بِصَوۡمٍ، بَلۡ ثَبَتَ عَنۡهُ مَا يُخَالِفُهُ فِي نَذۡرِ عُمَرَ. وَقَدۡ رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنۡ عَائِشَةَ مَرۡفُوعًا مِنۡ حَدِيثِ: (وَلَا اعۡتِكَافَ إِلَّا بِصَوۡمٍ). وَرَوَاهُ غَيۡرُهُ مِنۡ قَوۡلِهَا، وَرَجَّحَ ذٰلِكَ الۡحُفَّاظُ.

Adapun perihal bahwa iktikaf di bulan Ramadan terlebih di sepuluh hari terakhir lebih mulia dan lebih ditekankan, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa iktikaf di waktu-waktu tersebut. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan pembatasan waktunya baik satu hari atau lebih. Dan tidak pula disyaratkan puasa kecuali dari ucapan ‘Aisyah. Hadis Ibnu ‘Umar yang telah disebutkan telah membantahnya, demikian pula hadis Ibnu ‘Abbas; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang iktikaf tidak wajib puasa kecuali dia mewajibkan puasa atas dirinya.” Dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Hakim, beliau mengatakan: sanadnya sahih dan dikuatkan oleh Ad-Daraquthni, sedangkan Al-Baihaqi menyatakan mauquf.

Secara umum, tidak ada alasan kecuali yang telah pasti diriwayatkan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak ada dalil yang pasti dari beliau yang menunjukkan bahwa tidak ada iktikaf kecuali dengan puasa. Bahkan telah pasti riwayat dari beliau hal yang menyelisihinya pada riwayat nazarnya ‘Umar. Abu Dawud telah meriwayatkan dari ‘Aisyah secara marfu’ tentang hadis, “Dan tidak ada iktikaf kecuali dengan puasa.”[53] Namun, selain beliau meriwayatkan itu dari ucapan ‘Aisyah dan itulah yang dikuatkan oleh para hafizh.

وَأَمَّا مَشۡرُوعِيَّةُ الۡاجۡتِهَادِ فِي الۡعَمَلِ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا دَخَلَ الۡعَشۡرَ الۡأَوَاخِرَ أَحۡيَا اللَّيۡلَ كُلَّهُ، وَأَيۡقَظَ أَهۡلَهُ، وَشَدَّ الۡمِئۡزَرَ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا.

Adapun disyariatkannya bersungguh-sungguh dalam amalan ibadah adalah berdasar hadis ‘Aisyah, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk sepuluh hari terakhir, beliau menghidupkan seluruh malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan kain sarung.”[54] Hadis ini terdapat dalam dua kitab Shahih dan selainnya.

وَأَمَّا مَشۡرُوعِيَّةُ قِيَامِ لَيَالِي الۡقَدۡرِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ قَامَ لَيۡلَةَ الۡقَدۡرِ إِيمَانًا وَاحۡتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). وَفِي تَعۡيِينِ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ أَحَدِيثُ مُخۡتَلِفَةٌ، وَأَقۡوَالٌ جَاوَزَتِ الۡأَرۡبَعِينَ، وَقَدۡ اسۡتَوۡفَيۡتُ ذٰلِكَ فِي شَرۡحِ الۡمُنۡتَقَى فَلۡيَرۡجِعۡ إِلَيۡهِ.

Adapun disyariatkannya salat pada malam-malam Lailatulkadar, berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa saja yang salat pada malam Lailatulkadar karena iman dan mengharap pahala, dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[55] Tentang kepastian kapan malam Lailatulkadar ada hadis-hadis yang berbeda-beda dan pendapat-pendapat yang melebihi empat puluh pendapat. Aku telah mengumpulkannya di dalam Syarh Al-Muntaqa, maka silakan merujuk kepadanya.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُعۡتَكِفُ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا لِحَاجَةٍ، فَلَمَّا ثَبَتَ عَنۡهُ ﷺ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ (أَنَّهُ كَانَ لَا يَدۡخُلُ الۡبَيۡتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الۡإِنۡسَانِ إِذَا كَانَ مُعۡتَكِفًا)، وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنۡهَا قَالَتۡ: (كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَمُرُّ بِالۡمَرِيضِ وَهُوَ مُعۡتَكِفٌ فَيَمُرُّ كَمَا هُوَ وَلَا يُعَرِّجُ يَسۡأَلُ عَنۡهُ)، وَفِي إِسۡنَادِهِ لَيۡثُ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمٍ، قَالَ الۡحَافِظُ: وَالصَّحِيحُ عَنۡ عَائِشَةَ مِنۡ فِعۡلِهَا. أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ، قَالَ: صَحَّ ذٰلِكَ عَنۡ عَلِيٍّ. وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنۡ عَائِشَةَ أَيۡضًا قَالَتۡ: (السُّنَّةُ عَلَى الۡمُعۡتَكِفِ أَنۡ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشۡهَدُ جَنَازَةً، وَلَا يَمَسَّ امۡرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخۡرُجَ لِحَاجَةٍ إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنۡهُ، وَلَا اعۡتِكَافَ إِلَّا بِصَوۡمٍ، وَلَا اعۡتِكَافَ إِلَّا فِي مَسۡجِدٍ جَامِعٍ)، وَأَخۡرَجَهُ أَيۡضًا النَّسَائِيُّ وَلَيۡسَ فِيهِ قَالَتۡ: (السُّنَّةُ) قَالَ أَبُو دَاوُدَ غَيۡرُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ إِسۡحَاقَ لَا يَقُولُ فِيهِ قَالَتۡ السُّنَّةُ، وَجَزِمَ الدَّارَقُطۡنِيُّ بِأَنَّ الۡقَدۡرَ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَوۡلُهَا لَا يَخۡرُجُ وَمَا عَدَاهُ مِمَّنۡ دُونَهَا.

Adapun perihal orang yang beriktikaf tidak keluar kecuali karena kebutuhan adalah karena telah pasti riwayat dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih, “Bahwa beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk suatu kebutuhan manusia apabila beliau sedang iktikaf.”[56]

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari ‘Aisyah, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati orang sakit ketika Nabi sedang iktikaf. Beliau hanya lewat dan tidak mampir untuk menanyakannya.”[57] Di dalam sanadnya ada Laits bin Abu Sulaim. Al-Hafizh berkata: Yang sahih dari ‘Aisyah adalah bahwa hal itu dari perbuatan ‘Aisyah. Dikeluarkan oleh Muslim rahimahullah dan selain beliau, beliau mengatakan: Hal itu telah sahih dari ‘Ali.

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari ‘Aisyah pula, beliau mengatakan, “Yang sunah bagi orang yang beriktikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri penyelenggaraan jenazah, tidak menyentuh istri dan tidak pula bermesraan dengannya, dan tidak keluar untuk suatu kebutuhan kecuali kebutuhan yang harus. Dan tidak ada iktikaf kecuali dengan puasa dan tidak ada iktikaf kecuali di masjid jami.”[58]

Dikeluarkan pula oleh An-Nasa`i, namun tidak ada padanya ucapan ‘Aisyah: Yang sunah. Abu Dawud mengatakan: Selain ‘Abdurrahman bin Ishaq tidak menyebutkan padanya: ‘Aisyah berkata: Yang sunah. Ad-Daraquthni memastikan bahwa batas dari hadis ‘Aisyah adalah ucapan beliau “tidak keluar…”, adapun setelahnya maka dari ucapan periwayat di bawah ‘Aisyah.


[1] HR. Abu Dawud nomor 2342.

[2] HR. Abu Dawud nomor 2340, At-Tirmidzi nomor 691, An-Nasa`i nomor 2112, dan Ibnu Majah nomor 1652.

[3] HR. Abu Dawud nomor 2338.

[4] HR. Al-Bukhari nomor 1909, Muslim nomor 1081, At-Tirmidzi nomor 684, An-Nasa`i nomor 2117, dan Ibnu Majah nomor 1655.

[5] HR. Muslim nomor 1087 dan An-Nasa`i nomor 2111.

[6] HR. Abu Dawud nomor 2454, At-Tirmidzi nomor 730, An-Nasa`i nomor 2331, dan Ibnu Majah nomor 1700.

[7] HR. Muslim nomor 1154.

[8] HR. Al-Bukhari nomor 1933, Muslim nomor 1155, Ibnu Majah nomor 1673, Ad-Darimi, dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/395, 425).

[9] HR. Abu Dawud nomor 2380, At-Tirmidzi nomor 720, Ibnu Majah nomor 1676, Ad-Darimi, Malik, dan Ahmad (2/498).

[10] HR. At-Tirmidzi nomor 719.

[11] HR. Al-Bukhari nomor 1936, 1937, Muslim nomor 1111, dan At-Tirmidzi nomor 724.

[12] HR. Al-Bukhari nomor 1957, Muslim nomor 1098, At-Tirmidzi nomor 699, dan Ibnu Majah nomor 1697.

[13] HR. Al-Bukhari nomor 1921 dan An-Nasa`i nomor 2155.

[14] HR. Al-Bukhari nomor 1943 dan Muslim nomor 1121.

[15] HR. Al-Bukhari nomor 1947, Muslim nomor 1118, dan Abu Dawud nomor 2405.

[16] HR. Muslim nomor 1121.

[17] HR. Al-Bukhari nomor 1946, Muslim nomor 1115, Abu Dawud nomor 2407, At-Tirmidzi nomor 710, dan An-Nasa`i nomor 2258.

[18] HR. Muslim nomor 1120 dan Abu Dawud nomor 2406.

[19] HR. Abu Dawud nomor 2408, At-Tirmidzi nomor 715, An-Nasa`i nomor 2275, dan Ibnu Majah nomor 1667.

[20] HR. Al-Bukhari nomor 1952, Muslim nomor 1147, dan Abu Dawud nomor 2400.

[21] HR. Muslim nomor 1145, At-Tirmidzi nomor 798, dan An-Nasa`i nomor 2316.

[22] HR. Al-Bukhari nomor 4505.

[23] HR. Abu Dawud nomor 2317.

[24] HR. Muslim nomor 1164, Abu Dawud nomor 2433, dan At-Tirmidzi nomor 759.

[25] HR. An-Nasa`i nomor 2416.

[26] HR. Abu Dawud nomor 2437.

[27] HR. Muslim nomor 1176 dan At-Tirmidzi nomor 756.

[28] HR. Abu Dawud nomor 2425, At-Tirmidzi nomor 749, dan Ibnu Majah nomor 1730.

[29] HR. Muslim nomor 1163.

[30] HR. Al-Bukhari nomor 2003.

[31] HR. Muslim nomor 1134.

[32] HR. Abu Dawud nomor 2336.

[33] HR. Al-Bukhari nomor 1970 dan Muslim nomor 1156.

[34] HR. Al-Bukhari nomor 1969, Muslim nomor 1156, Abu Dawud nomor 2434, At-Tirmidzi nomor 736, dan Ibnu Majah nomor 1710.

[35] HR. At-Tirmidzi nomor 745, An-Nasa`i nomor 2186, dan Ibnu Majah nomor 1739.

[36] HR. At-Tirmidzi nomor 747.

[37] HR. Muslim nomor 1162.

[38] HR. Muslim nomor 1162.

[39] HR. At-Tirmidzi nomor 761.

[40] HR. Al-Bukhari nomor 1976 dan Muslim nomor 1159.

[41] HR. Al-Bukhari nomor 1977 dan Muslim nomor 1159.

[42] HR. Ahmad di dalam Al-Musnad 5/146.

[43] HR. Al-Bukhari nomor 1984 dan Muslim nomor 1143.

[44] HR. Al-Bukhari nomor 1985, Muslim nomor 1144, dan Abu Dawud nomor 2420.

[45] HR. Muslim nomor 1144.

[46] HR. Abu Dawud nomor 2421 dan Ibnu Majah nomor 1726.

[47] HR. Al-Bukhari nomor 1991 dan Muslim nomor 827.

[48] HR. Al-Bukhari nomor 1997, 1998 dan Muslim nomor nomor 1141.

[49] HR. Al-Bukhari nomor 1914 dan Muslim nomor 1082.

[50] HR. Abu Dawud nomor 2337.

[51] HR. Al-Bukhari nomor 2044 dan Ibnu Majah nomor 1769.

[52] HR. Al-Bukhari nomor 2032, 2042, 2043, Muslim nomor 1656, Abu Dawud nomor 3314, At-Tirmidzi nomor 1539, dan An-Nasa`i nomor 3820.

[53] HR. Abu Dawud nomor 2473.

[54] HR. Al-Bukhari nomor 2024, Muslim nomor 1174, Abu Dawud nomor 1376, An-Nasa`i nomor 1639, dan Ibnu Majah nomor 1768.

[55] HR. Al-Bukhari nomor 35, 2014, Muslim nomor 759, Abu Dawud nomor 1371, 1372, At-Tirmidzi nomor 683, An-Nasa`i nomor 1602, 1603, dan Ibnu Majah nomor 1641.

[56] HR. Al-Bukhari nomor 2029 dan Muslim nomor 297.

[57] HR. Abu Dawud nomor 2472.

[58] HR. Abu Dawud nomor 2473.

Read More

Qadariyyah

28 Januari 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan di dalam Lamhah ‘anil Firaqidh Dhallah:

الۡفِرۡقَةُ الۡأُولَى الۡقَدَرِيَّةُ

فَأَوَّلُ مَا حَدَثَ، فِرۡقَةُ “الۡقَدَرِيَّةِ” فِي آخِرِ عَهۡدِ الصَّحَابَةِ.

Firkah yang awal kali muncul adalah firkah Qadariyyah di akhir masa sahabat.

“الۡقَدَرِيَّةُ”: الَّذِينَ يُنۡكِرُونَ الۡقَدَرَ، وَيَقُولُونَ: إِنَّ مَا يَجۡرِي فِي هَٰذَا الۡكَوۡنِ لَيۡسَ بِقَدَرٍ وَقَضَاءٍ مِنَ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – وَإِنَّمَا هُوَ أَمۡرٌ يَحۡدُثُ بِفِعۡلِ الۡعَبۡدِ، وَبِدُونِ سَابِقِ تَقۡدِيرٍ مِنَ اللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – فَأَنۡكَرُوا الرُّكۡنَ السَّادِسَ مِنۡ أَرۡكَانِ الۡإِيمَانِ، لِأنَّ أَرۡكَانَ الۡإِيمَانِ سِتَّةٌ: الۡإِيمَانُ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، وَالۡإِيمَانُ بِالۡقَدَرِ خَيۡرِهِ وَشَرِّهِ، كُلِّهِ مِنَ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -.

Qadariyyah adalah orang-orang yang mengingkari takdir dan berpendapat bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini adalah tanpa takdir dan ketentuan dari Allah subhanahu wa taala. Kejadian itu hanyalah perkara yang muncul dengan perbuatan hamba tanpa didahului oleh takdir dari Allah azza wajalla. Mereka mengingkari rukun iman keenam. Karena rukun enam ada enam, yaitu: iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, semua itu dari Allah subhanahu wa taala.

وَسُمُّوا “بِالۡقَدَرِيَّةِ”، وَسُمًّوا “بِمَجُوسِ” هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ، لِمَاذَا؟

لِأَنَّهُمۡ يَزۡعُمُونَ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ يَخۡلُقُ فِعۡلَ نَفۡسِهِ، وَلَمۡ يَكُنۡ ذٰلِكَ بِتَقۡدِيرٍ مِنَ اللهِ، لِذٰلِكَ أَثۡبَتُوا خَالِقَيۡنِ مَعَ اللهِ كَالۡمَجُوسِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: (إِنَّ الۡكَوۡنَ لَهُ خَالِقَانِ: “النُّورُ وَالظُّلۡمَةُ”، النُّورُ خَلَقَ الۡخَيۡرَ، وَالظُّلۡمَةُ خَلَقَتِ الشَّرَّ).

Mereka dinamai Qadariyyah. Mereka juga dinamai majusinya umat ini. Mengapa?

Karena mereka menyatakan bahwa setiap orang menciptakan perbuatannya sendiri dan tidak terjadi dengan takdir dari Allah. Karena itu, mereka menetapkan dua pencipta di samping Allah seperti orang-orang majusi yang mengatakan, “Sesungguhnya alam semesta ini memiliki dua pencipta, yaitu: cahaya dan kegelapan. Cahaya menciptakan kebaikan dan kegelapan menciptakan keburukan.”

“الۡقَدَرِيَّةُ” زَادُوا عَلَى الۡمَجُوسِ؛ لِأَنَّهُمۡ أَثۡبَتُوا خَالِقَيۡنِ مُتَعَدِّدَيۡنِ، حَيۡثُ قَالُوا: (كُلٌّ يَخۡلُقُ فِعۡلَ نَفۡسِهِ)، فَلِذٰلِكَ سُمُّوا “بِمَجُوسِ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ”.

Qadariyyah lebih daripada majusi karena mereka menetapkan dua jenis pencipta yang berjumlah banyak. Mereka berkata, “Setiap orang menciptakan perbuatan dirinya.” Karena itulah mereka dinamakan majusinya umat ini.

وَقَابَلَتۡهُمۡ “فِرۡقَةُ الۡجَبۡرِيَّةِ” الَّذِينَ يَقُولُونَ: “إِنَّ الۡعَبۡدَ مَجۡبُورٌ عَلَى فِعۡلِهِ، وَلَيۡسَ لَهُ فِعۡلٌ وَلَا اخۡتِيَارٌ، وَإِنَّمَا هُوَ كَالرِّيشَةِ الَّتِي تُحَرِّكُهَا الرِّيحُ بِغَيۡرِ اخۡتِيَارِهَا”.

فَهَٰؤُلَاءِ يُسَمَّونَ “بِالۡجَبۡرِيَّةِ” وَهُمۡ “غُلَاةُ الۡقَدَرِيَّةِ”، الَّذِينَ غَلَوۡا فِي إِثۡبَاتِ الۡقَدَرِ، وَسَلَبُوا الۡعَبۡدَ الاخۡتِيَارَ.

Yang berlawanan dengan mereka adalah firkah Jabriyyah yang mengatakan, “Sesungguhnya hamba dipaksa pada perbuatannya. Dia tidak memiliki perbuatan dan ikhtiar. Dia hanya seperti bulu yang digerakkan angin dengan tanpa daya upaya dari dirinya.” Mereka ini dinamakan Jabriyyah dan mereka adalah Qadariyyah yang ekstrem. Mereka melampaui batas dalam menetapkan takdir dan melucuti daya upaya dari hamba.

وَالطَّائِفَةُ الۡأُولَى مِنۡهُمۡ عَلَى الۡعَكۡسِ، أَثۡبَتُوا اخۡتِيَارَ الۡإِنۡسَانِ وَغَلَوۡ فِيهِ، حَتَّى قَالُوا: إِنَّهُ يَخۡلُقُ فِعۡلَ نَفۡسِهِ مُسۡتَقِلًّا عَنِ اللهِ، تَعَالَى اللهُ عَمَّا يَقُولُونَ.

وَهَٰؤُلَاءِ يُسَمَّونَ “بِالۡقَدَرِيَّةِ النُّفَاةِ”. وَمِنۡهُمۡ: “الۡمُعۡتَزِلَةُ “، وَمَنۡ سَارَ فِي رِكَابِهِمۡ.

Golongan yang pertama dari mereka adalah kebalikannya. Mereka menetapkan ikhtiar pada manusia namun melampaui batas dalam hal itu sampai-sampai mereka berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri tanpa ada campur tangan dari Allah. Mahatinggi Allah dari ucapan mereka. Mereka ini dinamakan Qadariyyah Nufat. Yang termasuk mereka adalah kelompok Mu’tazilah dan siapa saja yang sejalan dengan mereka.

هَٰذِهِ فِرۡقَةُ الۡقَدَرِيَّةِ بِقِسۡمَيۡهَا:

١ – الۡغُلَاةُ فِي النَّفۡيِ.

٢ – وَالۡغُلَاةُ فِي الۡإِثۡبَاتِ.

Inilah firkah Qadariyyah dengan dua jenisnya:

1. Yang ekstrem dalam meniadakan takdir,

2. Yang ekstrem dalam menetapkan takdir.

وَتَفَرَّقتِ “الۡقَدَرِيَّةُ ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ، لَا يَعۡلَمُهَا إِلَّا اللهُ؛ لِأَنَّ الۡإِنۡسَانَ إِذَا تَرَكَ الۡحَقَّ فَإِنَّهُ يَهِيمُ فِي الضَّلَالِ، كُلُّ طَائِفَةٍ تُحۡدِثُ لَهَا مَذۡهَبًا وَتَنۡشَقُّ بِهِ عَنِ الطَّائِفَةِ الَّتِي قَبۡلَهَا، هَٰذَا شَأۡنُ أَهۡلِ الضَّلَالِ؛ دَائِمًا فِي انۡشِقَاقٍ، وَدَائِمًا فِي تَفَرُّقٍ، وَدَائِمًا تُحۡدَثُ لَهُمۡ أَفۡكَارٌ وَتَصَوُّرَاتٌ مُخۡتَلِفَةٌ مُتَضَارِبَةٌ.

Qadariyyah telah terpecah menjadi banyak firkah. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Sesungguhnya apabila seorang manusia meninggalkan kebenaran, maka dia akan terombang-ambing dalam kesesatan. Setiap kelompok akan membuat mazhab baru dan akan memisahkan diri dari kelompok sebelumnya. Inilah keadaan para pengikut kesesatan. Selalu dalam perpisahan, selalu dalam perpecahan, dan selalu akan muncul pemikiran-pemikiran dan gambaran-gambaran yang saling berselisih dan bertentangan pada mereka.

أَمَّا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، فَلَا يَحۡدُثُ عِنۡدَهُمۡ اضۡطِرَابٌ وَلَا اخۡتِلَافٌ؛ لِأَنَّهُمۡ مُتَمَسِّكُونَ بِالۡحَقِّ الَّذِي جَاءَ عَنِ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – فَهُمۡ مُعۡتَصِمُونَ بِكِتَابِ اللهِ وَبِسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ؛ فَلَا يَحۡصُلُ عِنۡدَهُمۡ افۡتِرَاقٌ وَلَا اخۡتِلَافٌ، لِأَّنَّهُمۡ يَسِيرُونَ عَلَى مَنۡهَجٍ وَاحِدٍ.

Adapun ahli sunah waljamaah, maka tidak akan muncul kegoyahan dan perselisihan di sisi mereka karena mereka berpegang teguh dengan kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa taala. Mereka adalah orang yang memegang kuat kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi tidak terjadi perpecahan dan perselisihan pada mereka karena mereka berjalan di atas satu jalan.


Simak audio penjelasan Al-Ustadz Abu Yahya Muslim hafizhahullah yang disampaikan di Masjid Al-I’tishom Semarang tanggal 14 Jumadal Ula 1440 H di sini.

Read More

Syarah Al-Jami’ li ‘Ibadatillah

17 Oktober 2018
/ / /

شَرۡح الۡجَامِع لِعِبَادَةِ اللّٰهِ

لِشَيۡخِ الۡإِسۡلَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ

شرح معالي الشيخ الدكتور

صَالِح بۡن فَوۡزَان بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الۡفَوۡزَان

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ:

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Semoga Allah mencurahkan selawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau semuanya.

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِمَامُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-:

Syekh Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—semoga Allah taala merahmatinya—berkata:

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ؟

قُلۡتَ: طَاعَتُهُ بِامۡتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابِ نَوَاهِيهِ.

Jika ada yang bertanya, “Apa cakupan ibadah kepada Allah semata?”

Maka, engkau jawab, “Menaati-Nya dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”[1]

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ الَّتِي لَا تَصۡلُحُ إِلَّا لِلهِ تَعَالَى؟

قُلۡتَ: مِنۡ أَنۡوَاعِهَا الدُّعَاءُ وَالۡاسۡتِعَانَةُ وَالۡاسۡتِغَاثَةُ وَذَبۡحُ الۡقُرۡبَانِ وَالنَّذَرُ وَالۡخَوۡفُ وَالرَّجَاءُ وَالتَّوَكُّلُ وَالۡإِنَابَةُ وَالۡمَحَبَّةُ وَالۡخَشۡيَةُ وَالرَّغۡبَةُ وَالرَّهۡبَةُ وَالتَّأَلُّهُ وَالرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ وَالۡخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ وَالتَّعۡظِيمُ الَّذِي هُوَ مِنۡ خَصَائِصِ الۡإِلٰهِيَّةِ.

Jika ada yang bertanya, “Apa saja macam-macam ibadah yang hanya boleh untuk Allah taala?”[2]

Maka, engkau jawab, “Termasuk jenis-jenis ibadah adalah doa[3], istianah (meminta pertolongan)[4], istigasah (meminta keselamatan dari musibah yang menimpa)[5], menyembelih hewan kurban[6], nazar[7], khauf (kekhawatiran)[8], harapan[9], tawakal[10], inabah (kembali kepada Allah)[11], mahabah (cinta)[12], khasyyah (takut)[13], raghbah (rasa harap)[14], rahbah (cemas)[15], penyembahan[16], rukuk, sujud[17], khusyuk[18], perendahan diri[19], dan pengagungan yang termasuk kekhususan ilahi[20].”

وَدَلِيلُ الدُّعَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨].

وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لَهُۥ دَعۡوَةُ ٱلۡحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَـٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ﴾ [الرعد: ١٤].

Dalil doa[21] adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan bahwa masjid-masjid itu adalah milik Allah, jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)[22]. Dan firman Allah yang artinya, “Hanya bagi-Nya lah doa yang benar. Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya dan ternyata air itu tidak bisa sampai ke mulutnya. Dan tidaklah doa orang-orang kafir itu kecuali sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14)[23].

وَدَلِيلُ الۡاسۡتِعَانَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥].

Dalil istianah adalah firman Allah taala yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)[24].

وَدَلِيلُ الۡاسۡتِغَاثَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ﴾ [الأنفال: ٩].

Dalil istigasah adalah firman Allah yang artinya, “Ketika kalian beristigasah kepada Rabb kalian, lalu Dia memenuhi permintaan kalian.” (QS. Al-Anfal: 9)[25].

وَدَلِيلُ الذَّبۡحِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢].

Dalil penyembelihan adalah firman Allah taala yang artinya, “Katakan, sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb alam semesta.” (QS. Al-An’am: 162)[26].

وَدَلِيلُ النَّذۡرِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرًا﴾ [الإنسان: ٧].

Dalil nazar adalah firman Allah taala yang artinya, “Mereka menunaikan nazar dan takut terhadap suatu hari ketika keburukan hari itu merata.” (QS. Al-Insan: 7)[27].

وَدَلِيلُ الۡخَوۡفِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا ذ‌ٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [آل عمران: ١٧٥].

Dalil khauf adalah firman Allah taala yang artinya, “Itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-temannya, maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)[28].

وَدَلِيلُ الرَّجَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا﴾ [الكهف: ١١٠].

Dalil raja` (berharap) adalah firman Allah taala yang artinya, “Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaknya dia beramal dengan amalan saleh dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)[29].

وَدَلِيلُ التَّوَكُّلِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [الۡمَائدة: ٢٣].

Dalil tawakal adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan kepada Allah sajalah, kalian bertawakal jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)[30].

وَدَلِيلُ الۡإِنَابَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾ [الزمر: ٥٤].

Dalil inabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kalian kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54)[31].

وَدَلِيلُ الۡمَحَبَّةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].

Dalil mahabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)[32].

وَدَلِيلُ الۡخَشۡيَةِ: ﴿فَلَا تَخۡشَوُا۟ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ﴾ [الۡمَائدة: ٤٤].

Dalil khasyyah, “Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 44)[33].

وَدَلِيلُ الرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠].

Dalil raghbah dan rahbah adalah firman Allah taala yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan perasaan harap dan cemas, serta mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90)[34].

وَدَلِيلُ التَّأَلُّهِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٦٣].

Dalil ta`alluh (penyembahan) adalah firman Allah taala yang artinya, “Sembahan kalian adalah sembahan yang esa, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)[35].

وَدَلِيلُ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾ [الحج: ٧٧].

Dalil rukuk dan sujud adalah firman Allah taala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Rabb kalian, serta berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)[36].

وَدَلِيلُ الۡخُشُوعِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِـءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ﴾ [آل عمران: ١٩٩] وَنَحۡوُهَا.

Dalil khusyuk adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab itu benar-benar ada yang beriman kepada Allah, beriman dengan wahyu yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali ‘Imran: 199)[37].

Dan ayat-ayat semisal itu.

فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ غَيۡرَهُ.

Sehingga, siapa saja yang memalingkan salah satu jenis ibadah ini kepada selain Allah taala, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah[38].

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَجَلُّ أَمۡرٍ أَمَرَ اللهُ بِهِ؟

قِيلَ: تَوۡحِيدُهُ بِالۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، وَأَعۡظَمُ نَهۡيٍ نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ بِهِ، وَهُوَ أَنۡ يَدۡعُوَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ.

فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدِ اتَّخَذَهُ رَبًّا وَإِلٰهًا، وَأَشۡرَكَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ مِنَ الۡآيَاتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الَّذِي نَهَى اللهُ عَنۡهُ، وَأَنۡكَرَهُ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ، وَقَدۡ قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا﴾ [النساء: ١١٦]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ [المائدة: ٧٢]. وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Jika ada yang bertanya, “Lalu apa perkara paling mulia yang Allah perintahkan?”

Maka engkau katakan, “Menauhidkan Allah dalam ibadah. Hal itu telah dijelaskan sebelumnya. Dan larangan terbesar yang Allah larang darinya adalah berbuat syirik kepada Allah, yaitu di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain-Nya atau menujukan jenis-jenis ibadah yang lain kepada selain-Nya.”[39]

Jadi siapa saja yang memalingkan sedikit saja dari berbagai macam ibadah tadi untuk selain Allah taala, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan dan sesembahan dan dia telah menjadikannya sekutu di samping Allah. Atau dia menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah. Dan telah berlalu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ini merupakan kesyirikan yang telah Allah larang dan Allah ingkari terhadap orang-orang musyrik. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 116). Allah taala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 72).[40] Wallahualam.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.

Semoga Allah mencurahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga dan sahabatnya.


[1]

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ أَجۡمَعِينَ، وَبَعۡدُ:

Segala puji untuk Allah Rabb semesta alam. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabat beliau seluruhnya. Amabakdu,

فَإِنَّ اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى خَلَقَ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ لِعِبَادَتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦]. بَلۡ إِنَّهُ سُبۡحَانَهُ خَلَقَ الۡمَلَائِكَةَ أَيۡضًا لِعِبَادَتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَنۡ عِندَهُۥ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ ۝١٩ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ﴾ [الأنبياء: ١٩-٢٠]، وَالۡعِبَادَةُ مَأۡخُوذَةٌ مِنَ التَّعَبُّدِ وَهُوَ التَّذَلُّلُ.

يُقَالُ: طَرِيقٌ مُعَبَّدٌ، إِذَا ذَلَّلَتۡهُ الۡأَقۡدَامُ، هَٰذَا مِنۡ نَاحِيَةِ اللُّغَةِ.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah taala berfirman (yang artinya), “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Bahkan Allah subhanahu wa taala telah menciptakan malaikat juga untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah taala berfirman (yang artinya), “Dan malaikat-malaikat yang ada di dekat-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka bertasbih malam dan siang, tidak henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya`: 19-20). Ibadah diambil dari kata ta’abbud (penyembahan), yaitu perendahan diri.

Ada yang berkata: thariq mu’abbad (jalan yang mudah), yaitu apabila banyak telapak kaki telah menginjakinya. Ini dari sisi bahasa.

وَأَمَّا فِي الشَّرۡعِ: فَعَرَّفَهَا الۡعُلَمَاءُ تَعَارِيفَ كَثِيرَةً.

التَّعۡرِيفُ الۡأَوَّلُ: أَنَّهَا غَايَةُ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ.

Adapun dalam istilah syariat, para ulama memberikan arti dengan banyak pengertian. Pengertian pertama: Bahwa ibadah adalah puncak kecintaan disertai puncak ketundukan/perendahan diri.

كَمَا قَالَ الۡإِمَامُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى- فِي النُّونِيَّةِ:

وَعِبَادَةُ الرَّحۡمَٰنِ غَايَةُ حُبِّهِ   مَعَ ذُلِّ عَابِدِهِ هُمَا قُطۡبَانِ

وَعَلَيۡهِمَا فَلَكُ الۡعِبَادَةِ دَائِرٌ    مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الۡقُطۡبَانِ

وَمَدَارُهُ بِالۡأَمۡرِ أَمۡرِ رَسُولِهِ  لَا بِالۡهَوَى وَالنَّفۡسِ وَالشَّيۡطَانِ

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam Nuniyyah, “Ibadah kepada Allah adalah puncak cinta kepadanya disertai puncak ketundukan hamba-Nya. Itulah dua poros. Di atas dua poros inilah ibadah terus beredar hingga kedua poros ini tegak. Dan sumbunya adalah agama, yaitu agama yang dibawa Rasul-Nya, bukan dengan hawa nafsu dan setan.”

فَلَا بُدَّ مِنَ الۡجَمۡعِ بَيۡنَ الۡأَمۡرَيۡنِ: غَايَةُ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ، فَمَنۡ أَحَبَّ شَيۡئًا وَلَمۡ يَذِلَّ لَهُ، لَمۡ يَكُنۡ ذٰلِكَ عِبَادَةً لَهُ.

Jadi harus mengumpulkan dua perkara ini, yaitu: puncak kecintaan serta puncak ketundukan. Sehingga, siapa saja yang mencintai sesuatu namun tidak merendahkan diri kepadanya, maka hal itu bukan merupakan ibadah kepadanya.

كَمَا يُحِبُّ الۡإِنۡسَانُ زَوۡجَتَهُ، وَيُحِبُّ أَوۡلَادَهُ، لَكِنَّهُ لَا يَذِلُّ لَهُمۡ، فَحُبُّ الزَّوۡجِ لِزَوۡجَتِهِ وَحُبُّهُ لِأَوۡلَادِهِ، وَحُبُّ الۡوَلَدِ لِأَبَوَيۡهِ وَأَقَارِبِهِ، لَا يُسَمَّى عِبَادَةً، لِأَنَّهُ لَيۡسَ مَعَهُ ذُلٌّ.

Seperti seseorang yang mencintai istrinya dan mencintai anaknya, akan tetapi dia tidak merendahkan diri kepada mereka, maka cinta suami kepada istri dan kepada anak-anaknya, juga cinta seorang anak kepada kedua orang tua dan kerabatnya, tidak dinamakan ibadah karena tidak disertai sikap perendahan diri.

وَكَذٰلِكَ مَنۡ ذَلَّ لِشَيۡءٍ وَلَمۡ يُحِبُّهُ فَلَيۡسَ ذٰلِكَ عِبَادَةً لَهُ، كَمَنۡ ذَلَّ لِجَبَّارٍ مِنَ الۡجَبَابِرَةِ، أَوۡ لِظَالِمٍ مِنَ الۡظَّلَمَةِ، لَكِنَّهُ لَا يُحِبُّهُ، فَهَٰذَا لَيۡسَ بِعِبَادَةٍ، إِنَّمَا الۡعِبَادَةُ مَا جَمَعَتۡ بَيۡنَ الۡأَمۡرَيۡنِ: غَايَةِ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ، وَهَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، وَلَا بُدَّ أَنۡ تَدُورَ عَلَيۡهِمَا أَفۡلَاكُ الۡعِبَادَةِ بِجَمِيعِ أَنۡوَاعِهَا، وَلِهَٰذَا قَالَ:

وَعَلَيۡهِمَا فَلَكُ الۡعِبَادَةِ دَائِرٌ    مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الۡقُطۡبَانِ

يَعۡنِي: عَلَى الۡأَصۡلَيۡنِ: الۡحُبِّ وَالذُّلِّ.

Demikian pula, barang siapa yang merendahkan diri kepada sesuatu namun dia tidak mencintainya, maka bukan merupakan penyembahan kepadanya. Seperti orang yang tunduk kepada seorang penguasa yang sewenang-wenang atau kepada seorang yang zalim, namun dia tidak mencintainya, maka ini bukanlah ibadah. Ibadah itu hanya apabila terkumpul dua perkara, yaitu: puncak kecintaan disertai puncak ketundukan. Dan ini tidak boleh kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Ibadah dengan segala macamnya harus beredar di atas dua poros ini. Karena itulah Ibnu Al-Qayyim mengatakan, “Di atas kedua poros ini, ibadah terus beredar hingga kedua poros ini tegak.” Yakni di atas dua pokok: cinta dan ketundukan.

فَإِنۡسَانٌ يَقۡتَصِرُ عَلَى الۡحُبِّ وَالذُّلِّ مِنۡ غَيۡرِ أَنۡ يَفۡعَلَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، وَأَنۡ يَتۡرُكَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ، لَا يُعۡتَبَرُ عَابِدًا لِلهِ، فَغَايَةُ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ يَقۡتَضِيَانِ امۡتِثَالَ أَوَامِرِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى وَاجۡتِنَابَ نَوَاهِيهِ، وَبِهَٰذَا تَتَحَقَّقَ الۡعِبَادَةُ.

Seseorang yang hanya mencukupkan diri dengan rasa cinta dan ketundukan, tanpa melakukan apa saja yang Allah perintahkan dan tidak meninggalkan apa saja yang Allah larang, tidaklah dianggap orang yang beribadah kepada Allah. Karena puncak kecintaan dibarengi puncak ketundukan akan berkonsekuensi mengerjakan perintah-perintah Allah subhanahu wa taala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan dengan inilah peribadahan akan terwujud.

وَعَرَّفَهَا شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ ابۡنُ تَيۡمِيَّةَ بِتَعۡرِيفٍ شَامِلٍ دَقِيقٍ، فَقَالَ: الۡعِبَادَةُ: اسۡمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرۡضَاهُ مِنَ الۡأَعۡمَالِ وَالۡأَقۡوَالِ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، كُلُّ ذٰلِكَ عِبَادَةٌ، وَلَهُ رِسَالَةٌ فِي هَٰذَا جَيِّدَةٌ، اسۡمُهَا (الۡعُبُودِيَّةُ)، ذَكَرَ فِيهَا هَٰذَا التَّعۡرِيفَ، وَذَكَرَ أَنۡوَاعَ الۡعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ تَعَالَى بِهَا فِي كِتَابِهِ، أَوۡ أَمَرَ بِهَا رَسُولُهُ ﷺ فِي سُنَّتِهِ.

Syekh Islam Ibnu Taimiyyah memberi pengertian ibadah dengan pengertian yang lengkap dan rinci. Beliau mengatakan, “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup setiap apa yang Allah cintai dan ridai berupa amalan dan ucapan baik lahir maupun batin.” Semua itu adalah ibadah. Beliau memiliki sebuah risalah yang bagus tentang ibadah. Judulnya adalah Al-‘Ubudiyyah. Beliau menyebutkan pengertian ibadah ini di dalamnya. Beliau juga menyebutkan macam-macam ibadah yang Allah taala perintahkan di dalam Alquran dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan di dalam sunahnya.

وَالشَّيۡخُ هُنَا يَقُولُ: (فَإِنۡ قِيلَ) يَعۡنِي: لَوۡ سُئِلۡتَ (مَا الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ؟) أَيۡ: مَا هُوَ التَّعۡرِيفُ الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ بِاخۡتِصَارٍ، فَإِنَّكَ تَقُولُ: (طَاعَتُهُ بِامۡتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابِ نَوَاهِيهِ).

Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di sini berkata, “Jika ada yang berkata,” yakni andai engkau ditanya. “Apa cakupan ibadah kepada Allah?” Yakni, apakah pengertian secara ringkas yang mencakup ibadah kepada Allah. Maka engkau bisa katakan, “Taat kepada Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

[2] الۡعِبَادَةُ أَنۡوَاعٌ كَثِيرَةٌ كَمَا قَالَ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ: الۡعِبَادَةُ اسۡمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرۡضَاهُ مِنَ الۡأَقۡوَالِ وَالۡأَعۡمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، فَتَكُونُ ظَاهِرَةً عَلَى الۡجَوَارِحِ: كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالۡجِهَادِ وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَصِلَةِ الرَّحِمِ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ، وَهَٰذِهِ عِبَادَاتٌ ظَاهِرَةٌ،

Ibadah ada banyak macam sebagaimana Syekh Islam Ibnu Taimiyyah katakan, “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup setiap yang Allah cintai dan ridai berupa ucapan dan amalan yang lahir maupun batin.” Jadi ibadah bisa tampak pada anggota badan, seperti salat, puasa, jihad, amar makruf nahi mungkar, silaturahmi dan lain sebagainya. Ini adalah ibadah-ibadah lahiriah.

وَالۡعِبَادَاتُ الۡبَاطِنَةُ تَكُونُ فِي الۡقُلُوبِ: مِنَ الۡخَوۡفِ وَالۡخَشۡيَةِ وَالرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ وَالۡمَحَبَّةِ وَالتَّوَكُّلِ وَالۡإِنَابَةِ هَٰذِهِ كُلُّهَا عِبَادَاتٌ قَلۡبِيَّةٌ لَا يَعۡلَمُهَا إِلَّا اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى،

Adapun ibadah-ibadah batin adalah di dalam hati, di antaranya khauf (rasa takut), khasyyah, raghbah (rasa harap), rahbah (cemas), mahabah (cinta), tawakal, dan inabah (tobat). Semua ini adalah ibadah hati yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa taala.

وَمِنۡهَا مَا هُوَ عَلَى اللِّسَانِ مِثۡلُ: ذِكۡرِ اللهِ، وَالتَّسۡبِيحِ وَالتَّهۡلِيلِ وَالتَّحۡمِيدِ، وَالدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ، وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ، وَتَعۡلِيمِ الۡعِلۡمِ النَّافِعِ.

Termasuk ibadah pula adalah yang menggunakan lisan semisal zikir kepada Allah, tasbih, tahlil, tahmid, berdakwah kepada Allah, amar makruf nahi mungkar, dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat.

[3] أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ كَثِيرَةٌ أَعۡظَمُهَا: الدُّعَاءُ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ [غافر: ٦٠].

Macam-macam ibadah ada banyak. Ibadah yang paling agung adalah doa. Allah azza wajalla berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berkata: Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

أَمَرَ اللهُ بِدُعَائِهِ وَسَمَّى ذٰلِكَ عِبَادَةً، فَقَالَ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى﴾ أَيۡ: عَنۡ دُعَائِي، وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ).

Allah memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya dan menamakan hal itu sebagai ibadah. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku,” yaitu dari berdoa kepada-Ku. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2969).

فَالدُّعَاءُ هُوَ أَعۡظَمُ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ دَعَا غَيۡرَ اللهِ مِنَ الۡمَوۡتَى وَالۡمَقۡبُورِينَ وَالۡجِنِّ وَالشَّيَاطِينِ، فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨].

Jadi doa adalah jenis ibadah yang paling agung. Siapa saja yang berdoa kepada selain Allah, di antaranya kepada orang-orang yang sudah mati, orang-orang yang sudah dikubur, jin, dan setan, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah dengan syirik akbar. Allah taala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyembah seorang pun di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 18).

وَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿فَٱدۡعُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ﴾ [غافر: ١٤]. مُخۡلِصِينَ لَهُ فِي الدُّعَاءِ، فَسَمَّى الدُّعَاءَ دِينًا، كَمَا سَمَّاهُ فِي الۡأُخۡرَى عِبَادَةً، إِذَنۡ فَالدُّعَاءُ دِينٌ، وَالدُّعَاءُ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهَٰذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى عِظَمِ الدُّعَاءِ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنۡ يَدۡعُوَ غَيۡرَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَإِنَّهُ هُوَ الۡقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ، وَهُوَ الَّذِي إِذَا دَعَوۡتَهُ فَإِنَّهُ يَقۡدِرُ عَلَى إِجَابَتِكَ وَيَقۡدِرُ عَلَى إِعۡطَاءِكَ مَا تُرِيدُ، أَمَّا غَيۡرُ اللهِ فَإِنَّهُ عَاجِزٌ.

Allah subhanahu wa taala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya.” (QS. Ghafir: 14). Yaitu memurnikan doa untuk-Nya. Allah menamakan doa dengan agama, sebagaimana Allah menamakannya di ayat lain sebagai ibadah. Jadi, doa adalah agama dan doa adalah ibadah kepada Allah azza wajalla. Ini adalah di antara hal yang menunjukkan keagungan doa dan bahwa tidak boleh berdoa kepada selain Allah subhanahu wa taala. Karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah adalah yang jika engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia mampu untuk mengabulkan dan Dia mampu memberikan apa saja yang engkau inginkan kepadamu. Adapun selain Allah, maka dia tidak mampu.

كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلِ ٱدۡعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۖ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٍ وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِيرٍ ۝٢٢ وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنۡ أَذِنَ لَهُۥ ۚ﴾ [سبأ: ٢٢-٢٣].

Sebagaimana Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.” (QS. Saba`: 22-23).

﴿وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَـٰفِلُونَ﴾ [الأحقاف: ٥].

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf: 5).

﴿إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُوا۟ دُعَآءَكُمۡ﴾ [فاطر: ١٤]. لِأَنَّهُمۡ أَمۡوَاتٌ أَوۡ جَمَادَاتٌ لَا تَسۡمَعُ الدُّعَاءَ

“Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruan kalian.” (QS. Fathir: 14). Karena mereka adalah orang-orang mati atau benda-benda mati yang tidak bisa mendengar seruan.

﴿وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟﴾ [فاطر: ١٤] مَا يَقۡدِرُونَ عَلَى الۡإِجَابَةِ؛

“Andai mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaan.” (QS. Fathir: 14). Mereka tidak mampu untuk mengabulkan doa.

لِأَنَّهُمۡ فُقَرَاءُ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡئًا، ﴿لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ﴾ [سبأ: ٢٢]

Karena mereka adalah orang-orang yang fakir, tidak memiliki sesuatu pun. “Mereka tidak memiliki seberat zarah pun di langit dan di bumi.” (QS. Saba`: 22).

فَكَيۡفَ يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؟! بَلۡ كَيۡفَ يُتۡرَكُ دُعَاءُ اللهِ وَيُصۡرَفُ الدُّعَاءُ لِغَيۡرِ اللهِ مِنۡ هَٰؤُلَاءِ الۡأَمۡوَاتِ، وَالۡأَشۡجَارِ وَالۡأَحۡجَارِ وَالۡغَائِبِينَ؟! أَيۡنَ عُقُولُ بَنِي آدَمَ؟! تَدۡعُو أُنَاسًا لَا يَسۡمَعُونَ، وَلَوۡ أَنَّهُمۡ سَمِعُوا لَمۡ يَقۡدِرُوا عَلَى الۡإِجَابَةِ؛ لِأَنَّهُمۡ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡئًا؟!

Lalu bagaimana mereka di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain Allah subhanahu wa taala?! Bahkan bagaimana doa kepada Allah ditinggalkan dan doa dialihkan kepada selain Allah, seperti kepada orang-orang mati, pepohonan, bebatuan, dan orang-orang yang sedang tidak hadir?! Di mana akal-akal bani Adam?! Mereka berdoa kepada orang-orang yang tidak mendengar. Andai mereka mendengar, mereka tidak mampu untuk mengabulkan doa karena mereka tidak memiliki sesuatu pun.

[4] الۡاسۡتِعَانَةُ: طَلَبُ الۡعَوۡنِ عَلَى أَمۡرٍ مِنَ الۡأُمُورِ، وَطَلَبُ الۡعَوۡنِ عَلَى قِسۡمَيۡنِ:

الۡقِسۡمُ الۡأَوَّلُ: أَنۡ تَطۡلُبَ الۡعَوۡنَ مِمَّنۡ يَقۡدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، وَهَٰذَا يَجُوزُ أَنۡ تَسۡتَعِينَ بِالۡمَخۡلُوقِ فِيمَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ، وَاللهُ –جَلَّ وَعَلَا- يَقُولُ: ﴿وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَ‌ٰنِ ۚ﴾ [الۡمائدة: ٢].

Istianah artinya meminta pertolongan dalam suatu perkara. Permintaan pertolongan ini ada dua bagian:

Bagian pertama: Engkau meminta pertolongan dari siapa saja yang mampu untuk menolongmu. Hal ini boleh, yaitu engkau boleh meminta tolong kepada sesama makhluk dalam hal yang dia mampui. Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma`idah: 2).

فَالتَّعَاوُنُ بَيۡنَ النَّاسِ فِيمَا يَقۡدِرُونَ عَلَيۡهِ وَيَنۡفَعُهُمۡ أَمۡرٌ طَيِّبٌ، إِذَا كَانَ الۡإِنۡسَانُ حَيًّا حَاضِرًا قَادِرًا عَلَى أَنۡ يُعِينَكَ فَهَٰذَا لَا بَأۡسَ بِهِ، كَأَنۡ تَطۡلُبَ مَنۡ يُسَاعِدُكَ بِالۡمَالِ، أَوۡ يُعِينُكَ عَلَى حَمۡلِ شَيۡءٍ، أَوۡ يُعِينُكَ عَلَى بِنَاءِ حَائِطٍ، أَوۡ يُعِينُكَ عَلَى حَصَادِ زَرۡعٍ، وَهَٰذِهِ أُمُورٌ يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا النَّاسُ، لَا بَأۡسَ بِالۡاسۡتِعَانَةِ بِالۡمَخۡلُوقِينَ فِيهَا، وَلَا يَعُدُّ هَٰذَا شِرۡكًا (وَاللهُ فِي عَوۡنِ الۡعَبۡدِ مَا كَانَ الۡعَبۡدُ فِي عَوۡنِ أَخِيهِ).

Jadi tolong-menolong antara manusia dalam hal yang mereka mampu dan bermanfaat adalah perkara yang baik. Apabila orang itu hidup, ada di tempat, dan mampu untuk membantumu, maka ini tidak mengapa. Seperti apabila engkau meminta orang agar membantumu dengan harta, atau menolongmu membawakan sesuatu, atau menolongmu membangun dinding, atau membantumu memanen hasil tanaman. Ini adalah perkara-perkara yang manusia mampu melakukannya. Tidak mengapa meminta tolong kepada makhluk dalam hal ini dan hal ini tidak dianggap kesyirikan. Nabi bersabda, “Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim nomor 2699, Ahmad, Abu Dawud nomor 4946, At-Tirmidzi nomor 1425, dan Ibnu Majah nomor 225 dari hadis Abu Hurairah).

النَّوۡعُ الثَّانِي: الۡاسۡتِعَانَةُ بِغَيۡرِ اللهِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، كَالۡاسۡتِعَانَةِ فِي حُصُولِ الرِّزۡقِ، أَوِ الۡاسۡتِعَانَةِ بِحُصُولِ الۡوَلَدِ وَالذُّرِّيَّةِ، أَوِ الۡاسۡتِعَانَةِ فِي شِفَاءِ الۡمَرۡضَى، أَوۡ غَيۡرِ ذٰلِكَ، فَهَٰذَا لَا يُطۡلَبُ إِلَّا مِنَ اللهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥].

Bagian kedua adalah meminta pertolongan kepada selain Allah pada perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, seperti minta tolong untuk mendatangkan rezeki, atau minta tolong untuk memberikan anak dan keturunan, atau minta tolong untuk menyembuhkan orang sakit, atau  selain itu. Ini tidak boleh diminta kecuali dari Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).

﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ أَيۡ: لَا نَعۡبُدُ سِوَاكَ؛ لِأَنَّ تَقۡدِيمَ الۡمَعۡمُولِ يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ الۡاسۡتِعَانَةُ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ وَهِيَ طَلَبُ الۡعَوۡنِ مِنَ اللهِ تَعَالَى، وَعَطۡفُهَا عَلَيۡهَا مِنۡ بَابِ عَطۡفِ الۡخَاصِّ عَلَى الۡعَامِّ اهۡتِمَامًا بِهِ، فَالۡاسۡتِعَانَةُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى: كَشِفَاءِ الۡمَرۡضَى وَإِنۡزَالِ الۡمَطَرِ، وَإِيجَادِ الرِّزۡقِ، وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأُمُورِ الَّتِي لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا إِلَّا اللهُ، فَهَٰذِهِ لَا تُطۡلَبُ إِلَّا مِنَ اللهِ، لَا تُطۡلَبُ مِنَ الۡأَمۡوَاتِ، وَلَا مِنَ الۡقُبُورِ، وَلَا مِنَ الۡأَضۡرِحَةِ، وَلَا مِنَ الۡأَصۡنَامِ، وَلَا مِنَ الۡأَحۡجَارِ وَالۡأَشۡجَارِ، فَمَنۡ طَلَبَهَا مِنۡ غَيۡرِ اللهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ الۡمُخۡرِجَ مِنَ الۡمِلَّةِ.

“Hanya kepada Engkau kami beribadah,” artinya kami tidak beribadah kepada selain-Mu. Karena didahulukannya ma’mul (objek) memberi faedah pembatasan. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Hanya kepada Engkau kami minta pertolongan.” Istianah adalah salah satu jenis ibadah, yaitu meminta pertolongan dari Allah taala. Dikaitkannya istianah kepada ibadah adalah termasuk bab pengaitan yang khusus kepada yang umum dalam rangka agar menjadi perhatian. Jadi istianah kepada Allah azza wajalla dalam perkara yang hanya dimampui oleh Allah subhanahu wa taala, seperti: menyembuhkan orang sakit, menurunkan hujan, mendatangkan rezeki, dan perkara lain yang hanya Allah mampui, maka hal ini tidak diminta kecuali dari Allah. Tidak boleh diminta dari orang-orang mati, kuburan, berhala, bebatuan, dan pepohonan. Siapa saja yang memintanya dari selain Allah, maka dia menjadi musyrik dengan syirik akbar yang mengeluarkan dari agama.

[5] الۡاسۡتِغَاثَةُ: نَوۡعٌ مِنَ الۡاسۡتِعَانَةِ لَكِنَّهَا أَخَصُّ، فَالۡاسۡتِعَانَةُ عَامَّةٌ وَالۡاسۡتِغَاثَةُ خَاصَّةٌ؛ لِأَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا فِي أُمُورِ الشِّدَّةِ، ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ﴾ [الأنفال: ٩].

Istigasah adalah satu jenis istianah, namun lebih khusus. Istianah umum sedangkan istigasah khusus karena istigasah hanya dilakukan dalam perkara-perkara yang genting. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Dia perkenankan bagi kalian.” (QS. Al-Anfal: 9).

هَٰذَا فِي وَقۡعَةِ بَدۡرٍ لَمَّا اشۡتَدَّ الۡأَمۡرُ بِالۡمُسۡلِمِينَ، اسۡتَغَاثُوا بِرَبِّهِمۡ، لَكِنَّهَا أَخَصُّ مِنَ الۡاسۡتِعَانَةِ لِأَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا فِي حَالِ الشِّدَّةِ، فَيَجِبُ إِخۡلَاصُ الۡاسۡتِغَاثَةِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يَجُوزُ الۡاسۡتِغَاثَةُ بِالۡأَمۡوَاتِ، كَثِيرٌ مِمَّنۡ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ، إِذَا وَقَعُوا فِي شِدَّةٍ يَسۡتَغِيثُونَ بِأَمۡوَاتِهِمۡ وَأَوۡلِيَائِهِمۡ، وَيَصۡرُخُونَ بِأَسۡمَائِهِمۡ فِي الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ، وَهَٰذَا مِنۡ غِلۡظَةِ شِرۡكِهِمۡ، فَصَارُوا أَغۡلَظَ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ؛ لِأَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي حَالَةِ الرَّخَاءِ، لَكِنَّهُمۡ فِي حَالِ الشِّدَّةِ يُخۡلِصُونَ الدُّعَاءَ وَالۡأسۡتِغَاثَةَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ لِأَنَّهُمۡ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُ لَا يُنۡقِذُ مِنَ الشَّدَائِدِ إِلَّا اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، أَمَّا مُشۡرِكُو هَٰذَا الزَّمَانِ فَإِنَّهُمۡ عَلَى الۡعَكۡسِ، إِذَا وَقَعُوا فِي شِدَّةٍ اسۡتَغَاثُوا بِغَيۡرِهِ اللهِ، وَنَادُوا بِأَسۡمَاءِ مَعۡبُودَاتِهِمۡ كَمَا هُوَ مَعۡلُومٌ عَنۡهُمۡ.

Ayat ini tentang perang Badr ketika kaum muslimin mengalami keadaan yang genting. Mereka beristigasah kepada Rabb mereka. Akan tetapi istigasah lebih khusus daripada istianah karena istigasah hanya dilakukan dalam keadaan genting. Sehingga, wajib untuk memurnikan istigasah untuk Allah azza wajalla dan tidak boleh istigasah dengan orang-orang mati. Banyak orang yang mengaku muslim ketika terjatuh dalam suatu peristiwa yang genting, mereka beristigasah dengan orang-orang mati dan wali-wali mereka. Mereka meneriakkan nama-nama mereka di daratan dan lautan. Ini termasuk parahnya kesyirikan mereka. Mereka menjadi lebih parah syiriknya daripada musyrikin jaman dahulu. Karena musyrikin jaman dahulu melakukan kesyirikan dalam keadaan lapang saja, sedangkan ketika keadaan genting, mereka memurnikan doa dan istigasah kepada Allah azza wajalla. Karena mereka mengetahui bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan dari keadaan-keadaan genting tersebut kecuali Allah subhanahu wa taala. Adapun musyrikin zaman ini, mereka kebalikannya. Ketika mereka mengalami keadaan genting, mereka malah beristigasah dengan selain Allah dan memanggil-manggil nama-nama sembahan-sembahan mereka, sebagaimana hal itu telah diketahui dari mereka.

[6] الذَّبۡحُ عَلَى قِسۡمَيۡنِ:

الۡقِسۡمُ الۡأَوَّلُ: الذَّبۡحُ لِأَكۡلِ اللَّحۡمِ، هَٰذَا مُبَاحٌ وَلَيۡسَ هُوَ عِبَادَةً، وَإِنَّمَا هُوَ ذَبۡحٌ لِلۡأَكۡلِ، فَهُوَ مُبَاحٌ، إِلَّا أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنۡ يَذۡكُرَ عَلَيۡهِ اسۡمَ اللهِ عِنۡدَ الذَّبۡحِ، ﴿وَلَا تَأۡكُلُوا۟ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ﴾ [الأنعام: ١٢١].

Penyembelihan ada dua bagian. Bagian pertama: Penyembelihan untuk makan daging. Ini hukumnya mubah dan bukan ibadah. Ini hanyalah penyembelihan untuk dimakan, jadi hukumnya mubah. Hanya saja harus menyebut nama Allah ketika hendak menyembelih. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (QS. Al-An’am: 121).

النَّوۡعُ الثَّانِي: الذَّبۡحُ عَلَى وَجۡهِ التَّقَرُّبِ لِلهِ –جَلَّ وَعَلَا-، فَهَٰذَا نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، كَذَبۡحِ الۡأَضَاحِي، وَذَبۡحِ الۡهَدۡيِ، وَذَبۡحِ الۡعَقِيقَةِ لِلۡمَوۡلُودِ، هَٰذِهِ ذَبَائِحُ عِبَادَةٌ لَا يَجُوزُ التَّقَرُّبُ بِهَا إِلَّا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ عَلَى وَجۡهِ التَّقَرُّبِ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢]. النُّسُكُ: الذَّبۡحُ وَقَرَنَهُ مَعَ الصَّلَاةِ.

Bagian atau jenis kedua adalah penyembelihan dalam bentuk takarub kepada Allah jalla wa ‘ala. Ini adalah salah satu jenis ibadah seperti penyembelihan kurban, penyembelihan hady (hewan kurban haji), dan akikah untuk anak yang baru lahir, ini adalah penyembelihan ibadah. Tidak boleh takarub dengannya kecuali kepada Allah azza wajalla. Sehingga, siapa saja yang menyembelih kepada selain Allah dalam bentuk takarub, maka dia menjadi seorang musyrik dengan kesyirikan yang besar. Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: sesungguhnya salatku, nusuk-ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162). Nusuk adalah penyembelihan. Dan Allah menyandingkannya dengan salat.

وَقَالَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ﴾ [الكوثر: ٢]. قَرَنَ النَّحۡرَ مَعَ الصَّلَاةِ، فَكَمَا أَنَّهُ لَا تَجُوزُ الصَّلَاةُ لِغَيۡرِ اللهِ، فَكَذٰلِكَ الذَّبۡحُ وَالنَّحۡرُ عَلَى وَجۡهِ التَّقَرُّبِ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ، فَمَنۡ ذَبَحَ يَتَقَرَّبُ إِلَى مَيِّتٍ أَوۡ إِلَى قَبۡرٍ أَوۡ إِلَى ضَرِيحٍ كَمَا عَلَيۡهِ عُبَّادُ الۡقُبُورِ الۡيَوۡمَ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ.

Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Maka salatlah karena Rabb-mu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Allah menyandingkan kurban bersama salat, sehingga sebagaimana tidak boleh salat untuk selain Allah, maka demikian pula penyembelihan dan kurban dalam bentuk takarub, tidak boleh kecuali untuk Allah. Maka, siapa saja yang menyembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada orang mati atau kuburan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para penyembah kubur pada hari ini, maka dia menjadi seorang yang musyrik dengan kesyirikan yang besar.

وَفِي الۡحَدِيثِ عَنۡ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَعَنَ اللهُ مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ، لَعَنَ اللهُ مَنۡ لَعَنَ وَالِدَيۡهِ، لَعَنَ اللهُ مَنۡ آوَى مُحۡدِثًا، لَعَنَ اللهُ مَنۡ غَيَّرَ مَنَارَ الۡأَرۡضِ).

Di dalam hadis dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat siapa saja yang melaknat orang tuanya. Allah melaknat siapa saja yang melindungi orang yang berbuat dosa atau bidah dalam agama. Allah melaknat siapa saja yang mengubah tanda batas tanah.” (HR. Muslim nomor 1978 dan Ahmad nomor 855).

فَمِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمُورِ الۡمَلۡعُونِ مَنۡ فَعَلَهَا: الذَّبۡحُ لِغَيۡرِ اللهِ، مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ كَأَنۡ يَذۡبَحَ لِلۡقُبُورِ يَتَقَرَّبُ إِلَيۡهِمۡ لِيَقۡضُوا لَهُ حَوَائِجَهُ، أَوۡ يَذۡبَحَ لِلۡجِنِّ مِنۡ أَجۡلِ أَلَّا يَضُرُّوهُ، كَمَا يَفۡعَلُهُ بَعۡضُ النَّاسِ إِذَا نَزَلَ مَنۡزِلًا جَدِيدًا يَذۡبَحُ لِلۡجِنِّ مِنۡ أَجۡلِ أَنَّهُمۡ لَا يَضُرُّونَهُ فِي هَٰذَا الۡمَنۡزِلِ، يَذۡبَحُ عِنۡدَ الۡبَابِ وَيَرُشُّ مِنۡ دَمِهِ عَلَى الۡجُدۡرَانِ، يَتَقَرَّبُ إِلَى الۡجِنِّ، أَوۡ إِذَا أَقَامَ مَشۡرُوعًا مِنَ الۡمَشَارِيعِ كَالۡمَصَانِعِ يَذۡبَحُ عِنۡدَ أَوَّلِ حَرَكَةِ الۡآلِيَّاتِ لِأَجۡلِ أَنَّ الۡمَصَانِعَ تَسۡلَمُ، وَكَذٰلِكَ إِذَا قَدِمَ مَلَكٌ مِنَ الۡمُلُوكِ أَوۡ رَئِيسُ مِنَ الرُّؤَسَاءِ يَذۡبَحُونَ عِنۡدَ وُصُولِهِ، وَالسَّلَامُ عَلَيۡهِ تَعۡظِيمًا لَهُ، ذَبۡحَ تَحِيَّةٍ، أَمَّا لَوۡ كَانُوا يَذۡبَحُونَ لَهُ وَلِيمَةً، فَلَا بَأۡسَ، هَٰذَا مِنَ الۡمُبَاحَاتِ، لَكِنۡ يَذۡبَحُونَ تَعۡظِيمًا لَهُ، إِذَا نَزَلَ مِنَ الطَّائِرَةِ أَوۡ نَزَلَ مِنَ السَّيَّارَةِ يَذۡبَحُونَ تَحۡتَ السَّيَّارَةِ وَتَحۡتَ الطَّائِرَةِ، تَعۡظِيمًا لِهَٰذَا الۡوَافِدِ، هَٰذَا مِنَ الشِّرۡكِ؛ لِأَنَّهُ مِنۡ بَابِ التَّحِيَّةِ وَالتَّعۡظِيمِ.

Di antara perbuatan-perbuatan yang dilaknat pelakunya ini adalah penyembelihan untuk selain Allah. (Dilaknat) siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah, seperti:

  • seseorang yang menyembelih untuk penghuni kubur dalam rangka mendekatkan diri kepada mereka agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dia.
  • Atau menyembelih untuk jin agar para jin tersebut tidak membahayakannya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang ketika hendak tinggal di suatu rumah yang baru. Dia menyembelih untuk jin agar jin tersebut tidak dapat membahayakannya di rumah itu. Dia menyembelih di dekat pintu dan menyiramkan sebagian darah sembelihan ke dinding-dinding dalam rangka mendekatkan diri kepada jin.
  • Atau ketika memulai salah satu proyek seperti pabrik-pabrik, dia menyembelih ketika awal penggerakan mesin agar pabrik itu selamat.
  • Demikian pula ketika ada salah seorang raja atau pemimpin yang datang, mereka menyembelih ketika kedatangannya dan memberikan salam kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Yakni penyembelihan penghormatan. Adapun seandainya mereka menyembelih dalam rangka jamuan makanan untuknya, maka tidak mengapa. Ini termasuk perkara yang mubah. Akan tetapi mereka menyembelih dalam rangka mengagungkannya. Yaitu ketika raja atau pemimpin itu turun dari pesawat atau mobil, mereka menyembelih di bawah kendaraan atau pesawat itu dalam rangka mengagungkan orang yang datang itu. Ini termasuk kesyirikan karena termasuk bentuk penyembelihan penghormatan dan pengagungan.

[7] النَّذۡرُ: هُوَ الۡتِزَامُ عِبَادَةٍ لَمۡ يَلۡزَمۡ بِهَا الشَّرۡعُ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرًا﴾ [الإنسان: ٧]. فَأَثۡنَى عَلَيۡهِمۡ أَنَّهُمۡ يُوفُونَ بِالنَّذۡرِ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُهُۥ ۗ﴾ [البقرة: ٢٧٠]. قَرَنَهُ مَعَ النَّفَقَةِ وَالصَّدَقَةِ، وَالنَّفَقَةُ وَالصَّدَقَةُ عِبَادَةٌ، فَيَكُونُ النَّذۡرُ عِبَادَةً، قَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿وَلۡيُوفُوا۟ نُذُورَهُمۡ وَلۡيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ﴾ [الحج: ٢٩]. قَرَنَهُ مَعَ الطَّوَافِ، وَالطَّوَافُ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالۡوَفَاءُ بِالنَّذۡرِ عِبَادَةٌ، هَٰذَا فِي نَذۡرِ الطَّاعَةِ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَتَصَدَّقَ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يُصَلِّيَ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَصُومَ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَحُجَّ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَعۡتَمِرَ، قَالَ ﷺ: (مَنۡ نَذَرَ أَنۡ يُطِيعَ اللهَ فَلۡيُطِعۡهُ)، أَمَّا نَذۡرُ الۡمَعۡصِيَةِ فَإِنَّهُ يَحۡرُمُ الۡوَفَاءُ بِهِ، قَالَ ﷺ: (وَمَنۡ نَذَرَ أَنۡ يَعۡصِيَ اللهَ فَلَا يَعۡصِهِ).

Nazar adalah mengharuskan suatu ibadah yang tidak diharuskan oleh syariat. Nazar adalah salah satu jenis ibadah. Allah taala berfirman yang artinya, “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7). Allah menyanjung mereka karena mereka menunaikan nazar. Allah taala juga berfirman yang artinya, “Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 270). Allah menyandingkan nazar dengan nafkah dan sedekah, sementara nafkah dan sedekah merupakan ibadah, sehingga nazar pun juga ibadah. Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29). Allah menyandingkan nazar dengan tawaf. Tawaf adalah ibadah untuk Allah azza wajalla, sehingga penunaian nazar juga ibadah. Ini dalam hal nazar ketaatan, yaitu seperti ketika ia bernazar bersedekah, salat, puasa, haji, atau umrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bernazar untuk menaati Allah, maka taatilah Allah.” (HR. Al-Bukhari nomor 6696 dan Ahmad nomor 24075 dari hadis ‘Aisyah). Adapun nazar kemaksiatan, maka haram menunaikannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan siapa saja yang bernazar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah ia bermaksiat pada-Nya.”

وَمِنۡ نَذۡرِ الۡمَعۡصِيَةِ: النَّذۡرُ لِلۡقُبُورِ، فَمَنۡ نَذَرَ لِقَبۡرٍ أَوۡ نَذَرَ لِمَيِّتٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا شِرۡكًا أَكۡبَرَ؛ لِأَنَّهُ صَرَّفَ نَوۡعًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Termasuk nazar kemaksiatan adalah nazar kepada kuburan. Sehingga siapa saja yang nazar untuk suatu kubur atau orang yang sudah mati, maka dia menjadi orang musyrik dengan kesyirikan akbar karena dia telah memalingkan salah satu jenis ibadah untuk selain Allah subhanahu wa taala.

[8] الۡخَوۡفُ مِنۡ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ، فَهُوَ عِبَادَةٌ قَلۡبِيَّةٌ، وَالۡمُرَادُ خَوۡفُ الۡعِبَادَةِ، وَهُوَ الۡخَوۡفُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ تَعۡظِيمٌ وَمَحَبَّةٌ لِلۡمَخُوفِ، يُحِبُّهُ وَيَخَافُهُ، هَٰذَا خَوۡفُ الۡعِبَادَةِ وَيُسَمَّى خَوۡفَ السِّرِّ، وَهُوَ لَا يَجُوزُ إِلَّا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالَّذِي يَخَافُ مِنۡ مَخۡلُوقٍ خَوۡفَ الۡعِبَادَةِ فَإِنَّهُ أَشۡرَكَ، وَإِذَا عَمِلَ لَهُ نَوۡعًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِأَنَّهُ يَخَافُهُ، مِثۡلَ الَّذِي يَخَافُ مِنَ الۡجِنِّ فَيَذۡبَحُ لَهُمۡ، أَوِ الَّذِي يَخَافُ مِنَ الۡمَيِّتِ فَيَذۡبَحُ لَهُ، هَٰذَا خَوۡفُ عِبَادَةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، أَمَّا الۡخَوۡفُ الطَّبِيعِيُّ كَأَنۡ تَخَافَ مِنَ الۡعَدُوِّ، وَتَخَافَ مِنَ السِّبَاعِ، وَتَخَافَ مِنَ الثَّعَابِينَ، فَهَٰذَا خَوۡفٌ طَبِيعِيٌّ، لَيۡسَ هُوَ بِعِبَادَةٍ.

Khauf (rasa takut) termasuk amalan hati. Jadi khauf adalah ibadah hati dan yang dimaksud adalah khauf ibadah. Yaitu rasa takut yang ada disertai pengagungan dan kecintaan kepada yang ditakuti. Dia mencintainya dan takut kepadanya. Khauf ibadah ini juga dinamakan khauf sirr. Khauf semacam ini tidak boleh kecuali kepada Allah azza wajalla. Sehingga orang yang takut kepada makhluk dengan khauf ibadah, maka sungguh dia telah berbuat syirik. Jika dia melakukan suatu jenis ibadah karena takut kepada makhluk, seperti takut dari jin lalu menyembelih untuk mereka atau takut dari orang yang sudah mati lalu menyembelih untuknya, maka ini adalah khauf ibadah sehingga dia menjadi seorang musyrik dengan kesyirikan akbar. Adapun khauf thabi’i (tabiat rasa takut) seperti engkau takut dari musuh, binatang buas, atau ular besar, maka ini adalah rasa takut yang bersifat tabiat, bukan ibadah.

[9] مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ: الرَّجَاءُ: وَهُوَ تَأۡمِيلُ الۡخَيۡرِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، فَلَا يَجُوزُ أَنۡ تَرۡجُوَ غَيۡرَ اللهِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، أَمَّا الرَّجَاءُ فِي الۡأُمُورِ الۡعَادِيَّةِ، كَأَنۡ تَرۡجُوَ مِنۡ شَخۡصٍ أَنۡ يُعۡطِيَكَ مَالًا أَوۡ يُسَاعِدَكَ فِيمَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ، فَهَٰذَا لَيۡسَ مِنَ الۡعِبَادَةِ.

Termasuk jenis ibadah adalah raja` (harapan) yaitu perasaan mengangankan kebaikan pada perkara yang hanya Allah mampui, sehingga tidak boleh engkau mengharap kepada selain Allah pada perkara yang hanya Allah mampui. Adapun harapan pada perkara umum seperti engkau berharap dari seseorang agar memberikan harta kepadamu atau membantumu dalam perkara yang dia mampu, maka harapan semacam ini bukan termasuk ibadah.

تَقُولُ: يَا أَخِي، أَرۡجُوكَ أَنۡ تَعۡطِيَنِي كَذَا وَكَذَا، مِمَّا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ، لَكِنۡ لَا تَرۡجُ مَخۡلُوقًا فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، كَالَّذِينَ يَرۡجُونَ الۡأَمۡوَاتَ وَالۡغَائِبِينَ وَالۡجِنَّ، هَٰذَا رَجَاءُ الۡعِبَادَةِ فَلَا يَجُوزُ، وَهُوَ شِرۡكٌ أَكۡبَرُ.

Engkau boleh mengatakan, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau memberikan ini dan ini,” dari hal-hal yang dia mampu. Namun engkau jangan berharap kepada satu makhluk pun dalam hal-hal yang hanya Allah yang mampu, seperti orang-orang yang berharap kepada orang-orang yang sudah meninggal, yang tidak hadir di tempat, atau jin. Ini adalah rasa harap ibadah, sehingga tidak boleh dan merupakan syirik akbar.

[10] مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ: التَّوَكُّلُ: وَهُوَ تَفۡوِيضُ الۡأُمُورِ إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى وَالۡاعۡتِمَادُ عَلَيۡهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [الۡمائدة: ٢٣]. وَقَالَ: ﴿فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِ ۚ﴾ [هود: ١٢٣]. قَرَنَهُ مَعَ الۡعِبَادَةِ، ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟﴾ هَٰذَا حَصۡرٌ؛ لِأَنَّ تَقۡدِيمَ الۡجَارِّ وَالۡمَجۡرُورِ عَلَى الۡفِعۡلِ يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ﴾ أَيۡ: لَا عَلَى غَيۡرِهِ ﴿فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَـٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ﴾ [الأنفال: ٢]. ﴿وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ﴾ أَيۡ: لَا عَلَى غَيۡرِهِ، فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ لَا يَجُوزُ إِلَّا لِلهِ.

Termasuk jenis-jenis ibadah adalah tawakal. Yaitu, menyerahkan urusan kepada Allah subhanahu wa taala dan bersandar pada-Nya. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya bertawakallah kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23). Dan Allah berfirman yang artinya, “Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123). Allah menyandingkan tawakal dengan ibadah. “Dan bertawakallah hanya kepada Allah,” ini adalah pembatasan karena didahulukannya jarr dan majrur dari fiil memberi faedah pembatasan. “Dan hanya kepada Allah,” artinya tidak kepada selain Dia. “bertawakallah, jika kalian orang-orang yang beriman.” “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2). Yaitu: tidak kepada selain Dia. Jadi tawakal adalah ibadah yang tidak boleh kecuali untuk Allah.

أَمَّا التَّوۡكِيلُ فِيمَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ الۡمَخۡلُوقُ، كَأَنۡ تُوَكِّلَ أَحَدًا يَشۡتَرِي لَكَ حَاجَةً، وَتُوَكِّلَ أَحَدًا يَعۡمَلُ لَكَ عَمَلًا، هَٰذَا جَائِزٌ، الرَّسُولُ ﷺ وَكَّلَ مَنۡ يَشۡتَرِي لَهُ، وَكَانَ يُوَكِّلُ الۡعُمَّالَ يَنُوبُونَ عَنۡهُ فِي بَعۡضِ الۡأُمُورِ، قَالَ تَعَالَى عَنۡ أَصۡحَابِ الۡكَهۡفِ أَنَّهُمۡ قَالُوا: ﴿فَٱبۡعَثُوٓا۟ أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمۡ هَـٰذِهِۦٓ إِلَى ٱلۡمَدِينَةِ فَلۡيَنظُرۡ أَيُّهَآ أَزۡكَىٰ طَعَامًا فَلۡيَأۡتِكُم بِرِزۡقٍ مِّنۡهُ وَلۡيَتَلَطَّفۡ وَلَا يُشۡعِرَنَّ بِكُمۡ أَحَدًا﴾ [الكهف: ١٩]. هَٰذَا تَوۡكِيلٌ، فَالتَّوۡكِيلُ جَائِزٌ، أَمَّا التَّوَكُّلُ فَإِنَّهُ يَكُونُ خَاصًّا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Adapun mewakilkan dalam urusan yang makhluk mampu melakukannya, seperti engkau mewakilkan kepada seseorang untuk membelikan suatu kebutuhan untukmu dan mewakilkan kepada seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan, maka ini boleh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan kepada orang untuk membelikan sesuatu untuk beliau dan beliau pernah mewakilkan kepada para petugas yang menggantikan beliau dalam sebagian urusan. Allah taala berkata tentang orang-orang yang mendiami gua bahwa mereka mengatakan, “Utuslah salah seorang di antara kalian dengan membawa uang perak kalian ini ke kota dan hendaknya dia melihat makanan mana yang paling bersih lalu hendaknya dia datang membawa makanan itu kepada kalian. Dan hendaknya dia berlaku lemah lembut dan jangan sampai dia memberitahu seorang pun tentang kalian.” (QS. Al-Kahfi: 19). Ini adalah perbuatan mewakilkan. Jadi hukum mewakilkan adalah boleh, adapun tawakal khusus kepada Allah azza wajalla.

[11] وَالۡإِنَابَةُ: الرُّجُوعُ، وَالۡإِنَابَةُ وَالتَّوۡبَةُ بِمَعۡنًى وَاحِدٍ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُوا۟ لَهُۥ﴾ [الزمر: ٥٤].

Inabah artinya kembali. Inabah dan tobat adalah semakna. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 54).

[12] الۡمَحَبَّةُ: لَهَا مَقَامٌ عَظِيمٌ فِي الۡعِبَادَةِ، وَهِيَ مَحَبَّةُ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لِأَنَّ الۡمَحَبَّةَ عَلَى قِسۡمَيۡنِ:

Mahabah (cinta) memiliki tempat yang agung dalam ibadah. Yaitu cinta kepada Allah subhanahu wa tala. Karena cinta ada dua bagian:

مَحَبَّةُ عِبَادَةٍ: وَهِيَ الَّتِي يَكُونُ مَعَهَا ذُلٌّ وَخُضُوعٌ لِلۡمَحۡبُوبِ، وَهَٰذِهِ لَا تَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لِأَنَّهَا مَحَبَّةُ عِبَادَةٍ.

Jenis pertama adalah mahabah ibadah. Yaitu cinta yang disertai kerendahan dan ketundukan kepada yang dicinta dan ini tidak boleh terjadi kecuali untuk Allah subhanahu wa taala karena ini merupakan mahabah ibadah.

أَمَّا النَّوۡعُ الثَّانِي: وَهُوَ الۡمَحَبَّةُ الطَّبِيعِيَّةِ كَأَنۡ تُحِبَّ الۡمَالَ، وَتُحِبَّ زَوۡجَتَكَ، وَتُحِبَّ أَوۡلَادَكَ، وَتُحِبَّ وَالِدَيۡكَ، وَتُحِبَّ مَنۡ أَحۡسَنَ إِلَيۡكَ، هَٰذِهِ مَحَبَّةٌ طِبِيعِيَّةٌ لَا تُعَدُّ مِنَ الۡعِبَادَةِ؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَ مَعَهَا ذُلٌّ، وَلَيۡسَ مَعَهَا خُضُوعٌ، وَإِنَّمَا هِيَ مَوَدَّةٌ مُجَرَّدَةٌ، إِلَّا إِذَا قَدَّمَ مَحَبَّةَ هَٰذِهِ الۡأَشۡيَاءِ عَلَى مَحَبَّةِ اللهِ تَعَالَى فَإِنَّهُ يَكُونُ عَلَيۡهِ وَعِيدٌ شَدِيدٌ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ ۗ﴾ [التوبة: ٢٤].

Adapun jenis kedua adalah mahabah yang merupakan tabiat. Seperti jika engkau mencintai harta, mencintai istrimu, mencintai anak-anakmu, mencintai kedua orang tuamu, dan mencintai orang yang berbuat baik kepadamu. Ini adalah mahabah yang merupakan tabiat dan tidak terhitung sebagai ibadah karena mahabah ini tidak disertai dengan kerendahan dan ketundukan. Mahabah jenis ini hanya murni rasa cinta. Kecuali, apabila kecintaan terhadap semua perkara ini dikedepankan daripada kecintaan kepada Allah taala, maka hal ini diancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga-keluarga, harta-harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian senangi, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)

فَاللهُ لَا يُقَدَّمُ عَلَى مَحَبَّتِهِ شَيۡءٌ مِنَ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَوۡلَادِ وَالۡبِلَادِ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ، فَإِنۡ تَعَارَضَتۡ مَحَبَّةُ اللهِ مَعَ مَحَبَّةِ غَيۡرِهِ مِنَ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَوۡلَادِ فَإِنَّهُ يُقَدَّمُ مَحَبَّةُ اللهِ.

Jadi cinta terhadap harta, anak, negeri, dan lain-lain tidak boleh lebih dikedepankan daripada cinta kepada Allah. Sehingga jika cinta kepada Allah saling berbenturan dengan cinta kepada selain-Nya berupa harta atau anak, maka cinta kepada Allah harus dikedepankan.

[13] الۡخَشۡيَةُ: هِيَ نَوۡعٌ مِنَ الۡخَوۡفِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِى﴾ [البقرة: ١٥٠]. فَلَا تُقَدَّمُ خَشۡيَةُ الۡمَخۡلُوقِ عَلَى خَشۡيَةِ اللهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿ٱلَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَـٰلَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَخۡشَوۡنَهُۥ وَلَا يَخۡشَوۡنَ أَحَدًا إِلَّا ٱللَّهَ ۗ﴾ [الأحزاب: ٣٩].

Khasyyah adalah satu jenis khauf (rasa takut). Allah taala berfirman yang artinya, “Janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 150). Jadi takut kepada makhluk tidak boleh lebih dikedepankan daripada takut kepada Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah Allah dan mereka takut kepada-Nya. Dan mereka tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 39).

[14] فَالرَّغۡبَةُ تَكُونُ إِلَى اللهِ –جَلَّ وَعَلَى- وَهِيَ الطَّمۡعُ فِيمَا عِنۡدَهُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ﴾ [التوبة: ٥٩] وَهِيَ الرَّغۡبَةُ فِيمَا عِنۡدَ اللهِ، وَالتَّعَلُّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا رَغِبَ فِيمَا عِنۡدَ اللهِ حَمَلَهُ ذٰلِكَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ، وَتَقۡدِيمِ رِضَا اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Raghbah dilakukan kepada Allah jalla wa ‘ala, artinya adalah mengharap yang ada di sisi-Nya. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 59). Yaitu berharap apa yang di sisi Allah dan bergantung kepada Allah azza wajalla. Sehingga ketika dia berharap apa yang di sisi Allah, hal itu akan mendorongnya untuk taat kepada Allah dan mengedepankan rida Allah subhanahu wa taala.

[15] وَالرَّهۡبَةُ كَذٰلِكَ هِيَ نَوۡعٌ مِنَ الۡخَوۡفِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ﴾ [البقرة: ٤٠]. يَجِبُ أَنۡ تَرۡهَبَ اللهَ وَتَخَافَ مِنَ اللهِ وَتَخۡشَى اللهَ، وَلَا تَرۡهَبَ الۡمَخۡلُوقِينَ رَهۡبَةً تَجۡعَلُهُمۡ فِي مَنۡزِلَةِ اللهِ أَوۡ يُسَاوُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، لَا تَرۡهَبَ مِنۡهُمۡ فَتَتۡرُكَ طَاعَةَ اللهِ مِنۡ أَجۡلِهِمۡ.

Demikian pula, rahbah (rasa cemas) adalah satu jenis dari khauf. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40). Wajib engkau rahbah kepada Allah, khauf dari Allah, dan khasyyah kepada Allah. Engkau tidak boleh takut kepada makhluk-makhluk dengan suatu rasa takut yang menjadikan mereka pada kedudukan Allah atau menjadikan mereka menyamai Allah azza wajalla. Jangan engkau takut dari mereka sehingga menyebabkan engkau meninggalkan ketaatan kepada Allah karena mereka.

[16] التَّأَلُّهُ: التَّعَبُّدُ، وَيُطۡلَقُ التَّأَلُّهُ وَيُرَادُ بِهِ الۡمَحَبَّةَ مِنَ الۡوَلَهِ، وَهُوَ الۡمَحَبَّةُ، هَٰذَا حَقٌّ لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ –جَلَّ وَعَلَا-، لَا يَجُوزُ أَنۡ يُتَّخَذَ مَعَهُ إِلٰهٌ آخَرُ يُؤَلَّهُ وَيُحَبُّ وَيُعۡبَدُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ، ﴿وَهُوَ ٱلَّذِى فِى ٱلسَّمَآءِ إِلَـٰهٌ وَفِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَـٰهٌ ۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ﴾ [الزخرف: ٨٤]. يَعۡنِي: يُأَلِّهُهُ وَيَعۡبُدُهُ وَيُحِبُّهُ أَهۡلُ السَّمَاءِ وَأَهۡلُ الۡأَرۡضِ.

Ta`alluh adalah penyembahan. Disebutkan ta`alluh secara mutlak, namun yang diinginkan dengannya adalah mahabah dari kata al-walah, yaitu kecintaan. Ini hak milik Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah (penyembahan) adalah hak milik Allah jalla wa ‘ala. Tidak boleh dijadikan sesembahan lain di samping Dia sehingga dicintai dan disembah di samping Allah azza wajalla. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah. Allah berfirman yang artinya, “Dan Dialah Yang disembah di langit dan Yang disembah di bumi. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 84). Yakni Allah disembah, diibadahi, dan dicintai oleh penduduk langit dan penduduk bumi.

[17] الرُّكُوعُ عِبَادَةٌ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ، لَا يَرۡكَعُ الۡإِنۡسَانُ لِأَحَدٍ، وَلَا يَخۡضَعُ لِأَحَدٍ وَلَا يَنۡحَنِي لِأَحَدٍ تَعۡظِيمًا لَهُ، فَالۡانۡحِنَاءُ عَلَى وَجۡهِ الذُّلِّ وَالتَّعۡظِيمِ لِمَنۡ أُنۡحَنَي لَهُ رُكُوعٌ لِغَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يَسۡجُدُ إِلَّا لِلهِ، لَا يَسُجُدُ لِلصَّنَمِ، وَلَا لِلۡقَبۡرِ وَلَا لِلضَّرِيحِ، وَلَا لِعَظِيمٍ مِنَ الۡعُظَمَاءِ، لَا يَجُوزُ السُّجُودُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، كَانَ الۡفُرۡسُ وَالرُّومُ يُعَظِّمُونَ مُلُوكَهُمۡ فَيَسۡجُدُونَ لَهُمۡ، وَلَمَّا رَآهُمۡ مُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ وَقَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أَرَادَ أَنۡ يَسۡجُدَ لَهُ، فَمَنَعَهُ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- مِنۡ ذٰلِكَ وَقَالَ: (لَوۡ كُنۡتَ آمِرًا أَحَدًا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرۡتُ الۡمَرۡأَةَ أَنۡ تَسۡجُدَ لِزَوۡجِهَا لِعِظَمِ حَقِّهِ عَلَيۡهَا). فَالسُّجُودُ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ عَزَ وَجَلَّ.

Rukuk adalah ibadah yang tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah. Seorang manusia tidak boleh rukuk kepada seorang pun, tidak boleh menunduk kepada seorang pun, dan tidak boleh merunduk kepada seorang pun dalam rangka mengagungkannya. Jadi merunduk dalam rangka merendahkan diri dan mengagungkan orang yang dirunduki adalah rukuk kepada selain Allah azza wajalla. Tidak boleh pula sujud kecuali kepada Allah. Tidak boleh sujud kepada berhala, kuburan, atau salah satu pembesar. Tidak boleh sujud kecuali kepada Allah subhanahu wa taala. Dahulu orang-orang Persia dan Romawi mengagungkan raja-raja mereka sampai-sampai sujud kepada mereka. Ketika Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu melihat mereka, lalu beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak sujud kepada beliau. Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam melarang Mu’adz dari hal itu dan beliau bersabda, “Andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya saking besarnya hak suami terhadapnya.” Jadi sujud tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah azza wajalla.

[18] الۡخُشُوعُ مِنۡ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ، وَالۡخُشُوعُ هُوَ الرِّقَّةُ الَّتِي تَكُونُ فِي الۡقَلۡبِ، وَهَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَلَا تَخۡشَعۡ لِمَخۡلُوقٍ وَإِنَّمَا تَخۡشَعُ لِلۡخَالِقِ تَعۡظِيمًا لَهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، تَرِقُّ لَهُ وَتَفۡتَقِرُ إِلَيۡهِ، وَتَبۡكِي مِنۡ خَوۡفِهِ وَخَشۡيَتِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ﴾ [الۡمُؤمنون: ٥٧].

Khusyuk termasuk amalan hati. Khusyuk adalah kehinaan yang ada di dalam hati dan ini tidak boleh ditujukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Jadi engkau tidak boleh khusyuk kepada satu makhluk pun. Engkau hanya boleh khusyuk kepada Sang Pencipta dalam rangka mengagungkan-Nya subhanahu wa taala. Engkau merendahkan diri kepada-Nya, engkau sangat butuh kepada-Nya, dan engkau menangis karena takut kepada-Nya subhanahu wa taala. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan Rabb mereka.” (QS. Al-Mu`minun: 57).

[19] التَّذَلُّلُ هُوَ الۡخُضُوعُ، وَهُوَ –كَمَا سَبَقَ- رُكۡنٌ مِنۡ أَرۡكَانِ الۡعِبَادَةِ، فَالۡعِبَادَةُ تَدُورُ عَلَى الۡحُبِّ وَالذُّلِّ، وَالۡخَوۡفِ وَالرَّجَاءِ، فَلَا يَكُونُ الذُّلُّ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَذِلُّ لِمَخۡلُوقٍ مِثۡلِكَ.

Tadzallul adalah ketundukan dan hal itu—sebagaimana telah disebutkan—merupakan salah satu rukun ibadah. Jadi ibadah berporos pada kecintaan dan kehinaan, rasa takut dan harap. Jadi kehinaan tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh menghinakan diri kepada makhluk semisal dirimu.

[20] وَهُوَ التَّعۡظِيمُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ خُضُوعٌ لِلۡمُعَظَّمِ، وَصَرۡفُ شَيۡءٍ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِهَٰذَا الۡمُعَظَّمِ، وَصَرۡفُ هَٰذَا النَّوۡعِ مِنَ التۡعَظِيمِ لِغَيۡرِ اللهِ شِرۡكٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Yaitu pengagungan yang disertai ketundukan kepada yang diagungkan dan mengarahkan sedikit saja dari jenis-jenis ibadah kepada yang diagungkan ini. Perbuatan memalingkan jenis ibadah pengagungan ini kepada selain Allah merupakan perbuatan kesyirikan kepada Allah azza wajalla.

[21] لَمَّا ذَكَرَ أَهَمَّ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ أَرَادَ أَنۡ يَسۡتَدِلَّ لِكُلِّ نَوۡعٍ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ؛ لِأَنَّ الۡكَلَامَ بِدُونِ دَلِيلٍ لَا يُقۡبَلُ، لَا سِيَّمَا الۡكَلَامُ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ الۡعَظِيمِ الۡمُهِمِّ وَهُوَ الۡكَلَامُ فِي الۡعِبَادَاتِ؛ لِأَنَّ الۡعِبَادَاتِ تَوۡقِيفِيَّةٌ، لَا يُفۡعَلُ مِنۡهَا شَيۡءٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Ketika Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah telah menyebutkan jenis-jenis ibadah yang terpenting, beliau hendak menunjukkan dalil setiap jenis ibadah ini, karena ucapan tanpa dalil tidak bisa diterima terlebih ucapan dalam hal perkara yang agung dan penting ini, yaitu pembicaraan dalam masalah ibadah-ibadah. Karena ibadah merupakan perkara tauqifiyyah artinya sedikit saja dari ibadah tidak boleh dilakukan kecuali dengan dalil.

[22] هَٰكَذَا يَجِبُ أَنۡ تَكُونَ الۡمَسَاجِدُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا تُبۡنَى لِلرِّيَاءِ وَالسُّمۡعَةِ، أَوۡ تُبۡنَى عَلَى الۡأَضۡرِحَةِ وَالۡقُبُورِ، وَإِنَّمَا تُبۡنَى لِعِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَهِيَ بُيُوتُ اللهِ، ﴿فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]. هَٰذَا مَحَلُّ الشَّاهِدِ، حَيۡثُ نَهَى أَنۡ يُدۡعَى مَعَهُ غَيۡرُهُ.

Demikianlah, wajib agar masjid-masjid itu untuk Allah azza wajalla. Masjid tidak boleh dibangun untuk ria dan sumah. Tidak boleh dibangun di atas kuburan. Masjid hanya dibangun untuk ibadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Masjid adalah rumah-rumah Allah. Allah berfirman yang artinya, “Jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18). Inilah letak pendalilannya, yaitu Allah melarang di samping berdoa kepada Allah, juga berdoa kepada selain Dia.

[23] أَيۡ: هُوَ الَّذِي يُدۡعَى حَقًّا، وَأَمَّا غَيۡرُهُ مِنَ الۡأَصۡنَامِ وَالۡأَحۡجَارِ وَالۡقُبُورِ وَالۡأَضۡرِحَةِ فَدُعَاؤُهَا بَاطِلٌ؛ لِأَنَّهَا لَا تَسۡمَعُ وَلَا تَقۡدِرُ عَلَى إِجَابَةِ مَنۡ دَعَاهَا، ﴿وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ﴾ [الرعد: ١٤]. لَوۡ جِئۡتَ إِلَى مَاءٍ فِي قَعۡرِ بِئۡرٍ وَلَيۡسَ مَعَكَ دَلۡوٌ وَلَا حَبۡلٌ، وَجَعَلۡتَ تُشِيرُ إِلَى الۡمَاءِ لِيَرۡتَفِعَ إِلَى فَمِكَ فَإِنَّهُ لَا يَصِلُ إِلَيۡكَ، وَهَٰذَا مَثَلُ مَنۡ يَدۡعُو غَيۡرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ حُصُولَ نَفۡعِهِ لَهُ مِنَ الۡمُسۡتَحِيلِ كَاسۡتِحَالَةِ وُصُولِ الۡمَاءِ إِلَى مَنۡ يَبۡسُطُ يَدَهُ إِلَى الۡمَاءِ لِيَرۡتَفِعَ إِلَى فَمِهِ دُونَ أَنۡ يَكُونَ مَعَهُ سَبَبٌ يَرۡفَعُهُ.

Artinya, Allah adalah Zat yang tepat untuk menujukan doa. Adapun selain Allah, seperti berhala-berhala, bebatuan, kuburan, maka berdoa kepada mereka adalah batil karena benda-benda tersebut tidak bisa mendengar dan tidak mampu memperkenankan siapa saja yang berdoa kepadanya. Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya.” (QS. Ar-Ra’d: 14). Andai engkau datang ke tempat air di bibir sumur dalam keadaan tidak ada timba dan tali, lalu engkau memberi isyarat ke arah air agar naik ke mulutmu, niscaya air itu tidak bisa sampai kepadamu. Ini adalah permisalan orang yang berdoa kepada selain Allah azza wajalla karena terwujudnya kemanfaatan untuknya termasuk perkara yang mustahil sebagaimana kemustahilan air bisa sampai kepada orang yang membentangkan tangannya ke arah air agar naik ke mulutnya tanpa ada satu sebab pun yang bisa membuat air itu naik kepadanya.

[24] الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الۡاسۡتِعَانَةَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ هَٰذِهِ الۡآيَةُ ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥]. فَقُدِّمَ الۡمَعۡمُولُ فِي ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ عَلَى الۡعَامِلِ وَهُوَ ﴿نَسۡتَعِينُ﴾ وَهَٰذَا يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، أَيۡ: لَا نَسۡتَعِينُ بِغَيۡرِكَ فِي الۡأُمُورِ الَّتِي لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا إِلَّا أَنۡتَ، لَا نَسۡتَعِينُ بِصَنَمٍ وَلَا بِوَثَنٍ وَلَا بِقَبۡرٍ وَلَا بِحَجَرٍ وَلَا بِشَجَرٍ.

Dalil bahwa istianah merupakan salah satu jenis ibadah adalah ayat ini, yaitu ayat yang artinya, “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5). Dikedepankannya ma’mul (obyek) dalam kalimat “Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan” dari ‘amil, yaitu “kami meminta pertolongan” memberi faedah pembatasan. Artinya, kami tidak meminta pertolongan kepada selain Engkau dalam perkara-perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Engkau. Kami tidak meminta pertolongan kepada patung, berhala, kuburan, batu, atau pohon.

[25] يُذَكِّرُ اللهُ الۡمُؤۡمِنِينَ بِمَا حَصَلَ لَهُمۡ فِي بَدۡرٍ، حِينَ اشۡتَدَّ بِهِمُ الۡأَمۡرُ فَاسۡتَغَاثُوا بِهِ فَأَغَاثَهُمۡ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلۡفٍ مِّنَ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ﴾ [الأنفال: ٩] فَأَغَاثَهُمُ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى بِالۡمَلَائِكَةِ تُثَبِّتُهُمۡ وَتُعِينُهُمۡ عَلَى الۡقِتَالِ، وَتُوقِعُ الرُّعۡبَ فِي قُلُوبِ الۡأَعۡدَاءِ ﴿إِذۡ يُوحِى رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةِ أَنِّى مَعَكُمۡ فَثَبِّتُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۚ سَأُلۡقِى فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعۡبَ﴾ [الأنفال: ١٢]. فَالۡمَلَائِكَةُ نَزَلَتۡ فِي سَاحَةِ الۡقِتَالِ فِي بَدۡرٍ مَعَ الۡمُؤۡمِنِينَ تُثَبِّتُهُمۡ وَتُقَوِّي قُلُوبَهُمۡ، وَتَطۡمَئِنُّهُمۡ وَتُوقِعُ الرُّعۡبَ فِي قُلُوبِ أَعۡدَائِهِمۡ، وَتُعِينُ الۡمُؤۡمِنِينَ عَلَى الۡقِتَالِ، فَالَّذِينَ يَقۡتُلُونَ الۡكُفَّارَ هُمُ الۡمُؤۡمِنُونَ، لَكِنۡ الۡمَلَائِكَةُ تُمِدُّهُمۡ وَتُعِينُهُمۡ وَتُقَوِّيهِمۡ وَتُثَبِّتُهُمۡ.

Allah mengingatkan kaum mukminin dengan apa yang telah terjadi pada mereka di perang Badr ketika keadaan yang sangat gawat menimpa mereka. Lalu mereka beristigasah kepada Allah dan Allah pun memperkenankan doa mereka. Allah taala berfirman yang artinya, “(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Allah memperkenankan permintaan kalian. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9). Allah subhanahu wa taala memperkenankan istigasah kaum mukminin dengan mengirim malaikat yang mengokohkan dan membantu mereka dalam peperangan itu. Dan Allah menyusupkan perasaan takut di hati-hati para musuh itu. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah), ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 12). Jadi para malaikat turun di medan tempur perang Badr bersama kaum mukminin untuk meneguhkan dan menguatkan hati-hati mereka; menenteramkan mereka dan menyusupkan perasaan takut di hati-hati musuh kaum mukminin; membantu kaum mukminin pada peperangan itu. Jadi yang membunuh orang-orang kafir adalah kaum mukminin, sedangkan para malaikat membantu, menolong, menguatkan, dan meneguhkan mereka.

[26] قُرِنَ النُّسُكُ وَهُوَ الذَّبۡحُ مَعَ الصَّلَاةِ، وَالصَّلَاةُ عِبَادَةٌ، فَالنُّسُكُ عِبَادَةٌ ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢] مَا أَحۡيَا عَلَيۡهِ وَمَا أَمُوتُ عَلَيۡهِ كُلُّهُ لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ: ﴿لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ﴾ نَفَى الشِّرۡكَ فِي الذَّبۡحِ وَفِي الصَّلَاةِ، وَنَفَى الشِّرۡكَ فِي الۡحَيَاةِ وَالۡمَوۡتِ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ﴾ أَيۡ: يَقُولُ الرَّسُولُ ﷺ: ﴿وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ﴾ أَيۡ: أَمَرَنِيَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ﴿وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٣]. أَيۡ: أَوَّلُ الۡمُنۡقَادِينَ الۡمُمۡتَثِلِينَ لِهَٰذَا الۡأَمۡرِ.

Nusuk, yaitu penyembelihan, disandingkan dengan salat. Salat adalah ibadah, sehingga nusuk juga ibadah. Allah berfirman yang artinya, “Katakan, sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb alam semesta.” (QS. Al-An’am: 162). Kehidupanku dan kematianku seluruhnya untuk Allah subhanahu wa taala. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sekutu bagi-Nya.” Allah menafikan kesyirikan dalam penyembelihan dan salat. Allah juga menafikan kesyirikan dalam hidup dan mati. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku,” maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku,” yaitu Allah subhanahu wa taala memerintahkan aku. “Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 163). Yaitu yang pertama-tama tunduk dan melaksanakan perintah ini.

[27] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ النَّذۡرَ عِبَادَةٌ يَجِبُ إِخۡلَاصُهَا لِلهِ، فَمَنۡ نَذَرَ لِغَيۡرِ اللهِ كَالۡمَوۡتَى وَالۡقُبُورِ وَالۡأَضۡرِحَةِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ، وَهَٰذَا يَقَعُ كَثِيرًا مِنَ الَّذِينَ يَنۡذُرُونَ لِلۡقُبُورِ وَيَنۡذُرُونَ لِلۡأَمۡوَاتِ يَتَقَرَّبُونَ إِلَيۡهِمۡ بِذٰلِكَ، وَهَٰذَا نَذۡرُ مَعۡصِيَةٍ وَنَذۡرُ شِرۡكٍ، لَا يَجُوزُ الۡوَفَاءُ بِهِ، أَمَّا مَنۡ نَذَرَ لِلهِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيۡهِ الۡوَفَاءُ لِأَنَّهُ عِبَادَةٌ.

Ayat ini menunjukkan bahwa nazar adalah ibadah yang wajib diikhlaskan untuk Allah. Sehingga siapa saja yang bernazar kepada selain Allah seperti kepada orang mati atau kuburan, maka dia menjadi musyrik. Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang bernazar kepada kuburan-kuburan dan orang-orang yang telah mati dalam rangka mendekatkan diri kepada mereka dengan cara itu. Ini adalah nazar kemaksiatan dan nazar kesyirikan yang tidak boleh ditunaikan. Adapun siapa saja yang bernazar kepada Allah, maka dia wajib menunaikan karena nazar tersebut merupakan ibadah.

[28] لَمَّا تَوَعَّدَ الۡمُشۡرِكُونَ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابَهُ بَعۡدَ وَقۡعَةِ أُحُدٍ وَقَالُوا: إِنَّا سَنَرۡجِعُ إِلَيۡكُمۡ وَنَسۡتَأۡصِلُكُمۡ، فَالۡمُؤۡمِنُونَ مَا زَادُوا عَلَى أَنۡ قَالُوا: ﴿حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ﴾ [آل عمران: ١٧٣]. يَعۡنِي نَحۡنُ نَعۡتَمِدُ عَلَى اللهِ وَلَا يَهُمُّنَا تَهۡدِيدُكُمۡ أَوۡ وَعِيدُكُمۡ، فَنَحۡنُ نَعۡتَمِدُ عَلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، ثُمَّ قَالَ –جَلَّ وَعَلَا-: ﴿إِنَّمَا ذ‌ٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ ﴾ [آل عمران: ١٧٥] هَٰذَا التَّخۡوِيفُ إِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيۡطَانِ، ﴿يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ ﴾ يَعۡنِي: يُخَوِّفُكُمۡ بِأَوۡلِيَائِهِ ﴿فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [آل عمران: ١٧٥] هَٰذَا هُوَ مَحَلُّ الشَّاهِدِ، دَلَّ عَلَى أَنَّ الۡخَوۡفَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ يَجِبُ أَنۡ يُفۡرَدَ اللهُ بِهِ.

Ketika orang-orang musyrik mengancam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau setelah perang Uhud dan berkata, “Sesungguhnya kami akan kembali kepada kalian dan kami akan menumpas kalian seakar-akarnya.” Maka orang-orang mukmin tidak lebih dari mengatakan, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali ‘Imran: 173). Yakni kami bersandar kepada Allah dan gertakan atau ancaman kalian tidak membuat kami sedih. Kami bersandar kepada Allah subhanahu wa taala. Kemudian Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan kawan-kawannya.” (QS. Ali ‘Imran: 175). Upaya untuk menakut-nakuti ini hanyalah dari setan. “Menakut-nakuti (dengan) kawan-kawannya,” yakni menakut-nakuti kalian dengan kawan-kawannya. “Jadi janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175). Penggalan ayat inilah yang menjadi argumen yang menunjukkan bahwa khauf (rasa takut) adalah salah satu jenis ibadah yang wajib mengesakan Allah padanya.

[29] قَالَ الۡمُفَسِّرُونَ: مَعۡنَاهَا –وَاللهُ أَعۡلَمُ-: يَرۡجُو أَنۡ يَرَى رَبَّهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ فِي الۡجَنَّةِ، ﴿فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا ﴾ [الكهف: ١١٠] فَجَعَلَ الرَّجَاءَ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَأَمَرَ أَلَّا يُشۡرِكَ بِهِ مَعَهُ غَيۡرَهُ.

Para mufasir berkata, “Makna ayat tersebut—wallahualam—, mereka berharap agar dapat melihat Rabb-nya subhanahu wa taala pada hari kiamat di janah.” Allah berfirman yang artinya, “Hendaknya dia mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Allah menjadikan raja` (rasa harap) termasuk ibadah dan memerintahkan agar tidak mempersekutukan selain Allah di samping Allah dalam ibadah tersebut.

[30] التَّوَكُّلُ مِنۡ أَعۡظَمِ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِ ۚ﴾ [هود: ١٢٣]. ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [المائدة: ٢٣]. فَمَنۡ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ كَفَاهُ، ﴿وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓ ۚ﴾ [الطلاق: ٣]. يَعۡنِي: كَافِيهِ، وَمَنۡ يَتَوَكَّلُ عَلَى مَخۡلُوقٍ فَإِنَّ اللهَ يَكِلُهُ إِلَى ذٰلِكَ الۡمَخۡلُوقِ الضَّعِيفِ.

وَفِي هَٰذِهِ الۡآيَةِ الَّتِي سَاقَهَا الۡمُصَنِّفُ جَعَلَ اللهُ التَّوَكُّلَ شَرۡطًا فِي صِحَّةِ الۡإِيمَانِ. فَمَنۡ لَمۡ يَتَوَكَّلۡ عَلَى اللهِ فَلَيۡسَ بِمُؤۡمِنٍ.

Tawakal termasuk jenis ibadah yang paling agung. Allah taala berfirman yang artinya, “Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123). “Dan kepada Allah saja, kalian bertawakal jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS Al-Maidah: 23). Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, “Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia yang akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Yakni, Allah Yang akan mencukupinya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada makhluk, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkannya kepada makhluk yang lemah itu.

Di dalam ayat yang dibawakan oleh penulis ini, Allah menjadikan tawakal sebagai sebuah syarat keabsahan iman. Jadi siapa saja yang tidak bertawakal kepada Allah, maka dia bukan seorang mukmin.

[31] الۡإِنَابَةُ: الرُّجُوعُ، وَأَنِيبُوا: يَعۡنِي: ارۡجِعُوا إِلَيۡهِ بِالطَّاعَةِ وَتَرۡكِ الۡمَعۡصِيَةِ، فَالۡإِنَابَةُ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ.

Inabah adalah kembali. Ber-inabah-lah kalian, yakni kembalilah kalian kepada-Nya dengan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Jadi inabah salah satu jenis ibadah.

[32] ﴿وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥] لِأَنَّهُمۡ أَحَبُّوا اللهَ وَحۡدَهُ، وَلَمۡ يُحِبُّوا مَعَهُ غَيۡرَهُ، أَمَّا الۡمُشۡرِكُونَ فَإِنَّهُمۡ أَحَبُّوا مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ؛ وَلِذٰلِكَ صَارُوا مُشۡرِكِينَ.

Firman Allah yang artinya, “Sedangkan orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Karena mereka mencintai Allah semata dan di samping mencintai Allah, mereka tidak mencintai selain Allah. Adapun orang-orang musyrik, mereka di samping mencintai Allah, juga mencintai selain Dia. Karena itulah mereka menjadi orang-orang musyrik.

[33] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الۡخَشۡيَةَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَأَنَّ مَنۡ خَشِيَ غَيۡرَ اللهِ فَتَرَكَ مَا أَوۡجَبَهُ اللهُ عَلَيۡهِ فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِهِ.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa khasyyah (rasa takut) adalah salah satu jenis ibadah dan bahwa siapa saja yang takut kepada selain Allah sehingga meninggalkan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah.

[34] لَمَّا ذَكَرَ اللهُ فِي سُورَةِ الۡأَنۡبِيَاءِ مَوَاقِفَ الۡأَنۡبِيَاءِ فِي الۡعِبَادَةِ وَمَوَاقِفَهُمۡ عِنۡدَ الۡابۡتِلَاءِ وَالۡامۡتِحَانِ، قَالَ: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا﴾ أَيۡ: طَمۡعًا فِيمَا عِنۡدَ اللهِ، ﴿وَرَهَبًا ۖ﴾ [الأنبياء: ٩٠] أَيۡ: خَوۡفًا مِنۡ عِقَابِهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الرَّغۡبَةَ وَالرَّهۡبَةَ نَوۡعَانِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ يَجِبُ إِخۡلَاصُهُمَا لِلهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ﴾ [البقرة: ٤٠]. قُدِّمَ الۡجَارُّ وَالۡمَجۡرُورُ لِيُفِيدُ الۡحَصۡرَ؛ أَيۡ: لَا نَرۡغَبُ إِلَى غَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Ketika Allah telah menyebutkan di dalam surah Al-Anbiya` tentang pendirian para Nabi dalam ibadah dan pendirian mereka ketika ujian dan cobaan, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam berbagai kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan raghbah,” yakni sangat mengharap apa yang ada di sisi Allah. “Serta rahbah,” (QS. Al-Anbiya`: 90, yakni takut dari hukuman-Nya. Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa raghbah dan rahbah adalah dua jenis di antara sekian jenis ibadah yang wajib mengikhlaskan dua ibadah itu untuk Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku, kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40). Dikedepankannya jarr dan majrur adalah untuk memberi faedah pembatasan. Maksudnya, kami tidak takut kepada selain Allah subhanahu wa taala.

وَفِي الۡآيَةِ رَدٌّ عَلَى الصُّوفِيَّةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا نَعۡبُدُهُ خَوۡفًا مِنۡ نَارِهِ وَلَا طَمۡعًا فِي جَنَّتِهِ، وَإِنَّمَا نَعۡبُدُهُ لِأَنَّنَا نُحِبُّهُ وَهَٰذَا مُخَالِفٌ لِمَا عَلَيۡهِ الۡأَنۡبِيَاءُ.

Di dalam ayat ini ada bantahan kepada kelompok Shufiyyah (penganut Sufisme) yang mengatakan, “Kami tidak beribadah kepada Allah karena takut dari neraka-Nya dan mengharap janah-Nya. Kami beribadah kepada Allah hanya karena kami mencintai-Nya.” Ucapan ini menyelisihi pendirian para Nabi.

[35] إِلٰهُكُمۡ: يَعۡنِي: مَعۡبُودُكُمۡ الۡمُسۡتَحِقُّ لِلۡعِبَادَةِ، إِلٰهٌ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا يَسۡتَحِقُّ الۡعِبَادَةَ غَيۡرُهُ ﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ﴾ [الحج: ٦٢]. وَكُلُّ مَنۡ عَبَدَ غَيۡرَ اللهِ فَقَدۡ اتَّخَذَهُ إِلٰهًا، لَكِنَّهُ إِلٰهٌ بَاطِلٌ، وَالۡإِلٰهُ الۡحَقُّ هُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَجُوزُ أَنۡ نَتَأَلَّهَ لِغَيۡرِهِ.

Ilah kalian artinya sembahan kalian yang berhak diibadahi, sembahan yang esa, yaitu Allah subhanahu wa taala. Adapun selain Allah tidak berhak diibadahi. Allah berfirman yang artinya, “Yang demikian itu karena Allah Dialah (Ilah) yang Mahabenar. Adapun apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62). Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka dia telah menjadikan yang disembah itu sebagai ilah, namun ilah yang batil. Adapun ilah yang benar adalah Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah subhanahu wa taala, tidak boleh kita menjadikan selain Allah sebagai ilah.

[36] حَيۡثُ أَمَرَ اللهُ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَالرُّكُوعُ هُوَ الۡخُضُوعُ بِالرَّأۡسِ وَالۡانۡحِنَاءُ، وَالسُّجُودُ: وَضۡعُ الۡجَبۡهَةِ عَلَى الۡأَرۡضِ عَلَى وَجۡهِ التَّعۡظِيمِ، هَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يَرۡكَعَ لِأَحَدٍ، وَلَا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ، فَإِنۡ رَكَعَ لِغَيۡرِ اللهِ أَوۡ سَجَدَ لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ.

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan rukuk dan sujud. Rukuk adalah menundukkan kepala dan merunduk. Sujud adalah meletakkan dahi di atas bumi sebagai bentuk pengagungan. Ini tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh bagi seorang pun untuk rukuk atau sujud kepada orang lain. Jika dia rukuk atau sujud untuk selain Allah, maka dia seorang musyrik.

[37] الۡخُشُوعُ هُوَ الۡانۡخِفَاضُ وَعَدَمُ التَّرَفُّعِ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَهَٰذِهِ فِيهَا الثَّنَاءُ عَلَى مُؤۡمِنِي أَهۡلِ الۡكِتَابِ الۡمُتَّصِفِينَ بِهَٰذِهِ الصِّفَةِ، فَهُمۡ لَا يَخۡشَعُونَ لِغَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Khusyuk adalah merendah dan tidak merasa tinggi. Khusyuk ini adalah satu jenis dari sekian jenis ibadah. Dalam ayat tersebut, ada sanjungan bagi orang-orang mukmin ahli kitab yang berhias dengan sifat khusyuk ini. Mereka tidak khusyuk kepada selain Allah subhanahu wa taala.

[38] لِأَنَّ هَٰذِهِ كُلَّهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا نَوۡعًا فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا بِاللهِ فِي عِبَادَتِهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ الَّذِي لَا يُغۡفَرُ إِلَّا بِالتَّوۡبَةِ، وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ وَيَصۡرِفُونَ أَنۡوَاعًا كَثِيرَةً مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، وَيَعۡتَبِرُونَ هَٰذَا لَيۡسَ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَإِنَّمَا هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاءُ وَوَسَائِطُ تُقَرِّبُهُمۡ إِلَى اللهِ، يُزَيِّنُ لَهُمۡ شَيَاطِينُ الۡجِنِّ وَالۡإِنۡسِ هَٰذَا الۡعَمَلَ، وَيُسَمُّونَ الشِّرۡكَ بِغَيۡرِ اسۡمِهِ، يُسَمُّونَهُ طَلَبًا لِلشَّفَاعَةِ، يُسَمُّونَهُ تَوَسُّلًا إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الَّتِي أَضَلُّوا بِهَا كَثِيرًا مِنَ الرِّعَاعِ، لَا سِيَّمَا وَأَنَّهُمۡ يُرَغِّبُونَ بِأَنَّهُ مَنۡ فَعَلَ هَٰذَا حَصَلَ لَهُ كَذَا، وَأَنۡ مَنۡ لَمۡ يَفۡعَلۡهُ يَحۡصُلُ عَلَيۡهِ كَذَا، وَيُرَهِّبُونَهُمۡ، فَالنَّاسُ الَّذِينَ لَيۡسَ فِيهِمۡ إِيمَانٌ قَوِيٌّ يُتَأَثَّرُونَ بِهَٰذَا الۡوَعِيدِ أَوۡ بِهَٰذِهِ الۡوُعُودِ وَالتَّرۡهِيبَاتِ، فَيُمَارِسُونَ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعَ إِمَّا خَوۡفًا وَإِمَّا رَجَاءً، تَأَثُّرًا بِمَا يَسۡمَعُونَ وَمَا يَقۡرَءُونَ مِنَ الدِّعَايَةِ لِعِبَادَةِ غَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يُسَمُّونَهَا شِرۡكًا بَلۡ يَقُولُونَ إِنَّهَا مِنۡ صَمِيمِ التَّوۡحِيدِ، وَالَّذِي يُنۡكِرُهَا يَصِفُونَهُ بِأَنَّهُ خَارِجِيٌّ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَعۡرِفُ قَدۡرَ الصَّالَحِينَ.

Karena semua ini termasuk jenis-jenis ibadah, maka siapa saja yang memalingkan satu jenis dari ibadah-ibadah tersebut, maka dia menjadi orang yang berbuat syirik kepada Allah di dalam ibadah kepada-Nya dengan syirik akbar yang tidak akan diampuni kecuali dengan tobat. Banyak orang yang mengaku Islam namun mereka memalingkan banyak dari jenis-jenis ibadah ini untuk selain Allah azza wajalla. Kita memohon penjagaan kepada Allah. Mereka menganggap ini bukan termasuk ibadah dan mereka ini hanyalah pemberi syafaat dan perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Para setan dari kalangan jin dan manusia menghias-hiasi amalan ini dan mereka menamakan syirik dengan nama lain. Mereka menamakannya dengan permintaan syafaat. Mereka menamakannya dengan tawasul kepada Allah subhanahu wa taala. Mereka juga menamakannya dengan nama-nama selain itu sehingga mereka menyesatkan banyak rakyat jelata dengannya. Terlebih lagi mereka memberi motivasi bahwa siapa yang melakukan ini, maka akan memperoleh ini. Dan siapa yang tidak melakukannya akan tertimpa musibah ini dalam rangka menakut-nakuti mereka. Sehingga orang-orang yang tidak memiliki iman yang kuat menjadi terpengaruh dengan ancaman, janji, dan intimidasi ini. Lalu mereka pun mencoba melakukan amalan syirik ini, bisa jadi dengan rasa takut atau rasa harap karena pengaruh apa yang mereka dengar atau baca dari propaganda/ajakan untuk beribadah kepada selain Allah azza wajalla. Para setan dari kalangan jin dan manusia itu tidak menamakannya dengan kesyirikan, bahkan mereka menamakannya sebagai bagian dari inti tauhid. Sementara orang yang mengingkari amalan kesyirikan ini, akan mereka sifati bahwa dia adalah orang berpemikiran khawarij dan orang tersebut tidak mengerti kedudukan orang-orang saleh.

وَلَا يَتَأَمَّلُونَ الۡقُرۡآنَ وَالسُّنَّةَ؛ لِأَنَّ اللهَ أَعۡمَى بَصَائِرَهُمۡ فَلَمۡ يَلۡتَفِتُوا إِلَى دَلَائِلِ الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ، وَإِنَّمَا يَلۡتَفِتُونَ إِلَى أَقۡوَالِ شُيُوخِهِمۡ وَمُعَظَّمِيهِمۡ وَيَقُولُونَ: هُمۡ أَعۡلَمُ مِنَّا بِالۡقُرۡآنِ، وَأَعۡلَمُ مِنَّا بِالسُّنَّةِ، هَٰذَا مِنۡ نَاحِيَةٍ.

Mereka tidak mau memperhatikan Alquran dan Sunah karena Allah telah membutakan mata hati mereka sehingga mereka tidak menoleh kepada dalil-dalil Alquran dan Sunah. Mereka hanya menoleh kepada ucapan-ucapan syekh-syekh dan tokoh-tokoh mereka. Mereka berkata, “Mereka lebih mengetahui Alquran daripada kami dan mereka lebih mengerti Sunah daripada kami.” Ini dari satu segi.

وَالنَّاحِيَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ إِنَّ مَنۡ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَإِنَّهُ مُسۡلِمٌ مُؤۡمِنٌ وَلَوۡ عَمِلَ مَا عَمِلَ مِنَ الۡأُمُورِ، لَوۡ يَدۡعُو الۡأَمۡوَاتِ وَيَسۡتَغِيثُ بِهِمۡ وَيَذۡبَحُ لَهُمۡ، مَا دَامَ أَنَّهُ يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَهُوَ مُسۡلِمٌ.

Segi yang kedua, bahwa mereka mengatakan, “Siapa saja yang telah mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia adalah seorang muslim dan mukmin, walaupun dia mengerjakan amalan apa saja. Jadi, andai dia berdoa kepada orang-orang mati, istigasah kepada mereka, dan menyembelih untuk mereka, selama dia mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia tetap muslim.”

وَهُوَ إِنَّمَا يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ لَفۡظًا وَيُنَاقِضُهَا مَعۡنًى، وَهَٰذَا لَا يُفِيدُهُ شَيۡئًا، هُوَ قَالَهَا بِلِسَانِهِ لَكِنۡ خَالَفَهَا بِاعۡتِقَادِهِ وَخَالَفَهَا بِأَفۡعَالِهِ، فَلَا تُفِيدُهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ شَيۡئًا لِأَنَّهُ أَبۡطَلَهَا وَنَاقَضَهَا.

Padahal orang yang hanya mengucapkan, “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah,” secara lafal saja, namun dia malah menggugurkan makna dari ucapan itu, maka ini tidak memberi faedah apa-apa untuknya. Dia hanya mengatakan dengan lisannya saja, namun iktikad dan perbuatannya menyelisihinya. Sehingga ucapan “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah” tidak memberi faedah apapun baginya karena dia sendiri yang membatalkan dan menggugurkannya.

[39] أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ، وَأَعۡظَمُ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ، فَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ الۡمَأۡمُورَاتِ، وَالشِّرۡكُ أَعۡظَمُ الۡمَنۡهِيَّاتِ أَعۡظَمُ مِنۡ شُرۡبِ الۡخَمۡرِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ قَتۡلِ النَّفۡسِ بِغَيۡرِ حَقٍّ.

Perintah Allah yang paling agung adalah tauhid dan larangan Allah yang paling besar adalah syirik. Jadi tauhid adalah seagung-agung perkara yang diperintahkan, sedangkan syirik adalah perkara terbesar yang dilarang, lebih besar daripada meminum khamar dan lebih besar daripada membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

وَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، أَعۡظَمُ مِنَ الصَّلَاةِ وَأَعۡظَمُ مِنَ الزَّكَاةِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ جَمِيعِ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَلِذٰلِكَ أَوَّلُ مَا بَدَأَ بِهِ الرَّسُولُ بِالدَّعۡوَةِ إِلَى التَّوۡحِيدِ، شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِذَا نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيۡنِ فَإِنَّكَ تَأۡمُرُهُ بِالصَّلَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالزَّكَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالۡحَجِّ، أَمَّا مَا دَامَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡطِقۡ بِالشَّهَادَتَيۡنِ لَا تَقُلۡ لَهُ: صَلِّ؛ لِأَنَّهُ لَوۡ صَلَّى فَلَا فَائِدَةَ فِي ذٰلِكَ، وَلَا تُقۡبَلۡ صَلَاتُهُ، وَلِهَٰذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِمُعَاذٍ: (إِنَّكَ تَأۡتِي قَوۡمًا مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلُ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ شَهَادَةَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي الۡيَوۡمِ وَاللَّيۡلَةِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ صَدَقَةً). يَعۡنِي: الزَّكَاةَ، فَلَمۡ يَأۡمُرۡهُمۡ بِالصَّلَاةِ وَلَا بِالزَّكَاةِ قَبۡلَ أَنۡ يَشۡهَدُوا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَأَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ؛ لِأَنَّهُ الۡأَصۡلُ وَالۡأَسَاسُ وَالۡقَاعِدَةُ لِهَٰذَا الدِّينِ.

Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung. Lebih agung daripada salat dan zakat, bahkan lebih agung dari seluruh jenis ibadah. Oleh karena itulah, awal yang rasul dakwahkan adalah memulai dengan tauhid, syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka baru engkau perintah dia untuk salat, zakat, dan haji. Adapun selama dia belum mengucapkan dua kalimat syahadat, maka engkau jangan katakan kepadanya, “Salatlah!” Karena andai dia salat, hal itu tidak berfaedah dan tidak diterima salatnya. Karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menyambut ajakanmu itu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu dalam sehari semalam kepada mereka. Jika mereka menyambut seruanmu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari nomor 1458 dan Muslim nomor 19). Yakni zakat. Beliau tidak memerintahkan mereka salat dan zakat sebelum mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, perintah Allah yang paling agung adalah tauhid karena tauhid adalah pokok, asas, dan fondasi agama ini.

[40] هَٰذَا وَاضِحٌ، وَهَٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [النساء: ٤٨]. فَإِذَا كَانَ الشِّرۡكُ لَا يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ وَغَيۡرُهُ يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ، فَهَٰذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ، الزِّنَا وَالسَّرِقَةُ وَشُرۡبُ الۡخَمۡرِ وَأَكۡلُ الرِّبَا هَٰذِهِ قَابِلَةٌ لِلۡمَغۡفِرَةِ فَهِيَ تَحۡتَ الۡمَشِيئَةِ، إِنۡ شَاءَ اللهُ غَفَرَ لِأَصۡحَابِهَا، وَإِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُمۡ، وَلَكِنۡ لَا يَخۡلُدُونَ فِي النَّارِ، وَإِنَّمَا يُعَذَّبُونَ بِقَدۡرِ ذُنُوبِهِمۡ ثُمَّ يَخۡرُجُونَ مِنَ النَّارِ؛ لِأَنَّهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ وَأَهلِ الۡإِيمَانِ، أَمَّا الشِّرۡكُ فَإِنَّهُ لَا يُغۡفَرُ، وَصَاحِبُهُ لَا يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ أَبَدًا، ﴿كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡ ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٧]. ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ﴾ [المائدة: ٧٢].

Ayat ini sudah jelas dan ayat ini menunjukkan bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Maka jika dosa kesyirikan tidak diampuni, sedangkan dosa lainnya bisa diampuni, maka ini merupakan dalil bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Zina, pencurian, meminum khamar, memakan harta riba; ini semua bisa diampuni jika Allah kehendaki. Jika Allah ingin, maka Dia ampuni pelakunya, dan jika Dia ingin, Dia siksa mereka. Akan tetapi mereka tidak kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sekadar dosa-dosa mereka, kemudian mereka akan keluar dari neraka karena mereka masih termasuk orang yang memiliki tauhid dan keimanan. Adapun dosa kesyirikan tidak diampuni (selama belum tobat) dan pelakunya tidak akan keluar dari neraka selama-lamanya. Allah berfirman yang artinya, “Demikianlah, Allah perlihatkan amalan-amalan mereka agar menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167). “Sesungguhnya siapa saja yang berbuat syirik terhadap Allah, maka sungguh Allah haramkan janah baginya.” (QS. Al-Maidah: 72).

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga, dan sahabatnya.

Read More