Author Archives

Celaan akan Perpecahan dan Pujian terhadap Persatuan dalam Alquran dan Sunah

29 Oktober 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata:

ذَمُّ التَّفَرُّقِ فِي الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمَدۡحُ الۡاجۡتِمَاعِ

وَمَا جَاءَ التَّفَرُّقُ فِي الۡكِتَابِ الۡعَزِيزِ إِلَّا مَذۡمُومًا وَمُتَوَعَّدًا عَلَيۡهِ، وَمَا جَاءَ الۡاِجۡتِمَاعُ عَلَى الۡحَقِّ وَالۡهُدَى إِلَّا مَحۡمُودًا وَمَوۡعُودًا عَلَيۡهِ بِالۡأَجۡرِ الۡعَظِيمِ، لَمَّا فِيهِ مِنَ الۡمَصَالِحِ الۡعَاجِلَةِ وَالۡآجِلَةِ.

Tidaklah disebutkan perpecahan dalam Alquran kecuali dalam konteks dicela dan diancam. Tidaklah disebutkan persatuan di atas kebenaran dan petunjuk kecuali dalam konteks dipuji dan dijanjikan pahala yang amat besar karena padanya terdapat maslahat jangka pendek dan jangka panjang.

وَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي السُّنَّةِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ تَأۡمُرُ بِلُزُومِ الۡجَمَاعَةِ

Ada banyak hadis yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunah yang memerintahkan untuk menetapi al-jama’ah.[1]

قَالَ ﷺ: (إِنَّ بَنِي إِسۡرَائِيلَ تَفَرَّقَتۡ عَلَى ثِنۡتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ مِلَّةً، وَتَفۡتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمۡ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً). قَالُوا وَمَنۡ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (مَا أَنَا عَلَيۡهِ الۡيَوۡمَ وَأَصۡحَابِي).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya bani Israil terpecah belah menjadi 72 kelompok dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 kelompok. Mereka semua di neraka kecuali satu kelompok.”

Para sahabat bertanya, “Siapa kelompok itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Siapa saja yang berada di atas agama yang ditempuh olehku dan para sahabatku pada hari ini.”[2]

فَأَخۡبَرَ ﷺ فِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنۡ يَحۡصُلَ تَفَرُّقُ فِي هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ، وَهُوَ لَا يَنۡطِقُ عَنِ الۡهَوَى، لَا بُدَّ أَنۡ يَحۡصُلَ مَا أَخۡبَرَ بِهِ ﷺ.

وَهَٰذَا الۡإِخۡبَارُ مِنۡهُ ﷺ مَعۡنَاهُ النَّهۡيُ عَنِ التَّفَرُّقِ، وَالتَّحۡذِيرُ مِنَ التَّفَرُّقِ، وَلِهَٰذَا قَالَ: (كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ).

وَلَمَّا سُئِلَ عَنۡهَا ﷺ مَا هَٰذِهِ الۡوَاحِدَةُ النَّاجِيَةُ؟ قَالَ: (مَنۡ كَانَ عَلَى مِثۡلِ مَا أَنَا عَلَيۡهِ الۡيَوۡمَ وَأَصۡحَابِي).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadis ini bahwa pasti terjadi perpecahan dalam umat ini. Beliau tidak berucap dari hawa nafsu. Pasti akan terjadi yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Pengabaran dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bermakna larangan dari perpecahan dan waspada dari perpecahan.

Oleh karena itu, beliau bersabda, “Semuanya di neraka kecuali satu golongan.”

Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentangnya, “Apakah satu golongan yang selamat ini?”

Beliau menjawab, “Siapa saja yang berada di atas agama yang ditempuh olehku dan para sahabatku pada hari ini.”

فَمَنۡ بَقِيَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيۡهِ الرَّسُولُ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ، فَهُوَ مِنَ النَّاجِينَ مِنَ النَّارِ، وَمَنِ اخۡتَلَفَ عَنۡ ذٰلِكَ فَإِنَّهُ مُتَوَعَّدٌ بِالنَّارِ، عَلَى حَسَبِ بُعۡدِهِ عَنِ الۡحَقِّ، إِنۡ كَانَتۡ فِرۡقَتُهُ فِرۡقَةَ كُفۡرٍ وَرِدَّةٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ الۡخَالِدِينَ فِيهَا، وَإِنۡ كَانَتۡ فِرۡقَتُهُ لَمۡ تُخۡرِجۡهُ عَنِ الۡإِيمَانِ. لَكِنۡ عَلَيۡهِ وَعِيدٌ شَدِيدٌ، وَلَا يَنۡجُو مِنۡ هَٰذَا الۡوَعِيدِ إِلَّا طَائِفَةٌ وَاحِدَةٌ مِنۡ ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ، وَهِيَ “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ” “مَنۡ كَانَ عَلَى مِثۡلِ مَا عَلَيۡهِ الرَّسُولُ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ”، هُوَ: كِتَابُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ ﷺ وَالۡمَنۡهَجُ السَّلِيمُ وَالۡمَحَجَّةُ الۡبَيۡضَاءُ.

Maka, siapa saja yang tetap berada di atas agama yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka dia termasuk orang-orang yang selamat dari neraka. Dan siapa saja yang menyelisihi hal itu, maka dia mendapat ancaman masuk neraka sesuai kadar jauhnya dia dari kebenaran. Jika kelompoknya adalah kelompok kekufuran dan kemurtadan maka dia termasuk penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Namun jika kelompoknya tidak mengeluarkan dia dari lingkup keimanan, maka tidak kekal. Tetapi dia mendapat ancaman yang keras. Dan tidak ada yang selamat dari ancaman ini kecuali satu kelompok di antara tujuh puluh tiga kelompok. Yaitu golongan yang selamat. Siapa saja yang berada di atas agama yang semisal dengan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Yaitu yang bersumber dari kitab Allah, sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, metode yang selamat, dan jalan yang terang benderang.

هَٰذَا هُوَ مَا كَانَ عَلَيۡهِ الرَّسُولُ ﷺ وَلِهَٰذَا قَالَ –تَعَالَى-: ﴿وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَـٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَـٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ﴾.

قَالَ: ﴿وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَـٰنٍ﴾ فَدَلَّ هَٰذَا عَلَى أَنَّهُ مَطۡلُوبٌ مِنۡ آخِرِ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ أَنۡ يَتَّبِعُوا مَنۡهَجَ السَّابِقِينَ الۡأَوَّلِينَ، مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ وَالۡأَنۡصَارِ، الَّذِي هُوَ مَنۡهَجُ الرَّسُولِ ﷺ وَمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ.

Inilah agama yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah taala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi awal-awal dari kalangan muhajirin dan ansar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridai mereka dan mereka rida terhadap Allah.” (QS. At-Taubah: 100).

Allah berfirman yang artinya, “Serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” Ayat ini menunjukkan bahwa inilah yang dituntut dari umat belakangan ini, yaitu agar mereka mengikuti jalan orang-orang yang terdahulu dan awal-awal dari kalangan muhajirin dan ansar. Yang itu merupakan jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa.

أَمَّا مَنۡ خَالَفَ مَنۡهَجَ السَّابِقِينَ الۡأَوَّلِينَ، مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ وَالۡأَنۡصَارِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مِنَ الضَّالِّينَ، قَالَ –سُبۡحَانَهُ-: ﴿وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًا ۝٦٩ ذَٰلِكَ ٱلۡفَضۡلُ مِنَ ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ عَلِيمًا ۝٧٠﴾ فَمَنۡ أَطَاعَ اللهَ وَأَطَاعَ الرَّسُولَ فِي أَيِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، سَوَاءٌ كَانَ فِي وَقۡتِ الرَّسُولِ ﷺ أَوۡ آخِرَ مُسۡلِمٍ فِي الدُّنۡيَا، إِذَا كَانَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعَ الۡفِرۡقَةِ النَّاجِيَةِ. ﴿فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًا ۝٦٩﴾.

أَمَّا مَنۡ تَخَلَّفَ عَنۡ هَٰذَا الۡمَنۡهَجِ فَإِنَّهُ لَنۡ يَحۡصُلَ عَلَى هَٰذَا الۡوَعۡدِ، وَلَنۡ يَكُونَ مَعَ هَٰؤُلَاءِ الرِّفۡقَةِ الطَّيِّبِينَ، وَإِنَّمَا يَكُونُ مَعَ الَّذِينَ انۡحَازَ إِلَيۡهِمۡ مِنَ الۡمُخَالِفِينَ.

Adapun siapa saja yang menyelisihi jalan orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan muhajirin dan ansar, maka sungguh dia termasuk orang-orang yang sesat. Allah subhanahu berfirman yang artinya, “Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah telah beri kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang sidik, syuhada, dan orang-orang yang saleh. Mereka itu sebaik-baik teman. Itu adalah karunia dari Allah. Dan cukuplah Allah yang mengetahui.” (QS. An-Nisa`: 69-70).

Jadi siapa saja yang taat kepada Allah dan taat kepada Rasul di masa kapanpun dan di tempat  manapun, sama saja apakah dia di masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dia muslim terakhir di dunia, selama dia taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia bersama golongan yang selamat. “Mereka itu bersama dengan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang sidik, syuhada, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka adalah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa`: 69).

Adapun siapa saja yang tidak mengikuti jalan ini, maka dia tidak akan mendapatkan janji ini dan juga tidak akan menyertai teman-teman yang baik ini. Orang ini nantinya berada bersama dengan orang-orang yang menyelisihi jalan ini yang dahulunya dia ikuti.

وَلِهَٰذَا، هَٰذَا الدُّعَاءُ الۡعَظِيمُ، الَّذِي نُكَرِّرُهُ فِي صَلَاتِنَا، فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ فِي آخِرِ الۡفَاتِحَةِ: ﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۝٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ۝٧﴾.

هَٰذَا دُعَاءٌ عَظِيمٌ، نَسۡأَلُ اللهَ فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ مِنۡ صَلَاتِنَا، أَنۡ يَهۡدِيَنَا لِصِرَاطِ الَّذِينَ أَنۡعَمَ اللهُ عَلَيۡهِمۡ، وَهُوَ الَّذِي جَاءَتۡ بِهِ الرُّسُلُ -عَلَيۡهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- وَكَانَ عَلَيۡهِ أَتۡبَاعُهُمۡ إِلَى يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ، وَآخِرُهُمۡ مُحَمَّدٌ ﷺ هُوَ الۡمُتَّبَعُ، وَالۡمُطَاعُ، وَالۡمُقۡتَدَى بِهِ ﷺ؛ لِأَنَّهُ نَبِيُّ آخِرِ الزَّمَانِ، وَمُنۡذُ بَعَثَهُ اللهُ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ وَالنَّاسُ كُلُّهُمۡ مَأۡمُورُونَ بِاتِّبَاعِهِ ﷺ حَتَّى لَوۡ قُدِرَ أَنَّهُ جَاءَ نَبِيٌّ مِنَ السَّابِقِينَ فَإِنَّهُ يَجِبُ أَنۡ يَكُونَ مُتَّبِعًا لِهَٰذَا الرَّسُولِ ﷺ، قَالَ ﷺ: (لَوۡ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيۡنَ أَظۡهُرِكُمۡ، مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنۡ يَتَّبِعَنِي).

Oleh karena itu, inilah doa yang sangat agung, yang kita ulang-ulang dalam salat kita dalam setiap rakaat di akhir surah Al-Fatihah, yang artinya, “Tunjukkan jalan yang lurus kepada kami. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan kepada mereka. Bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Ini adalah doa yang amat agung. Kita meminta Allah dalam setiap rakaat salat kita agar Dia memberi petunjuk kita kepada jalan orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan. Yaitu ajaran yang dibawa oleh para rasul ‘alaihimush shalatu was salam dan yang ditempuh oleh para pengikut rasul hingga hari kiamat.

Rasul terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah yang diikuti, ditaati, dan diteladani shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau adalah nabi akhir zaman. Semenjak beliau diutus oleh Allah hingga terjadi hari kiamat, seluruh manusia diperintahkan untuk mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai pun andai ditakdirkan nabi terdahulu datang, maka dia wajib menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai Musa hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak halal baginya kecuali dia harus mengikutiku.”[3]

وَذٰلِكَ فِي قَوۡلِهِ –تَعَالَى-: ﴿وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ لَمَآ ءَاتَيۡتُكُم مِّن كِتَـٰبٍ وَحِكۡمَةٍ ثُمَّ جَآءَكُمۡ رَسُولٌ﴾ يَعۡنِي: مُحَمَّدًا ﷺ ﴿مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِهِۦ وَلَتَنصُرُنَّهُۥ ۚ قَالَ ءَأَقۡرَرۡتُمۡ وَأَخَذۡتُمۡ عَلَىٰ ذَٰلِكُمۡ إِصۡرِى ۖ قَالُوٓا۟ أَقۡرَرۡنَا ۚ قَالَ فَٱشۡهَدُوا۟ وَأَنَا۠ مَعَكُم مِّنَ ٱلشَّـٰهِدِينَ ۝٨١ فَمَن تَوَلَّىٰ بَعۡدَ ذَ‌ٰلِكَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ ۝٨٢ أَفَغَيۡرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبۡغُونَ﴾.

Hal itu terdapat dalam firman Allah taala yang artinya, “Ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian para nabi: Sungguh, apa saja yang aku datangkan kepada kalian berupa kitab dan hikmah kemudian seorang rasul datang kepada kalian—yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang membenarkan apa yang bersama kalian, niscaya kalian akan beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: Apakah kalian akan mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka berkata: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu, saksikanlah dan Aku termasuk yang bersaksi bersama kalian. Siapa saja yang berpaling setelah itu, mereka itu adalah orang-orang yang fasik. Apakah mereka mencari agama selain agama Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 81-83).

فَلَا دِينَ بَعۡدَ بِعۡثَةِ مُحَمَّدٍ ﷺ إِلَّا دِينُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَمَنِ ابۡتَغَى غَيۡرَهُ مِنَ الۡأَدۡيَانِ فَإِنَّهُ لَنۡ يُقۡبَلَ مِنۡهُ، وَيَكُونُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ مِنَ الۡخَاسِرِينَ: ﴿وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينًا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡءَاخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ ۝٨٥﴾ ﴿غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ﴾: وَهُمۡ كُلُّ مَنۡ عِنۡدَهُ عِلۡمٌ وَلَمۡ يَعۡمَلۡ بِهِ، مِنَ الۡيَهُودِ وَغَيۡرِهِمۡ مِنۡ ضُلَّالِ الۡعُلَمَاءِ، الَّذِينَ عَرَفُوا الۡحَقَّ وَتَرَكُوهُ؛ تَبۡعًا لِأَهۡوَائِهِمۡ، وَأَغۡرَاضِهِمۡ، وَمَنَافِعِهِمۡ الشَّخۡصِيَّةِ، يَعۡرِفُونَ الۡحَقَّ الَّذِي جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ وَلَكِنَّهُمۡ لَا يَتَّبِعُونَهُ، بَلۡ يَتَّبِعُونَ أَهۡوَاءَهُمۡ، وَرَغَبَاتَهُمۡ، وَمَا تمليه عَلَيۡهِمۡ عَوَاطِفهمۡ، أَوِ انۡتِمَاءَاتهمۡ الۡمَذۡهَبِيَّة أَوۡ غَيۡر ذٰلِكَ، هَٰؤُلَاءِ يُعۡتَبَرُونَ مِنَ الۡمَغۡضُوبِ عَلَيهِمۡ، لِأَنَّهُمۡ عَصَوُا اللهَ عَلَى بَصِيرَةٍ، فَغَضِبَ اللهُ عَلَيۡهِمۡ.

Maka, tidak ada lagi agama setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa saja yang mencari agama yang lain, maka tidak akan diterima dan di hari kiamat dia akan menjadi termasuk orang-orang yang merugi. “Siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85).

“Bukan orang-orang yang dimurkai,” mereka adalah setiap orang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya dari kalangan Yahudi dan selain mereka dari ulama sesat. Yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun meninggalkannya karena mengikuti hawa nafsu mereka, tujuan duniawi mereka, dan manfaat pribadi mereka. Mereka mengetahui kebenaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi mereka tidak mengikutinya. Bahkan mereka memilih mengikuti hawa nafsu mereka, selera mereka, kecondongan perasaan mereka, kefanatikan mazhab mereka, atau alasan selain itu. Mereka ini terhitung termasuk orang-orang yang dimurkai karena mereka menentang Allah dalam keadaan berilmu, sehingga Allah murka terhadap mereka.

﴿وَلَا ٱلضَّآلِّينَ﴾: وَهُمُ الَّذِينَ يَعۡمَلُونَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ، وَيَجۡتَهِدُونَ فِي الۡعِبَادَةِ، لَكِنَّهُمۡ عَلَى غَيۡرِ طَرِيقِ الرَّسُولِ ﷺ كَالۡمُبۡتَدِعَةِ وَالۡمُخَرِّفِينَ، الَّذِينَ يَجۡتَهِدُونَ فِي الۡعِبَادَةِ، وَالزُّهۡدِ، وَالصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَإِحۡدَاثِ عِبَادَاتِ مَا أَنۡزَلَ اللهُ بِهَا مِنۡ سُلۡطَانٍ، وَيَتَّبِعُونَ أَنۡفُسَهُمۡ بِأَشۡيَاءَ لَمۡ يَأۡتِ بِهَا الرَّسُولُ ﷺ هَٰؤُلَاءِ ضَالُّونَ، عَمَلُهُمۡ مَرۡدُودٌ عَلَيۡهِمۡ، كَمَا قَالَ الرَّسُولُ ﷺ: (مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).

“Bukan pula jalan orang-orang yang sesat,” mereka adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah akan tetapi tidak sesuai dengan jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti para pengusung kebidahan dan orang-orang yang pikun yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, zuhud, salat, siam, dan membuat-buat ibadah yang tidak Allah turunkan satu keterangan pun. Mereka mengikuti hawa nafsu dengan sesuatu yang tidak dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka inilah orang-orang yang sesat. Amalan mereka tertolak sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa saja yang mengamalkan suatu amalan ibadah yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.”[4]

هَٰؤُلَاءِ هُمُ (الضَّالُّونَ) وَمِنۡهُمۡ النَّصَارَى، وَكُلُّ مَنۡ عَبَدَ اللهَ عَلَى جَهۡلٍ وَضَلَالٍ، وَإِنۡ كَانَتۡ نِيَّتُهُ حَسَنَةً وَمَقۡصَدُهُ طَيِّبًا، لِأنَّ الۡعِبۡرَةَ لَيۡسَتۡ بِالۡمَقَاصِدِ فَقَطۡ، بَلِ الۡعِبۡرَةُ بِالۡاتِّبَاعِ.

Mereka ini adalah orang-orang yang sesat. Yang termasuk mereka adalah orang-orang Nasrani dan setiap orang yang beribadah kepada Allah dalam keadaan bodoh dan tersesat, walaupun niatnya baik dan maksudnya baik. Karena tolok ukurnya bukan hanya maksud hati semata, namun tolok ukurnya juga dengan mengikuti Rasul.


[1] Ibnu Hajar dalam Al-Fath (13/391) berkata, “Ada beberapa hadis yang datang untuk menetapi al-jama’ah, di antaranya adalah:

  • Hadis yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan beliau nilai sahih dari hadis Al-Harits bin Al-Harits Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Beliau menyebutkan hadis yang panjang. Di dalamnya disebutkan,

وَأَنَا آمُرُكُمۡ بِخَمۡسٍ أَمَرَنِيَ اللهُ بِهِنَّ: السَّمۡعُ، وَالطَّاعَةُ، وَالۡجِهَادُ، وَالۡجَمَاعَةُ، فَإِنَّ مَنۡ فَارَقَ الۡجَمَاعَةَ قِيدَ شِبۡرٍ فَقَدَ خَلَعَ رِبۡقَةَ الۡإِسۡلَامِ مِنۡ عُنُقِهِ

“Aku memerintahkan kalian lima perkara yang diperintahkan Allah kepadaku: mendengar, taat, jihad, hijrah, dan al-jama’ah. Karena siapa saja yang memisahkan diri dari al-jama’ah sejengkal, maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”

Diriwayatkan secara marfuk oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/130, 4/202, 5/344), At-Tirmidzi nomor 2863-2864 dan beliau berkata: hadis hasan sahih garib.

  • Di dalam khotbah ‘Umar yang terkenal yang beliau sampaikan di Jabiyah,

عَلَيۡكُمۡ بِالۡجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمۡ وَالۡفُرۡقَةَ، فَإِنَّ الشَّيۡطَانَ مَعَ الۡوَاحِدِ، وَهُوَ مِنَ الِاثۡنَيۡنِ أَبۡعَدُ

“Kalian wajib bersama al-jama’ah dan jauhilah perpecahan karena setan bersama orang yang sendirian. Dan dia lebih jauh dari dua orang.”

Diriwayatkan secara marfuk oleh:

Dalam riwayat tersebut,

وَمَنۡ أَرَادَ بُحۡبُوحَةَ الۡجَنَّةِ فَلۡيَلۡزَمۡ الۡجَمَاعَةَ

“Siapa saja yang menghendaki bagian tengah janah, maka hendaknya dia menetapi al-jama’ah.”

Ibnu Baththal berkata, “Yang dikehendaki dalam bab ini adalah anjuran untuk berpegang teguh dengan al-jama’ah. Dan yang dimaukan dengan al-jama’ah adalah ahlu al-hall wal-‘aqd (ulama yang berwenang mengurusi umat) di setiap zaman.”

Al-Kirmani berkata, “Konsekuensi perintah untuk menetapi al-jama’ah adalah melazimkan mukalaf untuk mengikuti kesepakatan para ulama mujtahid.”

Selesai penukilan dari Fath Al-Bari.

At-Tirmidzi berkata dalam Sunan-nya setelah hadis nomor 2167, “Tafsir al-jama’ah menurut ulama adalah ahli fikih, ulama, dan ahli hadis.” Selesai.

Karena pentingnya perintah ini, maka:

  • Al-Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Shahih-nya, “Bab ‘Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang pertengahan’ dan perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapi al-jama’ah. Mereka adalah ulama.”
  • An-Nawawi membuat bab dalam Shahih Muslim, “Bab kewajiban menetapi jemaah muslimin ketika muncul ujian dan pada setiap keadaan serta pengharaman keluar dari ketaatan dan menyempal dari jemaah.”
  • At-Tirmidzi membuat bab dalam Sunan-nya “Riwayat tentang menetapi al-jama’ah.”
  • Demikian pula Ad-Darimi di dalam Sunan-nya membuat dua bab. Yang pertama dalam kitab As-Siyar, “Bab tentang menetapi ketaatan dan al-jama’ah.” Yang lain di dalam kitab Ar-Riqaq, “Bab tentang ketaatan dan menetapi al-jama’ah.”
  • Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah membuat dua bab seperti itu pula. Yang pertama, “Bab penyebutan perintah untuk menetapi al-jama’ah.” Kedua, “Bab penyebutan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapi al-jama’ah dan peringatan beliau dari perpecahan.”

Juga para imam ahli hadis selain mereka.

Kemudian mereka rahimahumullah membawakan beberapa hadis setelah judul bab itu. Di antaranya adalah hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

مَنۡ رَأَي مِنۡ أَمِيرِهِ شَيۡئًا يَكۡرَهُهُ فَلۡيَصۡبِرۡ، فَإِنَّهُ لَيۡسَ مِنۡ أَحَدٍ يُفَارِقُ الۡجَمَاعَةَ شِبۡرًا فَيَمُوتُ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Siapa saja melihat pada pemimpinnya sesuatu yang dia benci, maka hendaknya dia bersabar. Karena tidaklah seorang pun yang memisahkan diri dari al-jama’ah sejauh satu jengkal lalu dia mati, kecuali dia mati dalam keadaan jahiliah.”

Diriwayatkan oleh:

Dan dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, beliau berkata:

سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (“خِيَارُ أَئِمَّتِكُمۡ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمۡ وَيُحِبُّونَكُمۡ، وَتُصَلُّونَ عَلَيۡهِمۡ وَيُصَلُّونَ عَلَيۡكُمۡ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمۡ الَّذِينَ تُبۡغِضُونَهُمۡ وَيُبۡغِضُونَكُمۡ، وَتَلۡعَنُونَهُمۡ وَيَلۡعَنُونَكُمۡ ” قُلۡنَا: أَفَلَا نُنَابِذُهُمۡ يَا رَسُولَ اللهِ عِنۡدَ ذٰلِكَ ؟. قَالَ: ” لَا. مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، أَلَا مَنۡ وَلِيَ عَلَيۡهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأۡتِي شَيۡئًا مِنۡ مَعۡصِيَةِ اللهِ فَلۡيَكۡرَهۡ مَا يَأۡتِي مِنۡ مَعۡصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنۡزِعَنَّ يَدًا مِنۡ طَاعَةٍ).

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan kebaikan mereka dan mereka mendoakan kebaikan kalian. Pemimpin kalian yang terjelek adalah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.”

Kami bertanya, “Apakah kita tidak menghunuskan pedang, wahai Rasulullah, ketika hal itu terjadi?”

Beliau berkata, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja yang dipimpin oleh seorang pemimpin, lalu dia lihat pemimpin itu melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka hendaknya dia membenci kemaksiatan kepada Allah yang dia lakukan, namun jangan sekali-kali dia mencabut ketaatan darinya.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (6/24), Muslim nomor 1855, Ad-Darimi nomor 2797, Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah nomor 1105, dan Al-Baihaqi (8/158).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدُ اللهِ مَعَ الۡجَمَاعَةِ

“Tangan Allah bersama al-jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2166).

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَجۡمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللهِ مَعَ الۡجَمَاعَةِ، وَمَنۡ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan. Tangan Allah bersama al-jama’ah. Siapa saja yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2167).

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

اثۡنَانِ خَيۡرٌ مِنۡ وَاحِدٍ، وَثَلَاثَةٌ خَيۡرٌ مِنِ اثۡنَيۡنِ، وَأَرۡبَعَةٌ خَيۡرٌ مِنۡ ثَلَاثَةٍ، فَعَلَيۡكُمۡ بِالۡجَمَاعَةِ، فَإِنَّ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – لَنۡ يَجۡمَعَ أُمَّتِي إِلَّا عَلَى هُدًى

“Dua lebih baik daripada satu, tiga lebih baik daripada dua, empat lebih baik daripada tiga. Wajib bagi kalian untuk bersama al-jama’ah karena Allah azza wajalla tidak akan mengumpulkan umatku kecuali di atas petunjuk.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/145)).

Dari seseorang, dia berkata: Aku sampai bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda,

(أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيۡكُمۡ بِالۡجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمۡ وَالۡفُرۡقَةَ، أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيۡكُمۡ بِالۡجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمۡ وَالۡفُرۡقَةَ) ثَلَاثَ مِرَارٍ.

“Wahai sekalian manusia, wajib bagi kalian untuk bersama al-jama’ah dan waspadalah kalian dari perpecahan. Wahai sekalian manusia, wajib bagi kalian untuk bersama al-jama’ah dan waspadalah kalian dari perpecahan.” Tiga kali. (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad (5/371)).

Tidak diketahuinya keadaan seseorang tidak berbahaya karena orang itu adalah sahabat. Semua sahabat Nabi adalah orang-orang yang adil secara ijmak. Semoga Allah meridai mereka semua.

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيۡطَانَ ذِئۡبُ الۡإِنۡسَانِ كَذِئۡبِ الۡغَنَمِ، يَأۡخُذُ الشَّاهَ الۡقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ، فَإِيَّاكُمۡ وَالشِّعَابَ، وَعَلَيۡكُمۡ بِالۡجَمَاعَةِ، وَالۡعَامَّةِ، وَالۡمَسۡجِدِ.

“Sesungguhnya setan adalah serigala bagi manusia, seperti serigala terhadap kambing. Dia memangsa kambing yang menjauh menyepi. Waspadalah kalian dari kelompok-kelompok sempalan.  Wajib bagi kalian untuk bersama al-jama’ah, kebanyakan kaum muslimin, dan masjid.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (5/233, 243)).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَاةُ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي قَبۡلَهَا كَفَّارَةٌ، وَالۡجُمۡعَةُ إِلَى الۡجُمۡعَةِ الَّتِي قَبۡلَهَا كَفَّارَةٌ، وَالشَّهۡرُ – (الۡمَقۡصُودُ بِالشَّهۡرِ هُنَا “شَهۡرُ رَمَضَانَ” كَمَا فِي الرِّوَايَةِ الۡأُخۡرَى) – إِلَى الشَّهۡرِ الَّذِي قَبۡلَهُ كَفَّارَةٌ، إِلَّا مِنۡ ثَلَاثٍ – قَالَ: فَعَرَفۡنَا أَنَّهُ أَمۡرٌ حَدَثٌ -: إِلَّا مِنَ الشِّرۡكِ بِاللهِ، وَنَكۡثِ الصَّفۡقَةِ، وَتَرۡكِ السُّنَّةِ. – قَالَ: – أَمَّا نَكۡثُ الصَّفۡقَةِ: فَأَنۡ تُعۡطِيَ رَجُلًا بَيۡعَتَكَ ثُمَّ تُقَاتِلَهُ بِسَيۡفِكَ، وَأَمَّا تَرۡكُ السُّنَّةِ: فَالۡخُرُوجُ مِنَ الۡجَمَاعَةِ.

“Salat hingga salat sebelumnya adalah kafarat. Jumat hingga Jumat sebelumnya adalah kafarat. Bulan (yang dimaksud bulan di sini adalah bulan Ramadan sebagaimana dalam riwayat yang lain) hingga bulan (Ramadan) sebelumnya adalah kafarat. Kecuali dari tiga hal—beliau berkata: Kami mengetahui bahwa ini adalah perkara yang baru—. Kecuali dari syirik kepada Allah, membatalkan baiat, dan meninggalkan sunah. Beliau berkata: Adapun membatalkan baiat adalah engkau memberikan baiatmu kepada seseorang lalu engkau memeranginya dengan pedangmu. Adapun meninggalkan sunah adalah keluar dari al-jama’ah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (2/229), (2/506)).

Karena di dalam perbuatan menyempal dari al-jama’ah ada kerusakan yang meluas, maka Allah Pembuat syariat Yang Maha Bijaksana menjadikan hukum bunuh sebagai hukuman bagi siapa saja yang memisahkan diri dari al-jama’ah. Dari ‘Arfajah Al-Asyja’i, beliau berkata: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar berkhotbah kepada orang-orang dan bersabda,

إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعۡدِي هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ، فَمَنۡ رَأَيۡتُمُوهُ فَارَقَ الۡجَمَاعَةَ، أَوۡ يُرِيدُ يُفَرِّقُ أَمۡرَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ كَائِنًا مَنۡ كَانَ فَاقۡتُلُوهُ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الۡجَمَاعَةِ، فَإِنَّ الشَّيۡطَانَ مَعَ مَنۡ فَارَقَ الۡجَمَاعَةَ يَرۡكُضُ.

“Sesungguhnya akan ada sepeninggalku kerusakan demi kerusakan. Siapa saja yang kalian lihat dia memecah belah al-jama’ah atau dia ingin memecah belah urusan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam siapa pun dia, maka bunuhlah dia (di bawah perintah penguasa). Sesungguhnya tangan Allah di atas al-jama’ah dan sesungguhnya setan berlari bersama siapa saja yang memecah belah al-jama’ah.”

Diriwayatkan oleh Muslim nomor 1852 dan Abu Dawud nomor 4762 bab tentang membunuh khawarij. Disimpulkan dari pembuatan bab oleh Abu Dawud pada hadis ini bahwa siapa saja yang memecah belah al-jama’ah, maka dia adalah seorang khawarij.

Diriwayatkan pula oleh An-Nasa`i nomor 4020 dan redaksi ini miliknya. An-Nasa`i membuat bab pada hadis ini dalam kitabnya dengan judul pengharaman darah seorang muslim dari kitab Sunan beliau, bab hukuman bunuh bagi siapa saja yang memecah belah al-jama’ah.

Lalu apa pendapatmu dengan orang yang memecah belah al-jama’ah sekaligus bergabung dengan musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang musyrik di negeri mereka. Dia menyatakan bahwa dia menolong agama Allah dengan itu. Apa pula pendapatmu dengan yang dia sebarkan yang berisi celaan kepada para ulama dan penghinaan kepada orang yang memuliakan para pemimpin. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنۡ جَامَعَ الۡمُشۡرِكَ وَسَكَنَ مع فَإِنَّهُ مِثۡلُهُ.

“Siapa saja yang berkumpul dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya, maka sungguh orang itu semisal dengannya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Sunan beliau dari hadis Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu nomor 2787.

وقال ﷺ: (“أَنَا بَرِيءٌ مِنۡ كُلِّ مُسۡلِمٍ يُقِيمُ بَيۡنَ أَظۡهُرِ الۡمُشۡرِكِينَ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ ؟. قَالَ: “لَا تَرَاءَى نَارَاهُمَا”).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di tengah-tengah kaum musyrikin.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa?”

Beliau menjawab, “Agar keduanya tidak saling melihat apinya.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 2645 dan At-Tirmidzi nomor 1604.

Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku mendengar Ahmad rahimahullahu ta’ala ditanya tentang makna: agar keduanya tidak saling melihat apinya. Maka beliau menjawab, “Janganlah engkau singgah di tempat orang-orang musyrik yang apabila engkau menyalakan api, mereka akan melihat apimu. Dan apabila mereka menyalakan api, maka engkau bisa melihat api mereka. Akan tetapi menjauhlah dari mereka.”

Jarir bin ‘Abdullah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata,

بَايَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ، وَعَلَى فِرَاقِ الۡمُشۡرِكِينَ.

“Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan salat, memberikan zakat, memberikan nasihat kepada setiap muslim dan kelompok-kelompok kaum musyrikin.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad beliau (4/365), An-Nasa`i (7/148), dan Al-Baihaqi (9/13).

Syekh Al-‘Allamah Hamud bin ‘Abdullah At-Tuwaijiri rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Ikhwan halaman 27 berkata, “Telah datang larangan berkumpul dengan orang-orang musyrik dan tempat-tempat tinggal mereka di kampung-kampung mereka. Juga ada ancaman keras atas hal itu. Karena berkumpul dengan mereka dan tempat tinggal mereka termasuk sebab terbesar yang menimbulkan loyalitas dan kecintaan kepada mereka. Hadis-hadis tentang itu ada banyak.” Kemudian syekh membawakan beberapa hadis kemudian mengatakan, “Hendaknya kaum muslimin yang tinggal bersama musuh-musuh Allah taala itu merenungi hadis-hadis ini dan hendaknya mereka memberikan haknya dengan mengamalkan hadis tersebut. Allah taala berfirman,

فَبَشِّرۡ عِبَادِ. الَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُ أُوۡلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُوۡلَئِكَ هُمۡ أُوۡلُوا الۡأَلۡبَابِ

Berilah kabar gembira kepada para hamba itu. Yaitu orang-orang yang menyimak ucapan lalu mengikuti yang terbaik. Mereka inilah orang-orang yang Allah beri petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memiliki ilmu. (QS. Az-Zumar: 17-18).” Selesai.

[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi nomor 2641, Al-Lalika`i dalam Syarh I’tiqad Ahlis Sunnah nomor 147, Dan Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah nomor 23 dan 24, Al-Marwazi dalam As-Sunnah nomor 60, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (264, 165) dari hadis ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.

Dalam sanadnya ada rawi ‘Abdurrahman bin Ziyad Al-Afriqi: Dia daif. Tetapi hadis ini bisa sahih dengan pendukung-pendukungnya. Di antaranya:

  1. Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad beliau (2/332), Abu Dawud nomor 4596, At-Tirmidzi nomor 2640, Ibnu Majah nomor 3991, Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah nomor 21 dan 22, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (252), Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah nomor 66, Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (1/128) dan beliau berkata, “Ini adalah hadis sahih sesuai syarat Muslim, namun Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabi menyepakatinya. Ibnu Hibban menilainya sahih nomor 2614. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la Al-Maushili dalam Musnad beliau (541-542) dan Al-Marwazi dalam As-Sunnah nomor 59.
  2. Hadis Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma: Diriwayatkan oleh Ahmad (4/201), Abu Dawud nomor 4597, Abu Dawud Ath-Thayalisi nomor 2754, Ad-Darimi nomor 2518, Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah nomor 150, Ibnu Abu ‘Ashim nomor 1 dan 65, Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah nomor 29, Al-Marwazi dalam As-Sunnah hadis nomor 51 dan 52, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra nomor 266, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (19/884-885).
  3. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Ahmad (3/120, 145), Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah nomor 25, 26, dan 27, Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah nomor 148, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (269, 270, 271), Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah nomor 64.
  4. Hadis ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 3992, Al-Bazzar nomor 172, Al-Lalikai nomor 149, Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah nomor 63, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra nomor 272, dan Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (4/430).
  5. Hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsir beliau (27/239), Ath-Thabarani dalam Al-Kabir nomor 10375, 10531, Ibnu Abu ‘Ashim nomor 70-71, Al-Marwazi dalam As-Sunnah halaman 16.
  6. Hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah nomor 151-152, Al-Marwazi dalam As-Sunnah nomor 56 dan 57, Ibnu Abu ‘Ashim nomor 68, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (8035-8051), Al-Baihaqi (8/88).
  7. Hadis ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Al-Marwazi dalam As-Sunnah nomor 61 dan 62, Ibnu Wadhdhah halaman 85, Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (274-275).
  8. Hadis Sa’d bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (263, 266, 267), Al-Marwazi dalam As-Sunnah nomor 58, dan Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah nomor 28. Dalam sanadnya ada Musa bin ‘Abidah Ar-Rabadzi: Dia daif.

[3] Diriwayatkan oleh Ahmad (3/338 & 387), Ad-Darimi (1/115), Al-Bazzar (124) dari hadis Jabir bin ‘Abdullah. Poros sanadnya pada Mujalid bin Sa’id dan dia daif.

Syu’aib berkata dalam As-Sair (13/324): Tetapi hadis ini diperkuat oleh pendukungnya. Di antaranya:

  • Hadis ‘Abdullah bin Tsabit riwayat Ahmad (3/470-471). Di dalam sanadnya ada Jabir Al-Ju’fi dan dia daif.
  • Hadis ‘Umar riwayat Abu Ya’la. Dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Ishaq Al-Wasithi.
  • Hadis ‘Uqbah bin ‘Amir riwayat Ar-Ruyani dalam Musnad beliau (9, 50, 2). Dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah.
  • Hadis Abu Ad-Darda` riwayat Ath-Thabarani dalam Al-Kabir.

Selesai. Lihat Majma’ Az-Zawaid (1/173-174).

Syekh Hafizh Al-Hakami dalam Al-Jauharah Al-Faridah berkata:

وَكَانَ بِعۡثَتُهُ لِلۡخَلۡقِ قَاطِبَةً    وَشَرۡعُهُ شَامِلٌ لَمۡ يَعۡدُهُ أَحَدُ

وَلَمۡ يَسَعۡ أَحَدًا عَنۡهَا الۡخُرُوجُ وَلَوۡ    كَانَ النَّبِيُّونَ أَحۡيَاءً لَهَا قَصَدُوا

Beliau (Nabi Muhammad) diutus untuk seluruh makhluk, syariatnya sempurna tidak ada satu pun yang terlewatkan. Tidak boleh seorang pun untuk keluar (dari syariat ini), andai para nabi (sebelum beliau) hidup, niscaya mereka akan mengikuti syariat ini.

[4] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad beliau (6/180, 146, 256).

Juga diriwayatkan oleh:

  • Al-Bukhari dengan redaksi ini secara mu’allaq (13/391) dalam kitab Al-I’tisham,
  • Muslim dalam kitab Shahih-nya nomor 1718,
  • Al-Bukhari secara bersambung dalam Khalq Af’al Al-‘Ibad halaman 43,
  • Abu ‘Awanah (4/18-19),
  • Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (1422)

Dari hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Diriwayatkan pula dengan redaksi, “Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini, apa saja yang bukan termasuk bagiannya, maka hal itu tertolak.” Oleh:

  • Imam Ahmad (6/240, 270),
  • Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara bersambung nomor 2697,
  • Muslim nomor 1718,
  • Abu Dawud nomor 4606,
  • Ibnu Majah nomor 14,
  • Abu ‘Awanah (4/18),
  • Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah 103,
  • Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah nomor 52-53,
  • Al-Baihaqi (10/119),
  • Ad-Daraqathni (4/224, 225, 227),
  • Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (148) dengan redaksi, “Siapa saja yang melakukan perkara dalam agama kami yang tidak dibolehkan, maka itu tertolak.”
  • Ahmad dalam Musnad beliau (6/173) dengan redaksi, “Siapa saja yang membuat suatu perkara ibadah tanpa perintah kami, maka itu tertolak.”
Read More

Jahmiyyah

23 Oktober 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah mengatakan,

الۡفِرۡقَةُ الرَّابِعَةُ: الۡجَهۡمِيَّةُ

Firkah keempat: Jahmiyyah

“الۡجَهۡمِيَّةُ”، وَمَا أَدۡرَاكَ مَالۡجَهۡمِيَّةُ؟!!

Jahmiyyah, apakah engkau tahu apa Jahmiyyah itu?

“الۡجَهۡمِيَّةُ”: نِسۡبَةً إِلَى “الۡجَهۡمِ بۡنِ صَفۡوَانَ”، الَّذِي تَتَلَّمَذَ عَلَى “الۡجَعۡدِ بۡنِ دِرۡهَمٍ”، وَ “الۡجَعۡدُ بۡنِ دِرۡهَمٍ” تَتَلَّمَذَ عَلَى “طَالُوتَ”، وَ “طَالُوتُ” تَتَلَّمَذَ عَلَى “لَبِيدِ بۡنِ الۡأَعۡصَمِ” الۡيَهُودِيِّ؛ فَهُمۡ تَلَامِيذُ الۡيَهُودِ.

Jahmiyyah adalah suatu penyandaran kepada Al-Jahm bin Shafwan yang berguru kepada Al-Ja’d bin Dirham yang berguru kepada Thalut. Thalut berguru kepada Labid bin Al-A’sham seorang Yahudi. Jadi mereka adalah murid-murid Yahudi.

وَمَا هُوَ “مَذۡهَبُ الۡجَهۡمِيَّةِ”؟

Apakah mazhab Jahmiyyah itu?

“مَذۡهَبُ الۡجَهۡمِيَّةِ”: أَنَّهُمۡ لَا يُثۡبِتُونَ لِلهِ اسۡمًا وَلَا صِفَةً، وَيَزۡعُمُونَ أَنَّهُ ذَاتٌ مُجَرَّدةٌ عَنِ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ؛ لِأَنَّ إِثۡبَاتَ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ – بِزَعۡمِهِمۡ – يَقۡتَضِي الشِّرۡكَ، وَتَعَدُّدَ الۡآلِهَةِ – كَمَا يَقُولُونَ -.

Mazhab Jahmiyyah adalah mereka tidak menetapkan bahwa Allah memiliki suatu nama atau sifat apapun. Mereka menyatakan bahwa Allah hanya zat yang terlepas dari nama-nama dan sifat-sifat. Karena penetapan nama dan sifat menurut anggapan mereka berkonsekuensi kesyirikan dan berbilangnya sesembahan sebagaimana yang mereka katakan.

هَٰذِهِ شُبۡهَتُهُمۡ اللَّعِينَةُ.

Inilah syubhat mereka yang terlaknat.

وَلَا نَدۡرِي مَاذَا يَقُولُونَ فِي أَنۡفُسِهِمۡ؟ فَالۡوَاحِدُ مِنۡهُمۡ يُوصَفُ بِأَنَّهُ عَالِمٌ، وَبِأَنَّهُ غَنِيٌّ، وَبِأَنَّهُ صَانِعٌ، وَبِأَنَّهُ تَاجِرٌ، فَالۡوَاحِدُ مِنۡهُمۡ لَهُ عِدَّةُ صِفَاتٍ، هَلۡ مَعۡنَى ذٰلِكَ أَنۡ يَكُونَ عِدَّةَ أَشۡخَاصٍ؟!

Kita tidak tahu apa yang mereka katakan terhadap diri-diri mereka sendiri. Satu orang dari mereka disifati bahwa dia orang alim, orang kaya, produsen, dan pedagang. Jadi satu orang dari mereka memiliki beberapa sifat. Apakah itu maknanya bahwa dia adalah banyak orang?!

هَٰذِهِ مُكَابَرَةٌ لِلۡعُقُولِ؛ فَلَا يَلۡزَمُ مِنۡ تَعَدُّدِ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ تَعَدُّدَ الۡآلِهَةِ، وَلِهَٰذَا لَمَّا قَالَ الۡمُشۡرِكُونَ مِنۡ قَبۡلُ لَمَّا سَمِعُوا النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: يَا رَحۡمَٰنُ، يَا رَحِيمُ قَالُوا: هَٰذَا يَزۡعُمُ أَنَّهُ يَعۡبُدُ إِلَٰهًا وَاحِدًا، وَهُوَ يَدۡعُو آلِهَةً مُتَعَدِّدَةً، فَأَنۡزَلَ اللهُ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – قَوۡلَهُ: ﴿قُلِ ٱدۡعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُوا۟ ٱلرَّحۡمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدۡعُوا۟ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ ۚ﴾

Ini bertentangan dengan akal-akal. Tidak mesti banyak nama dan sifat mengharuskan banyaknya sesembahan. Karena ini, ketika orang-orang musyrik dahulu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang.” Mereka berkata, “Orang ini menyatakan dia menyembah tuhan yang esa, namun dia menyeru banyak sesembahan.” Maka Allah subhanahu wa taala menurunkan firman-Nya, “Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih. Mana saja yang engkau seru, maka milik Dialah nama-nama yang paling indah.” (QS. Al-Isra`: 110) (Tafsir Ibnu Katsir 4/359).

فَأَسۡمَاءُ اللهِ كَثِيرَةٌ، هِيَ تَدُلُّ عَلَى كَمَالِهِ وَعَظَمَتِهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – لَا تَدُلُّ عَلَى تَعَدُّدِّ الۡآلِهَةِ – كَمَا يَقُولُونَ – بَلۡ تَدُلُّ عَلَى الۡعَظَمَةِ، وَعَلَى الۡكَمَالِ.

Jadi nama-nama Allah ada banyak. Hal itu menunjukkan kesempurnaan dan keagungan-Nya subhanahu wa taala. Bukan menunjukkan berbilangnya sesembahan sebagaimana yang mereka katakan. Bahkan ini menunjukkan keagungan dan kesempurnaan.

أَمَّا الذَّاتُ الۡمُجَرَّدَةُ الَّتِي لَيۡسَ لَهَا صِفَاتٌ فَهَٰذِهِ لَا وُجُودَ لَهَا، مُسۡتَحِيلٌ يُوجَدُ شَيۡءٌ وَلَيۡسَ لَهُ صِفَاتٌ، أَبَدًا، وَلَوۡ عَلَى الۡأَقَلِّ صِفَةُ الۡوُجُودِ.

Adapun zat semata yang tidak memiliki sifat-sifat, maka ini adalah sesuatu yang tidak ada wujudnya. Mustahil ditemukan ada suatu zat namun tidak memiliki sifat-sifat. Selama-lamanya. Minimalnya ada sifat wujud.

وَمِنۡ شُبَهِهِمۡ: “أَنَّ إِثۡبَاتَ الصِّفَاتِ يَقۡتَضِي التَّشۡبِيهَ؛ لِأَنَّ هَٰذِهِ الصِّفَاتِ يُوجَدُ مِثۡلُهَا فِي الۡمَخۡلُوقِينَ”.

Di antara syubhat mereka adalah bahwa penetapan sifat-sifat mengakibatkan penyerupaan, karena sifat-sifat ini didapati yang semisalnya pada makhluk-makhluk.

وَهَٰذَا قَوۡلٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ صِفَاتِ الۡخَالِقِ تَلِيقُ بِهِ، وَصِفَاتِ الۡمَخۡلُوقِينَ تَلِيقُ بِهِمۡ؛ فَلَا تَشَابُهَ.

Ini adalah pendapat yang batil, karena sifat-sifat Sang Pencipta sesuai untuk-Nya dan sifat-sifat makhluk sesuai untuk mereka, sehingga tidak ada penyerupaan.

وَ “الۡجَهۡمِيَّةُ” جَمَعُوا إِلَى ضَلَالِهِمۡ فِي الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ الۡجَبۡرَ فِي الۡقَدۡرِ؛ لِأَنَّ “الۡجَهۡمِيَّةَ” يَقُولُونَ: “إِنَّ الۡعَبۡدَ لَيۡسَ لَهُ مَشِيئَةٌ، وَلَيۡسَ لَهُ اخۡتِيَارٌ، وَإِنَّمَا هُوَ مُجۡبَرٌ عَلَى أَفۡعَالِهِ”.

Jahmiyyah mengumpulkan paham Jabriyyah dalam hal takdir ke dalam kesesatan mereka dalam hal nama-nama dan sifat-sifat. Karena Jahmiyyah berpendapat bahwa seorang hamba tidak memiliki kemauan dan usaha. Hamba hanyalah dipaksa dalam perbuatan-perbuatannya.

وَمَعۡنَى هَٰذَا: أَنَّهُ إِذَا عُذِّبَ عَلَى الۡمَعۡصِيَةِ يَكُونُ مَظۡلُومًا؛ لِأنَّها لَيۡسَتۡ فِعۡلَهُ، وَإِنَّمَا هُوَ مُجۡبَرٌ عَلَيۡهَا – كَمَا يَقُولُونَ – تَعَالَى اللهُ عَنۡ ذٰلِكَ.

Maknanya adalah apabila hamba itu diazab karena kemaksiatannya, maka dia menjadi dizalimi, karena kemaksiatan itu bukan perbuatannya. Dia dipaksa melakukannya—sebagaimana yang mereka katakan—Mahatinggi Allah dari hal itu.

فَهُمۡ جَمَعُوا بَيۡنَ “الۡجَبۡرِ فِي الۡقَدۡرِ”، وَبَيۡنَ “التَّجَهُّمِ فِي الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ”، وَجَمَعُوا إِلَى ذٰلِكَ “الۡقَوۡلَ بِالۡإِرۡجَاءِ”، وَأَضَافُوا إِلَى ذٰلِكَ “الۡقَوۡلَ بِخَلۡقِ الۡقُرۡآنِ” ﴿ظُلُمَـٰتٌۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ﴾.

Sehingga mereka mengumpulkan antara paham Jabriyyah dalam masalah takdir dengan paham Jahmiyyah dalam hal nama dan sifat. Lalu mereka mengumpulkan pemahaman Murji`ah ke dalam kesesatan mereka. Lalu mereka menambahkan pemahaman bahwa Alquran adalah makhluk ke dalam kesesatan mereka. “Banyak kegelapan, sebagiannya di atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nur: 40).

قَالَ ابۡنُ الۡقَيِّمِ:

جِــيمٌ وَجِــيمٌ ثُمَّ جِــيمٌ مَعۡهُمَــا    مَقۡرُونَــةً مَعۡ أَحۡـرُفٍ بِـوِزَانِ

جَبۡــرٌ وإِرۡجَــاءٌ وَجِــيمُ تَجَهُّـــمٍ   فَتَأَمَّـلِ الۡمَجۡمُوعَ في الۡمِيـزَانِ

فَــاحۡكُمۡ بِطَالِعِهـا لِمَنۡ حَـصُلَتۡ  بِخلَاصِـهِ مِنۡ رِبۡقَـةِ الۡإِيمَـانِ

Ibnu Al-Qayyim berkata (yang maknanya), “Huruf jim dan jim kemudian jim bersamaan disertai beberapa huruf lainnya. Yaitu jabr (pemahaman Jabriyyah), irja` (pemahaman Murji`ah), dan huruf jimnya tajahhum (pemahaman Jahmiyyah). Apabila ketiga pemahaman ini ada pada diri seseorang, maka dia terlepas dari ikatan keimanan.” (Nuniyyah Ibnu Al-Qayyim halaman 115).

يَعۡنِي: جَمَعُوا بَيۡنَ “جَبۡرٍ” وَ “تَجَهُّمٍ” وَ “إِرۡجَاءٍ”، ثَلَاثُ جِيمَاتٍ، وَالۡجِيمُ الرَّابِعَةُ جِيمُ جَهَنَّمَ.

الۡحَاصِلُ: أَنَّ هَٰذَا “مَذۡهَبَ الۡجَهۡمِيَّةِ”، وَالَّذِي اشۡتَهَرَ فِيهِ نَفۡيُ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ عَنِ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – انۡشَقَّ عَنۡهُ “مَذۡهَبُ الۡمُعۡتَزِلَةِ”، وَ “مَذۡهَبُ الۡأَشَاعِرَةِ”، وَ “مَذۡهَبُ الۡمَاتُرِيدِيَّةِ”.

Yakni mereka mengumpulkan antara Jabriyyah, Jahmiyyah, dan Murji`ah. Tiga huruf jim. Huruf jim keempat adalah huruf jim Jahannam (neraka Jahanam).

Kemudian mazhab Jahmiyyah ini dan mazhab yang dikenal dengan meniadakan nama dan sifat dari Allah subhanahu wa taala, terpecah darinya mazhab Mu’tazilah, mazhab Asy’ariyyah, dan mazhab Maturidiyyah.

وَ “مَذۡهَبُ الۡمُعۡتَزِلَةِ”: أَنَّهُمۡ أَثۡبَتُوا الۡأَسۡمَاءَ وَنَفَوۡا الصِّفَاتِ، لَكِنۡ أَثۡبَتُوا أَسۡمَاءً مُجَرَّدَةً، مُجَرَّدَ أَلۡفَاظٍ لَا تَدُلُّ عَلَى مَعَانٍ وَلَا صِفَاتٍ.

سُمُّوا “بِالۡمُعۡتَزِلَةِ”: لِأَنَّ إِمَامَهُمۡ “وَاصِلَ بۡنَ عَطَاءٍ” كَانَ مِنۡ تَلَامِيذِ الۡحَسَنِ الۡبَصۡرِيِّ – رَحِمَهُ اللهُ -، الۡإِمَامَ التَّابِعِيَّ الۡجَلِيلَ، فَلَمَّا سُئِلَ الۡحَسَنُ الۡبَصۡرِيُّ عَنۡ مُرۡتَكِبِ الۡكَبِيرَةِ، مَا حُكۡمُهُ؟ فَقَالَ بِقَوۡلِ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ: “إِنَّهُ مُؤۡمِنٌ نَاقِصُ الۡإِيمَانِ، مُؤۡمِنٌ بِإِيمَانِهِ فَاسِقٌ بِكَبِيرَتِهِ”.

Mazhab Mu’tazilah menetapkan nama-nama, namun menafikan sifat-sifat. Akan tetapi mereka menetapkan nama-nama belaka. Hanya kata-kata yang tidak menunjukkan kepada suatu makna atau sifat.

Mereka dinamai Mu’tazilah karena imam mereka, yaitu Washil bin ‘Atha`, dahulunya termasuk murid Al-Hasan Al-Bashri, seorang imam tabiin yang mulia. Ketika Al-Hasan Al-Bashri ditanya tentang hukum untuk pelaku dosa besar, beliau menjawab dengan pendapat ahli sunah waljamaah, “Bahwa dia seorang mukmin yang kurang imannya. Mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya.”

فَلَمۡ يَرۡضَ “وَاصِلُ بۡنُ عَطَاءٍ” بِهَٰذَا الۡجَوَابِ مِنۡ شَيۡخِهِ؛ فَاعۡتَزَلَ وَقَالَ: “لَا. أَنَا أَرَى أَنَّهُ لَيۡسَ بِمُؤۡمِنٍ وَلَا كَافِرٍ، وَأَنَّهُ فِي الۡمَنۡزِلَةِ بَيۡنَ الۡمَنۡزِلَتَيۡنِ”. وَانۡشَقَّ عَنۡ شَيۡخِهِ – الۡحَسَنِ – وَصَارَ فِي نَاحِيَةِ الۡمَسۡجِدِ، وَاجۡتَمَعَ عَلَيۡهِ قَوۡمٌ مِنۡ أَوۡبَاشِ النَّاسِ وَأَخَذُوا بِقَوۡلِهِ.

وَهَٰكَذَا دُعَاةُ الضَّلَالِ فِي كُلِّ وَقۡتٍ، لَا بُدَّ أَنۡ يَنۡحَازَ إِلَيۡهِمۡ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، هَٰذِهِ حِكۡمَةٌ مِنَ اللهِ.

تَرَكُوا مَجۡلِسَ الۡحَسَنِ، شَيۡخِ أَهۡلِ السُّنَّةِ، الَّذِي مَجۡلِسُهُ مَجۡلِسُ الۡخَيۡرِ، وَمَجۡلِسُ الۡعِلۡمِ، وَانۡحَازُوۡا إِلَى مَجۡلِسِ “الۡمُعۡتَزِلِيِّ: وَاصِلِ بۡنِ عَطَاءٍ” الضَّالِّ الۡمُضِلِّ.

Washil bin ‘Atha` tidak puas dengan jawaban dari gurunya ini. Lalu dia pun menjauhkan diri seraya berkata, “Tidak. Aku berpendapat bahwa dia bukan mukmin, bukan pula kafir, dan bahwa dia di satu kedudukan di antara dua kedudukan.”

Lalu dia memisahkan diri dari gurunya, yaitu Al-Hasan, dan mengambil tempat di sudut masjid. Lalu orang-orang dari kalangan manusia yang hina mengerumuninya dan mengambil pendapatnya.

Demikianlah para dai kesesatan di setiap waktu. Pasti banyak orang akan bergabung dengan mereka. Ini adalah suatu hikmah dari Allah. Mereka meninggalkan majelis Al-Hasan, ulama ahli sunah. Yang mana majelis beliau adalah majelis kebaikan dan majelis ilmu. Lalu mereka bergabung kepada majelis pengusung bidah Mu’tazilah, Washil bin ‘Atha`, seorang yang sesat dan menyesatkan.

وَلَهُمۡ أَشۡبَاهٌ فِي زَمَانِنَا، يَتۡرُكُونَ عُلَمَاءَ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَيَنۡحَازُونَ إِلَى أَصۡحَابِ الۡفِكۡرَةِ الۡمُنۡحَرِفِ.

Mereka memiliki keserupaan dengan orang-orang di zaman kita. Mereka meninggalkan para ulama ahli sunah waljamaah dan bergabung kepada pengusung pemikiran yang menyimpang.[1]

وَمِنۡ ذٰلِكَ الۡوَقۡتِ سُمُّوا “بِالۡمُعۡتَزِلَةِ”، لِأَنَّهُمۡ اعۡتَزَلُوا أَهۡلَ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ؛ فَصَارُوا يَنۡفُونَ الصِّفَاتِ عَنِ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -، وَيُثۡبِتُونَ لَهُ أَسۡمَاءً مُجَرَّدَةً، وَيَحۡكُمُونَ عَلَى مُرۡتَكِبِ الۡكَبِيرَةِ بِمَا حَكَمَتۡ بِهِ “الۡخَوَارِجُ”: (أَنَّهُ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ)، لَكِنۡ اخۡتَلَفُوا عَنِ “الۡخَوَارِجِ” فِي الدُّنۡيَا، وَقَالُوا: (إِنَّهُ يَكُونُ بِالۡمَنۡزِلَةِ بَيۡنَ الۡمَنۡزِلَتَيۡنِ، لَيۡسَ بِمُؤۡمِنٍ وَلَا كَافِرٍ).

بَيۡنَمَا “الۡخَوَارِجُ” يَقُولُونَ: (كَافِرٌ).

يَا سُبۡحَانَ اللهِ! هَلۡ يُعۡقَلُ أنَّ الۡإِنۡسَانَ لَا يَكُونُ مُؤۡمِنًا وَلَا كَافِرًا؟!

وَاللهُ – تَعَالَى – يَقُولُ: ﴿هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ فَمِنكُمۡ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤۡمِنٌ ۚ﴾.

مَا قَالَ: وَمِنۡكُمۡ مَنۡ هُوَ بِالۡمَنۡزِلَةِ بَيۡنَ الۡمَنۡزِلَتَيۡنِ. لَكِنۡ هَلۡ هَٰؤُلَاءِ يَفۡقَهُونَ؟!

Sejak saat itu mereka dinamai Mu’tazilah karena mereka i’tazala (menjauhi) ahli sunah waljamaah. Mereka menafikan sifat-sifat dari Allah subhanahu wa taala dan menetapkan nama-nama saja untuk-Nya. Mereka menghukumi pelaku dosa besar dengan hukum yang ditetapkan oleh Khawarij bahwa pelaku dosa besar dikekalkan di dalam neraka. Akan tetapi mereka menyelisihi Khawarij tentang hukum di dunia. Mereka berkata, “Pelaku dosa besar berada di salah satu dari dua kedudukan. Bukan mukmin, bukan pula kafir.” Sementara Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Mahasuci Allah.

Apa masuk akal bahwa seseorang bukan mukmin dan bukan kafir?! Padahal Allah taala berfirman yang artinya, “Dialah yang menciptakan kalian. Maka, sebagian kalian ada yang kafir dan sebagian kalian ada yang mukmin.” (QS. At-Taghabun: 2).

Allah tidak mengatakan, “Sebagian kalian ada yang di salah satu dari dua kedudukan.” Akan tetapi apakah mereka itu tidak memahami?!

ثُمَّ تَفَرَّعَ عَنۡ “مَذۡهَبِ الۡمُعۡتَزِلَةِ” “مَذۡهَبُ الۡأَشَاعِرَةِ”.

وَ “الۡأَشَاعِرَةُ”: يُنۡسَبُونَ إِلَى “أَبِي الۡحَسَنِ الۡأَشۡعَرِيِّ” – رَحِمَهُ اللهُ -.

وَكَانَ أَبُو الۡحَسَنِ الۡأَشۡعَرِيُّ مُعۡتَزِلِيًّا، ثُمَّ مَنَّ اللهُ عَلَيۡهِ، وَعَرَفَ بُطۡلَانَ مَذۡهَبِ الۡمُعۡتَزِلَةِ، فَوَقَفَ فِي الۡمَسۡجِدِ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ وَأَعۡلَنَ بَرَاءَتَهُ مِنۡ مَذۡهَبِ الۡمُعۡتَزِلَةِ، وَخَلَعَ ثَوۡبًا عَلَيۡهِ وَقَالَ: (خَلَعۡتُ مَذۡهَبَ الۡمُعۡتَزِلَةِ، كَمَا خَلَعۡتُ ثَوۡبِي هَٰذَا). لَكِنَّهُ صَارَ إِلَى “مَذۡهَبِ الۡكُلَّابِيَّةِ”: أَتۡبَاعِ “عَبۡدِ اللهِ بۡنِ سَعِيدِ بۡنِ كُلَّابٍ”.

Kemudian dari mazhab Mu’tazilah bercabang mazhab Asya’irah. Asya’irah disandarkan kepada Abu Al-Hasan Al-Asy’ari rahimahullah. Dahulu Abu Al-Hasan Al-Asy’ari adalah seorang penganut pemahaman Mu’tazilah kemudian Allah memberi karunia kepada beliau sehingga beliau mengetahui kebatilan mazhab Mu’tazilah.

Beliau berdiri di masjid pada hari Jumat dan mengumumkan berlepas diri dari mazhab Mu’tazilah. Beliau menanggalkan satu pakaian beliau seraya berkata, “Aku melepaskan mazhab Mu’tazilah sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini.”

Akan tetapi beliau berpindah ke mazhab Kullabiyyah, pengikut ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab.

وَ “عَبۡدُ اللهِ بۡنُ سَعِيدِ بۡنِ كُلَّابٍ”: كَانَ يُثۡبِتُ سَبۡعَ صِفَاتٍ، وَيَنۡفِي مَا عَدَاهَا، يَقُولُ: (لِأنَّ الۡعَقۡلَ لَا يَدُلُّ إِلَّا عَلَى سَبۡعِ صِفَاتٍ فَقَطۡ: “الۡعِلۡمُ”، وَ “الۡقُدۡرَةُ”، وَ “الۡإِرَادَةُ”، وَ “الۡحَيَاةُ”، وَ “السَّمۡعُ”، وَ “الۡبَصَرُ”، وَ “الۡكَلَامُ”) يَقُولُ: (هَٰذِهِ دَلَّ عَلَيۡهَا الۡعَقۡلُ، أَمَّا مَا لَمۡ يَدُلُّ عَلَيۡهِ الۡعَقۡلُ – عِنۡدَهُ – فَلَيۡسَ بِثَابِتٍ).

‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab menetapkan tujuh sifat dan menafikan sifat selainnya. Dia katakan, “Karena akal tidak menunjukkan kecuali hanya tujuh sifat, yaitu: ilmu, kemampuan, keinginan, kehidupan, pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan.”

Dia katakan pula, “Tujuh sifat ini telah ditunjukkan oleh akal. Adapun sifat yang tidak ditunjukkan oleh akal—menurutnya—maka sifat itu tidak ditetapkan.”

ثُمَّ إِنَّ اللهَ مَنَّ عَلَى “أَبِي الۡحَسَنِ الۡأَشۡعَرِيِّ”، وَتَرَكَ “مَذۡهَبَ الۡكُلَّابِيَّةِ”، وَرَجَعَ إِلَى مَذۡهَبِ الۡإِمَامِ أَحۡمَدَ بۡنِ حَنۡبَلٍ، وَقَالَ: (أَنَا أَقُولُ بِمَا يَقُولُ بِهِ إِمَامُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ: إِنَّ اللهَ اسۡتَوَى عَلَى الۡعَرۡشِ، وَإِنَّ لَهُ يَدًا، وَإِنَّ لَهُ وَجۡهًا). ذَكَرَ هَٰذَا فِي كِتَابِهِ: “الۡإِبَانَةِ عَنۡ أُصُولِ الدِّيَانَةِ”، وَذَكَرَ هَٰذَا فِي كِتَابِهِ الثَّانِي: “مَقَالَاتِ الۡإِسۡلَامِيِّينَ وَاخۡتِلَافِ الۡمُصَلِّينَ” ذَكَرَ (أَنَّهُ عَلَى مَذۡهَبِ الۡإِمَامِ أَحۡمَدَ بۡنِ حَنۡبَلٍ). وَإِنۡ بَقِيَتۡ عِنۡدَهُ بَعۡضُ الۡمُخَالِفَاتِ.

وَلَكِنَّ أَتۡبَاعَهُ بَقَوۡا عَلَى “مَذۡهَبِ الۡكُلَّابِيَّةِ”؛ فَغَالِبُهُمۡ لَا يَزَالُونَ عَلَى مَذۡهَبِهِ الۡأَوَّلِ، وَلِذٰلِكَ يُسَممُّونَ “بِالۡأَشۡعَرِيَّةِ”: نِسۡبَةً إِلَى الۡأَشۡعَرِيِّ فِي مَذۡهَبِهِ الۡأَوَّلِ.

Kemudian sesungguhnya Allah memberi karunia kepada Abu Al-Hasan Al-Asy’ari sehingga meninggalkan mazhab Kullabiyah dan rujuk kepada mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dan beliau berkata, “Aku berpendapat dengan pendapat imam ahli sunah waljamaah Ahmad bin Hanbal bahwa Allah tinggi di atas arsy, Allah memiliki tangan, dan Allah memiliki wajah.”

Beliau menyebutkan ini di dalam kitabnya Al-Ibanah ‘an Ushul Ad-Diyanah dan beliau sebutkan pula di kitab kedua beliau Maqalat Al-Islamiyyah wa Ikhtilaf Al-Mushallin. Beliau sebutkan bahwa beliau sejalan dengan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Walaupun sebagian penyelisihan beliau masih tersisa.

Akan tetapi para pengikutnya bersikeras di atas mazhab Kullabiyah. Sebagian besar mereka masih terus berada di mazhab beliau yang pertama. Oleh karena itu mereka dinamakan Asya’irah mengacu kepada Al-Asy’ari ketika mazhabnya yang pertama.

أَمَّا بَعۡدَ أَنۡ رَجَعَ إِلَى مَذۡهَبِ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ؛ فَنِسۡبَةُ هَٰذَا الۡمَذۡهَبِ إِلَيۡهِ ظُلۡمٌ، وَالصَّوَابُ أَنۡ يُقَالَ: “مَذۡهَبُ الۡكُلَّابِيَّةِ”، لَا مَذۡهَبُ أَبِي الۡحَسَنِ الۡأَشۡعَرِيِّ – رَحِمَهُ اللهُ -؛ لِأَنَّهُ تَابَ مِنۡ هَٰذَا، وَصَنَّفَ فِي ذٰلِكَ كِتَابَهُ: “الۡإِبَانَةُ عَنۡ أُصُولِ الدِّيَانَةِ”، وَصَرَّحَ بِرُجُوعِهِ، وَتَمَسُّكِهِ بِمَا كَانَ عَلَيۡهِ أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ – خُصُوصًا الۡإِمَامُ: أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ -، وَإِنۡ كَانَتۡ عِنۡدَهُ بَعۡضُ الۡمُخَالِفَاتِ، مِثۡلُ قَوۡلِهِ فِي الۡكَلَامِ: (إِنَّهُ الۡمَعۡنَى النَّفسي الۡقَائِمُ بِالذَّاتِ، وَالۡقُرۡآنُ حِكَايَةٌ – أَوۡ عِبَارَةٌ – عَنۡ كَلَامِ اللهِ، لَا أَنَّهُ كَلَامُ اللهِ).

Adapun setelah beliau rujuk kepada mazhab ahli sunah waljamaah maka menyandarkan mazhab ini kepada beliau merupakan kezaliman. Yang benar mazhab ini dinamakan mazhab Kullabiyyah. Bukan mazhab Abu Al-Hasan Al-Asy’ari rahimahullah karena beliau telah tobat dari ini dan menulis hal itu dalam kitabnya Al-Ibanah ‘an Ushul Ad-Diyanah. Beliau menegaskan rujuknya dan berpegang teguhnya beliau dengan prinsip ahli sunah waljamaah, terkhusus Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Walau beliau memang masih memiliki beberapa penyelisihan, seperti ucapan beliau tentang kalam Allah, “Sesungguhnya kalam Allah adalah makna di dalam benak yang berada di Zat Allah. Adapun Alquran adalah hikayat atau pengungkapan dari kalam Allah, Alquran bukan kalam Allah.”

هَٰذَا “مَذۡهَبُ الۡأَشَاعِرَةِ”، مُنۡشَقٌّ عَنۡ “مَذۡهَبِ الۡمُعۡتَزِلَةِ”.

“وَمَذۡهَبُ الۡمُعۡتَزِلَةِ” مُنۡشَقٌّ عَنۡ “مَذۡهَبِ الۡجَهۡمِيَّةِ”.

ثُمَّ تَفَرَّعَتۡ مَذَاهِبُ كَثِيرَةٌ، كُلُّهَا أَصۡلُهَا “مَذۡهَبُ الۡجَهۡمِيَّةِ”.

Ini adalah mazhab Asya’irah, pecahan dari mazhab Mu’tazilah. Mazhab Mu’tazilah adalah pecahan dari mazhab Jahmiyyah. Kemudian bercabang banyak mazhab. Semuanya berasal dari mazhab Jahmiyyah.

هَٰذِهِ – تَقۡرِيبًا – أُصُولُ الۡفِرَقِ عَلَى التَّرۡتِيبِ.

أَوَّلًا: “الۡقَدَرِيَّةُ”.

ثُمَّ: “الشِّيعَةُ”.

ثُمَّ: “الۡخَوَراِجُ”.

ثُمَّ: “الۡجَهۡمِيَّةُ”.

هَٰذِهِ أُصُولُ الۡفِرَقِ.

Kurang lebih inilah pokok kelompok sempalan[2] sesuai urutan:

  1. Qadariyyah
  2. Syi’ah
  3. Khawarij
  4. Jahmiyyah

Ini adalah asal usul firkah.


[1] فَتَجِدُهُمۡ يَقۡتَنُونَ أَشۡرِطَتَهُمۡ، وَكُتُبَهُمۡ، وَيَحۡرِصُونَ عَلَيۡهَا، وَإِذَا قُلۡتَ لَهُمۡ: إِنَّ فِي هَٰذِهِ الۡكُتُبِ مَا يُخَالِفُ مُعۡتَقَدَ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، السَّلَفِ الصَّالِحِ، مِنۡ قَوۡلٍ بِخَلۡقِ الۡقُرۡآنِ، أَوۡ مِنۡ تَأۡوِيلٍ لِلصِّفَاتِ، أَوۡ مِنۡ تَحۡرِيضٍ عَلَى أَوۡلِيَاءِ الۡأُمُورِ، أَوۡ غَيۡرَهُ. قَالُوا: “هَٰذِهِ أَخۡطَاءٌ بَسِيطَةٌ، لَا تَمۡنَعُ مِنۡ قِرَاءَتِهَا وَاسۡتِمَاعِهَا”، مَعَ أَنَّ فِي كُتُبِ عُلَمَائِنَا – سَلَفًا وَخَلَفًا – الۡغَنِيَّةَ عَنۡهَا وَهَٰكَذَا يُضَلِّلُونَ كُلَّ مَنۡ سَمِعَهُمۡ: ﴿لِيَحۡمِلُوٓا۟ أَوۡزَارَهُمۡ كَامِلَةً يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ۙ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ﴾ [النحل].

Engkau dapati mereka mengumpulkan kaset-kaset dan buku-buku para pengusung pemikiran yang menyimpang dan bersemangat untuk itu. Apabila engkau katakan kepada mereka, “Sesungguhnya di dalam kitab-kitab ini ada yang menyelisihi prinsip ahli sunah waljamaah salaf saleh, berupa pendapat bahwa Alquran adalah makhluk, atau takwil batil sifat Allah, atau provokasi terhadap pemerintah, atau selain itu.”; maka mereka berkata, “Ini adalah kesalahan yang sederhana. Tidak sampai menghalangi kita dari membaca dan menyimaknya.” Padahal isi kitab para ulama kita, baik yang dahulu maupun belakangan, sudah mencukupi dari itu.

Demikianlah mereka menyesatkan setiap orang yang mendengar mereka. “Agar mereka memikul dosa-dosa mereka dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan dengan tanpa sepengetahuan mereka. Ingatlah, alangkah buruk dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl: 25).

أَلَمۡ يَعۡلَمُوا أَنَّ مِنۡ سَلَفِنَا الصَّالِحِ مَنۡ هَجَرَ مَنۡ قَالَ بِبِدۡعَةٍ وَاحِدَةٍ، أَوۡ أَوَّلَ صِفَةً وَاحِدَةً فَقَطۡ؟ فَهَٰذَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ بۡنُ عَبۡدِ الۡحَكَمِ الۡوَرَّاقُ، وَهُوَ مِنۡ أَصۡحَابِ أَحۡمَدَ – رَحِمَهُمُ اللهُ – يُسۡئَلُ عَنۡ أَبِي ثَوۡرٍ فَقَالَ: مَا أَدِينُ فِيهِ إِلَّا بِقَوۡلِ أَحۡمَدَ بۡنِ حَنۡبَلٍ: “يُهۡجَرُ أَبُو ثَوۡرٍ، وَمَنۡ قَالَ بِقَوۡلِهِ”. وَذٰلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ حَدِيثِ الصورة، وَخَالَفَ قَوۡلَ السَّلَفِ فِيهَا. فَكَيۡفَ بِمَنۡ لَا تَجۡمَعُ أَخۡطَاءَهُ وَلَا تُحۡصِيهَا إِلَّا الۡكُتُبُ؟؟! وَمَعَ ذٰلِكَ تَسۡمَعُ بَعۡضَهُمۡ يَقُولُ: أَخۡطَاءٌ بَسِيطَةٌ لَا تَمۡنَعُ مِنۡ قِرَاءَتِهَا!! فَلَا حَوۡلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa di antara salaf kita yang saleh ada yang mengucilkan orang yang berpendapat dengan satu kebidahan atau menakwil satu sifat Allah saja?

Inilah ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdul Hakam Al-Warraq. Beliau termasuk murid Imam Ahmad rahimahumullah. Beliau ditanya tentang Abu Tsaur, maka beliau berkata, “Aku tidak berpendirian terhadapnya kecuali dengan ucapan Ahmad bin Hanbal: Abu Tsaur dikucilkan, begitu pula yang berpendapat dengan pendapatnya.”

Hal itu karena Abu Tsaur adalah orang yang keliru menakwilkan hadis shurah [yaitu hadis “Allah telah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”] dan dia menyelisihi pendapat salaf dalam hal itu. Lalu bagaimana dengan orang yang kekeliruan-kekeliruannya tidak bisa dikumpulkan dan dihitung kecuali oleh banyak kitab?! Bersamaan dengan itu, engkau dengar sebagian mereka berkata, “Kesalahan-kesalahan yang sederhana yang tidak menghalangi dari membaca kitab-kitab mereka.” Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

[2] قَالَ ابۡنُ أَبِي رَنۡدَقَةَ الطُّرۡطُوشِيُّ فِي كِتَابِهِ “كِتَابُ الۡحَوَادِثِ وَالۡبِدَعِ” ص: ١٤: (اعۡلَمۡ أَنَّ عُلَمَاءَنَا – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ – قَالُوا: أُصُولُ الۡبِدَعِ أَرۡبَعَةٌ، وَسَائِرُ الۡأَصۡنَافِ الۡاثۡنَتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً مِنۡ هَٰؤُلَاءِ تَفَرَّقُوا وَتَشَعَّبُوا، وَهُمۡ: “الۡخَوَارِجُ” وَهِيَ أَوَّلُ فِرۡقَةٍ خَرَجَتۡ عَلَى عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ -، وَ “الرَّوَافِضُ”، وَ “الۡقَدَرِيَّةُ”، وَ “الۡمُرۡجِئَةُ”).

Ibnu Abu Randaqah Ath-Thurthusyi berkata di dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida’ halaman 14, “Ketahuilah bahwa para ulama kami radhiyallahu ‘anhum berkata: Asal usul bidah ada empat. Seluruh kelompok, 72 firkah terpecah dan bercabang dari mereka ini. Mereka adalah Khawarij—firkah pertama yang memberontak terhadap ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu—, Rafidhah, Qadariyyah, dan Murji`ah.”

Read More

Larangan Jual Beli Khamar, Bangkai, Babi, dan Berhala

18 Agustus 2019
/ / /

Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata,

وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَجُوزُ بَيۡعُ الۡخَمۡرِ وَالۡمَيۡتَةِ وَالۡخِنۡزِيرِ وَالۡأَصۡنَامِ، فَلِحَدِيثِ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ اللهَ حَرَّمَ بَيۡعَ الۡخَمۡرِ وَالۡمَيۡتَةِ وَالۡخِنۡزِيرِ وَالۡأَصۡنَامِ).

Adapun tidak bolehnya jual beli khamar, bangkai, babi, dan berhala adalah berdasarkan hadis Jabir di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan berhala.”[1]


[1] HR. Al-Bukhari nomor 2236, Muslim nomor 1581, Abu Dawud nomor 3486, At-Tirmidzi nomor 1297, An-Nasa`i nomor 4669, Ibnu Majah nomor 2167, dan Ahmad.

Read More

Larangan jual beli perasan buah untuk dibuat khamar

7 Agustus 2019
/ / /

Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah dalam Ad-Dararil Mudhiyyah berkata,

وَأَمَّا بَيۡعُ الۡعَصِيرِ إِلَى مَنۡ يَتَّخِذُهُ خَمۡرًا؛ فَلِحَدِيثِ: (لَعَنَ اللهُ بَائِعَ الۡخَمۡرِ وَشَارِبَهَا وَمُشۡتَرِيَهَا وَعَاصِرَهَا) أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسٍ. وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَحۡمَدُ، وَابۡنُ مَاجَة، وَأَبُو دَاوُدَ، وَفِي إِسۡنَادِهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡغَافِقِيُّ؛ وَقَدۡ قِيلَ إِنَّهُ غَيۡرُ مَعۡرُوفٍ؛ وَقِيلَ: إِنَّهُ مَعۡرُوفٌ وَهُوَ مِنۡ أُمَرَاءِ الۡأَنۡدَلُسِ؛ وَصَحَّحَ الۡحَدِيثَ ابۡنُ السَّكَنِ. وَأَخۡرَجَ الطَّبَرَانِيُّ فِي الۡأَوۡسَطِ عَنۡ بُرَيۡدَةَ مَرۡفُوعًا: (مَنۡ حَبَسَ الۡعِنَبَ أَيَّامَ الۡقِطَافِ حَتَّى يَبِيعَهُ مِنۡ يَهُودِيٍّ أَوۡ نَصۡرَانِيٍّ أَوۡ مِمَّنۡ يَتَّخِذُهُ خَمۡرًا فَقَدۡ تَقَحَّمَ النَّارَ عَلَى بَصِيرَةٍ). وَإِسۡنَادُهُ حَسَنٌ؛ وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun larangan jual beli perasan buah kepada orang yang menjadikannya sebagai khamar adalah berdasar hadis, “Allah melaknat orang yang menjual khamar, peminumnya, pembelinya, dan pemerasnya.”[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Para rawinya adalah orang-orang yang tepercaya, dari hadis Anas.

Diriwayatkan hadis semisal itu oleh Ahmad, Ibnu Majah[2], dan Abu Dawud[3]. Di dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al-Ghafiqi. Ada yang berkata bahwa dia tidak dikenal. Namun ada yang berkata bahwa dia dikenal dan dia termasuk pemimpin Al-Andalus. Ibnu As-Sakan menilai hadis itu sahih.

Ath-Thabarani juga meriwayatkan di dalam Al-Ausath, dari Buraidah secara marfuk, “Siapa saja yang menahan buah anggur pada hari-hari panen sehingga dia menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani, atau orang yang menjadikannya sebagai khamar, maka sungguh dia menerjang masuk ke dalam neraka dalam keadaan mengetahui.” Sanadnya hasan. Di dalam bab ini ada beberapa hadis.


[1] HR. At-Tirmidzi nomor 1295, dan Ibnu Majah nomor 3381.

[2] Nomor 3380.

[3] Nomor 3674.

Read More

Urgensi Mengenali Kelompok yang Menyimpang

31 Juli 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

أَهَمِّيَّةُ الۡحَدِيثِ عَنِ الۡفِرَقِ

Pentingnya pembicaraan tentang kelompok-kelompok

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.

Segala puji bagi Allah Rabb alamin. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya seluruhnya.

أَمَّا بَعۡدُ:

فَإِنَّ الۡحَدِيثَ عَنِ الۡفِرَقِ لَيۡسَ هُوَ مِنۡ بَابِ السَّرۡدِ التَّارِيخِيِّ، الَّذِي يُقۡصَدُ مِنۡهُ الۡاطِّلَاعُ عَلَى أُصُولِ الۡفِرَقِ لِمُجَرَّدِ الۡاطِّلَاعِ، كَمَا يُطَّلَعُ عَلَى الۡحَوَادِثِ التَّارِيخِيَّةِ، وَالۡوَقَائِعِ التَّارِيخِيَّةِ السَّابِقَةِ، وَإِنَّمَا الۡحَدِيثُ عَنِ الۡفِرَقُ لَهُ شَأۡنٌ أَعۡظَمُ مِنۡ ذٰلِكَ؛ أَلَا وَهُوَ الۡحَذَرُ مِنۡ شَرِّ هَٰذِهِ الۡفِرَقِ وَمِنۡ مُحۡدَثَاتِهَا، وَالۡحَثُّ عَلَى لُزُومِ فِرۡقَةِ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ.

Amabakdu. Sesungguhnya pembicaraan tentang kelompok-kelompok bukan semata-mata cerita peristiwa sejarah yang hanya ditujukan untuk menelaah asal usul kelompok itu saja sebagaimana penelaahan peristiwa dan kejadian bersejarah yang telah lalu. Pembicaraan tentang kelompok-kelompok ini memiliki manfaat yang lebih agung daripada itu. Yaitu mewaspadai kejelekan kelompok-kelompok ini dan pemahaman barunya, serta anjuran untuk menetapi kelompok ahli sunah waljamaah.

وَتَرۡكُ مَا عَلَيۡهِ الۡفِرَقُ الۡمُخَالِفَةُ لَا يَحۡصُلُ عَفۡوًا لِلۡإِنۡسَانِ، لَا يَحۡصُلُ إِلَّا بَعۡدَ الدِّرَاسَةِ، وَمَعۡرِفَةِ مَا الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ؟

مَنۡ هُمۡ أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، الَّذِينَ يَجِبُ عَلَى الۡمُسۡلِمِ أَنۡ يَكُونَ مَعَهُمۡ؟

وَمَنِ الۡفِرَقُ الۡمُخَالِفَةُ؟

وَمَا مَذَاهِبُهُمۡ وَشُبُهَاتُهُمۡ؟ حَتَّى يُحۡذَرُ مِنۡهَا.

Meninggalkan pemahaman kelompok yang menyimpang itu tidak akan terwujud secara sempurna bagi manusia dan tidak akan berhasil kecuali setelah mempelajari dan mengenal:

  • Apakah golongan yang selamat itu?
  • Siapakah ahli sunah waljamaah yang wajib bagi seorang muslim untuk bersamanya?
  • Dan siapakah kelompok-kelompok yang menyelisihi? Apa mazhab dan syubhat mereka hingga harus diwaspadai?

لِأَنَّ مَنۡ لَا يَعۡرِفُ الشَّرَّ يُوشِكُ أَنۡ يَقَعَ فِيهِ، كَمَا قَالَ حُذَيۡفَةُ بۡنُ الۡيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: (كَانَ النَّاسُ يَسۡأَلُونَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الۡخَيۡرِ، وَكُنۡتُ أَسۡأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنۡ يُدۡرِكَنِي، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَٰذَا الۡخَيۡرِ، فَهَلۡ بَعۡدَ هَٰذَا الۡخَيۡرِ شَرٌّ؟ قَالَ: “نَعَمۡ”. فَقُلۡتُ: هَلۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ الشَّرِّ مِنۡ خَيۡرٍ؟ قَالَ: “نَعَمۡ، وَفِيهِ دَخَنٌ”. قُلۡتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: “قَوۡمٌ يَسۡتَنُّونَ بِغَيۡرِ سُنَّتِي، وَيَهۡدُونَ بِغَيۡرِ هَدۡيِي، تَعۡرِفُ مِنۡهُمۡ وَتُنۡكِرُ”. فَقُلۡتُ: هَلۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ الۡخَيۡرِ مِنۡ شَرٍّ؟ قَالَ: “نَعَمۡ، دُعَاةٌ عَلَى أَبۡوَابِ جَهَنَّمَ، مَنۡ أَجَابَهُمۡ إِلَيۡهَا قَذَفُوهُ فِيهَا”. فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفۡهُمۡ لَنَا. قَالَ: “نَعَمۡ، قَوۡمٌ مِنۡ جِلۡدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلۡسِنَتِنَا”. قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنۡ أَدۡرَكَنِي ذٰلِكَ؟ قال: “تَلۡزَمُ جَمَاعَةَ الۡمُسۡلِمِينَ وَإِمَامَهُمۡ” فَقُلۡتُ: فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ لَهُمۡ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: “فَاعۡتَزِلۡ تِلۡكَ الۡفِرَقَ، وَلَوۡ أَنۡ تَعَضَّ عَلَى أَصۡلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدۡرِكَكَ الۡمَوۡتُ، وَأَنۡتَ عَلَى ذٰلِكَ”)

Karena siapa saja yang tidak mengenali kejelekan, dikhawatirkan dia akan terjatuh di dalamnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu: Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir akan mengenaiku.

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami dalam keadaan jahiliah dan kejelekan. Lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?”

Rasulullah menjawab, “Iya.”

Aku bertanya, “Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan?”

Beliau menjawab, “Iya, namun padanya ada asap.”

Aku bertanya, “Apa asapnya?”

Beliau menjawab, “Suatu kaum yang mengambil jalan bukan dengan sunahku dan mengambil bimbingan bukan dari petunjukku. Engkau mengetahui ada kebaikan dari mereka dan engkau ingkari (munculnya kemungkaran dari mereka).”

Aku bertanya, “Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?”

Beliau menjawab, “Iya. Ada dai-dai di pintu-pintu neraka jahanam. Siapa saja yang menyambut panggilan mereka, akan mereka lemparkan ke dalamnya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, gambarkan mereka kepada kami.”

Beliau bersabda, “Baik. Suatu kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengalami peristiwa itu?”

Beliau menjawab, “Tetaplah engkau bersama jemaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.”

Aku bertanya, “Bagaimana jika tidak ada jemaah dan tidak ada pemimpin?”

Beliau menjawab, “Tinggalkan kelompok-kelompok itu walaupun engkau menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu dan engkau dalam keadaan itu.”[1]

فَمَعۡرِفَةُ الۡفِرَقِ وَمَذَاهِبِهَا وَشُبُهَاتِهَا، وَمَعۡرِفَةُ الۡفِرۡقَةِ النَّاجِيَةِ – أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ – وَمَا هِيَ عَلَيۡهِ، فِيهِ خَيۡرٌ كَثِيرٌ لِلۡمُسۡلِمِ، لِأَنَّ هَٰذِهِ الۡفِرَقَ الضَّالَّةَ عِنۡدَهَا شُبُهَاتٌ، وَعِنۡدَهَا مُغۡرِيَاتُ تَضۡلِيلٍ، فَقَدۡ يَغۡتَرُّ الۡجَاهِلُ بِهَٰذِهِ الدِّعَايَاتِ وَيَنۡخَدِعُ بِهَا؛ فَيَنۡتَمِي إِلَيۡهَا، كَمَا قَالَ ﷺ لَمَّا ذَكَرَ فِي حَدِيثِ حُذَيۡفَةَ:

هَلۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ الۡخَيۡرِ مِنۡ شَرٍّ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، دُعَاةٌ عَلَى أَبۡوَابِ جَهَنَّمَ، مَنۡ أَجَابَهُمۡ إِلَيۡهَا قَذَفُوهُ فِيهَا). فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفۡهُمۡ لَنَا. قَالَ: (نَعَمۡ، قَوۡمٌ مِنۡ جِلۡدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلۡسِنَتِنَا).

Jadi mengenal kelompok, mazhab, dan syubhatnya, serta mengenal golongan yang selamat ahli sunah waljamaah dan jalannya ada kebaikan yang banyak bagi seorang muslim. Karena kelompok-kelompok sesat ini memiliki syubhat-syubhat dan penyimpangan yang menyesatkan. Orang-orang bodoh tertipu dan terkecoh dengan ajakan-ajakan ini, sehingga ia pun bergabung dengannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dalam hadis Hudzaifah.

“Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?”

Nabi menjawab, “Iya, ada dai-dai di pintu-pintu jahanam. Siapa saja yang menyambut ajakan mereka, akan mereka jebloskan ke dalamnya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, gambarkan mereka kepada kami.”

Nabi bersabda, “Baik, suatu kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

فَالۡخَطَرُ شَدِيدٌ، وَقَدَ وَعَظَ النَّبِيُّ ﷺ أَصۡحَابَهُ ذَاتَ يَوۡمٍ – كَمَا فِي حَدِيثِ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ -:

أَنَّهُ وَعَظَهُمۡ مَوۡعِظَةً بَلِيغَةً، وَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، وَذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ. قُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوۡصِنَا. قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ؛ فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنۡ بَعۡدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحۡدَثَةٍ بِدۡعَةٌ، وَكُلُّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ).

Jadi sangat berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasihat kepada para sahabatnya pada suatu hari sebagaimana dalam hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah. Bahwa beliau memberi nasihat yang amat mengena. Karenanya hati bergetar dan mata menitikkan air mata.

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat dari orang yang akan berpisah. Berilah wasiat kepada kami.”

Rasulullah bersabda, “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalaah seorang budak. Karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup akan melihat banyak perselisihan. Maka kalian wajib mengikuti sunahku dan sunah para khalifah yang lurus sepeninggalku. Pegang eratlah dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan.”[2]

فَأَخۡبَرَ ﷺ أَنَّهُ سَيَكُونُ هُنَاكَ اخۡتِلَافٌ وَتَفَرُّقٌ، وَأَوۡصَى عِنۡدَ ذٰلِكَ بِلُزُومِ جَمَاعَةِ الۡمُسۡلِمِينَ وَإِمَامِهِمۡ، وَالتَّمَسُّكِ بِسُنَّةِ الرَّسُولِ ﷺ وَتَرۡكِ مَا خَالَفَهَا مِنَ الۡأَقۡوَالِ وَالۡأَفۡكَارِ، وَالۡمَذَاهِبِ الۡمُضِلَّةِ، فَإِنَّ هَٰذَا طَرِيقُ النَّجَاةِ، وَقَدۡ أَمَرَ اللهُ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – بِالۡاِجۡتِمَاعِ وَالۡاِعۡتِصَامِ بِكِتَابِهِ، وَنَهَى عَنِ التَّفَرُّقِ، قَالَ – سُبۡحَانَهُ -: ﴿ وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَ‌ٰنًا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَا ۗ كَذَ‌ٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ۝١٠٣﴾.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan terjadinya perselisihan dan perpecahan. Beliau memberi wasiat ketika terjadi hal itu dengan tetap bersama jemaah kaum muslimin dan pemimpin mereka serta berpegang teguh dengan sunah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga dengan meninggalkan ucapan dan pemikiran yang menyelisihinya, serta mazhab yang menyesatkan. Karena jalan ini adalah keselamatan. Allah subhanahu wa taala telah memerintahkan agar bersatu, memegang teguh Alquran, dan melarang dari perpecahan.

Allah subhanahu berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kalian semua dengan tali Allah dan jangan berpecah belah. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuhan lalu Allah satukan hati-hati kalian. Sehingga kalian menjadi bersaudara karena nikmat-Nya. Juga ketika kalian dahulu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

إِلَى أَنۡ قَالَ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿ وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخۡتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَـٰتُ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ ۝١٠٥ يَوۡمَ تَبۡيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسۡوَدُّ وُجُوهٌ ۚ﴾.

Sampai firman Allah subhanahu wa taala yang artinya, “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang amat besar. Pada hari itu, ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada wajah-wajah yang hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 105-106).

قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا -: تَبۡيَضُّ وُجُوهُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَتَسۡوَدُّ وُجُوهُ أَهۡلِ الۡبِدۡعَةِ وَالۡفُرۡقَةِ.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Wajah-wajah yang putih berseri adalah wajah ahli sunah waljamaah. Wajah-wajah yang hitam muram adalah wajah ahli bidah dan furqah (perpecahan).”[3]

وَقَالَ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمۡ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِى شَىۡءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفۡعَلُونَ ۝١٥٩﴾.

Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka bergolong-golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Urusan mereka kembali kepada Allah kemudian Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 159).

فَالدِّينُ وَاحِدٌ، وَهُوَ مَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يَقۡبَلُ الۡاِنۡقِسَامَ إِلَى دِيَانَاتٍ وَإِلَى مَذَاهِبَ مُخۡتَلِفَةٍ، بَلۡ دِينٌ وَاحِدٌ هُوَ دِينُ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – وَهُوَ مَا جَاءَ بِهِ رَسُولُهُ ﷺ وَتَرَكَ أُمَّتَهُ عَلَيۡهِ، حَيۡثُ تَرَكَ ﷺ أُمَّتَهُ عَلَى الۡبَيۡضَاءِ، لَيۡلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنۡهَا إِلَّا هَالِكٌ.

Jadi agama Islam adalah satu saja. Yaitu apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agama ini tidak menerima adanya pembagian menjadi banyak agama dan bermacam-macam mazhab. Bahkan agama yang satu itulah agama Allah subhanahu wa taala. Itulah apa yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau telah meninggalkan umatnya dalam keadaan itu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan umatnya dalam keadaan terang benderang. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali ia binasa.

وَقَالَ ﷺ: (تَرَكۡتُ فِيكُمۡ مَا إِنۡ تَمَسَّكۡتُمۡ بِهِ لَنۡ تَضِلُّوا بَعۡدِي أَبَدًا؛ كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّتِي).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian apa yang apabila kalian pegang teguh maka kalian tidak akan sesat setelahku selama-lamanya, yaitu kitab Allah dan sunahku.”[4]


[1] Diriwayatkan oleh:

  • Al-Bukhari dalam Shahih-nya nomor 3606 dan 7084.
  • Muslim dalam Shahih-nya nomor 1847.
  • Ahmad secara panjang (5/386, 403), secara ringkas (5/391, 399), secara ringkas dengan lafal lain (5/404).
  • Abu Dawud As-Sijistani nomor 4244, dengan ungkapan lain nomor 4246.
  • An-Nasa`i di dalam Al-Kubra (5/17, 18).
  • Ibnu Majah nomor 3979 dan 3981.
  • Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya nomor 442, dengan lafal lain nomor 443 halaman 59.
  • Abu ‘Awanah dalam Ash-Shahih Al-Musnad (4/474 dan 475).
  • ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf beliau 20711 (11/341).
  • Ibnu Abu Syaibah dalam kitab Al-Fitan 2449 dan 8960, 18961 dan 18980.
  • Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (4/432). Beliau menilai sanadnya sahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

[2] Diriwayatkan oleh:

[3] Al-Baghawi menyebutkannya di dalam tafsir beliau (2/87) dan Ibnu Katsir (2/87) cetakan Al-Andalus.

[4] Diriwayatkan oleh:

  • Malik dalam Al-Muwaththa` (2/1899).
  • Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/93) secara tersambung dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan pula secara panjang tanpa kata “dan sunahku” oleh:

Dalam riwayat ini ada tata cara haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khotbah beliau kepada mereka.

Read More

Peta Manasik Haji

31 Juli 2019
/ / /

Hari Tarwiah 8 Zulhijah

Berangkat ke Mina.

Salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di Mina.

Hari Arafah 9 Zulhijah

Berangkat dari Mina menuju Arafah setelah matahari terbit.

Salat Zuhur dan Asar dengan cara jamak takdim dan qasar. Wukuf sampai matahari terbenam.

Malam 10 Zulhijah

Berangkat menuju Muzdalifah.

Salat Magrib dan Isya dengan cara jamak qasar. Tidur hingga terbit fajar lalu salat Subuh. Bertolak sebelum matahari terbit.

Hari nahar 10 Zulhijah

Menuju jamrah Aqabah untuk melemparnya.

Kemudian ke tempat penyembelihan. Setelah menyembelih, menggundul kepala bagi pria.

Lalu menuju Kakbah. Salat Zuhur di Makkah dan melakukan tawaf ifadhah dan sai. Tawaf ifadhah bisa ditunda di hari-hari setelahnya.

Kembali ke Mina untuk mabit di sana.

Tanggal 11 dan 12 Zulhijah

Melempar tiga jamrah setelah matahari turun ke barat. Lalu kembali ke Mina untuk mabit di sana.

Tanggal 13 Zulhijah

Melempar tiga jamrah setelah matahari turun ke barat lalu pulang.

Read More

Syi’ah

15 Juli 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

الۡفِرۡقَةُ الثَّالِثَةُ: الشِّيعَةُ

“الشِّيعَةُ”: هُمُ الَّذِينَ يَتَشَيَّعُونَ لِأَهۡلِ الۡبَيۡتِ.

وَ “التَّشَيُّعُ” فِي الۡأَصۡلِ: الۡاتِّبَاعُ وَالۡمُنَاصَرَةُ:

﴿وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبۡرَاهِيمَ﴾. [سورة الصافات]

يَعۡنِي: أَتۡبَاعَهُ إِبۡرَاهِيمَ، وَمِنۡ أَنۡصَارِ مِلَّتِهِ؛ لِأَنَّ اللهَ -سُبۡحَانَهُ- لَمَّا ذَكَرَ قِصَّةَ نُوحٍ قَالَ: ﴿وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبۡرَاهِيمَ﴾.

فَأَصۡلُ “التَّشَيُّع”: الۡاِتِّبَاعُ وَالۡمُنَاصَرَةُ، ثُمَّ صَارَ يُطۡلَقُ عَلَى هَٰذِهِ الۡفِرۡقَةِ، الَّتِي تَزۡعُمُ أَنَّهَا مُتَّبِعَةٌ لِأَهۡلِ الۡبَيۡتِ -وَهُمۡ: عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ- وَذُرِّيَّتُهُ-.

Syi’ah adalah orang-orang yang mengaku-aku membela ahli bait. At-Tasyayyu’ asalnya adalah mengikuti dan membela.

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” (QS. Ash-Shaffat: 83). Yakni yang mengikutinya adalah Ibrahim dan yang termasuk penolong-penolong agamanya, karena Allah subhanahu ketika menyebutkan kisah Nuh, Dia berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).”

Jadi asal at-tasyayyu’ adalah mengikuti dan membela, kemudian istilah ini dimutlakkan kepada firkah ini yang menyatakan bahwa dia mengikuti ahli bait, yaitu ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya.

وَيَزۡعُمُونَ أَنَّ عَلِيًّا هُوَ الۡوَصِيُّ بَعۡدَ الرَّسُولِ ﷺ عَلَى الۡخِلَافَةِ، وَأَنَّ أَبَا بَكۡرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثۡمَانَ، وَالصَّحَابَةَ؛ ظَلَمُوا عَلِيَّا، وَاغۡتَصَبُوا الۡخِلَافَةَ مِنۡهُ. هَٰكَذَا يَقُولُونَ.

وَقَدۡ كَذَبُوا فِي ذٰلِكَ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ أَجۡمَعُوا عَلَى بَيۡعَةِ أَبِي بَكۡرٍ وَمِنۡهُمۡ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ-، حَيۡثُ بَايَعَ لِأَبِي بَكۡرٍ، وَبَايَعَ لِعُمَرَ، وَبَايَعَ لِعُثۡمَانَ.

فَمَعۡنَى هَٰذَا: أَنَّهُمۡ خَوَّنُوا عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ-.

Mereka menyatakan bahwa ‘Ali adalah orang yang diberi wasiat kekhalifahan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan para sahabat telah menzalimi ‘Ali dan merampas kekhalifahan dari beliau. Seperti inilah yang mereka katakan.

Mereka telah berdusta dalam hal itu karena para sahabat telah bersepakat membaiat Abu Bakr dan termasuk di antara mereka adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Beliau membaiat Abu Bakr, membaiat ‘Umar, dan membaiat ‘Utsman. Jadi makna hal ini adalah mereka menuduh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkhianat.

وَقَدۡ كَفَّرُوا الصَّحَابَةَ إِلَّا عَدَدًا قَلِيلًا مِنۡهُمۡ، وَصَارُوا يَلۡعَنُونَ أَبَا بَكۡرٍ وَعُمَرَ، وَيُلَقِّبُونَهُمَا “بِصَنَمَيۡ قُرَيۡشٍ”.

Mereka telah mengafirkan para sahabat kecuali sedikit dari mereka. Mereka melaknat Abu Bakr dan ‘Umar dan menjuluki keduanya dengan sebutan “dua berhala Quraisy”.

وَمِنۡ مَذۡهَبِهِمۡ: أَنَّهُمۡ يَغۡلُونَ فِي الۡأَئِمَّةِ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ، وَيُعۡطُونَهُمۡ حَقَّ التَّشۡرِيعِ وَنَسۡخَ الۡأَحۡكَامِ.

وَيَزۡعُمُونَ أَنَّ الۡقُرۡآنَ قَدۡ حُرِّفَ وَنُقِّصَ، حَتَّى آلَ بِهِمُ الۡأَمۡرُ إِلَى أَنِ اتَّخَذُوا الۡأَئِمَّةَ أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللهِ، وَبَنَوۡا عَلَى قُبُورِهِمُ الۡأَضۡرِحَةَ، وَشَيَّدُوا عَلَيۡهَا الۡقِبَابَ، وَصَارُوا يَطُوفُونَ بِهَا، وَيَذۡبَحُونَ لَهَا وَيَنۡذُرُونَ.

Termasuk mazhab mereka adalah mereka bersikap melampaui batas terhadap para imam ahli bait, memberi hak mensyariatkan kepada mereka, dan menasakh hukum-hukum syariat. Mereka menyatakan bahwa Alquran telah diubah dan dikurangi. Urusan mereka menjadi-jadi sampai mereka menjadikan para imam sebagai tuhan selain Allah. Mereka membangun bangunan di atas kuburan-kuburan para imam itu, mereka mendirikan kubah-kubah di atasnya, mereka tawaf di situ, mereka menyembelih dan bernazar untuk mereka.

وَتَفَرَّقَتۡ “الشِّيعَةُ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ، بَعۡضُهَا أَخَفُّ مِنۡ بَعۡضٍ، وَبَعۡضُهَا أَشَدُّ مِنۡ بَعۡضٍ، مِنۡهُمۡ: “الزَّيۡدِيَّةُ”، وَمِنۡهُمۡ: “الرَّافِضَةُ الۡإِثۡنَا عَشَرِيَّة”، وَمِنۡهُمۡ: “الۡإِسۡمَاعِيلِيَّةُ” وَ “الۡفَاطِمِيَّةُ”، وَمِنۡهُمۡ: “الۡقَرَامِطَةُ”، وَمِنۡهُمۡ..، وَمِنۡهُمۡ..، عَدَدٌ كَبِيرٌ، وَفِرَقٌ كَثِيرَةٌ.

Syi’ah berpecah belah menjadi banyak sekte. Sebagiannya lebih ringan penyimpangannya daripada sebagian yang lain. Sebagian lagi lebih parah daripada yang lainnya. Di antara mereka adalah Az-Zaidiyyah, Ar-Rafidhah Al-Itsna Asyariyyah, Al-Isma’iliyyah, Al-Fathimiyyah, Al-Qaramithah, dan lain-lain. Ada banyak jumlahnya dan banyak sekte.

وَهَٰكَذَا.. كُلُّ مَنۡ تَرَكَ الۡحَقَّ فَإِنَّهُمۡ لَا يَزَالُونَ فِي اخۡتِلَافٍ وَتَفَرُّقٍ، قَالَ –تَعَالَى-:

﴿فَإِنۡ آمَنُواۡ بِمِثۡلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهۡتَدَواۡ وَّإِن تَوَلَّوۡاۡ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ﴾. [سورة البقرة]

Demikianlah, setiap siapa saja yang meninggalkan kebenaran maka mereka akan senantiasa dalam perselisihan dan perpecahan. Allah taala berfirman yang artinya, “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan. Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137).

فَمَنۡ تَرَكَ الۡحَقَّ يُبۡتَلَى بِالۡبَاطِلِ، وَالزَّيۡغِ، وَالتَّفَرُّقِ، وَلَا يَنۡتَهِي إِلَى نَتِيجَةٍ، بَلۡ إِلَى الۡخَسَارَةِ -وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ-.

وَتَفَرَّقَتِ “الشِّيعَةُ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ، وَنِحَلٍ كَثِيرَةٍ.

وَتَفَرَّقَتِ “الۡقَدَرِيَّةُ”.

وَتَفَرَّقَتِ “الۡخَوَارِجُ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ: “الۡأَزَارِقَةُ”، وَ “الۡحَرُورِيَّةُ”، وَ “النَّجۡدَاتُ”، وَ “الصُّفۡرِيَّةُ”، وَ “الۡإِبَاضِيَّةُ”، وَمِنۡهُمۡ الۡغُلَاةُ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ هُوَ دُونَ ذٰلِكَ.

Jadi siapa saja yang meninggalkan kebenaran akan diuji dengan kebatilan, penyimpangan, dan perpecahan. Dia juga tidak akan berujung kepada keberhasilan, bahkan akan berujung kepada kerugian. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Syi’ah telah berpecah belah menjadi banyak sekte dan golongan. Qadariyyah juga terpecah belah. Khawarij terpecah menjadi banyak sekte: Al-Azariqah, Al-Haruriyyah, An-Najdat, Ash-Shufriyyah, Al-Ibadhiyyah. Di antara mereka ada yang ekstrem dan ada yang tingkatannya di bawah itu.

Read More

Khawarij

30 Juni 2019
/ / /

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

الۡفِرۡقَةُ الثَّانِيَةُ الۡخَوَارِجُ

وَهُمُ الَّذِينَ خَرَجُوا عَلَى وَلِيِّ الۡأَمۡرِ فِي آخِرِ عَهۡدِ عُثۡمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ وَنَتَجَ عَنۡ خُرُوجِهِمۡ قَتۡلُ عُثۡمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

Mereka adalah orang-orang yang memberontak kepada pemimpin di akhir masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dan dari pemberontakan mereka terjadilah pembunuhan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.

ثُمَّ فِي خِلَافَةِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ زَادَ شَرُّهُمۡ، وَانۡشَقُّوا عَلَيۡهِ، وَكَفَّرُوهُ، وَكَفَّرُوا الصَّحَابَةَ؛ لِأَنَّهُمۡ لَمۡ يُوَافِقُوهُمۡ عَلَى مَذۡهَبِهِمۡ، وَهُمۡ يَحۡكُمُونَ عَلَى مَنۡ خَالَفَهُمۡ فِي مَذۡهَبِهِمۡ أَنَّهُ كَافِرٌ، فَكَفَّرُوا خَيۡرَةَ الۡخَلۡقِ وَهُمۡ صَحَابَةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُمۡ لَمۡ يُوَافِقُوهُمۡ عَلَى ضَلَالِهِمۡ وَعَلَى كُفۡرِهِمۡ.

Kemudian pada kekhalifahan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, kejelekan mereka bertambah, mereka memisahkan diri kepadanya, mereka mengafirkannya, dan mengafirkan para sahabat; karena para sahabat tidak menyepakati mazhab mereka. Mereka menghukumi orang yang menyelisihi mazhab mereka bahwa dia kafir, sehingga mereka mengafirkan manusia terbaik, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Karena para sahabat tidak sepakat terhadap kesesatan dan pengafiran mereka.

وَمَذۡهَبُهُمۡ: أَنَّهُمۡ لَا يَلۡتَزِمُونَ بِالسُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَلَا يُطِيعُونَ وَلِيَّ الۡأَمۡرِ، وَيَرَوۡنَ أَنَّ الۡخُرُوجَ عَلَيۡهِ مِنَ الدِّينِ، وَأَنَّ شَقَّ الۡعَصَا مِنَ الدِّينِ عَكَسَ مَا أَوۡصَى بِهِ الرَّسُولُ ﷺ مِنۡ لُزُومِ الطَّاعَةِ وَعَكَسَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ فِي قَوۡلِهِ: ﴿أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ ۖ﴾.

Mazhab mereka adalah tidak menetapi sunah dan jemaah. Mereka tidak menaati penguasa. Mereka berpandangan bahwa memberontak kepada mereka adalah bagian dari agama dan mematahkan tongkat ketaatan adalah termasuk agama[1]. Hal itu berkebalikan dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap taat.

Juga bertolak belakang dengan perintah Allah dalam firman-Nya, “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan para pemegang kekuasaan di antara kalian.” (QS. An-Nisa`: 59).

اللهُ – جَلَّ وَعَلَا – جَعَلَ طَاعَةَ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ مِنَ الدِّينِ، وَالنَّبِيُّ ﷺ جَعَلَ طَاعَةَ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ مِنَ الدِّينِ قَالَ ﷺ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا..).

Allah jalla wa ‘ala menjadikan ketaatan kepada penguasa termasuk agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan ketaatan kepada penguasa termasuk agama ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak, karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup akan melihat banyak perselisihan.” (H.R. Abu Dawud nomor 4607 dan Ad-Darimi).

فَطَاعَةُ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ الۡمُسۡلِمِ مِنَ الدِّينِ. “وَ الۡخَوَارِجُ” يَقُولُونَ: لَا، نَحۡنُ أَحۡرَارٌ. هَٰذِهِ طَرِيقَةُ الثَّوۡرَاتِ الۡيَوۡمَ.

Jadi taat kepada penguasa adalah bagian dari agama. Adapun khawarij mereka mengatakan, “Tidak, kami bebas.” Inilah cara revolusi di hari-hari ini.

فَـ “الۡخَوَرِاجُ” الَّذِينَ يُرِيدُونَ تَفۡرِيقَ جَمَاعَةِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَشَقَّ عَصَا الطَّاعَةِ، وَمَعۡصِيَةَ اللهِ وَرَسُولِهِ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ، وَيَرَوۡنَ أَنَّ مُرۡتَكِبَ الۡكَبِيرَةِ كَافِرٌ.

Jadi khawarij adalah orang-orang yang ingin memecah persatuan kaum muslimin, mematahkan tongkat ketaatan, menentang Allah dan Rasul-Nya dalam urusan ini, dan mereka berpandangan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir.

وَمُرۡتَكِبُ الۡكَبِيرَةِ هُوَ: الزَّانِي – مَثَلًا -، وَالسَّارِقُ، وَشَارِبُ الۡخَمۡرِ؛ يَرَوۡنَ أَنَّهُ كَافِرٌ، فِي حِينِ أَنَّ أَهۡلَ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ يَرَوۡنَ أَنَّهُ “مُسۡلِمٌ نَاقِصُ الۡإِيمَانِ” وَيُسَمُّونَهُ بِالۡفَاسِقِ الۡمِلِّي؛ فَهُوَ “مُؤۡمِنٌ بِإِيمَانِهِ فَاسِقٌ بِكَبِيرَتِهِ”، لِأَنَّهُ لَا يُخۡرِجُ مِنَ الۡإِسۡلَامِ إِلَّا الشِّرۡكُ أَوۡ نَوَاقِضُ الۡإِسۡلَامِ الۡمَعۡرُوفَةُ، أَمَّا الۡمَعَاصِي الَّتِي دُونَ الشِّرۡكِ؛ فَإِنَّهَا لَا تُخۡرِجُ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَإِنۡ كَانَتۡ كَبَائِرَ، قَالَ اللهُ – تَعَالَى  -: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [سورة النساء آية: ٤٨].

Pelaku dosa besar, contohnya: pezina, pencuri, peminum khamar; khawarij berpandangan bahwa dia ini kafir. Sementara ahli sunah wal jamaah berpandangan bahwa dia itu muslim yang kurang imannya[2] dan mereka menamakannya al-fasiq al-milli (orang fasik yang masih di dalam agama Islam) jadi dia orang mukmin dengan keimanannya fasik dengan dosa besarnya karena tidak ada yang mengeluarkan dari Islam kecuali syirik atau pembatal Islam yang sudah dikenal. Adapun maksiat di bawah kesyirikan, maka hal itu tidak mengeluarkan dari keimanan walau kemaksiatan itu adalah dosa besar.

Allah taala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (Q.S An-Nisa`: 48).

وَ “الۡخَوَارِجُ” يَقُولُونَ: مُرۡتَكِبُ الۡكَبِيرَةِ كَافِرٌ، وَلَا يُغۡفَرُ لَهُ، وَهُوَ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ. وَهَٰذَا خِلَافُ مَا جَاءَ فِي كِتَابِ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -.

وَالسَّبَبُ: أَنَّهُمۡ لَيۡسَ عِنۡدَهُمۡ فِقۡهٌ.

Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, tidak diampuni, dan dia kekal di dalam neraka. Hal ini menyelisihi apa yang datang di kitab Allah subhanahu wa ta’ala.

Penyebabnya karena mereka tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap agama.

لَاحِظُوا أَنَّ السَّبَبَ الَّذِي أَوۡقَعَهُمۡ فِي هَٰذَا أَنَّهُمۡ لَيۡسَ عِنۡدَهُمۡ فِقۡهٌ، لِأَنَّهُمۡ جَمَاعَةٌ اشۡتَدُّوا فِي الۡعِبَادَةِ، وَالصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَتِلَاوَةِ الۡقُرۡآنِ، وَعِنۡدَهُمۡ غَيۡرَةٌ شَدِيدَةٌ، لَكِنَّهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ، وَهَٰذِهِ هِيَ الۡآفَةُ.

فَالِاجۡتِهَادُ فِي الۡوَرَعِ وَالۡعِبَادَةِ؛ لَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ مَعَ الۡفِقۡهِ فِي الدِّينِ وَالۡعِلۡمِ.

Kalian perhatikan bahwa sebab yang menjatuhkan mereka di dalam pendapat ini adalah bahwa karena mereka tidak memiliki pemahaman. Karena mereka adalah suatu jemaah yang sangat tekun ibadah, salat, siam, membaca Alquran, dan mereka memiliki kecemburuan yang tinggi. Akan tetapi mereka tidak paham dan inilah penyakitnya.

Sehingga kesungguhan dalam warak dan ibadah harus disertai pemahaman agama dan ilmu.

وَلِهَٰذَا وَصَفَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ لِأَصۡحَابِهِ، بِأَنَّ الصَّحَابَةَ يَحۡقِرُونَ صَلَاتَهُمۡ إِلَى صَلَاتِهِمۡ، وَعِبَادَتَهُمۡ إِلَى عِبَادَتِهِمۡ، ثُمَّ قَالَ ﷺ: “يَمۡرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمۡرُقُ السَّهۡمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ”.

Oleh karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan mereka kepada para sahabat beliau bahwa para sahabat akan menganggap salatnya remeh dibandingkan salat mereka, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka (khawarij) keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar menembus sasarannya.”[3]

مَعَ عِبَادَتِهِمۡ، وَمَعَ صَلَاحِهِمۡ، وَمَعَ تَهَجُّدِهِمۡ وَقِيَامِهِمۡ بۡاللَّيۡلِ، لَكِنۡ لَمَّا كَانَ اجۡتِهَادُهُمۡ لَيۡسَ عَلَى أَصۡلٍ صَحِيحٍ، وَلَا عَلَى عِلۡمٍ صَحِيحٍ، صَارَ ضَلَالًا وَوَبَاءً وَشَرًّا عَلَيۡهِمۡ وَعَلَى الۡأُمَّةِ.

Bersamaan dengan ibadah mereka, kesalehan, tahajud, qiamulail mereka, akan tetapi ketika kesungguhan mereka tidak berada di atas pondasi yang benar dan tidak di atas ilmu yang sahih, maka menjadi sesat, bencana, dan keburukan bagi mereka dan bagi umat.

وَمَا عُرِفَ عَنِ “الۡخَوَارِجِ” فِي يَوۡمٍ مِنَ الۡأَيَّامِ أَنَّهُمۡ قَاتَلُوا الۡكُفَّارَ، أَبَدًا، إِنَّمَا يُقَاتِلُونَ الۡمُسۡلِمِينَ، كَمَا قَالَ ﷺ: “يَقۡتُلُونَ أَهۡلَ الۡإِسۡلَامِ وَيَدَعُونَ أَهۡلَ الۡأَوۡثَانِ”.

Tidak diketahui dari khawarij pada satu hari pun bahwa mereka memerangi orang-orang kafir, selama-lamanya. Mereka hanya memerangi kaum muslimin sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka membunuhi penganut agama Islam dan membiarkan para penyembah berhala.”[4]

فَمَا عَرَفۡنَا فِي تَارِيخِ “الۡخَوَارِجِ”، فِي يَوۡمٍ مِنَ الۡأَيَّامِ أَنَّهُمۡ قَاتَلُوا الۡكُفَّارَ وَالۡمُشۡرِكِينَ، وَإِنَّمَا يُقَاتِلُونَ الۡمُسۡلِمِينَ دَائِمًا: قَتَلُوا عُثۡمَانَ. وَقَتَلُوا عَلِيَّ بۡنَ أَبِي طَالِبٍ. وَقَتَلُوا الزُّبَيۡرَ بۡنَ الۡعَوَّامِ. وَقَتَلُوا خِيَارَ الصَّحَابَةِ. وَمَا زَالُوا يَقۡتُلُونَ الۡمُسۡلِمِينَ.

Jadi tidak diketahui dalam sejarah khawarij, kapanpun, bahwa mereka memerangi orang-orang kafir dan musyrik. Mereka selalu hanya memerangi kaum muslimin. Mereka sudah membunuh ‘Utsman, membunuh ‘Ali bin Abu Thalib, membunuh Az-Zubair bin Al-’Awwam, membunuh sahabat-sahabat pilihan, dan mereka terus saja membunuhi kaum muslimin.

وَذٰلِكَ بِسَبَبِ جَهۡلِهِمۡ فِي دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَعَ وَرَعِهِمۡ، وَمَعَ عِبَادَتِهِمۡ، وَمَعَ اجۡتِهَادِهِمۡ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَكُنۡ هَٰذَا مُؤَسَّسًا عَلَى عِلۡمٍ صَحِيحٍ؛ صَارَ وَبَالًا عَلَيۡهِمۡ، وَلِهَٰذَا يَقُولُ الۡعَلَّامَةُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ فِي وَصۡفِهِمۡ:

وَلَهُمۡ نُصُوصٌ قَصَّرُوا فِي فَهۡمِهَا فَأُتُوۡا مِنَ التَّقۡصِيرِ في الۡعِرۡفَانِ

Hal itu disebabkan kebodohan mereka dalam agama Allah beserta sikap warak mereka, ibadah mereka, kesungguhan mereka. Akan tetapi ketika hal ini tidak didasari oleh ilmu yang sahih, berubahlah menjadi bencana bagi mereka. Karena inilah, Al-’Allamah Ibnu Al-Qayyim berkata ketika menggambarkan mereka, “Mereka memiliki nas-nas dalil, tetapi mereka dangkal memahaminya, akibatnya mereka diberi pengetahuan yang dangkal.”[5]

فَهُمۡ اسۡتَدَلُّوا بِنُصُوصٍ وَهُمۡ لَا يَفۡهَمُونَهَا، اسۡتَدَلُّوا بِنُصُوصٍ مِنَ الۡقُرۡآنِ وَمِنَ السُّنَّةِ؛ فِي الۡوَعِيدِ عَلَى الۡمَعَاصِي، وَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ مَعۡنَاهَا، لَمۡ يُرۡجِعُوهَا إِلَى النُّصُوصِ الۡأُخۡرَى، الَّتِي فِيهَا الۡوَعۡدُ بِالۡمَغۡفِرَةِ، وَالتَّوۡبَةُ لِمَنۡ كَانَتۡ مَعۡصِيَتُهُ دُونَ الشِّرۡكِ؛ فَأَخَذُوا طَرۡفًا وَتَرَكُوا طَرۡفًا، هَٰذَا لِجَهۡلِهِمۡ.

Mereka mengambil dalil dengan nas-nas dalam keadaan mereka tidak memahaminya. Mereka mengambil dalil dari Alquran dan sunah tentang ancaman terhadap kemaksiatan dalam keadaan mereka tidak mengerti maknanya. Mereka tidak mengembalikannya kepada nas-nas lainnya yang di dalamnya ada janji ampunan dan tobat bagi orang yang kemaksiatan di bawah tingkat kesyirikan. Mereka mengambil satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya. Ini karena kebodohan mereka.

وَالۡغِيرَةُ عَلَى الدِّينِ وَالۡحَمَاسُ لَا يَكۡفِيَانِ، لَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ هَٰذَا مُؤَسَّسًا عَلَى عِلۡمٍ، وَعَلَى فِقۡهٍ فِي دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ ذٰلِكَ صَادِرًا عَنۡ عِلۡمٍ، وَمَوۡضُوعًا فِي مَحَلِّهِ.

Kecemburuan terhadap agama dan semangat tidaklah cukup. Hal itu harus didasari di atas ilmu dan di atas pemahaman dalam agama Allah azza wajalla. Jadi hal itu harus bermula dari ilmu dan diletakkan pada tempatnya.

وَالۡغِيرَةُ عَلَى الدِّينِ طَيِّبَةٌ، وَالۡحَمَاسُ لِلدِّينِ طَيِّبٌ، لَكِنۡ لَا بُدَّ أَنۡ يُرَشَّدَ ذٰلِكَ بِاتِّبَاعِ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

وَلَا أَغۡيَرَ عَلَى الدِّينِ، وَلَا أَنۡصَحَ لِلۡمُسۡلِمِينَ؛ مِنَ الصَّحَابَةِ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ – وَمَعَ ذٰلِكَ قَاتَلُوا “الۡخَوَارِجَ”؛ لِخَطَرِهِمۡ وَشَرِّهِمۡ.

Kecemburuan terhadap agama adalah sesuatu yang baik. Semangat beragama juga baik. Akan tetapi hal itu harus dibimbing dengan cara mengikuti Alquran dan sunah.

Tidak ada orang yang lebih cemburu dan lebih menasehati kaum muslimin daripada para sahabat. Bersamaan dengan itu ternyata para sahabat memerangi khawarij karena bahaya dan kejelekan mereka.

قَاتَلَهُمۡ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ حَتَّى قَتَلَهُمۡ شَرَّ قِتۡلَةٍ فِي وَقۡعَةِ “النَّهۡرَوَانِ”، وَتَحَقَّقَ فِي ذٰلِكَ مَا أَخۡبَرَ بِهِ ﷺ مِنۡ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَشَّرَ مَنۡ يَقۡتُلُهُمۡ بِالۡخَيۡرِ وَالۡجَنَّةِ، فَكَانَ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ هُوَ الَّذِي قَتَلَهُمۡ، فَحَصَلَ عَلَى الۡبِشَارَةِ مِنَ الرَّسُولِ ﷺ قَتَلَهُمۡ لِيَدۡفَعَ شَرَّهُمۡ عَنِ الۡمُسۡلِمِينَ.

‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi mereka sampai membunuh mereka sebagai sejelek-jelek korban dalam peristiwa Nahrawan. Terbuktilah dalam kejadian itu apa yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memberi kabar gembira berupa kebaikan dan janah bagi orang yang membunuh khawarij. Ternyata, ‘Ali bin Abu Thalib lah yang membunuh khawarij, sehingga beliau mendapat kabar gembira dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam[6]. ‘Ali membunuh mereka agar menolak keburukan mereka dari kaum muslimin.

وَوَاجِبٌ عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ فِي كُلِّ عَصۡرٍ إِذَا تَحَقَّقُوا مِنۡ وُجُودِ هَٰذَا الۡمَذۡهَبِ الۡخَبِيثِ؛ أَنۡ يُعَالِجُوهُ بِالدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ أَوَّلًا، وَتَبۡصِيرِ النَّاسِ بِذٰلِكَ، فَإِنۡ لَمۡ يَمۡتَثِلُوا قَاتَلُوهُمۡ دَفۡعًا لِشَرِّهِمۡ.

Wajib bagi kaum muslimin di setiap masa apabila muncul mazhab yang jelek ini agar mereka mengobatinya dengan dakwah kepada Allah terlebih dahulu dan memberi pengetahuan kepada orang-orang dengan hal itu. Apabila orang-orang khawarij tidak mau melaksanakannya, maka kaum muslimin (bersama pemerintahnya) memerangi orang-orang khawarij dalam rangka menolak kejelekan mereka.

وَعَليُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَرۡسَلَ إِلَيۡهِمۡ ابۡنَ عَمِّهِ: عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ، حَبۡرَ الۡأُمَّةِ، وَتُرۡجُمَانَ الۡقُرۡآنِ؛ فَنَاظَرَهُمۡ، وَرَجَعَ مِنۡهُمۡ سِتَّةُ آلَافٍ، وَبَقِيَ مِنۡهُمۡ بَقِيَّةٌ كَثِيرَةٌ لَمۡ يَرۡجِعُوا، عِنۡدَ ذٰلِكَ قَاتَلَهُمۡ أَمِيرُ الۡمُؤۡمِنِينَ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ وَمَعَهُ الصَّحَابَةُ؛ لِدَفۡعِ شَرِّهِمۡ وَأَذَاهُمۡ عَنِ الۡمُسۡلِمِينَ.

‘Ali bin Abu Thalib mengutus saudara sepupunya kepada mereka, yaitu ‘Abdullah bin ‘Abbas, tinta umat ini dan penafsir Alquran. Ibnu ‘Abbas mendebat mereka dan enam ribu orang di antara mereka rujuk. Masih tersisa banyak orang di antara mereka yang tidak mau rujuk. Tak lama setelah itu amirulmukminin ‘Ali bin Abu Thalib bersama para sahabat memerangi mereka untuk menolak kejelekan dan gangguan mereka dari kaum muslimin.

هَٰذِهِ “فِرۡقَةُ الۡخَوَارِجِ” وَمَذۡهَبُهُمۡ.

 Ini adalah firkah khawarij dan mazhab mereka.


[1] وَفِي عَصۡرِنَا رُبَمَا سَمُّوا مَنۡ يَرَى السَّمۡعَ وَالطَّاعَةَ لِأَوۡلِيَاءِ الۡأُمُورِ فِي غَيۡرِ مَا مَعۡصِيَةٍ عَمِيلًا، أَوۡ مُدَاهِنًا، أَوۡ مُغَفَّلًا. فَتَرَاهُمۡ يَقۡدَحُونَ فِي وَلِيِّ أَمۡرِهِمۡ، وَيُشۡهِرُونَ بِعُيُوبِهِ مِنۡ فَوۡقِ الۡمَنَابِرِ، وَفِي تَجَمُّعَاتِهِمۡ، وَالرَّسُولُ يَقُولُ: “مَنۡ أَرَادَ أَنۡ يَنۡصَحَ لِسُلۡطَانٍ بِأَمۡرٍ؛ فَلَا يُبۡدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنۡ لِيَأۡخُذۡ بِيَدِهِ، فَيَخۡلُوا بِهِ، فَإِنۡ قَبِلَ مِنۡهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدۡ أَدَّى الَّذِي عَلَيۡهِ”.

Di masa kita ini, terkadang mereka (orang-orang Khawarij) menamai siapa saja yang berpendapat untuk mendengar dan taat kepada pemimpin dalam perkara selain kemaksiatan sebagai kaki tangan, penjilat, atau orang yang dungu. Engkau melihat mereka mencela pemimpin mereka, menyebarkan aib-aib mereka di atas mimbar-mimbar dan perkumpulan-perkumpulan mereka. Padahal Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang ingin untuk menasihati suatu perkara kepada pemimpinnya, maka janganlah dia tampakkan terang-terangan. Akan tetapi hendaknya dia mengambil tangannya lalu bersendirian dengannya. Jika pemimpin itu menerimanya, maka itu yang diharapkan. Namun jika tidak, maka dia sudah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad 3/404 dari hadis ‘Iyadh bin Ghunm. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim di dalam As-Sunnah 2/522).

أَوۡ إِذَا رَأَى وَلِيُّ الۡأَمۡرِ إِيقَافَ أَحَدِهِمۡ عَنِ الۡكَلَامِ فِي الۡمَجَامِعِ الۡعَامَّةِ؛ تَجَمَّعُوا وَسَارُوا فِي مُظَاهَرَاتٍ، يَظُنُّونَ – جَهۡلًا مِنۡهُمۡ – أَنَّ إِيقَافَ أَحَدِهِمۡ أَوۡ سَجۡنَهُ يَسُوغُ الۡخُرُوجَ، أَوَ لَمۡ يَسۡمَعُوا قَوۡلَ النَّبِيِّ فِي حَدِيثِ عَوۡفِ بۡنِ مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيِّ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ (١٨٥٥): “لَا. مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ”.

وَفِي حَدِيثِ عُبَادَةَ بۡنِ الصَّامِتِ فِي “الصَّحِيحَيۡنِ”: “إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَّاحًا، عِنۡدَكُمۡ فِيهِ مِنَ اللهِ بُرۡهَانٌ” وَذٰلِكَ سُؤَالُ الصَّحَابَةِ وَاسۡتِئۡذَانُهُمۡ لَهُ بِقِتَالِ الۡأَئِمَّةِ الظَّالِمِينَ.

Atau jika pemimpin negara berpendapat untuk mencekal salah seorang Khawarij agar tidak berbicara di depan umum, maka mereka berkumpul dan melakukan demonstrasi. Mereka mengira—karena kebodohan mereka—bahwa pencekalan salah seorang mereka atau penangkapannya, berarti membolehkan pemberontakan. Apakah mereka tidak mendengar sabda Nabi dalam hadis ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i riwayat Muslim nomor 1855, “Jangan (memberontak) selama mereka menegakkan salat di tengah-tengah kalian.” Dan di dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit dalam dua kitab Shahih, “Kecuali kalian melihat kekufuran yang gamblang, yang kalian memiliki buktinya dari sisi Allah.” Itu adalah jawaban dari pertanyaan para sahabat dan permintaan izin mereka kepada beliau untuk memerangi para pemimpin yang zalim.

أَلَا يَعۡلَمُ هَٰؤُلَاءِ كَمۡ لَبِثَ الۡإِمَامُ أَحۡمَدُ فِي السِّجۡنِ، وَأَيۡنَ مَاتَ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ ابۡنُ تَيۡمِيَّةَ؟! وَأَلَمۡ يَعۡلَمُوا أَنَّ شَيۡخَ الۡإِسۡلَامِ مَكَثَ فِي السِّجۡنِ مَا يَرۡبُو عَلَى سَنَتَيۡنِ، وَمَاتَ فِيهِ، لِمَ لَمۡ يَأۡمُرِ النَّاسَ بِالۡخُرُوجِ عَلَى الۡوَالِيِّ – مَعَ أَنَّهُمۡ فِي الۡفَضۡلِ وَالۡعِلۡمِ غَايَةٌ، فَكَيۡفَ بِمَنۡ دُونَهُمۡ -؟؟! إِنَّ هَٰذِهِ الۡأَفۡكَارَ وَالۡأَعۡمَالَ لَمۡ تَأۡتِ إِلَيۡنَا إِلَّا بَعۡدَ مَا أَصۡبَحَ الشَّبَابُ يَأۡخُذُونَ عِلۡمَهُمۡ مِنَ الۡمُفَكِّرِ الۡمُعَاصِرِ فُلَانٍ، وَمِنَ الۡأَدِيبِ الشَّاعِرِ فُلَانٍ، وَمِنَ الۡكَاتِبِ الۡإِسۡلَامِيِّ فُلَانٍ، وَيَتۡرُكُونَ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ، وَكُتُبَ أَسۡلَافِهِمۡ خَلۡفَهُمۡ ظِهۡرِيًّا؛ فَلَا حَوۡلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.

Apakah mereka itu tidak mengetahui berapa lama Imam Ahmad mendekam di penjara dan di mana Syekh Islam Ibnu Taimiyyah meninggal?! Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Syekh Islam mendekam di penjara lebih dari dua tahun dan meninggal di dalam penjara?! Mengapa beliau tidak memerintahkan manusia agar memberontak kepada pemimpin—padahal mereka ini berada di puncak keutamaan dan keilmuan, lalu bagaimana dengan orang yang di bawah mereka—??! Sesungguhnya pemikiran dan perbuatan ini tidak datang kepada kita kecuali setelah para pemuda mengambil ilmu mereka dari pemikir kontemporer Polan, ahli penyair Polan, penulis Islam Polan; dan mereka meninggalkan para ulama dan kitab-kitab para pendahulu mereka di belakang punggung mereka. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

[2] حَتَّى لَوۡ فَعَلَ الۡكَبِيرَةَ مُسۡتَخِفًّا بِهَا لَا يُكَفَّرُ مَا لَمۡ يَسۡتَحِلَّهَا، خِلَافًا لِمَا يَقُولُهُ بَعۡضُهُمۡ: مِنۡ أَنَّ مُرۡتَكِبَ الۡكَبِيرَةِ إِذَا كَانَ مُسۡتَخِفًّا يُكَفَّرُ كُفۡرًا مُخۡرِجًا عَنِ الۡمِلَّةِ. وَهَٰذَا الۡقَوۡلُ هُوَ عَيۡنُ قَوۡلِ الۡخَوَارِجِ، كَمَا قَالَ ذٰلِكَ شَيۡخُنَا الشَّيۡخُ: عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بَازٍ، عِنۡدَ مَا سُئِلَ عَنۡهُ بِالطَّائِفِ عَامَ ١٤١٥ هـ.

Sampaipun andai ada yang melakukan dosa besar dengan menganggap remeh dosa tersebut, maka dia tidak lantas dikafirkan selama dia tidak menganggap halal perbuatan tersebut. Hal ini menyelisihi pendapat sebagian orang Khawarij, bahwa pelaku dosa besar apabila dia menganggapnya remeh, maka dia dikafirkan dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Pendapat ini adalah asal pendapat khawarij sebagaimana hal itu dikatakan oleh syekh kami Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz ketika beliau ditanya tentangnya di Tha`if pada tahun 1415 H.

[3] Potongan dari hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Ahmad 3/73, Al-Bukhari nomor 7432, Muslim nomor 1064, An-Nasa`i nomor 2578 dan 4101, Abu Dawud nomor 4764, Ath-Thayalisi nomor 2234 dari hadis Abu Sa’id.

Dari hadis ‘Ali bin Abu Thalib riwayat Al-Bukhari nomor 3611, 5057, dan 6930, Muslim nomor 1066, Abu Dawud nomor 4767, Ath-Thayalisi nomor 168, An-Nasa`i nomor 4102, dan Ahmad 1/81, 1/113.

Dari hadis Jabir riwayat Ahmad, Muslim nomor 1063, dan Ibnu Majah nomor 172.

Dari hadis Sahl bin Hunaif riwayat Al-Bukhari nomor 6934, dan Muslim nomor 1068.

Dari hadis Ibnu Mas’ud riwayat Ahmad, At-Tirmidzi nomor 2188, dan Ibnu Majah nomor 168.

Dari hadis Abu Barzah Al-Aslami riwayat Ahmad, Ath-Thayalisi, An-Nasa`i nomor 4103, dan Al-Hakim.

Dari hadis Abu Sa’id dan Anas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Ahmad, Abu Dawud nomor 4765, dan Al-Hakim dalam Mustadrak beliau.

Dari hadis Abu Bakrah riwayat Ahmad dan Ath-Thabarani.

Dan dari hadis ‘Amir bin Wa`ilah riwayat Ath-Thabarani.

[4] Potongan dari hadis yang panjang diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari nomor 7432, Muslim nomor 1064, An-Nasa`i nomor 2578, Abu Dawud nomor 4764, dan Ath-Thayalisi.

[5] Nuniyyah Ibnu Al-Qayyim yang diberi nama Al-Kafiyah Asy-Syafiyah fi Al-Intishar li Al-Firqah An-Najiyah halaman 97.

[6] HR. Al-Bukhari nomor 6930, Muslim nomor 1066, Ahmad di dalam Al-Musnad (1/113), Ibnu Abu ‘Ashim di dalam As-Sunnah nomor 947, ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam As-Sunnah nomor 1487.

عَنۡ عَلِيٍّ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: “يَخۡرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوۡمٌ أَحۡدَاثُ الۡأَسۡنَانِ، سُفَهَاءُ الۡأَحۡلَامِ، يَقُولُونَ مِنۡ خَيۡرِ قَوۡلِ الۡبَرِيَّةِ، لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمۡ حَنَاجِرَهُمۡ، فَأَيۡنَمَا لَقِيتُمُوهُمۡ فَاقۡتُلُوهُمۡ؛ فَإِنًّ قَتۡلَهُمۡ أَجۡرٌ لِمَنۡ قَتَلَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ”.

Dari ‘Ali, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Suatu kaum akan keluar di akhir zaman. Mereka muda-muda umurnya, bodoh akalnya. Mereka berkata dari sebaik-baik ucapan makhluk namun iman mereka tidak melampui laring mereka. Di mana pun kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah mereka (di bawah komando pemerintah), karena ada pahala di hari kiamat bagi siapa saja yang membunuh mereka.”

Abu Sa’id Al-Khudri berkata setelah meriwayatkan sebuah hadis tentang khawarij dan tanda-tanda mereka yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (3/33) dan putranya dalam As-Sunnah nomor 1512. Abu Sa’id berkata, “Dua puluh atau lebih sahabat Rasulullah telah menceritakan kepadaku bahwa ‘Ali yang memimpin pembunuhan khawarij.”

Ahmad meriwayatkan (1/59), Muslim nomor 1066, dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah nomor 1471 dari ‘Ali. Beliau berkata: Rasulullah bersabda,

يَخۡرُجُ قَوۡمٌ فِيهِمۡ رَجُلٌ مُودَنُ الۡيَدِ، أَوۡ مَثۡدُونُ الۡيَدِ، أَوۡ مُخۡدَجُ الۡيَدِ، وَلَوۡلَا أَنۡ تَبۡطَرُوا لَأَنۡبَأۡتُكُمۡ بِمَا وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَهُمۡ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ.

“Suatu kaum akan keluar. Di antara mereka ada seorang pria yang tangannya tidak sempurna atau pendek. Andai kalian tidak jatuh dalam kesombongan, niscaya aku akan ceritakan kepada kalian dengan janji Allah kepada orang-orang yang membunuh mereka sebagaimana yang diucapkan melalui lisan Nabi-Nya.”

Juga diriwayatkan oleh Muslim nomor 1065, Abu Dawud 4667, ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam As-Sunnah nomor 1511 dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda,

تَمۡرُقُ مَارِقَةٌ فِي فِرقَةٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، يَقۡتُلُهُمَا أَوۡلَى الطَّائِفَتَيۡنِ بِالۡحَقِّ.

“Suatu kelompok sempalan akan keluar ketika terjadi perpecahan di antara kaum muslimin. Pihak yang membunuhnya adalah salah satu dari dua pihak yang paling cocok dengan kebenaran.”

Demikianlah, perintah dan keutamaan membunuh mereka telah datang di dalam banyak hadis. Bukan di sini tempat untuk menyebutkan semuanya.

Read More

At Tuhfah As Saniyah

15 April 2019
/ / /

Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran, kitab agung penyempurna risalah sebelumnya. Cukuplah hal ini sebagai kemuliaan Bahasa Arab. Sebagai bahasa agama penutup, yang tidak akan diterima dari siapa pun selain Agama Islam. Islam agama keselamatan. Islam adalah pedoman. Wajib mempelajari islam bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan. Mempelajari Islam adalah mengkaji Al Quran dan As Sunnah, dengan pemahaman para shahabat dan generasi terbaik umat ini. Maka Bahasa Arab tidak bisa dipisahkan dari usaha ini.

Lisan (bahasa) yang Allah pilih adalah Bahasa Arab. Dengannya Allah menurunkan Al Quran yang agung. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikannya sebagai bahasa penutup para nabi,  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya kita katakan, ‘Sepantasnya bagi siapa saja yang mampu mempelajari Bahasa Arab untuk melakukannya, karena Bahasa Arab adalah bahasa yang paling utama.’ [Asy Syafi’i rahimahullah, dinukilkan dari Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim (1/464)].

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kitab-Nya dengan Bahasa Arab, Allah pun mengutus Rasul-Nya untuk menyampaikan Al Quran dan As Sunnah dengan bahasa tersebut. Kaum muslimin yang pertama menyambut dakwah inipun berbicara dengan bahasa ini. Maka tidak ada jalan lain untuk mempelajari agama ini kecuali dengan belajar Bahasa Arab. Jadilah pengetahuan terhadap bahasa ini adalah bagian dari Agama Islam. [Syaikhul Islam rahimahullah, dinukilkan dari Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim (1/464)].

Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab termasuk Ilmu Agama Islam. Dengannya akan diketahui makna Al Quran yang agung. Demi Allah, perkara ini tidak ada yang mengingkarinya. Pengetahuan terhadap tata Bahasa Arab, memperbaiki lisan dalam pengucapannya, serta segala bentuk pelajaran bahasa ini untuk memahami tafsir Al Quran dan Hadis hukumnya adalah harus. [Ibnul Jauzi rahimahullah, dinukilkan dari Talbis Iblis 117].

Di antara kitab nahwu yang menyajikan pembahasan nahwu dengan mudah adalah Muqaddimah Al Ajurrumiyah bersama dengan kitab penjelasnya yang dikenal dengan At Tuhfah As Saniyah. Tentu bagi para penuntut ilmu tidak asing lagi terhadap dua kitab ini. Dua kitab yang mempermudah bagi pemula untuk memahami Bahasa Arab.

Muqaddimah Al Ajurrumiyah ditulis oleh Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash Shanhaji rahimahullah. Lahir tahun 672 H, dan wafat tahun 723 H. Beliau lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Ajurrum. Dari sebutan inilah nama kitab tersebut diambil, yaitu Muqaddimah Al Ajurrumiyah. Sebagian pendapat mengatakan bahwa ajurrum adalah bahasa Barbar yang bermakna, Al Faqir Ash Shufi atau seorang shufi yang miskin. Namun As Suyuthi rahimahullah menegaskan bahwa orang Barbar tidak mengenal kata itu, kecuali nama sebuah kabilah Barbar, kabilah Bani Ajurrum.

Adapun kitab syarah atau penjelas Al Ajurrumiyah yang dikenal dengan At Tuhfah As Saniyyah ditulis oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid rahimahullah, seorang ulama dari Mesir yang lahir pada tahun 1318 H. Secara harfiyah atau bahasa At Tuhfah As Saniyyah sendiri bermakna hadiah yang sangat berharga. Sebuah kitab penjelas yang sangat gamblang. Ungkapan yang mudah dipahami, dan ringkas, tidak menyebutkan perbedaan pendapat yang panjang. Ditambah lagi dengan penyajian contoh, sekilas i’rab atau penyebutan kedudukan sebuah kata, pertanyaan di akhir setiap bab, dan latihan-latihan yang sangat mempermudah bagi mereka yang benar-benar awal dalam menuntut ilmu. Kitab ini memang sangat bermanfaat bagi pemula, sekaligus referensi berharga bagi seorang ahli nahwu sekalipun.

Sebelum masuk penjabaran matan atau tulisan inti (Al Muqaddimah Al Ajurrumiyah), setelah kata pembuka, Asy Syaikh Penulis At Tuhfah menyampaikan semacam wawasan umum tentang maksud ilmu nahwu, tujuan, dan buah pembelajarannya. Juga disinggung orang pertama peletak kaedah nahwu, serta hukum mempelajarinya.

Dijelaskan oleh beliau rahimahullah, bahwa kata nahwu dalam Bahasa Arab memiliki banyak makna. Di antaranya bermakna arah. Orang Arab mengatakan, ‘Dzahabtu nahwa Fulan’, artinya Aku menuju arah Fulan. Bisa juga bermakna keserupaan atau kemiripan. Atas makna ini dalam penggunaannya seperti, ‘Muhammad nahwu Ali’, maksudnya, Muhammad mirip Ali. Adapun maksud nahwu menurut istilah para ulama adalah ilmu yang mempelajari kaedah-kaedah, dengannya akan diketahui hukum akhir setiap kata Bahasa Arab ketika tersusun (dalam kalimat), berupa i’rab (perubahan tersebut) atau bina’ (tetapnya keadaan akhir kata), serta segala yang mengikutinya.

Dari definisi di atas diketahui bahwa pembahasan nahwu adalah khusus lingkup Bahasa Arab. Adapun buah dari mempelajari ilmu ini adalah menjaga lisan dari kesalahan dalam pembicaraan berbahasa Arab, memahami Al Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. Karena Al Quran dan Hadis adalah dua pokok dan inti syariat Islam. Apabila dirunut dalam sejarahnya, pertama kali yang merumuskan kaedah-kaedah nahwu adalah Abu Aswad Ad Duali, atas perintah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Demikian menurut pendapat yang masyhur. Adapun hukum mempelajari ilmu ini adalah fardhu kifayah, pada keadaan tertentu bisa berubah menjadi fardhu ain atas seseorang.

Setelah pemaparan di atas, Asy Syaikh penulis mulai masuk kepada inti pembahasan. Pembahasan awal adalah tentang kalam (kata). Yaitu makna kalam dan pembagiannya. Meliputi pembahasan tanda ism, fiil, dan huruf. Jenis kata dalam Bahasa Arab terbagi menjadi tiga ini, tidak ada yang keempat. Percakapan Bahasa Arab maupun yang tertulis tidak akan keluar dari tiga jenis tersebut. Dalam uraian yang ringkas dan mudah dipahami, Asy Syaikh penulis menyampaikan, bahkan lengkap dengan contoh-contohnya.

Pembahasan berikutnya adalah tentang I’rab. I’rab adalah perubahan keadaan akhir setiap kata karena adanya amil yang masuk padanya. Amil bisa kita artikan dengan sesuatu yang mempengaruhi kata tersebut. Pembagian i’rab dalam empat macam; rafa’, nashab, jar, dan jazm. Penulis menguraikan sama dengan metode sebelumnya, yaitu ringkas dan jelas, disertai contoh dari ayat, syair, atau selainnya. Melengkapi pembahasan ini adalah nawasib (amil penyebab nashab) dan jawazim (amil penyebab jazm). Pembahasan i’rab inilah inti pelajaran nahwu. Selesai dari bab i’rab ini boleh dikatakan telah selesai dari dua per tiga ilmu nahwu.

Selesai dari bab i’rab, Asy Syaikh penulis selalu menjelaskan tentang kata-kata yang kedudukannya rafa’, jenis, serta contohnya. Kemudian perincian jenis kata yang berkedudukan nashab, dan terakhir adalah isim yang berposisi jar atau khafdh, baik dengan huruf, atau idhafah, maupun sebagai tabi’. Inilah pembahasan terakhir dalam kitab yang selesai ditulis pada Bulan Ramadhan tanggal 27 tahun 1353 H ini. Ada beberapa istilah yang harus dipahami langsung dalam pembelajaran nahwu, bukan dalam gambaran singkat ini.

Memang, belajar nahwu sebagaimana disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Saleh bin Utsaimin rahimahullah, bahwa awalnya bagaikan pintu besi, sulit pertama kali memasukinya. Namun, apabila pintu telah terbuka akan gampang dan penuh kemudahan. [Kitab Al Ilmi (136)]. Benar, dengan kesungguhan dan tawakkal disertai doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, insya Allah akan dimudahkan. Belajar kitab At Tuhfah ini sampai selesai kemudian minimalnya mengulang tiga kali, insya Allah akan memiliki dasar ilmu nahwu yang lumayan.

Ya, sekali lagi memang butuh kesabaran dalam belajar nahwu. Sebagian orang semangat belajar di awalnya saja, lalu putus di tengah jalan. Beberapa kali belajar nahwu namun selalu putus dan mengulangi dari awal. Inilah kendala terbesar, yaitu kurang fokus dan kurang serius, tidak ada keberlangsungan dalam belajar. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran, dengannya kita bisa memahami Islam. Maka, kesungguhan dalam mempelajarinya perlu dipertahankan.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 68 vol.06 1440 H rubrik Maktabah. Pemateri: Al Ustadz Abu Muhammad Farhan.

Read More

Kitab Siam Ad-Darari Al-Mudhiyyah

21 Maret 2019
/ / /

يَجِبُ صِيَامُ رَمَضَانَ لِرُؤۡيَةِ هِلَالِهِ مِنۡ عَدۡلٍ أَوۡ كَمَالِ عِدَّةِ شَعۡبَانَ، وَيَصُومُ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا مَا لَمۡ يَظۡهَرۡ هِلَالُ شَوَّالَ قَبۡلَ إِكۡمَالِهَا، وَإِذَا رَآهُ أَهۡلُ بَلَدٍ لَزِمَ سَائِرَ الۡبِلَادِ الۡمُوَافَقَةُ وَعَلَى الصَّائِمِ النِّيَّةُ قَبۡلَ الۡفَجۡرِ.

Puasa Ramadan wajib berdasarkan melihat hilal bulan Ramadan dari seorang yang adil atau dengan sempurnanya hitungan bulan Syakban. Wajib puasa tiga puluh hari selama belum tampak hilal bulan Syawal sebelum menyempurnakan hitungan bulan Ramadan. Apabila penduduk suatu negeri telah melihatnya, wajib bagi seluruh negeri untuk mengikutinya. Dan wajib bagi orang yang berpuasa untuk berniat sebelum fajar.

أَقُولُ: صِيَامُ رَمَضَانَ رُكۡنٌ مِنۡ أَرۡكَانِ الدِّينِ وَضَرُورِيٌّ مِنۡ ضَرُورِيَّاتِهِ.

Puasa Ramadan merupakan satu rukun dari rukun-rukun agama dan satu perkara fundamental yang harus diketahui dari berbagai perkara agama Islam.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَجِبُ الصِّيَامُ عِنۡدَ رُؤۡيَةِ الۡهِلَالِ مِنۡ عَدۡلٍ: فَلِصِيَامِهِ ﷺ وَأَمۡرِهِ لِلنَّاسِ بِالصِّيَامِ لَمَّا أَخۡبَرَهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ بِأَنَّهُ رَآهُ. أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالدَّارِمِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانٍ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ؛ وَصَحَّحَهُ أَيۡضًا ابۡنُ حَزۡمٍ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ بِلَفۡظِ: (تَرَاءَى النَّاسُ الۡهِلَالَ فَأَخۡبَرۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَنِّي رَأَيۡتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ. وَأَخۡرَجَ أَهۡلُ السُّنَنِ، وَابۡنُ حِبَّانٍ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَالۡحَاكِمُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: (جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيۡتُ الۡهِلَالَ يَعۡنِي رَمَضَانَ، فَقَالَ: أَتَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ؟ قَالَ: نَعَمۡ؛ قَالَ: أَتَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: يَا بِلَالُ أَذِّنۡ فِي النَّاسِ فَلِيَصُومُوا غَدًا) وَأَخۡرَجَ الدَّارُقُطۡنِيُّ وَالطَّبۡرَانِيُّ مِنۡ طَرِيقِ طَاوُسٍ قَالَ: (شَهِدۡتُ الۡمَدِينَةَ وَبِهَا ابۡنُ عُمَرَ  وَابۡنُ عَبَّاسٍ؛ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَيَّ وَإِلَيۡهَا وَشَهِدَ عِنۡدَهُ عَلَى رُؤۡيَةِ هِلَالِ شَهۡرِ رَمَضَانَ فَسَأَلَ ابۡنَ عُمَرَ وَابۡنَ عَبَّاسٍ عَنۡ شَهَادَتِهِ فَأَمَرَاهُ أَنۡ يُجِيزَهُ؛ وَقَالَا: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَجَازَ شَهَادَةَ وَاحِدٍ عَلَى رُؤۡيَةِ هِلَالِ رَمَضَانَ، وَكَانَ لَا يُجِيزُ شَهَادَةَ الۡإِفۡطَارِ إِلَّا بِشَهَادَةِ رَجُلَيۡنِ). قَالَ الدَّارُقُطۡنِيُّ تَفَرَّدَ بِهِ حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ الۡأَيۡلِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ. وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى الۡعَمَلِ بِشَهَادَةِ الۡوَاحِدِ ابۡنُ الۡمُبَارَكِ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ وَالشَّافِعِيُّ فِي أَحَدِ قَوۡلَيۡهِ. قَالَ النَّوَوِيُّ: وَهُوَ الۡأَصَحُّ، وَبِهِ قَالَ الۡمُؤَيِّدُ بِاللهِ. وَذَهَبَ مَالِكٌ وَاللَّيۡثُ وَالۡأَوۡزَاعِيُّ وَالثَّوۡرِيُّ أَنَّهُ يُعۡتَبَرُ اثۡنَانِ. وَاسۡتَدَلُّوا بِحَدِيثِ عَبدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ الۡخَطَّابِ وَفِيهِ: (فَإِنۡ شَهِدَ شَاهِدَانِ مُسۡلِمَانِ فَصُومُوا وَأَفۡطِرُوا) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَالنَّسَائِيُّ. وَفِي حَدِيثِ أَمِيرِ مَكَّةَ الۡحَارِثِ بۡنِ حَاطِبٍ قَالَ: (عَهِدَ إِلَيۡنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ نَنۡسُكَ لِلرُّؤۡيَةِ فَإِنۡ لَمۡ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدۡلٍ نَسَكۡنَا بِشَهَادَتِهِمَا) أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ وَقَالَ: وَهَٰذَا إِسۡنَادٌ مُتَّصِلٌ صَحِيحٌ. وَغَايَةُ مَا فِي هَٰذَيۡنِ الۡحَدِيثَيۡنِ أَنَّ مَفۡهُومَ الشَّرۡطِ يَدُلُّ عَلَى عَدَمِ قَبُولِ الۡوَاحِدِ وَلَكِنۡ أَحَادِيثُ قَبُولِ الۡوَاحِدِ أَرۡجَحُ مِنۡ هَٰذَا الۡمَفۡهُومِ.

Kewajiban puasa ketika hilal terlihat oleh seorang yang adil adalah berdasarkan puasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah beliau kepada manusia untuk berpuasa ketika ‘Abdullah bin ‘Umar memberitahu beliau bahwa dia melihat hilal. Riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Beliau menilainya sahih. Ibnu Hazm juga menilainya sahih dari hadits Ibnu ‘Umar dengan redaksi, “Orang-orang berusaha melihat hilal. Kemudian aku memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya. Lalu beliau pun berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.[1]

Dikeluarkan oleh penyusun kitab Sunan, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim dari hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

Seorang arab badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Sungguh aku telah melihat hilal bulan Ramadan.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah?”

Orang itu menjawab, “Iya.”

Nabi melanjutkan, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?”

Orang itu menjawab, “Iya.”

Nabi bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada orang-orang agar mereka berpuasa esok hari.”[2]

Ad-Daraquthni dan Ath-Thabrani mengeluarkan dari jalan Thawus, beliau berkata, “Aku berada di Madinah dan di situ ada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas. Seorang laki-laki datang kepadaku dan ke Madinah. Orang itu bersaksi melihat hilal bulan Ramadhan. Ia pun bertanya kepada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas tentang persaksiannya. Mereka berdua memerintahkannya untuk mengesahkannya. Keduanya berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengesahkan persaksian satu orang dalam melihat hilal bulan Ramadhan. Dan beliau tidak mengesahkan persaksian selesainya puasa kecuali dengan persaksian dua orang.” Ad-Daraquthni berkata: Hafsh bin ‘Umar Al-Aili bersendirian dan dia daif.

Yang berpendapat boleh beramal dengan persaksian satu orang adalah Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hanbal, dan Asy-Syafi’i dalam salah satu pendapat beliau. An-Nawawi berkata: Pendapat ini lebih sahih dan Al-Muayyad Billah berpendapat dengan pendapat ini. Malik, Al-Laits, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri berpendapat bahwa yang diterima adalah dua orang. Mereka berdalil dengan hadits ‘Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab. Dalam hadits itu, “Apabila dua orang muslim bersaksi maka mulailah kalian berpuasa atau berhentilah kalian berpuasa.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan An-Nasa`i.

Dalam hadisnya pemimpin Makkah, Al-Harits bin Hathib, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kami agar kami beribadah berdasarkan melihat hilal. Apabila kami tidak melihatnya lalu ada dua orang adil yang bersaksi melihatnya, maka kami melaksanakan ibadah berdasar persaksian kedua orang tersebut.”[3] Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ad-Daraquthni. Beliau berkata: Ini adalah rantai-rantai periwayatan yang bersambung lagi sahih. Dan maksud kedua hadis ini bahwa pemahaman konteks syarat dalam hadis tersebut menunjukkan tidak diterimanya persaksian satu orang. Akan tetapi hadis-hadis tentang diterimanya persaksian satu orang lebih kuat dari pemahaman tersebut.

وَأَمَّا الصِيَامُ عِنۡدَ إِكۡمَالِ عِدَّةِ شَعۡبَانَ؛ فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صُومُوا لِرُؤۡيَتِهِ وَأَفۡطِرُوا لِرُؤۡيَتِهِ، فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡكُمۡ فَأَكۡمِلُوا عِدَّةَ شَعۡبَانَ ثَلَاثِينَ)، وَالۡأَحَادِيثُ فِي هَٰذَا الۡمَعۡنَى كَثِيرَةٌ.

Adapun puasa Ramadan setelah menyempurnakan hitungan bulan Syakban, berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah kalian apabila melihat hilal dan berhentilah berpuasa apabila melihatnya. Apabila hilal tertutup mendung dari kalian, sempurnakanlah hitungan bulan Syakban menjadi tiga puluh.”[4] Dan hadis-hadis semakna ini ada banyak.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَصُومُ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا مَا لَمۡ يَظۡهَرۡ هِلَالُ شَوَّالٍ قَبۡلَ إِكۡمَالِهَا؛ فَوَجۡهُهُ مَا وَرَدَ مِنَ الۡأَدِلَّةِ الصَّحِيحَةِ أَنَّ الۡهِلَالَ إِذَا غُمَّ صَامُوا ثَلَاثِينَ يَوۡمًا، كَحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ الۡمَذۡكُورِ، وَمِثۡلِهِ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ وَمِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَالنَّسَائِيِّ وَالتِّرۡمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ، وَمِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالدَّارُقُطۡنِيِّ بِإِسۡنَادٍ صَحِيحٍ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَحَادِيثِ. وَفِيهَا التَّصۡرِيحُ بِإِكۡمَالِ الۡعِدَّةِ ثَلَاثِينَ يَوۡمًا فِي بَعۡضِهَا عِدَّةِ شَعۡبَانٍ، وَفِي بَعۡضِهَا مَا يُفِيدُ أَنَّهَا عِدَّةُ رَمَضَانَ، وَفِي بَعۡضِهَا الۡإِطۡلَاقُ وَعَدَمُ التَّقۡيِيدِ بِأَحَدِ الشَّهۡرَيۡنِ.

Wajib berpuasa tiga puluh hari selama belum tampak hilal bulan Syawal sebelum menyempurnakan hitungan bulan Ramadan. Sisi kewajibannya adalah dalil-dalil sahih yang menyatakan bahwa hilal apabila tertutup mendung, maka mereka berpuasa selama tiga puluh hari. Seperti hadis Abu Hurairah yang baru saja disebutkan dan hadis semisalnya di dalam Shahih Muslim dari hadis Ibnu ‘Umar. Juga dari hadits Ibnu ‘Abbas pada riwayat Ahmad, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi. Beliau menilainya sahih. Juga dari hadis ‘Aisyah riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ad-Daraquthni dengan sanad-sanad yang sahih. Dan hadis-hadis selain itu. Dalam hadis itu, dinyatakan dengan gamblang untuk menyempurnakan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari. Pada sebagian riwayat hitungan bulan Syakban dan sebagiannya menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah hitungan bulan Ramadan. Dan sebagian lagi dimutlakkan. Tidak ditentukan pada salah satu dari kedua bulan tersebut.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ إِذَا رَآهُ أَهۡلُ بَلَدٍ لَزِمَ سَائِرَ الۡبِلَادِ الۡمُوَافَقَةُ، فَوَجۡهُهُ الۡأَحَادِيثُ الۡمُصَرِّحَةُ بِالصِّيَامِ لِرُؤۡيَتِهِ، وَالۡإِفۡطَارِ لِرُؤۡيَتِهِ؛ وَهِيَ خِطَابٌ لِجَمِيعِ الۡأُمَّةِ، فَمَنۡ رَآهُ مِنۡهُمۡ فِي أَيِّ مَكَانٍ، كَانَ ذٰلِكَ رُؤۡيَةً لِجَمِيعِهِمۡ. وَأَمَّا اسۡتِدۡلَالُ مَنِ اسۡتَدَلَّ بِحَدِيثِ كُرَيبٍ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ: (أَنَّهُ اسۡتَهَلَّ عَلَيۡهِ رَمَضَانُ وَهُوَ بِالشَّامِ، فَرَأَى الۡهِلَالَ لَيۡلَةَ الۡجُمۡعَةِ وَقَدِمَ الۡمَدِينَةَ فَأَخۡبَرَ بِذٰلِكَ ابۡنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ: لَكِنَّا رَأَيۡنَاهُ لَيۡلَةَ السَّبۡتِ فَلَا نَزَالُ نُكۡمِلُ الصَّوۡمَ حَتَّى يَكۡمُلَ ثَلَاثِينَ أَوۡ نَرَاهُ. ثُمَّ قَالَ: هَٰكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ) وَلَهُ أَلۡفَاظٌ فَغَيۡرُ صَحِيحٍ، لِأَنَّهُ لَمۡ يُصَرِّحِ ابۡنُ عَبَّاسٍ بِأَنَّ النَبِيَّ ﷺ أَمَرَهُمۡ بِأَنۡ لَا يَعۡمَلُوا بِرُؤۡيَةِ غَيۡرِهِمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡأَقۡطَارِ، بَلۡ أَرَادَ ابۡنُ عَبَّاسٍ أَنَّهُ أَمَرَهُمۡ بِإِكۡمَالِ الثَّلَاثِينَ أَوۡ يَرَوۡهُ ظَنًّا مِنۡهُ أَنَّ الۡمُرَادَ بِالرُّؤۡيَةِ رُؤۡيَةُ أَهۡلِ الۡمَحَلِّ. وَهَٰذَا خَطَأٌ فِي الۡاسۡتِدۡلَالِ أَوۡقَعَ النَّاسُ فِي الۡخَبۡطِ وَالۡخلطِ حَتَّى تَفَرَّقُوا فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَمَانِيَةِ مَذَاهِبٍ. وَقَدۡ أَوۡضَحَتۡ الۡمَقَامُ فِي الرِّسَالَةِ الَّتِي سَمَّيۡتُهَا (اطۡلَاعُ أَرۡبَابِ الۡكَمَالِ، عَلَى مَا فِي رِسَالَةِ الۡجُلَالِ فِي الۡهِلَالِ مِنَ الۡاخۡتِلَالِ).

Bahwa apabila seorang penduduk suatu negeri telah melihat hilal mengharuskan seluruh negeri untuk mengikutinya, maka sisi pendalilannya adalah hadis-hadis yang menjelaskan untuk berpuasa karena melihat hilal dan tidak berpuasa karena melihat hilal. Hadis tersebut merupakan pembicaraan yang ditujukan untuk seluruh umat. Sehingga, siapa saja di antara mereka yang telah melihat hilal di manapun dia berada, maka itu adalah rukyat bagi keseluruhan mereka.

Adapun pengambilan dalil orang-orang yang berdalil dengan hadis Kuraib riwayat Muslim dan selain beliau, yaitu, “Bahwa hilal bulan Ramadhan tampak oleh Kuraib ketika berada di Syam. Beliau melihat hilal itu pada malam Jum’at. Kemudian beliau sampai di Madinah, lalu mengabarkan perkara itu kepada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata: Akan tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, sehingga kami akan tetap menyempurnakan puasa sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihat hilal lagi. Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata: Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami.”[5] Dan ada redaksi hadis lainnya.

Pendalilan ini tidak sahih, karena Ibnu ‘Abbas tidak menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk tidak beramal berdasarkan rukyat dari penduduk negeri-negeri selain mereka. Tetapi yang Ibnu ‘Abbas inginkan adalah bahwa Nabi memerintahkan mereka untuk menyempurnakan tiga puluh hari atau sampai mereka melihat hilal karena persangkaan Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud dengan rukyat adalah rukyat penduduk daerah tempat itu. Dan ini kesalahan dalam pengambilan dalil yang menempatkan manusia di dalam kekeliruan dan kerancuan sehingga mereka berpecah-belah dalam hal itu menjadi delapan mazhab. Dan aku telah jelaskan perkara ini dalam sebuah tulisan yang aku beri judul Ithla’u Arbabil Kamal ‘ala ma fi Risalatil Julal fil Hilal minal Ikhtilal.

وَأَمَّا كَوۡنُ عَلَى الصَّائِمِ النِّيَّةُ قَبۡلَ الۡفَجۡرِ، فَلِحَدِيثِ حَفۡصَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (مَنۡ لَمۡ يَجۡمَعِ الصِّيَامَ قَبۡلَ الۡفَجۡرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ، وَابۡنُ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنُ حِبَّانٍ وَصَحَّحَاهُ، وَلَا يُنَافِي ذٰلِكَ رِوَايَةَ مَنۡ رَوَاهُ مَوۡقُوفًا، فَالرَّفۡعُ زِيَادَةٌ يَتَعَيَّنُ قَبُولُهَا عَلَى مَا ذَهَبَ إِلَيۡهِ أَهۡلُ الۡأُصُولِ وَبَعۡضُ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ. وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ جَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، وَخَالَفَهُمۡ آخَرُونَ وَاسۡتَدَلُّوا بِمَا لَا تَقُومُ بِهِ الۡحُجَّةُ.

أَمَّا حَدِيثُ أَمۡرِهِ ﷺ لِمَنۡ أَصۡبَحَ صَائِمًا أَنۡ يُتِمَّ صَوۡمَهُ فِي يَوۡمِ عَاشُورَاءِ، فَغَايَةُ مَا فِيهِ أَنَّ مَنۡ لَمۡ يَتَبَيَّنۡ لَهُ وُجُوبُ الصَّوۡمِ إِلَّا بَعۡدَ دُخُولِ النَّهَارِ كَانَ ذٰلِكَ عُذۡرًا لَهُ عَنِ التَّبۡيِيتِ.

وَأَمَّا حَدِيثُ: أَنَّهُ ﷺ دَخَلَ عَلَى بَعۡضِ نِسَائِهِ ذَاتَ يَوۡمٍ فَقَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكُمۡ مِنۡ شَيۡءٍ؟ فَقَالُوا: لَا، فَقَالَ: إِنِّي إِذَنۡ صَائِمٌ) فَذٰلِكَ فِي صَوۡمِ التَّطَوُّعِ.

Adapun bahwa orang yang berpuasa wajib untuk niat sebelum fajar, berdasar hadis Hafshah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa saja yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”[6] Dikeluarkan oleh Ahmad, penulis kitab Sunan, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban. Beliau menilainya sahih. Dan hal itu tidak menafikan riwayat yang diriwayatkan secara mauquf. Karena riwayat yang marfuk adalah sebuah tambahan yang meyakinkan diterimanya hadis sebagaimana pendapat ahli ushul dan sebagian ahli hadis. Dan sekelompok ulama juga berpendapat demikian, sedangkan sebagiannya menyelisihi mereka dan mereka berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan alasan.

Adapun hadis perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi siapa saja yang pada pagi hari dalam keadaan berpuasa agar menyempurnakan puasanya di hari Asyura, maka maksudnya adalah bahwa siapa saja yang belum terang baginya kewajiban suatu puasa kecuali setelah masuk siang hari, maka itu merupakan uzur baginya dari melakukan niat sebelum fajar.

Adapun hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui sebagian istri-istri beliau pada suatu hari lantas menanyakan, “Apakah kalian memiliki makanan?”

Istri-istri beliau menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Kalau begitu, aku berpuasa.”[7]

Hadis tersebut pada puasa sunah.

فَصۡلٌ
فِي ذِكۡرِ مُبۡطِلَاتِ الصَّوۡمِ

Pasal tentang Pembatal-pembatal Puasa

يَبۡطُلُ بِالۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ وَالۡجِمَاعِ وَالۡقَيۡءِ عَمۡدًا، وَيَحۡرُمُ الۡوِصَالُ. وَعَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَمۡدًا كَفَّارَةٌ كَكَفَّارَةِ الظِّهَارِ، وَيُنۡدَبُ تَعۡجِيلُ الۡفِطۡرِ وَتَأۡخِيرُ السَّحُورِ.

Puasa menjadi batal karena makan, minum, jimak, dan muntah dengan sengaja. Puasa wishal haram. Bagi siapa saja yang membatalkan puasa dengan sengaja wajib kafarat seperti kafarat zhihar. Disukai menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur.

أَقُولُ: أَمَّا بُطۡلَانُ الصَّوۡمِ بِالۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ عَمۡدًا فَلَا خِلَافَ فِي ذٰلِكَ، وَأَمَّا مَعَ نِسۡيَانٍ فَلَا، لِمَا فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوۡ شَرِبَ فَلۡيُتِمَّ صَوۡمَهُ فَاللهُ أَطۡعَمَهُ وَسَقَاهُ). وَفِي لَفۡظِ الدَّارُقُطۡنِيُّ بِإِسۡنَادٍ صَحِيحٍ: (فَإِنَّمَا هُوَ رِزۡقٌ سَاقَهُ اللهُ إِلَيۡهِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ). وَفِي لَفۡظٍ آخَرَ لِلدَّارُقُطۡنِيِّ، وَابۡنِ خُزَيۡمَةَ، وَابۡنِ حِبَّانَ، وَالۡحَاكِمِ: (مَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا مِنۡ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ وَلَا كَفَّارَةَ)، وَإِسۡنَادُهُ صَحِيحٌ أَيۡضًا.

Aku katakan: Adapun batalnya puasa karena makan dan minum dengan sengaja (tidak lupa), maka tidak ada perselisihan padanya. Adapun dalam keadaan lupa, maka tidak batal. Berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang lupa sedang berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaknya ia melanjutkan menyempurnakan puasanya. Karena Allah yang telah memberinya makan dan minum.”[8]

Di dalam redaksi riwayat Ad-Daraquthni dengan sanad yang sahih, “Karena itu adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadanya dan tidak ada kewajiban kada puasa atasnya.”

Di dalam redaksi yang lain milik Ad-Daraquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, “Siapa saja yang melakukan pembatal puasa di suatu hari di bulan Ramadan dalam keadaan lupa, maka tidak ada kewajiban kada puasa dan kafarat atasnya.” Sanadnya juga sahih.

وَهَٰكَذَا الۡجِمَاعُ لَا خِلَافَ فِي أَنَّهُ يُبۡطِلُ الصِّيَامَ إِذَا وَقَعَ مِنۡ عَامِدٍ، وَأَمَّا إِذَا وَقَعَ مَعَ الۡنِسۡيَانِ فَبَعۡضُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ أَلۡحَقَهُ بِمَنۡ أَكَلَ أَوۡ شَرِبَ نَاسِيًا، وَتَمَسَّكَ بِقَوۡلِهِ فِي الرِّوَايَةِ الۡأُخۡرَى: (وَمَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ وَلَا كَفَّارَةَ). وَبَعۡضُهُمۡ مَنَعَ مِنَ الۡإِلۡحَاقِ، وَأَمَّا الۡقَيۡءُ عَمۡدًا؛ فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ ذَرَعَهُ الۡقَيۡءُ فَلَيۡسَ عَلَيۡهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسۡتَقَاءَ عَمۡدًا فَلۡيَقۡضِ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَاۡبُن حِبَّانَ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ.

Demikian pula jimak, tidak ada perselisihan bahwa hal itu membatalkan puasa ketika dilakukan oleh orang yang sengaja (tidak lupa). Adapun ketika dilakukan dalam keadaan lupa, maka sebagian ulama mengikutkannya dengan orang yang makan atau minum dalam keadaan lupa. Mereka berpegang dengan sabda Nabi di dalam riwayat yang lain, “Siapa saja yang melakukan pembatal puasa di siang hari di bulan Ramadan dalam keadaan lupa, maka tidak ada kewajiban kada puasa dan kafarat atasnya.”

Sebagian ulama lainnya berpendapat tidak mengikutkan (jimak dalam keadaan lupa dengan makan minum dalam keadaan lupa).

Adapun muntah secara sengaja, maka berdasarkan hadis Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang dikalahkan oleh muntah, maka tidak ada kewajiban kada puasa atasnya. Adapun yang memuntahkan dengan sengaja, maka dia harus mengada.”[9] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni, dan Al-Hakim; dan beliau menilainya sahih.

وَقَدۡ حَكَى ابۡنُ الۡمُنۡذِرِ الۡإِجۡمَاعَ عَلَى أَنَّ تَعَمُّدَ الۡقَيۡءِ يُفۡسِدُ الصِّيَامَ وَفِيهِ نَظَرٌ، فَإِنَّ ابۡنَ مَسۡعُودٍ، وَعِكۡرِمَةَ، وَرَبِيعَةَ، وَالۡهَادِيَ، وَالۡقَاسِمَ قَالُوا: إِنَّهُ لَا يُفۡسِدُ الصَّوۡمَ سَوَاءً كَانَ غَالِبًا أَوۡ مُسۡتَخۡرَجًا مَالَمۡ يَرۡجِعۡ مِنۡهُ شَيۡءٌ بِاخۡتِيَارِهِ، وَاسۡتَدَلُّوا بِحَدِيثٍ: (ثَلَاثٌ لَا يُفۡطِرۡنَ: الۡقَيۡءُ وَالۡحِجَامَةُ وَالۡاحۡتِلَامُ) أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ، وَفِي إِسۡنَادِهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَعَلَى فَرۡضِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلۡإِسۡتِدۡلَالِ فَلَا يُعَارِضُ حَدِيثَ أَبِي هُرَيۡرَةَ لِأَنَّ هَٰذَا مُطۡلَقٌ وَذَاكَ مُقَيَّدٌ بِالۡعَمۡدِ.

Ibnu Al-Mundzir mengisahkan adanya kesepakatan bahwa sengaja muntah dapat merusak puasa. Namun kesepakatan ini perlu dilihat lagi karena Ibnu Mas’ud, ‘Ikrimah, Rabi’ah, Al-Hadi, dan Al-Qasim berkata: Bahwa hal itu tidak merusak puasa, sama saja apakah muntah itu keluar tanpa diusahakan atau memang sengaja dikeluarkan selama tidak ada bagian muntahan itu yang masuk kembali dengan dia upayakan. Mereka berdalil dengan sebuah dalil, “Tiga hal yang tidak membatalkan puasa, yaitu: muntah, bekam, dan mimpi basah.”[10] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Abu Sa’id. Di dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan dia daif. Dan atas dasar pendapat yang menetapkan bolehnya hadis tersebut dipakai untuk berdalil, hal itu tidak bertentangan dengan hadis Abu Hurairah. Karena hadis ini mutlak, sementara hadis Abu Hurairah itu dikaitkan dengan unsur kesengajaan.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ الۡوِصَالُ؛ فَلِنَهۡيِهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَابۡنِ عُمَرَ، وَعَائِشَةَ وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا، وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun haramnya puasa wishal (menyambung puasa) adalah berdasarkan larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hal itu. Sebagaimana di dalam hadis Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, dan ‘Aisyah yang terdapat di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا وُجُوبُ الۡكَفَّارَةِ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَمۡدًا؛ فَلِحَدِيثِ الۡمُجَامِعِ فِي رَمَضَانَ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَهُ: (هَلۡ تَجِدُ مَا تُعۡتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تَصُومَ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَهَلۡ تَجِدُ مَا تُطۡعِمُ سِتِّينَ مِسۡكِينًا؟ قَالَ: لَا، ثُمَّ أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمۡرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقۡ بِهَٰذَا، قَالَ: فَهَلۡ عَلَى أَفۡقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيۡنَ لَابَتَيۡهَا أَهۡلُ بَيۡتٍ أَحۡوَجُ مِنَّا، فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ وَقَالَ: اذۡهَبۡ فَأَطۡعِمۡهُ أَهۡلَكَ). وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَعَائِشَةَ. وَقَدۡ قِيلَ إِنَّ الۡكَفَّارَةَ لَا تَجِبُ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ عَامِدًا بِأَيِّ سَبَبٍ بَلۡ بِالۡجِمَاعِ فَقَطۡ، وَلَكِنۡ الرَّجُلُ إِنَّمَا جَامَعَ امۡرَأَتَهُ فَلَيۡسَ فِي الۡجِمَاعِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ إِلَّا مَا فِي الۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ لِكَوۡنِ الۡجَمِيعُ حَلَالًا لَمۡ يَحۡرُمۡ إِلَّا لِعَارِضِ الصَّوۡمِ. وَقَدۡ وَقَعَ فِي رِوَايَةٍ مِنۡ هَٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّ الرَّجُلَ أَفۡطَرَ وَلَمۡ يُذۡكَرِ الۡجِمَاعُ.

Adapun wajibnya kafarat bagi siapa saja yang membatalkan puasanya dengan sengaja, maka berdasarkan hadis pria yang menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadan.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendapati sesuatu yang bisa membebaskan seorang budak?”

Pria itu menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut?”

Pria itu menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya, “Apakah engkau mendapati sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?”

Pria itu menjawab, “Tidak.”

Kemudian ada yang datang membawa sekeranjang kurma. Nabi bersabda, “Bersedekahlah dengan ini!”

Pria itu berkata, “Apakah kepada orang yang lebih fakir daripada kami? Tidak ada di antara dua tanah berbatu hitam ini seorang penghuni rumah pun yang lebih butuh daripada kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi-gigi geraham beliau dan beliau bersabda, “Berilah makan keluargamu dengannya!”[11]

Hadis ini ada di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Abu Hurairah dan ‘Aisyah.

Ada yang berkata bahwa kafarat tidak wajib bagi siapa saja yang membatalkan puasanya dengan sengaja dengan sebab yang manapun kecuali jimak saja. Akan tetapi pria tadi menjimak istrinya dan tidaklah pada jimak di siang hari bulan Ramadan kecuali ada pula pada makan dan minum, karena semuanya itu adalah perkara yang halal kecuali ketika sedang puasa. Juga terdapat suatu riwayat dari hadis ini bahwa pria itu batal puasanya, namun tidak disebutkan penyebabnya adalah jimak.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُنۡدَبُ تَعۡجِيلُ الۡفِطۡرِ وَتَأۡخِيرُ السَّحُورِ؛ فَلِحَدِيثِ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيۡرٍ مَا عَجَّلُوا الۡفِطۡرَ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَعَنۡ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيۡرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الۡفِطۡرَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَفِي إِسۡنَادِهِ سُلَيۡمَانُ بۡنُ أَبِي عُثۡمَانَ، قَالَ أَبُو حَاتِمٍ، مَجۡهُولٌ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ زَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ: (إِنَّهُ كَانَ بَيۡنَ تَسَحُّرِهِ ﷺ وَدُخُولِهِ فِي الصَّلَاةِ قَدۡرَ مَا يَقۡرَأُ الرَّجُلُ خَمۡسِينَ آيَةً) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ.

Adapun disukainya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur adalah berdasarkan hadis Sahl bin Sa’d: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[12] Hadis ini ada dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya.

Dan dari Abu Dzarr, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa akan baik selama mereka mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan buka puasa.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan dalam sanadnya ada Sulaiman bin Abu ‘Utsman. Abu Hatim berkata, “Dia majhul (tidak diketahui).”

Telah sabit di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari hadis Zaid bin Tsabit bahwa waktu antara makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuknya beliau (ke masjid) untuk salat adalah sekadar seseorang membaca lima puluh ayat.”[13] Di dalam bab ini ada banyak hadis.

فَصۡلٌ
فِي وُجُوبِ الۡقَضَاءِ وَرُخۡصَةِ الۡفِطۡرِ لِلۡمُسَافِرِ

Pasal tentang Wajibnya Kada dan Rukhsah Tidak Berpuasa bagi Musafir

يَجِبُ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ لِعُذۡرٍ شَرۡعِيٍّ أَنۡ يَقۡضِيَ. وَالۡفِطۡرُ لِلۡمُسَافِرِ وَنَحۡوِهِ رُخۡصَةٌ إِلَّا أَنۡ يَخۡشَى التَّلَفَ أَوِ الضَّعۡفَ عَنِ الۡقِتَالِ فَعَزِيمَةٌ. وَمَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ، وَالۡكَبِيرُ الۡعَاجِزُ عَنِ الۡأَدَاءِ وَالۡقَضَاءِ يُكَفِّرُ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ بِإِطۡعَامِ مِسۡكِينٍ.

  • Wajib mengada puasa bagi siapa saja yang tidak berpuasa karena uzur syar’i.
  • Tidak berpuasa bagi musafir dan semisalnya adalah rukhsah. Kecuali apabila akan celaka atau lemah dalam menghadapi peperangan, maka berbuka menjadi wajib.
  • Siapa saja yang mati dan masih punya utang puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.
  • Orang yang sudah tua lagi lemah, baik untuk berpuasa atau menggantinya, maka membayar kafarat setiap harinya memberi makan satu orang miskin.

أَقُولُ: أَمَّا وُجُوبُ الۡقَضَاءِ عَلَى مَنۡ أَفۡطَرَ لِعُذۡرٍ شَرۡعِيٍّ كَالۡمُسَافِرِ وَالۡمَرِيضِ؛ فَقَدۡ صَرَّحَ بِذٰلِكَ الۡقُرۡآنُ الۡكَرِيمُ: ﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ﴾ [البقرة: ١٨٤] وَقَدۡ وَرَدَ فِي الۡحَائِضِ حَدِيثُ مُعَاذٍ عَنۡ عَائِشَةَ وَقَدۡ تَقَدَّمَ ذِكۡرُهُ، وَالنُّفَسَاءُ مِثۡلُهَا.

Aku katakan: Adapun wajibnya mengada puasa bagi siapa saja yang tidak berpuasa karena uzur yang dibenarkan oleh syariat, seperti musafir dan orang sakit, maka Alquran telah menerangkan hal itu. Yaitu ayat yang artinya, “Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184).

Juga ada hadis Mu’adz dari ‘Aisyah tentang wanita yang sedang haid. Hadis itu telah disebutkan. Yang semisal itu adalah wanita yang sedang nifas.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡفِطۡرِ لِلۡمُسَافِرِ رُخۡصَةً إِلَّا أَنۡ يَخۡشَى التَّلَفَ أَوِ الضَّعۡفَ عَنِ الۡقِتَالِ فَعَزِيمَةً، فَالۡأَحَادِيثُ مِنۡهَا قُوۡلُهُ ﷺ: (إِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَفۡطِرۡ) لَمَّا سَأَلَهُ حَمۡزَةُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيُّ عَنِ الصَّوۡمِ فِي السَّفَرِ، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ، وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسٍ (كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَلَمۡ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ). وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ عَنۡ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: (يَا رَسُولَ اللهِ أَجِدُ مِنِّي قُوَّةً عَلَى الصَّوۡمِ فَهَلۡ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ: هِيَ رُخۡصَةٌ مِنَ اللهِ فَمَنۡ أَخَذَهَا فَحَسَنٌ، وَمَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَصُومَ فَلَاجُنَاحَ عَلَيۡهِ).

Tidak berpuasa bagi musafir adalah rukhsah kecuali apabila dia khawatir celaka atau lemah dalam berperang, maka berbuka menjadi wajib. Ada banyak hadis, di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau mau, berpuasalah. Dan jika engkau mau, tidak usah berpuasa.”[14] Hal itu ketika beliau ditanyai oleh Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami tentang puasa ketika safar. Riwayat ini ada di dalam dua kitab Shahih dari hadis ‘Aisyah.

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Anas, “Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa. Dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa.”[15]

Imam Muslim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, aku memiliki kekuatan untuk berpuasa (ketika safar). Apakah aku berdosa?”

Rasulullah menjawab, “(Tidak berpuasa ketika safar) merupakan rukhsah dari Allah. Siapa saja yang mengambilnya, maka baik. Dan siapa saja yang suka berpuasa, dia tidak berdosa.”[16]

وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي سَفۡرَةٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدۡ ظُلِّلَ عَلَيۡهِ فَقَالَ: مَا هَٰذَا؟ فَقَالُوا: صَائِمٌ، فَقَالَ: لَيۡسَ مِنَ الۡبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ). وَأَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ، وَأَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: (سَافَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى مَكَّةَ وَنَحۡنُ صِيَامٌ قَالَ: فَنَزَلۡنَا مَنۡزِلًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّكُمۡ قَدۡ دَنَوۡتُمۡ مِنۡ عَدُوِّكُمۡ وَالۡفِطۡرُ أَقۡوَى لَكُمۡ، فَكَانَتۡ رُخۡصَةً فَمِنَّا مَنۡ صَامَ وَمِنَّا مَنۡ أَفۡطَرَ. ثُمَّ نَزَلۡنَا مَنۡزِلًا آخَرَ، فَقَالَ: إِنَّكُمۡ مُصۡبِحُونَ عَدُوَّكُمۡ وَالۡفِطۡرُ أَقۡوى لَكُمۡ فَافۡطُرُوا فَكَانَتۡ عَزِيمَةً، ثُمَّ لَقَدۡ رَأَيۡتُنَا نَصُومُ بَعۡدَ ذٰلِكَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي السَّفَرِ).

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah safar. Beliau melihat ada orang-orang mengerumuni seseorang yang diberi naungan.

Beliau bertanya, “Ada apa ini?”

Orang-orang menjawab, “Dia berpuasa.”

Rasulullah bersabda, “Berpuasa ketika safar tidak termasuk kebajikan.”[17]

Imam Muslim rahimahullah, Ahmad, dan Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Sa’id. Beliau berkata: Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Makkah dalam keadaan kami berpuasa. Abu Sa’id berkata: Lalu kami singgah di suatu tempat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian sudah dekat dengan musuh kalian. Tidak berpuasa lebih kuat bagi kalian.”

Ketika itu, tidak berpuasa adalah rukhsah sehingga di antara kami ada yang berpuasa dan di antara kami ada yang tidak. Kemudian kami singgah di tempat lain.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya besok pagi kalian akan bertemu dengan musuh kalian dan tidak berpuasa lebih kuat untuk kalian. Berbukalah!”

Sehingga tidak berpuasa ketika itu merupakan kewajiban. Kemudian setelah itu sungguh aku melihat kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.[18]

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى كَوۡنِ الصَّوۡمِ رُخۡصَةً فِي السَّفَرِ الۡجُمۡهُورُ، وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ بَعۡضِ الظَّاهِرِيَّةِ وَهُوَ مَحۡكِيٌّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَالۡإِمَامِيَّةِ أَنَّ الۡفِطۡرَ فِي السَّفَرِ وَاجِبٌ، وَأَنَّ الصَّوۡمَ لَا يُجۡزِىءُ وَكَذَا الۡمُسَافِرُ وَالۡمُرۡضِعُ وَالۡحُبۡلَى لِمَا أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَهۡلُ السُّنَنِ وَحَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ الۡكَعۡبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الۡمُسَافِرِ الصَّوۡمَ وَشَطۡرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الۡحُبۡلَي وَالۡمُرۡضِعِ الصَّوۡمَ).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa ketika safar adalah rukhsah. Telah diriwayatkan dari sebagian penganut paham Zhahiriyyah dan dikisahkan dari Abu Hurairah dan Imamiyyah, bahwa berbuka ketika safar adalah wajib dan bahwa berpuasa tidak sah.

Demikian pula musafir, wanita yang menyusui, dan wanita yang hamil, berdasarkan riwayat Ahmad dan penyusun kitab Sunan. At-Tirmidzi menilainya hasan. Yaitu riwayat dari Anas bin Malik Al-Ka’bi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan puasa (pada saat itu) dan separuh salat dari musafir. Juga menggugurkan puasa (pada saat itu) dari wanita yang hamil dan menyusui.”[19]

وَأَمَّا كَوۡنُ مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ؛ فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صِيَامٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ)، وَقَدۡ زَادَ الۡبَزَّارُ لَفۡظَ (إِنۡ شَاءَ). قَالَ فِي مَجۡمَعِ الزَّوَائِدِ وَإِسۡنَادُهُ حَسَنٌ، وَبِهِ قَالَ بَعۡضُ أَصۡحَابِ الۡحَدِيثِ، وَبَعۡضُ أَصۡحَابِ الشَّافِعِيَّةِ، وَأَبُو ثَوۡرٍ، وَالصَّادِقُ، وَالنَّاصِرُ، وَالۡمُؤَيَّدُ بِاللهِ، وَالۡأَوۡزَعِيُّ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ قَالَ الۡبَيۡهَقِيُّ فِي الۡخِلَافِيَّاتِ: هَٰذِهِ السُّنَّةُ ثَابِتَةٌ لَا أَعۡلَمُ خِلَافًا بَيۡنَ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ فِي صِحَّتِهَا. وَذَهَبَ جمُهۡوُر ُالۡفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجِبُ صَوۡمُ الۡوَلِيِّ عَنۡ وَلِيِّهِ.

Adapun perihal siapa saja yang mati dalam keadaan ada tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya, maka berdasarkan hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya.”[20]

Al-Bazzar menambahkan dengan lafal, “Jika dia mau.” Beliau berkata di dalam Majma’ Az-Zawa`id: Dan sanadnya hasan.

Sebagian ahli hadis, sebagian murid Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Ash-Shadiq, An-Nashir, Al-Mu`ayyad Billah, Al-Auza’i, dan Ahmad bin Hanbal berpendapat dengannya. Al-Baihaqi berkata dalam Al-Khilafiyyat: Sunah ini sabit/telah pasti. Aku tidak mengetahui ada perselisihan antara ahli hadis tentang kesahihannya. Mayoritas fukaha berpendapat tidak wajibnya puasa wali orang yang meninggal atas namanya.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡكَبِيرِ الۡعَاجِزِ عَنِ الۡأَدَاءِ وَالۡقَضَاءِ يُكَفِّرُ بِمَا ذُكِرَ؛ فَلِحَدِيثِ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ الثَّابِتِ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: (أُنۡزِلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ: ﴿وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ ۖ﴾ [البقرة: ١٨٤] كَانَ مَنۡ أَرَادَ أَنۡ يُفۡطِرَ وَيَفۡتَدِيَ حَتَّى أُنۡزِلَتِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا فَنَسَخَتۡهَا). وَأَخۡرَجَ هَٰذَا الۡحَدِيثَ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، عَنۡ مُعَاذٍ بِنَحۡوِ مَا تَقَدَّمَ وَزَادَ ثُمَّ أَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ ۖ﴾ [البقرة: ١٨٥] فَأَثۡبَتَ اللهُ صِيَامَهُ عَلَى الۡمُقِيمِ الصَّحِيحِ، وَرَخَّصَ فِيهِ لِلۡمَرِيضِ وَالۡمُسَافِرِ وَثَبَّتَ الۡإِطۡعَامَ لِلۡكَبِيرِ الَّذِي لَا يَسۡتَطِيعُ الصِّيَامَ.

Adapun orang yang sudah tua yang tidak mampu menunaikan puasa dan kada, maka membayar kafarat dengan yang telah disebutkan (memberi makan setiap harinya satu orang miskin), adalah berdasar hadis Salamah bin Al-Akwa’ yang sabit di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya.

Beliau mengatakan: Ketika turun ayat yang artinya, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184), siapa saja yang ingin tidak berpuasa maka dia membayar fidiah. Sampai ayat setelahnya turun dan menasakhnya.[21]

Hadis ini dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Mu’adz seperti yang telah disebutkan dan beliau menambahkan: Kemudian Allah taala menurunkan ayat yang artinya, “Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Jadi Allah menetapkan kewajiban puasa Ramadan bagi orang yang tidak bepergian dan sehat; dan Allah memberi rukhsah kepada orang sakit dan musafir; dan Allah menetapkan fidiah memberi makan seorang miskin bagi orang yang tua yang sudah tidak mampu berpuasa.

وَأَخۡرَجَ الۡبُخَارِيُّ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: (لَيۡسَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ مَنۡسُوخَةً هِيَ لِلشَّيۡخِ الۡكَبِيرِ وَالۡمَرۡأَةِ الۡكَبِيرَةِ لَا يَسۡتَطِيعَانِ أَنۡ يَصُومَا فَيُطۡعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا)، وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لَهُ: أَثَبَتَتۡ لِلۡحُبۡلَى وَالۡمُرۡضِعِ أَنۡ يُفۡطِرَا وَيُطۡعِمَا كُلَّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا. وَأَخۡرَجَ الدَّارَقُطۡنِيُّ وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: (رُخِّصَ لِلشَّيۡخِ الۡكَبِيرِ أَنۡ يُفۡطِرَ وَيُطۡعِمَ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيۡهِ)، وَهَٰذَا عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ تَفۡسِيرٌ لِمَا فِي الۡقُرۡآنِ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الۡإِشۡعَارِ بِالرَّفۡعِ فَكَانَ ذٰلِكَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ الۡكَفَّارَةَ هِيَ إِطۡعَامُ مِسۡكِينٍ عَنۡ كُلِّ يَوۡمٍ.

Al-Bukhari mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata, “Ayat ini tidak mansukh. Ayat ini berlaku untuk orang laki-laki atau wanita yang sudah tua renta yang sudah tidak mampu berpuasa, maka dia memberi makan untuk ganti setiap harinya satu orang miskin.”[22]

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau berkata, “Tetap berlaku bagi wanita yang hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari satu orang miskin.”[23]

Ad-Daraquthni mengeluarkan riwayat dan disahihkan oleh Al-Hakim, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata, “Diberi keringanan untuk orang yang sudah sangat tua untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap harinya satu orang miskin dan tidak wajib kada baginya.”

Ucapan dari Ibnu ‘Abbas ini sebagai tafsir ayat dalam Alquran beserta adanya pengabaran bahwa pendapat beliau bersumber dari Nabi, maka hal itu menjadi dalil bahwa kafarat (orang yang tidak mampu berpuasa) adalah memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya.

بَابُ
صَوۡمِ التَّطَوُّعِ

Bab Puasa Sunah

يُسۡتَحَبُّ صِيَامُ سِتٍّ مِنۡ شَوَّالٍ، وَتِسۡعِ ذِي الۡحِجَّةِ، وَمُحَرَّمٍ، وَشَعۡبَانَ، وَالاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسِ وَأَيَّامِ الۡبِيضِ، وَأَفۡضَلُ التَّطَوُّعِ صَوۡمُ يَوۡمٍ وَإِفۡطَارُ يَوۡمٍ، وَيُكۡرَهُ صَوۡمُ الدَّهۡرِ وَإِفۡرَادُ يَوۡمِ الۡجُمُعَةِ وَيَوۡمِ السَّبۡتِ، وَيَحۡرُمُ صَوۡمُ الۡعِيدَيۡنِ وَأَيَّامِ التَّشۡرِيقِ وَاسۡتِقۡبَالِ رَمَضَانَ بِيَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ.

Disukai puasa enam hari di bulan Syawal, sembilan hari pertama bulan Zulhijah, puasa Muharam, puasa Syakban, puasa Senin dan Kamis, dan puasa hari-hari putih.

Puasa yang paling afdal adalah puasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari.

Dimakruhkan puasa sepanjang tahun dan menyendirikan puasa hari Jumat dan hari Sabtu. Haram puasa dua hari raya, puasa hari-hari tasyrik, dan mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya.

أَقُولُ: أَمَّا صِيَامُ سِتٍّ مِنۡ شَوَّالٍ فَلِحَدِيثٍ: (مَنۡ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتۡبَعَهُ سِتًّا مِنۡ شَوَّالٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهۡرِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ، وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Aku berkata: Adapun puasa enam hari di bulan Syawal, adalah berdasarkan hadis, “Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian dia iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu adalah puasa satu tahun.”[24] Diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah dan selain beliau dari hadis Abu Ayyub. Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا صِيَامُ تِسۡعِ ذِي الۡحِجَّةِ؛ فَلِمَا ثَبَتَ عَنۡهُ ﷺ مِنۡ حَدِيثِ حَفۡصَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَالنَّسَائِيِّ قَالَتۡ: (أَرۡبَعٌ لَمۡ يَكُنۡ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالۡعَشۡرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ) وَأَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِلَفۡظٍ: (كَانَ يَصُومُ تِسۡعَ ذِي الۡحِجَّةِ، وَيَوۡمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَأَوَّلَ اثۡنَيۡنِ مِنَ الشَّهۡرِ وَالۡخَمِيسِ)، وَقَدۡ أَخۡرَجَ مُسۡلِمٌ عَنۡ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتۡ: (مَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَائِمًا فِي الۡعَشۡرِ قَطُّ). وَفِي رِوَايَةٍ: (لَمۡ يَصُمِ الۡعَشۡرَ قَطُّ). وَعَدَمُ رُؤۡيَتِهَا وَعِلۡمِهَا لَا يَسۡتَلۡزِمُ الۡعَدَمَ، وَآكَدُ التِّسۡعِ يَوۡمُ عَرَفَةَ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (صَوۡمُ يَوۡمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيۡنِ مَاضِيَةً وَمُسۡتَقۡبَلَةً، وَصَوۡمُ يَوۡمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً).

Adapun puasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah adalah berdasarkan riwayat yang pasti dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadis Hafshah riwayat Ahmad dan An-Nasa`i. Hafshah mengatakan, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah puasa Asyura, puasa sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, dan puasa tiga hari setiap bulan.”[25]

Abu Dawud meriwayatkannya dengan redaksi, “Dahulu, beliau berpuasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin awal bulan dan hari Kamis.”[26]

Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di sepuluh hari awal bulan Zulhijah sama sekali.”[27]

Dalam riwayat lain, “Beliau tidak pernah berpuasa di sepuluh hari awal bulan Zulhijah sama sekali.”

Ketiadaan penglihatan dan pengetahuan ‘Aisyah ini tidak mengharuskan ketiadaan perbuatan beliau.

Yang paling ditekankan dari sembilan hari awal bulan Zulhijah adalah hari Arafah, karena telah pasti di dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadis Abu Qatadah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan yang akan datang. Puasa hari Asyura menghapus dosa satu tahun lalu.”[28]

وَأَمَّا صِيَامُ شَهۡرِ مُحَرَّمٍ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَمُسۡلِمٍ وَأَهۡلِ السُّنَنِ؛ أَنَّهُ ﷺ سُئِلَ أَيُّ الصِّيَامِ بَعۡدَ رَمَضَانُ أَفۡضَلُ؟ فَقَالَ: (شَهۡرُ اللهِ الۡمُحَرَّمُ)، وَآكَدُهُ يَوۡمُ عَاشُورَاءَ لِمَا وَرَدِ فِيهِ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الثَّابِتَةِ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ: (أَنَّهُ ﷺ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَٰذَا يَوۡمُ عَاشُورَاءَ وَلَمۡ يُكۡتَبۡ عَلَيۡكُمۡ صِيَامُهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنۡ شَاءَ صَامَ، وَمَنۡ شَاءَ فَلۡيُفۡطِرۡ)، وَقَدۡ تَقَدَّمَ أَنَّهُ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً. وَثَبَتَ فِي مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ: (أَنَّهُ لَمَّا أَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوۡمٌ يُعَظِّمُهُ الۡيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ: إِذَا كَانَ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ إِنۡ شَاءَ اللهُ صُمۡنَا التَّاسِعَ، فَلَمۡ يَأۡتِ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ).

Adapun puasa bulan Muharam berdasarkan hadis Abu Hurairah riwayat Ahmad, Muslim, dan penyusun kitab Sunan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya puasa apa yang paling afdal setelah Ramadan. Lalu beliau bersabda, “(Puasa) bulan Allah, yaitu Muharam.”[29]

Yang paling ditekankan adalah hari Asyura, berdasarkan hadis-hadis yang sabit yang menerangkan tentangnya di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, dari sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan puasa hari Asyura. Kemudian beliau bersabda, “Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan puasa bagi kalian. Namun aku berpuasa. Maka, siapa saja ingin, silakan berpuasa, dan siapa saja yang ingin, silakan tidak berpuasa.”[30]

Telah disebutkan bahwa puasa Asyura menghapuskan dosa satu tahun yang lalu.

Juga telah pasti di dalam riwayat Muslim dan selainnya, bahwa ketika Rasulullah memerintahkan puasa hari Asyura, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagung-agungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Rasulullah bersabda, “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan.”

Namun tahun depan belum tiba, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.[31]

وَأَمَّا صِيَامُ شَهۡرِ شَعۡبَانَ، فَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ: (أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمۡ يَكُنۡ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهۡرًا تَامًّا إِلَّا شَعۡبَانَ، يَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَأَهۡلُ السُّنَنِ، وَحَسَّنَهُ التِّرۡمِذِيُّ. وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ: (مَا كَانَ يَصُومُ فِي شَهۡرٍ مَا كَانَ يَصُومُ فِي شَعۡبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا بَلۡ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ). وَفِي لَفۡظٍ: (وَمَا رَأَيۡتُهُ فِي شَهۡرٍ أَكۡثَرَ مِنۡهُ صِيَامًا فِي شَعۡبَانَ).

Adapun puasa bulan Syakban adalah berdasarkan hadis Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu tahun tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali Syakban. Beliau menyambungnya dengan Ramadan.[32] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan penulis kitab Sunan. At-Tirmidzi menilainya hasan.

Di dalam dua kitab Shahih, dari hadis ‘Aisyah, “Rasulullah tidak pernah berpuasa sebagaimana beliau berpuasa di bulan Syakban. Dahulu, beliau banyak berpuasa di bulan Syakban kecuali sedikit. Bahkan beliau berpuasa di sepanjang bulan Syakban.”[33] Dalam redaksi lain, “Aku tidak melihat beliau di suatu bulan lebih banyak berpuasa daripada di bulan Syakban.”[34]

وَأَمَّا الۡإِثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسُ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الۡاثۡنَيۡنِ وَالۡخَمِيسِ) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَابۡنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ. وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَبُو دَاوُدَ مِنۡ حَدِيثِ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ، وَأَخۡرَجَهُ النَّسَائِيُّ أَيۡضًا وَفِي إِسۡنَادِهِ مَجۡهُولٌ، مَعَ أَنَّهُ قَدۡ صَحَّحَهُ ابۡنُ خُزَيۡمَةَ. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (تُعۡرَضُ الۡأَعۡمَالُ كُلَّ اثۡنَيۡنِ وَخَمِيسٍ فَأُحِبُّ أَنۡ يُعۡرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ)، وَفِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الاثۡنَيۡنِ فَقَالَ: (ذٰلِكَ يَوۡمُ وُلِدۡتُ فِيهِ، وَأُنۡزِلَ عَلَيَّ فِيهِ).

Adapun puasa hari Senin dan Kamis adalah berdasarkan hadis ‘Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memilih untuk puasa hari Senin dan Kamis.[35] Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi—dan beliau menilainya sahih—, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban—dan beliau menilainya sahih—. Abu Dawud juga meriwayatkan semisal itu dari hadis Usamah bin Zaid. An-Nasa`i juga meriwayatkannya. Di dalam sanadnya ada rawi yang majhul (tidak diketahui), bersamaan dengan itu Ibnu Khuzaimah telah menilainya sahih.

Ahmad dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) setiap hari Senin dan Kamis, sehingga aku senang amalanku dihadapkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.”[36]

Di dalam Shahih Muslim rahimahullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin, lantas beliau bersabda, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.”[37]

وَأَمَّا صَوۡمُ أَيَّامِ الۡبِيضِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيرِهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثٌ مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، فَهَٰذَا صِيَامُ الدَّهۡرِ كُلِّهِ)، وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرۡمِذِيُّ، وَابۡنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا صُمۡتَ مِنَ الشَّهۡرِ ثَلَاثَةً فَصُمۡ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ وَأَرۡبَعَ عَشۡرَةَ وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ) وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Adapun puasa hari-hari putih adalah berdasarkan hadis Abu Qatadah riwayat Muslim dan selainnya. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga hari setiap bulan dan Ramadan ke Ramadan berikutnya, ini adalah puasa satu tahun penuh.”[38]

Ahmad, An-Nasa`i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban—dan beliau menilainya sahih—meriwayatkan dari hadis Abu Dzarr. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau berpuasa tiga hari dari sebulan, maka berpuasalah hari ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas.”[39] Di dalam bab ini ada beberapa hadis.

وَأَمَّا كَوۡنُ أَفۡضَلُ التَّطَوُّعِ صَوۡمَ يَوۡمٍ وَإِفۡطَارَ يَوۡمٍ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (صُمۡ فِي كُلِّ شَهۡرٍ ثَلَاثَةً، قُلۡتُ: إِنِّي أَقۡوَى مِنۡ ذٰلِكَ، فَلَمۡ يَزَلۡ يَرۡفَعۡنِي حَتَّى قَالَ: صُمۡ يَوۡمًا وَأَفۡطِرۡ يَوۡمًا؛ فَإِنَّهُ أَفۡضَلُ الصِّيَامِ، وَهُوَ صَوۡمُ أَخِي دَاوُدَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ).

Adapun puasa sunah yang paling afdal adalah puasa sehari dan tidak berpuasa sehari, adalah berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap bulan.”

Aku (‘Abdullah bin ‘Amr) berkata, “Sesungguhnya aku lebih kuat daripada itu.”

Maka, Rasulullah terus menambah kekerapan puasa untukku hingga beliau bersabda, “Puasalah satu hari dan tidak berpuasalah satu hari. Karena itu adalah puasa yang paling afdal dan itu adalah puasa saudaraku Dawud ‘alaihis salam.”[40]

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُكۡرَهُ صَوۡمُ الدَّهۡرِ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا صَامَ مَنۡ صَامَ الۡأَبَدَ) وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَابۡنُ حِبَّان، وَابۡنُ خُزَيۡمَةَ، وَالۡبَيۡهَقِي، وَابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ صَامَ الدَّهۡرَ ضُيِّقَتۡ عَلَيۡهِ جَهَنَّمُ هَٰكَذَا، وَقَبَضَ كَفَّهُ). وَلَفۡظُ ابۡنِ حِبَّان: (ضُيِّقَتۡ عَلَيۡهِ جَهَنَّمُ هَٰكَذَا، وَعَقَدَ تِسۡعِينَ) وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.

Perihal dibencinya puasa sepanjang tahun adalah berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak mendapatkan pahala puasa bagi siapa saja yang berpuasa sepanjang masa.”[41] Hadis ini terdapat di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya.

Dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Ibnu Abu Syaibah dari hadis Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa saja yang berpuasa sepanjang tahun, maka neraka jahanam akan disempitkan baginya seperti ini—beliau mengepalkan telapak tangannya—.”[42] Redaksi hadis Ibnu Hibban, “Neraka jahanam akan disempitkan baginya seperti ini—beliau memberi isyarat jari tangan bilangan sembilan puluh (melingkarkan jari telunjuk sehingga ujungnya menyentuh pangkal ibu jari)—.” Dan para perawinya adalah perawi kitab Shahih.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُكۡرَهُ إِفۡرَادُ يَوۡمِ الۡجُمُعَةِ، فَلِحَدِيثِ جَابِرٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الۡجُمُعَةِ). وَفِي رِوَايَةٍ: (أَنۡ يُفۡرَدَ بِصَوۡمٍ). وَفِي الصَّحِيحَيۡنِ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ: (لَا تَصُومُوا يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ، إِلَّا وَقَبۡلَهُ يَوۡمٌ، أَوۡ بَعۡدَهُ). وَفِي لَفۡظٍ لِمُسۡلِمٍ: (وَلَا تَخُصُّوا لَيۡلَةَ الۡجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنۡ بَيۡنَ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنۡ بَيۡنَ الۡأَيَّامِ، إِلَّا أَنۡ يَكُونَ فِي صَوۡمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمۡ). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ.

Perihal dibencinya menyendirikan puasa hari Jumat adalah berdasarkan hadis Jabir di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa hari Jumat.”[43] Dalam riwayat lain, “(Melarang) menyendirikan puasa hari Jumat.”

Di dalam dua kitab Shahih dari hadis Abu Hurairah, “Janganlah kalian berpuasa di hari Jumat, kecuali berpuasa pula sehari sebelumnya atau sesudahnya.”[44] Dalam redaksi hadis riwayat Muslim, “Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan salat malam dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat dengan puasa. Kecuali di hari Jumat itu bertepatan dengan kebiasaan kalian berpuasa.”[45]

Terdapat banyak hadis dalam masalah ini.

وَأَمَّا كَرَاهَةُ إِفۡرَادِ يَوۡمِ السَّبۡتِ بِالصَّوۡمِ، فَلِحَدِيثِ الصَّمَّاءِ بِنۡتِ بُسۡرٍ عِنۡدَ أَحۡمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالتِّرۡمِذِي، وَابۡنِ مَاجَهۡ، وَابۡنِ حِبَّان، وَالۡحَاكِمِ، وَالطَّبَرَانِي، وَالۡبَيۡهَقِي، وَصَحَّحَهُ ابۡنُ السَّكَنِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا تَصُومُوا يَوۡمَ السَّبۡتِ إِلَّا فِيمَا افۡتُرِضَ عَلَيۡكُمۡ؛ فَإِنۡ لَمۡ يَجِدۡ أَحَدُكُمۡ إِلَّا عُودَ عِنَبٍ، أَوۡ لِحَاءَ شَجَرٍ فَلۡيَمۡضُغۡهُ).

Adapun dibencinya menyendirikan puasa di hari Sabtu adalah berdasarkan hadis Ash-Shamma` bintu Busr yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi. Hadis ini dinilai sahih oleh Ibnus Sakan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berpuasa hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian. Apabila salah seorang kalian tidak mendapatkan apapun (untuk membatalkan puasa hari Sabtu) kecuali tangkai anggur atau kulit pohon, maka kunyahlah itu.”[46]

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ صَوۡمُ الۡعِيدَيۡنِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ (أَنَّهُ نَهَى عَنۡ صَوۡمِ يَوۡمِ الۡفِطۡرِ، وَيَوۡمِ النَّحۡرِ) وَقَدۡ أَجۡمَعَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى ذٰلِكَ.

Keharaman puasa dua hari raya adalah berdasarkan hadis Abu Sa’id di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwa beliau melarang dari puasa hari raya Idulfitri dan hari nahar (Iduladha).”[47] Dan kaum muslimin telah sepakat terhadap hal itu.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ صَوۡمُ أَيَّامِ التَّشۡرِيقِ، فَلِنَهۡيِهِ ﷺ عَنِ الصَّوۡمِ فِيهَا، كَمَا ثَبَتَ ذٰلِكَ مِنۡ طَرِيقِ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ؛ وَقَدۡ سَرَدۡتُ أَحَادِيثَهُمۡ فِي شَرۡحِ الۡمُنۡتَقَى.

Keharaman puasa hari-hari tasyrik berdasarkan larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari puasa pada hari-hari tersebut.[48] Sebagaimana riwayat larangan itu telah pasti dari jalan sekelompok sahabat dan aku telah rinci hadis-hadis mereka di dalam Syarh Al-Muntaqa.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَحۡرُمُ اسۡتِقۡبَالُ رَمَضَانَ بِيَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمۡ رَمَضَانَ بِصَوۡمِ يَوۡمٍ أَوۡ يَوۡمَيۡنِ، إِلَّا أَنۡ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُهُ صَوۡمًا فَلۡيَصُمۡهُ). وَيُؤَيِّدُهُ حَدِيثُ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَيۡضًا عِنۡدَ أَصۡحَابِ السُّنَنِ، وَصَحَّحَهُ ابۡنُ حِبَّان وَغَيۡرُهُ مَرۡفُوعًا بِلَفۡظِ: (إِذَا انۡتَصَفَ شَعۡبَانُ فَلَا تَصُومُوا). وَفِي الۡبَابِ أَحَادِيثُ؛ وَالۡخِلَافُ طَوِيلٌ مَبۡسُوطٌ فِي الۡمُطَوَّلَاتِ.

Keharaman mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali salah seorang kalian mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya! Kecuali apabila seseorang yang rutin berpuasa, maka silakan berpuasa.”[49]

Hal ini diperkuat dengan hadis Abu Hurairah pula yang diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan selain beliau secara marfuk dengan lafal, “Apabila sudah berlalu separuh bulan Syakban, janganlah kalian berpuasa.”[50]

Terdapat banyak hadis dalam masalah ini dan ada perselisihan yang panjang yang dipaparkan di dalam muthawwalat (kitab yang membahas hukum secara panjang lebar).

بَابُ الۡاعۡتِكَافِ

Bab Iktikaf

يُشۡرَعُ فِي كُلِّ وَقۡتٍ فِي الۡمَسَاجِدِ. وَهُوَ فِي رَمَضَانَ آكَدُ، سِيَّمَا فِي الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ، وَيُسۡتَحَبُّ الۡاجۡتِهَادُ فِي الۡعَمَلِ فِيهَا، وَقِيَامُ لَيَالِي الۡقَدۡرِ، وَلَا يَخۡرُجُ الۡمُعۡتَكِفُ إِلَّا لِحَاجَةٍ.

Iktikaf disyariatkan pada setiap waktu di masjid. Iktikaf di bulan Ramadan lebih ditekankan, terlebih pada sepuluh hari terakhir. Disukai untuk bersungguh-sungguh dalam amal ibadah di sepuluh hari terakhir tersebut dan salat pada malam Lailatulkadar. Orang yang beriktikaf tidak boleh keluar kecuali ada kebutuhan.

أَقُولُ: لَا خِلَافَ فِي مَشۡرُوعِيَّةِ الۡاعۡتِكَافِ، وَقَدۡ كَانَ يَعۡتَكِفُ النَّبِيُّ ﷺ فِي الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ مِنۡ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ جَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ.

Tidak ada perselisihan tentang disyariatkannya iktikaf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah wafatkan beliau[51], sebagaimana hal itu telah pasti terdapat dalam dua kitab Shahih dan selainnya dari hadis Abu Hurairah.

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَصِحُّ فِي كُلِّ وَقۡتٍ فِي الۡمَسَاجِدِ؛ فَلِأَنَّهُ وَرَدَ التَّرۡغِيبُ فِيهِ وَلَمۡ يَأۡتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ يَخۡتَصُّ بِوَقۡتٍ مُعَيَّنٍ. وَقَدۡ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ؛ (أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: كُنۡتُ نَذَرۡتُ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ أَنۡ أَعۡتَكِفَ لَيۡلَةً فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ، قَالَ: فَأَوۡفِ بِنَذۡرِكَ).

Perihal bahwa iktikaf itu sah pada setiap waktu di masjid-masjid, karena adanya anjuran untuk itu dan tidak ada dalil yang menunjukkan iktikaf dikhususkan pada waktu tertentu. Telah pasti terdapat di dalam kitab Shahih dari hadis Ibnu ‘Umar, bahwa ‘Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umar berkata: Aku dulu bernazar di masa jahiliah untuk iktikaf selama satu malam di Masjidil Haram. Beliau bersabda, “Penuhilah nazarmu.”[52]

وَأَمَّا كَوۡنُهُ لَا يَكُونُ إِلَّا فِي الۡمَسَاجِدِ، فَلِأَنَّ ذٰلِكَ هُوَ مَعۡنَى الۡاعۡتِكَافِ شَرۡعًا، إِذۡ لَا يُسَمَّى مَنِ اعۡتَكَفَ فِي غَيۡرِهَا مُعۡتَكِفًا شَرۡعًا. وَقَدۡ وَرَدَ مَا يَدُلُّ عَلَى ذٰلِكَ كَحَدِيثِ: (لَا اعۡتِكَافَ إِلَّا فِي مَسۡجِدِ جَمَاعَةٍ) أَخۡرَجَهُ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَسَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ مِنۡ حَدِيثِ حُذَيۡفَةَ.

Perihal bahwa iktikaf hanya dilakukan di masjid-masjid, karena itu merupakan makna iktikaf secara syariat. Juga karena tidak dinamakan bagi siapa saja yang iktikaf di selain masjid sebagai mu’takif (orang yang beriktikaf) secara syariat. Terdapat dalil yang menunjukkan hal itu, seperti hadis, “Tidak ada iktikaf kecuali di masjid jamaah.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dan Sa’id bin Manshur dari hadis Hudzaifah.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡاعۡتِكَافُ فِي رَمَضَانَ لَا سِيَّمَا كَوۡن الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ مِنۡهُ أَفۡضَلُ وَآكَدُ، فَلِكَوۡنِهِ ﷺ كَانَ يَعۡتَكِفُ فِيهَا وَلَمۡ يَرِدۡ مَا يَدُلُّ عَلَى تَوۡقِيتِهِ بِيَوۡمٍ أَوۡ أَكۡثَرَ، وَلَا عَلَى اشۡتِرَاطِ الصِّيَامِ إِلَّا مِنۡ قَوۡلِ عَائِشَةَ، وَحَدِيثُ ابۡنِ عُمَرَ الۡمُتَقَدَّمِ يَرُدُّهُ، وَكَذٰلِكَ حَدِيثُ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَيۡسَ عَلَى الۡمُعۡتَكِفِ صِيَامٌ، إِلَّا أَنۡ يَجۡعَلَهُ عَلَى نَفۡسِهِ) أَخۡرَجَهُ الدَّارَقُطۡنِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَقَالَ: صَحِيحُ الۡإِسۡنَادِ، وَرَجَّحَ الدَّارَقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ وَقَّفَهُ. وَبِالۡجُمۡلَةِ؛ فَلَا حُجَّةَ إِلَّا فِي الثَّابِتِ مِنۡ قَوۡلِهِ ﷺ، وَلَمۡ يَثۡبُتۡ عَنۡهُ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا اعۡتِكَافَ إِلَّا بِصَوۡمٍ، بَلۡ ثَبَتَ عَنۡهُ مَا يُخَالِفُهُ فِي نَذۡرِ عُمَرَ. وَقَدۡ رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنۡ عَائِشَةَ مَرۡفُوعًا مِنۡ حَدِيثِ: (وَلَا اعۡتِكَافَ إِلَّا بِصَوۡمٍ). وَرَوَاهُ غَيۡرُهُ مِنۡ قَوۡلِهَا، وَرَجَّحَ ذٰلِكَ الۡحُفَّاظُ.

Adapun perihal bahwa iktikaf di bulan Ramadan terlebih di sepuluh hari terakhir lebih mulia dan lebih ditekankan, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa iktikaf di waktu-waktu tersebut. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan pembatasan waktunya baik satu hari atau lebih. Dan tidak pula disyaratkan puasa kecuali dari ucapan ‘Aisyah. Hadis Ibnu ‘Umar yang telah disebutkan telah membantahnya, demikian pula hadis Ibnu ‘Abbas; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang iktikaf tidak wajib puasa kecuali dia mewajibkan puasa atas dirinya.” Dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Hakim, beliau mengatakan: sanadnya sahih dan dikuatkan oleh Ad-Daraquthni, sedangkan Al-Baihaqi menyatakan mauquf.

Secara umum, tidak ada alasan kecuali yang telah pasti diriwayatkan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak ada dalil yang pasti dari beliau yang menunjukkan bahwa tidak ada iktikaf kecuali dengan puasa. Bahkan telah pasti riwayat dari beliau hal yang menyelisihinya pada riwayat nazarnya ‘Umar. Abu Dawud telah meriwayatkan dari ‘Aisyah secara marfu’ tentang hadis, “Dan tidak ada iktikaf kecuali dengan puasa.”[53] Namun, selain beliau meriwayatkan itu dari ucapan ‘Aisyah dan itulah yang dikuatkan oleh para hafizh.

وَأَمَّا مَشۡرُوعِيَّةُ الۡاجۡتِهَادِ فِي الۡعَمَلِ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا دَخَلَ الۡعَشۡرَ الۡأَوَاخِرَ أَحۡيَا اللَّيۡلَ كُلَّهُ، وَأَيۡقَظَ أَهۡلَهُ، وَشَدَّ الۡمِئۡزَرَ)، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا.

Adapun disyariatkannya bersungguh-sungguh dalam amalan ibadah adalah berdasar hadis ‘Aisyah, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk sepuluh hari terakhir, beliau menghidupkan seluruh malam, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan kain sarung.”[54] Hadis ini terdapat dalam dua kitab Shahih dan selainnya.

وَأَمَّا مَشۡرُوعِيَّةُ قِيَامِ لَيَالِي الۡقَدۡرِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ قَامَ لَيۡلَةَ الۡقَدۡرِ إِيمَانًا وَاحۡتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). وَفِي تَعۡيِينِ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ أَحَدِيثُ مُخۡتَلِفَةٌ، وَأَقۡوَالٌ جَاوَزَتِ الۡأَرۡبَعِينَ، وَقَدۡ اسۡتَوۡفَيۡتُ ذٰلِكَ فِي شَرۡحِ الۡمُنۡتَقَى فَلۡيَرۡجِعۡ إِلَيۡهِ.

Adapun disyariatkannya salat pada malam-malam Lailatulkadar, berdasarkan hadis Abu Hurairah di dalam dua kitab Shahih dan selainnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa saja yang salat pada malam Lailatulkadar karena iman dan mengharap pahala, dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[55] Tentang kepastian kapan malam Lailatulkadar ada hadis-hadis yang berbeda-beda dan pendapat-pendapat yang melebihi empat puluh pendapat. Aku telah mengumpulkannya di dalam Syarh Al-Muntaqa, maka silakan merujuk kepadanya.

وَأَمَّا كَوۡنُ الۡمُعۡتَكِفُ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا لِحَاجَةٍ، فَلَمَّا ثَبَتَ عَنۡهُ ﷺ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ فِي الصَّحِيحَيۡنِ (أَنَّهُ كَانَ لَا يَدۡخُلُ الۡبَيۡتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الۡإِنۡسَانِ إِذَا كَانَ مُعۡتَكِفًا)، وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنۡهَا قَالَتۡ: (كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَمُرُّ بِالۡمَرِيضِ وَهُوَ مُعۡتَكِفٌ فَيَمُرُّ كَمَا هُوَ وَلَا يُعَرِّجُ يَسۡأَلُ عَنۡهُ)، وَفِي إِسۡنَادِهِ لَيۡثُ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمٍ، قَالَ الۡحَافِظُ: وَالصَّحِيحُ عَنۡ عَائِشَةَ مِنۡ فِعۡلِهَا. أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرُهُ، قَالَ: صَحَّ ذٰلِكَ عَنۡ عَلِيٍّ. وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ عَنۡ عَائِشَةَ أَيۡضًا قَالَتۡ: (السُّنَّةُ عَلَى الۡمُعۡتَكِفِ أَنۡ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشۡهَدُ جَنَازَةً، وَلَا يَمَسَّ امۡرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخۡرُجَ لِحَاجَةٍ إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنۡهُ، وَلَا اعۡتِكَافَ إِلَّا بِصَوۡمٍ، وَلَا اعۡتِكَافَ إِلَّا فِي مَسۡجِدٍ جَامِعٍ)، وَأَخۡرَجَهُ أَيۡضًا النَّسَائِيُّ وَلَيۡسَ فِيهِ قَالَتۡ: (السُّنَّةُ) قَالَ أَبُو دَاوُدَ غَيۡرُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ إِسۡحَاقَ لَا يَقُولُ فِيهِ قَالَتۡ السُّنَّةُ، وَجَزِمَ الدَّارَقُطۡنِيُّ بِأَنَّ الۡقَدۡرَ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَوۡلُهَا لَا يَخۡرُجُ وَمَا عَدَاهُ مِمَّنۡ دُونَهَا.

Adapun perihal orang yang beriktikaf tidak keluar kecuali karena kebutuhan adalah karena telah pasti riwayat dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadis ‘Aisyah di dalam dua kitab Shahih, “Bahwa beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk suatu kebutuhan manusia apabila beliau sedang iktikaf.”[56]

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari ‘Aisyah, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati orang sakit ketika Nabi sedang iktikaf. Beliau hanya lewat dan tidak mampir untuk menanyakannya.”[57] Di dalam sanadnya ada Laits bin Abu Sulaim. Al-Hafizh berkata: Yang sahih dari ‘Aisyah adalah bahwa hal itu dari perbuatan ‘Aisyah. Dikeluarkan oleh Muslim rahimahullah dan selain beliau, beliau mengatakan: Hal itu telah sahih dari ‘Ali.

Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari ‘Aisyah pula, beliau mengatakan, “Yang sunah bagi orang yang beriktikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri penyelenggaraan jenazah, tidak menyentuh istri dan tidak pula bermesraan dengannya, dan tidak keluar untuk suatu kebutuhan kecuali kebutuhan yang harus. Dan tidak ada iktikaf kecuali dengan puasa dan tidak ada iktikaf kecuali di masjid jami.”[58]

Dikeluarkan pula oleh An-Nasa`i, namun tidak ada padanya ucapan ‘Aisyah: Yang sunah. Abu Dawud mengatakan: Selain ‘Abdurrahman bin Ishaq tidak menyebutkan padanya: ‘Aisyah berkata: Yang sunah. Ad-Daraquthni memastikan bahwa batas dari hadis ‘Aisyah adalah ucapan beliau “tidak keluar…”, adapun setelahnya maka dari ucapan periwayat di bawah ‘Aisyah.


[1] HR. Abu Dawud nomor 2342.

[2] HR. Abu Dawud nomor 2340, At-Tirmidzi nomor 691, An-Nasa`i nomor 2112, dan Ibnu Majah nomor 1652.

[3] HR. Abu Dawud nomor 2338.

[4] HR. Al-Bukhari nomor 1909, Muslim nomor 1081, At-Tirmidzi nomor 684, An-Nasa`i nomor 2117, dan Ibnu Majah nomor 1655.

[5] HR. Muslim nomor 1087 dan An-Nasa`i nomor 2111.

[6] HR. Abu Dawud nomor 2454, At-Tirmidzi nomor 730, An-Nasa`i nomor 2331, dan Ibnu Majah nomor 1700.

[7] HR. Muslim nomor 1154.

[8] HR. Al-Bukhari nomor 1933, Muslim nomor 1155, Ibnu Majah nomor 1673, Ad-Darimi, dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/395, 425).

[9] HR. Abu Dawud nomor 2380, At-Tirmidzi nomor 720, Ibnu Majah nomor 1676, Ad-Darimi, Malik, dan Ahmad (2/498).

[10] HR. At-Tirmidzi nomor 719.

[11] HR. Al-Bukhari nomor 1936, 1937, Muslim nomor 1111, dan At-Tirmidzi nomor 724.

[12] HR. Al-Bukhari nomor 1957, Muslim nomor 1098, At-Tirmidzi nomor 699, dan Ibnu Majah nomor 1697.

[13] HR. Al-Bukhari nomor 1921 dan An-Nasa`i nomor 2155.

[14] HR. Al-Bukhari nomor 1943 dan Muslim nomor 1121.

[15] HR. Al-Bukhari nomor 1947, Muslim nomor 1118, dan Abu Dawud nomor 2405.

[16] HR. Muslim nomor 1121.

[17] HR. Al-Bukhari nomor 1946, Muslim nomor 1115, Abu Dawud nomor 2407, At-Tirmidzi nomor 710, dan An-Nasa`i nomor 2258.

[18] HR. Muslim nomor 1120 dan Abu Dawud nomor 2406.

[19] HR. Abu Dawud nomor 2408, At-Tirmidzi nomor 715, An-Nasa`i nomor 2275, dan Ibnu Majah nomor 1667.

[20] HR. Al-Bukhari nomor 1952, Muslim nomor 1147, dan Abu Dawud nomor 2400.

[21] HR. Muslim nomor 1145, At-Tirmidzi nomor 798, dan An-Nasa`i nomor 2316.

[22] HR. Al-Bukhari nomor 4505.

[23] HR. Abu Dawud nomor 2317.

[24] HR. Muslim nomor 1164, Abu Dawud nomor 2433, dan At-Tirmidzi nomor 759.

[25] HR. An-Nasa`i nomor 2416.

[26] HR. Abu Dawud nomor 2437.

[27] HR. Muslim nomor 1176 dan At-Tirmidzi nomor 756.

[28] HR. Abu Dawud nomor 2425, At-Tirmidzi nomor 749, dan Ibnu Majah nomor 1730.

[29] HR. Muslim nomor 1163.

[30] HR. Al-Bukhari nomor 2003.

[31] HR. Muslim nomor 1134.

[32] HR. Abu Dawud nomor 2336.

[33] HR. Al-Bukhari nomor 1970 dan Muslim nomor 1156.

[34] HR. Al-Bukhari nomor 1969, Muslim nomor 1156, Abu Dawud nomor 2434, At-Tirmidzi nomor 736, dan Ibnu Majah nomor 1710.

[35] HR. At-Tirmidzi nomor 745, An-Nasa`i nomor 2186, dan Ibnu Majah nomor 1739.

[36] HR. At-Tirmidzi nomor 747.

[37] HR. Muslim nomor 1162.

[38] HR. Muslim nomor 1162.

[39] HR. At-Tirmidzi nomor 761.

[40] HR. Al-Bukhari nomor 1976 dan Muslim nomor 1159.

[41] HR. Al-Bukhari nomor 1977 dan Muslim nomor 1159.

[42] HR. Ahmad di dalam Al-Musnad 5/146.

[43] HR. Al-Bukhari nomor 1984 dan Muslim nomor 1143.

[44] HR. Al-Bukhari nomor 1985, Muslim nomor 1144, dan Abu Dawud nomor 2420.

[45] HR. Muslim nomor 1144.

[46] HR. Abu Dawud nomor 2421 dan Ibnu Majah nomor 1726.

[47] HR. Al-Bukhari nomor 1991 dan Muslim nomor 827.

[48] HR. Al-Bukhari nomor 1997, 1998 dan Muslim nomor nomor 1141.

[49] HR. Al-Bukhari nomor 1914 dan Muslim nomor 1082.

[50] HR. Abu Dawud nomor 2337.

[51] HR. Al-Bukhari nomor 2044 dan Ibnu Majah nomor 1769.

[52] HR. Al-Bukhari nomor 2032, 2042, 2043, Muslim nomor 1656, Abu Dawud nomor 3314, At-Tirmidzi nomor 1539, dan An-Nasa`i nomor 3820.

[53] HR. Abu Dawud nomor 2473.

[54] HR. Al-Bukhari nomor 2024, Muslim nomor 1174, Abu Dawud nomor 1376, An-Nasa`i nomor 1639, dan Ibnu Majah nomor 1768.

[55] HR. Al-Bukhari nomor 35, 2014, Muslim nomor 759, Abu Dawud nomor 1371, 1372, At-Tirmidzi nomor 683, An-Nasa`i nomor 1602, 1603, dan Ibnu Majah nomor 1641.

[56] HR. Al-Bukhari nomor 2029 dan Muslim nomor 297.

[57] HR. Abu Dawud nomor 2472.

[58] HR. Abu Dawud nomor 2473.

Read More