Author Archives

Keadaan Manusia ketika Tertimpa Musibah

16 Maret 2020
/ / /

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitab Syarh Riyadhush Shalihin berkata:

لأن الإنسان عند حلول المصيبة له أربع حالات:

Sesungguhnya ketika terjadi musibah, manusia menyikapinya dengan empat keadaan:

الحالة الأولي: أن يتسخط.

والحالة الثانية: أن يصبر.

والحالة الثالثة: أن يرضي.

والحالة الرابعة: أن يشكر.

  1. Marah,
  2. Sabar,
  3. Rida,
  4. Syukur.

هذه أربع حالات تكون للإنسان عندما يصاب بالمصيبة.

Empat keadaan ini terjadi pada manusia ketika ditimpa musibah.

أما الحال الأولي: أن يتسخط إما بقلبه، أو بلسانه، أو بجوارحه.

التسخط بالقلب أن يكون في قلبه شئ على ربه من السخط والشره على الله والعياذ بالله وما أشبه، ويشعر وكأن الله قد ظلمه بهذه المصيبة.

وأما السخط باللسان فأن يدعو بالويل والثبور، يا ويلاه ويا ثبوراه وأن يسب الدهر فيؤذي الله عز وجل وما أشبه ذلك.

وأما التسخط بالجوارح: مثل أن يلطم خده أو يصقع راسه أو ينتف شعره أو يشق ثوبه وما أشبه هذا.

هذه حال السخط حال الهلعين الذين حرموا مِنَ الثواب ولم ينجوا من المصيبة بل الذين اكتسبوا الإثم، فصار عندهم مصيبتان مصيبة في الدين بالسخط، ومصيبة في الدنيا بما أتاهم مما يؤلمهم.

Keadaan pertama: Dia menyikapinya dengan kemarahan, baik dengan hati, lisan, maupun anggota badan.

Marah dengan hati bisa berupa ada perasaan marah dan tidak terima kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari perasaan itu dan semacamnya. Dia juga merasa bahwa Allah telah menzaliminya dengan musibah itu.

Marah dengan lisan adalah dengan dia mengucapkan ungkapan kekecewaan, seperti: Sial! Celaka! Atau dia mencela masa sehingga dia menyakiti Allah. Atau ungkapan-ungkapan semisal itu.

Marah dengan anggota badan semisal menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya, merobek bajunya, atau perbuatan semacam itu.

Sikap marah ini adalah keadaan orang yang pesimis. Yaitu orang-orang yang diharamkan dari pahala dan tidak lulus dari ujian musibah. Bahkan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan dosa. Akibatnya mereka mendapat dua musibah. Musibah dalam agama dengan sikap marah dan musibah di dunia berupa musibah yang menyakiti mereka.

أما الحال الثانية: فالصبر على المصيبة بأن يحبس نفسه، هو يكره المصيبة، ولا يحبها، ولا يحب أن وقعت، لكن يصبر نفسه؛ لا يتحدث باللسان بما يسخط الله، ولا يفعل بجوارحه ما يغضب الله، ولا يكون في قلبه شيء على الله أبدا، فهو صابر لكنه كاره لها.

Adapun keadaan kedua adalah sabar menghadapi musibah. Yaitu dengan mengekang jiwanya. Dia membenci musibah itu dan tidak mencintainya. Dia tidak mencintai musibah itu terjadi, namun dia menyabarkan dirinya. Dia tidak mengucapkan dengan lisannya ucapan yang dimurkai oleh Allah. Dia tidak berbuat dengan anggota badannya perbuatan yang dimurkai oleh Allah. Tidak pula ada di hatinya hal yang mengganjal terhadap Allah selama-lamanya. Jadi dia adalah orang yang sabar akan tetapi membenci musibah itu.

والحال الثالثة: الرضا بأن يكون الإنسان منشرحا صدره بهذه المصيبة ويرضى بها رضاء تامًا وكأنه لم يصب بها.

Keadaan ketiga adalah rida. Yaitu seseorang merasa lapang dada dengan musibah ini, rida dengan keridaan yang sempurna, dan seakan-akan dia tidak ditimpa musibah tersebut.

والحال الرابعة: الشكر فيشكر الله عليها وكان الرسول ﷺ إذا رأى ما يكره قال الحمد لله على كل حال.

فيشكر الله من أجل أن الله يرتب له من الثواب على هذه المصيبة أكثر مما أصابه.

Keadaan empat adalah bersyukur. Dia bersyukur kepada Allah atas musibah itu. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengucapkan, “Segala puji bagi Allah pada setiap keadaan.”

Jadi seseorang hendaknya bersyukur kepada Allah karena Allah akan membalasnya dengan pahala atas musibah ini lebih banyak daripada (kerugian akibat) musibah yang menimpanya.

Read More

Tingkatan Iman kepada Takdir

11 Maret 2020
/ / /

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (736 – 795H) di dalam kitab Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam fi Syarh Khamsina Haditsan min Jawami’ Al-Kalim (halaman 39) berkata:

وَالۡإِيمَانُ بِالۡقَدَرِ عَلَى دَرَجَتَيۡنِ:

Iman kepada takdir memiliki dua tingkatan:

إِحۡدَاهُمَا: الۡإِيمَانُ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى سَبَقَ فِي عِلۡمِهِ مَا يَعۡمَلُهُ الۡعِبَادُ مِنۡ خَيۡرٍ وَشَرٍّ وَطَاعَةٍ وَمَعۡصِيَةٍ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ وَإِيجَادِهِمۡ وَمَنۡ هُوَ مِنۡهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، وَمِنۡ أَهۡلِ النَّارِ، وَأَعَدَّ لَهُمُ الثَّوَابَ وَالۡعِقَابَ جَزَاءً لِأَعۡمَالِهِمۡ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ وَتَكۡوِينِهِمۡ، وَأَنَّهُ كَتَبَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُ وَأَحۡصَاهُ، وَأَنَّ أَعۡمَالَ الۡعِبَادِ تَجۡرِي عَلَى مَا سَبَقَ فِي عِلۡمِهِ وَكِتَابِهِ.

Pertama: Beriman bahwa Allah taala sudah sejak dahulu mengetahui apa yang akan dilakukan para hamba berupa kebaikan, kejelekan, ketaatan, atau kemaksiatan sebelum Dia menciptakan dan mengadakan mereka. (Allah juga sudah mengetahui sejak dahulu) siapa saja di antara mereka yang termasuk penghuni janah atau penghuni neraka. Allah telah menyiapkan untuk mereka pahala dan hukuman sebagai balasan amalan-amalan mereka sebelum menciptakan dan membentuk mereka. Juga beriman bahwa Allah telah menulis itu di sisi-Nya dan mencatatnya. Serta bahwa amalan para hamba berjalan sesuai dengan yang telah mendahului dalam ilmu-Nya dan catatan takdir-Nya.

وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ أَفۡعَالَ عِبَادِهِ كُلَّهَا مِنَ الۡكُفۡرِ وَالۡإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ وَالۡعِصۡيَانِ وَشَاءَهَا مِنۡهُمۡ، فَهَٰذِهِ الدَّرَجَةُ يُثۡبِتُهَا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَيُنۡكِرُهَا الۡقَدَرِيَّةُ، وَالدَّرَجَةُ الۡأُولَى أَثۡبَتَهَا كَثِيرٌ مِنَ الۡقَدَرِيَّةِ وَنَفَاهَا غُلَاتُهُمۡ كَمَعۡبَدٍ الۡجُهَنِيِّ الَّذِي سُئِلَ ابۡنُ عُمَرَ عَنۡ مَقَالَتِهِ وَكَعَمۡرِو بۡنِ عُبَيۡدٍ وَغَيۡرِهِ.

Kedua: Bahwa Allah taala menciptakan seluruh perbuatan-perbuatan para hamba-hamba-Nya, berupa kekufuran, keimanan, ketaatan, dan kemaksiatan; dan Allah menghendakinya dari mereka.

Tingkatan ini ditetapkan oleh ahli sunah waljamaah dan diingkari oleh Qadariyyah. Sedangkan tingkatan pertama ditetapkan oleh sebagian besar Qadariyyah dan dinafikan oleh kalangan ekstremisnya mereka, seperti Ma’bad Al-Juhani—yaitu orang yang pendapatnya ditanyakan kepada Ibnu ‘Umar—, ‘Amr bin ‘Ubaid, dan selainnya.

وَقَدۡ قَالَ كَثِيرٌ مِنۡ أَئِمَّةِ السَّلَفِ نَاظِرُوا الۡقَدَرِيَّةَ بِالۡعِلۡمِ، فَإِنۡ أَقَرُّوا بِهِ خُصِمُوا وَإِنۡ جَحَدُوهُ فَقَدۡ كَفَرُوا، يُرِيدُونَ أَنَّ مَنۡ أَنۡكَرَ الۡعِلۡمَ الۡقَدِيمَ السَّابِقَ بِأَفۡعَالِ الۡعِبَادِ، وَأَنَّ اللهَ قَسَمَهُمۡ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ إِلَى شَقِيٍّ وَسَعِيدٍ وَكَتَبَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُ فِي كِتَابٍ حَفِيظٍ فَقَدۡ كَذَّبَ بِالۡقُرۡآنِ فَيَكۡفُرُ بِذٰلِكَ، وَإِنۡ أَقَرُّوا بِذٰلِكَ وَأَنۡكَرُوا أَنَّ اللهَ خَلَقَ أَفۡعَالَ عِبَادِهِ وَشَاءَهَا وَأَرَادَهَا مِنۡهُمۡ إِرَادَةً كَوۡنِيَّةً قَدَرِيَّةً فَقَدۡ خُصِمُوا، لِأَنَّ مَا أَقَرُّوا بِهِ حُجَّةً عَلَيۡهِمۡ فِيمَا أَنۡكَرُوهُ، وَفِي تَكۡفِيرِ هَٰؤُلَاءِ نِزَاعٌ مَشۡهُورٌ بَيۡنَ الۡعُلَمَاءِ. وَأَمَّا مَنۡ أَنۡكَرَ الۡعِلۡمَ الۡقَدِيمَ فَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَأَحۡمَدُ عَلَى تَكۡفِيرِهِ وَكَذٰلِكَ غَيۡرُهُمَا مِنۡ أَئِمَّةِ الۡإِسۡلَامِ.

Banyak dari para imam salaf telah berkata: Debatlah Qadariyyah dengan ilmu Allah. Apabila mereka menetapkannya, berarti mereka telah terbantah. Namun jika mereka menentangnya, maka mereka telah kafir.

Mereka inginkan bahwa siapa saja yang mengingkari:

  • ilmu Allah yang sudah sejak dahulu tentang perbuatan-perbuatan hamba,
  • Allah telah membagi mereka menjadi celaka dan bahagia sebelum menciptakan mereka,
  • Allah telah menulis itu di sisi-Nya di dalam kitab yang terjaga,

maka sungguh dia telah mendustakan Alquran sehingga dia menjadi kafir dengan itu.

Apabila mereka menetapkan hal itu, namun mengingkari bahwa Allah menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya, menghendakinya, dan menginginkan hal itu dari mereka sebagai suatu iradat kauniah yang telah ditakdirkan, maka mereka telah terbantah. Karena apa yang mereka telah tetapkan itu menjadi hujah terhadap mereka dalam hal yang mereka ingkari.

Dalam masalah pengafiran terhadap mereka ini ada perselisihan yang masyhur di antara para ulama. Adapun siapa saja yang mengingkari ilmu Allah yang sudah sejak dahulu, maka Asy-Syafi’i dan Ahmad menegaskan atas pengafirannya. Begitu pula selain mereka berdua dari para imam Islam.

Read More

Adab Mendekat kepada Alim, Memanggilnya, dan Memulai Pembicaraan

20 Februari 2020
/ / /

Syekh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah di dalam kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim Ad-Din berkata,

الرَّابِعَةُ: فِي هَٰذِهِ الۡقِصَّةِ أَنۡوَاعٌ مِنَ الۡأَدَبِ، مِنۡهَا اكۡتِنَافُ أَحَدِ هَٰذَيۡنِ الرَّجُلَيۡنِ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، فَصَارَ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَوَاحِدٌ عَنۡ يَسَارِهِ، وَفِي ذٰلِكَ قُرۡبُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنۡهُمَا مِنۡهُ لِلتَّمَكُّنِ مِنۡ وَعۡيِ مَا يَقُولُهُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَمِنۡهَا مُخَاطَبَتُهُ بِالۡكُنۡيَةِ، وَهُوَ مِنۡ حُسۡنِ الۡأَدَبِ فِي الۡخِطَابِ، وَمِنۡهَا مُرَاعَاةُ حَقِّ الصَّاحِبِ وَعَدَمُ سَبۡقِهِ إِلَى الۡحَدِيثِ إِلَّا إِذَا فُهِمَ مِنۡهُ مَا يُشعر رِضَاهُ بِذٰلِكَ، وَلَعَلَّ يَحۡيَى بۡنَ يَعۡمَرَ رَأَى أنَّ صَاحِبَهُ سَكَتَ وَلَمۡ يَبۡدَأۡ بِالۡكَلَامِ مَعَ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، فَفَهِمَ مِنۡهُ أَنَّهُ تَرَكَ الۡحَدِيثَ لَهُ.

Keempat: Di dalam kisah ini ada macam-macam adab.

Di antaranya adalah dua orang pria ini mengapit ‘Abdullah bin ‘Umar, sehingga salah satunya di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri. Dalam perbuatan itu menunjukkan dekatnya posisi masing-masing keduanya dari Ibnu ‘Umar agar mudah menangkap apa yang akan beliau­­—radhiyallahu ‘anhu—ucapkan.

Di antara adab dalam kisah ini adalah memanggil beliau dengan nama kunyah. Ini termasuk adab yang baik dalam berbicara.

Di antara adab dalam kisah ini adalah memperhatikan hak temannya dan tidak mendahuluinya untuk memulai pembicaraan kecuali jika dipahami ada keridaan darinya akan hal itu. Sepertinya Yahya bin Ya’mar melihat bahwa temannya diam dan tidak mulai pembicaraan dengan ‘Abdullah bin ‘Umar, sehingga beliau memahami bahwa temannya menyerahkan pembicaraan kepadanya.

Read More

Pembela Sunnah

13 Februari 2020
/ / /

Sang Ahli Ibadah

Dikenal sebagai ulama yang piawai dalam ilmu hadis dengan kekuatan hafalan sangat kuat. Hidup di era tabi’in dengan nama-nama besarnya tidaklah menyurutkan kredibilitasnya di deretan ulama-ulama tersebut. Beliaulah seorang ulama tabi’in yang bernama lengkap Ibrahim bin Yazid bin Qais bin Al Aswad bin Amr bin Rabi’ah bin Dzuhl bin Sa’d bin Malik bin An Nakha’ An Nakha’i Al Kufi lebih akrab dengan sebutan Ibrahim An Nakha’i rahimahullah.

Sejak kecil Ibrahim hidup di lingkungan keluarga ulama besar, ayahandanya adalah Yazid bin Qais An Nakha’i dan ibundanya adalah Mulaikah bintu Yazid An Nakha’iyah. Pamannya dari jalur ayah adalah Alqamah bin Qais An Nakha’i sementara paman dari jalur ibu adalah Al Aswad bin Yazid An Nakha’i dan Abdurrahman bin Yazid An Nakha’i. Telah diketahui bahwa Al Aswad bin Yazid dan Abdurrahman bin Yazid, keduanya adalah ulama tabiin yang tsiqah (tepercaya) di Kota Kufah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 47 H atau disebutkan dalam pendapat yang lain pada tahun 39 H. Beliau tumbuh besar di Kota Kufah sebagai salah satu pusat perbendaharaan ilmu agama dan hadis saat itu karena masih banyak shahabat dan ulama tabi’in yang tinggal di kota itu.

Adapun An Nakha’i merupakan nisbat kepada sebuah kabilah besar dari Madzhaj di negeri Yaman. Sejak dahulu kabilah Nakha’ bertaburan dengan ulama-ulama besar. Mengingatkan kita kepada doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kabilah ini. Tatkala mereka mengirim delegasi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan keislamannya. Maka Nabi pun mendoakan mereka اللّٰهُمَّ بَارِكْ فِي النَّخَعِ (Ya Allah berkahilah kabilah Nakh’) dan Allah pun mengabulkan doa Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibrahim pernah bertemu dengan sejumlah shahabat namun tidak ternukilkan satu pun bahwa beliau meriwayatkan dari mereka. Saat masih kecil, beliau pernah bertemu dengan ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika menemani pamannya dalam suatu keberangkatan ibadah haji. Sehingga tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau pernah mendengar hadis dari Aisyah. Bahkan tidak pula riwayat dari shahabat yang yang sempat tinggal bersamanya di kota Kufah seperti Al Bara’ bin ‘Azib, Abu Juhaifah, dan Amr bin Huraits.

Namun demikian, Ibrahim banyak mewarisi ilmunya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayatnya yang terkenal yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud adalah dari para tokoh ulama tabi’in seperti Al Aswad bin Yazid dan Alqamah bin Qais serta Abdurrahman bin Yazid, semuanya adalah pamannya sendiri. Demikian juga dari ulama lain seperti: Masruq, Ar Rabi’ bin Khaitsam, Syuraih Al Qadhi, Abu Zur’ah Al Bajali, Khaitsam bin Abdurrahman, Abu Abdirrahman As Sulami, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Ibrahim adalah referensi hadis paling dicari oleh para perawi hadis di Kota Kufah. Beliau sering diilustrasikan bersama dengan Alqamah sebagai pewaris ilmunya Abdullah Bin Mas’ud. Tercatat nama-nama besar yang pernah meriwayatkan hadis dari beliau seperti: Al Mughirah bin Miqsam Adh Dhabbi, Manshur bin Mu’tamir As Sulami, Abdullah bin ‘Aun Al Muradi, Abu Ishaq Asy Syabani, Al Harits bin Yazid Al ‘Akli, Abu Masy’ar Ziyad bin Kulaib, Abdullah bin Syabramah, Al A’masy Sulaiman bin Mihran, Hammad bin Abi Sulaiman dan yang lainnya.

PUJIAN ULAMA

Tidak ada silang pendapat di antara ulama tempo dulu atau setelahnya bahwa Ibrahim An Nakha’i adalah pakar ilmu fikih di masanya. Pujian-pujian banyak tertuju kepadanya dari para ulama yang selevel dengannya baik yang sezaman atau generasi setelahnya. Terlebih pujian dari murid-muridnya yang tidak bisa terungkap kalimat demi kalimat.

Adz Dzahabi rahimahullah memberikan pujian yang sangat banyak dalam biografinya bahwa Ibrahim adalah seorang imam, hafizh (penghafal hadis) dan ahli fikihnya negeri Irak. Beliau sangat mengetahui dan menguasai ilmunya Abdullah bin Mas’ud, riwayatnya sangat luas, mulia kedudukannya di kalangan ulama dan memiliki keistimewaan yang banyak. Terkhusus kekuatan hafalannya yang memang sangat luar biasa, karena Ibrahim tidak pernah menulis hadis sama sekali. Semua hadis diriwayatkan dengan mengandalkan memori hafalannya yang sangat kokoh.” Sampai-sampai Thalhah bin Musharrif pernah berkata, “Tidak ada seorang lelaki pun yang lebih aku kagumi di Kufah daripada Ibrahim dan Khaitsam.”

Ibrahim adalah ahli fatwa Kota Kufah di zamannya bersama dengan Asy Sya’bi. Beliau seorang pribadi yang saleh dan bertakwa. Demikian sanjungan dan rekomendasi Adz Dzahabi terhadap beliau dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala’. Ulama sekaliber Asy Sya’bi pun telah mengakui kapasitas keilmuannya dan keluasan periwayatannya.

Kebiasaan Asy Sya’bi, Ibrahim An Nakha’i, dan Abu Dhuha adalah berkumpul di masjid untuk saling mempelajari dan berdiskusi hadis di masjid. Tatkala datang suatu hadis yang tidak mereka miliki riwayatnya, maka mereka pun mengarahkan pandangannya kepada Ibrahim An Nakha’i. Oleh sebab itulah, Yahya bin Ma’in lebih menyukai Marasil[1]nya Ibrahim daripada Marasilnya Asy Sya’bi.

Suatu ketika ada sekelompok orang datang menemui Sa’id bin Jubair lantas meminta fatwa kepadanya. Maka Sa’id pun merasa terkejut seraya mengatakan kepada mereka, “Kalian meminta fatwa kepadaku sementara masih ada Ibrahim di tengah kalian?!” Hal yang sama dilakukan oleh Abu Razin ketika didatangi seseorang lalu meminta fatwa kepadanya. Maka Abu Razin pun menjawab, “Bertanyalah kepada Ibrahim An Nakha’i lalu kembali ke sini dan sampaikan kepadaku apa jawabannya.” Al Mughirah bin Miqsam mengatakan, “Kami sangat segan kepada Ibrahim sebagaimana keseganan kami terhadap penguasa.”

KEBENCIANNYA TERHADAP KELOMPOK SESAT

Kontribusinya terhadap Islam tidak hanya sebatas dalam ilmu hadis, namun Ibrahim sangat aktif membantah kelompok-kelompok sesat terutama Murji’ah. Pada berbagai kesempatan Ibrahim mengingatkan kaum muslimin saat itu, “Janganlah kalian bermajelis dengan orang-orang Murji’ah.” Beliau pernah menyatakan, “Keberadaan orang-orang Murji’ah di tengah umat ini lebih aku khawatirkan daripada sekte Azariqah.” Adapun Azariqah adalah sebuah sekte kelompok Khawarij dengan pencetusnya yang bernama Nafi’ bin Al Azraq. Azariqah termasuk salah satu sekte khawarij (sekte yang gemar mengafirkan kaum muslimin) yang sangat ekstrem. Beliau pun menegaskan bahwa pemikiran irja’ adalah pemikiran yang bid’ah.

Secara etimologi bahasa istilah Murji’ah diambil dari kata irja’ yang artinya penangguhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَالُوا أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ وَابۡعَثۡ فِي الۡمَدَائِنِ حَاشِرِينَ

Mereka mengatakan, ‘Tundalah (urusan) dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (tukang sihir).” [QS. Asy Syu’ara: 36].

Adapun definisi Murji’ah secara istilah adalah kelompok sesat yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di antaranya meyakini bahwa iman itu sebatas pengucapan lisan saja, mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan dan iman tidak dapat bertambah dan berkurang, serta ideologi sesat yang lainnya. Maka sejak dahulu kala mereka telah divonis sebagai kelompok sesat oleh para ulama salaf.

Begitu kerasnya sikap Ibrahim rahimahullah terhadap kelompok ini hingga pernah mengusir seorang lelaki yang berbicara dengan pemahaman Murji’ah di majelisnya. Laki-laki tersebut bernama Muhammad dan akhirnya dilarang untuk menghadiri majelisnya Ibrahim.  Sebagaimana beliau juga pernah melarang sekelompok orang Murji’ah untuk masuk ke majelisnya. Al A’masy rahimahullah menuturkan bahwa ia pernah berada di majelisnya Ibrahim lalu disebut-sebutlah kelompok Murji’ah di hadapan Ibrahim. Maka beliau pun mengatakan, “Demi Allah mereka itu lebih aku benci daripada orang-orang ahli kitab.”

Antusiasnya dalam membela para shahabat memang sangat luar biasa. Pernah ada seseorang mengatakan kepada Ibrahim, “Ali lebih aku cintai daripada Abu Bakar dan Umar.” Maka Ibrahim mengatakan kepadanya, “Seandainya Ali mengetahui ucapanmu, pasti dia akan mencambuk punggungmu. Kalau kamu hendak duduk bersama kami dengan ucapanmu ini, maka jangan sekali-kali engkau duduk bersama kami.” Beliau juga menyatakan, “Aku terjun dari atas langit lebih aku sukai daripada membicarakan keburukan Utsman bin Affan.”

AHLI IBADAH DAN TAWADHU’

Menurut penuturan sang istri yang bernama Hunaidah, Ibrahim selalu menjaga pelaksanaan puasa Dawud dan telah terbiasa sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Adapun pada malam harinya apabila manusia sudah mulai tertidur, Ibrahim mengenakan pakaian yang bagus dan memakai parfum. Kemudian beliau tetap tinggal di masjid untuk beribadah hingga masuk waktu shubuh.

Al A’masy menuturkan bahwa kebiasaan Ibrahim adalah melakukan salat sunah lalu datang menemui kami untuk duduk hanya sesaat lalu pergi meninggalkan kami seolah-olah dia sedang sakit. Ibrahim pergi meninggalkan mereka untuk kembali fokus dan tenggelam dalam ibadahnya.

Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Al Muntadzam fi Tarikhil Muluk wal Umam membawakan pengalaman pribadi Ibrahim dan muridnya Al A’masy. Telah diketahui bahwa Ibrahim adalah al a’war (orang yang buta sebelah). Sedangkan Al A’masy (Sulaiman bin Mihran) adalah orang yang lemah pandangan matanya dan sering mengeluarkan air mata. Al A’masy menuturkan, “Suatu hari aku keluar bersama Ibrahim An Nakha’i untuk mencari masjid Jami’. Saat kami berada di salah satu jalan Kota Kufah, tiba-tiba Ibrahim mengatakan kepadaku, “Wahai Sulaiman.” “Ada apa?” Jawabku. Ia berkata, “Sekiranya engkau mengambil jalan yang lain di Kota Kufah supaya kita tidak melewati jalan yang sama dan berpapasan dengan orang-orang bodoh. Aku khawatir mereka akan melihat kepada a’war (orang yang buta sebelah) dan a’masy (orang yang lemah pandangannya) lalu mereka menggibahi kita dan akhirnya berdosa.” Aku pun berkata, “Wahai Abu Imran, ada apa dengan dirimu kalau kita mendapatkan pahala dan mereka berdosa?” Beliau pun menjawab, “Ya subhanallah. Jika kita selamat dan mereka juga selamat itu lebih baik daripada kita mendapatkan pahala dan mereka berdosa.”

Di antara keutamaan akhlak beliau adalah tidak suka tampil untuk berfatwa. Bukan karena beliau bakhil ilmu dan tidak ingin berbagi faidah, atau karena kapasitas keilmuan beliau yang kurang sehingga tidak mengetahui jawabannya. Namun ini semua karena kerendahan hatinya dan beliau menyadari bahwa tanggung jawabnya yang tidak ringan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Demikianlah karakter ulama salaf, mereka berharap jika ada ulama lain yang sudah memberikan jawaban dan fatwa. Seringkali ketika ditanya dan dimintai fatwanya beliau justru balik bertanya, “Tidakkah engkau mendapatkan seseorang selain aku untuk ditanya?” Hal ini selaras dengan karakter Ibrahim sebagai seorang pendiam. Keberadaan beliau di tengah-tengah sebuah kaum sering tidak disadari oleh para hadirin.

Terkait hal ini, Asy’ats bin Siwar mengatakan, “Aku pernah bermajelis di hadapan Ibrahim antara waktu Ashar sampai Maghrib namun beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun.” Beliau pun tidak berbicara kecuali jika ditanya atau kondisi mengharuskan beliau angkat bicara.

WAFATNYA

Ibrahim An Nakhai rahimahullah meninggal pada tahun 96 H pada usia empat puluh sembilan tahun dan belum genap berusia lima puluh tahun. Ibnu Sa’ad menukilkan adanya kesepakatan pendapat ulama bahwa Ibrahim meninggal pada tahun tersebut. Kematian beliau ini terjadi pada masa pemerintahan Al Walid bin Abdul Malik di Kota Kufah.

Imran Al Khiyath berkisah, “Kami pernah datang menemui Ibrahim di rumah Ibrahim beberapa saat sebelum beliau wafat. Kami pun datang dalam kondisi beliau menangis sehingga kami bertanya kepadanya, “Apa gerangan yang membuat Anda menangis?” Beliau pun menjawab, “Aku sedang menunggu kedatangan malaikat maut, dan aku tidak tahu apakah dia akan datang dengan membawa berita gembira surga atau neraka.”

Ibnu ‘Aun berkisah, “Tatkala Ibrahim akan meninggal, kami pun datang ke rumahnya lantas kami bertanya kepadanya, “Apa yang akan Anda wasiatkan kepada kami?” Maka Ibrahim mengatakan, “Aku wasiatkan agar kalian tidak menjadikan batu bata di atas kuburanku, buatkanlah liang lahad untukku dan jangan mengikuti jenazahku dengan api.”

Pada hari wafatnya, jenazah beliau dimakamkan pada malam hari. Kematian beliau ini menyisakan kesedihan yang mendalam pada diri kaum muslimin. Asy Sya’bi mengatakan, “Demi Allah tidak ada sepeninggal Ibrahim ulama yang semisal dengannya baik di Kufah, Bashrah, Syam, atau Hijaz.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas jasa dan kebaikan Ibrahim dengan pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Referensi:

  • Siyar A’lamin Nubala karya Adz Dzahabi.
  • Al Muntadzam fi Tarikhil Muluk wal Umam karya Ibnul Jauzi.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 76 vol.07 1441 H rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hafy Abdullah.


[1] Marasil adalah jenis riwayat hadis seorang tabiin langsung menyandarkan hadisnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Read More

Perbedaan Al-Firqah An-Najiyah dengan Ath-Tha`ifah Al-Manshurah

23 Desember 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

السُّؤَالُ الثَّالِثُ: الۡفِرَقُ النَّاجِيَةُ وَالطَّائِفَةُ الۡمَنۡصُورَةُ

Soal ketiga: Firkah yang selamat dan golongan yang ditolong

هَلۡ هُنَاكَ فَرۡقٌ بَيۡنَ “الۡفِرَقِ النَّاجِيَةِ” وَ “الطَّائِفَةِ الۡمَنۡصُورَةِ”؟

Apakah di sana ada perbedaan antara firkah yang selamat dan golongan yang ditolong?

الۡجَوَابُ:

أَبَدًا، “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ” هِيَ “الۡمَنۡصُورَةُ”. لَا تَكُونُ “نَاجِيَةً” إِلَّا إِذَا كَانَتۡ “مَنۡصُورَةً”، وَلَا تَكُونُ “مَنۡصُورَةً” إِلَّا إِذَا كَانَتۡ “نَاجِيَةً”، هَٰذِهِ أَوۡصَافُهُمۡ: “أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ”، “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ”، “الطَّائِفَةُ الۡمَنۡصُورَةُ”.

Jawab:

Firkah yang selamat adalah yang ditolong. Selama-lamanya. Tidak bisa suatu kelompok akan selamat kecuali apabila dia ditolong. Tidak bisa golongan itu ditolong kecuali apabila dia selamat. Ini adalah sifat-sifat mereka, ahli sunah waljamaah, firkah yang selamat, golongan yang ditolong.

وَمَنۡ أَرَادَ أَنۡ يُفَرِّقَ بَيۡنَ هَٰذِهِ الصِّفَاتِ، وَيَجۡعَلَ هَٰذِهِ لِبَعۡضِهِمۡ وَهَٰذِهِ لِبَعۡضِهِمۡ الۡآخَرِ؛ فَهُوَ يُرِيدُ أَنۡ يُفَرِّقَ أَهۡلَ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، فَيَجۡعَلَ بَعۡضَهُمۡ فِرۡقَةً نَاجِيَةً، وَبَعۡضَهُمۡ طَائِفَةً مَنۡصُورَةً.

وَهَٰذَا خَطَأٌ؛ لِأَنَّهُمۡ جَمَاعَةٌ وَاحِدَةٌ، تَجۡتَمِعُ فِيهَا كُلُّ صِفَاتِ الۡكَمَالِ وَالۡمَدۡحِ، فَهُمۡ “أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ”، وَهُمۡ “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ”، وَهُمۡ “الطَّائِفَةُ الۡمَنۡصُورَةُ”، وَهُمۡ “الۡبَاقُونَ عَلَى الۡحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ”، وَهُمۡ “الۡغُرَبَاءُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ”.

Siapa saja yang ingin memisahkan sifat-sifat ini dan menjadikan sifat ini untuk sebagian kelompok dan sifat itu untuk sebagian lainnya, maka dia hanya ingin memecah belah ahli sunah waljamaah. Dia menjadikan sebagian mereka sebagai firkah yang selamat dan sebagian lainnya sebagai golongan yang ditolong.

Ini keliru, karena mereka adalah satu jemaah. Semua sifat kesempurnaan dan pujian terkumpul di dalamnya. Jadi mereka adalah ahli sunah waljamaah. Mereka adalah firkah yang selamat. Mereka adalah golongan yang ditolong. Mereka adalah orang-orang yang tetap berada di atas kebenaran hingga terjadinya hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang asing di akhir zaman.

Read More

Batasan Jumlah Firkah

23 Desember 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah ditanya sebagai berikut,

السُّؤَالُ الثَّانِي: افۡتِرَاقُ الۡأُمَّةِ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً

Soal kedua: Perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga firkah

فَضِيلَةَ الشَّيۡخِ: يَقُولُ الرَّسُولُ ﷺ: (سَتَفۡتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً).

فَهَلۡ الۡعَدَدُ مَحۡصُورٌ أَوۡ لَا؟

Syekh yang mulia, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firkah.”[1] Apakah hitungan ini dibatasi atau tidak?

الۡجَوَابُ:

لَيۡسَ هَٰذَا مِنۡ بَابِ الۡحَصۡرِ؛ لِأَنَّ الۡفِرَقَ كَثِيرَةٌ جِدًّا، إِذَا طَالَعۡتُمۡ فِي كُتُبِ الۡفِرَقِ وَجَدۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِرَقٌ كَثِيرَةٌ، لَكِنۡ – وَاللهُ أَعۡلَمُ – إِنَّ هَٰذِهِ الثَّلَاثَ وَالسَّبۡعِينَ هِيَ أُصُولُ الۡفِرَقِ، ثُمَّ تَشَعَّبَتۡ مِنۡهَا فِرَقٌ كَثِيرَةٌ.

وَمَا الۡجَمَاعَاتُ الۡمُعَاصِرَةُ الۡآنَ، الۡمُخَالِفَةُ لِجَمَاعَةِ أَهۡلِ السُّنَّةِ؛ إِلَّا امۡتِدَادٌ لِهَٰذِهِ الۡفِرَقِ، وَفُرُوعٌ عَنۡهَا.

Jawab:

Ini bukan batasan karena firkah-firkah itu ada banyak sekali. Apabila kalian menelaah kitab-kitab yang membahas firkah-firkah, maka kalian akan mendapatinya ada banyak. Namun—wallahualam—bahwa ketujuh puluh tiga inilah pokok firkah-firkah tersebut. Kemudian bercabang darinya banyak firkah lagi. Tidaklah jemaah-jemaah gaya baru sekarang, yang menyelisihi jemaah ahli sunah kecuali merupakan pengembangan dari firkah dan cabang darinya.


[1] Sudah berlalu penyebutan jalur-jalur periwayatannya.

Read More

Ghuluw, Sebab Kesesatan

22 Desember 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam ceramah umum bertajuk Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah ditanya sebagai berikut,

السُّؤَالُ الۡأَوَّلُ: أَسۡبَابُ الۡغُلُوِّ فِي الدِّينِ

Soal pertama: Sebab-sebab berlebih-lebihan dalam agama

لَقَدۡ نَهَى اللهُ وَرَسُولُهُ ﷺ عَنِ الۡغُلُوِّ فِي الدِّينِ؛ فَهَلۡ سَبَبُ انۡحِرَافِ الۡفِرَقِ عَنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ الۡغُلُوُّ؟ وَمَا أَمۡثِلَةُ ذٰلِكَ مِنَ الۡفِرَقِ؟

Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama. Lalu apakah sebab penyimpangan kelompok-kelompok itu dari ahli sunah waljamaah adalah ghuluw? Apa ada contoh kelompok yang demikian? 

الۡجَوَابُ:

“الۡخَوَارِجُ” ظَاهِرٌ أَنَّ سَبَبَ انۡحِرَافِهِمۡ الۡغُلُوُّ فِي الدِّينِ؛ لِأَنَّهُمۡ تَشَدَّدُوا فِي الۡعِبَادَةِ عَلَى غَيۡرِ هُدَى وَبَصِيرَةٍ، وَأَطۡلَقُوا عَلَى النَّاسِ الۡكُفۡرَ عَنۡ غَيۡرِ بَصِيرَةٍ، لِأَنَّهُمۡ يُخَالِفُونَهُمۡ فِي مَذۡهَبِهِمۡ.

Jawab:

Khawarij jelas bahwa sebab penyimpangannya adalah berlebih-lebihan dalam agama karena mereka memberatkan diri dalam ibadah tanpa petunjuk dan ilmu. Mereka mengafirkan orang secara mutlak dengan tanpa ilmu karena orang-orang itu menyelisihi mazhab mereka.

فَلَا شَكَّ أَنَّ الۡغُلُوَّ فِي الدِّينِ هُوَ أَسَاسُ الۡبَلَاءِ، قَالَ – تَعَالَى -:

﴿قُلۡ يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِى دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ﴾.

Maka, tidak ragu bahwa sikap berlebih-lebihan dalam agama adalah asas musibah ini. Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dengan cara yang tidak benar.” (QS. Al-Ma`idah: 77).

قَالَ ﷺ: (إِيَّاكُمۡ وَالۡغُلُوُّ؛ فَإِنَّمَا أَهۡلَكَ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ الۡغُلُوُّ).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah kalian dari sikap berlebih-lebihan karena sikap berlebih-lebihan inilah yang membinasakan orang sebelum kalian.”[1] 

وَالۡغُلُوُّ فِي كُلِّ شَيۡءٍ هُوَ: الزِّيَادَةُ عَنِ الۡحَدِّ الۡمَطۡلُوبِ (وَكُلُّ شَيۡءٍ تَجَاوَزَ حَدَّهُ انۡقَلَبَ إِلَى ضِدِّهِ).

وَنَجِدُ أَنَّ “الۡمُعَطِّلَةَ لِلصِّفَاتِ” سَبَبُ انۡحِرَافِهِمۡ الۡغُلُوُّ فِي التَّنۡزِيهِ، وَسَبَبُ انۡحِرَافِ “الۡمُمَثِّلَةِ وَالۡمُشَبِّهَةِ” غُلُوُّهُمۡ فِي الۡإِثۡبَاتِ.

فَالۡغُلُوُّ بَلَاءٌ، وَالۡوَسَطُ وَالۡاِعۡتِدَالُ هُوَ الۡخَيۡرُ فِي كُلِّ الۡأُمُورِ.

فَلَا شَكَّ أَنَّ لِلۡغُلُوِّ دَوۡرًا فِي ضَلَالِ الۡفِرَقِ عَنِ الۡحَقِّ، كُلُّ غُلُوِّهِ بِحَسۡبِهِ.

Ghuluw dalam segala sesuatu artinya melebihi dari batasan yang ditentukan. Setiap yang melebihi batasannya akan berbalik ke arah lawannya.  Kita dapati bahwa orang-orang yang menolak sifat-sifat, sebab penyimpangan mereka adalah berlebih-lebihan dalam menyucikan Allah. Sebab penyimpangan orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk adalah sikap berlebih-lebihan mereka dalam menetapkan sifat Allah. Jadi ghuluw adalah musibah, sedangkan sikap pertengahan dan sedang adalah kebaikan dalam segala urusan. Jadi tidak diragukan bahwa ghuluw memiliki peran dalam kesesatan kelompok-kelompok itu dari kebenaran. Masing-masing sesuai dengan kadar ghuluw-nya.


[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (1/215, 347), An-Nasa`i nomor 3057, Ibnu Majah nomor 3029, Ibnu Abu ‘Ashim nomor 102, Ibnu Khuzaimah (4/274), Ibnu Al-Jarud dalam Al-Muntaqa nomor 473, Ibnu Hibban nomor 1011, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir nomor 12747, Al-Hakim (1/466), Al-Baihaqi (5/127), Abu Ya’la Al-Maushili (4/316, 357) dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Read More

Penyebaran Firkah-firkah dan Keanekaragamannya, serta Penyelisihan Ahli Sunah Waljamaah terhadap Mereka

17 November 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaqidh Dhallah berkata,

انۡتِشَارُ الۡفِرَقِ وَتَنَوُّعُهَا وَمُخَالَفَةُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ لَهُمۡ

Penyebaran Firkah-firkah dan Keanekaragamannya, serta Penyelisihan Ahli Sunah Waljamaah terhadap Mereka

وَتَفَرَّقَتۡ بَعۡدَهَا فِرَقٌ كَثِيرَةٌ لَا يُحۡصِيهَا إِلَّا اللهُ، وَصُنِّفَتۡ فِي هَٰذَا كُتُبٌ، مِنۡهَا:

١- كِتَابُ: “الۡفَرۡقُ بَيۡنَ الۡفِرَقِ” لِلۡبَغۡدَادِيِّ.

٢- كِتَابُ: “الۡمِلَلُ وَالنِّحَلُ” لِمُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡكَرِيمِ الشَّهۡرَسۡتَانِيِّ.

٣- كِتَابُ: “الۡفِصَلُ فِي الۡمِلَلِ وَالنِّحَلِ” لِابۡنِ حَزۡمٍ.

٤- كِتَابُ: “مَقَالَاتُ الۡإِسۡلَامِيِّينَ وَاخۡتِلَافُ الۡمُصَلِّينَ” لِأَبِي الۡحَسَنِ الۡأَشۡعَرِيِّ.

كُلُّ هَٰذِهِ الۡكُتُبِ فِي بَيَانِ الۡفِرَقِ، وَتَنَوُّعِهَا، وَتَعۡدَادِهَا، وَاخۡتِلَافِهَا، وَتَطَوُّرَاتِهَا.

Setelah itu, empat firkah tadi terpecah menjadi banyak firkah. Tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah. Banyak kitab telah disusun tentangnya, di antaranya:

  1. Kitab Al-Farqu baina Al-Firaq karya Al-Baghdadi.
  2. Kitab Al-Milal wa An-Nihal karya Muhammad bin ‘Abdil Karim Asy-Syahrastani.
  3. Kitab Al-Fishal fil Milal wa An-Nihal karya Ibnu Hazm.
  4. Kitab Maqalat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaf Al-Mushallin karya Abu Al-Hasan Al-Asy’ari.

Setiap kitab ini menjelaskan berbagai firkah ini, baik macam-macamnya, bilangannya, perselisihannya, dan perkembangannya.

وَلَا تَزَالُ إِلَى عَصۡرِنَا هَٰذَا تَتَطَوَّرُ، وَتَزِيدُ، وَيَنۡشَأُ عَنۡهَا مَذَاهِبُ أُخۡرَى، وَتَنۡشَقُّ عَنۡهَا أَفۡكَارٌ جَدِيدَةٌ مُنۡبَثَقَةٌ عَنۡ أَصۡلِ الۡفِكۡرَةِ، وَلَمۡ يَبۡقَ عَلَى الۡحَقِّ إِلَّا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ هُمۡ عَلَى الۡحَقِّ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ، كَمَا قَالَ ﷺ: (لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنۡ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الۡحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمۡ مَنۡ خَذَلَهُمۡ حَتَّى يَأۡتِيَ أَمۡرُ اللهِ وَهُمۡ كَذٰلِكَ).

Senantiasa hingga masa kita ini terus merebak, bertambah, dan tumbuh darinya mazhab-mazhab lainnya. Terpecah darinya berbagai pemikiran baru yang muncul dari pokok pemikiran tadi. Dan tidak tersisa yang berada di atas kebenaran kecuali ahli sunah waljamaah. Dalam setiap zaman dan tempat, mereka berada di atas kebenaran hingga terjadi hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang unggul di atas kebenaran. Siapa saja yang menghina mereka tidak akan merugikan mereka, hingga urusan Allah datang dalam keadaan mereka tetap demikian.”[1]

أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ – وَالۡحَمۡدُ لِلهِ – يُخَالِفُونَ “الۡقَدَرِيَّةَ النُّفَاةَ”:

فَيُؤۡمِنُونَ بِالۡقَدَرِ، وَأَنَّهُ مِنۡ أَرۡكَانِ الۡإِيمَانِ السِّتَّةِ، وَأَنَّهُ لَا يَحۡصُلُ فِي هَٰذَا الۡكَوۡنِ شَيۡءٌ إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -، لِأَنَّهُ الۡخَلَّاقُ، الرَّبُّ، الۡمَالِكُ، الۡمُتَصَرِّفُ: ﴿ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىۡءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ وَكِيلٌ ۝٦٢ لَّهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ۗ﴾.

لَا أَحَدَ يَتَصَرَّفُ فِي هَٰذَا الۡكَوۡنِ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ – سُبۡحَانَهُ -، وَإِرَادَتِهِ، وَقُدۡرَتِهِ، وَتَقۡدِيرِهِ.

عَلِمَ اللهُ مَا كَانَ، وَمَا سَيَكُونُ فِي الۡأَزَلِ، ثُمَّ كَتَبَهُ فِي اللَّوۡحِ الۡمَحۡفُوظِ، ثُمَّ شَاءَهُ وَأَوۡجَدَهُ وَخَلَقَهُ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -.

Ahli sunah waljamaah—alhamdulillah—menyelisihi Qadariyyah Nufat (pengingkar takdir). Mereka (ahli sunah) beriman kepada takdir dan bahwa hal itu termasuk enam rukun iman. Tidak terjadi sesuatu pun di alam semesta ini kecuali dengan ketetapan dan takdir Allah subhanahu wa taala, karena Dia adalah Yang Maha Pencipta, Rabb, Yang Menguasai, Yang Mengatur. “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya milik-Nya lah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).

Tidak ada satu pun yang mengatur di alam semesta ini kecuali dengan kehendak-Nya—subhanah—, keinginan-Nya, kekuasaan-Nya, dan takdir-Nya. Allah tahu apa saja yang telah terjadi, apa saja akan terjadi. Allah mengetahuinya sejak azali (tidak didahului oleh ketidaktahuan) kemudian Allah tulis di loh mahfuz. Lalu Allah menghendakinya, mewujudkannya, dan menciptakannya—subhanahu wa taala—.

وَأَنَّ لِلۡعَبۡدِ مَشِيئَةً، وَكَسۡبًا، وَاخۡتِيَارًا، لَا أَنَّهُ مَسۡلُوبُ الۡإِرَادَةِ، مُجۡبَرٌ عَلَى أَفۡعَالِهِ – كَمَا تَقُولُ “الۡجَبۡرِيَّةُ الۡغُلَاةُ” -؛ فَهُمۡ يُخَالِفُونَهُمۡ.

Seorang hamba memiliki kehendak, usaha, dan pilihan. Seorang hamba tidak dirampas keinginannya dan tidak dipaksa atas perbuatannya sebagaimana pendapat Jabriyyah ekstrem. Jadi ahli sunah menyelisihi mereka.

وَمَذۡهَبُهُمۡ فِي صَحَابَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُمۡ يُوَالُونَهُمۡ كُلَّهُمۡ، أَهۡلَ الۡبَيۡتِ وَغَيۡرَ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ، يُوَالُونَ الصَّحَابَةَ كُلَّهُمۡ، الۡمُهَاجِرِينَ، وَالۡأَنۡصَارَ، وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمۡ بِإِحۡسَانٍ، وَيَمۡتَثِلُونَ بِذٰلِكَ قَوۡلَهُ – تَعَالَى -: ﴿وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟﴾.

Mazhab ahli sunah terhadap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa mereka loyal kepada mereka seluruhnya, baik ahli bait maupun bukan ahli bait. Mereka loyal kepada seluruh sahabat, Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka melaksanakan firman Allah taala yang artinya, “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka berdoa: Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan orang-orang yang mendahului kami beriman. Jangan Engkau jadikan ada kedengkian di hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10).

فَهُمۡ يُخَالِفُونَ “الشِّيعَةَ”، لِأَنَّهُمۡ يُفَرِّقُونَ بَيۡنَ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَيُوَالُونَ بَعۡضَهُمۡ، وَيُعَادُونَ بَعۡضَهُمۡ. فَأَهۡلُ السُّنَّةِ يُوَالُونَهُمۡ جَمِيعًا، وَيُحِبُّونَهُمۡ جَمِيعًا، وَالصَّحَابَةُ يَتَفَاضَلُونَ، وَأَفۡضَلُهُمۡ: الۡخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الۡعَشَرَةِ، ثُمَّ الۡمُهَاجِرُونَ أَفۡضَلُ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، وَأَصۡحَابُ بَدۡرٍ لَهُمۡ فَضِيلَةٌ، وَأَصۡحَابُ بَيۡعَةِ الرِّضۡوَانِ لَهُمۡ فَضِيلَةٌ، فَلَهُمۡ فَضَائِلُ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ -.

Mereka juga menyelisihi Syi’ah karena orang-orang Syi’ah membeda-bedakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka loyal kepada sebagian sahabat dan memusuhi sebagian yang lain. Ahli sunah loyal kepada mereka semua, mencintai mereka semua.

Para sahabat itu bertingkat-tingkat. Yang termulia adalah para khalifah yang rasid, kemudian sisa dari sepuluh sahabat, kemudian Muhajirin lebih mulia daripada Ansar, yang mengikuti perang Badr memiliki fadilat, yang mengikuti baiat Ridhwan memiliki fadilat. Jadi mereka memiliki banyak fadilat radhiyallahu ‘anhum.

وَيَعۡتَقِدُونَ: السَّمۡعَ وَالطَّاعَةَ – خِلَافًا “لِلۡخَوَارِجِ” -؛ فَهُمۡ يَعۡتَقِدُونَ السَّمۡعَ وَالطَّاعَةَ لِوُلَاةِ أُمُورِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَلَا يَرَوۡنَ الۡخُرُوجَ عَلَى إِمَامِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَإِنۡ حَصَلَ مِنۡهُ خَطَأٌ، مَا دَامَ هَٰذَا الۡخَطَأُ دُونَ الۡكُفۡرِ، وَدُونَ الشِّرۡكِ، حَيۡثُ نَهَى ﷺ عَنِ الۡخُرُوجِ عَلَيۡهِمۡ لِمُجَرَّدِ الۡمَعَاصِي، وَقَالَ: (إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَاحًا، عِنۡدَكُمۡ فِيهِ مِنَ اللهِ بُرۡهَانٌ).

Mereka berkeyakinan untuk mendengar dan taat. Berbeda dengan Khawarij. Ahli sunah berkeyakinan mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Mereka tidak berpandangan untuk memberontak kepada pemimpin muslimin walaupun muncul kesalahan darinya, selama kesalahan itu di bawah kekufuran dan di bawah syirik.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang memberontak kepada mereka dengan semata-mata adanya kemaksiatan pada mereka. Beliau bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah.”[2]

وَكَذٰلِكَ هُمۡ يُخَالِفُونَ “الۡجَهۡمِيَّةَ” وَمُشۡتَقَّاتَهُمۡ فِي أَسۡمَاءِ اللهِ وَصِفَاتِهِ: فَيُؤۡمِنُونَ بِمَا وَصَفَ اللهُ بِهِ نَفۡسَهُ، وَمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ ﷺ، وَيَتَّبِعُونَ فِي ذٰلِكَ الۡكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، مِنۡ غَيۡرِ تَشۡبِيهٍ وَلَا تَمۡثِيلٍ، مِنۡ غَيۡرِ تَحۡرِيفٍ وَلَا تَعۡطِيلٍ، عَلَى حَدِّ قَوۡلِهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ﴾.

Demikian pula ahli sunah menyelisihi Jahmiyyah dan turunan mereka dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Mereka mengimani sifat yang Allah tetapkan untuk Diri-Nya dan yang Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan untuk-Nya. Mereka mengikuti Alquran dan sunah dalam masalah itu dengan tanpa tasybih, tanpa tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan makhluk-Nya), tanpa tahrif (menyelewengkan makna), dan tanpa ta’thil (menolaknya). Sesuai batasan firman Allah subhanahu wa taala yang artinya, “Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

فَمَذۡهَبُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ – وَلِلهِ الۡحَمۡدُ – جَامِعٌ لِلۡحَقِّ كُلِّهِ، فِي جَمِيعِ الۡأَبۡوَابِ، وَفِي جَمِيعِ الۡمَسَائِلِ، وَمُخَالِفٌ لِكُلِّ مَا عَلَيۡهِ الۡفِرَقُ الضَّالَّةُ وَالنِّحَلُ الۡبَاطِلَةُ.

فَمَنۡ أَرَادَ النَّجَاةَ فَهَٰذَا مَذۡهَبُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ.

وَأَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ فِي بَابِ الۡعِبَادَةِ: يَعۡبُدُونَ اللهَ عَلَى مُقۡتَضَى مَا جَاءَتۡ بِهِ الشَّرِيعَةُ، خِلَافًا “لِلصُّوفِيَّةِ” وَ “الۡمُبۡتَدِعَةِ” وَ “الۡخُرَافِيِّينَ”، الَّذِينَ لَا يَتَقَيَّدُونَ فِي عِبَادَتِهِمۡ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، بَلۡ يَتَّبِعُونَ فِي ذٰلِكَ مَا رَسَمَهُ لَهُمۡ شُيُوخُ الطُّرُقِ، وَأَئِمَّةُ الضَّلَالِ.

Jadi mazhab ahli sunah waljamaah—hanya untuk Allah segala pujian—mengumpulkan seluruh kebenaran dalam semua bab dan semua permasalahan. Mazhab ahli sunah menyelisihi segala prinsip yang dipegang oleh kelompok-kelompok sesat dan golongan-golongan batil. Sehingga, siapa saja yang mendambakan keselamatan, maka inilah dia, mazhab ahli sunah waljamaah.

Ahli sunah waljamaah di dalam bab ibadah, mereka beribadah kepada Allah sesuai tuntutan yang dibawa syariat. Berbeda dengan sufi, ahli bidah, dan ahli khurafat. Yaitu orang-orang yang tidak mengikat ibadah-ibadah mereka dengan aturan Alquran dan sunah. Mereka malah mengikuti aturan yang digariskan oleh syekh-syekh tarekat dan para imam sesat.

نَسۡأَلُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي وَإِيَّاكُمۡ مِنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ؛ بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ، وَأَنۡ يُرِينَا الۡحَقَّ حَقًّا وَيَرۡزُقَنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَنۡ يُرِينَا الۡبَاطِلَ بَاطِلًا وَيَرۡزُقَنَا اجۡتِنَابَهُ. إِنَّهُ سَمِيعٌ مُجِيبٌ.

هَٰذَا، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ.

Kita meminta kepada Allah agar menjadikan aku dan kalian termasuk ahli sunah waljamaah dengan anugerah dan kemurahan-Nya; agar Allah memperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran dan memberi kemampuan untuk mengikutinya; agar Allah memperlihatkan kebatilan kepada kita sebagai kebatilan dan memberi kemampuan untuk menjauhinya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.

Selesai. Semoga Allah limpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.


[1] Telah berlalu penyebutan jalur-jalur periwayatannya.

[2] Potongan dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit yang bunyinya,

دَعَانَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَبَايَعۡنَاهُ، فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيۡنَا، أَنۡ بَايَعۡنَا عَلَى السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنۡشَطِنَا وَمَكۡرَهِنَا، وَعُسۡرِنَا وَيُسۡرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيۡنَا، وَأَنۡ لَا نُنَازِعَ الۡأَمۡرَ أَهۡلَهُ – قَالَ: – إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَاحًا، عِنۡدَكُمۡ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرۡهَانٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membaiat beliau. Janji yang beliau ambil dari kami adalah agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat, ketika lapang dan susah, ketika sulit dan mudah, agar mengutamakan beliau di atas kami, dan agar kami tidak merebut urusan kekuasaan dari pemiliknya. Beliau bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah padanya.” (HR. Al-Bukhari nomor 7056 dan Muslim nomor 1709).

Read More

Yang Jadi Barometer adalah Kesesuaian dengan Kebenaran, bukan Kuantitas

10 November 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

بَيَانُ أَنَّ الۡعِبۡرَةَ بِالۡمُوَافَقَةِ لِلۡحَقِّ وَلَيۡسَتۡ بِالۡكَثۡرَةِ

Keterangan bahwasanya Tolok Ukur adalah Kecocokan dengan Kebenaran, bukan dengan Kuantitas

وَلَيۡسَتِ الۡعِبۡرَةُ بِالۡكَثۡرَةِ، بَلِ الۡعِبۡرَةُ بِالۡمُوَافَقَةِ لِلۡحَقِّ، وَلَوۡ لَمۡ يَكُنۡ عَلَيۡهِ إِلَّا قِلَّةٌ مِنَ النَّاسِ، حَتَّى وَلَوۡ لَمۡ يَكُنۡ فِي بَعۡضِ الۡأَزۡمَانِ إِلَّا وَاحِدٌ مِنَ النَّاسِ؛ فَهُوَ عَلَى الۡحَقِّ، وَهُوَ الۡجَمَاعَةُ.

فَلَا يَلۡزَمُ مِنَ الۡجَمَاعَةِ الۡكَثۡرَةُ، بَلِ الۡجَمَاعَةُ مَنۡ وَافَقَ الۡحَقَّ، وَوَافَقَ الۡكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَلَوۡ كَانَ الَّذِي عَلَيۡهِ قَلِيلٌ.

أَمَّا إِذَا اجۡتَمَعَ كَثۡرَةٌ وَحَقٌّ، فَالۡحَمۡدُ لِلهِ هَٰذَا قُوَّةٌ.

أَمَّا إِذَا خَالَفَتۡهُ الۡكَثۡرَةُ، فَنَحۡنُ نَنۡحَازُ مَعَ الۡحَقِّ، وَلَوۡ لَمۡ يَكُنۡ مَعَهُ إِلَّا الۡقَلِيلُ.

Tolok ukurnya bukan kuantitas, tetapi tolok ukurnya adalah kecocokan dengan kebenaran.[1]

Walaupun tidak ada yang berada di jalan kebenaran itu kecuali sedikit orang. Hingga walau di sebagian zaman tidak ada kecuali satu orang, maka dia berada di atas kebenaran dan dia adalah al-jama’ah. Jadi tidak mesti al-jama’ah berjumlah banyak. Namun al-jama’ah adalah siapa saja yang mencocoki kebenaran, mencocoki Alquran dan sunah, walaupun jumlahnya sedikit. Adapun apabila terkumpul antara jumlah banyak dan kebenaran, maka alhamdulillah, ini merupakan kekuatan. Adapun apabila banyak orang yang menyelisihi kebenaran, maka kita bergabung bersama kebenaran walaupun tidak ada yang mengikutinya kecuali sedikit.

وَكَمَا أَخۡبَرَ بِهِ ﷺ مِنۡ حُصُولِ التَّفَرُّقِ وَالۡاِخۡتِلَافِ قَدۡ وَقَعَ، وَيَتَطَوَّرُ كُلَّمَا تَأَخَّرَ الزَّمَانُ، يَتَطَوَّرُ التَّفَرُّقُ وَالۡاِخۡتِلَافُ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ، حِكۡمَةٌ مِنَ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -، لِيَبۡتَلِيَ عِبَادَهُ، فَيَتَمَيَّزُ مَنۡ كَانَ يَطۡلُبُ الۡحَقَّ، مِمَّنۡ يُؤَثِّرُ الۡهَوَى وَالۡعَصَبِيَّةَ: ﴿أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ۝٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ ۝٣﴾.

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa terjadinya perpecahan dan perselisihan yang telah terjadi dan semakin berkembang seiring berjalannya zaman, Perpecahan dan perselisihan akan terus merebak hingga hari kiamat terjadi. Ini adalah suatu hikmah dari Allah subhanahu wa taala untuk menguji para hamba-Nya, sehingga terpisahkan antara orang yang mencari kebenaran dengan orang yang lebih mengutamakan hawa nafsu dan fanatisme buta. “Apakah manusia menyangka dibiarkan begitu saja mengucapkan: Kami beriman, lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh Kami telah uji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3).

وَقَالَ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -: ﴿وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ ۝١١٨ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمۡ ۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ۝١١٩﴾.

Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Mereka senantiasa berselisih kecuali siapa saja yang dirahmati Rabb-mu. Untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu telah ditetapkan: Pasti Aku penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya.” (QS. Hud: 118-119).

فَحُصُولُ هَٰذَا التَّفَرُّقِ، وَهَٰذَا الۡاِخۡتِلَافِ؛ ابۡتِلَاءٌ مِنَ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -، وَإِلَّا فَهُوَ قَادِرٌ – سُبۡحَانَهُ – أَنۡ يَجۡمَعَهُمۡ عَلَى الۡحَقِّ: ﴿وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمۡ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ ﴾.

هُوَ قَادِرٌ عَلَى هَٰذَا، لَكِنَّ حِكۡمَتَهُ اقۡتَضَتۡ أَنۡ يَبۡتَلِيَهُمۡ بِوُجُودِ التَّفَرُّقِ وَالۡاِخۡتِلَافِ، مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ يَتَمَيَّزَ طَالِبُ الۡحَقِّ مِنۡ طَالِبِ الۡهَوَى وَالتَّعَصُّبِ.

Terjadinya perpecahan dan perselisihan ini merupakan cobaan dari Allah subhanahu wa taala karena sesungguhnya Allah subhanahu mampu untuk mempersatukan mereka di atas kebenaran. “Andai Allah menghendaki, niscaya Dia akan kumpulkan mereka di atas petunjuk.” (QS. Al-An’am: 35). Allah mampu melakukannya, akan tetapi hikmah-Nya menetapkan untuk menguji mereka dengan adanya perpecahan dan perselisihan. Hal itu dalam rangka memisahkan pencari kebenaran dari pengikut hawa nafsu dan fanatisme buta.

وَمَازَالَ عُلَمَاءُ الۡأُمَّةِ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ يَنۡهَوۡنَ عَنۡ هَٰذَا الۡاِخۡتِلَافِ، وَيُوصُونَ بِالتَّمَسُّكِ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ فِي كُتُبِهِمۡ الَّتِي بَقِيَتۡ بَعۡدَهُمۡ.

تَجِدُونَ فِي كِتَابِ “صَحِيحِ الۡبُخَارِيِّ” مَثَلًا: “كِتَابُ الۡاِعۡتِصَامِ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ”.

تَجِدُونَ فِي كُتُبِ الۡعَقَائِدِ ذِكۡرَ الۡفِرَقِ الۡهَالِكَةِ، وَذِكۡرَ الۡفِرۡقَةِ النَّاجِيَةِ.

وَأَقۡرَبُ شَيۡئٍ لَكُمۡ شَرۡحُ الطَّحَاوِيَةِ، وَهِيَ بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ الۡآنَ.

Ulama umat ini senantiasa di setiap zaman dan tempat melarang dari perselisihan ini. Mereka mewasiatkan untuk berpegang teguh dengan Alquran dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab-kitab mereka yang masih ada sepeninggal mereka. Kalian dapati di dalam kitab Shahih Al-Bukhari—contohnya—ada kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah (Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunah). Kalian dapati di dalam kitab-kitab akidah ada penyebutan firkah-firkah yang binasa dan penyebutan firkah yang selamat. Paling dekat dengan kalian adalah kitab Syarh Ath-Thahawiyah yang ada di hadapan kalian sekarang.

وَالۡغَرَضُ مِنۡ هَٰذَا بَيَانُ الۡحَقِّ مِنَ الۡبَاطِلِ؛ إِذۡ وَقَعَ مَا أَخۡبَرَ بِهِ ﷺ مِنَ التَّفَرُّقِ وَالۡاِخۡتِلَافِ.

فَالۡوَاجِبُ أَنۡ نَعۡمَلَ بِمَا أَوۡصَانَا بِهِ الرَّسُولُ ﷺ فِي قَوۡلِهِ: (فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنۡ بَعۡدِي).

لَا نَجَاةَ مِنۡ هَٰذَا الۡخَطَرِ إِلَّا بِالتَّمَسُّكِ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ وَلَا تَحۡسَبَنَّ هَٰذَا الۡأَمۡرَ يَحۡصُلُ بِسُهُولَةٍ، لَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ فِيهِ مَشَقَّةً.

Tujuan dari penyebutan ini adalah penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan karena yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perpecahan dan perselisihan telah terjadi. Yang wajib adalah kita mengamalkan wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita dalam sabdanya, “Wajib atas kalian untuk mengikuti sunahku dan sunah para khalifah yang rasid sepeninggalku.”[2]

Tidak ada keselamatan dari marabahaya ini kecuali dengan berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jangan dikira urusannya mudah. Tidak ayal lagi, ada kesulitan di dalamnya.

لَكِنۡ يَحۡتَاجُ إۡلَى صَبۡرٍ وَثَبَاتٍ، وَإِلَّا فَإِنَّ الۡمُتَمَسِّكَ بِالۡحَقِّ – خُصُوصًا فِي آخِرِ الزَّمَانِ – سَيُعَانِي مِنَ الۡمَشَاقِّ، وَيَكُونُ الۡقَابِضُ عَلَى دِينِهِ كَالۡقَابِضِ عَلَى الۡجَمۡرِ، كَمَا صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَالۡمُتَمَسِّكُونَ بِسُنَّةِ الرَّسُولِ ﷺ، وَالسَّائِرُونَ عَلَى مَنۡهَجِ السَّلَفِ؛ يَكُونُونَ غُرَبَاءَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، كَمَا أَخۡبَرَ بِذٰلِكَ ﷺ بِقَوۡلِهِ: (فَطُوبَى لِلۡغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصۡلِحُونَ مَا أَفۡسَدَ النَّاسُ مِنۡ بَعۡدِي مِنۡ سُنَّتِي).

Bahkan dibutuhkan kesabaran dan ketegaran. Karena sesungguhnya orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, khususnya di akhir zaman, akan ditimpa banyak kesukaran. Dan orang yang menggenggam agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Sebagaimana telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[3].

Orang yang berpegang teguh dengan sunah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang berjalan di atas metode salaf, mereka menjadi orang-orang yang asing di akhir zaman. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan hal itu dengan sabdanya, “Kebahagiaan untuk orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunahku yang telah dirusak manusia sepeninggalku.”[4]

وَفِي رِوَايَةٍ: (الَّذِينَ يَصۡلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ).

Di dalam riwayat lain, “Yaitu orang-orang yang berbuat baik ketika manusia sudah rusak.”[5]

فَهَٰذَا يَحۡتَاجُ إِلَى الۡعِلۡمِ أَوَّلًا؛ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ، وَالۡعِلۡمِ بِمَنۡهَجِ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَمَا كَانُوا عَلَيۡهِ.

وَيَحۡتَاجُ التَّسَمُّكُ بِهَٰذَا إِلَى صَبۡرٍ عَلَى مَا يَلۡحَقُ الۡإِنۡسَانَ مِنَ الۡأَذَى فِي ذٰلِكَ، وَلِذٰلِكَ يَقُولُ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – : ﴿وَٱلۡعَصۡرِ  ۝١ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ ۝٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ ۝٣﴾.

Ini pertama-tama butuh kepada ilmu terhadap kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ilmu terhadap metode salaf saleh dan jalan hidup yang mereka tempuh. Berpegang teguh dengannya membutuhkan kesabaran terhadap gangguan yang akan menerpa seseorang. Karena itulah Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dengan kebenaran, dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr).

﴿وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ ۝٣﴾ هَٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمۡ سَيُلَاقُونَ مَشَقَّةً فِي إِيمَانِهِمۡ وَعَمَلِهِمۡ، وَتَوَاصِيهِمۡ بِالۡحَقِّ، سَيُلَاقُونَ عَنَتًا مِنَ النَّاسِ، وَلَوۡمًا مِنَ النَّاسِ وَتَوۡبِيخًا، وَقَدۡ يُلَاقُونَ تَهۡدِيدًا، أَوۡ قَدۡ يُلَاقُونَ قَتۡلًا وَضَرۡبًا، وَلَكِنۡ يَصۡبِرُونَ، مَا دَامُوا عَلَى الۡحَقِّ، يَصۡبِرُونَ عَلَى الۡحَقِّ وَيَثۡبُتُونَ عَلَيۡهِ، وَإِذَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ عَلَى شَيۡءٍ مِنَ الۡخَطَأِ يَرۡجِعُونَ إِلَى الصَّوَابِ؛ لِأَنَّهُ هَدَفُهُمۡ.

“Saling berwasiat dengan kesabaran” menunjukkan bahwa mereka akan mendapatkan kesulitan ketika mereka beriman, beramal, dan ketika mereka saling berwasiat dengan kebenaran. Mereka akan menjumpai sikap keras dari manusia, celaan, dan ejekan dari manusia. Terkadang mereka akan menjumpai ancaman atau kadang menjumpai pembunuhan dan pemukulan. Akan tetapi mereka sabar. Selama mereka berada di atas kebenaran, mereka tetap bersabar di atas kebenaran dan tegar di atasnya. Namun, apabila telah jelas bagi mereka bahwa mereka di atas suatu kekeliruan, mereka rujuk kepada kebenaran, karena kebenaran itu adalah tujuan mereka.


[1] هَٰذَا هُوَ الۡحَقُّ الَّذِي نَدِينُ اللهَ بِهِ، بِخِلَافِ مَا اعۡتَمَدَتۡهُ بَعۡضُ الۡجَمَاعَاتِ فِي الدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ؛ بِأَنَّ الۡهَدَفَ هُوَ التَّجۡمِيعُ وَالتَّكۡتِيلُ فَقَطۡ، وَلَوۡ اخۡتَلَفَتِ الۡعَقَائِدُ، فَيَجۡعَلُونَ فِي جَمَاعَتِهِمۡ الۡأَشۡعَرِيَّ، وَالۡجَهۡمِيَّ، وَالۡمُعۡتَزِلِيَّ، وَالرَّافِضِيَّ، وَرُبَمَا النَّصۡرَانِيَّ وَالۡيَهُودِيَّ، وَيَقُولُونَ: (نَجۡتَمِعُ عَلَى مَا اتَّفَقۡنَا عَلَيۡهِ، وَيَعۡذُرُ بَعۡضُنَا بَعۡضًا فِيمَا اخۡتَلَفۡنَا فِيهِ!).

Inilah kebenaran yang kita menganut agama Allah dengannya. Berbeda dengan yang disandari sebagian jemaah-jemaah yang terjun dalam medan dakwah kepada Allah, bahwa yang menjadi tujuan adalah mengumpulkan dan menyatukan semata walaupun akidah berbeda-beda. Maka mereka pun memasukkan ke dalam jemaah mereka, orang yang berpemahaman Asy’ariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Rafidhah, bahkan mungkin saja orang Nasrani dan Yahudi. Mereka mengatakan, “Kita bersatu pada apa yang kita sepakati dan saling memberi uzur dalam hal yang kita perselisihkan.”

[2] Telah disebutkan jalan-jalan periwayatan hadis ini. Ini adalah potongan dari hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu.

[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi nomor 2260 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra nomor 195 dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأۡتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمۡ عَلَى دِينِهِ كَالۡقَابِضِ عَلَى الۡجَمۡرِ

“Suatu zaman akan datang pada manusia. Saat itu orang yang bersabar di tengah-tengah mereka di atas agamanya bagai orang yang menggenggam bara api.”

Di dalam sanad hadis ini ada ‘Umar bin Syakir. Dia adalah rawi yang daif sebagaimana di dalam kitab At-Taqrib. Hadis ini dinilai hasan oleh As-Suyuthi sebagaimana dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir nomor 9988. Al-Albani memasukkan hadis ini dalam kitab Ash-Shahihah dengan nomor 957 dan beliau menilainya sahih.

Hadis ini memiliki hadis-hadis pendukung:

  • Pertama: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (2/390-391) dari Abu Hurairah secara marfuk. Bunyinya,

وَيۡلٌ لِلۡعَرَبِ مِنۡ شَرٍّ قَدِ اقۡتَرَبَ؛ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيۡلِ الۡمُظۡلِمِ، يُصۡبِحُ الرَّجُلُ مُؤۡمِنًا وَيُمۡسِي كَافِرًا، يَبِيعُ قَوۡمٌ دِينَهُمۡ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنۡيَا قَلِيلٍ، الۡمُتَمَسِّكُ يَوۡمَئِذٍ عَلَى دِينِهِ كَالۡقَابِضِ عَلَى الۡجَمۡرِ – أَوۡ قَالَ: عَلَى الشَّوۡكِ –

“Celaka orang Arab dari kejelekan yang telah dekat. Cobaan-cobaan bagai potongan malam yang menggelapkan. Seorang yang di pagi hari dalam keadaan mukmin, akan menjadi kafir di sore harinya. Suatu kaum yang menjual agamanya dengan kesenangan dunia yang sedikit. Orang yang berpegang teguh pada hari itu di atas agamanya bagai orang yang menggenggam bara api—atau beliau berkata—duri.”

Di dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah. Al-Albani berkata setelah hadis itu sebagaimana di dalam Ash-Shahihah (2/682): Aku katakan: Sanadnya tidak masalah sebagai pendukung. Perawinya orang-orang tepercaya selain Ibnu Lahi’ah karena dia jelek hafalannya.

.. فَإِنَّ مِنۡ وَرَائِكُمۡ أَيَّامًا، الصَّبۡرُ فِيهِنَّ مِثۡلُ الۡقَبۡضِ عَلَى الۡجَمۡرِ، لِلۡعَامِلِ فِيهِمۡ مِثۡلُ أَجۡرِ خَمۡسِينَ رَجُلًا يَعۡمَلُونَ مِثۡلَ عَمَلِكُمۡ

“Sesungguhnya di belakang kalian nanti ada hari-hari. Di saat itu kesabaran bagaikan menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal kebaikan di tengah-tengah mereka semisal pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan kalian.”

Poros sanadnya ada pada:

  1. ‘Utbah bin Abu Hakim seorang yang jujur tapi biasa keliru.
  2. ‘Amr bin Jariyah maqbul (diterima).
  3. Abu Umayyah Asy-Sya’bani Ad-Dimasyqi maqbul (diterima).
  • Ketiga: Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu secara marfuk dengan redaksi,

يَأۡتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الۡمُتَمَسِّكُ فِيهِ بِسُنَّتِي عِنۡدَ اخۡتِلَافِ أُمَّتِي كَالۡقَابِضِ عَلَى الۡجَمۡرِ

“Suatu zaman akan datang kepada manusia. Saat itu orang yang berpegang teguh dengan sunahku ketika perselisihan umatku bagaikan orang yang menggenggam bara api.”

Al-Albani berkata setelahnya (2/683) di dalam Ash-Shahihah, “Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakr Al-Kalabidzi dalam Miftah Al-Ma’ani 2/118 dan Adh-Dhiya` Al-Maqdisi di dalam Al-Muntaqa 1/99. As-Suyuthi telah menyandarkan riwayat ini kepada Al-Hakim At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud. Al-Munawi tidak mengomentari sanad hadis ini. Kesimpulannya bahwa hadis ini dengan pendukung-pendukungnya, yaitu hadis Anas yang telah lewat, adalah hadis yang sahih lagi pasti. Karena tidak ada sesuatu yang dicurigai dalam jalan-jalan periwayatannya. Terlebih At-Tirmidzi dan selain beliau telah menilai sebagiannya hasan. Wallahualam.” Selesai.

Al-Mubarakfuri di dalam syarah beliau untuk hadis Anas yang lalu di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (6/445) berkata,

Ath-Thibi berkata, “Maknanya sebagaimana orang yang menggenggam bara api tidak kuasa bersabar karena tangannya terbakar, maka seperti itu pula orang yang mengikuti ajaran agama pada hari itu. Dia tidak mampu untuk tegar di atas agamanya karena banyaknya orang yang bermaksiat dan kemaksiatan, tersebarnya kefasikan, dan lemahnya iman.” Selesai.

Al-Qari berkata, “Yang tampak bahwa makna hadis ini sebagaimana tidak mungkin untuk menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang ekstra dan menanggung kepayahan yang tinggi, maka demikian pula di zaman itu. Tidak terbayangkan bagaimana seseorang menjaga agama dan cahaya keimanannya kecuali dengan kesabaran yang besar.” Selesai.

Selesai dari kitab At-Tuhfah.

[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi nomor 2630 dengan redaksi ini dan beliau berkata: hasan sahih. Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah nomor 98. Dan Al-Baghawi secara mu’allaq dalam Syarh As-Sunnah (1/120-121) dari hadis ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Di dalam sanadnya ada Katsir bin ‘Abdullah Al-Muzani, orang yang matruk (ditinggalkan riwayatnya).

Hadis ini sahih dari jalur-jalur periwayatan lainnya.

بَدَأَ الۡإِسۡلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ – كَمَا بَدَأَ – غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلۡغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali sebagaimana permulaannya dalam keadaan asing. Maka, kebahagiaan bagi orang-orang yang asing.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad (2/389), Ibnu Majah nomor 3986, Al-Lalika`i nomor 174, Al-Ajurri dalam kitab Al-Ghuraba` nomor 4, Ibnu Mandah dalam Al-Iman nomor 422-423.

  • Dari hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma diriwayatkan oleh Muslim nomor 146, Ibnu Mandah dalam Al-Iman nomor 421.
  • Dari hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ahmad (1/398), At-Tirmidzi nomor 2629, Ibnu Majah nomor 3988, Ad-Darimi nomor 2755, Al-Ajurri dalam kitab Al-Ghuraba` nomor 2, Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah nomor 64.
  • Diriwayatkan oleh Ahmad (1/184) dari hadis Sa’d bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
  • Diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 3987 dan Al-Ajurri di dalam kitab Al-Ghuraba` nomor 5 dari hadis Anas radhiyallahu ‘anhu.

[5] Hadis dengan redaksi ini:

  • Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir nomor 7659 dan Al-Ajurri dalam kitab Al-Ghuraba` nomor 5 dari hadis Abu Ad-Darda`, Abu Umamah, Watsilah bin Al-Asqa’, dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum. Di dalam sanadnya ada Katsir bin Marwan Asy-Syami, orang yang matruk (ditinggalkan riwayatnya).
  • Diriwayatkan oleh Al-Lalika`i nomor 173 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath sebagaimana dalam Al-Majma’ (7/278) dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu. Dalam sanadnya ada Abu ‘Ayyasy An-Nu’man Al-Ma’afiri, orang yang majhul (tidak dikenal).
  • Dari hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau. Disebutkan dalam Al-Mathalib Al-‘Aliyah karya Ibnu Hajar nomor 483.
  • Dari hadis ‘Abdurrahman bin Sanah diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Al-Imam Ahmad dalam Az-Zawa`id (4/73-74) dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (4/1615).
  • Dari hadis Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (6/202). Di dalam sanadnya ada Bakr bin Salim Ash-Shawaf; dia daif.
Read More

Syarat Diterimanya Amalan

4 November 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

شُرُوطُ قَبُولِ الۡعَمَلِ

وَلِهَٰذَا يُشۡتَرَطُ فِي كُلِّ عَمَلٍ، أَنۡ يَتَوَفَّرَ فِيهِ شَرۡطَانِ، لِيَكُونَ مَقۡبُولًا عِنۡدَ اللهِ، وَمُثَابًا عَلَيۡهِ صَاحِبُهُ:

الشَّرۡطُ الۡأَوَّلُ: الۡإِخۡلَاصُ لِلهِ – عَزَّ وَجَلَّ –

الشَّرۡطُ الثَّانِي: الۡمُتَابَعَةُ لِلرَّسُولِ ﷺ قَالَ – تَعَالَى -:

﴿بَلَىٰ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ۝١١٢﴾.

وَإِسۡلَامُ الۡوَجۡهِ يَعۡنِي: الۡإِخۡلَاصَ لِلهِ.

وَالۡإِحۡسَانُ هُوَ الۡمُتَابَعَةُ لِلرَّسُولِ ﷺ.

Atas dasar inilah, dipersyaratkan dalam setiap amalan agar memenuhi dua syarat supaya diterima di sisi Allah dan pelakunya diganjar pahala.

Syarat pertama adalah ikhlas untuk Allah azza wajalla.

Syarat kedua adalah mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah taala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang menyerahkan diri kepada Allah dan dia berbuat baik, maka baginya pahalanya di sisi Rabb-nya. Tidak ada kekhawatiran pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112).

Menyerahkan diri yakni ikhlas untuk Allah. Berbuat baik adalah mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فَاللهُ – جَلَّ وَعَلَا – أَمَرَ بِالۡاِجۡتِمَاعِ عَلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالۡاِخۡتِلَافِ.

وَالنَّبِيُّ ﷺ كَذٰلِكَ أَمَرَنَا بِالۡاِجۡتِمَاعِ عَلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَنَهَانَا عَنِ التَّفَرُّقِ وَالۡاِخۡتِلَافِ. لِمَا فِي الۡاِجۡتِمَاعِ عَلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنَ الۡخَيۡرِ الۡعَاجِلِ وَالۡآجِلِ، وَلِمَا فِي التَّفَرُّقِ مِنَ الۡمَضَارِّ الۡعَاجِلَةِ وَالۡآجِلَةِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ.

Jadi Allah jalla wa ‘ala memerintahkan agar bersatu di atas Alquran dan sunah. Allah juga melarang kita dari perpecahan dan perselisihan. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita bersatu di atas Alquran dan sunah serta melarang kita dari perpecahan dan perselisihan. Karena dalam persatuan di atas Alquran dan sunah ada kebaikan jangka pendek dan jangka panjang. Karena di dalam perpecahan ada madarat jangka pendek dan jangka panjang di dunia dan akhirat.

فَالۡأَمۡرُ يَحۡتَاجُ إِلَى اهۡتِمَامٍ شَدِيدٍ، لِأَنَّهُ كُلَّمَا تَأَخَّرَ الزَّمَانُ كَثُرَتِ الۡفِرَقُ، وَكَثُرَتِ الدِّعَايَاتُ، كَثُرَتِ النِّحَلُ وَالۡمَذَاهِبُ الۡبَاطِلَةُ، كَثُرَتِ الۡجَمَاعَاتُ الۡمُتَفَرِّقَةُ. لَكِنۡ الۡوَاجِبُ عَلَى الۡمُسۡلِمِ أَنۡ يَنۡظُرَ، فَمَا وَافَقَ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ ﷺ أَخَذَ بِهِ، مِمَّنۡ جَاءَ بِهِ، كَائِنًا مَنۡ كَانَ؛ لِأَنَّ الۡحَقَّ ضَالَّةُ الۡمُؤۡمِنِ.

Jadi urusan ini butuh perhatian ekstra karena setiap kali zaman ke belakang, semakin banyak firkah, semakin banyak propaganda, Semakin banyak kelompok dan mazhab yang batil, semakin banyak jemaah yang tercerai-berai. Tetapi yang wajib atas seorang muslim agar melihat apa saja yang mencocoki kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia ambil dari siapa saja yang membawanya. Siapapun dia. Karena kebenaran adalah barang hilangnya seorang mukmin.

أَمَّا مَا خَالَفَ مَا كَانَ عَلَيۡهِ الرَّسُولُ ﷺ تَرَكَهُ، وَلَوۡ كَانَ مَعَ جَمَاعَتِهِ، أَوۡ مَعَ مَنۡ يَنۡتَمِي إِلَيۡهِمۡ، مَادَامَ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِلۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ لِأَنَّ الۡإِنۡسَانَ يُرِيدُ النَّجَاةَ لَا يُرِيدُ الۡهَلَاكَ لِنَفۡسِهِ.

Adapun apa saja yang menyelisihi jalan hidup yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia tinggalkan walaupun bersama jemaahnya atau bersama orang yang dia ikuti selama dia menyelisihi Alquran dan sunah. Karena manusia menginginkan keselamatan, tidak menginginkan kebinasaan dirinya.

وَالۡمُجَامَلَةُ لَا تَنۡفَعُ فِي هَٰذَا، الۡمَسۡأَلَةُ مَسۡأَلَةُ جَنَّةٍ أَوۡ نَارٍ، وَالۡإِنۡسَانُ لَا تَأۡخُذُهُ الۡمُجَامَلَةُ، أَوۡ يَأۡخُذُهُ التَّعَصُّبُ، أَوۡ يَأۡخُذُهُ الۡهَوَى فِي أَنۡ يَنۡحَازَ مَعَ غَيۡرِ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، لِأَنَّهُ بِذٰلِكَ يَضُرٌّ نَفۡسَهُ، وَيُخۡرِجُ نَفۡسَهُ مِنۡ طَرِيقِ النَّجَاةِ إِلَى طَرِيقِ الۡهَلَاكِ.

Basa-basi tidak bermanfaat dalam perkara ini. Masalah ini adalah masalah janah atau neraka. Manusia tidak boleh bersikap basa-basi, fanatik, atau mengikuti hawa nafsu dalam bergabung bersama orang selain ahli sunah waljamaah karena itu akan memudaratkan diri dan mengeluarkan diri dari jalan keselamatan menuju jalan kebinasaan.

وَأَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، لَا يَضُرُّهُمۡ مَنۡ خَالَفَهُمۡ سَوَاءً كُنۡتَ مَعَهُمۡ، أَوۡ خَالَفۡتَهُمۡ. إِنۡ كُنۡتَ مَعَهُمۡ، أَوۡ خَالَفۡتَهُمۡ. إِنۡ كُنۡتَ مَعَهُمۡ فَالۡحَمۡدُ لِلهِ، وَهُمۡ يَفۡرَحُونَ بِهَٰذَا، لِأَنَّهُمۡ يُرِيدُونَ الۡخَيۡرَ لِلنَّاسِ، وَإِنۡ خَالَفۡتَهُمۡ فَأَنۡتَ لَا تَضُرُّهُمۡ، وَلِهَٰذَا قَالَ ﷺ: (لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنۡ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الۡحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمۡ مَنۡ خَذَلَهُمۡ، حَتَّى يَأۡتِيَ أَمۡرُ اللهِ وَهُمۡ كَذٰلِكَ).

Ahli sunah waljamaah, tidak akan dimudaratkan oleh orang yang menyelisihi mereka. Sama saja apakah engkau bersama mereka atau menyelisihi mereka. Baik engkau bersama mereka atau menyelisihi mereka. Jika engkau bersama mereka, maka segala puji untuk Allah. Mereka akan berbahagia dengan ini karena mereka menginginkan kebaikan untuk manusia. Jika engkau menyelisihi mereka, maka engkau tidak memudarati mereka. Karena ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang unggul di atas kebenaran. Siapa saja yang menghina mereka tidak akan memudarati mereka hingga perkara Allah datang dalam keadaan mereka tetap demikian.”[1]

فَالۡمُخَالِفُ لَا يَضُرُّ إِلَّا نَفۡسَهُ.

Jadi orang yang menyelisihi (ahli sunah) tidak merugikan kecuali diri mereka sendiri.


[1] Diriwayatkan dengan redaksi ini oleh:

Di hadis ini disebutkan, “Siapa saja yang menyelisihi mereka tidak memudarati mereka.” Juga ada tambahan panjang di awal hadis.

Diriwayatkan pula oleh:

Diriwayatkan dari hadis Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu oleh:

Diriwayatkan dari hadis Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu oleh:

Diriwayatkan dari hadis Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu oleh:

  • Imam Ahmad 5/103,
  • Muslim nomor 1922,
  • Abu ‘Awanah 5/105,
  • Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir nomor 1819,
  • Al-Hakim 4/449.

Diriwayatkan dari hadis Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu oleh:

  • Muslim nomor 1923,
  • Abu ‘Awanah 5/105,
  • Ahmad 3/345,
  • Abu Ya’la dalam Musnad beliau nomor 313,
  • Al-Baihaqi 8/180.

Dan dari hadis Sa’d bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh:

Hadis ini diriwayatkan pula oleh sejumlah sahabat selain mereka. Di antaranya: ‘Umar bin Al-Khaththab, Salamah Al-Kindi, ‘Imran bin Hushain, An-Nawwas bin Sam’an, Abu Umamah, Qurrah Al-Muzani, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

Read More