Author Archives

Syarah Ba’dh Fawa`id Surah Al-Fatihah

17 September 2020
/ / /

Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab–rahimahullah–dalam Ba’dh Fawa`id Surah Al-Fatihah berkata:

﴿بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ ۝٢ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝٣ مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾. هَٰذِهِ الۡآيَاتُ الثَّلَاثُ تَضَمَّنَتۡ ثَلَاثَ مَسَائِلَ:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penguasa hari pembalasan.”[1]

Tiga ayat ini mengandung tiga permasalahan:[2]

الۡآيَةُ الۡأُولَى: فِيهَا الۡمَحَبَّةُ؛ لِأَنَّ اللهَ مُنۡعِمٌ، وَالۡمُنۡعِمُ يُحَبُّ عَلَى قَدۡرِ إِنۡعَامِهِ.

وَالۡمَحَبَّةُ تَنۡقَسِمُ إِلَى أَرۡبَعَةِ أَنۡوَاعٍ:

Ayat pertama mengandung mahabah (rasa cinta), karena Allah adalah Pemberi kenikmatan. Pemberi kenikmatan dicintai sesuai kadar pemberian nikmatnya.[3]

Mahabah terbagi menjadi empat macam:

مَحَبَّةٌ شِرۡكِيَّةٌ: وَهُمُ الَّذِينَ قَالَ الله فِيهِمۡ: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٥ – ١٦٧].

Mahabah syirik. Mereka adalah orang-orang yang disebut oleh Allah, “Di antara manusia ada yang menjadikan yang selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah…” hingga firman-Nya, “dan mereka tidak bisa keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 165-167).[4]

الۡمَحَبَّةُ الثَّانِيَةُ: حُبُّ الۡبَاطِلِ وَأَهۡلِهِ، وَبُغۡضُ الۡحَقِّ وَأَهۡلِهِ، وَهَٰذِهِ صِفَةُ الۡمُنَافِقِينَ.

Jenis mahabah kedua adalah mencintai kebatilan dan pelakunya; serta membenci kebenaran dan pelakunya. Ini adalah sifat orang-orang munafik.[5]

الۡمَحَبَّةُ الثَّالِثَةُ: طَبِيعِيَّةٌ، وَهِيَ مَحَبَّةُ الۡمَالِ وَالۡوَلَدِ، إِذَا لَمۡ تُشۡغِلۡ عَنۡ طَاعَةِ اللهِ، وَلَمۡ تُعِنۡ عَلَى مَحَارِمِ اللهِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ.

Mahabah ketiga adalah yang bersifat tabiat seperti mencintai harta dan anak. Jika tidak sampai menyibukkan diri dari ketaatan kepada Allah dan tidak membantu kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah, maka ini mahabah yang dibolehkan.[6]

وَالۡمَحَبَّةُ الرَّابِعَةُ: حُبُّ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ، وَبُغۡضُ أَهۡلِ الشِّرۡكِ، وَهِيَ أَوۡثَقُ عُرَى الۡإِيمَانِ، وَأَعۡظَمُ مَا يَعۡبُدُ بِهِ الۡعَبۡدُ رَبَّهُ.

Mahabah keempat adalah mencintai orang-orang yang bertauhid dan membenci pelaku kesyirikan. Ini adalah tali keimanan yang paling kuat dan bentuk ibadah teragung dari hamba kepada Tuhannya.[7]

الۡآيَةُ الثَّانِيَةُ: فِيهَا الرَّجَاءُ.

Ayat kedua mengandung rasa harap.[8]

وَالۡآيَةُ الثَّالِثَةُ: فِيهَا الۡخَوۡفُ.

Ayat ketiga mengandung rasa takut.[9]

﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ أَيۡ: أَعۡبُدُكَ يَا رَبِّ بِمَا مَضَى، بِهَٰذِهِ الثَّلَاثِ: بِمَحَبَّتِكَ، وَرَجَائِكَ، وَخَوۡفِكَ.

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah.” Artinya: Aku beribadah kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan tiga perkara yang telah lewat. Yaitu dengan perasaan mencintai-Mu, berharap kepada-Mu, dan takut dari-Mu.[10]

فَهَٰذِهِ الثَّلَاثُ أَرۡكَانُ الۡعِبَادَةِ، وَصَرَفَهَا لِغَيۡرِ اللهِ شِرۡكٌ.

Tiga perasaan ini adalah rukun-rukun ibadah. Memalingkannya kepada selain Allah merupakan kesyirikan.[11]

وَفِي هَٰذِهِ الثَّلَاثِ الرَّدُّ عَلَى مَنۡ تَعَلَّقَ بِوَاحِدَةٍ مِنۡهُنَّ كَمَنۡ تَعَلَّقَ بِالۡمَحَبَّةِ وَحۡدَهَا.

أَوۡ تَعَلَّقَ بِالرَّجَاءِ وَحۡدَهُ أَوۡ تَعَلَّقَ بِالۡخَوۡفِ وَحۡدَهُ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا شَيۡئًا لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ.

Dalam tiga ayat ini ada bantahan terhadap orang yang menautkan hatinya dengan hanya salah satu dari tiga perasaan itu. Seperti orang yang memunculkan perasaan mahabah saja[12], atau harap saja[13], atau takut semata[14]. Jadi siapa saja yang memalingkan satu saja darinya kepada selain Allah, maka dia musyrik.

وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ: الرَّدُّ عَلَى الطَّوَائِفِ الثَّلَاثِ الَّتِي كُلُّ طَائِفَةٍ تَتَعَلَّقُ بِوَاحِدَةٍ مِنۡهَا. كَمَنۡ عَبَدَ اللهَ تَعَالَى بِالۡمَحَبَّةِ وَحۡدَهَا.

وَكَذٰلِكَ مَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالرَّجَاءِ وَحۡدَهُ كَالۡمُرۡجِئَةِ، وَكَذٰلِكَ مَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالۡخَوۡفِ وَحۡدَهُ كَالۡخَوَارِجِ.

Dalam ayat ini ada faedah bantahan terhadap tiga kelompok yang tiap kelompok hanya memunculkan salah satu dari tiga perasaan itu dalam hatinya. Seperti orang yang beribadah kepada Allah taala dengan perasaan mahabah saja. Begitu pula yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap belaka seperti kelompok Murji`ah.[15] Demikian pula yang beribadah kepada Allah dengan perasaan takut semata seperti kelompok Khawarij.[16]

﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ وَتَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ، ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ.

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan.” Ayat ini mengandung tauhid uluhiyyah (pengesaan Allah dalam ibadah) dan tauhid rububiyyah (pengesaan Allah sebagai pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta).

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah.” Ayat ini mengandung tauhid uluhiyyah.

“Dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan.” Ayat ini mengandung tauhid rububiyyah.[17]

﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ﴾ فِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡمُبۡتَدِعِينَ.

 “Berilah kepada kami petunjuk ke jalan yang lurus.” Ayat ini mengandung bantahan terhadap para pelaku kebidahan.[18]

وَأَمَّا الۡآيَتَانِ الۡأَخِيرَتَانِ فَفِيهِمَا مِنَ الۡفَوَائِدِ ذِكۡرُ أَحۡوَالِ النَّاسِ.

قَسَمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ثَلَاثَةَ أَصۡنَافٍ: مُنۡعَمٌ عَلَيۡهِ، وَمَغۡضُوبٌ عَلَيۡهِ، وَضَالٌّ.

Dua ayat terakhir mengandung faedah penyebutan perihal manusia. Allah taala membagi mereka menjadi tiga golongan. Yaitu: yang diberi nikmat, yang dimurkai, dan yang sesat.[19]

فَالۡمَغۡضُوبُ عَلَيۡهِمۡ: أَهۡلُ عِلۡمٍ لَيۡسَ مَعَهُمۡ عَمَلٌ.

وَالضَّالُّونَ: أَهۡلُ عِبَادَةٍ لَيۡسَ مَعَهَا عِلۡمٌ.

وَإِذَا كَانَ سَبَبُ النُّزُولِ فِي الۡيَهُودِ وَالنَّصَارَى، فَهِيَ لِكُلِّ مَنِ اتَّصَفَ بِذٰلِكَ.

الثَّالِثُ: مَنِ اتَّصَفَ بِالۡعِلۡمِ وَالۡعَمَلِ وَهُمُ الۡمُنۡعَمُ عَلَيۡهِمۡ.

Yang dimurkai adalah orang yang berilmu namun tidak beramal.[20] Yang sesat adalah ahli ibadah yang tidak berilmu.[21] Walaupun sebab turunnya ayat ini kepada orang Yahudi dan Nasrani, namun berlaku pula kepada siapa saja yang memiliki sifat seperti itu.[22] Golongan ketiga adalah orang yang menyandang sifat berilmu dan beramal. Merekalah yang mendapat kenikmatan.[23]

وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ: التَّبَرُّؤُ مِنَ الۡحَوۡلِ وَالۡقُوَّةِ؛ لِأَنَّهُ مُنۡعَمٌ عَلَيۡهِ.

وَكَذٰلِكَ فِيهَا مَعۡرِفَةُ اللهِ عَلَى التَّمَامِ وَنَفۡيُ النَّقَائِصِ عَنۡهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى -.

Ayat ini mengandung beberapa faedah. Yaitu, kenikmatan yang ada pada seorang hamba bukanlah karena daya dan upayanya. Sebenarnya dia hanyalah diberi kenikmatan.[24]

Begitu pula ayat ini memiliki faedah mengenali Allah dengan sifat-Nya yang sempurna dan meniadakan sifat kekurangan dari-Nya—tabaraka wa ta’ala.[25]

وَفِيهَا مَعۡرِفَةُ الۡإِنۡسَانِ رَبَّهُ، وَمَعۡرِفَةُ نَفۡسِهِ.

فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ رَبٌّ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَرۡبُوبٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا رَاحِمٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَرۡحُومٍ،

Ayat ini mengandung faedah pengenalan seseorang kepada Tuhannya dan pengenalan dirinya.[26] Karena apabila di sana ada Rabb (pencipta, pemilik, pengatur), maka pasti ada marbub (yang diciptakan, yang dimiliki, yang diatur).[27] Jika di sana ada Yang Maha Penyayang, maka pasti ada yang disayang.[28]

وَإِذَا كَانَ هُنَا مَالِكٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَمۡلُوكٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا عَبۡدٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَعۡبُودٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا هَادٍ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَهۡدِيٍّ،

Jika di sana ada penguasa, maka pasti ada yang dikuasai.[29] Jika di sana ada hamba, maka pasti ada yang disembah.[30] Jika di sana ada Yang memberi petunjuk, maka pasti ada yang ditunjuki.[31]

وَإِذَا كَانَ هُنَا مُنۡعِمٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مُنۡعَمٍ عَلَيۡهِ، وَإِذَا كَانَ هُنَا مَغۡضُوبٌ عَلَيۡهِ فَلَا بُدَّ مِنۡ غَاضِبٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا ضَالٌّ فَلَا بُدَّ مِنۡ مُضِلٍّ.

Jika di sana ada Yang memberi kenikmatan, maka pasti ada yang diberi kenikmatan.[32] Jika di sana ada yang dimurkai, maka pasti ada Yang memurkai.[33] Jika di sana ada yang sesat, maka pasti ada Yang menjadikannya sesat.

فَهَٰذِهِ السُّورَةُ تَضَمَّنَتِ الۡأُلُوهِيَّةَ وَالرُّبُوبِيَّةَ، وَنَفۡيَ النَّقَائِصِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَتَضَمَّنَتۡ مَعۡرِفَةَ الۡعِبَادَةِ وَأَرۡكَانِهَا. وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Jadi surah ini mengandung tauhid uluhiyyah dan rububiyyah, serta peniadaan sifat kekurangan dari Allah.[34] Juga mengandung pengenalan kepada ibadah dan rukun-rukunnya.[35] Wallahualam.[36]


Syekh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan–hafizhahullah–dalam syarahnya berkata:

[1]

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ أَجۡمَعِينَ.

Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Semoga Allah curahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya semua.

هَٰذِهِ الرِّسَالَةُ تَخۡتَصُّ بِبَيَانِ فَوَائِدِ سُورَةِ الۡفَاتِحَةِ، هَٰذِهِ السُّورَةُ الۡعَظِيمَةُ، سُمِّیَتۡ بِالۡفَاتِحَةِ؛ لِأَنَّهَا افۡتُتِحَ بِهَا الۡمُصۡحَفُ الشَّرِيفُ، فَهِيَ أَوَّلُ سُورَةٍ فِيهِ، وَتُسَمَّى بِالسَّبۡعِ الۡمَثَانِي؛ لِأَنَّهَا سَبۡعُ آيَاتٍ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَـٰكَ سَبۡعًا مِّنَ ٱلۡمَثَانِى وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ﴾ [الحجر: ٨٧] فَهِيَ السَّبۡعُ الۡمَثَانِي.

وَقِيلَ: سُمِّيَتۡ بِالۡمَثَانِي؛ لِأَنَّهَا تُكَرِّرُ قِرَاءَتُهَا فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ،

Risalah ini khusus menjelaskan beberapa faedah surah Al-Fatihah. Ini adalah surah yang amat agung. Surah ini dinamakan surah Al-Fatihah karena mengawali mushaf yang mulia. Jadi surah Al-Fatihah adalah surah pertama di dalam mushaf.

Surah ini dinamakan as-sab’ al-matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) karena terdiri dari tujuh ayat. Allah taala berfirman, “Sungguh Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Alquran yang mulia.” (QS. Al-Hijr: 87). Jadi surah Al-Fatihah adalah as-sab’ al-matsani.

Ada yang berkata: Surah ini dinamakan dengan al-matsani karena bacaannya diulang-ulang dalam setiap rakaat.

وَتُسَمَّى أُمَّ الۡقُرۡآنِ؛ لِأَنَّ أُمَّ الشَّيۡءِ: الۡأَصۡلُ الَّذِي يَرۡجِعُ إِلَيۡهِ الشَّيۡءُ، الۡقُرۡآنُ يَرۡجِعُ فِي مَعَانِيهِ إِلَى مَا تَضَمَّنَتۡهُ هَٰذِهِ السُّورَةُ،

Surah ini dinamakan ummul qur`an (induk Alquran) karena pengertian induknya sesuatu adalah pokok yang sesuatu itu kembali kepadanya. Alquran kembali dalam makna-maknanya kepada kandungan surah ini.

وَتُسَمَّى بِالصَّلَاةِ؛ لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ فِي الۡحَدِيثِ الَّذِي يَرۡوِيهِ عَنۡ رَبِّهِ، أَنَّ اللهَ -جَلَّ وَعَلَا- يَقُولُ: (قَسَمۡتُ الصَّلَاةَ بَيۡنِي وَبَيۡنَ عَبۡدِي نِصۡفَیۡنِ) يَعۡنِي: الۡفَاتِحَةَ (فَإِذَا قَالَ: ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾، قَالَ اللهُ: حَمِدَنِي عَبۡدِي، فَإِذَا قَالَ: ﴿ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ﴾، قَالَ اللهُ: أَثۡنَى عَلَيَّ عَبۡدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿ مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾، قَالَ اللهُ: مَجَّدَنِي عَبۡدِي، فَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾، قَالَ: هَٰذَا بَيۡنِي وَبَيۡنَ عَبۡدِي نِصۡفَيۡنِ وَلِعَبۡدِي مَا سَأَلَ).

Surah Al-Fatihah ini juga dinamakan salat. Berdasarkan sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Tuhannya—jalla wa ‘ala—,

Allah berkata, “Aku membagi salat menjadi dua paruh antara Aku dengan hamba-Ku.” Yakni surah Al-Fatihah.

Apabila si hamba mengucapkan, “Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn (Segala pujian untuk Allah Tuhan alam semesta),” Allah berkata, “Hamba-Ku memuji-Ku.”

Jika si hamba mengucapkan, “Ar-raḥmānir-rahīm (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang),” Allah berkata, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.”

Apabila si hamba mengucapkan, “Māliki yaumid-dīn (Yang menguasai hari pembalasan),” Allah berkata, “Hamba-Ku memuliakan-Ku.”

Apabila si hamba mengatakan, “Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn (Kami beribadah hanya kepada-Mu dan kami meminta pertolongan hanya kepada-Mu),” Allah berkata, “Inilah dua paruh antara Aku dengan hamba-Ku. Maka, untuk hamba-Ku apa yang dia minta.”

(HR. Muslim nomor 395 dari hadis Abu Hurairah).

وَسُورَةُ الۡفَاتِحَةِ سَبۡعُ آيَاتٍ، ثَلَاثُ آیَاتٍ وَنِصۡفٌ مِنۡهَا لِلهِ، ثَنَاءٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَثَلَاثٌ وَنِصۡفٌ مِنۡهَا لِلۡعَبۡدِ، مِنۡ قَوۡلِهِ: ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ إِلَى آخِرِ السُّورَةِ.

Surah Al-Fatihah ada tujuh ayat. Tiga setengah ayat darinya adalah untuk Allah, yaitu sanjungan kepada Allah. Lalu tiga setengah ayat berikutnya untuk hamba. Yaitu dari firman-Nya, “Hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan,” sampai akhir surah.

فَهَٰذَا مَعۡنَى قَوۡلِهِ -جَلَّ وَعَلَا-: (قَسَمۡتُ الصَّلَاةَ) يَعۡنِي سُورَةَ الۡفَاتِحَةِ (بَيۡنِي وَبَيۡنَ عَبۡدِي نِصۡفَيۡنِ).

Ini makna perkataan Allah—jalla wa ‘ala—, “Aku membagi salat,” yakni surah Al-Fatihah, “dua paruh antara Aku dengan hamba-Ku.”

وَتُسَمَّى بِالۡكَافِيَةِ، وَتُسَمَّى بِالرُّقۡيَةِ؛ لِأَنَّ النَّفَرَ مِنَ الصَّحَابَةِ الَّذِينَ نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنۡ أَحۡيَاءِ الۡعَرَبِ اسۡتَضَافُوهُمۡ فَلَمۡ يُضِيفُوهُمۡ، فَلُدِغَ كَبِيرُهُمۡ، فَجَاءُوا يَطۡلُبُونَ مِنَ الصَّحَابَةِ الرُّقۡيَةَ.

Dinamakan dengan al-kafiyah. Dinamakan pula dengan ruqyah. Karena pernah serombongan sahabat singgah di salah satu desa Arab. Mereka minta untuk diterima layaknya tamu, namun penduduk desa itu tidak mau menerima mereka. Lalu seorang pemuka penduduk desa itu tersengat. Penduduk desa itu datang untuk minta ruqyah dari para sahabat.

فَقَالَ أَحَدُ الصَّحَابَةِ: إِنَّنَا نَرۡقِي وَلَٰكِنۡ أَبَيۡتُمۡ أَنۡ تُضِيفُونَا، فَلَا نَرۡقِي إِلَّا بِجُعۡلٍ -يَعۡنِي: بِأُجۡرَةٍ- فَشَرَطُوا لَهُمۡ قَطِيعًا مِنَ الۡغَنَمِ، فَقَرَأَ عَلَيۡهِ سُورَةَ الۡفَاتِحَةِ، فَقَامَ کَأَنَّمَا بُعِثَ مِنۡ عِقَالٍ.

فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أَخۡبَرُوهُ بِمَا حَصَلَ، فَقَالَ: (وَمَا أَدۡرَاكَ أَنَّهَا رُقۡيَةٌ)، فَتُسَمَّى بِالرُّقۡيَةِ.

Salah seorang sahabat berkata, “Sesungguhnya kami bisa meruqyah, akan tetapi kalian tidak mau menjamu kami. Jadi kami tidak mau meruqyah kecuali dengan imbalan.” Yakni upah.

Maka penduduk desa itu menjanjikan untuk mereka beberapa kambing. Sahabat tadi membacakan surah Al-Fatihah kepada pemimpin desa itu. Lalu pemimpin desa bangkit seakan-akan terlepas dari ikatan.

Ketika para sahabat datang kepada Nabi, mereka menceritakan peristiwa yang terjadi kepada beliau. Lalu Nabi bersabda, “Bagaimana engkau tahu kalau surah Al-Fatihah adalah ruqyah?” (HR. Al-Bukhari nomor 2276, 5007, 5736, 5749, dan Muslim nomor 2201 dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri). Jadi surah Al-Fatihah dinamakan ruqyah.

وَهِيَ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، يَدُلُّ عَلَى عَظَمَتِهَا أَنَّ اللهَ جَعَلَ قِرَاءَتَهَا رُكۡنًا مِنۡ أَرۡكَانِ الصَّلَاةِ، وَأَنَّهَا تُكَرَّرُ فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ، فَهَٰذَا يَدُلُّ عَلَى عَظَمَةِ هَٰذِهِ السُّورَةِ.

Surah Al-Fatihah adalah surah yang agung. Yang menunjukkan keagungannya adalah Allah menjadikan membacanya sebagai salah satu rukun salat. Juga surah Al-Fatihah diulang-ulang dalam setiap rakaat. Ini menunjukkan keagungan surah ini.

وَهِيَ تَتَضَمَّنُ مَعَانِيَ جَلِيلَةً، فَفِيهَا أَنۡوَاعُ التَّوۡحِيدِ الثَّلَاثَةُ فِي أَوَّلِهَا: ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ هَٰذَا فِيهِ تَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ ﴿ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝٣ مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ هَٰذَا فِيهِ تَوۡحِيدُ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ هَٰذَا فِيهِ تَوۡحِيدُ الۡعُبُودِيَّةِ، فَتَضَمَّنَتۡ إِذَنۡ أَنۡوَاعَ التَّوۡحِيدِ الثَّلَاثَةَ.

Surah ini mengandung makna-makna yang mulia. Surah ini mengandung tiga jenis tauhid. Di awal surah, “Segala puji untuk Allah Tuhan alam semesta.” Ayat ini mengandung makna tauhid rububiyyah (mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan). “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Ayat ini mengandung makna tauhid al-asma` wash-shifat (mengesakan Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya).

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Ayat ini mengandung makna tauhid uluhiyyah (mengesakan Allah dalam ibadah). Jadi surah ini mengandung ketiga jenis tauhid.

وَتَضَمَّنَتۡ نَوۡعَيِ الدُّعَاءِ؛ لِأَنَّ الدُّعَاءَ عَلَى قِسۡمَيۡنِ: دُعَاءُ عِبَادَةٍ، وَدُعَاءُ مَسۡأَلَةٍ.

دُعَاءُ الۡعِبَادَةِ: هُوَ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ -جَلَّ وَعَلَا- وَذِكۡرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

وَدُعَاءُ الۡمَسۡأَلَةِ: وَهُوَ طَلَبُ الۡحَوَائِجِ مِنَ اللهِ -جَلَّ وَعَلَا- فَهَٰذَا مَوۡجُودٌ فِيهَا

Surah ini juga mengandung dua macam doa. Karena doa terbagi menjadi dua: doa (dalam bentuk) ibadah dan doa (dalam bentuk) permintaan.

Doa dalam bentuk ibadah adalah sanjungan kepada Allah dan zikir kepada Allah.

Doa dalam bentuk permintaan adalah permintaan kebutuhan kepada Allah—jalla wa ‘ala.

Keduanya terdapat di dalam surah ini.

﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۝٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ﴾ كُلُّهُ طَلَبٌ وَدُعَاءٌ، وَلِذٰلِكَ يُسۡتَحَبُّ بَعۡدَ الۡفَرَاغِ مِنۡ قِرَاءَتِهَا أَنۡ يَقُولَ: (آمِين) أَيۡ: اللّٰهُمَّ اسۡتَجِبۡ، وَالتَّأۡمِينُ إِنَّمَا يَكُونُ عَلَى دُعَاءٍ، وَسُورَةُ الۡفَاتِحَةِ دُعَاءٌ كُلُّهَا، دُعَاءُ عِبَادَةٍ وَدُعَاءُ مَسۡأَلَةٍ.

“Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat kepada mereka.” Ini semua adalah permintaan dan doa. Karena itu, setelah selesai membacanya disunahkan membaca amin. Artinya: Ya Allah, kabulkanlah!

Bacaan amin hanya dilakukan pada doa dan seluruh surah Al-Fatihah adalah doa. Yaitu doa ibadah dan doa permintaan.

وَفِيهَا إِثۡبَاتُ الرِّسَالَاتِ، وَذٰلِكَ لِأَنَّ مُقۡتَضَى قَوۡلِهِ: ﴿رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ وَالرَّبُّ هُوَ الَّذِي يُصۡلِحُ عِبَادَهُ وَيُرَبِّيهِمۡ، وَمُقۡتَضَى تَرۡبِيَتِهِمۡ أَنۡ يُرۡسِلَ إِلَيۡهِمُ الرُّسُلَ لِهِدَايَتِهِمۡ وَتَرۡبِيَتِهِمۡ، وَهَٰذَا مِنۡ مُقۡتَضَى الرُّبُوبِيَّةِ، وَمِنۡ مُقۡتَضَى الۡهِدَايَةِ ﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ﴾ لَا يُمۡكِنُ الۡاِهۡتِدَاءُ إِلَى الصِّرَاطِ الۡمُسۡتَقِيمِ إِلَّا بِالرُّسُلِ -عَلَيۡهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، فَفِيهَا إِثۡبَاتُ الرِّسَالَاتِ.

Surah Al-Fatihah mengandung penetapan kerasulan. Alasannya karena konsekuensi firman Allah, “Rabb al-‘aalamiin”, Rabb adalah yang mengurus dan memelihara hamba-hamba-Nya. Konsekuensi pemeliharaan hamba adalah mengutus para rasul kepada mereka untuk menunjuki dan membimbing mereka. Inilah konsekuensi dari rububiyyah (pemeliharaan hamba).

Ini juga termasuk konsekuensi hidayah/petunjuk. “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Tidak mungkin pemberian petunjuk ke jalan yang lurus kecuali melalui para rasul—‘alaihimush shalatu was salam—. Jadi dalam surah ini ada penetapan kerasulan.

وَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى جَمِيعِ الطَّوَائِفِ الۡمُنۡحَرِفَةِ، فَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡمَلَاحِدَةِ الَّذِينَ يُعَطِّلُونَ الۡكَوۡنَ مِنۡ خَالِقِهِ، فِيهَا الرَّدُّ عَلَيۡهِمۡ بِإِثۡبَاتِ أَنَّ هَٰذَا الۡكَوۡنَ لَهُ رَبٌّ خَلَقَهُ وَهُوَ ﴿رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾.

Di dalamnya juga ada bantahan terhadap seluruh kelompok yang menyimpang. Di dalamnya ada bantahan terhadap kelompok mulhid/ateis yang meniadakan Tuhan Pencipta alam semesta ini. Di dalamnya ada bantahan terhadap mereka dengan menetapkan bahwa alam semesta ini dimiliki oleh Rabb yang telah menciptakannya, yaitu “Rabb al-‘aalamiin”.

وَالرَّبُّ مَعۡنَاهُ: الۡخَالِقُ الۡمُرَبِّي لِجَمِيعِ الۡخَلۡقِ بِالنِّعَمِ، وَالۡمُصۡلِحُ وَالۡمَالِكُ، كُلُّ هَٰذِهِ تَدۡخُلُ فِي مَعَانِي الرَّبِّ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡمَلَاحِدَةِ الۡمُعَطِّلَةِ.

Rabb bermakna pencipta, pengatur seluruh makhluk dengan berbagai kenikmatan, pemelihara, dan penguasa. Semua ini masuk ke dalam makna rabb. Jadi di dalam surah ini ada bantahan untuk kelompok mulhid ateis.

وَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ الَّذِينَ يَعۡبُدُونَ غَيۡرَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ حَيۡثُ إِنَّ فِيهَا إِخۡلَاصَ الۡعِبَادَةِ لِلهِ، فَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ الَّذِينَ يَعۡبُدُونَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ.

Di dalam surah ini ada bantahan terhadap orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah. “Hanya kepada-Mu kami beribadah.” Ayat ini mengandung pengikhlasan ibadah untuk Allah. Jadi di dalam surah ini ada bantahan terhadap orang-orang musyrik yang di samping menyembah Allah juga menyembah sembahan selain-Nya.

وَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى طَوَائِفِ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ الَّتِي اشۡتَطَّتۡ عَنۡ طَرِيقِ الۡحَقِّ، کَالۡجَهۡمِيَّةِ وَالۡمُعۡتَزِلَةِ وَالۡأَشَاعِرَةِ الَّذِينَ ضَلُّوا فِي بَابِ الۡقَضَاءِ وَالۡقَدَرِ، وَالرَّدُّ عَلَى نُفَاةِ الصِّفَاتِ، الۡمُعَطِّلَةِ الَّذِينَ عَطَّلُوا الۡأَسۡمَاءَ وَالصِّفَاتِ مِنۡ جَهۡمِيَّةٍ وَمُعۡتَزِلَةٍ وَأَشَاعِرَةٍ وَمَاتُرِيدِيَّةٍ وَغَيۡرِهِمۡ، كُلُّ مَنۡ نَفَي الصِّفَاتِ أَوۡ نَفَى شَيۡئًا مِنۡهَا، فَهَٰذِهِ السُّورَةُ تَرُدُّ عَلَيۡهِمۡ.

Di dalam surah ini ada bantahan terhadap kelompok-kelompok umat ini yang menjauh dari jalan kebenaran, seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah yang sesat dalam masalah qada dan kadar/takdir. Juga ada bantahan terhadap penolak sifat. Yaitu kelompok Mu’aththilah yang menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu dari kelompok Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan selain mereka. Setiap kelompok yang menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan sebagiannya, maka mereka dibantah oleh surah Al-Fatihah ini.

وَفِيهَا إِثۡبَاتُ الۡبَعۡثِ ﴿مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ وَيَوۡمُ الدِّينِ: هُوَ يَوۡمُ الۡحِسَابِ؛ لِأَنَّ الدِّينَ هُنَا مَعۡنَاهُ: الۡحِسَابُ، وَيَوۡمُ الدِّينِ هُوَ يَوۡمُ الۡقِيَامَةِ، سُمِّيَ يَوۡمَ الدِّينِ؛ لِأَنَّ اللهَ يُحَاسِبُ عِبَادَهُ وَيُجَازِيهِمۡ عَلَى أَعۡمَالِهِمۡ.

Di dalam surah ini ada penetapan kebangkitan. “Yang menguasai hari perhitungan.” Yaum ad-din adalah hari perhitungan karena ad-din di sini artinya perhitungan. Hari perhitungan adalah hari kiamat. Dinamakan dengan hari perhitungan karena Allah menghisab hamba-hamba-Nya dan membalas mereka sesuai amalan mereka.

وَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡيَهُودِ وَهُمُ الۡمَغۡضُوبُ عَلَيۡهِمۡ، وَمَنۡ سَارَ عَلَى نَهۡجِهِمۡ مِنۡ كُلِّ عَالِمٍ لَا يَعۡمَلُ بِعِلۡمِهِ.

Di dalam surah ini ada bantahan terhadap Yahudi. Mereka adalah orang-orang yang dimurkai. Juga bantahan terhadap siapa saja yang mengikuti jalan mereka, dari setiap orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya.

وَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى النَّصَارَى الَّذِينَ يَعۡبُدُونَ اللهَ عَلَى غَيۡرِ هُدًى.

Dalam surah ini ada bantahan terhadap Nasrani yang mereka itu menyembah Allah tidak di atas petunjuk.

فَفِيهَا الرَّدُّ عَلَى كُلِّ مُبۡتَدِعٍ يَعۡبُدُ اللهَ بِغَيۡرِ دَلِيلٍ مِنَ النَّصَارَى وَغَيۡرِهِمۡ؛ لِأَنَّ الضَّالَّ: هُوَ الَّذِي يَعۡبُدُ اللهَ عَلَى غَيۡرِ هُدًى.

Dalam surah ini ada bantahan terhadap setiap pengusung bidah dari Nasrani dan selain mereka yang dia melakukan peribadahan kepada Allah dengan tanpa dalil. Karena orang yang sesat adalah orang yang beribadah kepada Allah namun tidak sesuai dengan petunjuk.

فَالنَّصَارَى وَالۡمُبۡتَدِعَةُ وَالۡخُرَافِيُّونَ كُلُّهُمۡ يَدۡخُلُونَ تَحۡتَ الضَّالِّينَ؛ لِأَنَّهُمۡ يَعۡبُدُونَ اللهَ بِالۡبِدَعِ وَالۡمُحۡدَثَاتِ وَالۡخُرَافَاتِ الَّتِي مَا أَنۡزَلَ اللهُ بِهَا مِنۡ سُلۡطَانٍ.

Jadi Nasrani, pengusung bidah, dan orang-orang yang gemar akan khurafat, mereka ini semua termasuk golongan orang yang sesat karena mereka beribadah kepada Allah dengan bidah, sesuatu yang dibuat-buat, dan khurafat-khurafat yang Allah tidak menurunkan keterangan apapun tentangnya.

كَمَا أَنَّ فِيهَا الرَّدَّ عَلَى عُلَمَاءِ الضَّلَالِ الَّذِينَ يُحَرِّفُونَ الۡكَلِمَ عَنۡ مَوَاضِعِهِ، وَيَعۡمَلُونَ بِأَهۡوَائِهِمۡ، وَيُحَرِّفُونَ النُّصُوصَ وَيُؤَوِّلُونَهَا عَلَى غَيۡرِ مُرَادِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لِتَتَوَافَقَ عَلَى أَهۡوَائِهِمۡ، وَفِي مُقَدِّمَةِ هَٰؤُلَاءِ الۡيَهُودُ وَكُلُّ مَنۡ سَارَ عَلَى نَهۡجِهِمۡ.

Begitu pula dalam surah ini ada bantahan terhadap ulama sesat yang mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya, mereka beramal sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka mengubah nas-nas dan menakwilkannya kepada makna yang tidak dimaukan oleh Allah—subhanahu wa ta’ala—agar sesuai dengan hawa nafsu mereka. Pelopor orang-orang semacam ini adalah Yahudi dan setiap orang yang menempuh jalan mereka.

كَمَا أَنَّ فِي مُقَدِّمَةِ الۡمُبۡتَدِعَةِ النَّصَارَى، وَلِهَٰذَا يَقُولُ بَعۡضُ السَّلَفِ: مَنۡ ضَلَّ مِنۡ عُلَمَائِنَا فَفِيهِ شِبۡهٌ مِنَ الۡيَهُودِ، وَمَنۡ ضَلَّ مِنۡ عُبَّادِنَا فَفِيهِ شِبۡهٌ مِنَ النَّصَارَى.

فَالۡوَاقِعُ أَنَّ هَٰذِهِ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، وَسَيَتَكَلَّمُ الشَّيۡخُ رَحِمَهُ اللهُ عَنۡ فَوَائِدِهَا الۡمُهِمَّةِ.

Sebagaimana pelopor bagi pengusung bidah adalah orang-orang Nasrani.

Oleh karena itu, sebagian ulama salaf berkata, “Siapa saja yang sesat dari kalangan ulama kita, maka ada kemiripan dengan Yahudi. Siapa saja yang sesat dari kalangan abid (ahli ibadah) kita, maka dia ada kemiripan dengan Nasrani.” Jadi, nyatalah bahwa ini adalah surah yang agung. Syekh—rahimahullah—akan berbicara tentang faedah-faedah yang penting dari surah ini.

[2] الثَّلَاثُ آيَاتٌ الَّتِي تَلَاهَا فِي أَوَّلِ الرِّسَالَةِ ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ ۝٢ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝٣ مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ تَضَمَّنَتۡ ثَلَاثَ مَسَائِلَ.

Tiga ayat yang beliau baca di awal tulisan ini, “Segala puji untuk Allah Tuhan alam semesta. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan;”  mengandung tiga permasalahan.

[3] ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ الۡحَمۡدُ لِلهِ عَلَى مَاذَا؟ عَلَى نِعَمِهِ، فَهُوَ يُحۡمَدُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لِذَاتِهِ وَلِأَسۡمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفۡعَالِهِ، فَهُوَ الۡمُنۡعِمُ عَلَى عِبَادِهِ، فَكُلُّ مُنۡعِمٍ فَهُوَ يُحۡمَدُ عَلَى قَدۡرِ مَا أَنۡعَمَ، وَهَٰذَا يَقۡتَضِي أَنۡ يُحَبَّ؛ لِأَنَّ النُّفُوسَ جُبِلَتۡ عَلَى حُبِّ مَنۡ أَحۡسَنَ إِلَيۡهَا، وَاللهُ -جَلَّ وَعَلَا- هُوَ الۡمُحۡسِنُ وَهُوَ الۡمُنۡعِمُ وَهُوَ الۡمُتَفَضِّلُ عَلَى عِبَادِهِ، فَتُحِبُّهُ الۡقُلُوبُ عَلَى نِعَمِهِ وَعَلَى فَضۡلِهِ وَإِحۡسَانِهِ مَحَبَّةً لَا يُعَادِلُهَا مَحَبَّةٌ.

“Segala puji untuk Allah, Tuhan alam semesta.” Segala puji atas apa? Atas nikmat-nikmat-Nya. Jadi Allah—subhanahu wa ta’ala—dipuji pada Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Allah adalah pemberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Setiap yang memberi rezeki akan dipuji sesuai kadar nikmat yang diberikan. Akibatnya adalah pemberi rezeki akan dicintai karena jiwa pada dasarnya mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Allah—jalla wa ‘ala—adalah Maha berbuat baik, Pemberi kenikmatan, Yang memiliki keutamaan di atas hamba-hamba-Nya. Maka, hati-hati akan mencintai-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, keutamaan-Nya, perbuatan baik-Nya dengan kecintaan yang tiada tara.

وَلِذٰلِكَ كَانَتِ الۡمَحَبَّةُ أَعۡظَمَ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَالۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ تَتَضَمَّنُ الۡمَحَبَّةَ. وَسَيَذۡكُرُ الشَّيۡخُ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الۡمَحَبَّةَ عَلَى أَرۡبَعَةِ أَنۡوَاعٍ:

Oleh karena itu, mahabah merupakan jenis ibadah yang paling agung. Jadi ayat “segala puji untuk Allah Tuhan alam semesta” mengandung mahabah. Syekh—rahimahullah—akan menyebutkan bahwa mahabah ada empat jenis.

مَحَبَّةٌ شِرۡكِيَّةُ: وَهِيَ مَحَبَّةُ الۡأَصۡنَامِ وَالۡأَوۡثَانِ وَكُلِّ مَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥]. لِأَنَّ مَحَبَّتَهُمۡ مَحَبَّةُ تَوۡحِيدٍ وَإِخۡلَاصٍ.

Mahabah yang merupakan kesyirikan. Yaitu mencintai berhala, patung, dan setiap yang disembah selain Allah. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Karena kecintaan orang-orang yang beriman merupakan kecintaan yang berasal dari tauhid dan ikhlas.

النَّوۡعُ الثَّانِي: مَحَبَّةٌ مُحَرَّمَةٌ، وَهِيَ مَحَبَّةُ مَا يُبۡغِضُهُ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الۡمَمۡنُوعَاتِ وَالۡمَنۡهِيَّاتِ وَالۡمُحَرَّمَاتِ، وَمِنۡ ذٰلِكَ مَحَبَّةُ الۡمُشۡرِكِينَ وَمَحَبَّةُ الۡكُفَّارِ.

Jenis kedua adalah mahabah yang diharamkan. Yaitu kecintaan yang menyebabkan kemurkaan Allah—subhanahu wa ta’ala—, berupa kecintaan terhadap hal-hal yang dilarang dan diharamkan. Termasuk jenis ini adalah mencintai orang-orang musyrik dan orang-orang kafir.

وَالنَّوۡعُ الثَّالِثُ: مَحَبَّةٌ طَبِيعِيَّةٌ، وَهِيَ مَحَبَّةُ الۡإِنۡسَانِ لِأَوۡلَادِهِ وَلِأَبَوَيۡهِ وَلِزَوۡجَتِهِ وَلِأَصۡدِقَائِهِ، هَٰذِهِ مَحَبَّةٌ طَبِيعِيَّةٌ لَا يُؤَاخَذُ عَلَيۡهَا الۡإِنۡسَانُ.

Jenis ketiga adalah kecintaan yang bersifat tabiat. Yaitu kecintaan seseorang kepada anak-anak, orang tua, istri, dan teman-temannya. Ini adalah kecintaan yang bersifat tabiat. Seseorang tidak disiksa karenanya.

النَّوۡعُ الرَّابِعُ: مَحَبَّةٌ وَاجِبَةٌ، وَهِيَ مَحَبَّةُ أَوۡلِيَاءِ اللهِ، وَهِيَ الۡمَحَبَّةُ فِي اللهِ وَالۡمُوَالَاةُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ. كُلُّ هَٰذَا دَاخِلٌ فِي قَوۡلِهِ: ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾.

Jenis keempat adalah kecintaan yang wajib, yaitu mencintai wali-wali Allah. Ini merupakaan kecintaan karena Allah dan loyal untuk Allah—‘azza wa jalla—. Semua ini masuk ke dalam firman-Nya, “Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.”

[4] ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا﴾ أَيۡ: شُبَهَاءُ وَنُظَرَاءُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَكُلُّ مَا عُبِدَ مِنۡ دُونِ اللهِ فَقَدِ اتُّخِذَ نِدًّا لِلهِ وَشَبِيهًا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدِيلًا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالۡمُشۡرِكُونَ يُحِبُّونَ مَعۡبُودَاتِهِمۡ مَحَبَّةً شَدِيدَةً، وَلِذٰلِكَ يَمُوتُونَ دُونَهَا وَيُقۡتَلُونَ دُونَهَا، وَلَوۡ كَانُوا لَا يُحِبُّونَهَا مَا قَاتَلُوا دُونَهَا، لَٰكِنۡ يَتَمَسَّكُونَ بِهَا وَيُحِبُّونَهَا، لِأَنَّهَا أُشۡرِبَتۡ فِي قُلُوبِهِمۡ وَالۡعِيَاذُ بالله. ﴿وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡءَاخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ﴾ [الزمر: ٤٥]، ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].

“Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan,” artinya yang menyerupai dan menandingi Allah—‘azza wa jalla—. Setiap yang disembah selain Allah, maka itu telah dijadikan sebagai tandingan bagi Allah, yang diserupakan dengan Allah—‘azza wa jalla—, dan bandingan untuk Allah—‘azza wa jalla—. Orang-orang musyrik sangat mencintai sesembahan mereka. Karena itulah mereka rela mati membelanya dan dibunuh karenanya. Andai mereka tidak mencintainya, niscaya mereka tidak akan berperang membelanya. Akan tetapi mereka berpegang teguh dengannya dan mencintainya, karena kecintaan itu sudah merasuk ke dalam hati mereka. Kita berlindung kepada Allah.

“Apabila hanya Allah yang disebut, maka hati-hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itupun kesal, namun apabila sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergembira.” (QS. Az-Zumar: 45).

“Di antara manusia ada yang menjadikan yang selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).

لِأَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ يُحِبُّونَ اللهَ مَحَبَّةً مُشۡتَرِكَةً بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ غَيۡرِهِ، وَأَمَّا مَحَبَّةُ الۡمُؤۡمِنِینَ لِلهِ فَهِيَ مَحَبَّةٌ خَالِصَةٌ، ﴿وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ﴾ [البقرة: ١٦٥].

Ini dikarenakan orang-orang musyrik mencintai Allah dengan kecintaan yang mendua antara Allah dengan selain-Nya. Adapun kecintaan orang-orang mukmin kepada Allah merupakan kecintaan yang murni. “Andai orang-orang yang zalim itu mengetahui ketika mereka melihat azab, bahwa kekuatan itu milik Allah semuanya dan bahwasanya Allah sangat keras azabnya.” (QS. Al-Baqarah: 165).

يَقُولُ -جَلَّ وَعَلَا-: لَوۡ يَعۡلَمُونَ مَا سَيَئُولُونَ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ مَعَ مَنۡ عَبَدُوهُمۡ لَكَانَ لَهُمۡ حَالٌ آخَرُ؛ لِأَنَّهُمۡ فِي يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ، يَتَبَرَّأُ الۡمَتۡبُوعُونَ مِنَ الۡأَتۡبَاعِ، وَيُكَذِّبُونَهُمۡ وَيَقُولُونَ: نَحۡنُ مَا أَمَرۡنَاكُمۡ بِعِبَادَتِنَا، وَلَا عَلِمۡنَا أَنَّكُمۡ تَعۡبُدُونَنَا ﴿إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوا۟ وَرَأَوُا۟ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ﴾ [البقرة: ١٦٦]

Allah—jalla wa ‘ala—berkata, “Andai mereka tahu tempat kembali mereka pada hari kiamat bersama dengan yang mereka sembah, niscaya mereka memiliki keadaan yang lain.” Karena di hari kiamat yang diikuti akan berlepas diri dari pengikutnya. Yang diikuti akan mendustakan para pengikutnya dan berkata, “Kami tidak memerintahkan kalian untuk menyembah kami dan kami tidak tahu bahwa kalian menyembah kami.” “Ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti dan mereka melihat azab; dan ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS. Al-Baqarah: 166).

وَالۡأَسۡبَابُ هِيَ الۡمَحَبَّةُ -كَمَا يَقُولُ ابۡنُ عَبَّاسٍ- الۡمَحَبَّةُ الَّتِي كَانَتۡ فِي الدُّنۡيَا بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَعۡبُودَاتِهِم انۡقَطَعَتۡ، بَعۡدَ أَنۡ كَانُوا يَتَحَابُّونَ فِي الدُّنۡيَا صَارُوا يَتَلَاعَنُونَ فِي الۡآخِرَةِ ﴿إِنَّمَا ٱتَّخَذۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَـٰنًا مَّوَدَّةَ بَيۡنِكُمۡ فِى ٱلۡحَيَو‌ٰةِ ٱلدُّنۡيَا ۖ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٍ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضًا وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ﴾ [العنكبوت: ٢٥].

Asbab” (yang tersebut dalam ayat) adalah kecintaan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas. Kecintaan yang dahulu terjadi di dunia antara mereka dengan sesembahan mereka akan terputus. Yaitu setelah dahulunya mereka saling mencintai di dunia, maka kelak mereka akan saling melaknat di akhirat. “Sesungguhnya perbuatan kalian menjadikan sesembahan selain Allah itu sebagai berhala-berhala hanyalah untuk menumbuhkan rasa cinta di antara kalian di kehidupan dunia. Kemudian di hari kiamat, sebagian kalian akan mengingkari dan melaknat sebagian yang lain. Tempat kembali kalian adalah neraka.” (QS. Al-‘Ankabut: 25).

أَمَّا الَّذِينَ عَبَدُوا اللهَ وَأَخۡلَصُوا لَهُ الۡعِبَادَةَ؛ فَإِنَّ اللهَ -جَلَّ وَعَلَا- يَتَوَلَّاهُمۡ فِي الۡآخِرَةِ وَيُكۡرِمُهُمۡ وَيُدۡخِلُهُمُ الۡجَنَّةَ.

Orang-orang yang beribadah kepada Allah dan memurnikan ibadah untuk-Nya, maka sesungguhnya Allah—jalla wa ‘ala—akan melindungi mereka di akhirat, memuliakan dan memasukkan mereka ke dalam janah.

هَٰذَا مَآلُ الۡمُؤۡمِنِينَ فِي الۡآخِرَةِ، وَذَاكَ مَآلُ الۡمُشۡرِكِينَ فِي الۡآخِرَةِ، وَإِنۡ كَانُوا فِي الدُّنۡيَا يَتَمَسَّكُونَ بِعِبَادَةِ تِلۡكَ الۡمَعۡبُودَاتِ، وَيُقَاتِلُونَ دُونَهَا وَيَسۡتَمِيتُونَ وَيُزۡهِقُونَ أَنۡفُسَهُمۡ دِفَاعًا عَنۡهَا، فَإِنَّهَا يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ سَتَنۡقَلِبُ هَٰذِهِ الۡمَوَدَّةُ وَهَٰذِهِ الصِّلَةُ، تَنۡقَلِبُ عَدَاوَةً وَقَطِيعَةً وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ

(Janah) ini adalah tempat kembalinya orang-orang beriman di akhirat, sedangkan (neraka) itu adalah tempat kembalinya orang-orang musyrik di akhirat. Walaupun orang-orang musyrik ketika di dunia berpegang teguh dalam beribadah kepada sesembahan itu, berperang membelanya, mati-matian mengorbankan diri-diri mereka membelanya, namun pada hari kiamat, kecintaan dan hubungan ini akan berbalik berubah menjadi permusuhan dan putus hubungan. Kita berlindung kepada Allah.

﴿ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ﴾ [الزخرف: ٦٧] مَا يَبۡقَى إِلَّا الۡمَوَدَّةُ بَيۡنَ الۡمُتَّقِينَ؛ لِأَنَّهَا مُؤَسَّسَةً عَلَى أَسَاسٍ صَحِيحٍ، تَبۡقَى فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، أَمَّا الۡمَوَدَّةُ الَّتِي بَيۡنَ الۡكُفَّارِ وَالۡمُشۡرِكِينَ فَإِنَّهَا تَنۡقَطِعُ وَتَنۡقَلِبُ إِلَى عَدَاوَةٍ.

“Pada hari itu, sahabat-sahabat kental, sebagian mereka adalah musuh sebagian lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Tidak ada kecintaan yang tersisa kecuali kecintaan antara orang-orang bertakwa karena kecintaan ini dibangun di atas dasar yang sahih, yang akan kekal di dunia dan akhirat. Adapun kecintaan antara orang-orang kafir dan musyrik, maka itu adalah kecintaan yang akan terputus dan akan berbalik menjadi permusuhan.

[5] النَّوۡعُ الثَّانِي: مَحَبَّةُ الۡبَاطِلِ وَأَهۡلِهِ، وَبُغۡضُ الۡحَقِّ وَأَهۡلِهِ، هَٰذِهِ صِفَةُ الۡمُنَافِقِينَ، فَإِنَّهُمۡ يُحِبُّونَ الۡبَاطِلَ وَيَكۡرَهُونَ الۡحَقَّ، يُحِبُّونَ الۡكُفَّارَ وَيُبۡغِضُونَ الۡمُؤۡمِنِينَ.

Jenis mahabah kedua adalah kecintaan terhadap kebatilan dan pelakunya, serta kebencian terhadap kebenaran dan pelakunya. Ini adalah sifat orang-orang munafik. Mereka mencintai kebatilan dan membenci kebenaran. Mereka mencintai orang-orang kafir dan membenci orang-orang mukmin.

وَالنِّفَاقُ: هُوَ إِظۡهَارُ الۡإِسۡلَامِ وَإِبۡطَانُ الۡكُفۡرِ. وَعَلَامَةُ الۡمُنَافِقِينَ: أَنَّهُمۡ يُحِبُّونَ أَهۡلَ الۡبَاطِلِ وَيُبۡغِضُونَ أَهۡلَ الۡحَقِّ، فَإِذَا رَأَيۡتَ مَنۡ يَبۡغُضُ أَهۡلَ الۡحَقِّ خُصُوصًا صَحَابَةَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَيُبۡغِضُ عُلَمَاءَ

الۡأُمَّةِ وَأَئِمَّةَ الۡمُسۡلِمِينَ، فَاعۡلَمۡ أَنَّهُ مُنَافِقٌ، وَإِنۡ كَانَ يُظۡهِرُ الۡإِسۡلَامَ، وَيَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ فِي الظَّاهِرِ، لَٰكِنَّهُ فِي الۡبَاطِنِ مُلۡحِدٌ کَافِرٌ يَتَسَتَّرُ بِالۡإِسۡلَامِ وَبِالشَّهَادَتَيۡنِ، وَإِلَّا فَهُوَ كَافِرٌ فِي الدَّرۡكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ.

Nifak adalah menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Ciri-ciri orang-orang munafik adalah mereka mencintai pelaku kebatilan dan membenci pembela kebenaran. Jadi, apabila engkau melihat orang yang membenci pembela kebenaran terkhusus para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan membenci ulama umat serta para pemimpin kaum muslimin, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang munafik. Walaupun dia menampakkan keislaman, walaupun dia bersaksi secara lahiriah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, akan tetapi di dalam batin dia adalah seorang mulhid kafir yang menyembunyikan jati dirinya dengan Islam dan dua kalimat syahadat. Kalau bukan (seorang mulhid), maka dia adalah seorang kafir yang berada di kerak paling bawah di neraka.

[6] الثَّالِثَةُ: مَحَبَّةٌ طَبِيعِيَّةٌ، أَيۡ: مَطۡبُوعٌ عَلَيۡهَا الۡإِنۡسَانُ وَمَفۡطُورٌ عَلَيۡهَا، يُحِبُّ الۡإِنۡسَانُ أَقَارِبَهُ، يُحِبُّ أَوۡلَادَهُ، يُحِبُّ أَصۡدِقَاءَهُ، يُحِبُّ مَنۡ أَحۡسَنَ إِلَيۡهِ، هَٰذِهِ مَحَبَّةٌ طَبِيعِيَّةٌ لَا يُؤَاخَذُ عَلَيۡهَا الۡإِنۡسَانُ إِلَّا إِذَا قَدَّمَهَا عَلَى مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُولِهِ، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَأۡثَمُ

Jenis mahabah yang ketiga adalah mahabah yang bersifat tabiat. Yaitu: manusia diciptakan memiliki tabiat dasar ini. Manusia mencintai kerabat-kerabatnya, mencintai anak-anaknya, mencintai teman-temannya, mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Ini adalah kecintaan yang bersifat tabiat. Seseorang tidak dihukum karenanya kecuali apabila dia lebih mengedepankannya daripada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika demikian, baru dia berdosa.

﴿قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَ‌ٰنُكُمۡ وَأَزۡوَ‌ٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَ‌ٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ﴾ [التوبة: ٢٤]. فَإِذَا قَدَّمَ مَحَبَّةَ هَٰذِهِ الۡأَشۡيَاءِ عَلَى مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، فَإِنَّهُ مُتَوَعَّدٌ بِهَٰذَا الۡوَعِيدِ.

“Katakanlah: Jika ayah-ayah kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kerabat-kerabat kalian, harta-harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Jadi, apabila seseorang mengedepankan kecintaan terhadap hal-hal ini daripada apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai, maka dia mendapat ancaman dalam ayat ini.

[7] الۡمَحَبَّةُ الرَّابِعَةُ: مَحَبَّةُ أَوۡلِيَاءِ اللهِ وَبُغۡضُ أَعۡدَاءِ اللهِ، فَهَٰذِهِ هِيَ الۡمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالۡمُعَادَاةُ فِي اللهِ، فَيُحِبُّ أَهۡلَ التَّوۡحِيدِ وَيُبۡغِضُ أَهۡلَ الشِّرۡكِ، هَٰذَا أَوۡثَقُ عُرَى الۡإِيمَانِ، وَهَٰذَا هُوَ الۡحُبُّ فِي اللهِ وَالۡبُغۡضُ فِي اللهِ، هَٰذَا هُوَ الۡوَلَاءُ وَالۡبَرَاءُ. وَهَٰذَا مِنۡ أَصۡعَبِ الۡأُمُورِ عَلَى الۡإِنۡسَانِ، فَإِنۡ كَانَ يُحِبُّ أَهۡلَ التَّوۡحِيدِ وَيُوَالِيهِمۡ، وَيُبۡغِضُ أَهۡلَ الشِّرۡكِ وَيُعَادِيهِمۡ، فَهَٰذِهِ عَلَامَةُ الۡإِيمَانِ الرَّاسِخِ.

Jenis mahabah yang keempat adalah kecintaan terhadap para wali Allah dan kebencian kepada musuh-musuh Allah. Ini adalah mencinta karena Allah dan bermusuhan karena Allah. Seorang muslim hendaknya mencintai orang yang bertauhid dan membenci pelaku kesyirikan. Ini adalah pegangan keimanan yang paling kuat. Inilah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Inilah al-wala` wal-bara`. Ini termasuk perkara yang berat bagi seseorang. Jika dia mencintai dan mendukung orang-orang yang bertauhid; jika dia membenci pelaku kesyirikan dan memusuhi mereka; maka ini adalah tanda keimanan yang mendalam.

[8] الۡآيَةُ الثَّانِيَةُ مِنۡ سُورَةِ الۡفَاتِحَةِ وَهِيَ: ﴿ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ﴾ فِيهَا الرَّجَاءُ، رَجَاءُ رَحۡمَةِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ رَحۡمَانَ رَحِيمًا، فَإِنَّهُ تُرۡجَی رَحۡمَتُهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Ayat kedua dari surah Al-Fatihah yaitu, “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” mengandung perasaan harap. Yaitu harapan akan rahmat Allah—subhanahu wa ta’ala—karena apabila Allah adalah Yang Maharahman lagi Maharahim, maka kita mengharap rahmat-Nya—subhanahu wa ta’ala—.

[9] وَهِيَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ فِيهَا التَّخۡوِيفُ مِنۡ هَٰذَا الۡيَوۡمِ، وَالۡإِدَانَةُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ بِالۡأَعۡمَالِ السَّيِّئَةِ، فَفِيهَا الۡخَوۡفُ.

Yaitu firman Allah taala, “Yang menguasai hari pembalasan.” Ayat ini mengandung makna memberikan rasa takut dari hari tersebut dan pembalasan amalan yang buruk pada hari kiamat. Jadi ayat ini mengandung ibadah khauf.

فَالۡآيَةُ الۡأُولَى فِيهَا مَحَبَّةُ اللهِ ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ وَالثَّانِيَةُ ﴿ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ﴾ فِيهَا الرَّجَاءُ، رَجَاءُ رَحۡمَةِ اللهِ، وَالثَّالِثَةُ فِيهَا الۡخَوۡفُ مِنۡ عِقَابِ اللهِ ﴿مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾، فَإِذَا اجۡتَمَعَتۡ هَٰذِهِ الۡأُمُورُ الثَّلَاثَةُ: الۡمَحَبَّةُ وَالرَّجَاءُ وَالۡخَوۡفُ فَهِيَ أَسَاسُ الۡعِبَادَةِ.

Jadi ayat pertama mengandung ibadah rasa cinta kepada Allah, yaitu “Segala puji untuk Allah Tuhan alam semesta.” Ayat kedua “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” mengandung ibadah rasa harap. Harapan akan rahmat Allah. Ayat ketiga mengandung ibadah rasa takut dari hukuman Allah, yaitu ayat “Yang menguasai hari pembalasan.” Apabila tiga perkara ini terkumpul, yaitu rasa cinta, harap, dan takut, maka ini merupakan asas ibadah.

أَمَّا مَنۡ أَخَذَ بِوَاحِدَةٍ مِنۡهَا فَقَطۡ فَإِنَّهُ يَكُونُ ضَالًّا، فَمَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالۡمَحَبَّةِ فَقَطۡ وَلَا يَخَافُ وَلَا يَرۡجُو، فَهَٰذِهِ طَرِيقَةُ الصُّوفِيَّةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا نَعۡبُدُ اللهَ خَوۡفًا مِنۡ نَارِهِ وَلَا طَمَعًا فِي جَنَّتِهِ، وَإِنَّمَا نَعۡبُدُهُ لِأَنَّنَا نُحِبُّهُ.

Adapun orang yang mengambil satu saja darinya, maka dia bisa menjadi sesat. Siapa saja yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta semata, dia tidak takut dan tidak mengharap, maka ini merupakan jalannya kelompok sufi yang mengatakan: Kami tidak beribadah kepada Allah karena takut dari neraka-Nya dan tidak mengharap janah-Nya, kami beribadah kepada-Nya hanya karena kami mencintai-Nya.

وَهَٰذَا ضَلَالٌ وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ؛ لِأَنَّ الرُّسُلَ وَالۡمَلَائِكَةَ أَفۡضَلُ الۡخَلۡقِ، يَخَافُونَ اللهَ وَيَرۡجُونَهُ ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ۹۰] الرُّسُلُ يَخَافُونَهُ وَيَرۡجُونَهُ

Ini merupakan kesesatan. Kita berlindung kepada Allah. Karena Rasulullah dan malaikat adalah makhluk yang paling mulia. Mereka saja takut dan berharap kepada Allah. “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan rasa harap cemas, serta mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90). Para rasul takut kepada Allah dan berharap kepada Allah.

﴿أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ﴾ [الإسراء: ٥٧] هَٰؤُلَاءِ كَمَا جَاءَ فِي التَّفۡسِيرِ أَنَّهُمُ الۡعُزَيۡرُ وَعِيسَى وَأُمُّهُ الَّذِينَ كَانَ يَعۡبُدُهُمُ الۡمُشۡرِكُونَ، هُمۡ عِبَادٌ يَرۡجُونَ رَحۡمَةَ اللهِ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ، فَكَيۡفَ يُعۡبَدُونَ مَعَ اللهِ؟!!

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS. Al-Isra`: 57). Mereka ini—sebagaimana disebutkan dalam tafsir—adalah ‘Uzair, ‘Isa, dan ibunya yang disembah oleh orang-orang musyrik. Mereka sendiri adalah hamba-hamba yang mengharapkan rahmat Allah dan takut akan azab-Nya. Lalu bagaimana mereka disembah bersama Allah?!

وَمَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالرَّجَاءِ فَقَطۡ فَهُوَ مِنَ الۡمُرۡجِئَةِ الَّذِينَ يَعۡتَمِدُونَ عَلَى الرَّجَاءِ وَلَا يَخَافُونَ مِنَ الذُّنُوبِ وَالۡمَعَاصِي.

Siapa saja yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap saja, maka dia termasuk kelompok Murji`ah yang bertumpu pada rasa harap namun tidak takut dari dosa-dosa dan kemaksiatan.

يَقُولُونَ: الۡإِيمَانُ تَصۡدِيقٌ فِي الۡقَلۡبِ، أَوِ التَّصۡدِیقُ بِالۡقَلۡبِ مَعَ النُّطۡقِ بِاللِّسَانِ.

Mereka berkata, “Iman adalah pembenaran dalam hati atau pembenaran dalam hati disertai pengucapan di lisan.”

وَيَقُولُونَ: الۡأَعۡمَالُ إِنَّمَا هِيَ مُكَمِّلَاتٌ، وَهَٰذَا ضَلَالٌ -وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ-؛ لِأَنَّ الۡإِيمَانَ قَوۡلٌ وَعَمَلٌ وَاعۡتِقَادٌ، لَا يَكۡفِي وَاحِدٌ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمُورِ، لَابُدَّ مِنۡهَا جَمِيعًا، لَيۡسَ قَوۡلًا فَقَطۡ، وَلَا عَمَلًا فَقَطۡ، وَلَا اعۡتِقَادًا فَقَطۡ، بَلۡ لَابُدَّ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمُورِ الثَّلَاثَةِ حَتَّى يَتَحَقَّقَ الۡإِيمَانَ، وَمَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالۡخَوۡفِ فَقَطۡ، فَهُوَ عَلَى طَرِيقَةِ الۡخَوَارِجِ الَّذِينَ يَعۡبُدُونَ اللهَ بِالۡخَوۡفِ، فَيَأۡخُذُونَ بِنُصُوصِ الۡوَعِيدِ فَقَطۡ، وَيَتۡرُكُونَ نُصُوصَ الۡوَعۡدِ وَالۡمَغۡفِرَةِ وَالرَّحۡمَةِ.

Mereka berkata, “Amalan-amalan itu penyempurna saja.”

Ini adalah kesesatan. Kita berlindung kepada Allah. Iman adalah ucapan, amalan, dan keyakinan. Salah satu saja dari perkara-perkara ini tidaklah mencukupi. Harus ada semuanya. Tidak bisa ucapan saja. Tidak bisa amalan saja. Tidak bisa pula keyakinan semata. Tetapi ketiga perkara ini harus ada sehingga akan mewujudkan keimanan.

Siapa saja yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka dia menempuh jalannya orang-orang khawarij yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut. Mereka mengambil nas-nas tentang ancaman saja dan meninggalkan nas-nas tentang janji, ampunan, dan rahmat.

فَهَٰذِهِ طَوَائِفُ الۡغُلَاةِ: الصُّوفِيَّةُ وَالۡمُرۡجِئَةُ وَالۡخَوَارِجَ.

أَمَّا طَرِيقُ الۡحَقِّ فَهُوَ الۡجَمۡعُ بَيۡنَ هَٰذِهِ الۡأُمُورِ: الۡمَحَبَّةِ وَالۡخَوۡفِ وَالرَّجَاءِ.

Ini adalah kelompok-kelompok ekstrem, yaitu: Sufi, Murji`ah, dan Khawarij. Adapun jalan kebenaran adalah dengan mengumpulkan semua perkara ini, yaitu: rasa cinta, takut, dan harap.

هَٰذَا هُوَ الإِيمَانُ، وَهَٰذِهِ طَرِيقَةُ الۡمُؤۡمِنِينَ، وَهَٰذَا هُوَ التَّوۡحِيدُ. وَهَٰذَا مَا جَمَعَتۡهُ هَٰذِهِ الۡآيَاتُ الثَّلَاثُ ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ هَٰذِهِ فِيهَا الۡمَحَبَّةُ ﴿ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ﴾ هَٰذِهِ فِيهَا الرَّجَاءُ ﴿مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ هَٰذِهِ فِيهَا الۡخَوۡفُ.

Inilah iman. Inilah jalan orang-orang yang beriman. Inilah tauhid. Ini pula yang dikumpulkan oleh ketiga ayat ini. “Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.” Ayat ini mengandung rasa cinta. “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Ayat ini mengandung rasa harap. “Yang menguasai hari pembalasan.” Ayat ini mengandung rasa takut.

[10] ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ نَعۡبُدُهُ بِهَٰذِهِ الثَّلَاثَةِ: الۡمَحَبَّةِ وَالۡخَوۡفِ وَالرَّجَاءِ؛ لِأَنَّهَا لَا تَتَحَقُّ الۡعِبَادَةُ إِلَّا بِهَا؛ أَيۡ: بِمَجۡمُوعِ الثَّلَاثَةِ.

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah.” Kita beribadah kepada Allah dengan tiga hal ini, yaitu: mahabah, khauf, dan rasa harap. Karena ibadah tidak bisa terwujud kecuali dengannya. Yaitu dengan ketiga-tiganya.

[11] أَيۡ: مَنۡ أَحَبَّ غَيۡرَ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ، مَنۡ رَجَا غَيۡرَ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ، مَنۡ خَافَ مِنۡ غَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ.

Yaitu barang siapa memberikan ibadah kecintaan kepada selain Allah maka dia musyrik. Siapa saja yang memberikan ibadah pengharapan kepada selain Allah, maka dia musyrik. Siapa saja yang memberikan ibadah takut dari selain Allah, maka dia musyrik.

[12] وَهُمُ الصُّوفِيَّةُ.

Mereka adalah kelompok sufi.

[13] وَهُمُ الۡمُرۡجِئَةُ.

Mereka adalah kelompok Murji`ah.

[14] وَهُمُ الۡخَوَارِجُ وَالۡوَعِيدِيَّةُ، يُسَمَّوۡنَ الۡوَعِيدِيَّةَ؛ لِأَنَّهُمۡ أَخَذُوا نُصُوصَ الۡوَعِيدِ فَقَطۡ.

Mereka adalah kelompok Khawarij dan al-Wa’idiyyah. Dinamakan al-Wa’idiyyah karena mereka hanya mengambil nas-nas ancaman (wa’id).

[15] وَالۡمُرۡجِئَةُ سُمُّوا مُرۡجِئَةً؛ لِأَنَّهُمۡ أَرۡجَؤُوا الۡأَعۡمَالَ، أَيۡ: أَخَّرُوهَا عَنۡ مُسَمَّى الۡإِيمَانِ؛ لِأَنَّ الۡإِرۡجَاءَ مَعۡنَاهُ التَّأۡخِيرُ ﴿قَالُوٓا۟ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ﴾ [الأعراف: ۱۱۱، والشعراء: ٣٦] يَعۡنِي: أَخِّرۡ شَأۡنَهُ وَانۡظُرۡ فِيهِ، فَالۡإِرۡجَاءُ مَعۡنَاهُ التَّأۡخِيرُ، سُمُّوا مُرۡجِئَةً؛ لِأَنَّهُمۡ أَخَّرُوا الۡأَعۡمَالَ عَنۡ حَقِيقَةِ الۡإِيمَانِ، وَأَخۡرَجُوهَا مِنۡ حَقِيقَةِ الۡإِيمَانِ.

Murji`ah dinamakan demikian karena mereka menangguhkan (arja`a) amalan. Artinya mengundurkan amalan dari definisi iman, karena irja` bermakna menangguhkan.

“Mereka menjawab, ‘Beri tangguhlah dia dan saudaranya!’” (QS. Al-A’raf: 111, Asy-Syu’ara`: 36). Yakni tundalah perkaranya dan pelajarilah! Jadi irja` bermakna menangguhkan.

Mereka dinamakan Murji`ah karena mereka mengundurkan amalan dari hakikat keimanan dan mengeluarkan amalan dari hakikat keimanan.

[16] الۡخَوَارِجُ هُمُ الَّذِينَ خَرَجُوا عَلَى وُلَاةِ الۡمُسۡلِمِينَ وَكَفَّرُوهُمۡ، وَهُمۡ يَعۡتَمِدُونَ عَلَى نُصُوصِ الۡوَعِيدِ، وَيُكَفِّرُونَ بِالۡكَبَائِرِ الَّتِي دُونَ الشِّرۡكِ، وَيَقُولُونَ: مَنۡ مَاتَ عَلَيۡهَا فَهُوَ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ.

Khawarij adalah orang-orang yang memberontak kepada penguasa kaum muslimin dan mengafirkan mereka. Mereka bersandar kepada nas-nas ancaman. Mereka mengafirkan dengan sebab dosa-dosa besar yang tingkatnya di bawah kesyirikan. Mereka mengatakan, “Siapa saja yang mati dalam kondisi melakukan dosa-dosa besar, maka dia kekal di dalam neraka.”

[17] ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ: وَهُوَ إِفۡرَادُ اللهِ بِأَفۡعَالِ الۡعِبَادِ الَّتِي شَرَعَهَا لَهُمۡ؛ لِأَنَّ الۡأُلُوهِيَّةَ مَعۡنَاهَا الۡعِبَادَةُ، وَالۡعِبَادَةُ مِنۡ أَفۡعَالِ الۡعِبَادِ ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ؛ لِأَنَّ الۡإِعَانَةَ مِنۡ أَفۡعَالِ الرَّبِّ سُبۡحَانَهُ، وَتَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ هُوَ تَوۡحِيدُ اللهِ بِأَفۡعَالِهِ.

“Hanya kepada-Mu kami beribadah.” Ayat ini mengandung tauhid uluhiyyah, yaitu pengesaan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah kepada mereka. Karena uluhiyyah bermakna ibadah dan ibadah adalah bagian dari perbuatan-perbuatan hamba.

“Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Ayat ini berisi tauhid rububiyyah karena pertolongan adalah termasuk perbuatan-perbuatan Allah—subhanahu—. Tauhid rububiyyah adalah pengesaan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya.

[18] ﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ﴾: الۡهِدَايَةُ عَلَى نَوۡعَيۡنِ: هِدَايَةُ دَلَالَةٍ وَإِرۡشَادٍ، وَدَلَالَةُ تَوۡفِيقٍ وَتَسۡدِيدٍ.

“Tunjukilah kami kepada jalan!” Hidayah ada dua jenis: hidayah berupa petunjuk dan bimbingan; dan hidayah berupa diberi taufik dan keselarasan dengan syariat.

وَدَلَالَةُ الۡهِدَايَةِ وَالۡإِرۡشَادِ هَٰذِهِ حَاصِلَةٌ لِجَمِيعِ الۡخَلۡقِ الۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡكُفَّارِ وَالۡمُشۡرِكِينَ؛ لِأَنَّ اللهَ دَلَّهُمۡ وَأَرۡشَدَهُمۡ إِلَى طَرِيقِ الۡحَقِّ، لَكِنِ الۡكُفَّارُ لَمۡ يَقۡبَلُوا، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَـٰهُمۡ فَٱسۡتَحَبُّوا۟ ٱلۡعَمَىٰ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ﴾ [فصلت: ۱۷].

Petunjuk berupa hidayah dan bimbingan diberikan kepada semua makhluk, baik orang-orang mukmin, kafir, maupun musyrik. Allah telah menunjuki mereka dan mengarahkan mereka kepada jalan kebenaran. Akan tetapi orang-orang kafir tidak mau menerimanya. Allah taala berfirman, “Adapun kaum Tsamud, maka Kami telah memberi mereka petunjuk, namun mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk.” (QS. Fushshilat: 17).

هَدَيۡنَاهُمۡ: يَعۡنَي بَيَّنَّا لَهُمۡ، فَاللهُ هَدَى جَمِيعَ الۡخَلۡقِ هِدَايَةَ الۡبَيَانِ وَالۡإِرۡشَادِ.

Hadainahum yakni Kami telah terangkan kepada mereka. Jadi Allah telah memberi petunjuk kepada seluruh makhluk dengan petunjuk berupa keterangan dan bimbingan.

النَّوۡعُ الثَّانِي: هِدَايَةُ التَّوۡفِيقِ وَقَبُولِ الۡحَقِّ، وَهَٰذِهِ خَاصَّةٌ بِالۡمُؤۡمِنِينَ، فَأَنۡتَ تَسۡأَلُ اللهَ نَوۡعَيِ الۡهِدَايَةِ.

Jenis hidayah yang kedua adalah hidayah berupa taufik dan menerima kebenaran. Jenis hidayah ini khusus untuk orang-orang yang beriman. Jadi engkau meminta kepada Allah kedua jenis hidayah ini.

وَالۡمُسۡتَقِيمُ: يَعۡنِي: الۡمُعۡتَدِلَ، وَصِرَاطُ اللهِ مُسۡتَقِیمٌ، يَعۡنِي: مُعۡتَدِلٌ، بِخِلَافِ طُرُقِ الضَّلَالِ، فَإِنَّهَا مُلۡتَوِيَةٌ وَمُنۡحَرِفَةٌ وَمُتَعَرِّجَةٌ تُضِيعُ مَنۡ سَارَ عَلَيۡهَا، أَمَّا صِرَاطُ اللهِ فَهُوَ وَاضِحٌ مُعۡتَدِلٌ، مَنۡ سَارَ عَلَيۡهِ أَفۡضَى بِهِ إِلَى الۡجَنَّةِ ﴿وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسۡتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ﴾ [الأنعام: ۱٥۳]. فَأَنۡتَ تَسۡأَلُ اللهَ أَنۡ يَهۡدِيَكَ هَٰذَا الصِّرَاطَ.

Al-Mustaqim yakni lurus. Jalan Allah itu lurus, yakni lempeng. Berbeda dengan jalan-jalan kesesatan yang bengkok, menyimpang, dan berbelok sehingga menelantarkan siapa saja yang menempuhnya. Adapun jalan Allah merupakan jalan yang jelas lagi lurus. Siapa saja yang menempuhnya akan mengantarkannya menuju janah.

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus. Kalian ikutilah jalan itu! Jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain! Karena jalan-jalan tersebut akan memecah-belah kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).

Jadi engkau meminta kepada Allah agar menunjukimu kepada jalan ini.

[19] النَّاسُ إِمَّا مُنۡعَمٌ عَلَيۡهِمۡ، وَإِمَّا مَغۡضُوبٌ عَلَيۡهِمۡ، وَإِمَّا ضَالُّونَ، فَالۡمُنۡعَمُ عَلَيۡهِمۡ هُمُ الَّذِينَ أَخَذُوا الۡعِلۡمَ وَالۡعَمَلَ، وَ الۡمَغۡضُوبُ عَلَيۡهِمۡ هُمُ الَّذِينَ أَخَذُوا الۡعِلۡمَ وَتَرَكُوا الۡعَمَلَ، وَالضَّالُّونَ هُمُ الَّذِينَ أَخَذُوا الۡعَمَلَ وَتَرَكُوا الۡعِلۡمَ.

Manusia bisa jadi golongan yang diberi kenikmatan, bisa jadi dimurkai, atau bisa jadi sesat. Golongan yang diberi kenikmatan adalah orang-orang yang mencari ilmu dan mengamalkan ilmunya. Golongan yang dimurkai adalah orang-orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya. Golongan yang sesat adalah orang-orang yang beramal namun tidak mencari ilmu.

أَنۡتَ تَسۡأَلُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَكَ مَعَ الۡمُنۡعَمِ عَلَيۡهِمۡ، وَأَنۡ يُجَنِّبَكَ طَرِيقَ الۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ. وَهَٰذِهِ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ؛ وَلِذٰلِكَ فَرَضَهَا اللهُ عَلَيۡكَ فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ لِمَاذَا؟ لِأَجۡلِ مَا فِيهَا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَسۡرَارِ.

Engkau meminta kepada Allah agar menjadikanmu bersama golongan yang diberi nikmat dan agar menjauhkanmu dari jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat. Ini adalah surah yang agung. Untuk itulah Allah mewajibkan kepadamu dalam setiap rakaat. Mengapa? Karena kandungan rahasia-rahasia ini.

[20] وَهُمُ الۡيَهُودُ وَمَنۡ سَارَ مَعَهُمۡ فِي هَٰذَا الۡمِضۡمَارِ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ، الَّذِينَ تَعَلَّمُوا وَلَمۡ يَعۡمَلُوا بِعِلۡمِهِمۡ.

Mereka adalah orang-orang Yahudi dan siapa saja dari umat ini yang berjalan bersama mereka dalam jalur ini, yaitu orang-orang yang belajar mencari ilmu namun tidak mengamalkan ilmu mereka.

[21] مِنۡهُمُ الصُّوفِيَّةُ الۡمُبۡتَدِعَةُ وَالۡمُخَرِّفُونَ، كُلُّهُمۡ يَدۡخُلُونَ فِي الضَّالِّينَ؛ لِأَنَّهُمۡ يَشۡتَغِلُونَ بِالۡعِبَادَةِ وَيَتۡرُكُونَ الۡعِلۡمَ، يَقُولُونَ: الۡعِلۡمُ يُشۡغِلُكَ عَنِ الۡعَمَلِ.

Di antara mereka adalah kelompok sufi ahli bidah dan orang-orang yang suka khurafat. Mereka semua masuk dalam kelompok orang-orang yang sesat karena mereka menyibukkan diri dengan ibadah dan meninggalkan ilmu. Mereka berpendapat bahwa ilmu akan menyibukkanmu dari beramal.

[22] إِنۡ كَانَ سَبَبُ نُزُولِ: ﴿ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ﴾ فِي الۡيَهُودِ، وَ﴿ٱلضَّآلِّينَ﴾ فِي النَّصَارَى، فَالۡعِبۡرَةُ بِعُمُومِ اللَّفۡظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ.

Walaupun sebab turun ayat “orang-orang yang dimurkai” tertuju pada Yahudi; dan “orang-orang yang sesat” pada Nasrani, namun ibrah (pelajaran yang dipetik) adalah dari keumuman lafaz dan bukan dari kekhususan sebab.

وَلِهَٰذَا يَقُولُ بَعۡضُ السَّلَفِ: مَنۡ فَسَدَ مِنۡ عُلَمَائِنَا فَفِيهِ شِبۡهٌ مِنَ الۡيَهُودِ، وَمَنۡ فَسَدَ مِنۡ عُبَّادِنَا فَفِيهِ شِبۡهٌ مِنَ النَّصَارَی.

Karena itu, sebagian ulama salaf berkata, “Siapa saja yang rusak dari kalangan ulama kita, maka pada dirinya ada kemiripan dengan Yahudi. Siapa saja rusak dari kalangan abid kita, maka pada dirinya ada kemiripan dengan Nasrani.”

[23] قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًا﴾ [النساء: ٦٩]. هَٰؤُلَاءِ هُمُ الۡمُنۡعَمُ عَلَيۡهِمۡ، فَإِذَا أَرَدۡتَ أَنۡ تَكُونَ مَعَهُمۡ فَاجۡمَعۡ بَيۡنَ الۡعِلۡمِ النَّافِعِ وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ.

Allah taala berfirman, “Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka ini bersama dengan orang-orang yang Allah telah beri kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang shiddiq (senantiasa jujur dalam keimanannya), syuhada, dan orang-orang yang saleh. Mereka ini adalah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa`: 69).

Mereka ini adalah kelompok yang diberi kenikmatan. Apabila engkau ingin bersama mereka, maka gabungkanlah antara ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh.

[24] وَذٰلِكَ فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ وَفِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ﴾ وَقَوۡلِهِ: ﴿ٱهۡدِنَا﴾ لِأَنَّ هَٰذَا فَضۡلٌ مِنَ اللهِ لَيۡسَ بِحَوۡلِكَ وَلَا بِقُوَّتِكَ، تَوۡفِيقُكَ لِلۡعِلۡمِ النَّافِعِ، وَتَوۡفِيقُكَ لِلۡعَمَلِ بِالۡعِلۡمِ هَٰذَا مِنَ اللهِ، لَوۡ شَاءَ رَبُّكَ لَكُنۡتَ مَعَ الۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ أَوِ مِنَ الضَّالِّينَ، فَالَّذِي أَنۡعَمَ عَلَيۡكَ وَأَخۡرَجَكَ مِنَ الطَّائِفَتَيۡنِ، وَجَعَلَكَ مَعَ الۡأَنۡبِيَاءِ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ، هُوَ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- هَٰذَا لَيۡسَ بِحَوۡلِكَ وَلَا بِقُوَّتِكَ وَإِنَّمَا بِفَضۡلِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Faedah itu terdapat dalam firman Allah taala, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Juga dalam firman Allah taala, “Yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” Juga firman Allah, “Berilah petunjuk kepada kami!”

Kenikmatan ini adalah keutamaan dari Allah. Bukan dari upayamu, bukan pula dari kekuatanmu. Taufik yang engkau peroleh untuk ditunjukkan kepada ilmu yang bermanfaat dan mengamalkan ilmu tersebut adalah dari Allah. Andai Tuhanmu menghendaki, niscaya engkau termasuk kelompok yang dimurkai atau kelompok yang sesat.

Jadi yang memberimu nikmat, mengeluarkan engkau dari dua kelompok itu, dan menjadikanmu bersama para nabi, orang-orang yang shiddiq, dan syuhada adalah Allah—jalla wa ‘ala—. Ini bukanlah karena hasil usaha dan kekuatanmu. Ini hanyalah karunia Allah—subhanahu wa ta’ala.

فَأَنۡتَ تُعَلِّقُ قَلۡبَكَ بِاللهِ، وَتَتَبَرَّأُ مِنَ الۡحَوۡلِ وَالۡقُوَّةِ إِلَّا بِاللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. يَقُولُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ:

لَوۡ شَاءَ رَبُّكَ كُنۡتَ أَيۡضًا مِثۡلَهُمۡ فَالۡقَلۡبُ بَيۡنَ أَصَابِعِ الرَّحۡمَٰنِ

Jadi engkau menggantungkan hatimu kepada Allah. Engkau berlepas dari daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah—subhanahu wa ta’ala—. Ibnu Al-Qayyim berkata, “Andai Tuhanmu menghendaki, niscaya engkau juga menjadi semisal mereka, karena kalbu di antara jari-jemari Allah Yang Maharahman.”

[25] هَٰذِهِ السُّورَةُ، إِذَا تَأَمَّلۡتَهَا وَتَدَبَّرۡتَهَا عَرَفۡتَ اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى التَّمَامِ، بِأَسۡمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَنِعَمِهِ عَلَيۡكَ، فَيَزِيدُكَ هَٰذَا إِيمَانًا وَيَقِينًا.

Surah ini apabila engkau renungi dan tadaburi, maka engkau akan mengenal Allah—subhanahu wa ta’ala—secara sempurna, dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya kepadamu. Sehingga hal ini akan menambah keimanan dan keyakinan padamu.

[26] وَمَعۡرِفَةُ نَفۡسِكَ أَنَّكَ ضَعِيفٌ، وَأَنَّكَ مُحۡتَاجٌ إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، وَلِهَٰذَا تَقۡرَأُ هَٰذِهِ السُّورَةَ وَتُكَرِّرُهَا فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ لِأَنَّكَ بِحَاجَةٍ إِلَيۡهَا؛ لِأَنَّ فِيهَا هَٰذَا الدُّعَاءَ الۡعَظِيمَ الَّذِي إِذَا تَقَبَّلَهُ اللهُ مِنۡكَ سَعَدۡتَ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَإِذَا غَفَلَتۡ عَنۡهُ وَلَمۡ تَسۡتَعۡمِلۡهُ، فَإِنَّهُ لَا يَنۡفَعُكَ بِشَيۡءٍ.

Juga pengenalan dirimu bahwa dirimu lemah. Dirimu butuh kepada Allah—subhanahu wa ta’ala—. Untuk inilah, engkau membaca surah ini dan mengulang-ulanginya dalam setiap rakaat, karena engkau membutuhkannya. Di dalam surah ini ada doa yang agung, yang apabila Allah mengabulkannya, niscaya engkau akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, apabila engkau lalai darinya dan tidak menerapkannya, maka surah ini tidak bisa bermanfaat sedikit pun untukmu.

فَهَٰذَا مِمَّا يُؤَكِّدُ عَلَى الۡعَبۡدِ أَنۡ يَتَدَبَّرَ الۡقُرۡآنَ خُصُوصًا هَٰذِهِ السُّورَةَ الۡعَظِيمَةَ، يَقُولُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ:

تَدَبَّرِ الۡقُرۡآنَ إِنۡ رُمۡتَ الۡهُدَی فَالۡعِلۡمُ تَحۡتَ تَدَبُّرِ الۡقُرۡآنِ

Ini adalah di antara hal yang menekankan hamba untuk melakukan tadabur Alquran, terkhusus surah yang agung ini.

Ibnu Al-Qayyim berkata, “Tadaburilah Alquran jika engkau menginginkan petunjuk, karena ilmu didapat dengan tadabur Alquran.”

[27] ﴿رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنۡ رَبٍّ خَالِقٍ وَمِنۡ مَخۡلُوقٍ مَرۡبُوبٍ، مَخۡلُوقٍ لِرَبِّ الۡعَالَمِينَ.

“Tuhan semesta alam”, ini menunjukkan bahwa pasti ada Tuhan, Khalik (Yang menciptakan) dan pasti ada makhluk, yang diciptakan, yang diatur. Makhluk milik Tuhan semesta alam.

[28] ﴿ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ﴾ إِذَا كَانَ هُنَاكَ رَاحِمٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَرۡحُومٍ، وَهُوَ الۡمَخۡلُوقُ، الرَّاحِمُ هُوَ اللهُ، وَالۡمَرۡحُومُ هُوَ الۡمَخۡلُوقُ.

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, apabila di sana ada Yang Menyayangi, maka pasti ada yang disayangi, yaitu makhluk. Adapun Yang Maha Penyayang adalah Allah dan yang disayangi adalah makhluk.

[29] ﴿مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ إِذَا كَانَ هُنَا مَالِكٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَمۡلُوكٍ، وَهُمُ الۡعِبَادُ وَجَمِيعُ الۡمَخۡلُوقَاتِ.

“Penguasa hari pembalasan”, apabila ada penguasa, berarti pasti ada yang dikuasai, yaitu para hamba dan seluruh makhluk.

[30] إِذَا كَانَ هُنَا عَبۡدٌ، لَابُدَّ أَنۡ يَكُونَ هُنَاكَ مَعۡبُودٌ، وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Apabila di situ ada hamba, berarti pasti di sana ada yang disembah, yaitu Allah—subhanahu wa ta’ala.

[31] ﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ﴾ إِذَا كَانَ هُنَاكَ هَادٍ وَهُوَ اللهُ، فَهُنَاكَ مَهۡدِيٌّ وَهُوَ الۡعَبۡدُ.

“Tunjukilah kami ke jalan”, apabila di sana ada Pemberi petunjuk, yaitu Allah, maka berarti di sana ada yang ditunjuki, yaitu hamba.

[32] ﴿أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ﴾ هَٰذَا فِيهِ أَنَّ هُنَاكَ مُنۡعِمًا، فَلَابُدَّ أَنۡ يَكُونَ هُنَاكَ مُنۡعَمٌ عَلَيۡهِ، وَهُمۡ جَمِيعُ الۡعِبَادِ.

“Yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” di ayat ini disebutkan bahwa di sana ada yang memberi nikmat. Maka, pasti di sana ada yang diberi nikmat, yaitu seluruh hamba.

[33] ﴿غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ﴾ وَهُمُ الۡيَهُودُ، وَمَنۡ سَارَ بِرِكَابِهِمۡ مِمَّنۡ تَعَلَّمُوا وَلَمۡ يَعۡمَلُوا، لَابُدَّ أَنۡ يَكُونَ هُنَاكَ غَاضِبٌ وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالۡغَضَبُ مِنۡ صِفَاتِهِ، فَهُوَ يَغۡضَبُ، وَيَسۡخَطُ وَيَمۡقُتُ، وَالۡمَغۡضُوبُ عَلَيۡهِ وَالۡمَمۡقُوتُ وَالۡمَسۡخُوطُ عَلَيۡهِ هُوَ الۡمَخۡلُوقُ الۡعَاصِي الۡمُخَالِفُ لِأَوَامِرِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَی.

“Bukan jalan orang yang dimurkai” mereka adalah orang-orang Yahudi dan yang mengikuti mereka dari golongan orang-orang yang belajar namun tidak beramal. Pasti di sana ada yang memurkai, yaitu Allah—subhanahu wa ta’ala—. Marah/murka termasuk sifat Allah. Allah memiliki sifat marah dan murka. Adapun yang dimarahi dan dimurkai adalah makhluk yang bermaksiat yang menyelisihi perintah-perintah Allah—subhanahu wa ta’ala.

[34] كَمَا سَبَقَ أَنَّ فِيهَا أَنۡوَاعَ التَّوۡحِيدِ الثَّلَاثَةَ الَّتِي هِيَ تَوۡحِيدُ: الرُّبُوبِيَّةِ، وَالۡأُلُوهِيَّةِ، وَالۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ. وَنَفۡيَ النَّقَائِصِ وَالۡعُيُوبِ عَنِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، وَهَٰذَا هُوَ التَّوۡحِيدُ.

Sebagaimana yang telah lewat, bahwa dalam surah ini ada tiga macam tauhid. Yaitu: tauhid ar-rububiyyah, al-uluhiyyah, dan al-asma` wash-shifat. Surah ini juga berisi penafian kekurangan dan aib dari Allah—subhanahu wa ta’ala—. Inilah tauhid.

[35] وَفِيهَا الۡمَحَبَّةُ مَعَ التَّذَلُّلِ وَالرَّجَاءِ وَالۡخَوۡفِ، فَهَٰذِهِ أَرۡكَانُ الۡعِبَادَةِ.

Surah ini berisi ibadah berupa rasa cinta disertai perendahan diri, rasa harap, dan rasa takut. Ini adalah rukun-rukun ibadah.

[36] وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.

وَجَزَاهُ اللهُ خَيۡرًا عَلَى مَا بَيَّنَ وَوَضَّحَ.

Semoga Allah mencurahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad. Semoga Allah membalasi mualif dengan kebaikan atas keterangan dan penjelasan beliau.

Read More

Sebagian Faedah Surah Al-Fatihah

26 Juni 2020
/ / /

Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Ba’dh Fawa`id Surah Al-Fatihah berkata,

﴿بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ ۝٢ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۝٣ مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾. هَٰذِهِ الۡآيَاتُ الثَّلَاثُ تَضَمَّنَتۡ ثَلَاثَ مَسَائِلَ:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penguasa hari pembalasan.”

Tiga ayat ini mengandung tiga permasalahan:

الۡآيَةُ الۡأُولَى: فِيهَا الۡمَحَبَّةُ؛ لِأَنَّ اللهَ مُنۡعِمٌ، وَالۡمُنۡعِمُ يُحَبُّ عَلَى قَدۡرِ إِنۡعَامِهِ. وَالۡمَحَبَّةُ تَنۡقَسِمُ إِلَى أَرۡبَعَةِ أَنۡوَاعٍ:

Ayat pertama mengandung mahabah (rasa cinta), karena Allah adalah Pemberi kenikmatan. Pemberi kenikmatan dicintai sesuai kadar pemberian nikmatnya. Mahabah terbagi menjadi empat macam:

مَحَبَّةٌ شِرۡكِيَّةٌ: وَهُمُ الَّذِينَ قَالَ الله فِيهِمۡ: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٥ – ١٦٧].

Mahabah syirik. Mereka adalah orang-orang yang disebut oleh Allah, “Di antara manusia ada yang menjadikan yang selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah…” hingga firman-Nya, “dan mereka tidak bisa keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 165-167).

الۡمَحَبَّةُ الثَّانِيَةُ: حُبُّ الۡبَاطِلِ وَأَهۡلِهِ، وَبُغۡضُ الۡحَقِّ وَأَهۡلِهِ، وَهَٰذِهِ صِفَةُ الۡمُنَافِقِينَ.

Jenis mahabah kedua adalah mencintai kebatilan dan pelakunya; serta membenci kebenaran dan pelakunya. Ini adalah sifat orang-orang munafik.

الۡمَحَبَّةُ الثَّالِثَةُ: طَبِيعِيَّةٌ، وَهِيَ مَحَبَّةُ الۡمَالِ وَالۡوَلَدِ، إِذَا لَمۡ تُشۡغِلۡ عَنۡ طَاعَةِ اللهِ، وَلَمۡ تُعِنۡ عَلَى مَحَارِمِ اللهِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ.

Mahabah ketiga adalah yang bersifat tabiat seperti mencintai harta dan anak. Jika tidak sampai menyibukkan diri dari ketaatan kepada Allah dan tidak membantu kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah, maka ini mahabah yang dibolehkan.

وَالۡمَحَبَّةُ الرَّابِعَةُ: حُبُّ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ، وَبُغۡضُ أَهۡلِ الشِّرۡكِ، وَهِيَ أَوۡثَقُ عُرَى الۡإِيمَانِ، وَأَعۡظَمُ مَا يَعۡبُدُ بِهِ الۡعَبۡدُ رَبَّهُ.

Mahabah keempat adalah mencintai orang-orang yang bertauhid dan membenci pelaku kesyirikan. Ini adalah tali keimanan yang paling kuat dan bentuk ibadah teragung dari hamba kepada Tuhannya.

الۡآيَةُ الثَّانِيَةُ: فِيهَا الرَّجَاءُ.

Ayat kedua mengandung rasa harap.

وَالۡآيَةُ الثَّالِثَةُ: فِيهَا الۡخَوۡفُ.

Ayat ketiga mengandung rasa takut.

﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ أَيۡ: أَعۡبُدُكَ يَا رَبِّ بِمَا مَضَى، بِهَٰذِهِ الثَّلَاثِ: بِمَحَبَّتِكَ، وَرَجَائِكَ، وَخَوۡفِكَ.

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah.” Artinya: Aku beribadah kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan tiga perkara yang telah lewat. Yaitu dengan perasaan mencintai-Mu, berharap kepada-Mu, dan takut dari-Mu.

فَهَٰذِهِ الثَّلَاثُ أَرۡكَانُ الۡعِبَادَةِ، وَصَرَفَهَا لِغَيۡرِ اللهِ شِرۡكٌ.

Tiga perasaan ini adalah rukun-rukun ibadah. Memalingkannya kepada selain Allah merupakan kesyirikan.

وَفِي هَٰذِهِ الثَّلَاثِ الرَّدُّ عَلَى مَنۡ تَعَلَّقَ بِوَاحِدَةٍ مِنۡهُنَّ كَمَنۡ تَعَلَّقَ بِالۡمَحَبَّةِ وَحۡدَهَا.

أَوۡ تَعَلَّقَ بِالرَّجَاءِ وَحۡدَهُ أَوۡ تَعَلَّقَ بِالۡخَوۡفِ وَحۡدَهُ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا شَيۡئًا لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ.

Dalam tiga ayat ini ada bantahan terhadap orang yang menautkan hatinya dengan hanya salah satu dari tiga perasaan itu. Seperti orang yang memunculkan perasaan mahabah saja, atau harap saja, atau takut semata. Jadi siapa saja yang memalingkan satu saja darinya kepada selain Allah, maka dia musyrik.

وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ: الرَّدُّ عَلَى الطَّوَائِفِ الثَّلَاثِ الَّتِي كُلُّ طَائِفَةٍ تَتَعَلَّقُ بِوَاحِدَةٍ مِنۡهَا. كَمَنۡ عَبَدَ اللهَ تَعَالَى بِالۡمَحَبَّةِ وَحۡدَهَا.

وَكَذٰلِكَ مَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالرَّجَاءِ وَحۡدَهُ كَالۡمُرۡجِئَةِ، وَكَذٰلِكَ مَنۡ عَبَدَ اللهَ بِالۡخَوۡفِ وَحۡدَهُ كَالۡخَوَارِجِ.

Dalam ayat ini ada faedah bantahan terhadap tiga kelompok yang tiap kelompok hanya memunculkan salah satu dari tiga perasaan itu dalam hatinya. Seperti orang yang beribadah kepada Allah taala dengan perasaan mahabah saja. Begitu pula yang beribadah kepada Allah dengan rasa harap belaka seperti kelompok Murji`ah. Demikian pula yang beribadah kepada Allah dengan perasaan takut semata seperti kelompok Khawarij.

﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ وَتَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ، ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ.

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan.” Ayat ini mengandung tauhid uluhiyyah (pengesaan Allah dalam ibadah) dan tauhid rububiyyah (pengesaan Allah sebagai pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta).

“Hanya kepada-Mu, kami beribadah.” Ayat ini mengandung tauhid uluhiyyah.

“Dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan.” Ayat ini mengandung tauhid rububiyyah.

﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ﴾ فِيهَا الرَّدُّ عَلَى الۡمُبۡتَدِعِينَ.

 “Berilah kepada kami petunjuk ke jalan yang lurus.” Ayat ini mengandung bantahan terhadap para pelaku kebidahan.

وَأَمَّا الۡآيَتَانِ الۡأَخِيرَتَانِ فَفِيهِمَا مِنَ الۡفَوَائِدِ ذِكۡرُ أَحۡوَالِ النَّاسِ.

قَسَمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ثَلَاثَةَ أَصۡنَافٍ: مُنۡعَمٌ عَلَيۡهِ، وَمَغۡضُوبٌ عَلَيۡهِ، وَضَالٌّ.

Dua ayat terakhir mengandung faedah penyebutan perihal manusia. Allah taala membagi mereka menjadi tiga golongan. Yaitu: yang diberi nikmat, yang dimurkai, dan yang sesat.

فَالۡمَغۡضُوبُ عَلَيۡهِمۡ: أَهۡلُ عِلۡمٍ لَيۡسَ مَعَهُمۡ عَمَلٌ.

وَالضَّالُّونَ: أَهۡلُ عِبَادَةٍ لَيۡسَ مَعَهَا عِلۡمٌ.

وَإِذَا كَانَ سَبَبُ النُّزُولِ فِي الۡيَهُودِ وَالنَّصَارَى، فَهِيَ لِكُلِّ مَنِ اتَّصَفَ بِذٰلِكَ.

الثَّالِثُ: مَنِ اتَّصَفَ بِالۡعِلۡمِ وَالۡعَمَلِ وَهُمُ الۡمُنۡعَمُ عَلَيۡهِمۡ.

Yang dimurkai adalah orang yang berilmu namun tidak beramal. Yang sesat adalah ahli ibadah yang tidak berilmu. Walaupun sebab turunnya ayat ini kepada orang Yahudi dan Nasrani, namun berlaku pula kepada siapa saja yang memiliki sifat seperti itu. Golongan ketiga adalah orang yang menyandang sifat berilmu dan beramal. Merekalah yang mendapat kenikmatan.

وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ: التَّبَرُّؤُ مِنَ الۡحَوۡلِ وَالۡقُوَّةِ؛ لِأَنَّهُ مُنۡعَمٌ عَلَيۡهِ.

وَكَذٰلِكَ فِيهَا مَعۡرِفَةُ اللهِ عَلَى التَّمَامِ وَنَفۡيُ النَّقَائِصِ عَنۡهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى -.

Ayat ini mengandung beberapa faedah. Yaitu, kenikmatan yang ada pada seorang hamba bukanlah karena daya dan upayanya. Sebenarnya dia hanyalah diberi kenikmatan.

Begitu pula ayat ini memiliki faedah mengenali Allah dengan sifat-Nya yang sempurna dan meniadakan sifat kekurangan dari-Nya—tabaraka wa ta’ala.

وَفِيهَا مَعۡرِفَةُ الۡإِنۡسَانِ رَبَّهُ، وَمَعۡرِفَةُ نَفۡسِهِ.

فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ رَبٌّ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَرۡبُوبٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا رَاحِمٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَرۡحُومٍ،

Ayat ini mengandung faedah pengenalan seseorang kepada Tuhannya dan pengenalan dirinya. Karena apabila di sana ada Rabb (pencipta, pemilik, pengatur), maka pasti ada marbub (yang diciptakan, yang dimiliki, yang diatur). Jika di sana ada Yang Maha Penyayang, maka pasti ada yang disayang.

وَإِذَا كَانَ هُنَا مَالِكٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَمۡلُوكٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا عَبۡدٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَعۡبُودٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا هَادٍ فَلَا بُدَّ مِنۡ مَهۡدِيٍّ،

Jika di sana ada penguasa, maka pasti ada yang dikuasai. Jika di sana ada hamba, maka pasti ada yang disembah. Jika di sana ada Yang memberi petunjuk, maka pasti ada yang ditunjuki.

وَإِذَا كَانَ هُنَا مُنۡعِمٌ فَلَا بُدَّ مِنۡ مُنۡعَمٍ عَلَيۡهِ، وَإِذَا كَانَ هُنَا مَغۡضُوبٌ عَلَيۡهِ فَلَا بُدَّ مِنۡ غَاضِبٍ، وَإِذَا كَانَ هُنَا ضَالٌّ فَلَا بُدَّ مِنۡ مُضِلٍّ.

Jika di sana ada Yang memberi kenikmatan, maka pasti ada yang diberi kenikmatan. Jika di sana ada yang dimurkai, maka pasti ada Yang memurkai. Jika di sana ada yang sesat, maka pasti ada Yang menjadikannya sesat.

فَهَٰذِهِ السُّورَةُ تَضَمَّنَتِ الۡأُلُوهِيَّةَ وَالرُّبُوبِيَّةَ، وَنَفۡيَ النَّقَائِصِ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَتَضَمَّنَتۡ مَعۡرِفَةَ الۡعِبَادَةِ وَأَرۡكَانِهَا. وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Jadi surah ini mengandung tauhid uluhiyyah dan rububiyyah, serta peniadaan sifat kekurangan dari Allah. Juga mengandung pengenalan kepada ibadah dan rukun-rukunnya. Wallahualam.

Read More

Safinah Maula Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wa sallam–

10 Mei 2020
/ / /

[سَفِينَة مولى رسول الله ﷺ]

◉ أخرج الطبراني في معجمه الكبير (٦٤٣٩) من طريق:
حَشْرَجِ بْنِ نُبَاتَةَ قال حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ، قَالَ:
سَأَلْتُ سَفِينَةَ عَنِ اسْمِهِ، فَقَالَ: أَنَا مُخْبِرُكَ بِاسْمِي،
سَمَّانِي رَسُولُ اللهِ ﷺ سَفِينَةَ،
قُلْتُ: لِمَ سَمَّاكَ سَفِينَةَ؟
قَالَ: خَرَجَ وَمَعَنَا أَصْحَابُهُ، فَثَقُلَ عَلَيْهِمْ مَتَاعُهُمْ،
فَقَالَ: «ابْسُطْ كِسَاءَكَ»
فَبَسَطْتُهُ، فَجَعَلَ فِيهِ مَتَاعَهُم، ثُمَّ حَمَلَهُ عَلَيَّ، فَقَالَ:
«احْمِلْ، مَا أَنْتَ إِلَّا سَفِينَةٌ»
قَالَ: فَلَوْ حَمَلْتُ يَوْمَئِذٍ وِقْرَ بَعِيرٍ أَوْ بَعِيرَيْنِ أَوْ خَمْسَةَ أَوْسُقٍ مَا ثَقُلَ عَلَيَّ. [صحيح]

* قال الحاكم في مستدركه (٦٥٤٨) صَحِيحُ الإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، ووافقه الذهبي، والألباني كما في الصحيحة (٢٩٥٩).

◉ وجاء عند أبي يعلى الموصلي (ت: ٣٠٧ هـ) في المفاريد (صـ١٠٥) والروياني (ت: ٣٠٧ هـ) في مسنده (٦٦٢) والطبراني في معجمه الكبير (٦٤٣٣) وغيرهم عن:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ سَفِينَةَ مولى رسول الله ﷺ قَالَ:
“رَكِبْتُ فِي الْبَحْرِ فِي سَفِينَةٍ فَكُسِرَ بِنَا فَرَكِبْتُ لَوْحًا مِنْهَا فَطَرَحَنِي فِي أَجِمَّةٍ فِيهَا الْأَسَدُ،
فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا بِهِ فَقُلْتُ:
يَا أَبَا الْحَارِثِ إِنِّي مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ وَجَعَلَ يَغْمِزُنِي بِمِنْكَبِهِ حَتَّى أَقَامَنِي عَلَى الطَّرِيقِ ثُمَّ هَمْهَمَ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يُوَدِّعُنِي”.

* وقال الحاكم: هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه، وأقره الذهبي وصححه الألباني في مشكاة المصابيح (٥٩٤٩).

#تراجم
#كرامات_الأولياء
#فضائل_الصحابة
#دلائل_النبوة

Sumber: https://t.me/Arafatbinhassan/2774

Ath-Thabarani meriwayatkan di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir nomor 6439 dari jalan Hasyraj bin Nubatah. Beliau berkata: Sa’id bin Jumhan menceritakan kepadaku.

Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Safinah tentang namanya.”

Beliau berkata, “Aku akan mengabarkan kepadamu perihal namaku. Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wa sallam–lah yang telah menamaiku Safinah.”

Aku bertanya, “Mengapa beliau menamaimu Safinah?”

Safinah menjawab: Kami dan para sahabat beliau pernah keluar berperang. Para sahabat merasa berat membawa barang-barang bawaan mereka.

Rasulullah bersabda, “Bentangkan kain pakaianmu!” Aku pun membentangkannya, lalu beliau letakkan barang bawaan mereka ke dalamnya dan memikulkannya kepadaku seraya bersabda, “Pikullah! Tidaklah engkau kecuali Safinah.”

Safinah berkata, “Andai di hari itu, aku memikul beban yang diangkut oleh satu atau dua unta atau memikul lima wasak, niscaya tidak terasa berat olehku.” [Sahih]

Al-Hakim berkata di dalam Mustadrak beliau nomor 6548, “Sanadnya sahih namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” Adz-Dzahabi menyepakati beliau. Juga Al-Albani di dalam Ash-Shahihah nomor 2959.

Ada pula riwayat Abu Ya’la Al-Maushili (wafat 307 H) dalam Al-Mafarid halaman 105, Ar-Ruyani (wafat 307 H) dalam Musnad beliau nomor 662, dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir nomor 6433, serta selain mereka: Dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Safinah maula Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam–.

Beliau mengatakan: Aku naik sebuah kapal di lautan. Kapal itu pecah. Aku naik di atas selembar papan dinding kapal. Aku terdampar di hutan rimba yang ada singanya. Singa itu membuatku takut.

Aku berkata, “Wahai Abu Al-Harits (singa), sesungguhnya aku adalah maula Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wa sallam–.”

Singa itu pun menundukkan kepalanya lalu memberi isyarat agar aku menaiki pundaknya hingga membawaku di suatu jalan. Kemudian singa itu mengaum. Aku menduga bahwa dia mengucapkan perpisahan denganku.

Al-Hakim berkata: Ini adalah hadis sahih sesuai syarat Muslim, namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi mengakuinya. Al-Albani menilainya sahih di dalam Misykat Al-Mashabih nomor 5949.

Read More

Tujuan Mempelajari Sirah

25 April 2020
/ / /

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Selawat, salam, dan keberkahan semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya semua.

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِسۡلَامُ الشَّيۡخُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ وَعَفَا عَنۡهُ… آمِين: تَأَمَّلۡ رَحِمَكَ اللهُ سِتَّةَ مَوَاضِعَ مِنَ السِّيرَةِ، وَافۡهَمۡهَا فَهۡمًا حَسَنًا.

Syekh Islam Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—semoga Allah merahmati dan memaafkannya, amin—berkata: Perhatikanlah—semoga Allah merahmatimu—enam peristiwa penting dari sejarah perjalanan hidup Rasulullah dan pahamilah dengan pemahaman yang baik.[1]

لَعَلَّ اللهَ أَنۡ يُفۡهِمَكَ دِينَ الۡأَنۡبِيَاءِ لِتَتۡبَعَهُ، وَدِينَ الۡمُشۡرِكِينَ لِتَتۡرُكَهُ.

Dengan begitu, bisa jadi Allah akan memberimu pemahaman tentang agama para nabi sehingga engkau bisa mengikutinya dan agama orang-orang musyrik sehingga engkau bisa meninggalkannya.[2]


Syekh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan–hafizhahullah–di dalam syarahnya berkata,

[1]

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

قَالَ الشَّيۡخُ رَحِمَهُ اللهُ: (تَأَمَّلۡ رَحِمَكَ اللهُ سِتَّةَ مَوَاضِعَ مِنَ السِّيرَةِ، وَافۡهَمۡهَا فَهۡمًا حَسَنًا) السِّيرَةُ: الۡمُرَادُ بِهَا سِيرَةُ الرَّسُولِ ﷺ، وَهِيَ الطَّرِيقَةُ الَّتِي كَانَ يَسِيرُ عَلَيۡهَا الرَّسُولُ ﷺ مُنۡذُ بِعۡثَتِهِ إِلَى أَنۡ تَوَفَّاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الۡعِبَادَةِ، وَفِي الۡمُعَامَلَاتِ، وَفِي الدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَفِي الۡجِهَادِ وَالۡهِجۡرَةِ، وَفِي التَّعۡلِيمِ، فَكُلُّ أَفۡعَالِهِ وَأَقۡوَالِهِ وَتَصَرُّفَاتِهِ ﷺ هِيَ سِيرَتُهُ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، وَهَٰذَا أَمۡرٌ مُهِمٌّ أَنَّ الۡمُسۡلِمَ يَدۡرُسُ سِيرَةَ الرَّسُولِ ﷺ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ يَقۡتَدِيَ بِهِ؛ لِأَنَّ اللهَ –جَلَّ وَعَلَا- قَدۡ جَعَلَهُ قُدۡوَةً لَنَا.

Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—rahimahullah—berkata, “Perhatikanlah—semoga Allah merahmatimu—enam peristiwa penting dari sirah dan pahamilah dengan pemahaman yang baik.” Sirah maksudnya adalah sirah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Yaitu jalan hidup yang dilalui oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semenjak diutusnya beliau hingga Allah—azza wajalla—wafatkan beliau, dalam hal ibadah, muamalah, dakwah kepada Allah—azza wajalla—, jihad, hijrah, dan taklim. Jadi seluruh perbuatan, ucapan, dan sepak terjang beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah sirah beliau—‘alaihish shalatu was salam—. Ini adalah perkara yang penting, yaitu bahwa seorang muslim belajar sirah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk bisa meneladaninya, karena Allah—jalla wa ‘ala—telah menjadikan beliau sebagai teladan untuk kita.

قَالَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا﴾ [الأحزاب: ٢١] فَهُوَ قُدۡوَتُنَا –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، فَلۡنَدۡرُسۡ سِيرَتَهُ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ نَقۡتَدِيَ بِهِ فِي ذٰلِكَ، وَهَٰذَا هُوَ الۡمَطۡلُوبُ مِنۡ دِرَاسَةِ السِّيرَةِ وَالتَّفَقُّهِ فِيهَا، لَيۡسَ الۡمَقۡصُودُ أَنَّ السِّيرَةَ تُقۡرَأُ فِي مُنَاسَبَةٍ مُبۡتَدَعَةٍ مِثۡلِ مَنُاسَبَةِ الۡمَوۡلِدِ، فَإِنَّ هَٰذِهِ الۡقِرَاءَةَ لَا تُسۡمِنُ وَلَا تُغۡنِي مِنۡ جُوعٍ؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَتۡ لِلتَّفَقُّهِ فِيهَا؛ وَإِنَّمَا هِيَ لِلتَّبَرُّكِ جَرۡيًا عَلَى الۡعَادَةِ فَقَطۡ، فَلَا تُفِيدُ شَيۡئًا؛ لِأَنَّ تَخۡصِيصَهَا بِوَقۡتٍ مُعَيَّنٍ ثُمَّ تُطۡوَى، هَٰذَا الۡأَمۡرُ لَا يَنۡفَعُ وَلَا يُفِيدُ، السِّيرَةُ مَطۡلُوبٌ دِرَاسَتُهَا دَائِمًا، وَلَا نَقۡصُدُ بِالدِّرَاسَةِ مُجَرَّد أَنَّنَا نَقۡرَؤُهَا مِنۡ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا وَنَقُولُ: قَرَأۡنَا السِّيرَةَ، لَا، لَا بُدَّ أَنۡ نَتَفَقَّهَ فِيهَا وَنَقۡتَدِيَ بِالرَّسُولِ ﷺ فِي أَفۡعَالِهِ وَأَقۡوَالِهِ، هَٰذَا هُوَ الۡمَقۡصُودُ.

Allah—subhanahu wa taala—berfirman yang artinya, “Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Rasulullah, bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kiamat dan dia sering mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21). Jadi beliau adalah teladan kita—‘alaihimush shalatu was salam—, sehingga kita mempelajari sirah beliau agar kita bisa meneladani beliau. Inilah tujuan mempelajari sirah dan mendalaminya. Bukanlah maksudnya agar sirah beliau dibaca di acara yang diada-adakan seperti acara maulid. Karena membaca sirah dengan cara ini ‘tidak dapat menggemukkan dan tidak bisa menghilangkan rasa lapar’. Hal itu karena tujuannya bukan untuk mendalaminya, tetapi hanya untuk tabaruk dalam rangka menjalankan kebiasaan semata sehingga tidak berfaedah sedikit pun. Mengkhususkan membaca sirah di suatu waktu tertentu lalu setelah itu dilipat begitu saja merupakan perkara yang tidak bermanfaat dan tidak berfaedah. Sirah itu dituntut untuk senantiasa dipelajari. Kita tidak memaksudkan hanya dipelajari dengan kita baca dari awal sampai akhir lalu kita katakan, “Kita telah membaca sirah.” Tidak demikian. Harus kita dalami dan kita teladani Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan beliau. Inilah maksud mempelajari sirah.

وَقَدۡ كَتَبَ الۡإِمَامُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ كِتَابًا عَظِيمًا فِي فِقۡهِ السِّيرَةِ وَهُوَ: (زَادُ الۡمَعَادِ فِي هَدۡيِ خَيۡرِ الۡعِبَادِ) وَكَتَبَ بَعۡضُ الۡمُعَاصِرِينَ كِتَابَاتٍ مِنۡهَا مَا هُوَ صَحِيحٌ، وَمِنۡهَا مَا هُوَ سَيِّءٌ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ انۡحَرَفَ وَجَاءَ بِالشِّرۡكِيَّاتِ، وَحَثَّ عَلَى التَّبَرُّكِ بِالۡآثَارِ، وَجَعَلَ هَٰذَا هُوَ الۡمَقۡصُودُ مِنۡ قِرَاءَةِ السِّيرَةِ، وَلَٰكِنۡ هَٰذَا لَا عِبۡرَةَ بِهِ؛ لِأَنَّ كُلًّ يُنۡفِقُ مِمَّا عِنۡدَهُ، الَّذِي عِنۡدَهُ شَيۡءٌ جَيِّدٌ يُنۡفِقُ شَيۡئًا جَيِّدًا، وَالَّذِي عِنۡدَهُ شَيۡءٌ رَدِيءٌ يُنۡفِقُ رَدِيئًا، وَالۡحَمۡدُ لِلّٰهِ، نَسۡأَلُ اللهَ أَنۡ يَهۡدِيَنَا وَإِيَّاكُمۡ، وَيَهۡدِيَ هَٰؤُلَاءِ إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَأَنۡ يَرُدَّهُمۡ إِلَى الۡحَقِّ، وَنَحۡنُ لَا نَتَنَدَّرُ بِهِمۡ؛ لِئَلَّا يُصِيبُنَا مَا أَصَابَهُمۡ، وَلَٰكِنۡ نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، نَسۡأَلُ اللهَ أَنۡ يَهۡدِيَهُمۡ وَأَنۡ يَرُدَّهُمۡ إِلَى الصَّوَابِ.

Imam Ibnu Al-Qayyim—rahimahullah—telah menulis suatu kitab yang agung tentang fikih sirah, yaitu Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairi Al-‘Ibad. Sebagian penulis masa kini juga membuat tulisan-tulisan. Di antaranya ada yang sahih dan di antaranya ada yang jelek. Di antara mereka ada yang menyimpang dan membawa hal-hal yang berbau kesyirikan serta menganjurkan untuk tabaruk dengan benda-benda peninggalan Nabi. Dia menjadikan ini sebagai maksud membaca sirah. Akan tetapi ini tidak usah dianggap. Karena setiap orang akan membelanjakan apa yang dia miliki. Orang yang memiliki sesuatu yang baik, akan membelanjakan sesuatu yang baik. Orang yang memiliki sesuatu yang buruk, akan membelanjakan yang buruk.

Alhamdulillah. Kita meminta kepada Allah agar menunjuki kita dan kalian, agar Allah menunjuki mereka kepada jalan yang lurus dan mengembalikan mereka kepada kebenaran. Kita tidak mengejek mereka agar jangan sampai apa yang menimpa mereka akan menimpa kita. Akan tetapi kita meminta penjagaan kepada Allah. Kita meminta kepada Allah agar menunjuki mereka dan mengembalikan mereka kepada kebenaran.

فَالۡمَقۡصُودُ مِنۡ دِرَاسَةِ سِيرَةِ الرَّسُولِ ﷺ: هُوَ الۡاعۡتِبَارُ وَالۡعَمَلُ، وَالۡاقِتِدَاءُ بِالرَّسُولِ ﷺ، وَأَخۡذُ الۡأَحۡكَامِ مِنۡهَا، هَٰذَا هُوَ الۡمَطۡلُوبُ؛ لِأَنَّ حَيَاتِهِ ﷺ كُلَّهَا خَيۡرٌ، وَكُلَّهَا عِلۡمٌ، وَكُلَّهَا عَمَلٌ صَالِحٌ، كُلَّهَا جِهَادٌ، وَكُلَّهَا دَعۡوَةٌ، وَكُلَّهَا تَعۡلِيمٌ.

Jadi, maksud belajar sirah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah mengambil pelajaran, mengamalkan, dan meneladani Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Serta mengambil hukum-hukum darinya. Inilah tujuannya. Karena kehidupan beliau seluruhnya adalah kebaikan, seluruhnya adalah ilmu, seluruhnya amal saleh, seluruhnya jihad, seluruhnya dakwah, dan seluruhnya adalah taklim.

حَيَاتُهُ ﷺ فَائِضَةٌ بِالۡخَيۡرِ الۡعَظِيمِ مِنۡ جَمِيعِ النَّوَاحِي، كُلُّهَا عِبَادَةٌ.

Kehidupan beliau berlimpah kebaikan yang agung dari segala sisi. Seluruhnya adalah ibadah.

فَعَلَيۡنَا أَنۡ نَعۡتَنِيَ بِسِيرَتِهِ ﷺ، وَالشَّيۡخُ أَخَذَ مِنۡهَا سِتَّةَ مَوَاضِعَ مُهِمَّةٍ وَالۡبَقِيَّةُ مَوۡجُودَةٌ فِي سِيرَتِهِ ﷺ، لَٰكِنۡ هَٰذِهِ الۡمَوَاضِعُ تَتَعَلَّقُ بِالۡعَقِيدَةِ.

Sehingga kita wajib untuk memperhatikan sirah beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab mengambil enam peristiwa yang penting dari sirah beliau. Adapun yang selain itu tetap ada dalam perjalanan hidup beliau, namun peristiwa-peristiwa ini berkaitan dengan akidah.

[2] هَٰذَا الۡمَقۡصُودُ مِنۡ دِرَاسَةِ السِّيرَةِ، أَنَّكَ تَفۡهَمُ دِينَ الۡأَنۡبِيَاءِ -عَلَيۡهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، تَفۡهَمُ التَّوۡحِيدَ لِتَتَّبِعَهُ، وَتَفۡهَمُ الشِّرۡكَ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ تَجۡتَنِبَهُ، فَلَا يَكۡفِي أَنَّ الۡإِنۡسَانَ يَعۡرِفُ الۡحَقَّ فَقَطۡ بَلۡ لَابُدَّ أَنۡ يَعۡرِفَ الۡحَقَّ وَيَعۡرِفَ الۡبَاطِلَ، يَعۡرِفُ الۡحَقَّ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ يَعۡمَلَ بِهِ، وَيَعۡرِفَ الۡبَاطِلَ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ يَتَجَنَّبَهُ؛ لِأَنَّهُ إِذَا لَمۡ يَعۡرِفِ الۡبَاطِلَ وَقَعَ فِيهِ وَهُوَ لَا يَدۡرِي.

Inilah maksud dari mempelajari sirah, yaitu agar engkau memahami agama para nabi—‘alaihimush shalatu was salam—, agar engkau memahami tauhid untuk mengikutinya, dan agar engkau memahami syirik untuk menjauhinya. Maka tidak cukup seseorang mengetahui kebenaran saja, tetapi dia harus mengetahui kebenaran dan mengetahui kebatilan. Dia mengetahui kebenaran untuk mengamalkannya dan mengetahui kebatilan untuk menjauhinya. Karena jika dia tidak mengetahui kebatilan, dia akan terjerumus padanya dalam keadaan tidak mengetahui.

فَأَنۡتَ عِنۡدَمَا تَسِيرُ فِي طَرِيقٍ وَأَنۡتَ لَا تَعۡرِفُ هَٰذَا الطَّرِيقَ، وَفِيهِ حُفۡرٌ وَفِيهِ مَهَالِكٌ، رُبَّمَا تَهۡلِكُ وَأَنۡتَ لَا تَدۡرِي، تَقَعُ فِي الۡحُفۡرِ وَأَنۡتَ مَا دَرَيۡتَ ، لَكِنَّكَ إِذَا دَرَسۡتَ الطَّرِيقَ، فَعَرَفۡتَ مَا فِيهِ مِنَ الۡمَسَالِكِ، وَمَا فِيهِ مِنَ الۡأَخۡطَارِ، فَإِنَّكَ تَكُونُ عَلَى بَيِّنَةٍ، تَتَجَنَّبُ الۡمَهَالِكَ الَّتِي فِي الطَّرِيقِ.

Ketika engkau hendak menyusuri sebuah jalan dalam keadaan engkau tidak mengetahui jalan itu, padahal di situ ada lubang dan tempat-tempat yang mencelakakan, bisa jadi engkau akan celaka dalam keadaan tidak mengetahui. Engkau akan jatuh ke dalam lubang dalam keadaan engkau tadinya tidak tahu. Akan tetapi apabila engkau sudah mempelajari jalan itu, maka engkau akan tahu lika-liku jalan itu, bahaya-bahaya yang ada padanya, sehingga engkau sudah memiliki pengetahuan untuk bisa menjauhi tempat-tempat yang mencelakakan yang ada di jalan itu.

هَٰذَا فِي الۡأُمُورِ الۡحِسِّيَّةِ، كَذٰلِكَ فِي الۡأُمُورِ الۡعَقۡدِيَّةِ مِنۡ بَابِ أَوۡلَى، فَلَا بُدَّ أَنۡ تَعۡرِفَ الۡبَاطِلَ، تَعۡرِفَ الشِّرۡكَ، وَمَا هِيَ أَنۡوَاعُهُ وَمَا هِيَ أَسۡبَابُهُ، وَمَا هِيَ الۡوَسَائِلُ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيۡهِ حَتَّى تَتَجَنَّبَهَا. يَقُولُ الشَّاعِرُ:

عَرَفۡتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِّ لَٰكِنۡ لِتَوَقِّيهِ     وَمَنۡ لَا يَعۡرِفِ الشَّرَّ مِنَ الۡخَيۡرِ يَقَعۡ فِيهِ

Ini dalam perkara-perkara indrawi. Demikian pula dalam perkara-perkara keyakinan, tentu lebih utama. Maka engkau harus mengetahui kebatilan, engkau mengetahui kesyirikan, apa macam-macamnya, apa sebab-sebabnya, apa wasilah-wasilah yang mengantarkan kepada kesyirikan hingga engkau bisa menjauhinya. Penyair berkata, “Aku mengetahui kejelekan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjauhinya. Siapa saja yang tidak mengetahui kejelekan dari kebaikan, dia bisa terjerumus padanya.”

حُذَيۡفَةُ بۡنُ الۡيَمَانِ -رَضِيَ اللهُ تَعَالَی عَنۡهُ- الصَّحَابِيُّ الۡجَلِيلُ يَقُولُ: كَانَ النَّاسُ يَسۡأَلُونَ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ الۡخَيۡرِ وَكُنۡتُ أَسۡأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنۡ أَقَعَ فِيهِ.

Hudzaifah bin Al-Yaman—radhiyallahu ta’ala ‘anhu—seorang sahabat yang mulia mengatakan, “Dahulu orang-orang bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena takut terjerumus padanya.”

فَلَا بُدَّ مِنۡ مَعۡرِفَةِ الۡخَيۡرِ وَمَعۡرِفَةِ الشَّرِّ، وَالۡبَعۡضُ الۡيَوۡمَ يَقُولُ: تَعۡرِفُ الۡحَقَّ، وَلَيۡسَ مِنَ الضَّرُورِيِّ أَنۡ تَعۡرِفَ مَا يُضَادُّهُ.

وَهَٰذَا بَاطِلٌ؛ لِأَنَّكَ إِذَا لَمۡ تَعۡرِفِ الۡبَاطِلَ يَظِلُّ خَافِيًا فَتَضِلُّ عَنِ الۡحَقِّ، لَا سِيَّمَا وَدُعَاةُ السُّوءِ وَدُعَاةُ الضَّلَالِ عَلَى اسۡتِعۡدَادٍ لِإِضۡلَالِ النَّاسِ.

Jadi harus mengetahui kebaikan dan mengetahui kejelekan. Sebagian orang di hari-hari ini mengatakan,”Engkau mengetahui kebaikan, adapun mengetahui lawannya bukanlah merupakan hal yang pokok.”

Ini batil, karena apabila engkau tidak mengetahui kebatilan, maka kebatilan akan menjadi samar sehingga engkau bisa tersesat dari kebenaran. Terlebih lagi para penyeru keburukan dan penyeru kesesatan sudah bersiap-siap untuk menyesatkan manusia.

Read More

Sittatu Mawadhi’ minas Sirah

16 April 2020
/ / /

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Selawat, salam, dan keberkahan semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya semua.

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِسۡلَامُ الشَّيۡخُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ وَعَفَا عَنۡهُ… آمِين: تَأَمَّلۡ رَحِمَكَ اللهُ سِتَّةَ مَوَاضِعَ مِنَ السِّيرَةِ، وَافۡهَمۡهَا فَهۡمًا حَسَنًا.

لَعَلَّ اللهَ أَنۡ يُفۡهِمَكَ دِينَ الۡأَنۡبِيَاءِ لِتَتۡبَعَهُ، وَدِينَ الۡمُشۡرِكِينَ لِتَتۡرُكَهُ.

فَإِنَّ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الدِّينَ وَيَدَّعِي أَنَّهُ مِنَ الۡمُوَحِّدِينَ لَا يَفۡهَمُ السِّتَّةَ كَمَا يَنۡبَغِي.

Syekh Islam Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—semoga Allah merahmati dan memaafkannya, amin—berkata: Perhatikanlah—semoga Allah merahmatimu—enam peristiwa penting dari sejarah perjalanan hidup Rasulullah dan pahamilah dengan pemahaman yang baik. Dengan begitu, bisa jadi Allah akan memberimu pemahaman tentang agama para nabi sehingga engkau bisa mengikutinya dan agama orang-orang musyrik sehingga engkau bisa meninggalkannya. Karena, sungguh banyak orang yang mengaku memiliki agama dan mengaku termasuk golongan orang yang bertauhid, namun tidak memahami enam peristiwa ini sebagaimana mestinya.

الۡمَوۡضِعُ الۡأَوَّلُ: قِصَّةُ نُزُولِ الۡوَحۡيِ، وَفِيهَا أَنَّ أَوَّلَ آيَةٍ أَرۡسَلَهُ اللهُ بِهَا: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ۝١ قُمۡ فَأَنذِرۡ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ﴾ [المدثر: ١-٧].

Peristiwa pertama: Kisah turunnya wahyu. Sesungguhnya ayat pertama yang Allah utus Nabi Muhammad sebagai rasul adalah ayat (yang artinya), “Wahai orang-orang yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan.” Sampai ayat, “Dan hanya kepada Allah, engkau bersabar.” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).

فَإِذَا فَهِمۡتَ أَنَّهُمۡ يَفۡعَلُونَ أَشۡيَاءَ كَثِيرَةً يَعۡرِفُونَ أَنَّهَا مِنَ الظُّلۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ مِثۡلُ الزِّنَا، وَعَرَفۡتَ أَيۡضًا أَنَّهُمۡ يَفۡعَلُونَ شَيۡئًا مِنَ الۡعِبَادَةِ يَتَقَرَّبُونَ بِهَا إِلَى اللهِ مِثۡلِ الۡحَجِّ وَالۡعُمۡرَةِ وَالصَّدَقَةِ عَلَى الۡمَسَاكِينِ وَالۡإِحۡسَانِ إِلَيۡهِمۡ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ.

Jika engkau memahami, bahwa mereka melakukan banyak perkara yang mereka sendiri ketahui bahwa itu termasuk kezaliman dan permusuhan, semisal zina; dan engkau mengetahui pula bahwa mereka melakukan suatu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, semisal haji, umrah, sedekah kepada orang-orang miskin, berbuat baik kepada mereka, dan selain itu.

وَأَجَلُّهَا عِنۡدَهُمُ الشِّرۡكُ، فَهُوَ أَجَلُّ مَا يَتَقَرَّبُونَ بِهِ إِلَى اللهِ عِنۡدَهُمۡ، كَمَا ذَكَرَ اللهُ عَنۡهُمۡ أَنَّهُمۡ قَالُوا: ﴿مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ﴾ [الزمر: ٣]، وَيَقُولُونَ: ﴿هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ﴾ [يونس: ١٨].

Dan kesyirikan menurut mereka adalah ibadah yang paling agung. Menurut mereka kesyirikan adalah perkara yang paling agung yang paling dapat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana Allah menyebutkan tentang mereka, bahwa mereka berkata (yang artinya), “Kami tidaklah menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3). Dan mereka mengatakan, “Mereka ini adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلشَّيَـٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ﴾ [الأعراف: ٣٠].

Allah taala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan itu sebagai para wali selain Allah dan mereka menganggap bahwa diri mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 30).

فَأَوَّلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ بِهِ الۡإِنۡذَارُ عَنۡهُ، قَبۡلَ الۡإِنۡذَارِ عَنِ الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَغَيۡرِهِمَا.

وَعَرَفۡتَ أَنَّ مِنۡهُمۡ مَنۡ تَعَلَّقَ عَلَى الۡأَصۡنَامِ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ تَعَلَّقَ عَلَى الۡمَلَائِكَةِ وَعَلَى الۡأَوۡلِيَاءِ مِنۡ بَنِي آدَمَ.

Ternyata, hal pertama yang Allah perintahkan adalah memperingatkan dari syirik sebelum memperingatkan dari zina, pencurian, dan selainnya.

Engkau juga mengetahui bahwa di antara mereka ada orang-orang yang menggantungkan hati kepada berhala-berhala. Di antara mereka juga ada yang menggantungkan hati kepada para malaikat dan para wali dari kalangan bani Adam.

وَيَقُولُونَ: مَا نُرِيدُ مِنۡهُمۡ إِلَّا شَفَاعَتَهُمۡ.

وَمَعَ هَٰذَا بَدَأَ بِالۡإِنۡذَارِ عَنۡهُ فِي أَوَّلِ آيَةٍ أَرۡسَلَهُ اللهُ بِهَا، فَإِنۡ أَحۡكَمۡتَ هَٰذِهِ الۡمَسۡأَلَةَ فَيَا بُشۡرَاكَ.

خُصُوصًا إِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ مَا بَعۡدَهَا أَعۡظَمُ مِنَ الصَّلَوَاتِ الۡخَمۡسِ.

Lalu mereka mengatakan: Kami hanya menginginkan syafaat dari mereka. Bersamaan dengan itu, Allah memulai dengan memperingatkan dari kesyirikan ini di awal ayat yang Allah utus beliau dengannya. Jika engkau sudah gamblang dengan masalah ini, maka bergembiralah. Terkhusus jika engkau mengetahui bahwa tidak ada setelah perkara ini yang lebih agung daripada salat lima waktu.

وَلَمۡ تُفۡرَضُ إِلَّا فِي لَيۡلَةِ الۡإِسۡرَاءِ سَنَةَ عَشۡرٍ بَعۡدَ حِصَارِ الشِّعبِ وَمَوۡتِ أَبِي طَالِبٍ، وَبَعۡدَ هِجۡرَةِ الۡحَبَشَةِ بِسَنَتَيۡنِ.

Salat tidak diwajibkan kecuali pada malam isra pada tahun sepuluh setelah pemboikotan (terhadap kaum muslimin) di sebuah lembah, meninggalnya Abu Thalib, dan dua tahun setelah hijrah ke Habasyah.

فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ تِلۡكَ الۡأُمُورَ الۡكَثِيرَةَ وَالۡعَدَاوَةَ الۡبَالِغَةَ، كُلَّ ذٰلِكَ عِنۡدَ هَٰذِهِ الۡمَسۡأَلَةِ قَبۡلَ فَرۡضِ الصَّلَاةِ، رَجَوۡتُ أَنۡ تَعۡرِفَ الۡمَسۡأَلَةَ.

Maka, ketika engkau mengetahui bahwa banyak kejadian dan permusuhan yang sengit itu, semua itu adalah dalam masalah memperingatkan dari kesyirikan sebelum diwajibkannya salat, maka aku harap engkau mengerti permasalahannya.

الۡمَوۡضِعُ الثَّانِي: أَنَّهُ ﷺ لَمَّا قَامَ يُنۡذِرُهُمۡ عَنِ الشِّرۡكِ وَيَأۡمُرُهُمۡ بِضِدِّهِ وَهُوَ التَّوۡحِيدُ لَمۡ يَكۡرَهُوا ذٰلِكَ وَاسۡتَحۡسَنُوهُ وَحَدَّثُوا أَنۡفُسَهُمۡ بِالدُّخُولِ فِيهِ، إِلَى أَنۡ صَرَّحَ بِسَبِّ دِينِهِمۡ وَتَجۡهِيلِ عُلَمَائِهِمۡ، فَحِينَئِذٍ شَمَّرُوا لَهُ وَلِأَصۡحَابِهِ عَنۡ سَاقِ الۡعَدَاوَةِ. وَقَالُوا: سَفَّهَ أَحۡلَامَنَا وَعَابَ دِينَنَا وَشَتَمَ آلِهٰتَنَا.

Peristiwa kedua: Bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit memperingatkan mereka dari kesyirikan dan memerintahkan mereka lawan dari kesyirikan itu, yaitu tauhid, mereka belum membenci hal itu dan menganggap baik hal itu. Bahkan terbersit dalam jiwa mereka untuk masuk ke dalam ajaran yang beliau bawa. Sampai ketika beliau terang-terangan mencela agama mereka dan membodoh-bodohkan ulama mereka, maka ketika itu mereka mengumumkan permusuhan kepada beliau dan para sahabat beliau. Mereka berkata, “Dia (yaitu Rasulullah) telah menganggap pikiran kita ini bodoh. Dia telah mencela agama kita dan dia telah mencerca tuhan-tuhan kita.

وَمَعۡلُومٌ أَنَّهُ ﷺ لَمۡ يَشۡتُمۡ عِيسَى وَأُمَّهُ وَلَا الۡمَلَائِكَةَ وَلَا الصَّالِحِينَ. لَكِنۡ لَمَّا ذَكَرَ أَنَّهُمۡ لَا يُدۡعَوۡنَ وَلَا يَنۡفَعُونَ وَلَا يَضُرُّونَ جَعَلُوا ذٰلِكَ شَتۡمًا.

Padahal telah diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencerca ‘Isa, ibunya, para malaikat, dan orang-orang saleh. Akan tetapi, ketika beliau menyebutkan bahwa tidak boleh berdoa kepada mereka dan bahwa mereka tidak bisa memberi manfaat dan mudarat, mereka menganggap itu sebagai cercaan.

فَإِذَا عَرَفۡتَ هَٰذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الۡإِنۡسَانَ لَا يَسۡتَقِيمُ لَهُ إِسۡلَامٌ -وَلَوۡ وَحَّدَ اللهَ وَتَرَكَ الشِّرۡكَ- إِلَّا بِعَدَاوَةِ الۡمُشۡرِكِينَ وَالتَّصۡرِيحِ لَهُمۡ بِالۡعَدَاوَةِ وَالۡبُغۡضِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿لَّا تَجِدُ قَوۡمًا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ﴾… [الۡمُجادلة: ٢٢].

Apabila engkau mengetahui ini, maka engkau mengetahui bahwa seorang insan tidak akan lurus Islamnya walaupun dia telah menauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik dan terang-terangan memusuhi dan membenci mereka. Sebagaimana firman Allah taala yang artinya, “Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Mujadilah: 22).

فَإِذَا فَهِمۡتَ هَٰذَا فَهۡمًا جَيِّدًا عَرَفۡتَ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الَّذِينَ يَدَّعُونَ الدِّينَ لَا يَعۡرِفُونَهَا.

وَإِلَّا فَمَا الَّذِي حَمَلَ الۡمُسۡلِمِينَ عَلَى الصَّبۡرِ عَلَى ذٰلِكَ الۡعَذَابِ وَالۡأَسۡرِ وَالضَّرۡبِ وَالۡهِجۡرَةِ إِلَى الۡحَبَشَةِ. مَعَ أَنَّهُ ﷺ أَرۡحَمُ النَّاسِ، لَوۡ يَجِدُ لَهُمۡ رُخۡصَةً لَأَرۡخَصَ لَهُمۡ، كَيۡفَ وَقَدۡ أَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ فَإِذَآ أُوذِىَ فِى ٱللَّهِ جَعَلَ فِتۡنَةَ ٱلنَّاسِ كَعَذَابِ ٱللَّهِ﴾ [العنكبوت: ١٠].

فَإِذَا كَانَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ فِيمَنۡ وَافَقَهُمۡ بِلِسَانِهِ فَكَيۡفَ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ؟!

Apabila engkau telah memahami hal ini dengan baik, maka engkau mengetahui bahwa banyak di antara orang-orang yang mengaku-aku beragama Islam, tetapi dia tidak mengetahuinya. Jika bukan karena sikap permusuhan kepada orang-orang yang menentang Allah, lalu apa lagi yang menyebabkan kaum muslimin harus menanggung kesabaran menghadapi siksaan, penawanan, kekerasan fisik, dan hijrah ke Habasyah. Padahal beliau shallallahu ‘alaih wa sallam adalah orang yang paling penyayang. Andai beliau mendapatkan rukhsah untuk mereka tentu beliau akan memberi keringanan kepada mereka. Namun bagaimana lagi, sedangkan Allah taala telah menurunkan ayat yang artinya, “Dan di antara manusia ada yang mengucapkan kami beriman kepada Allah, namun ketika mereka diganggu karena (beriman kepada) Allah, maka dia menjadikan cobaan manusia itu seperti siksa Allah.” (QS. Al-‘Ankabut: 10).

Apabila ayat ini turun tentang orang-orang yang mencocoki para penentang Allah hanya dengan lisannya, lalu bagaimana dengan yang selain itu?!

الۡمَوۡضِعُ الثَّالِثُ : قِصَّةُ قِرَاءَتِهِ ﷺ سُورَةَ النَّجۡمِ بِحَضۡرَتِهِمۡ، فَلَمَّا بَلَغَ ﴿أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّـٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ﴾ [النجم: ١٩] أَلۡقَى الشَّيۡطَانُ فِي تِلَاوَتِهِ: (تِلۡكَ الۡغَرَانِيقُ الۡعُلَا، وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرۡتَجَى) فَظَنُّوا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَهَا، فَفَرِحُوا بِذٰلِكَ وَقَالُوا كَلَامًا مَعۡنَاهُ: هَٰذَا الَّذِي نُرِيدُ، وَنَحۡنُ نَعۡرِفُ أَنَّ اللهَ هُوَ النَّافِعُ الضَّارُّ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَكِنۡ هَٰؤُلَاءِ يَشۡفَعُونَ لَنَا عِنۡدَهُ.

Peristiwa ketiga: Kisah pembacaan surah An-Najm oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah kehadiran mereka. Ketika beliau sampai ayat yang artinya, “Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-‘Uzza,” setan menyisipkan dalam bacaan beliau, “Itu adalah gharaniq (nama berhala/malaikat) yang mulia dan sesungguhnya syafaat mereka diharapkan.” Sehingga mereka menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengucapkannya. Maka, mereka pun gembira dengan perkataan itu dan mereka berkata dengan ucapan yang maknanya, “Inilah yang kami inginkan. Kami mengetahui bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat dan mudarat, tidak ada sekutu bagi-Nya, namun mereka ini (berhala-berhala) dapat memberi syafaat untuk kami di sisi-Nya.”

فَلَمَّا بَلَغَ السَّجۡدَةَ سَجَدَ وَسَجَدُوا مَعَهُ، فَشَاعَ الۡخَبَرُ أَنَّهُمۡ صَافَوۡهُ، وَسَمِعَ بِذٰلِكَ مَنۡ بِالۡحَبَشَةِ فَرَجَعُوا، فَلَمَّا أَنۡكَرَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَادُوا إِلَى شَرٍّ مِمَّا كَانُوا عَلَيۡهِ.

Ketika Rasulullah membaca sampai ayat sajdah, beliau pun sujud dan mereka ikut sujud beserta beliau. Sehingga tersebarlah berita bahwa orang-orang musyrik mengikuti beliau dan berita itu terdengar oleh kaum muslimin yang sedang hijrah di Habasyah sehingga mereka kembali. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari bacaan itu, orang-orang musyrik itu kembali kepada keburukan mereka dahulu.

وَلَمَّا قَالُوا لَهُ: إِنَّكَ قُلۡتَ ذٰلِكَ. خَافَ مِنَ اللهِ خَوۡفًا عَظِيمًا، حَتَّى أَنۡزَلَ اللهُ عَلَيۡهِ: ﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَـٰنُ فِىٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ﴾… [الحج: ٥٢].

Ketika orang-orang musyrik itu berkata kepada beliau, “Sesungguhnya engkau telah mengucapkannya,” maka Rasulullah sangat takut kepada Allah sampai Allah menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia membaca, setan menyisipi bacaan itu…” (QS. Al-Hajj: 52).

فَمَنۡ فَهِمَ هَٰذِهِ الۡقِصَّةَ، ثُمَّ شَكَّ بَعۡدَهَا فِي دِينِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَمۡ يُفَرِّقۡ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ، فَأَبۡعَدَهُ اللهُ، خُصُوصًا إِنۡ عَرَفَ أَنَّ قَوۡلَهُمۡ: (تِلۡكَ الۡغَرَانِيقُ) يُرَادُ بِهَا الۡمَلَائِكَةُ.

Jadi, siapa saja yang memahami kisah ini, lalu setelah itu masih ragu tentang agama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bisa membedakan antara agama Nabi dengan agama orang-orang musyrik, maka berarti Allah telah menjauhkannya. Terkhusus apabila dia mengerti bahwa ucapan mereka, “Itu adalah gharaniq,” yang mereka maksudkan adalah malaikat.

الۡمَوۡضِعُ الرَّابِعُ: قِصَّةُ أَبِي طَالِبٍ، فَمَنۡ فَهِمَهَا حَسَنًا وَتَأَمَّلَ إِقۡرَارَهُ بِالتَّوۡحِيدِ، وَحَثَّ النَّاسِ عَلَيۡهِ، وَتَسۡفِيهَ عُقُولِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَمَحَبَّتَهُ لِمَنۡ أَسۡلَمَ وَخَلَعَ الشِّرۡكَ، ثُمَّ بَذَلَ عُمۡرَهُ وَمَالَهُ وَأَوۡلَادَهُ وَعَشِيرَتَهُ فِي نُصۡرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى أَنۡ مَاتَ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى الۡمَشَقَّةِ الۡعَظِيمَةِ وَالۡعَدَاوَةِ الۡبَالِغَةِ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَدۡخُلۡ فِيهِ وَلَمۡ يَتَبَرَّأۡ مِنۡ دِينِهِ الۡأَوَّلِ لَمۡ يَصِرۡ مُسۡلِمًا، مَعَ أَنَّهُ يَعۡتَذِرُ مِنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ فِيهِ مسَبَّةً لِأَبِيهِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ وَلِهَاشِمٍ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ مَشَايِخِهِمۡ.

Peristiwa keempat: Kisah Abu Thalib. Siapa saja yang memahaminya dengan baik dan memperhatikan

  • pengakuannya terhadap tauhid,
  • anjurannya kepada manusia agar bertauhid,
  • sikap beliau yang membodoh-bodohkan akal orang-orang musyrik,
  • kecintaan beliau kepada orang yang masuk Islam dan lepas dari kesyirikan,
  • kemudian beliau menghabiskan umur, harta, anak-anak, dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meninggal,
  • kemudian sikap beliau yang menyabarkan Rasulullah terhadap kesulitan yang besar dan permusuhan yang memuncak.

Akan tetapi ketika Abu Thalib tidak masuk Islam dan tidak berlepas diri dari agamanya yang dahulu, maka dia tidak menjadi seorang muslim. Meskipun dia beralasan dengan apabila dia masuk Islam, maka akan mencoreng kehormatan ayahnya—yaitu ‘Abdul Muththalib—dan Hasyim, serta selain keduanya dari para tokoh leluhur mereka.

ثُمَّ مَعَ قَرَابَتِهِ وَنُصۡرَتِهِ اسۡتَغۡفَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ١١٣].

Kemudian karena hubungan kekerabatan dan pembelaan Abu Thalib ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuknya. Lalu Allah taala menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

وَالَّذِي يُبَيِّنُ هَٰذَا أَنَّهُ إِذَا عُرِفَ رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ أَوِ الۡأَحۡسَاءِ بِحُبِّ الدِّينِ وَبِحُبِّ الۡمُسۡلِمِينَ، مَعَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡصُرِ الدِّينَ بِيَدٍ وَلَا مَالٍ وَلَا لَهُ مِنَ الۡأَعۡذَارِ مِثۡلُ مَا لِأَبِي طَالِبٍ، وَفَهِمَ الۡوَاقِعَ مِنۡ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الدِّينَ، تَبَيَّنَ لَهُ الۡهُدَى مِنَ الضَّلَالِ، وَعَرَفَ سُوءُ الۡأَفۡهَامُ، وَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ.

Dan yang lebih memperjelas ini adalah bahwa ketika ada seseorang dari penduduk Bashrah atau Ahsa` yang dikenal mencintai agama Islam dan mencintai kaum muslimin, namun dia tidak menolong agama dengan tangan dan harta. Dia juga tidak memiliki uzur semisal uzur yang dimiliki Abu Thalib.

(Jadi siapa saja yang memahami kisah Abu Thalib ini) dan memahami kenyataan berupa banyaknya orang yang mengaku-aku mengerti agama, maka akan jelas baginya petunjuk dari kesesatan dan dia akan mengerti buruknya pemahaman (terhadap agama). Allah lah yang dimintai pertolongan.

الۡمَوۡضِعُ الۡخَامِسُ: قِصَّةُ الۡهِجۡرَةِ، وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ وَالۡعِبَرِ مَا لَا يَعۡرِفُهُ أَكۡثَرُ مَنۡ قَرَأَهَا.

Peristiwa kelima: Kisah hijrah. Dalam kisah ini ada faedah-faedah dan pelajaran-pelajaran yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang membacanya.

وَلَكِنۡ مُرَادُنَا الۡآنَ مَسۡأَلَةٌ مِنۡ مَسَائِلِهَا، وَهِيَ أَنَّ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مَنۡ لَمۡ يُهَاجِرۡ مِنۡ غَيۡرِ شَكٍّ فِي الدِّينِ وَتَزۡيِينِ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَلَكِنۡ مَحَبَّةً لِلۡأَهۡلِ وَالۡمَالِ وَالۡوَطَنِ، فَلَمَّا خَرَجُوا إِلَى بَدۡرٍ خَرَجُوا مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ كَارِهِينَ، فَقُتِلَ بَعۡضُهُمۡ بِالرَّمۡيِ، وَالرَّامِي لَا يَعۡرِفُهُ.

Akan tetapi yang kita inginkan sekarang adalah sebuah permasalahan di antara berbagai permasalahan dalam kejadian tersebut. Yaitu bahwa sebagian sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ada yang tidak berhijrah. Alasannya bukan karena ragu dengan agama Islam dan bukan untuk mendukung agama orang-orang musyrik. Akan tetapi alasannya adalah kecintaan terhadap keluarga, harta, dan tanah air. Ketika mereka keluar menuju medan perang Badr, mereka keluar bersama barisan kaum musyrikin dalam keadaan tidak suka. Sebagian mereka terbunuh karena lemparan senjata, sementara si pelempar tidak mengenalinya.

فَلَمَّا سَمِعَ الصَّحَابَةُ أَنَّ مِنَ الۡقَتۡلَى فُلَانًا وَفُلَانًا شَقَّ عَلَيۡهِمۡ وَقَالُوا: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا. فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمۡ﴾ … إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَكَانَ ٱللَّـهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [النساء: ٩٧-١٠٠].

Ketika para sahabat mendengar bahwa di antara korban perang ada si Polan dan si Polan, mereka merasa berat dan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.” Lalu Allah taala menurunkan ayat yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri-diri mereka…” hingga firman-Nya, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa`: 97-100).

فَمَنۡ تَأَمَّلَ قِصَّتَهُمۡ وَتَأَمَّلَ قَوۡلَ الصَّحَابَةِ: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا، عَلِمَ أَنَّهُ لَوۡ بَلَغَهُمۡ عَنۡهُمۡ كَلَامٌ فِي الدِّينِ أَوۡ كَلَامٌ فِي تَزۡيِينِ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ لَمۡ يَقُولُوا: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا.

Maka, siapa saja yang merenungkan kisah mereka dan merenungkan perkataan sahabat, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita,” maka dia mengetahui bahwa andai sampai ucapan (keraguan) terhadap agama Islam atau ucapan yang mendukung agama kaum musyrikin dari sebagian sahabat yang tidak ikut hijrah kepada para sahabat, niscaya para sahabat tidak akan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.”

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدۡ بَيَّنَ لَهُمۡ وَهُمۡ بِمَكَّةَ قَبۡلَ الۡهِجۡرَةِ أَنَّ ذٰلِكَ كُفۡرٌ بَعۡدَ الۡإِيمَانِ بِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَن كَفَرَ بِٱللَّـهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَـٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَئِنٌّۢ بِٱلۡإِيمَـٰنِ﴾ [النحل: ١٠٦]. وَأَبۡلَغُ مِنۡ هَٰذَا مَا تَقَدَّمَ مِنۡ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى فِيهِمۡ، فَإِنَّ الۡمَلَائِكَةَ تَقُولُ: ﴿فِيمَ كُنتُمۡ﴾ وَلَمۡ يَقُولُوا: كَيۡفَ تَصۡدِيقُكُمۡ؟ ﴿قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ۚ﴾ [النساء: ٩٧].

Karena sungguh Allah taala telah menjelaskan kepada mereka ketika mereka berada di Makkah sebelum hijrah bahwa ucapan-ucapan itu adalah kekufuran sesudah keimanan dengan dasar firman-Nya taala yang artinya, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106).

Yang lebih gamblang daripada ayat ini adalah firman Allah taala yang telah disebutkan tentang mereka. Yaitu, bahwa malaikat bertanya, “Bagaimana keadaan kalian ketika itu?”

Para malaikat tidak menanyakan, “Bagaimana pembenaran kalian?”

Mereka menjawab, “Dahulu kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” (QS. An-Nisa`: 97).

وَلَمۡ يَقُولُوا: كَذَبۡتُمۡ. مِثۡلَ مَا يَقُولُ اللهُ وَالۡمَلَائِكَةُ لِلۡمُجَاهِدِ الَّذِي يَقُولُ: جَاهَدۡتُ فِي سَبِيلِكَ حَتَّى قُتِلۡتُ، فَيَقُولُ اللهُ: كَذَبۡتَ، وَتَقُولُ الۡمَلَائِكَةُ: كَذَبۡتَ، بَلۡ قَاتَلۡتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، وَكَذٰلِكَ يَقُولُونَ لِلۡعَالِمِ وَالۡمُتَصَدِّقِ: كَذَبۡتَ، بَلۡ تَعَلَّمۡتَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَتَصَدَّقۡتَ لِيُقَالَ: جَوَّادٌ.

Para malaikat tidak berkata, “Kalian telah berdusta.”

Seperti yang dikatakan oleh Allah dan malaikat kepada mujahid yang berkata, “Aku berjihad di jalan-Mu sampai aku terbunuh.”

Lalu Allah berkata, “Engkau dusta.”

Malaikat juga berkata, “Engkau dusta. Engkau berperang hanya agar engkau disebut sebagai pemberani.”

Demikian pula yang mereka katakan kepada orang yang alim dan orang yang bersedekah, “Engkau dusta. Engkau belajar agar engkau disebut sebagai orang yang alim dan engkau bersedekah agar disebut sebagai orang yang dermawan.”[1]

وَأَمَّا هَٰؤُلَاءِ فَلَمۡ يُكۡذِبُوهُمۡ بَلۡ أَجَابُوهُمۡ بِقَوۡلِهِمۡ: ﴿قَالُوٓا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةً فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ﴾ وَيَزِيدُ ذٰلِكَ إِيضَاحًا لِلۡعَارِفِ وَالۡجَاهِلِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا، وَهِيَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا﴾ [النساء: ٩٨].

Adapun mereka yang tidak ikut hijrah ini, maka malaikat tidak menyatakan bahwa mereka berdusta, bahkan menanggapi mereka dengan ucapan mereka. “Para malaikat berkata: Bukankah bumi Allah luas sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?”

Ayat setelahnya akan menambah jelas hal itu, baik bagi orang yang pandai maupun yang jahil. Yaitu firman Allah taala yang artinya, “Kecuali orang-orang yang tertindas dari kalangan pria, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisa`: 98).

فَهَٰذَا أَوۡضَحُ جِدًّا أَنَّ هَٰؤُلَاءِ خَرَجُوا مِنَ الۡوَعِيدِ، فَلَمۡ يَبۡقَ شُبۡهَةً، لَكِنۡ لِمَنۡ طَلَبَ الۡعِلۡمَ، بِخِلَافِ مَنۡ لَمۡ يَطۡلُبۡهُ، بَلۡ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿صُمٌّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ﴾ [البقرة: ١٨].

Ini sangat jelas bahwa mereka (yang tidak hijrah karena uzur) tidak termasuk ke dalam ancaman (yang disebutkan di akhir surah An-Nisa` ayat 97). Maka, sudah tidak tersisa syubhat lagi. Namun, hilangnya syubhat ini hanya bisa dicapai oleh orang yang menuntut ilmu. Beda halnya dengan orang yang tidak mau menuntut ilmu. Bahkan Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak bisa kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 18).

وَمَنۡ فَهِمَ هَٰذَا الۡمَوۡضِعَ وَالَّذِي قَبۡلَهُ فَهِمَ كَلَامَ الۡحَسَنِ الۡبَصۡرِيِّ، قَالَ: لَيۡسَ الۡإِيمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا بِالتَّمَنِّي وَلَٰكِنۡ مَا وَقَرَ فِي الۡقُلُوبِ وَصَدَقَتۡهُ الۡأَعۡمَالُ.

Barang siapa yang memahami peristiwa ini dan sebelumnya, maka dia akan paham ucapan Al-Hasan Al-Bashri. Beliau menuturkan, “Keimanan bukan sekadar dengan hiasan lahiriah dan angan-angan, akan tetapi keimanan adalah keyakinan yang kukuh di dalam kalbu dan dibuktikan oleh amalan-amalan.”

وَذٰلِكَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥ ۚ﴾ [فاطر: ١٠].

Tentang itu pula Allah taala berfirman yang artinya, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10).

الۡمَوۡضِعُ السَّادِسُ: قِصَّةُ الرِّدَّةِ بَعۡدَ مَوۡتِ النَّبِيِّ ﷺ، فَمَنۡ سَمِعَهَا لَا يَبۡقَى فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ مِنۡ شُبۡهَةِ الشَّيَاطِينِ الَّذِينَ يُسَمَّونَ الۡعُلَمَاءَ، وَهِيَ قَوۡلُهُمۡ هَٰذا هُوَ الشِّرۡكُ، لَٰكِنۡ يَقُولُونَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَمَنۡ قَالَهَا لَا يُكَفَّرُ بِشَيۡءٍ.

Peristiwa keenam adalah kisah kemurtadan sepeninggal Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Barang siapa mendengarnya maka tidak akan tersisa di dalam hatinya sebiji zarah syubhat pun yang dilontarkan oleh para setan yang mereka gelari ulama. Syubhat itu adalah ucapan mereka bahwa perbuatan ini memang kesyirikan, namun mereka masih mengucapkan “laa ilaaha illallaah” dan siapa saja yang sudah mengucapkannya, maka dia tidak bisa dikafirkan dengan sebab apapun.

وَأَعۡظَمُ مِنۡ ذٰلِكَ وَأَكۡبَرُ: تَصۡرِيحُهُمۡ بِأَنَّ الۡبَوَادِيَ لَيۡسَ مَعَهُمۡ مِنَ الۡإِسۡلَامِ شَعۡرَةٌ وَلَٰكِنۡ يَقُولُونَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَهُمۡ بِهَٰذِهِ اللَّفۡظَةِ أَهۡلُ إِسۡلَامٍ.

Yang lebih besar daripada itu adalah penegasan mereka bahwa orang-orang badui tidak melakukan ‘sehelai rambut pun’ amalan-amalan keislaman, akan tetapi mereka mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Jadi mereka dengan kalimat ini merupakan penganut agama Islam.

وَحَرَّمَ الۡإِسۡلَامُ مَالَهُمۡ وَدَمَهُمۡ مَعَ إِقۡرَارِهِمۡ بِأَنَّهُمۡ تَرَكُوا الۡإِسۡلَامَ كُلَّهُ. وَمَعَ عِلۡمِهِمۡ بِإِنۡكَارِهِمُ الۡبَعۡثَ، وَاسۡتِهۡزَائِهِمۡ بِمَنۡ أَقَرَّ بِهِ.

Islam mengharamkan harta dan darah orang-orang badui itu padahal mereka mengakui bahwa mereka meninggalkan seluruh amalan Islam. Apalagi mereka mengetahui bahwa mereka mengingkari hari kebangkitan dan mereka mengolok-olok orang yang menetapkan hari kebangkitan.

وَاسۡتِهۡزَائُهُمۡ وَتَفۡضِيلُهُمۡ دِينَ آبَائِهِمۡ الۡمُخَالِفَ لِدِينِ النَّبِيِّ ﷺ. وَمَعَ هَٰذَا كُلِّهِ يُصَرِّحُ هَٰؤُلَاءِ الشَّيَاطِينُ الۡمَرَدَةُ الۡجَهَلَةُ أَنَّ الۡبَدۡوَ أَسۡلَمُوا وَلَوۡ جَرَى مِنۡهُمۡ ذٰلِكَ كُلُّهُ؛ لِأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ. وَلَازِمُ قَوۡلِهِمۡ أَنَّ الۡيَهُودَ أَسۡلَمُوا لِأَنَّهُمۡ يَقولُونَهَا وَأَيۡضًا كُفۡرُ هَٰؤُلَاءِ أَغۡلَظُ مِنۡ كُفۡرِ الۡيَهُودِ بِأَضۡعَافٍ مُضَاعَفَةٍ، أَعۡنِي: الۡبَوَادِي الۡمُتَّصِفِينَ بِمَا ذَكَرۡنَا.

Pelecehan mereka dan sikap mereka lebih memuliakan agama leluhur mereka yang menyelisihi agama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Bersamaan dengan ini semua, para setan yang sangat durhaka lagi jahil itu menegaskan bahwa orang badui itu telah berislam walaupun semua sikap itu masih bercokol pada diri mereka, dengan alasan mereka mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Konsekuensi ucapan mereka ini berarti orang-orang Yahudi pun berislam karena mereka juga mengucapkannya. Bahkan kekufuran orang badui lebih parah daripada kekufuran orang Yahudi berkali lipat. Yang aku maksudkan adalah orang-orang badui yang memiliki sifat yang telah kami sebutkan.

وَالَّذِي يُبَيِّنُ ذٰلِكَ مِنۡ قِصَّةِ الرِّدَّةِ أَنَّ الۡمُرۡتَدِّينَ افۡتَرَقُوا فِي رِدَّتِهِمۡ، فَمِنۡهُمۡ مَنۡ كَذَّبَ النَّبِيَّ ﷺ وَرَجَعُوا إِلَى عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ وَقَالُوا: لَوۡ كَانَ نَبِيًّا مَا مَاتَ. وَمِنۡهُمۡ مَنۡ ثَبَتَ عَلَى الشَّهَادَتَيۡنِ، وَلَٰكِنۡ أَقَرَّ بِنُبُوَّةِ مُسَيۡلَمَةَ.

Yang menjelaskan (kekafiran orang yang melakukan pembatal keislaman walau mengucapkan “laa ilaaha illallaah”) dari kisah kemurtadan (sepeninggal Nabi) adalah bahwa orang-orang yang murtad itu berbeda-beda dalam kemurtadan mereka. Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan kembali menyembah berhala-berhala; dan mereka berkata: Andai dia benar-benar seorang nabi, niscaya dia tidak meninggal. Di antara mereka ada yang tetap di atas dua kalimat syahadat namun mereka mengakui kenabian Musailamah.

ظَنًّا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَشۡرَكَهُ فِي النُّبُوَّةِ؛ لِأَنَّ مُسَيۡلَمَةَ أَقَامَ شُهُودَ زُورٍ شَهِدُوا لَهُ بِذٰلِكَ، فَصَدَّقَهُمۡ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ. وَمَعَ هَٰذَا أَجۡمَعَ الۡعُلَمَاءُ أَنَّهُمۡ مُرۡتَدُّونَ وَلَوۡ جَهِلُوا ذٰلِكَ. وَمَنۡ شَكَّ فِي رِدَّتِهِمۡ فَهُوَ كَافِرٌ.

Karena menyangka bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melibatkannya dalam perkara kenabian. Latar belakangnya adalah Musailamah memberikan persaksian dusta, kemudian orang-orang menyaksikan persaksian palsunya itu, maka sebagian besar manusia membenarkannya. Bersamaan ini para ulama sepakat bahwa mereka adalah orang-orang yang murtad walaupun mereka tidak mengerti itu. Dan siapa saja yang ragu tentang kemurtadan mereka, maka dia kafir.

فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الۡعُلَمَاءَ أَجۡمَعُوا أَنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا وَرَجَعُوا إِلَى عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ وَشَتَمُوا رَسُولَ اللهِ ﷺ، هُمۡ وَمَنۡ أَقَرَّ بِنُبُوَّةِ مُسَيۡلَمَةَ فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ وَلَوۡ ثَبَتَ عَلَى الۡإِسۡلَامِ كُلِّهِ.

Apabila engkau mengetahui bahwa para ulama bersepakat bahwa orang-orang yang mendustakan, kembali menyembah berhala-berhala, dan mencela Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan orang-orang yang mengakui kenabian Musailamah dalam keadaan yang sama (yakni murtad) walaupun mereka tetap melakukan seluruh amalan keislaman.

وَمِنۡهُمۡ مَنۡ أَقَرَّ بِالشَّهَادَتَيۡنِ وَصَدَّقَ طُلَيۡحَةَ فِي دَعۡوَاهُ النُّبُوَّةَ.

Di antara mereka ada yang masih menetapkan dua kalimat syahadat, namun membenarkan Thulaihah yang mengaku nabi.

وَمِنۡهُمۡ مَنۡ صَدَّقَ الۡعَنۡسِيَّ صَاحِبَ صَنۡعَاءَ. وَكُلُّ هَٰؤُلَاءِ أَجۡمَعَ الۡعُلَمَاءُ أَنَّهُمۡ سَوَاءٌ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ كَذَّبَ النَّبِيَّ ﷺ وَرَجَعَ إِلَى عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ عَلَى حَالٍ وَاحِدَةٍ، وَمِنۡهُمۡ أَنۡوَاعٌ أُخَرُ.

Di antara mereka ada yang membenarkan (kenabian) Al-‘Ansi, seorang pemimpin Shan’a`. Mereka ini semua, para ulama sepakat bahwa mereka itu sama saja. Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan kembali menyembah berhala-berhala berada dalam keadaan yang sama. Di antara mereka ada jenis-jenis yang lain.

آخِرُهُمۡ الۡفُجَاءَةُ السُّلَمِيُّ، لَمَّا وَفَدَ عَلَى أَبِي بَكۡرٍ وَذَكَرَ لَهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قِتَالَ الۡمُرۡتَدِّينَ، وَطَلَبَ مِنۡ أَبِي بَكۡرٍ أَنۡ يَمُدَّهُ، فَأَعۡطَاهُ سِلَاحًا وَرَوَاحِلَ، فَاسۡتَعۡرَضَ السُّلَمِيَّ الۡمُسۡلِمَ وَالۡكَافِرَ يَأۡخُذُ أَمۡوَالَهُمۡ، فَجَهَزَ أَبُو بَكۡرٍ جَيۡشًا لِقِتَالِهِ، فَلَمَّا أَحَسَّ بِالۡجَيۡشِ قَالَ لِأَمِيرِهِمۡ: أَنۡتَ أَمِيرُ أَبِي بَكۡرٍ وَأَنَا أَمِيرُهُ، فَلَمۡ أَكۡفُرۡ. فَقَالَ: إِنۡ كُنۡتَ صَادِقًا فَأَلۡقِ السِّلَاحَ. فَأَلۡقَاهُ، فَبَعَثَ بِهِ إِلَى أَبِي بَكۡرٍ فَأَمَرَ بِتَحۡرِيقِهِ بِالنَّارِ وَهُوَ حَيٌّ.

(Kasus kemurtadan) yang terakhir adalah Al-Fuja`ah As-Sulami. Ketika dia datang menemui Abu Bakr, dia menyebutkan keinginannya untuk memerangi orang-orang yang murtad dan dia meminta dukungan dari Abu Bakr. Lalu Abu Bakr memberinya persenjataan dan hewan-hewan tunggangan. Namun As-Sulami membunuh membabi buta baik muslim maupun kafir dan mengambil harta-harta mereka. Maka, Abu Bakr menyiapkan satu pasukan untuk memeranginya.

Ketika pasukan itu bertemu, Al-Fuja`ah berkata kepada pemimpin pasukan itu, “Engkau pemimpin yang dipilih Abu Bakr dan aku pun pemimpin yang dipilih beliau, namun aku tidak kafir.”

Pemimpin pasukan itu berkata, “Jika engkau jujur, maka lemparkan senjatamu.”

 Dia pun melemparkannya, kemudian dia dibawa menghadap Abu Bakr, lalu Abu Bakr memerintahkan agar dia dibakar dengan api dalam keadaan hidup-hidup.

فَإِذَا كَانَ هَٰذَا حُكۡمُ الصَّحَابَةِ فِي هَٰذَا الرَّجُلِ مَعَ إِقۡرَارِهِ بِأَرۡكَانِ الۡإِسۡلَامِ الۡخَمۡسَةِ، فَمَا ظَنُّكَ بِمَنۡ لَمۡ يُقِرَّ مِنَ الۡإِسۡلَامِ بِكَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ إِلَّا أَنۡ يَقُولَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ بِلِسَانِهِ مَعَ تَصۡرِيحِهِ بِتَكۡذِيبِ مَعۡنَاهَا، وَتَصۡرِيحِهِ بِالۡبَرَاءَةِ مِنۡ دِينِ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَمِنۡ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى؟

Jika demikian ini hukum sahabat terhadap orang ini padahal dia masih mengakui rukun Islam yang lima, lalu bagaimana sangkaanmu dengan orang yang

  • tidak mengakui satu kalimat pun dari Islam kecuali dia hanya mengatakan “laa ilaaha illallaah” dengan lisannya,
  • bersamaan itu dia menegaskan sikapnya yang mendustakan maknanya,
  • dia juga menegaskan sikap berlepas dirinya dari agama Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan dari kitab Allah?

وَيَقُولُونَ: هَٰذَا دِينُ الۡحَضَرِ وَدِينُنَا دِينُ آبَائِنَا، ثُمَّ يُفۡتُونَ هَٰؤُلَاءِ الۡمَرَدَةُ الۡجُهَّالُ أَنَّ هَٰؤُلَاءِ مُسۡلِمُونَ وَلَوۡ صَرَّحُوا بِذٰلِكَ كُلِّهِ، إِذَا قَالُوا: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ. سُبۡحَانَكَ هَٰذَا بُهۡتَانٌ عَظِيمٌ.

Mereka (orang-orang badui) mengatakan bahwa (Islam) ini adalah agama orang yang hidup menetap, adapun agama kami adalah agama leluhur kami.

Kemudian orang-orang yang sangat durhaka lagi jahil itu memfatwakan bahwa mereka ini tetap merupakan kaum muslimin apabila mereka telah mengatakan “laa ilaaha illallaah” walaupun mereka menegaskan semua sikap (pembatal keislaman) itu.

Mahasuci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang amat besar.

وَمَا أَحۡسَنُ مَا قَالَ وَاحِدٌ مِنَ الۡبَوَادِي لَمَّا قَدِمَ عَلَيۡنَا وَسَمِعَ شَيۡئًا مِنَ الۡإِسۡلَامِ، قَالَ: أَشۡهَدُ أَنَّنَا كُفَّارٌ -يَعۡنِي هُوَ وَجَمِيعُ الۡبَوَادِي- وَأَشۡهَدُ أَنَّ الۡمُطَوِّعَ الَّذِي يُسَمِّينَا أَهۡلَ الۡإِسۡلَامِ أَنَّهُ كَافِرٌ.

Alangkah bagusnya ucapan salah seorang badui ketika dia datang ke tempat kami dan mendengar sedikit tentang Islam. Dia berkata, “Aku bersaksi bahwa kami adalah orang-orang kafir.” Yakni dia dan semua orang-orang badui. “Dan aku bersaksi bahwa guru yang menamai kami sebagai orang muslim bahwa dia kafir.”

تَمَّ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.

Tamat. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Semoga Allah mencurahkan selawat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau.


[1] HR. Muslim nomor 1905, At-Tirmidzi nomor 2382, dan An-Nasa`i nomor 3137.

Read More

Keadaan Manusia ketika Tertimpa Musibah

16 Maret 2020
/ / /

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitab Syarh Riyadhush Shalihin berkata:

لأن الإنسان عند حلول المصيبة له أربع حالات:

Sesungguhnya ketika terjadi musibah, manusia menyikapinya dengan empat keadaan:

الحالة الأولي: أن يتسخط.

والحالة الثانية: أن يصبر.

والحالة الثالثة: أن يرضي.

والحالة الرابعة: أن يشكر.

  1. Marah,
  2. Sabar,
  3. Rida,
  4. Syukur.

هذه أربع حالات تكون للإنسان عندما يصاب بالمصيبة.

Empat keadaan ini terjadi pada manusia ketika ditimpa musibah.

أما الحال الأولي: أن يتسخط إما بقلبه، أو بلسانه، أو بجوارحه.

التسخط بالقلب أن يكون في قلبه شئ على ربه من السخط والشره على الله والعياذ بالله وما أشبه، ويشعر وكأن الله قد ظلمه بهذه المصيبة.

وأما السخط باللسان فأن يدعو بالويل والثبور، يا ويلاه ويا ثبوراه وأن يسب الدهر فيؤذي الله عز وجل وما أشبه ذلك.

وأما التسخط بالجوارح: مثل أن يلطم خده أو يصقع راسه أو ينتف شعره أو يشق ثوبه وما أشبه هذا.

هذه حال السخط حال الهلعين الذين حرموا مِنَ الثواب ولم ينجوا من المصيبة بل الذين اكتسبوا الإثم، فصار عندهم مصيبتان مصيبة في الدين بالسخط، ومصيبة في الدنيا بما أتاهم مما يؤلمهم.

Keadaan pertama: Dia menyikapinya dengan kemarahan, baik dengan hati, lisan, maupun anggota badan.

Marah dengan hati bisa berupa ada perasaan marah dan tidak terima kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari perasaan itu dan semacamnya. Dia juga merasa bahwa Allah telah menzaliminya dengan musibah itu.

Marah dengan lisan adalah dengan dia mengucapkan ungkapan kekecewaan, seperti: Sial! Celaka! Atau dia mencela masa sehingga dia menyakiti Allah. Atau ungkapan-ungkapan semisal itu.

Marah dengan anggota badan semisal menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya, merobek bajunya, atau perbuatan semacam itu.

Sikap marah ini adalah keadaan orang yang pesimis. Yaitu orang-orang yang diharamkan dari pahala dan tidak lulus dari ujian musibah. Bahkan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan dosa. Akibatnya mereka mendapat dua musibah. Musibah dalam agama dengan sikap marah dan musibah di dunia berupa musibah yang menyakiti mereka.

أما الحال الثانية: فالصبر على المصيبة بأن يحبس نفسه، هو يكره المصيبة، ولا يحبها، ولا يحب أن وقعت، لكن يصبر نفسه؛ لا يتحدث باللسان بما يسخط الله، ولا يفعل بجوارحه ما يغضب الله، ولا يكون في قلبه شيء على الله أبدا، فهو صابر لكنه كاره لها.

Adapun keadaan kedua adalah sabar menghadapi musibah. Yaitu dengan mengekang jiwanya. Dia membenci musibah itu dan tidak mencintainya. Dia tidak mencintai musibah itu terjadi, namun dia menyabarkan dirinya. Dia tidak mengucapkan dengan lisannya ucapan yang dimurkai oleh Allah. Dia tidak berbuat dengan anggota badannya perbuatan yang dimurkai oleh Allah. Tidak pula ada di hatinya hal yang mengganjal terhadap Allah selama-lamanya. Jadi dia adalah orang yang sabar akan tetapi membenci musibah itu.

والحال الثالثة: الرضا بأن يكون الإنسان منشرحا صدره بهذه المصيبة ويرضى بها رضاء تامًا وكأنه لم يصب بها.

Keadaan ketiga adalah rida. Yaitu seseorang merasa lapang dada dengan musibah ini, rida dengan keridaan yang sempurna, dan seakan-akan dia tidak ditimpa musibah tersebut.

والحال الرابعة: الشكر فيشكر الله عليها وكان الرسول ﷺ إذا رأى ما يكره قال الحمد لله على كل حال.

فيشكر الله من أجل أن الله يرتب له من الثواب على هذه المصيبة أكثر مما أصابه.

Keadaan empat adalah bersyukur. Dia bersyukur kepada Allah atas musibah itu. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengucapkan, “Segala puji bagi Allah pada setiap keadaan.”

Jadi seseorang hendaknya bersyukur kepada Allah karena Allah akan membalasnya dengan pahala atas musibah ini lebih banyak daripada (kerugian akibat) musibah yang menimpanya.

Read More

Tingkatan Iman kepada Takdir

11 Maret 2020
/ / /

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (736 – 795H) di dalam kitab Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam fi Syarh Khamsina Haditsan min Jawami’ Al-Kalim (halaman 39) berkata:

وَالۡإِيمَانُ بِالۡقَدَرِ عَلَى دَرَجَتَيۡنِ:

Iman kepada takdir memiliki dua tingkatan:

إِحۡدَاهُمَا: الۡإِيمَانُ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى سَبَقَ فِي عِلۡمِهِ مَا يَعۡمَلُهُ الۡعِبَادُ مِنۡ خَيۡرٍ وَشَرٍّ وَطَاعَةٍ وَمَعۡصِيَةٍ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ وَإِيجَادِهِمۡ وَمَنۡ هُوَ مِنۡهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، وَمِنۡ أَهۡلِ النَّارِ، وَأَعَدَّ لَهُمُ الثَّوَابَ وَالۡعِقَابَ جَزَاءً لِأَعۡمَالِهِمۡ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ وَتَكۡوِينِهِمۡ، وَأَنَّهُ كَتَبَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُ وَأَحۡصَاهُ، وَأَنَّ أَعۡمَالَ الۡعِبَادِ تَجۡرِي عَلَى مَا سَبَقَ فِي عِلۡمِهِ وَكِتَابِهِ.

Pertama: Beriman bahwa Allah taala sudah sejak dahulu mengetahui apa yang akan dilakukan para hamba berupa kebaikan, kejelekan, ketaatan, atau kemaksiatan sebelum Dia menciptakan dan mengadakan mereka. (Allah juga sudah mengetahui sejak dahulu) siapa saja di antara mereka yang termasuk penghuni janah atau penghuni neraka. Allah telah menyiapkan untuk mereka pahala dan hukuman sebagai balasan amalan-amalan mereka sebelum menciptakan dan membentuk mereka. Juga beriman bahwa Allah telah menulis itu di sisi-Nya dan mencatatnya. Serta bahwa amalan para hamba berjalan sesuai dengan yang telah mendahului dalam ilmu-Nya dan catatan takdir-Nya.

وَالدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ أَفۡعَالَ عِبَادِهِ كُلَّهَا مِنَ الۡكُفۡرِ وَالۡإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ وَالۡعِصۡيَانِ وَشَاءَهَا مِنۡهُمۡ، فَهَٰذِهِ الدَّرَجَةُ يُثۡبِتُهَا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، وَيُنۡكِرُهَا الۡقَدَرِيَّةُ، وَالدَّرَجَةُ الۡأُولَى أَثۡبَتَهَا كَثِيرٌ مِنَ الۡقَدَرِيَّةِ وَنَفَاهَا غُلَاتُهُمۡ كَمَعۡبَدٍ الۡجُهَنِيِّ الَّذِي سُئِلَ ابۡنُ عُمَرَ عَنۡ مَقَالَتِهِ وَكَعَمۡرِو بۡنِ عُبَيۡدٍ وَغَيۡرِهِ.

Kedua: Bahwa Allah taala menciptakan seluruh perbuatan-perbuatan para hamba-hamba-Nya, berupa kekufuran, keimanan, ketaatan, dan kemaksiatan; dan Allah menghendakinya dari mereka.

Tingkatan ini ditetapkan oleh ahli sunah waljamaah dan diingkari oleh Qadariyyah. Sedangkan tingkatan pertama ditetapkan oleh sebagian besar Qadariyyah dan dinafikan oleh kalangan ekstremisnya mereka, seperti Ma’bad Al-Juhani—yaitu orang yang pendapatnya ditanyakan kepada Ibnu ‘Umar—, ‘Amr bin ‘Ubaid, dan selainnya.

وَقَدۡ قَالَ كَثِيرٌ مِنۡ أَئِمَّةِ السَّلَفِ نَاظِرُوا الۡقَدَرِيَّةَ بِالۡعِلۡمِ، فَإِنۡ أَقَرُّوا بِهِ خُصِمُوا وَإِنۡ جَحَدُوهُ فَقَدۡ كَفَرُوا، يُرِيدُونَ أَنَّ مَنۡ أَنۡكَرَ الۡعِلۡمَ الۡقَدِيمَ السَّابِقَ بِأَفۡعَالِ الۡعِبَادِ، وَأَنَّ اللهَ قَسَمَهُمۡ قَبۡلَ خَلۡقِهِمۡ إِلَى شَقِيٍّ وَسَعِيدٍ وَكَتَبَ ذٰلِكَ عِنۡدَهُ فِي كِتَابٍ حَفِيظٍ فَقَدۡ كَذَّبَ بِالۡقُرۡآنِ فَيَكۡفُرُ بِذٰلِكَ، وَإِنۡ أَقَرُّوا بِذٰلِكَ وَأَنۡكَرُوا أَنَّ اللهَ خَلَقَ أَفۡعَالَ عِبَادِهِ وَشَاءَهَا وَأَرَادَهَا مِنۡهُمۡ إِرَادَةً كَوۡنِيَّةً قَدَرِيَّةً فَقَدۡ خُصِمُوا، لِأَنَّ مَا أَقَرُّوا بِهِ حُجَّةً عَلَيۡهِمۡ فِيمَا أَنۡكَرُوهُ، وَفِي تَكۡفِيرِ هَٰؤُلَاءِ نِزَاعٌ مَشۡهُورٌ بَيۡنَ الۡعُلَمَاءِ. وَأَمَّا مَنۡ أَنۡكَرَ الۡعِلۡمَ الۡقَدِيمَ فَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَأَحۡمَدُ عَلَى تَكۡفِيرِهِ وَكَذٰلِكَ غَيۡرُهُمَا مِنۡ أَئِمَّةِ الۡإِسۡلَامِ.

Banyak dari para imam salaf telah berkata: Debatlah Qadariyyah dengan ilmu Allah. Apabila mereka menetapkannya, berarti mereka telah terbantah. Namun jika mereka menentangnya, maka mereka telah kafir.

Mereka inginkan bahwa siapa saja yang mengingkari:

  • ilmu Allah yang sudah sejak dahulu tentang perbuatan-perbuatan hamba,
  • Allah telah membagi mereka menjadi celaka dan bahagia sebelum menciptakan mereka,
  • Allah telah menulis itu di sisi-Nya di dalam kitab yang terjaga,

maka sungguh dia telah mendustakan Alquran sehingga dia menjadi kafir dengan itu.

Apabila mereka menetapkan hal itu, namun mengingkari bahwa Allah menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya, menghendakinya, dan menginginkan hal itu dari mereka sebagai suatu iradat kauniah yang telah ditakdirkan, maka mereka telah terbantah. Karena apa yang mereka telah tetapkan itu menjadi hujah terhadap mereka dalam hal yang mereka ingkari.

Dalam masalah pengafiran terhadap mereka ini ada perselisihan yang masyhur di antara para ulama. Adapun siapa saja yang mengingkari ilmu Allah yang sudah sejak dahulu, maka Asy-Syafi’i dan Ahmad menegaskan atas pengafirannya. Begitu pula selain mereka berdua dari para imam Islam.

Read More

Adab Mendekat kepada Alim, Memanggilnya, dan Memulai Pembicaraan

20 Februari 2020
/ / /

Syekh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah di dalam kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim Ad-Din berkata,

الرَّابِعَةُ: فِي هَٰذِهِ الۡقِصَّةِ أَنۡوَاعٌ مِنَ الۡأَدَبِ، مِنۡهَا اكۡتِنَافُ أَحَدِ هَٰذَيۡنِ الرَّجُلَيۡنِ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، فَصَارَ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَوَاحِدٌ عَنۡ يَسَارِهِ، وَفِي ذٰلِكَ قُرۡبُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنۡهُمَا مِنۡهُ لِلتَّمَكُّنِ مِنۡ وَعۡيِ مَا يَقُولُهُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَمِنۡهَا مُخَاطَبَتُهُ بِالۡكُنۡيَةِ، وَهُوَ مِنۡ حُسۡنِ الۡأَدَبِ فِي الۡخِطَابِ، وَمِنۡهَا مُرَاعَاةُ حَقِّ الصَّاحِبِ وَعَدَمُ سَبۡقِهِ إِلَى الۡحَدِيثِ إِلَّا إِذَا فُهِمَ مِنۡهُ مَا يُشعر رِضَاهُ بِذٰلِكَ، وَلَعَلَّ يَحۡيَى بۡنَ يَعۡمَرَ رَأَى أنَّ صَاحِبَهُ سَكَتَ وَلَمۡ يَبۡدَأۡ بِالۡكَلَامِ مَعَ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، فَفَهِمَ مِنۡهُ أَنَّهُ تَرَكَ الۡحَدِيثَ لَهُ.

Keempat: Di dalam kisah ini ada macam-macam adab.

Di antaranya adalah dua orang pria ini mengapit ‘Abdullah bin ‘Umar, sehingga salah satunya di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri. Dalam perbuatan itu menunjukkan dekatnya posisi masing-masing keduanya dari Ibnu ‘Umar agar mudah menangkap apa yang akan beliau­­—radhiyallahu ‘anhu—ucapkan.

Di antara adab dalam kisah ini adalah memanggil beliau dengan nama kunyah. Ini termasuk adab yang baik dalam berbicara.

Di antara adab dalam kisah ini adalah memperhatikan hak temannya dan tidak mendahuluinya untuk memulai pembicaraan kecuali jika dipahami ada keridaan darinya akan hal itu. Sepertinya Yahya bin Ya’mar melihat bahwa temannya diam dan tidak mulai pembicaraan dengan ‘Abdullah bin ‘Umar, sehingga beliau memahami bahwa temannya menyerahkan pembicaraan kepadanya.

Read More

Pembela Sunnah

13 Februari 2020
/ / /

Sang Ahli Ibadah

Dikenal sebagai ulama yang piawai dalam ilmu hadis dengan kekuatan hafalan sangat kuat. Hidup di era tabi’in dengan nama-nama besarnya tidaklah menyurutkan kredibilitasnya di deretan ulama-ulama tersebut. Beliaulah seorang ulama tabi’in yang bernama lengkap Ibrahim bin Yazid bin Qais bin Al Aswad bin Amr bin Rabi’ah bin Dzuhl bin Sa’d bin Malik bin An Nakha’ An Nakha’i Al Kufi lebih akrab dengan sebutan Ibrahim An Nakha’i rahimahullah.

Sejak kecil Ibrahim hidup di lingkungan keluarga ulama besar, ayahandanya adalah Yazid bin Qais An Nakha’i dan ibundanya adalah Mulaikah bintu Yazid An Nakha’iyah. Pamannya dari jalur ayah adalah Alqamah bin Qais An Nakha’i sementara paman dari jalur ibu adalah Al Aswad bin Yazid An Nakha’i dan Abdurrahman bin Yazid An Nakha’i. Telah diketahui bahwa Al Aswad bin Yazid dan Abdurrahman bin Yazid, keduanya adalah ulama tabiin yang tsiqah (tepercaya) di Kota Kufah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 47 H atau disebutkan dalam pendapat yang lain pada tahun 39 H. Beliau tumbuh besar di Kota Kufah sebagai salah satu pusat perbendaharaan ilmu agama dan hadis saat itu karena masih banyak shahabat dan ulama tabi’in yang tinggal di kota itu.

Adapun An Nakha’i merupakan nisbat kepada sebuah kabilah besar dari Madzhaj di negeri Yaman. Sejak dahulu kabilah Nakha’ bertaburan dengan ulama-ulama besar. Mengingatkan kita kepada doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kabilah ini. Tatkala mereka mengirim delegasi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan keislamannya. Maka Nabi pun mendoakan mereka اللّٰهُمَّ بَارِكْ فِي النَّخَعِ (Ya Allah berkahilah kabilah Nakh’) dan Allah pun mengabulkan doa Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibrahim pernah bertemu dengan sejumlah shahabat namun tidak ternukilkan satu pun bahwa beliau meriwayatkan dari mereka. Saat masih kecil, beliau pernah bertemu dengan ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika menemani pamannya dalam suatu keberangkatan ibadah haji. Sehingga tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau pernah mendengar hadis dari Aisyah. Bahkan tidak pula riwayat dari shahabat yang yang sempat tinggal bersamanya di kota Kufah seperti Al Bara’ bin ‘Azib, Abu Juhaifah, dan Amr bin Huraits.

Namun demikian, Ibrahim banyak mewarisi ilmunya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayatnya yang terkenal yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud adalah dari para tokoh ulama tabi’in seperti Al Aswad bin Yazid dan Alqamah bin Qais serta Abdurrahman bin Yazid, semuanya adalah pamannya sendiri. Demikian juga dari ulama lain seperti: Masruq, Ar Rabi’ bin Khaitsam, Syuraih Al Qadhi, Abu Zur’ah Al Bajali, Khaitsam bin Abdurrahman, Abu Abdirrahman As Sulami, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Ibrahim adalah referensi hadis paling dicari oleh para perawi hadis di Kota Kufah. Beliau sering diilustrasikan bersama dengan Alqamah sebagai pewaris ilmunya Abdullah Bin Mas’ud. Tercatat nama-nama besar yang pernah meriwayatkan hadis dari beliau seperti: Al Mughirah bin Miqsam Adh Dhabbi, Manshur bin Mu’tamir As Sulami, Abdullah bin ‘Aun Al Muradi, Abu Ishaq Asy Syabani, Al Harits bin Yazid Al ‘Akli, Abu Masy’ar Ziyad bin Kulaib, Abdullah bin Syabramah, Al A’masy Sulaiman bin Mihran, Hammad bin Abi Sulaiman dan yang lainnya.

PUJIAN ULAMA

Tidak ada silang pendapat di antara ulama tempo dulu atau setelahnya bahwa Ibrahim An Nakha’i adalah pakar ilmu fikih di masanya. Pujian-pujian banyak tertuju kepadanya dari para ulama yang selevel dengannya baik yang sezaman atau generasi setelahnya. Terlebih pujian dari murid-muridnya yang tidak bisa terungkap kalimat demi kalimat.

Adz Dzahabi rahimahullah memberikan pujian yang sangat banyak dalam biografinya bahwa Ibrahim adalah seorang imam, hafizh (penghafal hadis) dan ahli fikihnya negeri Irak. Beliau sangat mengetahui dan menguasai ilmunya Abdullah bin Mas’ud, riwayatnya sangat luas, mulia kedudukannya di kalangan ulama dan memiliki keistimewaan yang banyak. Terkhusus kekuatan hafalannya yang memang sangat luar biasa, karena Ibrahim tidak pernah menulis hadis sama sekali. Semua hadis diriwayatkan dengan mengandalkan memori hafalannya yang sangat kokoh.” Sampai-sampai Thalhah bin Musharrif pernah berkata, “Tidak ada seorang lelaki pun yang lebih aku kagumi di Kufah daripada Ibrahim dan Khaitsam.”

Ibrahim adalah ahli fatwa Kota Kufah di zamannya bersama dengan Asy Sya’bi. Beliau seorang pribadi yang saleh dan bertakwa. Demikian sanjungan dan rekomendasi Adz Dzahabi terhadap beliau dalam kitabnya Siyar A’lamin Nubala’. Ulama sekaliber Asy Sya’bi pun telah mengakui kapasitas keilmuannya dan keluasan periwayatannya.

Kebiasaan Asy Sya’bi, Ibrahim An Nakha’i, dan Abu Dhuha adalah berkumpul di masjid untuk saling mempelajari dan berdiskusi hadis di masjid. Tatkala datang suatu hadis yang tidak mereka miliki riwayatnya, maka mereka pun mengarahkan pandangannya kepada Ibrahim An Nakha’i. Oleh sebab itulah, Yahya bin Ma’in lebih menyukai Marasil[1]nya Ibrahim daripada Marasilnya Asy Sya’bi.

Suatu ketika ada sekelompok orang datang menemui Sa’id bin Jubair lantas meminta fatwa kepadanya. Maka Sa’id pun merasa terkejut seraya mengatakan kepada mereka, “Kalian meminta fatwa kepadaku sementara masih ada Ibrahim di tengah kalian?!” Hal yang sama dilakukan oleh Abu Razin ketika didatangi seseorang lalu meminta fatwa kepadanya. Maka Abu Razin pun menjawab, “Bertanyalah kepada Ibrahim An Nakha’i lalu kembali ke sini dan sampaikan kepadaku apa jawabannya.” Al Mughirah bin Miqsam mengatakan, “Kami sangat segan kepada Ibrahim sebagaimana keseganan kami terhadap penguasa.”

KEBENCIANNYA TERHADAP KELOMPOK SESAT

Kontribusinya terhadap Islam tidak hanya sebatas dalam ilmu hadis, namun Ibrahim sangat aktif membantah kelompok-kelompok sesat terutama Murji’ah. Pada berbagai kesempatan Ibrahim mengingatkan kaum muslimin saat itu, “Janganlah kalian bermajelis dengan orang-orang Murji’ah.” Beliau pernah menyatakan, “Keberadaan orang-orang Murji’ah di tengah umat ini lebih aku khawatirkan daripada sekte Azariqah.” Adapun Azariqah adalah sebuah sekte kelompok Khawarij dengan pencetusnya yang bernama Nafi’ bin Al Azraq. Azariqah termasuk salah satu sekte khawarij (sekte yang gemar mengafirkan kaum muslimin) yang sangat ekstrem. Beliau pun menegaskan bahwa pemikiran irja’ adalah pemikiran yang bid’ah.

Secara etimologi bahasa istilah Murji’ah diambil dari kata irja’ yang artinya penangguhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَالُوا أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ وَابۡعَثۡ فِي الۡمَدَائِنِ حَاشِرِينَ

Mereka mengatakan, ‘Tundalah (urusan) dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (tukang sihir).” [QS. Asy Syu’ara: 36].

Adapun definisi Murji’ah secara istilah adalah kelompok sesat yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di antaranya meyakini bahwa iman itu sebatas pengucapan lisan saja, mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan dan iman tidak dapat bertambah dan berkurang, serta ideologi sesat yang lainnya. Maka sejak dahulu kala mereka telah divonis sebagai kelompok sesat oleh para ulama salaf.

Begitu kerasnya sikap Ibrahim rahimahullah terhadap kelompok ini hingga pernah mengusir seorang lelaki yang berbicara dengan pemahaman Murji’ah di majelisnya. Laki-laki tersebut bernama Muhammad dan akhirnya dilarang untuk menghadiri majelisnya Ibrahim.  Sebagaimana beliau juga pernah melarang sekelompok orang Murji’ah untuk masuk ke majelisnya. Al A’masy rahimahullah menuturkan bahwa ia pernah berada di majelisnya Ibrahim lalu disebut-sebutlah kelompok Murji’ah di hadapan Ibrahim. Maka beliau pun mengatakan, “Demi Allah mereka itu lebih aku benci daripada orang-orang ahli kitab.”

Antusiasnya dalam membela para shahabat memang sangat luar biasa. Pernah ada seseorang mengatakan kepada Ibrahim, “Ali lebih aku cintai daripada Abu Bakar dan Umar.” Maka Ibrahim mengatakan kepadanya, “Seandainya Ali mengetahui ucapanmu, pasti dia akan mencambuk punggungmu. Kalau kamu hendak duduk bersama kami dengan ucapanmu ini, maka jangan sekali-kali engkau duduk bersama kami.” Beliau juga menyatakan, “Aku terjun dari atas langit lebih aku sukai daripada membicarakan keburukan Utsman bin Affan.”

AHLI IBADAH DAN TAWADHU’

Menurut penuturan sang istri yang bernama Hunaidah, Ibrahim selalu menjaga pelaksanaan puasa Dawud dan telah terbiasa sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Adapun pada malam harinya apabila manusia sudah mulai tertidur, Ibrahim mengenakan pakaian yang bagus dan memakai parfum. Kemudian beliau tetap tinggal di masjid untuk beribadah hingga masuk waktu shubuh.

Al A’masy menuturkan bahwa kebiasaan Ibrahim adalah melakukan salat sunah lalu datang menemui kami untuk duduk hanya sesaat lalu pergi meninggalkan kami seolah-olah dia sedang sakit. Ibrahim pergi meninggalkan mereka untuk kembali fokus dan tenggelam dalam ibadahnya.

Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitabnya Al Muntadzam fi Tarikhil Muluk wal Umam membawakan pengalaman pribadi Ibrahim dan muridnya Al A’masy. Telah diketahui bahwa Ibrahim adalah al a’war (orang yang buta sebelah). Sedangkan Al A’masy (Sulaiman bin Mihran) adalah orang yang lemah pandangan matanya dan sering mengeluarkan air mata. Al A’masy menuturkan, “Suatu hari aku keluar bersama Ibrahim An Nakha’i untuk mencari masjid Jami’. Saat kami berada di salah satu jalan Kota Kufah, tiba-tiba Ibrahim mengatakan kepadaku, “Wahai Sulaiman.” “Ada apa?” Jawabku. Ia berkata, “Sekiranya engkau mengambil jalan yang lain di Kota Kufah supaya kita tidak melewati jalan yang sama dan berpapasan dengan orang-orang bodoh. Aku khawatir mereka akan melihat kepada a’war (orang yang buta sebelah) dan a’masy (orang yang lemah pandangannya) lalu mereka menggibahi kita dan akhirnya berdosa.” Aku pun berkata, “Wahai Abu Imran, ada apa dengan dirimu kalau kita mendapatkan pahala dan mereka berdosa?” Beliau pun menjawab, “Ya subhanallah. Jika kita selamat dan mereka juga selamat itu lebih baik daripada kita mendapatkan pahala dan mereka berdosa.”

Di antara keutamaan akhlak beliau adalah tidak suka tampil untuk berfatwa. Bukan karena beliau bakhil ilmu dan tidak ingin berbagi faidah, atau karena kapasitas keilmuan beliau yang kurang sehingga tidak mengetahui jawabannya. Namun ini semua karena kerendahan hatinya dan beliau menyadari bahwa tanggung jawabnya yang tidak ringan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Demikianlah karakter ulama salaf, mereka berharap jika ada ulama lain yang sudah memberikan jawaban dan fatwa. Seringkali ketika ditanya dan dimintai fatwanya beliau justru balik bertanya, “Tidakkah engkau mendapatkan seseorang selain aku untuk ditanya?” Hal ini selaras dengan karakter Ibrahim sebagai seorang pendiam. Keberadaan beliau di tengah-tengah sebuah kaum sering tidak disadari oleh para hadirin.

Terkait hal ini, Asy’ats bin Siwar mengatakan, “Aku pernah bermajelis di hadapan Ibrahim antara waktu Ashar sampai Maghrib namun beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun.” Beliau pun tidak berbicara kecuali jika ditanya atau kondisi mengharuskan beliau angkat bicara.

WAFATNYA

Ibrahim An Nakhai rahimahullah meninggal pada tahun 96 H pada usia empat puluh sembilan tahun dan belum genap berusia lima puluh tahun. Ibnu Sa’ad menukilkan adanya kesepakatan pendapat ulama bahwa Ibrahim meninggal pada tahun tersebut. Kematian beliau ini terjadi pada masa pemerintahan Al Walid bin Abdul Malik di Kota Kufah.

Imran Al Khiyath berkisah, “Kami pernah datang menemui Ibrahim di rumah Ibrahim beberapa saat sebelum beliau wafat. Kami pun datang dalam kondisi beliau menangis sehingga kami bertanya kepadanya, “Apa gerangan yang membuat Anda menangis?” Beliau pun menjawab, “Aku sedang menunggu kedatangan malaikat maut, dan aku tidak tahu apakah dia akan datang dengan membawa berita gembira surga atau neraka.”

Ibnu ‘Aun berkisah, “Tatkala Ibrahim akan meninggal, kami pun datang ke rumahnya lantas kami bertanya kepadanya, “Apa yang akan Anda wasiatkan kepada kami?” Maka Ibrahim mengatakan, “Aku wasiatkan agar kalian tidak menjadikan batu bata di atas kuburanku, buatkanlah liang lahad untukku dan jangan mengikuti jenazahku dengan api.”

Pada hari wafatnya, jenazah beliau dimakamkan pada malam hari. Kematian beliau ini menyisakan kesedihan yang mendalam pada diri kaum muslimin. Asy Sya’bi mengatakan, “Demi Allah tidak ada sepeninggal Ibrahim ulama yang semisal dengannya baik di Kufah, Bashrah, Syam, atau Hijaz.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas jasa dan kebaikan Ibrahim dengan pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Referensi:

  • Siyar A’lamin Nubala karya Adz Dzahabi.
  • Al Muntadzam fi Tarikhil Muluk wal Umam karya Ibnul Jauzi.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 76 vol.07 1441 H rubrik Biografi. Pemateri: Ustadz Abu Hafy Abdullah.


[1] Marasil adalah jenis riwayat hadis seorang tabiin langsung menyandarkan hadisnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Read More