Monthly Archives Desember 2019

Perbedaan Al-Firqah An-Najiyah dengan Ath-Tha`ifah Al-Manshurah

23 Desember 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah berkata,

السُّؤَالُ الثَّالِثُ: الۡفِرَقُ النَّاجِيَةُ وَالطَّائِفَةُ الۡمَنۡصُورَةُ

Soal ketiga: Firkah yang selamat dan golongan yang ditolong

هَلۡ هُنَاكَ فَرۡقٌ بَيۡنَ “الۡفِرَقِ النَّاجِيَةِ” وَ “الطَّائِفَةِ الۡمَنۡصُورَةِ”؟

Apakah di sana ada perbedaan antara firkah yang selamat dan golongan yang ditolong?

الۡجَوَابُ:

أَبَدًا، “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ” هِيَ “الۡمَنۡصُورَةُ”. لَا تَكُونُ “نَاجِيَةً” إِلَّا إِذَا كَانَتۡ “مَنۡصُورَةً”، وَلَا تَكُونُ “مَنۡصُورَةً” إِلَّا إِذَا كَانَتۡ “نَاجِيَةً”، هَٰذِهِ أَوۡصَافُهُمۡ: “أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ”، “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ”، “الطَّائِفَةُ الۡمَنۡصُورَةُ”.

Jawab:

Firkah yang selamat adalah yang ditolong. Selama-lamanya. Tidak bisa suatu kelompok akan selamat kecuali apabila dia ditolong. Tidak bisa golongan itu ditolong kecuali apabila dia selamat. Ini adalah sifat-sifat mereka, ahli sunah waljamaah, firkah yang selamat, golongan yang ditolong.

وَمَنۡ أَرَادَ أَنۡ يُفَرِّقَ بَيۡنَ هَٰذِهِ الصِّفَاتِ، وَيَجۡعَلَ هَٰذِهِ لِبَعۡضِهِمۡ وَهَٰذِهِ لِبَعۡضِهِمۡ الۡآخَرِ؛ فَهُوَ يُرِيدُ أَنۡ يُفَرِّقَ أَهۡلَ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، فَيَجۡعَلَ بَعۡضَهُمۡ فِرۡقَةً نَاجِيَةً، وَبَعۡضَهُمۡ طَائِفَةً مَنۡصُورَةً.

وَهَٰذَا خَطَأٌ؛ لِأَنَّهُمۡ جَمَاعَةٌ وَاحِدَةٌ، تَجۡتَمِعُ فِيهَا كُلُّ صِفَاتِ الۡكَمَالِ وَالۡمَدۡحِ، فَهُمۡ “أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ”، وَهُمۡ “الۡفِرۡقَةُ النَّاجِيَةُ”، وَهُمۡ “الطَّائِفَةُ الۡمَنۡصُورَةُ”، وَهُمۡ “الۡبَاقُونَ عَلَى الۡحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ”، وَهُمۡ “الۡغُرَبَاءُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ”.

Siapa saja yang ingin memisahkan sifat-sifat ini dan menjadikan sifat ini untuk sebagian kelompok dan sifat itu untuk sebagian lainnya, maka dia hanya ingin memecah belah ahli sunah waljamaah. Dia menjadikan sebagian mereka sebagai firkah yang selamat dan sebagian lainnya sebagai golongan yang ditolong.

Ini keliru, karena mereka adalah satu jemaah. Semua sifat kesempurnaan dan pujian terkumpul di dalamnya. Jadi mereka adalah ahli sunah waljamaah. Mereka adalah firkah yang selamat. Mereka adalah golongan yang ditolong. Mereka adalah orang-orang yang tetap berada di atas kebenaran hingga terjadinya hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang asing di akhir zaman.

Read More

Batasan Jumlah Firkah

23 Desember 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam kitab Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah ditanya sebagai berikut,

السُّؤَالُ الثَّانِي: افۡتِرَاقُ الۡأُمَّةِ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً

Soal kedua: Perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga firkah

فَضِيلَةَ الشَّيۡخِ: يَقُولُ الرَّسُولُ ﷺ: (سَتَفۡتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً).

فَهَلۡ الۡعَدَدُ مَحۡصُورٌ أَوۡ لَا؟

Syekh yang mulia, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firkah.”[1] Apakah hitungan ini dibatasi atau tidak?

الۡجَوَابُ:

لَيۡسَ هَٰذَا مِنۡ بَابِ الۡحَصۡرِ؛ لِأَنَّ الۡفِرَقَ كَثِيرَةٌ جِدًّا، إِذَا طَالَعۡتُمۡ فِي كُتُبِ الۡفِرَقِ وَجَدۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِرَقٌ كَثِيرَةٌ، لَكِنۡ – وَاللهُ أَعۡلَمُ – إِنَّ هَٰذِهِ الثَّلَاثَ وَالسَّبۡعِينَ هِيَ أُصُولُ الۡفِرَقِ، ثُمَّ تَشَعَّبَتۡ مِنۡهَا فِرَقٌ كَثِيرَةٌ.

وَمَا الۡجَمَاعَاتُ الۡمُعَاصِرَةُ الۡآنَ، الۡمُخَالِفَةُ لِجَمَاعَةِ أَهۡلِ السُّنَّةِ؛ إِلَّا امۡتِدَادٌ لِهَٰذِهِ الۡفِرَقِ، وَفُرُوعٌ عَنۡهَا.

Jawab:

Ini bukan batasan karena firkah-firkah itu ada banyak sekali. Apabila kalian menelaah kitab-kitab yang membahas firkah-firkah, maka kalian akan mendapatinya ada banyak. Namun—wallahualam—bahwa ketujuh puluh tiga inilah pokok firkah-firkah tersebut. Kemudian bercabang darinya banyak firkah lagi. Tidaklah jemaah-jemaah gaya baru sekarang, yang menyelisihi jemaah ahli sunah kecuali merupakan pengembangan dari firkah dan cabang darinya.


[1] Sudah berlalu penyebutan jalur-jalur periwayatannya.

Read More

Ghuluw, Sebab Kesesatan

22 Desember 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam ceramah umum bertajuk Lamhah ‘anil Firaq Adh-Dhallah ditanya sebagai berikut,

السُّؤَالُ الۡأَوَّلُ: أَسۡبَابُ الۡغُلُوِّ فِي الدِّينِ

Soal pertama: Sebab-sebab berlebih-lebihan dalam agama

لَقَدۡ نَهَى اللهُ وَرَسُولُهُ ﷺ عَنِ الۡغُلُوِّ فِي الدِّينِ؛ فَهَلۡ سَبَبُ انۡحِرَافِ الۡفِرَقِ عَنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ الۡغُلُوُّ؟ وَمَا أَمۡثِلَةُ ذٰلِكَ مِنَ الۡفِرَقِ؟

Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama. Lalu apakah sebab penyimpangan kelompok-kelompok itu dari ahli sunah waljamaah adalah ghuluw? Apa ada contoh kelompok yang demikian? 

الۡجَوَابُ:

“الۡخَوَارِجُ” ظَاهِرٌ أَنَّ سَبَبَ انۡحِرَافِهِمۡ الۡغُلُوُّ فِي الدِّينِ؛ لِأَنَّهُمۡ تَشَدَّدُوا فِي الۡعِبَادَةِ عَلَى غَيۡرِ هُدَى وَبَصِيرَةٍ، وَأَطۡلَقُوا عَلَى النَّاسِ الۡكُفۡرَ عَنۡ غَيۡرِ بَصِيرَةٍ، لِأَنَّهُمۡ يُخَالِفُونَهُمۡ فِي مَذۡهَبِهِمۡ.

Jawab:

Khawarij jelas bahwa sebab penyimpangannya adalah berlebih-lebihan dalam agama karena mereka memberatkan diri dalam ibadah tanpa petunjuk dan ilmu. Mereka mengafirkan orang secara mutlak dengan tanpa ilmu karena orang-orang itu menyelisihi mazhab mereka.

فَلَا شَكَّ أَنَّ الۡغُلُوَّ فِي الدِّينِ هُوَ أَسَاسُ الۡبَلَاءِ، قَالَ – تَعَالَى -:

﴿قُلۡ يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِى دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ﴾.

Maka, tidak ragu bahwa sikap berlebih-lebihan dalam agama adalah asas musibah ini. Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dengan cara yang tidak benar.” (QS. Al-Ma`idah: 77).

قَالَ ﷺ: (إِيَّاكُمۡ وَالۡغُلُوُّ؛ فَإِنَّمَا أَهۡلَكَ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ الۡغُلُوُّ).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah kalian dari sikap berlebih-lebihan karena sikap berlebih-lebihan inilah yang membinasakan orang sebelum kalian.”[1] 

وَالۡغُلُوُّ فِي كُلِّ شَيۡءٍ هُوَ: الزِّيَادَةُ عَنِ الۡحَدِّ الۡمَطۡلُوبِ (وَكُلُّ شَيۡءٍ تَجَاوَزَ حَدَّهُ انۡقَلَبَ إِلَى ضِدِّهِ).

وَنَجِدُ أَنَّ “الۡمُعَطِّلَةَ لِلصِّفَاتِ” سَبَبُ انۡحِرَافِهِمۡ الۡغُلُوُّ فِي التَّنۡزِيهِ، وَسَبَبُ انۡحِرَافِ “الۡمُمَثِّلَةِ وَالۡمُشَبِّهَةِ” غُلُوُّهُمۡ فِي الۡإِثۡبَاتِ.

فَالۡغُلُوُّ بَلَاءٌ، وَالۡوَسَطُ وَالۡاِعۡتِدَالُ هُوَ الۡخَيۡرُ فِي كُلِّ الۡأُمُورِ.

فَلَا شَكَّ أَنَّ لِلۡغُلُوِّ دَوۡرًا فِي ضَلَالِ الۡفِرَقِ عَنِ الۡحَقِّ، كُلُّ غُلُوِّهِ بِحَسۡبِهِ.

Ghuluw dalam segala sesuatu artinya melebihi dari batasan yang ditentukan. Setiap yang melebihi batasannya akan berbalik ke arah lawannya.  Kita dapati bahwa orang-orang yang menolak sifat-sifat, sebab penyimpangan mereka adalah berlebih-lebihan dalam menyucikan Allah. Sebab penyimpangan orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk adalah sikap berlebih-lebihan mereka dalam menetapkan sifat Allah. Jadi ghuluw adalah musibah, sedangkan sikap pertengahan dan sedang adalah kebaikan dalam segala urusan. Jadi tidak diragukan bahwa ghuluw memiliki peran dalam kesesatan kelompok-kelompok itu dari kebenaran. Masing-masing sesuai dengan kadar ghuluw-nya.


[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (1/215, 347), An-Nasa`i nomor 3057, Ibnu Majah nomor 3029, Ibnu Abu ‘Ashim nomor 102, Ibnu Khuzaimah (4/274), Ibnu Al-Jarud dalam Al-Muntaqa nomor 473, Ibnu Hibban nomor 1011, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir nomor 12747, Al-Hakim (1/466), Al-Baihaqi (5/127), Abu Ya’la Al-Maushili (4/316, 357) dari hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Read More