Penyebaran Firkah-firkah dan Keanekaragamannya, serta Penyelisihan Ahli Sunah Waljamaah terhadap Mereka

Penyebaran Firkah-firkah dan Keanekaragamannya, serta Penyelisihan Ahli Sunah Waljamaah terhadap Mereka

17 November 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah di dalam Lamhah ‘anil Firaqidh Dhallah berkata,

انۡتِشَارُ الۡفِرَقِ وَتَنَوُّعُهَا وَمُخَالَفَةُ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ لَهُمۡ

Penyebaran Firkah-firkah dan Keanekaragamannya, serta Penyelisihan Ahli Sunah Waljamaah terhadap Mereka

وَتَفَرَّقَتۡ بَعۡدَهَا فِرَقٌ كَثِيرَةٌ لَا يُحۡصِيهَا إِلَّا اللهُ، وَصُنِّفَتۡ فِي هَٰذَا كُتُبٌ، مِنۡهَا:

١- كِتَابُ: “الۡفَرۡقُ بَيۡنَ الۡفِرَقِ” لِلۡبَغۡدَادِيِّ.

٢- كِتَابُ: “الۡمِلَلُ وَالنِّحَلُ” لِمُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡكَرِيمِ الشَّهۡرَسۡتَانِيِّ.

٣- كِتَابُ: “الۡفِصَلُ فِي الۡمِلَلِ وَالنِّحَلِ” لِابۡنِ حَزۡمٍ.

٤- كِتَابُ: “مَقَالَاتُ الۡإِسۡلَامِيِّينَ وَاخۡتِلَافُ الۡمُصَلِّينَ” لِأَبِي الۡحَسَنِ الۡأَشۡعَرِيِّ.

كُلُّ هَٰذِهِ الۡكُتُبِ فِي بَيَانِ الۡفِرَقِ، وَتَنَوُّعِهَا، وَتَعۡدَادِهَا، وَاخۡتِلَافِهَا، وَتَطَوُّرَاتِهَا.

Setelah itu, empat firkah tadi terpecah menjadi banyak firkah. Tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah. Banyak kitab telah disusun tentangnya, di antaranya:

  1. Kitab Al-Farqu baina Al-Firaq karya Al-Baghdadi.
  2. Kitab Al-Milal wa An-Nihal karya Muhammad bin ‘Abdil Karim Asy-Syahrastani.
  3. Kitab Al-Fishal fil Milal wa An-Nihal karya Ibnu Hazm.
  4. Kitab Maqalat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaf Al-Mushallin karya Abu Al-Hasan Al-Asy’ari.

Setiap kitab ini menjelaskan berbagai firkah ini, baik macam-macamnya, bilangannya, perselisihannya, dan perkembangannya.

وَلَا تَزَالُ إِلَى عَصۡرِنَا هَٰذَا تَتَطَوَّرُ، وَتَزِيدُ، وَيَنۡشَأُ عَنۡهَا مَذَاهِبُ أُخۡرَى، وَتَنۡشَقُّ عَنۡهَا أَفۡكَارٌ جَدِيدَةٌ مُنۡبَثَقَةٌ عَنۡ أَصۡلِ الۡفِكۡرَةِ، وَلَمۡ يَبۡقَ عَلَى الۡحَقِّ إِلَّا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ هُمۡ عَلَى الۡحَقِّ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ، كَمَا قَالَ ﷺ: (لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنۡ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الۡحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمۡ مَنۡ خَذَلَهُمۡ حَتَّى يَأۡتِيَ أَمۡرُ اللهِ وَهُمۡ كَذٰلِكَ).

Senantiasa hingga masa kita ini terus merebak, bertambah, dan tumbuh darinya mazhab-mazhab lainnya. Terpecah darinya berbagai pemikiran baru yang muncul dari pokok pemikiran tadi. Dan tidak tersisa yang berada di atas kebenaran kecuali ahli sunah waljamaah. Dalam setiap zaman dan tempat, mereka berada di atas kebenaran hingga terjadi hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang unggul di atas kebenaran. Siapa saja yang menghina mereka tidak akan merugikan mereka, hingga urusan Allah datang dalam keadaan mereka tetap demikian.”[1]

أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ – وَالۡحَمۡدُ لِلهِ – يُخَالِفُونَ “الۡقَدَرِيَّةَ النُّفَاةَ”:

فَيُؤۡمِنُونَ بِالۡقَدَرِ، وَأَنَّهُ مِنۡ أَرۡكَانِ الۡإِيمَانِ السِّتَّةِ، وَأَنَّهُ لَا يَحۡصُلُ فِي هَٰذَا الۡكَوۡنِ شَيۡءٌ إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -، لِأَنَّهُ الۡخَلَّاقُ، الرَّبُّ، الۡمَالِكُ، الۡمُتَصَرِّفُ: ﴿ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىۡءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ وَكِيلٌ ۝٦٢ لَّهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ۗ﴾.

لَا أَحَدَ يَتَصَرَّفُ فِي هَٰذَا الۡكَوۡنِ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ – سُبۡحَانَهُ -، وَإِرَادَتِهِ، وَقُدۡرَتِهِ، وَتَقۡدِيرِهِ.

عَلِمَ اللهُ مَا كَانَ، وَمَا سَيَكُونُ فِي الۡأَزَلِ، ثُمَّ كَتَبَهُ فِي اللَّوۡحِ الۡمَحۡفُوظِ، ثُمَّ شَاءَهُ وَأَوۡجَدَهُ وَخَلَقَهُ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -.

Ahli sunah waljamaah—alhamdulillah—menyelisihi Qadariyyah Nufat (pengingkar takdir). Mereka (ahli sunah) beriman kepada takdir dan bahwa hal itu termasuk enam rukun iman. Tidak terjadi sesuatu pun di alam semesta ini kecuali dengan ketetapan dan takdir Allah subhanahu wa taala, karena Dia adalah Yang Maha Pencipta, Rabb, Yang Menguasai, Yang Mengatur. “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya milik-Nya lah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).

Tidak ada satu pun yang mengatur di alam semesta ini kecuali dengan kehendak-Nya—subhanah—, keinginan-Nya, kekuasaan-Nya, dan takdir-Nya. Allah tahu apa saja yang telah terjadi, apa saja akan terjadi. Allah mengetahuinya sejak azali (tidak didahului oleh ketidaktahuan) kemudian Allah tulis di loh mahfuz. Lalu Allah menghendakinya, mewujudkannya, dan menciptakannya—subhanahu wa taala—.

وَأَنَّ لِلۡعَبۡدِ مَشِيئَةً، وَكَسۡبًا، وَاخۡتِيَارًا، لَا أَنَّهُ مَسۡلُوبُ الۡإِرَادَةِ، مُجۡبَرٌ عَلَى أَفۡعَالِهِ – كَمَا تَقُولُ “الۡجَبۡرِيَّةُ الۡغُلَاةُ” -؛ فَهُمۡ يُخَالِفُونَهُمۡ.

Seorang hamba memiliki kehendak, usaha, dan pilihan. Seorang hamba tidak dirampas keinginannya dan tidak dipaksa atas perbuatannya sebagaimana pendapat Jabriyyah ekstrem. Jadi ahli sunah menyelisihi mereka.

وَمَذۡهَبُهُمۡ فِي صَحَابَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُمۡ يُوَالُونَهُمۡ كُلَّهُمۡ، أَهۡلَ الۡبَيۡتِ وَغَيۡرَ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ، يُوَالُونَ الصَّحَابَةَ كُلَّهُمۡ، الۡمُهَاجِرِينَ، وَالۡأَنۡصَارَ، وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمۡ بِإِحۡسَانٍ، وَيَمۡتَثِلُونَ بِذٰلِكَ قَوۡلَهُ – تَعَالَى -: ﴿وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟﴾.

Mazhab ahli sunah terhadap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa mereka loyal kepada mereka seluruhnya, baik ahli bait maupun bukan ahli bait. Mereka loyal kepada seluruh sahabat, Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka melaksanakan firman Allah taala yang artinya, “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka berdoa: Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan orang-orang yang mendahului kami beriman. Jangan Engkau jadikan ada kedengkian di hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10).

فَهُمۡ يُخَالِفُونَ “الشِّيعَةَ”، لِأَنَّهُمۡ يُفَرِّقُونَ بَيۡنَ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَيُوَالُونَ بَعۡضَهُمۡ، وَيُعَادُونَ بَعۡضَهُمۡ. فَأَهۡلُ السُّنَّةِ يُوَالُونَهُمۡ جَمِيعًا، وَيُحِبُّونَهُمۡ جَمِيعًا، وَالصَّحَابَةُ يَتَفَاضَلُونَ، وَأَفۡضَلُهُمۡ: الۡخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الۡعَشَرَةِ، ثُمَّ الۡمُهَاجِرُونَ أَفۡضَلُ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، وَأَصۡحَابُ بَدۡرٍ لَهُمۡ فَضِيلَةٌ، وَأَصۡحَابُ بَيۡعَةِ الرِّضۡوَانِ لَهُمۡ فَضِيلَةٌ، فَلَهُمۡ فَضَائِلُ – رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ -.

Mereka juga menyelisihi Syi’ah karena orang-orang Syi’ah membeda-bedakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka loyal kepada sebagian sahabat dan memusuhi sebagian yang lain. Ahli sunah loyal kepada mereka semua, mencintai mereka semua.

Para sahabat itu bertingkat-tingkat. Yang termulia adalah para khalifah yang rasid, kemudian sisa dari sepuluh sahabat, kemudian Muhajirin lebih mulia daripada Ansar, yang mengikuti perang Badr memiliki fadilat, yang mengikuti baiat Ridhwan memiliki fadilat. Jadi mereka memiliki banyak fadilat radhiyallahu ‘anhum.

وَيَعۡتَقِدُونَ: السَّمۡعَ وَالطَّاعَةَ – خِلَافًا “لِلۡخَوَارِجِ” -؛ فَهُمۡ يَعۡتَقِدُونَ السَّمۡعَ وَالطَّاعَةَ لِوُلَاةِ أُمُورِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَلَا يَرَوۡنَ الۡخُرُوجَ عَلَى إِمَامِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَإِنۡ حَصَلَ مِنۡهُ خَطَأٌ، مَا دَامَ هَٰذَا الۡخَطَأُ دُونَ الۡكُفۡرِ، وَدُونَ الشِّرۡكِ، حَيۡثُ نَهَى ﷺ عَنِ الۡخُرُوجِ عَلَيۡهِمۡ لِمُجَرَّدِ الۡمَعَاصِي، وَقَالَ: (إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَاحًا، عِنۡدَكُمۡ فِيهِ مِنَ اللهِ بُرۡهَانٌ).

Mereka berkeyakinan untuk mendengar dan taat. Berbeda dengan Khawarij. Ahli sunah berkeyakinan mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Mereka tidak berpandangan untuk memberontak kepada pemimpin muslimin walaupun muncul kesalahan darinya, selama kesalahan itu di bawah kekufuran dan di bawah syirik.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang memberontak kepada mereka dengan semata-mata adanya kemaksiatan pada mereka. Beliau bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah.”[2]


[1] Telah berlalu penyebutan jalur-jalur periwayatannya.

[2] Potongan dari hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit yang bunyinya,

دَعَانَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَبَايَعۡنَاهُ، فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيۡنَا، أَنۡ بَايَعۡنَا عَلَى السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنۡشَطِنَا وَمَكۡرَهِنَا، وَعُسۡرِنَا وَيُسۡرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيۡنَا، وَأَنۡ لَا نُنَازِعَ الۡأَمۡرَ أَهۡلَهُ – قَالَ: – إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَاحًا، عِنۡدَكُمۡ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرۡهَانٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membaiat beliau. Janji yang beliau ambil dari kami adalah agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat, ketika lapang dan susah, ketika sulit dan mudah, agar mengutamakan beliau di atas kami, dan agar kami tidak merebut urusan kekuasaan dari pemiliknya. Beliau bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah padanya.” (HR. Al-Bukhari nomor 7056 dan Muslim nomor 1709).

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*