Qadariyyah

Qadariyyah

28 Januari 2019
/ / /

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan di dalam Lamhah ‘anil Firaqidh Dhallah:

الۡفِرۡقَةُ الۡأُولَى الۡقَدَرِيَّةُ

فَأَوَّلُ مَا حَدَثَ، فِرۡقَةُ “الۡقَدَرِيَّةِ” فِي آخِرِ عَهۡدِ الصَّحَابَةِ.

Firkah yang awal kali muncul adalah firkah Qadariyyah di akhir masa sahabat.

“الۡقَدَرِيَّةُ”: الَّذِينَ يُنۡكِرُونَ الۡقَدَرَ، وَيَقُولُونَ: إِنَّ مَا يَجۡرِي فِي هَٰذَا الۡكَوۡنِ لَيۡسَ بِقَدَرٍ وَقَضَاءٍ مِنَ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – وَإِنَّمَا هُوَ أَمۡرٌ يَحۡدُثُ بِفِعۡلِ الۡعَبۡدِ، وَبِدُونِ سَابِقِ تَقۡدِيرٍ مِنَ اللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – فَأَنۡكَرُوا الرُّكۡنَ السَّادِسَ مِنۡ أَرۡكَانِ الۡإِيمَانِ، لِأنَّ أَرۡكَانَ الۡإِيمَانِ سِتَّةٌ: الۡإِيمَانُ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، وَالۡإِيمَانُ بِالۡقَدَرِ خَيۡرِهِ وَشَرِّهِ، كُلِّهِ مِنَ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى -.

Qadariyyah adalah orang-orang yang mengingkari takdir dan berpendapat bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini adalah tanpa takdir dan ketentuan dari Allah subhanahu wa taala. Kejadian itu hanyalah perkara yang muncul dengan perbuatan hamba tanpa didahului oleh takdir dari Allah azza wajalla. Mereka mengingkari rukun iman keenam. Karena rukun enam ada enam, yaitu: iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, semua itu dari Allah subhanahu wa taala.

وَسُمُّوا “بِالۡقَدَرِيَّةِ”، وَسُمًّوا “بِمَجُوسِ” هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ، لِمَاذَا؟

لِأَنَّهُمۡ يَزۡعُمُونَ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ يَخۡلُقُ فِعۡلَ نَفۡسِهِ، وَلَمۡ يَكُنۡ ذٰلِكَ بِتَقۡدِيرٍ مِنَ اللهِ، لِذٰلِكَ أَثۡبَتُوا خَالِقَيۡنِ مَعَ اللهِ كَالۡمَجُوسِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: (إِنَّ الۡكَوۡنَ لَهُ خَالِقَانِ: “النُّورُ وَالظُّلۡمَةُ”، النُّورُ خَلَقَ الۡخَيۡرَ، وَالظُّلۡمَةُ خَلَقَتِ الشَّرَّ).

Mereka dinamai Qadariyyah. Mereka juga dinamai majusinya umat ini. Mengapa?

Karena mereka menyatakan bahwa setiap orang menciptakan perbuatannya sendiri dan tidak terjadi dengan takdir dari Allah. Karena itu, mereka menetapkan dua pencipta di samping Allah seperti orang-orang majusi yang mengatakan, “Sesungguhnya alam semesta ini memiliki dua pencipta, yaitu: cahaya dan kegelapan. Cahaya menciptakan kebaikan dan kegelapan menciptakan keburukan.”

“الۡقَدَرِيَّةُ” زَادُوا عَلَى الۡمَجُوسِ؛ لِأَنَّهُمۡ أَثۡبَتُوا خَالِقَيۡنِ مُتَعَدِّدَيۡنِ، حَيۡثُ قَالُوا: (كُلٌّ يَخۡلُقُ فِعۡلَ نَفۡسِهِ)، فَلِذٰلِكَ سُمُّوا “بِمَجُوسِ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ”.

Qadariyyah lebih daripada majusi karena mereka menetapkan dua jenis pencipta yang berjumlah banyak. Mereka berkata, “Setiap orang menciptakan perbuatan dirinya.” Karena itulah mereka dinamakan majusinya umat ini.

وَقَابَلَتۡهُمۡ “فِرۡقَةُ الۡجَبۡرِيَّةِ” الَّذِينَ يَقُولُونَ: “إِنَّ الۡعَبۡدَ مَجۡبُورٌ عَلَى فِعۡلِهِ، وَلَيۡسَ لَهُ فِعۡلٌ وَلَا اخۡتِيَارٌ، وَإِنَّمَا هُوَ كَالرِّيشَةِ الَّتِي تُحَرِّكُهَا الرِّيحُ بِغَيۡرِ اخۡتِيَارِهَا”.

فَهَٰؤُلَاءِ يُسَمَّونَ “بِالۡجَبۡرِيَّةِ” وَهُمۡ “غُلَاةُ الۡقَدَرِيَّةِ”، الَّذِينَ غَلَوۡا فِي إِثۡبَاتِ الۡقَدَرِ، وَسَلَبُوا الۡعَبۡدَ الاخۡتِيَارَ.

Yang berlawanan dengan mereka adalah firkah Jabriyyah yang mengatakan, “Sesungguhnya hamba dipaksa pada perbuatannya. Dia tidak memiliki perbuatan dan ikhtiar. Dia hanya seperti bulu yang digerakkan angin dengan tanpa daya upaya dari dirinya.” Mereka ini dinamakan Jabriyyah dan mereka adalah Qadariyyah yang ekstrem. Mereka melampaui batas dalam menetapkan takdir dan melucuti daya upaya dari hamba.

وَالطَّائِفَةُ الۡأُولَى مِنۡهُمۡ عَلَى الۡعَكۡسِ، أَثۡبَتُوا اخۡتِيَارَ الۡإِنۡسَانِ وَغَلَوۡ فِيهِ، حَتَّى قَالُوا: إِنَّهُ يَخۡلُقُ فِعۡلَ نَفۡسِهِ مُسۡتَقِلًّا عَنِ اللهِ، تَعَالَى اللهُ عَمَّا يَقُولُونَ.

وَهَٰؤُلَاءِ يُسَمَّونَ “بِالۡقَدَرِيَّةِ النُّفَاةِ”. وَمِنۡهُمۡ: “الۡمُعۡتَزِلَةُ “، وَمَنۡ سَارَ فِي رِكَابِهِمۡ.

Golongan yang pertama dari mereka adalah kebalikannya. Mereka menetapkan ikhtiar pada manusia namun melampaui batas dalam hal itu sampai-sampai mereka berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri tanpa ada campur tangan dari Allah. Mahatinggi Allah dari ucapan mereka. Mereka ini dinamakan Qadariyyah Nufat. Yang termasuk mereka adalah kelompok Mu’tazilah dan siapa saja yang sejalan dengan mereka.

هَٰذِهِ فِرۡقَةُ الۡقَدَرِيَّةِ بِقِسۡمَيۡهَا:

١ – الۡغُلَاةُ فِي النَّفۡيِ.

٢ – وَالۡغُلَاةُ فِي الۡإِثۡبَاتِ.

Inilah firkah Qadariyyah dengan dua jenisnya:

1. Yang ekstrem dalam meniadakan takdir,

2. Yang ekstrem dalam menetapkan takdir.

وَتَفَرَّقتِ “الۡقَدَرِيَّةُ ” إِلَى فِرَقٍ كَثِيرَةٍ، لَا يَعۡلَمُهَا إِلَّا اللهُ؛ لِأَنَّ الۡإِنۡسَانَ إِذَا تَرَكَ الۡحَقَّ فَإِنَّهُ يَهِيمُ فِي الضَّلَالِ، كُلُّ طَائِفَةٍ تُحۡدِثُ لَهَا مَذۡهَبًا وَتَنۡشَقُّ بِهِ عَنِ الطَّائِفَةِ الَّتِي قَبۡلَهَا، هَٰذَا شَأۡنُ أَهۡلِ الضَّلَالِ؛ دَائِمًا فِي انۡشِقَاقٍ، وَدَائِمًا فِي تَفَرُّقٍ، وَدَائِمًا تُحۡدَثُ لَهُمۡ أَفۡكَارٌ وَتَصَوُّرَاتٌ مُخۡتَلِفَةٌ مُتَضَارِبَةٌ.

Qadariyyah telah terpecah menjadi banyak firkah. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Sesungguhnya apabila seorang manusia meninggalkan kebenaran, maka dia akan terombang-ambing dalam kesesatan. Setiap kelompok akan membuat mazhab baru dan akan memisahkan diri dari kelompok sebelumnya. Inilah keadaan para pengikut kesesatan. Selalu dalam perpisahan, selalu dalam perpecahan, dan selalu akan muncul pemikiran-pemikiran dan gambaran-gambaran yang saling berselisih dan bertentangan pada mereka.

أَمَّا أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ، فَلَا يَحۡدُثُ عِنۡدَهُمۡ اضۡطِرَابٌ وَلَا اخۡتِلَافٌ؛ لِأَنَّهُمۡ مُتَمَسِّكُونَ بِالۡحَقِّ الَّذِي جَاءَ عَنِ اللهِ – سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى – فَهُمۡ مُعۡتَصِمُونَ بِكِتَابِ اللهِ وَبِسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ؛ فَلَا يَحۡصُلُ عِنۡدَهُمۡ افۡتِرَاقٌ وَلَا اخۡتِلَافٌ، لِأَّنَّهُمۡ يَسِيرُونَ عَلَى مَنۡهَجٍ وَاحِدٍ.

Adapun ahli sunah waljamaah, maka tidak akan muncul kegoyahan dan perselisihan di sisi mereka karena mereka berpegang teguh dengan kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa taala. Mereka adalah orang yang memegang kuat kitab Allah dan sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi tidak terjadi perpecahan dan perselisihan pada mereka karena mereka berjalan di atas satu jalan.


Simak audio penjelasan Al-Ustadz Abu Yahya Muslim hafizhahullah yang disampaikan di Masjid Al-I’tishom Semarang tanggal 14 Jumadal Ula 1440 H di sini.

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*