Monthly Archives Agustus 2018

Kesaksian Wanita yang Menyusui Diterima

26 Agustus 2018
/ / /

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H) di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,

وَيُقۡبَلُ قَوۡلُ الۡمُرۡضِعَةِ

Ucapan wanita yang menyusui diterima.

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata:

وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُقۡبَلُ قَوۡلُ الۡمُرۡضِعَةِ، فَلِمَا أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ وَغَيۡرُهُ مِنۡ حَدِيثِ عُقۡبَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ (أَنَّهُ تَزَوَّجَ أُمَّ يَحۡيَىٰ بِنۡتَ أَبِي إِهَابٍ فَجَاءَتۡ أَمَةٌ سَوۡدَاءُ فَقَالَتۡ: قَدۡ أَرۡضَعۡتُكُمَا؛ قَالَ: فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَأَعۡرَضَ عَنِّى، قَالَ: فَتَنَحَّيۡتُ فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ: وَكَيۡفَ وَقَدۡ زَعَمَتۡ أَنَّهَا أَرۡضَعۡتُكُمَا فَنَهَاهُ). وَفِي لَفۡظٍ: (دَعۡهَا عَنۡكَ). وَهُوَ فِي الصَّحِيحِ، وَفِي لَفۡظٍ آخَرَ: (كَيۡفَ وَقَدۡ قِيلَ فَفَارَقَهَا عُقۡبَةُ).

Adapun diterimanya ucapan wanita yang menyusui, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan selain beliau dari hadis ‘Uqbah bin Al-Harits. Bahwa beliau telah menikahi Ummu Yahya binti Abu Ihab. Lalu seorang budak wanita berkulit hitam datang seraya berkata, “Sesungguhnya aku pernah menyusui kalian berdua.” ‘Uqbah berkata: Aku menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berpaling dariku. ‘Uqbah berkata: Aku bergeser, lalu menyebutkan hal itu kepada beliau. Nabi bersabda, “Bagaimana (engkau masih akan terus menggaulinya) sementara wanita itu sudah menyatakan bahwa dia pernah menyusui kalian berdua.” Nabi melarang ‘Uqbah[1]. Di dalam lafal yang lain, “Tinggalkan wanita yang telah engkau nikahi.” Hadis ini ada di dalam kitab Shahih. Dalam lafal lain, “Bagaimana (engkau masih akan terus menggaulinya) sementara sudah dikatakan demikian.” Lalu ‘Uqbah menceraikannya.

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى ذٰلِكَ عُثۡمَانُ، وَابۡنُ عَبَّاسٍ، وَالزُّهۡرِيُّ، وَالۡحَسَنُ، وَإِسۡحَاقُ، وَالۡأَوۡزَعِيُّ، وَأَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، وَأَبُو عُبَيۡدٍ. وَرُوِيَ عَنۡ مَالِكٍ.

‘Utsman, Ibnu ‘Abbas, ‘Az-Zuhri, Al-Hasan, Ishaq, Al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal, dan Abu ‘Ubaid berpendapat demikian. Juga diriwayatkan dari Malik.

[1] HR. Al-Bukhari nomor 2659, 88, dan Abu Dawud nomor 3603.

Read More

Susuan sebelum Penyapihan

25 Agustus 2018
/ / /

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H) di dalam kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah berkata,

إِنَّمَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ مَعَ تَيَقُّنِ وُجُودِ اللَّبَنِ، وَكَوۡنِ الرَّضِيعِ قَبۡلَ الۡفِطَامِ

Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan dengan keyakinan adanya air susu, serta anak disusui ketika sebelum disapih.

Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat tahun 1250 H) di dalam kitab Ad-Darari Al-Mudhiyyah berkata:

وَأَمَّا اعۡتِبَارُ كَوۡنِ الرَّضِيعِ قَبۡلَ الۡفِطَامِ، فَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ عِنۡدَ التِّرۡمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ وَالۡحَاكِمِ أَيۡضًا وَصَحَّحَهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ إِلَّا مَا فَتَقَ الۡأَمۡعَاءَ فِي الثَّدۡيِ، وَكَانَ قَبۡلَ الۡفِطَامِ).

Adapun patokan bahwa anak yang disusui adalah sebelum disapih, maka hal itu berdasarkan hadis Ummu Salamah riwayat At-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh beliau. Juga riwayat Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Susuan tidaklah menyebabkan hubungan mahram kecuali air susu di payudara yang membuka rongga usus (mengenyangkan perut) dan dilakukan sebelum penyapihan.”[1]

وَأَخۡرَجَ سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَالدَّارُقُطۡنِيُّ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَابۡنُ عَدِيٍّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَارَضَاعَ إِلَّا مَاكَانَ فِي الۡحَوۡلَيۡنِ). وَقَدۡ صَحَّحَ الۡبَيۡهَقِيُّ وَقۡفَهُ، وَرَحَّجَهُ ابۡنُ عَدِيٍّ، وَابۡنُ كَثِيرٍ.

Sa’id bin Manshur, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Adi mengeluarkan riwayat dari hadis Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada susuan (yang menyebabkan hubungan mahram) kecuali yang dilakukan dalam jangka umur dua tahun.” Al-Baihaqi menilai sahih ke-mauquf-an hadis tersebut. Ibnu ‘Adi dan Ibnu Katsir menilainya kuat.

وَأَخۡرَجَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ مِنۡ حَدِيثِ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا رَضَاعَ بَعۡدَ فِصَالٍ، وَلَا يُتۡمَ بَعۡدَ احۡتِلَامٍ). وَقَدۡ قَالَ الۡمُنۡذِرِيُّ: إِنَّهُ لَا يَثۡبُتُ.

Abu Dawud Ath-Thayalisi mengeluarkan riwayat dari hadis Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidak ada susuan (yang menyebabkan mahram) setelah penyapihan dan tidak ada yatim setelah mimpi basah.” Al-Mundziri berkata: Sesungguhnya riwayat ini tidak sabit.

وَفِي الصَّحِيحَيۡن وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَالَتۡ: (لَمَّا دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعِنۡدِي رَجُلٌ، فَقَالَ: مَنۡ هَٰذَا؟ قُلۡتُ: أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ، قَالَ: يَا عَائِشَةُ انۡظُرۡنَ مَنۡ إِخۡوَانُكُنَّ؟ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ الۡمَجَاعَةِ).

Di dalam dua kitab Shahih dan selain keduanya, dari hadis ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku dalam keadaan di dekatku ada seorang pria, beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Saudara sesusuanku.” Nabi bersabda, “Wahai ‘Aisyah, telitilah siapa saudara-saudara kalian karena susuan (yang menyebabkan hubungan mahram) hanya yang disebabkan rasa lapar.”[2]

[1] HR. At-Tirmidzi nomor 1152.

[2] HR. Al-Bukhari nomor 2647, 5102, Muslim nomor 1455, dan An-Nasa`i nomor 3312.

Read More

Lima Susuan yang Menyebabkan Hubungan Mahram

20 Agustus 2018
/ / /

Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Ad-Durarul Bahiyyah berkata:

إِنَّمَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ.

Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan.

أَقُولُ: أَمَّا كَوۡنُ الرَّضَاعِ لَا يَثۡبُتُ حُكۡمُهُ إِلَّا بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ، فَلِحَدِيثِ عَائِشَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ وَغَيۡرِهِ أَنَّهَا قَالَتۡ: (كَانَ فِيمَا أُنۡزِلَ مِنَ الۡقُرۡآنِ عَشۡرُ رَضَعَاتٍ مَعۡلُومَاتٍ يُحَرِّمۡنَ ثُمَّ نُسِخَ بِخَمۡسِ رَضَعَاتٍ، فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهِيَ فِيمَا يُقۡرَأُ مِنَ الۡقُرۡآنِ).

Aku (Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Ad-Dararil Mudhiyyah) berkata: Susuan yang menyebabkan hukum mahram hanyalah dengan lima susuan berdasarkan hadis ‘Aisyah riwayat Imam Muslim dan selain beliau, bahwa beliau mengatakan: Dahulu, di antara ayat Alquran yang telah diturunkan adalah sepuluh susuan yang diketahui yang dapat menyebabkan hubungan mahram. Kemudian dinasakh dengan lima susuan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan masih ada yang membaca itu sebagai bagian Alquran.[1]

وَلِلۡحَدِيثِ طُرُقٌ ثَابِتَةٌ فِي الصَّحِيحِ؛ وَلَا يُخَالِفُهُ حَدِيثُ عَائِشَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُحَرِّمُ الۡمَصَّةُ وَلَا الۡمَصَّتَانِ) أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ وَأَحۡمَدُ وَأَهۡلُ السُّنَنِ.

Hadis ini memiliki banyak jalur yang sabit dalam kitab Shahih. Hadis ini tidak diselisihi oleh hadis ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu atau dua isapan susuan tidak menyebabkan hubungan mahram.”[2] Hadis ini dikeluarkan oleh Muslim, Ahmad, dan para penulis kitab Sunan.

وَكَذٰلِكَ حَدِيثُ أُمِّ الۡفَضۡلِ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ وَغَيۡرِهِ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُحَرِّمُ الرَّضۡعَةُ وَالرَّضۡعَتَانِ، وَالۡمَصَّةُ وَالۡمَصَّتَانِ، وَالۡإِمۡلَاجَةُ وَالۡإِمۡلَاجَتَانِ).

Demikian pula tidak diselisihi oleh hadis Ummu Al-Fadhl riwayat Muslim rahimahullah dan selain beliau; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu atau dua susuan, satu atau dua isapan, satu atau dua tetekan tidak menyebabkan hubungan mahram.”[3]

وَأَخۡرَجَ نَحۡوَهُ أَحۡمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ لِأَنَّ غَايَةَ مَا فِي هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ أَنَّ الۡمَصَّةَ وَالۡمَصَّتَيۡنِ، وَالرَّضۡعَةَ وَالرَّضۡعَتَيۡنِ، وَالۡإِمۡلَاجَةَ وَالۡإِمۡلَاجَتَيۡنِ لَا يُحَرِّمۡنَ وَهَٰذَا هُوَ مَعۡنَى الۡأَحَادِيثِ مَنۡطُوقًا. وَهُوَ لَا يُخَالِفُ حَدِيثَ الۡخَمۡسِ الرَّضَعَاتِ لِأَنَّهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَا دُونَ الۡخَمۡسِ لَا يُحَرِّمۡنَ.

Ahmad, An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi juga mengeluarkan riwayat semisal hadis tersebut dari hadis ‘Abdullah bin Az-Zubair. Karena puncak kandungan hadis-hadis ini adalah bahwa satu atau dua isapan, satu atau dua susuan, satu atau dua tetekan tidaklah menyebabkan hubungan mahram. Ini adalah makna eksplisit dari hadis-hadis itu. Dan makna itu tidak menyelisih hadis lima susuan, karena hadis itu menunjukkan bahwa susuan kurang dari lima tidaklah menyebabkan hubungan mahram.

وَأَمَّا مَعۡنَى هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ مَفۡهُومًا، وَهُوَ أَنۡ يُحَرِّمَ مَا زَادَ عَلَى الرَّضۡعَةِ وَالرَّضۡعَتَيۡنِ فَهُوَ مَدۡفُوعٌ لِحَدِيثِ الۡخَمۡسِ وَهِيَ مُشۡتَمِلَةٌ عَلَى زِيَادَةٍ، فَوَجَبَ قَبُولُهَا وَالۡعَمَلُ بِهَا وَلَا سِيَّمَا عِنۡدَ قَوۡلِ مَنۡ يَقُولُ: إِنَّ بِنَاءَ الۡفِعۡلِ عَلَى الۡمُنَكَّرِ يُفِيدُ التَّخۡصِيصَ، وَالرَّضۡعَةُ هِيَ أَنۡ يَأۡخُذَ الصَّبِيُّ الثَّدۡيَ فَيَمۡتَصُّ مِنۡهُ ثُمَّ يَسۡتَمِرُّ عَلَى ذٰلِكَ حَتَّى يَتۡرُكَهُ بِاخۡتِيَارِهِ لِغَيۡرِ عَارِضٍ.

Adapun makna tersirat dari hadis-hadis ini, yaitu bahwa susuan yang lebih dari satu atau dua dapat menyebabkan hubungan mahram, maka makna ini tertolak berdasarkan hadis lima susuan. Hadis lima susuan ini mencakup adanya tambahan makna, sehingga wajib menerimanya dan mengamalkannya. Terlebih menurut pendapat orang yang berkata: Sesungguhnya susunan fiil kepada kata nakirah memberikan faedah pengkhususan.

Menyusu adalah peristiwa mulut si bayi mengambil puting payudara lalu mengisapnya. Kemudian dia terus demikian sampai melepasnya dengan kemauannya sendiri tanpa ada paksaan.

وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى اعۡتِبَارِ الۡخَمۡسِ ابۡنُ مَسۡعُودٍ، وَعَائِشَةُ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَعَطَاءٌ، وَطَاوُسٌ، وَسَعِيدُ بۡنُ جُبَيۡرٍ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَاللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحۡمَدُ وَإِسۡحَاقُ وَابۡنُ حَزۡمٍ، وَجَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، وَقَدۡ رُوِيَ ذٰلِكَ عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ.

Yang berpendapat dianggapnya lima susuan adalah Ibnu Mas’ud, ‘Aisyah, ‘Abdullah bin Az-Zubair, ‘Atha`, Thawus, Sa’id bin Jubair, ‘Urwah bin Az-Zubair, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Hazm, dan sekelompok ulama. Hal itu juga telah diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Thalib.

وَذَهَبَ الۡجُمۡهُورُ إِلَى أَنَّ الرَّضَاعَ الۡوَاصِلَ إِلَى الۡجَوۡفِ يَقۡتَضِي التَّحۡرِيمَ وَإِنۡ قَلَّ.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa susuan yang sampai ke perut mengakibatkan hubungan mahram, walaupun susuan itu sedikit.


[1] HR. Muslim nomor 1452, Abu Dawud nomor 2062, dan At-Tirmidzi nomor 1150.

[2] HR. Muslim nomor 1450, Abu Dawud nomor 2063, At-Tirmidzi nomor 1150, An-Nasa`i nomor 3310, dan Ibnu Majah nomor 1941.

[3] HR. Muslim nomor 1451 dan An-Nasa`i nomor 3308.

Read More